Author's Note
Doumo, minnasan. Chapter 4 sudah diupdate XD *entah mengapa Author merasa updatenya lebih cepat ya? Mungkin hanya perasaan Author saja. Ha ha
Author nggak tahu mau ngomong apa. Jadi, see you next chapter aja \^^/
.
.
.
A GLOWING HUG
Disclaimer : Naruto belongs only to Masashi Kishimoto-sensei
Warning : AU, typo(s), OOC, etc.
Rated M
Pairing : Namikaze Naruto & Hyuuga Hinata
.
.
DON'T LIKE DON'T READ!
.
Happy Reading!
.
.
.
CHAPTER 4
.
Hinata duduk dengan gugup di dalam bus. Ia tidak ingin mengakuinya, akan tetapi ia agak heran mengapa Naruto tidak memaksa untuk mengantar Hinata ke kampus dan berakhir dengan gadis itu yang menaiki bus seorang diri. Waktu masih cukup pagi bagi orang-orang untuk memulai aktifitasnya. Hinata bersyukur hanya ada beberapa orang saja yang terlihat duduk dengan nyaman di kursinya.
Rencana Hinata untuk menghindar bertemu Naruto telah gagal pagi ini. Ia masih terus memikirkan berbagai cara untuk menghindari pria itu. Harusnya ia bersyukur karena Naruto tidak memaksa untuk mengantarnya. Pria itu terus melakukannya sebelum mereka menikah. Hinata merasa bersyukur dengan pernikahan ini, kalau begitu. Ia tidak perlu membuat keluarganya cemas setiap kali dirinya berada di rumah. Ia juga tidak perlu berusaha menampilkan senyumannya dan bertingkah seolah semua baik-baik saja. Ia hanya perlu berada di dalam kamarnya dan mengasihani dirinya sendiri di sana.
Naruto tidak akan peduli padanya. Lagipula, Hinata telah meminta pria itu untuk menganggapnya tidak ada di rumah itu. Hinata sudah memberi kebebasan padanya. Hanya saja, sikap Naruto malam tadi membuat Hinata harus memikirkan kembali berbagai hal.
Hinata turun di halte dekat kampusnya. Berjalan sendirian menikmati langit cerah di atasnya. Menikmati semilir angin musim dingin yang sebentar lagi akan berakhir. Ia menghembuskan nafas mencoba menenangkan detak jantungnya yang gelisah dengan liar. Hinata menyadari kemajuan dirinya sendiri. Ia tidak menyangka jika tubuhnya dapat bereaksi lebih baik dari yang ia duga. Mungkin karena ia selalu memaksakan keberanian di pikirannya sehingga ia tidak lagi merasa sangat takut seperti pertama kali ia keluar dari rumahnya dulu. Tubuhnya tidak lagi bereaksi berlebihan saat pria-pria menatapnya.
Ia tidak lagi menggigil ketakutan. Ia tidak lagi panik ketika berada di tempat umum―saat ia bersama teman-temannya, tentu saja. Ia bisa melakukan kegiatannya seperti biasa di sang hari. Bertingkah seolah tidak ada yang terjadi di hidupnya. Tapi, hati Hinata masih terus merasa gelisah dan tidak nyaman berada di luar rumahnya. Ia hanya tidak takut, namun bukan berarti Hinata tidak merasa cemas. Ia hanya khawatir kejadian itu akan terulang kembali.
Gadis itu masih tidak berani keluar di malam hari. Selama sebulan lebih ia berhasil mengatur jadwalnya agar terbebas dari kegiatan yang memungkinkannya berada di luar rumah saat malam tiba. Hinata merasa beruntung selalu mendapat sebuah alasan untuk kabur dari segala kewajibannya.
Setelah kejadian dengan Kiba yang sudah lama berlalu, membuat Hinata harus berusaha lebih keras menutupi semuanya. Yah, mungkin karena aktingnya selama ini, membuat Hinata terlihat lebih natural daripada seharusnya korban pemerkosaan alami. Ia harus mengakui bakat aktingnya yang mengagumkan.
Hinata tersenyum pahit.
"Di pagi hari seperti ini, senyummu terlihat berat, Senpai."
Hinata mundur selangkah ketika menyadari seseorang tiba-tiba berdiri di sampingnya. Gadis itu menghela nafas lega ketika melihat sosok tersebut.
"Kau membuatku kaget, Toneri-kun," katanya.
"Eh? Aku sudah menyapamu beberapa kali. Tapi, sepertinya kau terlalu terbuai dalam lamunanmu, Hinata-senpai."
Hinata mengangkat kedua alisnya dengan anggun. " Benarkah? Ah, maaf."
Toneri tersenyum miring.
"Ada yang mengganggumu, senpai?"
"Hm? Apa maksudmu?" tanya Hinata bingung.
"Tidak. Hanya saja beberapa minggu terakhir aku selalu memperhatikanmu bertingkah aneh," aku Toneri dengan senyum masam.
Hinata merasa jantungnya melompat dari tempatnya. Bulu kuduknya meremang. Perasaan waspada membuat telapak tangannya menggelenyar. Dengan erat ia memegang tepi rok pendeknya dan menatap Toneri aneh. "Sejak kapan?"
"Mmm.. Pertengahan musim dingin?" jawabnya tidak yakin. "Apa ada yang terjadi? Jika kau memiliki masalah, aku bisa membantumu."
"T-Tidak ada yang terjadi. Semua baik-baik saja. Apa itu mengganggumu?" Hinata menggigit bibirnya menanti dengan cemas jawaban pria di hadapannya.
Toneri mengangkat bahunya ringan. "Tidak juga. Aku hanya merasa kau agak kesulitan. Itu saja."
"Aa, s-sou desuka."
Angin berhembus menggerakkan helaian rambut indigo milik Hinata. Gadis itu merasa wajahnya memanas untuk suatu alasan. Tapi, ia tetap berjalan bersama Toneri dalam diam. Entah mengapa, ia agak berdebar berjalan bersama pria itu saat ini. Ia tidak ingin membuka mulutnya karena berusaha menenangkan dentuman jantungnya. Dengan malu melirik Toneri dari sudut matanya.
Pria itu berjalan dengan santai di samping Hinata. Pipi pucatnya sedikit memerah karena udara dingin yang menerpa kulit wajahnya.
"Yah, sejujurnya aku sedikit khawatir," cetusnya tiba-tiba.
Mata Hinata membulat lebar. Ia menoleh pada Toneri dengan cepat.
"Aku yakin semua orang juga berpikir hal yang sama. Kaichou juga begitu. Ia selalu menanyakan keadaanmu, Senpai."
"Sai-san?"
"Hn. Kau akan menemuinya hari ini?"
Hinata menelan ludahnya kemudian mengangguk pelan. Ia merasa agak gugup untuk bertemu sahabat Naruto itu setelah Toneri mengatakan hal seperti itu padanya. Bukan karena Hinata merasa takut, tetapi karena ia merasa tidak nyaman berada di dekat pria yang memiliki afeksi padanya.
Sudah beberapa tahun lalu ketika Sai menyatakan cintanya pada Hinata. Hanya saja, perasaannya pada Naruto harus membuat gadis itu menolak perasaan pria berwajah dingin itu. Selama ini, Hinata berpikir jika Sai sudah tidak menyukainya lagi karena ia telah memiliki Ino di sisinya. Tapi, mengetahui jika Sai masih memperhatikannya, membuat hati Hinata menjadi gelisah. Ia tidak percaya diri untuk menghadapi pria itu. Bukan berarti ia yakin Sai benar-benar masih memiliki perasaan padanya. Tapi, tetap saja bagi Hinata rasanya sangat tidak nyaman.
Toneri berpisah dari Hinata tepat di depan gedung fakultas mereka. Pria itu mengatakan ada sesuatu yang harus ia lakukan. Hinata mengangguk dan berjalan sendiri ke kelasnya. Ia nyamankan dirinya di kursi. Melihat pemandangan halaman kampusnya dari jendela, mata amethystnya secara tidak sengaja menangkap pemandangan Toneri dengan seorang gadis cantik yang duduk dengan nyaman di sampingnya. Gadis itu bicara dengan riang pada pria bersurai putih itu.
Hinata merasa hatinya menghangat melihat hubungan kedua pasangan itu. Kedua sudut bibir ranumnya terangkat membentuk sebuah senyum manis yang mempesona. Matanya dengan bersinar mengamati percakapan kouhainya di bawah pohon sakura.
Mendadak hati Hinata berdebar melihat gadis itu yang menempelkan bibirnya di bibir Toneri dalam gerakan cepat. Hinata merasa wajahnya terbakar malu dan segera mengalihkan pandangannya ke papan tulis di depan kelas. Ia memegang erat dada bagian kirinya, tepat ke jantungnya yang bertalu-talu. Entah mengapa, ia jadi teringat sosok Naruto pagi tadi. Pria itu terlihat berantakan dengan matanya yang lelah. Hinata menggelengkan kepalanya keras-keras dan menggigit bibirnya.
"Bagaimana bisa aku berpikir dia begitu seksi?!" gerutu Hinata kesal.
Kedua tangan Hinata terlipat di atas meja dan dengan malu menyembunyikan wajahnya di sana hingga suara teman-temannya satu per satu memasuki kelas.
.
.
.
"Hinata," bisik Sakura tepat di telinga Hinata. Gadis Hyuuga itu mengangkat kepalanya untuk menatap wajah sahabat bersurai pinknya. Gadis itu tertawa tertahan melihat wajah Hinata yang memandangnya dengan sayu.
"Apa kau tidak tidur semalaman?" tanyanya.
Hinata mengangguk polos yang seketika membuat wajah Sakura memerah padam. Hinata mengerutkan keningnya. Ia baru saja mengakui jika ia tidak tidur semalaman dan sekarang dengan panik ia harus memikirkan sebuah alasan yang harus ia berikan pada Sakura. Tidak mungkin jika ia mengaku lembur hanya untuk mengerjakan tugas, atau mungkin ia harus beralasan terkena insomnia mendadak. Tapi, kenapa?
Ia bahkan tidak bisa berkonsentrasi dengan gadis di depannya saat ini. Mata Hinata bergerak gelisah memperhatikan ekspresi Sakura yang terus berganti dari bingung, kesal, tidak percaya, bersemangat, dan malu. Hinata mengedipkan matanya perlahan, mencoba mencermati gumaman gadis itu.
"Cih, kurang ajar. Apa dia mengajakmu melakukannya semalaman, Hinata?"
Hinata memiringkan kepalanya tidak mengerti. "Melakukan apa?" tanyanya polos.
Pikirannya sedang tidak dapat terpusat pada percakapannya dengan Sakura sehingga ia tidak bisa dengan tanggap menangkap pembicaraan yang gadis musim semi itu utarakan padanya.
"Melakukan 'itu'. Tsk, kau tidak perlu malu-malu seperti itu, Hinata. Hah, aku merasa kasihan padamu harus mengikuti kuliah setelah menghabiskan malam pertamamu. Lihatlah, matamu terlihat sembab," tukasnya.
Hinata membuka mulutnya menganga. Bahkan ketika pikirannya sibuk mencari alasan. Sakura memberikan alasan yang tepat pada Hinata. Itu yang biasanya pengantin baru lakukan. Tapi… Hinata mengernyitkan dahinya dalam. Ia bahkan tidak memberitahukan apapun pada Sakura.
"Mengapa kau tidak memberitahukanku tentang pernikahanmu?" protes Sakura dengan sebal. Raut marah nampak di kedua mata hijaunya.
"Ssstt.. B-Bisakah kau bicara dengan pelan Sakura-san?" pinta Hinata panik dengan telunjuk yang menekan erat mulutnya. Meminta Sakura untuk menurunkan nada suaranya yang tinggi.
Sakura mengangguk mengerti, ia menurunkan suaranya setelah memastikan tidak ada yang memperhatikan mereka.
"Jadi, kenapa kau tidak memberitahuku?"
"I-Itu.. A-Aku baru saja ingin memberitahumu," bohong Hinata memberi alasan. Sebenarnya, ia tidak ingin mengatakannya pada siapapun mengenai pernikahannya dengan Naruto. Hinata pikir itu tidak ada gunanya. Pernikahan mereka hanya akan berakhir dan Naruto akan pergi ke dalam dekapan Shion. Tapi, ia tidak terpikir hal lain.
"Aa. Harusnya kau memberitahuku lebih awal. Apa Ino sudah tahu?"
Hinata menggeleng. "Belum. Aku akan memberitahunya nanti. Bisakah kita jaga rahasia ini? Aku tidak ingin orang lain mengetahuinya. Rasanya sangat tidak nyaman."
"Tentu saja. Tapi, bagaimana bisa Naruto mengajakmu bermain hingga membuatmu tidak tidur semalaman? Keterlaluan sekali pria itu!" amuk Sakura.
Hinata menekan bibirnya bersamaan, menahan malu. Bagaimana sahabatnya itu bisa menggunakan kata halus untuk mengungkapkan hubungan seksnya.
"S-Sakura-san!" pekik Hinata kemudian menutupi wajahnya yang memanas. Padahal Hinata tidak melakukannya sama sekali. Akan tetapi, mendengar pemikiran Sakura membuat wajah Hinata memanas sampai keubun-ubun. "K-Kami tidak melakukannya," bantahnya.
Sakura memiringkan kepalanya bingung. "Hee? Kalau tidak, lantas kenapa kau tidak tidur semalaman? Wajahmu terlihat begitu lelah, Hinata," kata Sakura.
Mata Hinata terbelalak dan kembali panik dengan sendirinya. "A-Ah, e-eto, maksudku, kami tidak melakukannya semalaman. S-Sakura-san, kau membuatku malu," bisik Hinata. Wajah manisnya memerah padam.
Sakura tertawa geli melihat reaksi teman baiknya. Ia menyerah untuk menggoda gadis itu. "Baiklah. Aku mengerti. Kekkon suru omedetou ne," lirihnya tulus.
Hinata tersenyum dan mengangguk lemah.
.
.
.
Naruto memutuskan untuk kembali ke atas ranjangnya setelah melihat kepergian Hinata pagi ini. Ia merasa sangat khawatir membiarkan istrinya itu pergi ke kampusnya sendirian. Naruto tidak pernah membiarkan Hinata keluar dari rumahnya sendiri. Ia selalu berusaha menemani kemanapun Hinata pergi. Meski, gadis itu selalu saja menolak keras tawarannya. Tapi Naruto tahu jika dalam hati gadis itu merasa lega dengan kehadirannya.
Naruto menyadari jika Hinata tidak sekuat yang ia kira, namun ia juga tidak berpikir Hinata adalah gadis yang lemah. Setelah kejadian malam itu, Naruto selalu dihantui rasa bersalah. Terutama ketika ia mengingat bagaimana shock attack yang dialami gadis itu. Setidaknya, ia ingin mengurangi ketakutan yang Hinata rasakan.
Naruto berniat mengantarnya pagi ini. Sayangnya, tiba-tiba kepalanya terasa pening sehingga ia memutuskan untuk membiarkan Hinata pergi sendiri. Naruto berharap tidak terjadi hal buruk pada istrinya itu. Naruto memijat kepalanya pelan. Setelah tidur tambahan beberapa jam, rasa pening di kepalanya mulai berkurang. Ia beranjak turun ke dapur saat mendengar bunyi keras dari perutnya.
Sinar matahari dengan terang masuk menyinari setiap sisi sudut rumahnya. Naruto baru saja sadar jika saat ini sudah tengah hari. Ia meringis ngeri teringat betapa besar amukan yang akan ia dapat dari Sasuke karena tidak memberitahukan keterlambatannya. Ia berniat kembali ke kamarnya untuk mengambil ponsel. Sialnya, perutnya meraung minta makanan.
Mata sapphire milik Naruto terbelalak dan mulutnya ternganga ketika melihat berbagai sajian makanan ada di atas meja makannya. Ia benar-benar merasakan bagaimana baiknya hati Hinata.
Awalnya Naruto berpikir jika gadis itu bersungguh-sungguh ingin Naruto menjauh darinya―walaupun, Naruto tidak akan mengabulkannya. Ia berpikir Hinata akan bersikap acuh padanya. Tetapi, setelah melihat betapa gadis itu masih tetap memperhatikannya membuat hati Naruto menghangat.
"Bagaimana bisa aku menjauh darimu jika kau memperlakukanku seperti ini?" gumamnya.
Naruto menarik kursi dan memasukkan sesumpit nasi dan karage ke dalam mulutnya. Bibirnya merekah lebar dengan senyum kebahagiaan. Matanya bersinar penuh semangat setelah mencicipi kelezatan masakan istrinya itu. Ia merasa dapat menghabiskan seluruh isi piring-piring di hadapannya saat ini tanpa ada satu pun yang tersisa.
Suasana hati pria Namikaze itu membaik setelah memenuhi kebutuhan makanannya. Ia bersiul santai sembari menaiki tangga. Naruto terlihat begitu bersemangat entah karena apa. Bahkan ia merasa sanggup menerima amukan dari Sasuke setelah ini.
Ia kembali ke kamarnya tepat saat sebuah pesan masuk ke ponselnya. Naruto membaca pesan dari Neji yang menanyakan apakah Hinata berteriak lagi dalam tidurnya. Naruto mengetikkan jawabannya dengan cepat. Ia menunggu beberapa detik hingga sebuah pesan kembali ia dapat. Neji akan menemuinya di kantor, sehingga Naruto dengan bergegas mandi dan pergi ke kantornya.
Naruto memarkirkan mobilnya di basement perusahaannya. Dengan wajah serius berjalan menuju ruangannya. Ia melepas jasnya dan menggantungnya di gantungan jas kemudian sedikit melonggarkan dasinya setelah mendengarkan jadwal yang dipaparkan oleh sekretarisnya. Ia melihat beberapa dokumen yang sudah ada di atas mejanya. Mata birunya dengan teliti menyapu seluruh kalimat yang tercetak di kertas-kertas penting itu.
Naruto mengalihkan pandangannya ketika mendengar suara pintu yang terbuka. Ia menyandarkan tubuhnya ke bahu kursi dan mengulas cengiran lebar dengan terpaksa.
"Jangan memasang cengiran bodohmu itu, Dobe," tandas Sasuke yang berjalan dengan tegap ke sebuah sofa yang ada di ruangan sahabatnya itu.
Mendengar nada sinis Sasuke membuat Naruto kembali memasang wajah seriusnya. Setelah mendapat pesan dari kakak iparnya, suasana hati Naruto menurun tajam. Ia tidak berminat untuk mengacau atau melucu seperti biasanya. Neji mengingatkannya tentang keadaan Hinata yang kembali membuat lubang di hatinya.
"Kau melewatkan rapat pagi ini. Dan di mana kau saat itu?" sindir Sasuke.
Naruto mengangkat bahu dan menatap acuh pada wajah tampan sahabatnya. "Di ranjang."
Sasuke mendengus.
"Kukira kau tidak tertarik dengan istrimu."
"Aku tidak pernah mengatakannya."
"Jadi kau menikmatinya, ha?"
"Oi, ke mana kau akan mengarahkan pembicaraan ini, Teme?"
Sasuke mengangkat bahunya ringan. "Ke mana menurutmu?"
Naruto memutar bola matanya dan menatap Sasuke dengan pandangan malas. "Terserah," katanya tidak peduli.
"Aku tahu kau tukang tidur, tapi, datang ke kantor setelah waktu makan siang selesai? Apa yang kau lakukan, ha?"
Sasuke menatap Naruto dengan tajam. Memerangkap Naruto ke dalam mata hitamnya yang dingin dan menakutkan. Pria itu menyamankan dirinya di sandaran sofa, sangat berkebalikan dengan pandangan buas yang terpancar di matanya.
"Aku tidur seharian, Teme. Kau tahu, aku bahkan tidak tidur malam tadi," aku Naruto dengan masam. Ia memijat pelipisnya pelan memberitahukan bahwa ia merasa begitu lelah.
Pria Uchiha itu hanya terdiam. Tidak berniat menanggapi kawannya itu. Perhatiannya terfokus pada langit yang ada di belakang Naruto. Selama beberapa menit tidak ada yang membuka suaranya. Naruto membiarkan kesunyian mengisi ruang kerjanya. Pikirannya berkelana tidak menentu. Memikirkan kapan Neji akan datang ke kantornya.
Bagaikan sebuah keajaiban, pintu ruangan Naruto diketuk dan kemudian memunculkan seorang pria berwajah dingin dengan surai coklat panjangnya. Naruto menatap Neji dengan tajam. Ia mempersilakan pria itu untuk bergabung dengan Sasuke di sofa. Naruto mendorong kursinya dan berjalan mendekat ke sahabat-sahabatnya. Ia memilih untuk duduk di depan Neji.
"Kau ingin minum?" tawarnya bersikap sopan.
"Tidak perlu. Aku tidak punya banyak waktu," kata Neji.
Naruto mengangguk mengerti. Ia menatap meja di depannya. Merasa gugup untuk memandang lawan bicaranya. Sasuke yang ikut teribat dalam lingkaran memuakkan itu, membuka suranya. Sangat aneh menyadari Naruto hanya membisu tanpa kata. Jika itu hanya Neji dan dirinya, mungkin pria itu bisa memakluminya. Tapi, ini adalah Namikaze Naruto yang bergabung bersamanya. Pria bersurai pirang itu serasa mengusirnya dari sana.
"Apakah aku harus pergi?" tanyanya tanpa ekspresi. Ia sudah menurunkan salah satu kaki yang tadi ia topang setelah Naruto membuka suaranya.
"Tidak perlu," sahut Naruto cepat yang secara langsung mendapat tatapan tidak setuju dari Neji. "Setelah aku memikirkannya, kurasa Sasuke mungkin dapat membantu," jelasnya hati-hati.
Sasuke mengangkat salah satu alisnya, penasaran dengan topic bahasan yang kedua orang sahabatnya akan diskusikan tanpa dirinya. Ia memperhatikan wajah Neji yang terlihat ketus dan Naruto yang terlihat frustasi. Semakin menambah rasa penasarannya, Sasuke memutuskan untuk kembali merilekskan punggungnya di punggung sofa dan menopangkan salah satu kakinya ke atas kaki lainnya.
Neji menghela nafas berat setelah menyerah dengan kehadiran pria Uchiha itu. "Apa dia mengigau lagi semalam?"
Sasuke memperhatikan dalam diam ketika Naruto mengangguk lemah. Otak jeniusnya selalu berguna untuk segala hal. Bahkan sesuatu yang seharusnya ia tidak ketahui.
"Apa dia menjerit lagi?" tanya Neji yang lebih mirip seperti sedang menginterogasi seorang penjahat.
Lagi, Naruto mengangguk.
Sasuke melipat tangannya di depan dada. Menikmati alur pembicaraan Neji dan Naruto. Ia menyadari Neji yang membuang nafas lelah.
"Kukira ini akan berhasil. Tapi, sepertinya tidak," bisiknya.
"Maafkan aku, Neji."
"Tidak perlu. Percuma saja."
Naruto terdiam sesaat, ia bingung harus mengatakan apa pada Neji saat ini. Berbagai pemikiran terlintas di benaknya. Namun, ia ragu harus mengatakan pada pria itu atau tidak.
"Bagaimana sikapnya padamu?" tanya Neji. Mata amethystnya menatap tajam tepat ke mata sapphire Naruto. Sejenak pria kembaran Minato itu tidak tahu harus menjawab seperti apa. Tapi, ia memilih untuk terbuka. Lagipula, Neji bukan orang asing baginya.
"Dia menghindariku," lirihnya.
"Sudah kuduga. Dia pasti merasa bahwa dirinya sangat menjijikkan untuk berada di sisimu."
"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, Neji," kata Naruto frustasi. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan yang bertopang pada lututnya.
"Aku merasa tidak membantu sama sekali di sini," ujar Sasuke saat tidak ada tanda-tanda untuk melanjutkan percakapan antara Neji dan Naruto. Ia menatap dingin kedua pria di depannya yang terlihat kehilangan akal. "Apa yang terjadi?" tanyanya.
Naruto menatapnya dengan pandangan terluka yang tidak bisa Sasuke jelaskan. Melihat ke dalam mata sahabatnya membuat Sasuke menyadari betapa berat perasaan pria itu saat ini. Ia menghembuskan nafas lelah. Jelas sekali itu akan menganggu kerja Naruto beberapa hari ke depan.
"Apa kalian sedang membicarakan Hinata?" terka Sasuke yang langsung membuat tubuh Naruto dan Neji menegang bersamaan.
"Seperti yang diharapkan dari seorang Uchiha, hn?" sindir Neji.
"Bagaimana kau tahu, Teme?" tanya Naruto takjub. "Kami bahkan tidak menyebut namanya."
"Kau tidak bisa meragukan kecerdasanku, Naruto. Apa yang terjadi padanya?"
Seketika kedua mulut pria di hadapan Sasuke terbungkam. Tidak ada yang berniat membuka suaranya, sehingga membuat Sasuke harus menerka-nerka sendiri jawabannya.
"Hinata mengalami pemerkosaan," lirih Naruto dengan berat.
Sasuke mengangguk mengerti. Ia tidak berniat untuk mencari tahu lebih detail tentang kejadian itu. Ia sangat sadar bahwa kenyataan itu bahkan terlalu berat baik bagi Naruto maupun Neji ungkapkan padanya.
"Aku mengerti. Jadi, inikah alasan kau menikahinya, Naruto?"
Naruto menatap tidak percaya pada sahabat bersurai ravennya itu. Kedua tangannya terkepal erat di atas pahanya. "Tidak juga," sergahnya cepat.
"Hn. Awalnya aku tidak mengerti mengapa kau tiba-tiba ingin menikahi Hinata di saat kau sangat tergila-gila pada Shion."
"Jangan ungkit itu lagi, Sasuke," desis Naruto merasa muak.
"Mengapa kau tidak membawanya ke psikiater untuk pemulihan psikisnya?"
"Tidak mungkin. Hinata selalu menolak untuk itu. Kami tidak bisa memaksanya. Dia sangat keras kepala," jelas Neji.
Sasuke terdiam. Wajah tampannya tidak menunjukkan ekpresi yang nyata. "Lalu kenapa tidak kau saja yang pergi ke sana, Naruto?"
Sontak Naruto menatap marah pada Sasuke. Wajah tannya memerah karena kesal. "Aku tidak gila, Teme."
Meskipun, Naruto menatap marah padanya. Sasuke tetap memasang wajah polosnya. Seakan tidak peduli dengan amukan pria bersurai pirang itu. Sasuke mengangkat bahunya.
"Diamlah, dan dengarkan penjelasannya Naruto," perintah Neji.
"Aku tidak mengatakan kau gila, Dobe."
"Lalu apa?" tanya Naruto ketus.
"Kau bisa pergi ke sana dan meminta saran. Kau suaminya, kan? Kau berperan besar untuk pemulihan istrimu."
Neji merenung memproses penjelasan Sasuke di otaknya. Sebuah kecerahan nampak di wajahnya setelah sekian lama terlihat begitu murung.
"Tapi, bagaimana aku harus ke sana? Orang yang melihatku pasti akan mengira aku memiliki gangguan mental."
"Mungkinkah itu salah satu alasan Hinata menolak keras untuk pergi ke psikiater?" terka Neji. Ia menatap Naruto dalam. Seakan semua pikirannya mulai terbuka dengan lebar.
Naruto pun menatap Neji dengan terpukau. Ia bahkan tidak pernah terpikirkan hal seperti itu sebelumnya.
"Kau memang bodoh, Dobe."
"Sialan kau, Teme," rutuk Naruto dengan kesal. Pria dingin itu memang tidak bisa melihat suasana untuk mengolok-olok dirinya.
"Kau bisa menemui Tsunade-baasan, kan? Dasar bodoh."
Perkataan Sasuke memberikan pencerahan pada Naruto. Pria itu dengan bersemangat melompat dari tempat duduknya dan memeluk erat Sasuke. Pria bersurai itu bergidik ngeri dan mendorong Naruto menjauh darinya.
"Sankyu, Teme. Kau memang selalu bisa diandalkan," puji Naruto dengan cengiran lebarnya. Rasanya sudah lama ia tidak merasa sesenang ini dalam hidupnya. Begitu juga dengan Neji yang terlihat begitu terpukau. Bahkan pria itu tanpa sadar melengkungkan kedua sudut bibirnya.
"Aku akan menemui Tsunade-baachan pulang nanti," seru Naruto bersemangat.
"Aku mengandalkanmu, Naruto." Neji mengungkapkan ketulusannya saat menatap netra teduh Naruto. Pria itu tidak tahu bagaimana ia harus mengungkapkan rasa terima kasihnya pada Sasuke, sehingga ia hanya bisa menjabat tangan Sasuke sebagai seorang pria.
.
.
.
Hinata berjalan dengan tidak tenang menuju ke sebuah gedung yang berada di bagian selatan Universitas Konoha. Ia sudah berjanji akan menemui Sai di ruang klub. Pria itu berkata ada sesuatu yang harus ia diskusikan dengan Hinata. Merasa sungkan karena selalu mengelak ajakan Sai untuk bertemu, Hinata memutuskan untuk memberanikan diri kali ini. Ia sudah memutuskannya matang-matang.
Langit mulai jingga ketika Hinata menaiki tangga gedung klub. Ia menjadi gelisah memikirkan seberapa lama Sai akan bicara dengannya. Hinata benci malam hari. memikirkannya saja membuat tubuh gadis itu menggigil. Dengan keras Hinata menggigit bibir bagian dalamnya, mencoba menghilangkan kegugupannya dan jantungnya yang berdebar kencang dengan rasa sakit di bibirnya. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dalam satu buangan nafas. Kedua tangan Hinata menggenggam dengan erat tali tas punggungnya.
Hinata melangkahkan kakinya menyusuri deretan ruang klub dan berhenti ketika melihat seseorang yang berdiri dengan punggung yang bersandar nyaman di depan ruang klub lukis. Ia melangkahkan kakinya dengan lebar. Senyum bahagia mengembang di wajah Hinata.
"Toneri-kun?"
"Kau datang," katanya. Toneri menegakkan tubuhnya dan berdiri tegap di hadapan Hinata.
"Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa tidak masuk saja?"
"Di dalam hanya ada Kaichou, jadi kupikir akan lebih menyenangkan menunggumu di sini." Toneri membalikkan tubuhnya dan membuka pintu di belakangnya. Hinata mengikutinya di belakang.
Sai duduk dengan nyaman menghadap jendela. Dengan tekun menggoreskan kuasnya pada kanvas. Hinata mengintip dari balik bahu tegap pria itu dan memandang kanvas itu dengan mata berbinar.
"Sangat mengagumkan seperti biasanya, Sai-san." Hinata tidak pernah berbohong untuk sebuah mahakarya yang diciptakan oleh senpainya itu. Ia selalu mengagumi setiap goresan demi goresan yang Sai torehkan di kanvasnya.
Pria yang dipuji itu, menghentikan gerakan kuasnya dan menoleh menatap wajah manis di sampingnya. "Kau sudah datang, Hinata-san."
Sai berdiri dari kursinya dan meletakkan peralatan lukisnya di atas meja. Ia tepuk bahu Toneri pelan dan ikut bersandar pada meja di samping temannya itu. Mendapat perhatian penuh dari kedua pasang mata di hadapnnya membuat Hinata bergerak gelisah di tempatnya berdiri. Ia menggigit bibirnya menahan debaran jantungnya yang bergemuruh.
"Apakah yang lain tidak datang?" Hinata berjalan mendekat ke jendela yang terbuka. Ia biarkan angin sejuk menerpa kulit wajahnya untuk menenangkan kegugupannya.
"Seperti yang kau lihat sekarang," ujar Sai.
Hinata mengangguk malu dan menatap Sai yang memasang senyum palsu seperti biasanya. Bukannya membuat Hinata lega melainkan melihat pria itu membuat Hinata merinding ngeri.
"Apa yang ingin kau diskusikan, Sai-san?" tanya Hinata tanpa berbasa-basi. Ia menyadari matahari sudah mulai tenggelam. Ia harus segera pergi sebelum langit menggelap.
"Pertama, aku merasa perlu memberimu peringatan karena mengabaikan klub ini begitu lama," kata Sai masih dengan senyum lebar di wajahnya. Hanya saja, mata pria itu tidak dapat menyembunyikan rasa kesal pria itu.
Hinata meneguk ludahnya.
"Kedua, kita harus segera mempersiapkan promosi untuk menarik anggota baru," lanjutnya.
Hinata mengangguk paham. Selama lebih dari sebulan Hinata tidak pernah datang ke klub, sehingga ia melupakan tanggung jawabnya untuk mengurus kegiatan klubnya.
"Maafkan aku. Aku akan mempersiapkannya segera," kata Hinata.
Sai mengangguk kemudian duduk di meja panjang di depanya. Pria itu menatap Hinata dan memintanya untuk bergabung dengannya.
Hinata mendengarkan dengan seksama segala hal yang Sai katakan. Sesekali memberikan saran pada kaichounya itu. Namun, tidak dapat Hinata pungkiri, konsentrasinya mendadak pecah ketika menatap langit dari balik jendela. Kakinya mulai bergetar hebat di bawah meja. Hinata menekan tangannya dengan erat pada roknya. Hatinya mulai merasa begitu cemas. Ia menggerakkan matanya dengan gelisah menatap Sai dan jarum jam dinding yang ada di ruangan itu. Dalam hati ia memanjatkan doa agar pembicaraan ini lekas berakhir.
Beberapa jam berlalu hingga rasanya dada Hinata terasa sesak dan air mata mendesak keluar dari matanya. Hinata tidak mungkin menangis tanpa alasan di depan dua orang rekannya. Sangat tidak lucu, dan tentu saja memalukan.
Otak Hinata bekerja dengan cepat memikirkan bagaimana ia harus kembali ke rumahnya. Ia tidak lagi berani untuk berjalan sendirian di malam hari. Hinata takut orang itu akan datang. Tapi, ia tidak bisa terus-menerus berada di kampusnya. Itu sama saja dengan berjalan sendirian. Sama menakutkannya.
"Kau terlihat gelisah, Hinata-san." Sai menatapnya lekat yang membuat hati Hinata mencelus. "Apa aku menahanmu di sini?"
Hinata menatap Sai dengan ragu. Bibirnya menekan erat sebelum akhirnya mengeluarkan suara lembutnya. "Eto, sebenarnya aku memiliki janji dengan N-Naruto-kun," katanya berbohong. Dengan susah payah mempertahankan tatapannya pada Sai. Ia tidak ingin pria itu tahu jika ia sedang berbohong.
Dan sepertinya ia berhasil melakukannya. Sai mengangguk kemudian mendorong kursinya. Pria itu berdiri dan mengambil tasnya. Hinata menatap Toneri yang duduk di hadapannya. Pria itu mangulas senyum tipis.
Hinata dengan sengaja memperpendek langkah kakinya sehingga ia beberapa kali harus tertinggal oleh kedua orang yang sedang serius bercakap-cakap di depannya. Pikirannya tidak berhenti memikirkan kemungkinan besar Naruto tidak akan datang. Tentu saja. Hinata hanya asal menyebutkan nama suaminya itu.
"Apa Naruto datang menjemputnya?" tanya Sai ketika mereka hampir sampai gerbang. Hinata menggigit bibirnya dan mengangguk. Ia mengangkat kedua sudut bibirnya dengan terpaksa.
"Baiklah. Aku akan menemanimu hingga dia datang," ujar Sai yang membuat Hinata tercengang. "Kau pulanglah lebih dulu, Toneri," kata Sai.
Toneri memandang Sai dengan enggan. Namun, kemudian ia menatap Hinata dan menghela nafas. Hinata mengulas senyum pada pria itu.
"Kau akan baik-baik saja?" tanya Toneri tidak yakin.
Hinata mengangguk mengiyakan.
Sai menatapnya dengan tajam. "Apa kau pikir aku akan melakukan hal yang buruk, Toneri?" tanyanya. Wajah tampannya tersenyum menakutkan.
Toneri mengangkat bahunya. tanpa rasa takut balas menatap Sai dengan lekat. "Siapa yang tahu," katanya berkeras. Bibirnya dengan ringan membentuk sebuah seringai.
Sai tersenyum lebar. Kulit pucatnya terlihat bersinar di bawah sinar lampu. Hinata menggenggam tangannya erat di depan dadanya. Entah mengapa rasanya ia ikut tegang melihat perdebatan dua pria tampan di hadapannya.
Pada akhirnya Toneri mengalah dan pergi meninggalkan Sai dan Hinata berdua. Kekasih Ino itu mengajaknya untuk duduk di salah satu bangku yang ada di taman kampus. Jantung Hinata berdesir gelisah dan takut. Ia duduk dengan tidak nyaman di kursinya. Kedua tangannya mengepal erat seiring waktu berlalu. Kakinya bergerak tidak nyaman. Hinata tidak tahu sampai kapan ia harus menunggu di tempat ini. Naruto tidak akan pernah datang karena ia tidak pernah memintanya..
"Sepertinya Naruto belum datang. Haruskah aku mengantarmu?"
Hinata menolehkan wajahnya dengan cepat. Terlalu cepat hingga membuat Sai mengangkat salah satu alisnya heran.
"T-Tidak perlu, Sai-san. Naruto-kun akan segera datang," elaknya.
"Tidakkah kau ingin menghubunginya?" Sai memiringkan kepalanya dengan gaya bersekongkol dan menatap Hinata dengan pandangan yang tidak bisa dijelaskan.
"A-Ah, benar," sahut Hinata mengiyakan.
Hinata berpura-pura mencari ponselnya ke dalam tas. Sementara otaknya tidak berhenti memikirkan pilihan untuk menelepon Naruto atau tidak. Dadanya benar-benar terasa sesak dan ia ingin menangis.
Gadis itu merasa takut meski ia tidak sendirian. Matanya bergerak gelisah memandang beberapa gedung yang lampunya telah dimatikan, membuatnya semakin gusar.
Ia mengeluarkan ponsel dari tasnya dan menekan nomor Naruto yang sudah berada di luar kepalanya. Ia dekatkan ponsel itu ke telinganya dan mendengarkan nada sambung dengan cemas.
.
.
.
Naruto berjalan memasuki sebuah rumah yang berukuran sangat besar dengan halaman yang sangat luas. Pria itu mengenang kapan terakhir kali ia berkunjung ke rumah itu. Ia membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu dan masuk ke sebuah ruang tamu yang sangat luas. Tanpa merasa sungkan, ia berjalan memasuki bagian dalam rumah neneknya itu.
"Naruto!" Seorang wanita dengan paras cantik memekik kaget melihat kedatangannya.
Naruto mengembangkan cengiran lebar pada wanita itu. Ia berjalan mendekat dan memberikan pelukan sayang pada neneknya. "Sudah lama sekali aku tidak datang ke rumah ini," bisiknya, mengenang.
Tsunade melepas pelukan cucunya dan dengan tiba-tiba memukul punggungnya dengan keras. Naruto mengerang kesakitan merasakan panas yang menjalar di punggungnya. "Ittai, Baachan!"
"Itu karena kau tidak mengundangku ke pernikahanmu," balasnya kesal.
Naruto meringis menyesal. "Maafkan aku. Kaachan sudah memberitahumu?"
"Tentu saja," sahutnya cepat. "Dasar kalian ini sama saja. Tidak bisakah kau mengabariku terlebih dulu?" protesnya.
"Gomen, Baachan. Pernikahannya sangat mendadak," jelas Naruto.
Tsunade mengangkat keningnya yang berkerut. Matanya menatap bingung pada cucunya. "Aku agak terkejut mendengar kau menikah dengan Hinata, bukan dengan Shion."
"Sepertinya semua orang berpikir begitu," sesal Naruto.
"Apa yang membawamu kemari?" Tsunade menatap pria bersurai pirang di hadapannya penuh curiga.
"Apakah seorang cucu tidak boleh berkunjung ke rumah neneknya sendiri? Kau jahat sekali, Tsunade-baachan," keluh Naruto. Pria itu berpura-pura memasang wajah kecewa yang justru mendapat seringai mengejek dari wanita di hadapannya.
"Cih, aku tidak mempercayainya. Apa yang kau inginkan, bocah?"
"Hm, ada sesuatu yang harus aku tanyakan padamu, Baachan."
Tsunade menatap lekat ke dalam mata Naruto. Ia melihat keseriusan di mata pria itu. Tsunade mengangguk menyetujui dan melangkahkan kakinya.
Kedatangan Naruto tidak untuk berbasa-basi. Pria itu menyadari betapa pentingnya kedatangannya ini bagi kehidupan Hinata. Ia melangkahkan kakinya mengikuti Tsunade menuju ruang kerjanya.
Naruto duduk dengan nyaman di sofa yang ada di ruang kerja wanita itu. Ia menunggu neneknya untuk bergabung bersamanya. Entah mengapa Naruto merasa begitu gugup. Kerongkongannya terasa kering hingga sangat susah untuk menelan ludahnya sendiri.
Tsunade meletakkan satu gelas wine di hadapan Naruto dan menyesap sendiri gelas miliknya.
"Masih saja pemabuk," komentar Naruto.
"Masih lebih baik daripada aku tidak memberimu minuman, bocah," balasnya.
Naruto menenggak habis cairan berwarna merah di hadapannya. Ia berdeham sebelum membuka mulutnya. "Baachan, apa yang harus aku lakukan untuk menghilangkan pasca traumatic?"
Tsunade mengangkat alisnya. Ia meletakkan gelas yang sudah kosong ke atas meja. Ia sedikit heran dengan pertanyaan yang Naruto berikan dan tatapan serius di mata pria itu. Naruto belum pernah sekalipun menatapnya seperti itu. Ia tahu jika cucunya sedang tidak ingin diajak bercanda saat ini.
"Mengapa kau menanyakannya?"
"Aku tidak yakin apakah aku harus mengatakannya padamu." Sesaat Naruto terlihat ragu untuk melanjutkannya.
"Jika kau bertanya padaku sebagai seorang dokter, maka tidak ada yang boleh kau snmbunyikan dariku," kata Tsunade tegas.
Naruto mengangkat wajahnya dan menatap wajah Tsunade lekat. Ia menghembuskan nafas berat setelah menimbang-nimbang beberapa saat. "Ini tentang Hinata. Ia terus berteriak dalam tidurnya setelah malam itu. Aku sangat frustasi, Baachan. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantunya. Ia selalu terbangun dengan mata lelah seperti tidak tidur semalaman. Wajahnya juga terlihat begitu pucat."
Tsunade menopang dagunya. Ia dapat merasakan perasaan Naruto ketika pria itu menceritakan semuanya. "Pasti sangat berat, hm?"
Naruto mengiyakan muram.
"Bagaimana perasaanmu pada Hinata?"
"Eh?"
"Kau masih mencintai Shion?"
Naruto tidak tahu apa yang harus ia berikan sebagai jawaban dari pertanyaan Tsunade. Bagaimana perasaannya sendiri? Naruto tidak pernah memikirkannya. Ia merenung sejenak. Menimbang-nimbang segala hal sebelum akhirnya mengangguk lemah.
"Tapi, aku sangat menyayangi Hinata, Baachan. Kau tahu itu."
Tsunade mengangguk menyetujui.
"Naruto, pernahkah kau berpikir untuk melupakan Shion dan berusaha membuka hatimu untuk Hinata?"
Naruto tercengang.
Ia sudah membuat keputusan sejak jauh hari untuk melupkan Shion di hidupnya. Meski sangat berat, Naruto mampu melakukannya hingga saat ini. Tapi, ia tidak pernah terpikir untuk mencintai Hinata sebagai seorang wanita. Kenapa? Karena ia tidak ingin menyakiti wanita itu.
Naruto sangat menyadari jika Hinata bukan lagi anak kecil seperti yang ia anggap selama ini. Dan sialnya, tubuhnya pun mengakui akan hal itu.
"Aku tidak pernah berpikir untuk memiliki perasaan lebih pada Hinata," bisiknya lemah.
"Kalau begitu, cobalah," kata Tsunade.
Naruto tersentak dan mendongak menatap Tsunade dengan pandangan tidak percaya. Ia tidak tahu mengapa ia harus melakukannya.
"Apa kau tahu seberapa besar Hinata mencintaimu, Naruto?" Tsunade berdiri dari sofanya dan berjalan ke sebuah buffet. Ia menuangkan wine ke dalam gelasnya dan kembali berjalan dengan santai ke arahnya.
Naruto terdiam.
"Sepertinya kau tidak tahu. Tapi, Hinata tidak pernah menganggapmu sebagai anikinya. Aku perlu memberitahumu satu hal. Hinata menganggapmu sebagai orang yang sangat berarti di hidupnya. Bahkan dari caranya memandangmu, sangat jelas ia rela mengorbankan nyawanya untukmu." Tsunade berhenti untuk menyesap minumannya. Ia memandang Naruto yang terbelalak kaget. Tsunade tersenyum miring. "Aku selalu memerhatikan kalian selama ini."
Naruto hanya tidak tahu apa yang harus ia katakan. Mulutnya membuka dan menutup seperti ikan di tengah padang kering. Sesaat otaknya berhenti untuk bekerja.
"Jika kau ingin menolongnya, cobalah untuk membuka hatimu. Karena hanya kau yang bisa membantunya," kata Tsunade menatapnya lembut.
"Hinata ingin menjaga jarak dariku," aku Naruto terluka.
"Sudah seharusnya. Jadilah orang yang aktif, bocah. Aku tahu kau bukan lagi anak yang polos," ejek Tsunade.
Kepala Naruto berkedut kesal. "Oi, Baachan, apa maksud perkataanmu itu?" desaknya tidak terima.
Tsunade mengangkat bahunya acuh dan mengulas seringai tipis.
"Kau tidak membantu sama sekali!" bentak Naruto saat Tsunade meninggalkannya begitu saja. Dari kejauhan Naruto mendengar neneknya itu menyuruhnya untuk pergi.
"Chikuso," desisnya di antara geraman giginya.
.
.
.
Naruto melangkahkan kakinya di keramaian malam jalanan kota Konoha. Seseorang meneleponnya dan memintanya untuk bertemu. Tanpa berpikir panjang ia bergegas pergi dari rumah Tsunade.
Sosok orang yang ditemuinya terlihat berdiri di jembatan layang seorang diri, memperhatikan kendaaan yang berlalu-lalang di bawahnya. Tubuh mungilnya terlihat sangat rapuh berdiri di tengah dinginnya udara malam. Surai panjangnya bertiup seiring hembusan angin. Naruto memperpendek jarak di antara mereka. Ia tidak mengalihkan sedikitpun pandangannya dari gadis itu. Menatapnya di bawah sinar bulan, membuatnya terlihat begitu mempesona. Naruto menghentikan langkahnya tepat di samping gadis itu, namun ia tidak berniat membuka suaranya.
Gadis itu membalikkan tubuhnya dengan anggun. Menatapnya dengan kilau matanya yang cemerlang. "Naruto." Suara lembutnya mengalun di telinga Naruto bagaikan bisikan seorang dewi. "Kau membuatku menunggu begitu lama."
Naruto tidak mengubah ekspresi di wajahnya. Ia tatap gadis itu datar tanpa mengucapkan sepatah katapun. Wanita itu menunduk menyembunyikan wajahnya yang merona malu.
"Jangan menatapku seperti itu, Naruto," pintanya.
Hati Naruto bergetar. Angin malam terasa begitu dingin menusuk kulitnya. Naruto mengepalkan tangan di samping tubuhnya, menahan gelenyar aneh di dadanya.
"Ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku, Shion?" tanya Naruto dingin.
Shion melengkungkan bibirnya malas membentuk senyuman. "Tidak bisakah kau menyapaku terlebih dahulu?"
"Mm, konbanwa."
"Dingin sekali," cetus Shion masam. "Aku hanya ingin melihatmu. Tidak boleh?"
Naruto terdiam. Ia tatap Shion dengan dalam. Tubuh Naruto menegang ketika Shion dengan tiba-tiba menempelkan telapak tangannya yang dingin ke pipi tannya. Namun, pria itu hanya bergeming.
"Kau masih belum berubah. Tapi, kau terlihat lelah. Apa kau baik-baik saja?" tanya gadis itu dalam bisikan lembut.
Naruto menghembuskan nafas lelah dan menggenggam tangan Shion di pipinya. Ia turunkan tangan gadis itu dan menggenggamnya lembut sebelum melepaskannya. "Aku baik-baik saja."
Shion mengangguk paham. Gadis itu mengunci pandangan Naruto di matanya. Bibir gadis itu bergerak lembut menyebut namanya. "Tidak bisakah kita kembali seperti dulu?" tanyanya dengan suara parau.
"Maafkan aku," sesal Naruto bersungguh-sungguh.
"Kau sudah tidak mencintaiku lagi?"
Naruto terdiam sejenak. Jantungnya berdesir nyeri ketika melihat mata gadis itu yang menatapnya nanar. Getaran ponselnya menyentak kesadaran Naruto. Diambilnya ponsel dari saku celananya. Naruto mengangkat salah satu alisnya ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Moshi-moshi, Hinata?"
"Na-Naruto-kun?"
Suara Hinata terdengar serak di telinga Naruto, menimbulkan perasaan waspada di hatinya. "Kau baik-baik saja?" tanyanya hati-hati.
Entah mengapa Naruto merasa khawatir ketika mendapat telepon dari Hinata. Tanpa mempedulikan keberadaan gadis yang saat ini ada di hadapannya, Naruto melangkahkan kakinya menjauh.
Bukannya menjawab pertanyaan Naruto, Hinata justru memanggil namanya. Suara gadis itu semakin membuat hati Naruto berdebar takut. Dengan panik, ia berlari menuju mobilnya terparkir. "Kau dimana?" tanyanya cemas.
"A-Aku masih di kampus," jawab Hinata terbata.
"Baiklah, tunggu aku di sana." Naruto memasang sabuk pengamannya dan dengan segara memutus sambungan telepon. Pria itu menginjak gasnya dengan kecepatan penuh. Tidak mempedulikan batas kecepatan yang seharusnya ia patuhi.
Bayangan tentang Hinata masih berada di kampusnya di waktu selarut ini, membuat Naruto tidak berhenti mengkhawatirkannya. Ia tidak mengerti apa yang dilakukan gadis itu hingga selarut ini. Naruto cemas jika ternyata Hinata sedang merasa ketakutan saat ini. Kejadian malam itu pasti membuat gadis itu tidak berani berada di luar rumahnya ketika langit menggelap.
Wajah Naruto memucat melihat jam yang ada di mobilnya. Ia mendecih dan menambah laju mobilnya. Setelah beberapa menit, kampus Hinata tertangkap di mata sapphire Naruto. Dengan segera ia parkirkan mobilnya di depan gerbang dan tanpa berpikir panjang ia melompat turun dari mobilnya. Ia tidak dapat menahan keterkejutannya ketika melihat gadis itu sedang duduk meringkuk di bangku sendirian. Wajahnya ia sembunyikan di balik lengannya yang terlipat. Naruto melangkahkan kakinya mendekat. Dapat ia lihat jika tubuh gadis itu bergetar dengan hebat.
"Hinata?" bisik Naruto.
Tubuh Hinata menegang saat mendengar suaranya. Hati Naruto mencelus mendapati pipi basah gadis itu dan matanya yang memerah.
"Kau baik-baik sa―" Naruto tersentak kaget ketika dengan tiba-tiba Hinata menabrakkan tubuhnya pada tubuh Naruto. Memeluknya dengan erat.
Agak ragu Naruto mengalungkan lengannya memeluk punggung kecil Hinata. Namun, ketika menyadari tangan gadis itu yang bergetar mencengekram kemejanya, Naruto tidak dapat memungkiri betapa takutnya Hinata saat ini. Dengan lembut ia peluk gadis itu dan mendekapnya erat dalam pelukannya. Ia biarkan air mata Hinata membasahi kemejanya. Naruto menatap hampa pemandangan di hadapannya. .
Cengkeraman tangan Hinata pada kemejanya mulai mengendur perlahan. Naruto melepas pelukannya pada Hinata. Ditangkupnya kedua pipi Hinata dan menghapus jejak air mata yang membasahi pipi pucat gadis itu. Selama beberapa saat, mata Naruto dan mata Hinata hanya saling menatap dalam diam. Naruto merasa hatinya dipelintir melihat sorot terluka dan ketakutan yang terpancar di kedua mata amethyst itu. Air mata tidak berhenti mengalir dari mata Hinata. Naruto tidak kuasa menahan gejolak aneh di hatinya. Seketika ia teringat dengan kata-kata Tsunade. Naruto menatap Hinata dalam. Mendadak ia merasa yakin dengan keputusannya, kemudian kembali memeluk gadis itu dengan erat.
"Tenanglah. Aku sudah ada di sini."
.
-Tsuzuku-
.
.
.
Review, please… :D
