ARTHUR memimpikan kampung halaman dan rumahnya di Arkholme.
Dalam mimpinya, dia tidak sedang menikmati teh sore sambil membaca surat kabar langganan, melainkan menghitung jumlah butir peluru yang dikeluarkan dari laras senapan di atas pisin scone. Dia merasa ada sebutir yang hilang dari sana, padahal dia belum sekalipun memakai senjata apinya.
Dia kemudian membungkukkan badan buat mengintip kolong meja bundar kecil tempatnya menikmati teh dan camilan, mengira-ngira kalau salah satu pelurunya jatuh ke sana dan terhalang rerumputan. Alih-alih, Arthur malah menemukan seekor katak yang menatap lurus ke arah matanya, lalu terentak ketika binatang amfibia itu berbicara,
"Pirenia!"
ujung langit huesca
hetalia © himaruya hidekazu
fanfiction © pindanglicious
saya tidak mengambil sedikit pun keuntungan dari pembuatan karya ini karena sesungguhnya saya hanya menulis atas dasar menambah asupan dan amunisi, bukan untuk memperkaya diri.
segala unsur historis di sini dipakai untuk tujuan pembelajaran, bukan menyudutkan satu pihak, bukan untuk propaganda, dan bukan untuk meromantisasi tragedi historis yang ada.
{alternative universe, historical-spanish civil war, multichap}
"Tutup kerainya, Francis, biarkan dia istirahat sebentar!"
"Oh ya ampun, kau terlalu hobi memanjakan bocah ini Antoine, kita semua sama-sama kurang tidur, tahu!"
"Begini maksud Antonio; akan jadi masalah kalau kedua dari kalian sama-sama melek. 'Kan? Hei, Antonio? Kau harus gantian tidur saat Arthur bangun, Francis!"
Arthur menekan-nekan kelopak mata. Dia mencoba menjangkau dunia nyata dari alam mimpi anehnya yang sepintas lewat, diusik oleh bisikan berisik di dekat telinga yang dikenalnya sebagai suara ribut si tiga serangkai sinting Francis dan kawan-kawannya―Antonio dan Gilbert, paling-paling.
Ketika Arthur membuka mata, pemandangan konyol yang dibayangkannya tadi itu benar-benar kenyataan; memang mereka bertiga yang sedang laguh-lagah, berdesak-desakan di satu bangku yang jatahnya cuma untuk dua orang. Sisanya, tidur dengan tampang masai dan kacau. Si Vargas tertidur di samping Arthur, menopang sikut ke galar jendela, mulutnya terbuka dan dia sudah mengorok keras. Dua bangku di depannya diisi oleh Feliks dan Toris yang sama-sama terlelap penat sambil duduk. Si pemuda Portugis tak kelihatan ada dimana; mungkin di bangku-bangku depan memisahkan diri.
Ini adalah urutan kejadian lima belas menit sebelum kereta benar-benar berhenti di Aragon.
Perlu waktu lagi untuk sampai ke front. Kiranya, markas mereka ada di Barbastro, tapi komandan bilang, yang benar ada di Alcubierre. Perjalanan mereka disambung lagi menuju Alcubierre dengan truk bak terbuka; para milisi diangkut seperti barel-barel minuman seusai turun dari stasiun.
Alcubierre letaknya sangat dekat dengan front dan sudah tercium jelas bau peperangannya di sana.
Meski begitu, daerah ini belum pernah ditembaki meriam selama perang sipil. Tidak seperti Sietamo yang diperebutkan setidaknya lebih dari tiga kali dan akhirnya jatuh ke tangan para Anarkis pada Oktober silam.
Hampir dua jam truk itu melancong dari Sietamo ke Alcubierre sebab jalanan terhalang kabut tebal. Rute yang dilewati memanglah pegunungan berpemandangan batu sana-sini dan anginnya kencang menyibak. Jalannya butut dan terjal, orang yang tidak biasa naik gunung atau jalan jauh pasti sudah mati akibat mabuk darat.
Afonso mengeluarkan sebotol penuh brendi dari ransel besarnya, dia tahu udara sudah semakin mendingin setelah menengok sebentar pemandangan sekeliling. Kawan-kawannya merapatkan pakaian hangat dan syal tebal mereka.
"Kaumau ini seteguk dua teguk, Kamerad?" tawarnya pada siapapun yang ada di truk bak itu, yang kesemuanya dilanda kebosanan dan kedinginan. Arthur mengepalkan tangan bersarungnya di dalam saku mantel sambil menunggu giliran botol brendi itu dengan menggigil kecil.
"Vielen dank!" Gilbert mengusap mulut dengan punggung tangan sehabis minum satu tenggak, lalu mengopernya pada Francis.
"Hei, Kau! Butuh ini?"
Pria asal Bordeaux itu menyodorkannya pada si bocah Italia yang menolaknya dengan sopan. Alih-alih, dia malah mengeluarkan bungkus rokok, mengambilnya satu batang, lalu sama-sama menghibahkannya pada kamerad yang lain.
"Kau melinting ini sendiri?"
"Tidak, Kamerad Dokter Fernandez. Aku bawa dari Italia. Karena aku yakin sekali penjatahan rokok di sini akan semakin menipis setiap harinya," jawabnya seraya menjepit rokok dengan mulut dan memantik ujungnya. "Fuuhh," ―dia mengembuskan asapnya ke udara, dan menatap datar lingkaran-lingkaran itu. "Ada yang mau pinjam korek apinya?"
"Aku." Arthur menengadahkan tangan. Lovino diam memandangnya sebentar, setelah itu dia melemparkan pemantiknya ke arah sang kamerad, tanpa menghiraukan pandangan heran semua anak adam di sana akan keakuran dua bocah itu yang tidak seperti biasanya; duduk berseberangan, anteng dengan sigaret masing-masing, dan menyelingi dengan obrolan-obrolan remeh di luar tetek bengek politik.
Kurang dari lima belas menit botol brendi milik Afonso sudah ringan massanya dan kembali masuk ke dalam ransel si empu, operannya diganti dengan barang hibah lain. Begitu seterusnya selama kira-kira dua jam sembari ditemani percakapan dan guyon satir.
Mereka tiba di barak saat matahari sebentar lagi tergelincir di horison barat, lalu mengemasi barang-barang dari truk untuk diturunkan ke barak.
Itu adalah barak yang sama mengerikannya dengan barak di Lenin. Dia punya tumpukan jerami berisi sampah-sampah kaleng susu dan bekas pinggiran roti yang berjamur untuk dijadikan tempat tidur. Dan, tempat ini adalah bekas kandang kuda! (Feliks mengeluh ada bangkai tikus dan tulang ayam berserakan di bawah jeraminya.)
Di sana ada satu gudang paling kotor yang dijadikan kakus. Pintunya terbuat dari seng berkarat dan reyot parah. Ketika malam anginnya bertiup kencang, dia akan membawa bau busuk gila-gilaan ke udara bersama musim dingin yang kering di pegunungan.
Arthur terlambat berhimpun bersama regunya. Kelompok-kelompok di sana sudah duduk melingkari api unggun masing-masing dan menyantap ransum. Malam itu hidangannya bubur gandum dan dua butir biskuit yang keras ketika digigit; rasanya seperti koran dicampur gula dan garam.
Feliks membawa beberapa potong keju batang di sekantung plastik bening dan membagikannya pada sang kawan-kawan. Francis dan Gilbert bertukar minum (anggur dengan bir), Lovino mencari-cari korek api di saku celana korduoi-nya sambil menggerutu. Makanan pokok mereka sudah raib dalam waktu sekejap tanpa dikomentari apa pun. Mangkuk-mangkuk dan sendok bekas makan yang masih belepotan sisa bubur ditaruh di samping pojok api unggun.
Antonio menoleh ke samping. Gendang telinganya ditabuh lantunan balad heroik dari kelompok di seberang. Balad tentang revolusi kaum anarkis. Kita harus menang! adalah ujaran yang selalu terlontar dari mulut setiap milisi di sana.
Arthur menguap lebar, lalu merenggangkan otot-ototnya yang keletihan. Dia memecah keheningan sementara kelompok itu dengan suara menguapnya.
"Tidak inginkah kalian tidur?" Lovino bersuara, mengetuk batang rokok buat membuang sekamnya ke tanah yang penuh kerikil dan pasir. Pandangannya lurus ke depan. Pria-pria itu saling bertatapan satu sama lain, kemudian mengangkat bahu. Mereka tahu kalau malam sudah semakin larut tenggelam.
"Aku belum akan tidur kalau belum kebagian senjata," celetuk Afonso, akhirnya buka mulut. Sedari tadi lelaki Portugis itu bergeming, hanya menanggapi seadanya ketika kawan-kawannya bertukar cerita.
Perihal molornya pembagian jatah senjata memang benar. Afonso sudah ke sini sepekan lewat tiga hari lalu, dia mengaku sama sekali belum pernah dikirim ke front maupun diberi senjata oleh sersan. Selama itu kegiatannya cuma menontoni kehidupan di bawah jalan Ramblas dan pelatihan militer oleh satuan korps untuk orang-orang sipil. Kalau dia mau, bisa saja dia pulang lagi ke Portugis, tapi Afonso tidak ingin perjalanannya sia-sia dengan belum tercapainya tujuan.
"Hah? Memangnya kau tidak bawa senjata pribadi untuk cadangan?"
Selanjutnya Arthur mulai mengkritisi. Alis tebalnya terangkat satu. Dia merasa sudah menyiasati kemungkinan-kemungkinan yang ada―termasuk payahnya sistem penjatahan suplai―dan menyatakan kalau dia membawa dua buah senjata api dan kotak pelurunya sebagai cadangan. "Kau bisa beli di toko senjata sewaktu di Ramblas," tambahnya menceritakan pengalaman kemarin sore ketika dia membeli peluru. Afonso tertawa lugu, bahunya terangkat.
"Aku akan tidur setelah patroli malam." Gilbert memberikan jawaban versinya sendiri. Dia baru saja menghabiskan isi botol birnya yang kedua hari ini. Bicaranya diselingi cegukan-cegukan kecil. Francis menepuk bahunya.
"Kau dapat giliran patroli malam ini? Malam ini sekali?" tanyanya penasaran. Kawannya itu terkekeh sambil mengibas-ngibas tangan.
"Tidak. Tapi mereka sering mengadakan sesuatu yang sangat mendadak." ―jawabannya diiringi dengan tanggapan setuju kamerad-kameradnya dan anggukan.
Selang beberapa menit, mereka diam lagi. Feliks keburu tidur, kepalanya menyandar di bahu sahabatnya. Lovino mendengus dongkol sebab ingin menghujat orang-orang itu tanpa alasan bagus. Dia sudah menghabiskan rokok yang kedua. (Hoi, cepatlah pergi tidur dan biarkan aku sendirian di sini, ikan sarden kaleng!)
Ada angin yang berembus kencang sekali dari lereng gunung dan membuat milisi-milisi itu merinding sebelum mereka merapatkan baju hangat. Suasana di luar barak semakin sepi karena sebagian sudah balik kandang. Api unggun yang menyala tinggal satu lagi―milik mereka saja.
Malam itu benar-benar senyap, tanpa bunyi jangkrik dan binatang malam lainnya sekalipun. Cuma ada desiran angin, suara kayu yang melepuh dibakar api, dan sol sepatu yang bergesekan dengan tanah.
"Aku akan tidur."
Arthur berbicara memecah keheningan. Semua mata lelah tertuju pada lelaki muda itu. Dia bangkit dari duduk, lalu menepuk-nepuk bagian belakang celananya dari lapisan pasir dan debu tebal.
"Ah, aku juga!" sergah Antonio sedikit tergesa. Arthur membantunya bangun dengan menarik genggaman tangannya. "Kalian yakin akan terus di sini sampai matahari terbit lagi? Francisco! Kau belum tidur kemarin malam!"
Si pemilik nama terkekeh seperti orang tua yang ditanyai cara menggoreng telur oleh anaknya.
"Kami akan menyusul! Lagian, aku masih kuat untuk menembak kalau penyusup dari kubu sebelah kok! C'est la guerre!" jawabnya yakin sebelum dua dari mereka benar-benar lenyap dari tempat itu untuk pergi beristirahat.
Pada pagi kedua di Alcubierre, kira-kira sebelum pukul sepuluh, seorang sersan dengan wajah garang yang terbakar sinar matahari datang. Dia membawa tas jinjing besar. Dan itulah saat yang ditunggu-tunggu para milisi, pembagian senjata! (Tapi mereka tidak bisa berharap banyak.)
Arthur sudah menyiasati bobrok itu sebelumnya. Tetapi dia masih tercengang horor ketika menerima senjata infantri dari sersan. Senjata bekas yang diterimanya adalah adalah Mauser Jerman keluaran 1896, usianya lebih dari empat puluh tahun! Setidaknya informasi itu yang didapatnya dari Gilbert.
"Ini masih aman dipakai?" tanyanya pada Antonio, sambil menyikut dan berbisik. Nadanya selalu skeptis.
"Entah," yang lebih tua mengedik bahu. Dia memerhatikan Mauser miliknya dan mengotak-atik sedikit beberapa bagian. Pelatuknya sudah kaku dan larasnya berkarat. "Aku meragukan ini. Untung aku bawa revolver cadangan, tapi itu saja tidak cukup untuk menembak musuh dari radius jauh. Ah, lihat! Dia malah memberikan yang bagus pada Maricóon itu!"
Hampir semua senjata infantri yang dibagikan oleh mereka sangat buruk; buruk sekali! Ada yang bahkan jauh lebih buruk. Senjata yang setidaknya sedikit lebih baik―usianya baru sepuluh tahunan―malah jatuh ke tangan bocah yang bahkan tidak tahu cara menggunakannya.
Sersan memberikan instruksi singkat selama lima menit perihal cara mengisi peluru saja, setelahnya, dia tidak bicara apa-apa lagi. Dia membagikan jatah peluru pada milisi-milisinya; satu orang mendapatkan lima puluh butir. Gilbert menggerutu karena baginya, itu tak penting. Sebagai ekspatriat asal Jerman, dia paham betul cara memainkan senjata. "Aku berharap lebih," keluhnya sebelum bercerita bagaimana kehidupannya sebelum ini saat dia masih jadi kadet di akademi militernya dulu.
"Seperti apa? Berharap Rusia memberikan bantuan rudal pada POUM? Mimpi. Mereka tidak akan memberikan itu pada kita," Lovino mencibir. Dia sibuk mengemasi barang-barangnya ke dalam ransel setelah petugas militer yang pangkatnya lebih tinggi mengumumkan kalau mereka akan segera berangkat ke front dalam waktu seperempat jam. Front yang jaraknya tiga mil di depan. Dan ini yang sangat Arthur nantikan sebab dia sudah bosan menunggu giliran dikirim ke medan perang.
Kompinya yang berangkat itu terdiri dari delapan puluhan orang dan beberapa ekor anjing. Mereka berjalan dari hulu ke hilir, barisannya di kaki gunung seperti semut yang berjalan mengular. Atasan tidak membagi peleton untuk saat ini, tapi nanti, dia akan memecah lagi peleton jadi regu lebih kecil supaya mudah menyebar.
Perjalanan mereka seperti pawai meriah, diiringi bendera merah dan spanduk panjang bertuliskan POUM besar agar bisa dibaca dari kejauhan. Komandan kolom berjalan di samping bendera, menunggangi kuda hitam gagah. Rambut pirang tipisnya berkibar disibak angin ketika dia sedang menggosok-gosok kumis tebalnya dengan jari telunjuk. Separuh dari barisan mereka dipenuhi bocah―Arthur serius, bocah!―berusia sekitaran enam belas tahun yang bersemangat dan terlihat sangat senang. Dengan suara mereka yang melengking, di setiap ada kesempatan, mereka akan meneriakkan "¡Visca POUM!" diselingi seruan-seruan menantang para Fasis.
Bagi seorang Arthur Kirkland yang selalu memandang segala hal dengan sinis, dia bisa saja menganggap teriakan penuh semangat juang bocah-bocah itu tak berbeda dengan ratapan anak anjing; menyedihkan. Tetapi Antonio menyuruh juniornya itu untuk diam dan menjaga mulut.
Arthur mengedar pandangan ke sekeliling. Dia sadar kondisi lingkungannya sedikit berubah dari yang tiga hari lalu dilihatnya dari atas truk bak; jalan berbatu yang diapit ladang-ladang kuning dan kering yang separuhnya tertutup salju, barangkali tidak pernah disentuh lagi semenjak musim panen tahun lalu.
Bohong kalau Arthur tidak takut. Sewaktu masih di Barcelona, Arthur tidak pernah bisa nyenyak tidur sebab memikirkan hal-hal demikian; tentang peperangan besar, membayangkan akan bagaimana dinginnya ketika harus berjaga di dalam parit sampai subuh, atau senjatanya yang akan membeku, atau sepatu bot yang diisi lumpur dan es.
Pendakian berhenti di satu titik di mana mereka bisa memandang perbukitan dari atas puncak. Bukit-bukit itu terdiri dari formasi yang unik; berbentuk serupa tapal kuda dan puncaknya rata, ditumbuhi tumbuhan paku kecil dan dikelilingi batu gamping yang bercuatan dari permukaan tanah.
"Di depan mata kalian adalah posisi kita, Kamerad! Kita akan berjuang di sini bersama-sama!"
Komandan berseru lantang, tangannya terbentang. Dia menunjukkan suasana sekeliling yang dikenalkannya dengan sebutan pos. Tempat itu terdiri atas parapet panjang dari karung pasir dan dicampur dengan tumpukan batu. Bendera merah berkibar-kibar di puncak bukit paling tinggi, dan langitnya diasapi pembakaran api unggun di beberapa titik.
Arthur melihat beberapa orang berpencaran. Ada yang bersembunyi di dalam parit, ada yang berjaga di balik parapet dengan senjatanya, mengelabui pergerakan musuh barangkali. Tapi sedari tadi Arthur tidak melihat satu pun musuh yang berkeliaran di sekitar sini, meski telinganya berdenging karena suara-suara tembakan bedil dan senapan yang dilayangkan entah ke mana dan kepada siapa.
Seorang kapten datang dari hiruk pikuk kesibukan di posnya dan menyambut kedatangan pasukan baru itu dengan senang. Dia masih muda, mungkin awal tiga puluhan usianya. Pakaiannya lusuh dikotori lumpur. Dari penampilannya, jelas sekali orang ini belum bercukur selama lebih dari dua setengah bulan.
"Vidal!" Komandan memanggil nama kecil kapten itu seraya turun dari kuda dan merangkulnya. Dia menyuruh Kapten Vidal untuk bertatap muka satu persatu dengan anggota kompi. Jabatan tangannya begitu keras dan bersemangat ketika Arthur kebagian menyalaminya. Mereka dikomandokan untuk menyebar lagi dan berkeliling pos sampai pukul empat sore. Katanya, supaya bisa beradaptasi.
Arthur membuntuti Antonio yang berjalan selangkah di depannya. Dia hanya bisa bersatu dengan kelompok kemarin harinya itu meski sering cekcok dengan si Vargas. Sebagian dari mereka sudah punya pengalaman militer―atau minimal punya intelijensi soal itu. Lain dengan bocah-bocah naif dan lugu yang ikut bersama kompi; mereka bahkan tidak tahu apa arti perang ini sebenarnya.
Dan bocah-bocah itu―apalagi Sersan yang membagikan senjatanya―tak pernah lolos dari gerutuan Lovino dan―terutama―Gilbert.
Gilbert punya kritik paling pedas saat menyampaikan ketidaksukaannya pada sifat teledor orang Spanyol. Dia tidak suka sifat malas-malasan mereka, tidak suka keterlambatan waktu mereka, dan yang paling krusial, bodohnya strategi berperang mereka. (Antonio hanya bisa diam dan ber-haha-hihi canggung mendengar penuturan jujur sahabat lamanya.)
"Ah, tenda! Kita menumpang dulu di sana dan taruh barang bawaan kita yang berat ini. Punggungku rasanya seperti sedang ditunggangi kuda!"
Francis kembali berkicau memecah argumentasi kawannya yang mulai memanas, dia menunjuk tenda terpal yang dimaksud dari kejauhan. Tanpa sepatah komentar pun kamerad-kameradnya langsung menyetujui dan segera berlari kecil menghampiri tenda. Kaki mereka rasanya sangat kaku dan seolah membeku akibat terlalu lama berjalan dan berdiri.
Tenda itu sedang kosong, kemungkinan yang berjaga tengah dialih tugaskan ke bagian lain. Di sana hanya ada tumpukan barang dan peti kayu besar pada setiap pojokan. Bisa jadi isinya stok kentang. Dilihat dari kondisi berserakannya saja, Francis sudah tahu apa fungsi tenda ini. Dia kemudian melepaskan ransel besarnya dan menaruhnya ke bawah, disusul dengan kawan-kawannya. Mereka melakukan gerakan-gerakan ringan untuk merenggangkan otot dan menghela napas panjang sebelum akhirnya mengistirahatkan bokong.
Feliks menjatuhkan badannya ke tanah, napasnya memburu lelah. Dia merogoh-rogoh ranselnya buat mencari botol minum, kemudian dia menenggaknya banyak-banyak untuk mengganti cairan tubuh.
Arthur duduk di atas peti, baru saja meminta sebatang rokok dan meminjam korek api dari Lovino. Pria Itali itu mengumpat dulu sebelum memberikan barang berharganya, namun pada akhirnya mereka mengisap rokok bersama seolah tak ada permusuhan di antara keduanya.
"Kita istirahat dulu di sini? Masih ada dua jam lagi sisa waktu untuk kumpul regu." Antonio memperlihatkan arloji tangan pada Francis dan Gilbert yang bersila di samping kanan dan kirinya. Sayangnya dua orang itu keburu memejamkan mata; Francis menengadah dengan mulut terbuka, dan Gilbert menundukkan kepala. (Entah mulutnya menganga atau tidak.)
Sedangkan Afonso sudah asyik dengan buku bacaan yang dibawanya dari Lisbon. Sesekali matanya tertuju ke luar, fokusnya teralihkan hilir mudik tentara sipil yang berlari dan berteriak-teriak membawa senjata menuju parapet atau sebagiannya lagi turun ke dalam parit.
Toris menontoni beberapa serdadu militer dan barisan bocah yang sedang melaksanakan pelatihan. Remaja tanggung asal Lithuania itu berdecak kagum. Dia merangkak maju sedikit ke luar tenda untuk memerhatikan lebih dekat.
"Lihat! Mereka sedang latihan menembak!" serunya antusias. Ini adalah kali pertamanya mengikuti perang. Sebelumnya, dia belum pernah memegang senjata. Ketika diberikan instruksi oleh sersan soal menggunakan senjata, dia tidak diajari untuk menembakkan peluru ke arah target.
Toris sangat ingin mengikuti pelatihan itu, tapi Gilbert berjanji akan mengajarinya menembak kalau musuh benar-benar datang. Katanya, akan lebih enak kalau langsung dipraktikkan. (Dan ini jelas-jelas ditentang oleh kawan-kawannya yang lain.)
"Tidak seru. Aku ingin buru-buru menghabisi musuh!" gertak Lovino bernada kasar seperti biasanya. Kali ini dia menambahkan dengan seringai sinis yang congkak. Arthur sangat ingin menonjoknya, tetapi entah kenapa untuk sekarang, dia sedikit menyetujui omongan sombongnya.
"Sekali ini saja, Vargas, aku sependapat denganmu," timpal Arthur yang tengah mengetuk batang rokoknya untuk membuang abu ke tanah. Semua mata tertuju padanya. "Aku membuang waktu dengan percuma di sini. Mereka terlalu banyak basa-basinya," lanjut lelaki asal Britania Raya tersebut sambil mengedik bahu tak acuh. Dia meniupkan asap rokok berbentuk lingkaran-lingkaran ke luar area tenda.
Arthur tidak ingat apakah dia sudah lebih dari seminggu mengabdi di sini atau belum. Hari-harinya selama itu penuh kebosanan dan harapan yang gagal. Dia sangat ingin setidaknya membunuh satu orang musuh supaya tujuannya tercapai dan pengorbanannya untuk datang ke Katalonia membuahkan hasil.
Dan hal demikian agaknya dialami juga oleh si Vargas. Ada kemungkinan dia tiba lebih awal beberapa minggu sebelum Arthur datang. Ekspresi dan gelagatnya selalu menunjukkan ketidaksabaran. Mungkin dia jauh lebih merasa jenuh ketimbang Arthur.
Kemudian ketika sedang hening-heningnya beristirahat, ada suara ledakan sangat kencang dari luar. Kedelapan lelaki itu terperanjat; Francis dan Gilbert langsung bangun dari separuh tidur mereka, kemudian semuanya berhamburan dari tenda dengan membawa senjata, mengira kalau yang tadi itu adalah serangan pertama dari kubu Nasionalis. Suasana di markas menjadi sedikit lebih heboh.
Tetapi nyatanya, ledakan tersebut bersumber dari seorang bocah (lagi-lagi bocah!) yang salah menggunakan senapannya. Peluru merobek tulang hastanya sehingga darah yang mengalir lumayan banyak―dan tentu saja, si bocah masih beruntung! Pelurunya cuma melukai tangan!
Itu adalah insiden penembakan pertama yang terjadi setelah sekian lama, dan disebabkan oleh kecerobohan.
Lagi-lagi, Arthur dan kamerad-kameradnya harus menahan rasa kecewa besar di dadanya.
(Tapi, ini adalah misi perdana Antonio! Ya. Cuma Antonio!)
