Part terakhir! Akhirnya bisa post dalam sehari. Seperti yang saya sebutkan di profil page, saya punya kesulitan untuk masuk ke ffn, jadi kemungkinan besar saya tidak akan bisa membalasi review-review pembaca seperti biasanya. Tapi, terima kasih karena telah membaca (dan memberi review) di cerita ini! Sampai ketemu lagi di kesempatan selanjutnya! :D
Tak Berhenti Lama
Bagian Empat
.
.
Ashura meninggal di apartemen mereka, ketika badai salju pertama mengamuk di Manhattan, seminggu lepas dari tahun baru dan kurang tiga hari dari perayaan setahun Fai bertemu Kurogane. Yuui sibuk memaki kepada siapa pun di seberang saluran telepon begitu mengetahui bahwa ambulans tidak akan bisa datang sebelum badai reda. Fai ada di kamar Yuui, memegangi tangan ayah angkatnya yang mencengkeram kuat untuk menahan rasa sakit. Obat bius baru diberikan sejam lalu—Fai sendiri yang menyuntikkannya—tapi semua obat itu seolah memutuskan rasa sakit yang ditanggung Ashura terlalu besar untuk bisa diredakan seluruhnya. Ayahnya terus berteriak meminta morfin, memohon agar rasa sakit itu segera dihilangkan dari tubuhnya. Fai bergeming dengan gemetar. Jarum suntik di genggamannya terpekur kosong. Yuui akan membunuhnya kalau dia seenaknya menambah dosis obat Ashura, tapi teriakan itu terlalu pilu untuk didengarkan.
Semua terasa seperti di Celes lagi. Bedanya, kali ini tubuhnya terasa kebas. Air mata enggan keluar dari matanya yang terasa dingin. Seandainya masih memiliki sihir, dia tidak akan ragu mengulangi hal yang pernah dilakukannya dulu. Menidurkan Ashura, lalu pergi dari semua rasa sakit dan teriakan yang menggema di telinganya.
Tapi dia terlahir kembali tanpa sihirnya. Jadi yang bisa dilakukannya hanya terus menggenggam tangan Ashura saat ayah angkatnya meronta di atas kasur. Dibiarkannya ayah angkatnya itu memuntahkan darah ke pakaiannya, lalu terjatuh dalam kesunyian.
Saat mendengar isakan Yuui di ruang tengah, Fai segera mengambil mantel musim dinginnya, lalu tanpa kata pergi keluar menembus badai, membiarkan salju membekukan wajah dan jemari tangannya. Salju tidak pernah membunuhnya dan tidak akan pernah membunuhnya. Dengan ketenangan yang terasa asing, Fai mendatangi rumah sakit dan meminta ambulans. Entah karena melihat penampilannya yang kacau terkena tiupan badai atau karena ekspresi wajahnya yang terasa beku, pihak rumah sakit justru membawanya ke salah satu bangsal dan berusaha keras menghangatkan tubuhnya. Percuma. Hatinya tetap membeku.
Ashura dijemput ambulans detik pertama badai reda pada jam dua pagi. Yuui memandangnya dalam diam dari balik mata yang bengkak, jalur air mata mengering di pipinya. Fai tidak menghiraukannya, juga tidak berusaha mendekatinya. Ayah mereka tetap mati.
.
.
.
Kedua adiknya, si kembar Chii dan Freya, datang dalam kesedihan muram dengan pesawat pertama hari itu. Fai memberi tahu Tomoyo perihal kematian ayah angkatnya saat mampir dari memesan peti mati, tapi tidak memberi tahu Kurogane. Toh laki-laki itu tetap datang ke apartemennya pada malam hari, bersama Tomoyo, menggunakan setelan jas hitam usang yang pernah Fai lihat di pojok lemarinya. Wajahnya tanpa ekspresi, tapi alisnya merengut tipis dalam sebuah simpati tulus yang sunyi. Fai meraih tangannya dan memperkenalkan jurnalis itu pada Yuui, yang tersenyum tanpa fokus padanya. Sepanjang malam, sementara kolega dan rekan bisnis Ashura perlahan memenuhi apartemen kecilnya, Kurogane duduk diam di sampingnya di dapur, kokoh dan bergeming seperti batu.
Fai tidak berkata apa pun sepanjang malam. Kurogane membiarkannya. Secara ajaib, memori masa lalu tidak menggempurnya meski dirinya merasa begitu kosong.
Ketika Kurogane mengikuti arak-arakan ke pemakaman pada siang keesokan harinya, Fai menolehnya.
"Liputanmu?" Itulah kata pertamanya sejak Kurogane datang melayat. Dari sudut matanya dia melihat Kurogane mengernyit.
"Sudah minta izin."
"Kamu akan ada di rumah seharian ini?"
"Ya."
"Besok?"
Kurogane tidak menjawab untuk beberapa saat. Fai merasakan sepasang mata merah meneliti wajahnya.
"Ya."
"Aku boleh menginap?"
Jika Kurogane memiliki beberapa keberatan—dan Fai yakin dia memilikinya—dia tidak mengatakannya. Sebelah tangannya meremas bahu Fai perlahan. Ya.
.
.
.
Yuui bahkan tidak menengok saat Fai menarik tangan Kurogane ke arah yang berlawanan dari rombongan keluarganya. Hanya Tomoyo yang memberinya tatapan simpati sebelum gadis itu berjalan ke sisi Yuui, seolah mengisi lubang apa pun yang terbentuk dari ketiadaannya. Fai tidak peduli. Tubuhnya terasa kosong dan asing dan dia tidak peduli.
.
.
.
Kurogane hanya menggerutu pelan ketika Fai mendorong tubuhnya, dengan kekuatan yang bahkan tidak disangkanya, ke atas kasur. Dia membiarkan Fai menekan dan mendesaknya; menciumi bibirnya kasar dan menggigiti kecil lehernya dengan terburu; merenggut pakaian mereka berdua hingga nyaris merobeknya lepas. Kurogane baru menghentikannya ketika Fai nyaris merangsek dengan liar dan tanpa persiapan.
"Hei—"
"Diam."
"Berhenti."
"Diam, Kurogane!"
Kurogane membeku seketika. Fai menggunakan kesempatan itu—kesempatan menyakitinya, pikirnya, bahkan di kehidupan yang ini nama lengkap yang terucap dari mulutnya masih mampu menyakiti laki-laki itu—untuk merenggut rambut jabriknya hingga Kurogane menatapnya. Fai merasakan tubuhnya tiba-tiba gemetar oleh gairah yang tertahan dan, dengan terkejut disadarinya, amarah. Sepasang mata hazel yang berkilat kemerahan menatap balik padanya dengan ketenangan yang membuatnya muak. Selalu begitu, tidak pernah berubah. Mata itu selalu menatapnya lurus, terbuka dan jujur, tidak terkekang. Mata itu selalu menyajikan apa pun yang dirasakannya dan siap diberikannya (gairah, amarah, nafsu, cinta), lalu menuntut siapa pun yang ditatapnya untuk memberikan yang sama.
Kini mata itu kembali menuntutnya jujur.
"Jangan tinggalkan aku, paham?" desis Fai kasar, tangannya sakit karena terlalu keras merenggut helaian jabrik yang terasa menusuk kulitnya. Mata merah itu terus membakarnya dalam ketenangan yang awas, mencairkan kebekuan hatinya dan mendidihkan emosinya. "Jangan tinggalkan aku. Aku bersumpah, kalau kamu berani meninggalkanku lagi," Kurogane menyeringai samar mendengarnya. "Aku akan mengejarmu lagi, sampai ke ketiadaan."
"Akhirnya mengambil posisi pengejar daripada dikejar, heh?" Seringai Kurogane melebar. "Penyihir?"
Sebelum Fai dapat merespon—atau memikirkan respon—Kurogane telah menjejalkan sesuatu ke tangannya. Botol lube.
"Lakukan sesukamu." Tubuh Kurogane berubah rileks di bawah tekanan tubuhnya. Sebelah kakinya yang besar perlahan mengait di pinggang Fai yang ramping, lalu seringai itu berubah dari menantang menjadi bangga dan percaya diri. "Kamu nggak akan bisa menghancurkanku, seberapa keras pun kamu mencoba." Mata merah menatapnya serius meski seringai di bibirnya enggan luntur. "Kalaupun aku hancur, Fai," Kurogane menekankan setiap katanya dengan perlahan dan mantap, seolah memastikan bahwa setiap huruf, kata dan makna diserap olehnya. "Kalaupun aku hancur, itu bukan karena kamu. Ayahmu juga begitu."
Sesuatu yang mengikat seolah terlepas dari dirinya. Saat itu baru Fai merasakan wajahnya yang basah, entah sejak kapan. Kurogane mengulurkan tangan untuk menutup matanya. Kemudian hanya dengan begitu saja, pertahanan emosi Fai runtuh.
.
.
.
Fai mendengar dirinya sendiri meraung seperti hewan liar yang sekarat. Di tengah tangisannya, dia dapat mendengar bel pintu unit Kurogane ditekan berulang-ulang seolah panik. Kurogane tidak sedetik pun melepaskan pelukannya, hanya sesekali berteriak ("Kami nggak apa-apa, jangan khawatir!") atau, kemudian, menghardik ("Urus masalah kalian sendiri, Brengsek!") pada siapa pun yang ada di balik pintu. Baru ketika tangisan Fai berubah menjadi isakan-isakan tersendat, dengan menggerutu pelan Kurogane melepaskannya, mencari kemeja dan celananya yang tadi entah terlempar ke mana, memakainya serampangan, menarik selimut hingga menutupi tubuh Fai yang bergelung rapat, lalu bicara dengan orang-orang yang masih menunggu dengan keras kepala.
Gumaman percakapan Kurogane dan tetangganya dengan mudah diredam dengan menyumpalkan bantal menutupi kepalanya. Dia tidak peduli pada apa yang diceritakan Kurogane untuk mengusir tetangganya. Memori-memori tentang Ashura, baik di kehidupan lalu maupun sekarang, berkelebat di benaknya yang gelap namun terasa begitu kabur, seberapa keras pun dia mencoba mengingat wajah ayah angkatnya.
Malam itu Kurogane mengizinkannya mengambil alih kontrol dalam hubungan seks mereka. Kali pertama Kurogane melakukannya di kehidupan ini, tapi Fai dapat mengingat beberapa memori tentang malam-malam saat Kurogane berada di bawahnya seperti ini. Lagi-lagi, memori itu terasa tumpul, dan fakta itu menyengkeram dadanya dengan kecemasan. Tapi kemudian Kurogane menyentakkan kepalanya ke belakang dengan geraman feral, jadi Fai memutuskan untuk melupakan kecemasan konyolnya dan menikmati cara Kurogane menggeramkan namanya dalam balutan kenikmatan.
.
.
.
Yuui kembali ke Lima bersama Chii dan Freya. Dia tidak akan kembali kali ini. Kembarannya itu memutuskan untuk mengambil alih perusahaan ekspor-impor ayah angkat mereka seraya mengambil beberapa kelas manajemen dan akuntansi. Yuui membunuh mimpinya sebagai seorang koki dan membiarkan Fai bertahan.
Apartemen mereka di Eight Avenue dilepaskan setelah Kurogane setuju Fai pindah bersamanya secara permanen. Sebagian kecil harga diri Fai terluka saat kembaran dan kekasihnya memutuskan hal sepenting ini di belakangnya, tapi dia menyadari bahwa keputusan ini mungkin lebih baik baginya—juga bagi ekonomi keluarganya. Lagipula Kurogane tidak keberatan, dan bisa secara resmi tinggal serumah bersama kekasihnya bukan keputusan yang akan ditolaknya.
"Kamu tidak mengancamnya untuk setuju, kan?" tanya Fai curiga.
"Sepertinya aku malah nyaris mengancamnya untuk tidak setuju, dia kelihatan terlalu... yakin dengan keputusannya," dengus Yuui. "Walau dia tidak menyebutkannya, tapi kurasa akan lebih pantas kalau kamu ikut membayar setengah biaya sewa apartemen Kurogane."
"Tentu saja. Aku bisa cari kerja sambilan."
"Fai..."
Fai bersikeras akan mencari sambilan dan meyakinkan kembarannya bahwa ada lowongan asisten di butik milik salah satu dosennya. Tanpa Ashura, keuangan keluarga mereka tidak akan stabil, terutama karena Yuui baru akan belajar bagaimana cara mengurus perusahaan. Yuui telah mengorbankan mimpinya demi Fai, dan Fai tidak ingin meminta lebih banyak.
Setelah perdebatan yang sedikit alot antara kedua saudara kembar yang sama-sama keras kepala, akhirnya Yuui mengalah dan mengakui alasan-alasan logis Fai. Satu-satunya yang tetap dia tolak adalah soal Tomoyo.
"Ohio dan New York terlalu jauh," ujar Yuui ketika Fai menanyainya soal tindak lanjut hubungannya dengan Tomoyo. "Lagipula Tomoyo masih terlalu muda untuk hal-hal menyulitkan seperti hubungan jarak jauh."
Tomoyo tidak berkata apa-apa saat Fai mengatakan rencana kembarannya. Gadis itu hanya tersenyum dan menggenggam tangannya.
"Yang paling penting adalah melihat orang yang kita sayangi bahagia, Fai-san," ujar Tomoyo dengan tenang.
Apa pun yang ada di antara kembarannya dan Tomoyo selesai tanpa pernah dimulai. Gadis itu tersenyum tabah saat melepas kepergian Yuui di bandara, setabah caranya melepas Sakura atau Kurogane—nama yang terakhir menimbulkan selentingan perasaan bersalah di dalam dirinya.
Melambaikan tangan hampa bersama Tomoyo kepada ketiga saudaranya yang berlalu, Fai memikirkan tentang karma.
(apakah karma mereka belum bisa tuntas?)
.
.
.
Lead yang sebelumnya didapatkan Kurogane untuk liputan investigasinya ternyata menemui jalan buntu. Dia harus kembali memulai dari nol, meneliti setiap artikel yang dipasangnya di papan atau mengecek semua berkas-berkas berisi data narasumbernya. Jika sudah seperti ini, butuh waktu cukup lama bagi Fai untuk dapat menarik Kurogane dari depan papan dan mengajaknya berjalan-jalan untuk menyegarkan pikiran, tapi pada akhirnya laki-laki itu akan mengambil jaketnya dengan gerutuan kesal dan mengikuti Fai menyusuri malam penghujung musim dingin.
Hal ini, berjalan menyusuri malam setiap Kurogane merasa suntuk, dengan mudah berubah menjadi rutinitas baru. Mereka tidak pergi ke suatu tempat secara spesifik, hanya berjalan sesuka hati menyusuri jalan-jalan ramai Manhattan yang seolah tak pernah kekurangan kesibukan, berhenti sejenak untuk membeli gelato (favorit Fai) atau burrito (favorit Kurogane) di penjaja pinggir jalan, lalu melanjutkan perjalanan mereka hingga paru-paru penuh dengan udara malam dan kaki nyaris kram karena berjalan cepat dalam waktu lama. Mereka akan berjalan dalam diam, atau setidaknya Kurogane yang diam sementara Fai akan mengomentari apa pun yang terlintas di mata dan pikirannya. Secara egois, Fai menyukai rutinitas baru ini dan berharap, entah bagaimana, Kurogane tidak akan memikirkan masalah investigasinya lagi.
Meski tanpa liputan investigasi itu, pekerjaan normal Kurogane sudah cukup membuatnya sibuk, tapi ada semacam gairah yang menghilang dari mata merahnya begitu liputan investigasinya menemui jalan buntu. Fai tidak pernah menanyakan tentang apa sebenarnya liputan yang tengah digarapnya. Selain tidak ingin Kurogane mengecapnya sebagai pacar yang selalu ingin tahu, Fai sendiri sudah terlalu sibuk dengan tugas-tugas kuliah dan pekerjaan sambilannya. Namun suatu malam, Kurogane pulang ke apartemen mereka dengan kilat gairah yang kembali menyala di matanya (persis seperti kilat yang sering Fai lihat saat Kurogane menemukan musuh yang menarik di perjalanan mereka dulu) dan segera mengemasi barang-barangnya di sebuah ransel yang lumayan besar, lalu mengabarkan bahwa dia akan pergi selama tiga bulan.
"Dapat lead baru untuk liputan investigasimu?" tanya Fai, berusaha menutupi sentilan kekecewaan di sudut hatinya karena Kurogane harus pergi dalam jangka waktu lama.
"Ya. Kali ini pasti benar."
Fai tersenyum melihat kegembiraan Kurogane yang begitu jelas. "Kuro-wan selalu fokus pada apa yang dikejarnya. Meski tidak benar pun, dia akan menemukan jalan baru lagi."
"Hm? Nggak ada yang merengek minta ikut lagi?"
"Kuro-pon mau aku ikut?"
"Nggak." Kurogane mengulurkan tangan untuk mengacak rambut Fai. "Tapi kalau yang kali ini benar, begitu pulang kita pergi kencan. Kamu yang pilih. Jadi, tiga bulan ini pikirkan baik-baik mau ke mana."
Fai bersorak riang dan memeluk laki-laki yang lebih tua darinya itu. "Kamu akan ada di mana tiga bulan ke depan?"
"Kampung halaman, Texas, terus lanjut ke Meksiko."
"Mm… belikan aku topi sombrero?"
Kurogane memutar bola matanya. "Topi itu dijual lima dolar di Times Square."
Fai tertawa. "Kamu akan menelepon, kan?"
"Kalau aku sempat."
.
.
.
Apa pun yang ditemukan Kurogane, dia mendapatkan petunjuk yang benar kali ini. Memang dia tidak menelepon sesering yang diinginkan Fai dan jam meneleponnya lebih sering terasa absurd, tapi Fai dapat mendengar geraman antusias dan kegembiraan dalam nada suaranya. Pada hari Rabu, lebih cepat setengah bulan dari perkiraannya, Kurogane berkata dia akan pulang.
"Artikel dan berkas-berkas yang dibutuhkan sudah kukirim ke kantor," ujarnya. "Aku pesan tiket pulang buat hari Sabtu."
"Kenapa tidak langsung pulang besok atau lusa kalau sudah selesai?"
"Masih ada beberapa hal yang harus kukerjakan di sini."
"Jangan lupa janji kencanmu."
"Ya, ya. Memang mau ke mana?"
"Ada film yang mau kutonton," jawab Fai dengan malu. Dari sekian banyak opsi kencan yang romantis, dia memilih menonton film. Di dalam kepalanya tersimpan kebijaksanaan ratusan tahun dan ratusan dunia paralel serta bertahun-tahun kebersamaan dengan Kurogane di dua kehidupan, tapi begitu masalah kencan, kepalanya memilih kegiatan yang biasa dilakukan remaja puber dengan cinta monyet mereka.
Kurogane mendengus di seberang saluran, "Aku punya ide yang lebih bagus."
"Hei, katanya aku yang pilih!"
"Ideku lebih bagus daripada nonton film roman picisan yang sekarang lagi diputar di bioskop." Kurogane sepertinya sadar kalau Fai manyun karena rencana bulusnya ketahuan. "Serius, ideku lebih bagus."
Ganti Fai yang mendengus, "Oke. Apa?"
"Gimana kalau kita ke Jepang?"
Fai tergagap. "Je-Jepang?"
"Seminggu saja. Aku bisa ambil cuti."
"Kenapa Jepang?"
"Aku belum pernah ke sana," jawab Kurogane. "Lagipula… bukannya dulu kita pernah janji mau tinggal bersama di Jepang? Aku belum sempat menepatinya."
Dulu. Fai masih mengingat jelas bagaimana dulu Kurogane membisikkan niatnya untuk tinggal bersama Fai di Nihon setelah perjalanan dengan Syaoran memasuki akhir. Suara Kurogane berat dan tersaput kantuk, tapi tegas mengalir dari bibir yang menempel mesra di telinganya. "Setelah semua ini berakhir," bisik Kurogane waktu itu. "Ikutlah ke Nihon bersamaku." Fai tidak pernah merasa lebih bahagia lagi daripada saat itu: akhirnya dia akan memiliki rumah untuk pulang.
Kemudian janji itu terputus oleh kematian.
"Benar. Kamu belum menepatinya."
"Sekarang aku nggak mungkin meninggalkan Amerika, tapi kita bisa mengunjungi Jepang sesekali."
Fai tersenyum. "Oke. Biar aku yang pesankan tiketnya."
Mereka menghabiskan malam membicarakan rencana untuk liburan ke Jepang: kapan sebaiknya mereka pergi, di mana mereka akan menginap, dan tempat mana saja yang akan mereka kunjungi ("Kyoto," gumam Kurogane. "Kita harus ke Kyoto"). Setelahnya Fai menceritakan tentang bagaimana negeri asal Kurogane itu ("Ada banyak pohon Sakura dan di mana-mana terasa tenang.") hingga kantuk menyerangnya dan Kurogane memutuskan sebaiknya mereka memutuskan sambungan telepon.
"Sampai ketemu Sabtu," gumam Kurogane sambil menguap.
"Mm. Sabtu. Aku mau menciumimu habis-habisan begitu kamu pulang."
"Hei, Fai."
"Hmm?"
"Aku mencintaimu."
Untuk beberapa saat, Fai tertegun di tempatnya. Nyaris dua tahun mereka bersama, Kurogane tidak pernah menyatakan cinta padanya. Bahkan di kehidupan lalu, pernyataan cinta dari Kurogane sangat jarang meluncur dari mulutnya, lebih jarang daripada saat-saat langka ninja itu memanggil namanya. Cinta Kurogane mengalir secara natural melalui tubuhnya, kerlingan matanya, dan tingkah lakunya, tapi sangat jarang melalui mulutnya. Fai tidak pernah terbiasa mendengarnya langsung, mengalir ke dalam telinganya.
"Jangan bengong, Bodoh," gerutu Kurogane.
Fai tertawa. Dia bisa membayangkan wajah laki-laki besar itu bersemu kemerahan di seberang sambungan.
"Aku juga mencintaimu, Kuro-sama."
Sebuah bayangan dari masa lalu sekelebat terlintas, tapi dengan mudah dihalau oleh kebahagiaannya yang terasa meluap dari dalam dadanya.
.
.
.
Sabtu tiba tanpa Kurogane.
.
.
.
Ketika seminggu berlalu dan tidak ada kabar sama sekali dari Kurogane, Fai nekad pergi ke kantor New York Times. Di sana Fai bertemu dengan atasan Kurogane, laki-laki bernama Rutfold, yang menyatakan bahwa pihak kantor juga telah kehilangan kontak dengannya sejak hari Kamis malam setelah dia selesai mengirimkan berkas-berkas tambahan. Pihak New York Times berjanji akan segera mengirimkan orang untuk mencari tahu keberadaan Kurogane.
Namun minggu berganti bulan dan pencarian mereka berbuah nihil. Kurogane lenyap tanpa bekas seolah ditelan lubang hitam hingga ke dunia lain. Fai berharap setidaknya dunia lain itu adalah salah satu dunia paralel yang dulu pernah mereka kunjungi.
"Bagaimana pun, hal ini sebenarnya sudah bisa diprediksi," ujar Sorata, salah satu kolega Kurogane yang sering ditemui Fai untuk memberikan laporan kemajuan pencarian jurnalis senior itu. Ketika Fai seolah langsung siap membunuhnya di tempat, dia mengedikkan bahunya. "Kamu tidak tahu liputan apa yang dikerjakan oleh Kurogane, kan?"
Dengan menyesal, Fai menggeleng.
"Sejak tiga tahun lalu, Kurogane menyelidiki jaringan penyuplai prostitusi ilegal dari Asia Timur," jelas Sorata. "Sudah bukan hal baru mengetahui bahwa banyak warga imigran ilegal di seluruh negeri ini, terutama perempuan, yang masuk dengan jalur prostitusi. Tapi ada satu kelompok yang berbeda. Mereka bukan hanya menyelundupkan, tapi juga menculik perempuan-perempuan imigran legal, terutama perempuan-perempuan Cina dan Jepang."
Fai teringat pada kliping-kliping di papan Kurogane. Dia hapal sebagian besar judulnya yang memberitakan perempuan imigran Cina dan Jepang yang menghilang atau dibunuh. Selama ini dia kira kliping-kliping itu hanya untuk menemukan seorang pembunuh serial semata, bukan jaringan ilegal yang kuat.
"Mereka berbahaya," lanjut Sorata. "Kelompok itu punya jaringan yang kuat di seluruh benua Amerika, khususnya di Amerika Latin. Di sini, konon, mereka pertama bergerak di wilayah Texas dan menyebar hingga ke New York dan Los Angeles. Menurut Kurogane ada sokongan dari politisi yang kuat di parlemen.
"Kurogane sudah lama mengajukan liputan ini, tapi Rutfold terus menolaknya karena kelompok itu diketahui hanya bergerak di negara bagian yang berhubungan dengan perbatasan, terutama perbatasan selatan. Usulan liputan Kurogane tidak menjual di lini kami dan Rutfold menyarankan Kurogane mengirimkan usulan liputannya ke majalah lain. Tapi kemudian Kurogane berhasil menyodorkan satu nama politisi New York yang dicurigai mendanai kelompok ini, jadi akhirnya Rutfold mengizinkannya. Terutama karena tidak lama kemudian ada kasus Soma Lim."
"Soma Lim? Model yang meninggal bunuh diri itu?"
Soma Lim adalah idola Fai dan Yuui saat remaja karena model berkulit gelap itu digadang sebagai perwakilan dari kaum minoritas—dia yatim-piatu seperti mereka, peranakan Asia-Latin dengan kulit eksotis dan mata coklat yang terang seperti kucing, dan seorang lesbian yang bangga. Sekitar empat tahun lalu model itu ditemukan tewas overdosis di kamarnya. Fai memerhatikan siaran kematiannya dengan sebentuk rasa patah hati. Dia ingat siapa Soma Lim dalam kehidupannya dulu dan sedikit-banyak berharap model itu bisa menghubungkannya dengan Kurogane. Fai tengah baru saja mendapat nama bar yang sering dikunjungi Soma ketika berita bunuh diri model itu tersiar.
Sorata mengatakan kematian Soma Lim ada hubungannya dengan kelompok yang diselidiki Kurogane. Model itu konon pernah ada dalam cengkeraman kelompok tersebut sebelum seorang pengusaha kaya yang belakangan menjadi kekasihnya membebaskannya. Ketika Soma mulai sering tampil di media dan didaulat menjadi ikon suatu gerakan pemberdayaan perempuan dan kaum minoritas, kelompok itu pasti takut sang model akan membuka nama mereka ke publik, karena itu mereka membungkamnya. Itu semua baru spekulasi, tapi spekulasi itulah yang membuat Kurogane diizinkan meliput berita yang sebelumnya dilarang habis-habisan.
"Kudengar dia ngotot ingin meliput hal ini karena pernah ada kerabatnya yang terlibat dengan kelompok itu. Gosip di kantor bilang orangtuanya dibunuh oleh kelompok itu."
Ekspresi wajah Kurogane yang selalu terlihat kesakitan setiap kali menyinggung mengenai kematian orangtuanya terlintas di benak Fai; ekspresi frustrasinya ketika lead yang didapat ternyata buntu, desakan halusnya pada Fai untuk terus menemani ayah angkatnya di hari-hari terakhirnya dan kediamannya saat di pemakaman Ashura terangkai sebagai sebuah gambaran besar di kepalanya.
"Apa nama kelompok itu?"
Sorata tersenyum tipis. "Tahu pun tidak akan memberi keuntungan buatmu."
.
.
.
Yuui datang menemuinya di bulan kedua Kurogane menghilang. Tomoyo mungkin meneleponnya setelah Fai hampir membunuh petugas FBI yang datang ke apartemen hanya untuk memberi tahu bahwa mereka belum juga bisa menemukan jejak Kurogane dan membutuhkan informasi tambahan, lalu seenaknya hendak mengangkut papan kliping Kurogane. Kembarannya tidak berkata apa-apa saat Fai mengusirnya dari dapur apartemen karena dapur dan peralatan masak itu adalah milik Kurogane. Dia menumpang memasak di dapur milik keluarga Tomoyo dan membawakannya pada Fai, yang memakannya dalam diam sambil terus bercokol di depan papan kliping seperti anjing penjaga, membacai satu-persatu kliping artikel di sana sampai hapal setiap barisnya.
"Kurogane butuh tiga tahun, dan mungkin lebih, untuk mendapatkan petunjuk tentang kelompok itu," ujar Yuui, tahu jelas apa yang tengah dipikirkan kembarannya dengan terus-menerus mengamati papan kliping.
"Aku butuh dua puluh tahun menemukan Kurogane," balas Fai. "Aku akan menemukannya sekali lagi."
Yuui tidak membantahnya lagi.
.
.
.
"Watanuki."
Nama itu tiba-tiba muncul di kepalanya ketika tengah membacai kenangan-kenangan kehidupan lalu yang ditulisnya di buku pemberian Kurogane. Coretan Kurogane memenuhi seluruh tulisannya, koreksiannya merasuk dan berhimpitan erat dengan huruf-huruf yang ditulisnya seperti guru yang tidak sabar. Awalnya Fai hanya membuka buku itu untuk memandangi coretan-coretan Kurogane, untuk mencari sosok Kurogane di goresan tinta merah di bukunya, tapi kemudian dia mulai menyalin tulisannya dengan petunjuk koreksian Kurogane. Di situ nama Watanuki muncul.
Baik pihak New York Times maupun FBI yang mencari Kurogane beserta jaringan kelompok yang diselidikinya mulai putus asa. Pencarian terhadap Kurogane dihentikan minggu lalu bersamaan dengan Sorata yang datang untuk mengantarkan barang-barang Kurogane di kantor beserta uang tunjangan duka cita, seolah Kurogane telah dinyatakan mati dan Fai adalah janda yang ditinggalkannya.
Kalau FBI tidak bisa menemukan Kurogane, Watanuki pasti bisa.
.
.
.
Rumah bergaya semi-modern itu masih sama seperti yang diingatnya. Semenjak Kurogane menghilang, ingatannya tentang kehidupan lalu perlahan-lahan memudar bagai kabut di malam hari kecuali ingatan tentang tempat ini dan kenangan terakhir kali dia menginjakkan kaki di sini (tubuh Kurogane masih hangat dalam dekapannya). Hal yang paling aneh, bagaimana pun, adalah bahwa Fai tidak menyadari memori tentang kehidupan lalunya mengabur sampai dia menginjakkan kakinya di bandara Narita.
Tanpa Kurogane.
Tokyo bukan tempat seperti Nihon yang ada dalam ingatan Fai. Tidak ada lagi rerumputan, jalan setapak dan pohon Sakura. Alih-alih, gedung pencakar langit yang penuh dengan layar-layar besar seperti di Times Square menyambutnya. Harusnya Fai tidak merasa kecewa. Bagaimana pun, ini era modern. Akan aneh kalau Jepang tetap memiliki kastil-kastil kayu dan kereta kuda.
Tak ada beda antara Tokyo dan New York. Keduanya bukan rumahnya tanpa Kurogane.
Perlu waktu dua hari untuk dapat menemukan toko pengabul permintaan yang dulu sering dikunjunginya. Akan lebih mudah jika dia masih memiliki sihirnya seperti dulu, tapi kini hanya insting yang dapat memandunya. Maka dibiarkannya kakinya melangkah sekehendak hati dengan satu keinginan jelas: menemukan toko Watanuki. Lalu toko itu muncul begitu saja di hari kedua, begitu kerdil di antara himpitan gedung pencakar langit di kanan-kirinya.
Watanuki menyapanya tanpa ragu. Mereka bicara layaknya teman lama meskipun dua kehidupan telah berlalu dan Watanuki masih tetap terlihat seperti yang terakhir diingatnya.
"Berapa tahun berlalu setelah terakhir aku datang ke sini?" tanya Fai seraya memandangi halaman depan toko yang diingatnya dengan jelas. Di sini dia pertama kali bertemu Kurogane. Di sini pertama kali pandangan mereka bertemu dan pertama kali Fai meneliti wujud laki-laki yang akan menjadi musuh dan penyelamatnya kelak.
Watanuki menyerahkan cangkir teh padanya. "Kau yang paling tahu arti waktu bagi kita, Fai-san."
Fai mengangguk. "Aku ingin minta tolong."
"Kurogane-san?"
"Belakangan ini aku hanya minta tolong untuk urusan Kurogane, ya?"
"Aku paham perasaanmu," jawab Watanuki kalem, membuat Fai merasa malu. Tidak seperti dirinya, Watanuki tidak memiliki siapa pun untuk mengabulkan keinginannya kecuali waktu. "Permohonanmu?"
"Aku ingin tahu di mana Kurogane."
Watanuki memandang Fai dengan ekspresi simpati yang sama seperti yang diingatnya dulu. Fai menggigit bibirnya ketika firasat buruk melintas di hatinya.
"Apa pun hasilnya?"
"Apa pun hasilnya." Fai menelan ludah. "Dan apa pun bayarannya."
Pandangan simpati kembali terlintas di wajah pemilik toko itu sebelum dia meminta buku catatan masa lalu milik Fai.
.
.
.
Di bandara, Yuui dan Tomoyo menemukan Fai tengah menangisi sebuah majalah New York Times keluaran terbaru, tapi segera tersenyum saat melihat mereka berdua. Tomoyo mengambil majalah itu dari Fai, lalu berubah murung.
"Apa kalian tahu? Ada mafia prostitusi dan human trafficking perempuan Asia di New York yang didukung senator. Mereka tidak pernah membiarkan anggotanya berhenti selain dengan kematian." Fai mengambil kembali majalah itu dari tangan Tomoyo dan menutupnya, lalu meraih tangan gadis itu ke dalam genggamannya. Dipadanginya bola mata gelap di hadapannya. "Pergilah bersama Yuui ke Lima, Tomoyo-chan. Tempat ini tidak aman untukmu."
Yuui mengerjap memandang Tomoyo, lalu perlahan menyadari apa yang terjadi. Tomoyo sendiri, jika dia terkejut Fai mengetahui asal-usulnya, tidak menunjukkan keterkejutan itu dalam ekspresinya yang sendu.
"Aku tidak punya rumah selain di sini, Fai-san," gumam Tomoyo. "Kurogane yang membawaku ke sini dan mengenalkanku pada orangtua angkatku."
"Dan Kurogane tidak ada di sini lagi untuk melindungimu." Fai memandang kembarannya. "Yuui bisa menggantikannya melindungimu. Ya kan, Yuui?"
Kembarannya mengangguk tanpa jeda. "Setelah ini hidupku akan berpindah-pindah karena urusan pekerjaan. Kurasa gaya hidup seperti itu sekarang ini bisa membuat Tomoyo aman di banding bersama keluarga angkatnya yang tinggal menetap." Seolah baru menyadari apa yang dikatakannya, Yuui segera menunduk malu. "Kalau… kalau Tomoyo mau ikut denganku, tentu saja."
Tomoyo menatap Yuui untuk beberapa saat sebelum kembali memandang Fai.
"Kamu sendiri bagaimana, Fai-san?"
"Aku akan tetap menunggu."
.
.
.
Watanuki memberinya sebuah notes dan pulpen yang familiar bagi Fai. Kedua benda itu milik Kurogane. Bagaimana dua benda itu bisa ada di tangan Watanuki, Fai tidak berani menanyakannya. Penyihir itu hanya memberikan dua benda itu dan menyatakan bahwa Fai sudah membayar harganya, lalu meninggalkannya dalam kebingungan. Apa memang kerja penyihir antardimensi selalu membingungkan seperti ini atau dirinya di kehidupan ini yang terlalu bodoh?
Satu yang pasti, begitu menginjakkan kaki di New York, kenangan tentang kehidupan masa lalu yang sejak dulu mengikutinya siang-malam tiba-tiba lenyap tak berbekas. Kurogane yang ada dalam ingatannya hanya tinggal Kurogane yang bersamanya selama hampir dua tahun ini. Kurogane sang jurnalis New York Times, editor yang kejam dalam mengoreksi tulisan, kekasih yang penuh gairah dan laki-laki yang tak pernah berhenti lama dalam kehidupannya.
Fai tidak tahu dia harus senang atau sedih atas harga yang perlu dibayar untuk permohonannya.
Notes itu khusus berisi catatan Kurogane mengenai bahan-bahan liputan investigasinya: tentang ibunya yang ternyata juga mantan pekerja seks dan terbunuh ketika ayahnya tidak lagi bisa melindunginya paska perceraian mereka, ayahnya yang tak lama kemudian juga terbunuh dalam kecelakaan lalu lintas yang sepertinya disengaja, membebaskan Tomoyo dari tangan mucikarinya saat di Connecticut, dan lain-lain.
Deskripsi Fai (si pirang) sekali muncul di sana, saat awal pertemuan mereka. Kurogane mencurigainya sebagai orang suruhan mafia prostitusi itu. Fai tertawa saat membaca kemungkinan dirinya adalah pelacur suruhan organisasi untuk merayunya, lalu membunuhnya. Sekarang dia tahu kenapa Kurogane menjaga sebagian besar informasi pekerjaannya dari Fai.
Tidak ada satu pun nama tersebut di sana. Fai sudah menduganya. Bagaimana pun, Kurogane adalah laki-laki yang selalu waspada.
Catatannya terhenti di satu hari sebelum ulang tahun Fai. Namun ketika Fai dengan iseng membuka halaman terakhir notes itu, ada satu kalimat tertulis di sana.
New York adalah titik mula.
Fai memejamkan matanya dan berusaha meredakan gemetar yang menjalari tubuhnya. Di bayangannya, wajah Kurogane selama hampir dua tahun kebersamaan mereka terlintas cepat dan sambung-menyambung. Ingatan yang diperolehnya selama di New York. Terlalu cepat. Laki-laki itu bergerak terlalu cepat. Perpisahan mereka terlalu cepat.
Tapi New York adalah titik mula.
Dilemparkannya buku kecil itu ke dalam api bersama papan kliping dan barang-barang Kurogane yang lainnya. Dengan sigap api di dalam barel minyak melahapnya. Kalau Kurogane ditangkap oleh organisasi itu, apartemen Kurogane bisa jadi dalam bahaya—kalau bukan sudah. Sorata sudah mengonfirmasi bahwa semua bahan yang dibutuhkan untuk kasus ini sudah ada kopiannya di kantor Times, jadi Fai hanya mencatat seperlunya dan membakar sisanya.
Sambil memainkan pulpen milik Kurogane, Fai memandangi nyala api yang seolah berusaha berkobar di bawah langit malam penghujung musim gugur, seperti mata Kurogane yang berkilat penuh gairah ketika ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Suara keramaian New York bergaung tumpul di sekitarnya.
"Lagi-lagi kamu meninggalkanku tanpa bilang apa-apa, berani sekali," gumam Fai pada nyala api. "Sudah kubilang, kalau kamu meninggalkanku lagi, aku akan terus mengejarmu hingga ke ketiadaan."
Tepat pada hari ini, dua tahun lalu, Fai menemukan Kurogane di Butterfly Beans. Benda yang dibelinya selalu hanya segelas kopi dan koran hari ini, diam lima menit, lalu kembali bergerak menerobos kerumunan New York yang kelabu.
Dua tahun lalu, Fai menunggu sampai mata merah itu menatap padanya.
Fai memasukkan pulpen Kurogane ke dalam saku jaketnya, menyangklong tasnya, lalu berjalan cepat menerobos terpaan angin musim gugur yang merontokkan tulang. Dia dapat merasakan seseorang mengawasi dan mengikutinya sejak seminggu lalu, tapi dia tidak boleh berhenti.
Dulu, dia menunggu dan bersembunyi. Sekarang, dia bergerak dan mencari.
Dia tidak boleh berhenti terlalu lama.
