Updated: October, 28th 2013.
.
.
Soulmate
Disclaimer : semua karakter di Naruto milik Masashi Kishimoto
Genre(s) : Supernatural, Romance.
Chapter IV : Pisau Bermata Dua
.
.
Haruno Kizashi terus memaksa masuk, dihadang oleh penjaga gerbang distrik Inuzuka. "Beraninya kau menghalangi jalanku!" geramnya angker. "Aku hanya ingin membawa pulang anakku!"
Sementara itu Mebuki mengurut pangkal hidungnya. Dia memang ingin membawa pulang Sakura yang belum dipulangkan Kiba, tapi kelakuan suaminya itu begitu membuatnya malu. Jemarinya terus mencengkram lengan sang suami, "Ayah, bersabarlah."
"Maaf, Tuan. Kami akan mengijinkan Anda masuk jika Anda berjanji tidak akan berbuat keonaran di distrik kami." Sang penjaga gerbang mengingatkan disahuti dengan gongongan anjing-anjing berbulu tebal dan gelap serta tubuh yang bisa dibilang besar… Kizashi mengamati baik-baik melalui celah gerbang distrik yang sedikit terbuka.
Di dalam sana banyak sekali orang-orang bertato merah taring anjing di pipi mereka sedang berlalu lalang bersama anjing. Pria paruh bayah itu pun menatap sang penjaga, "Apa raut wajahku pembuat onar?" tanyanya memelaskan wajah. Mebuki menghela napas di sampingnya, yang ada-ada saja suaminya itu.
Jelas sang penjaga mengambil tindakan antipatif saat Kizashi datang dengan wajah memerah marah dan teriakan lantang untuk Inuzuka Kiba agar mengembalikan puterinya. Pasalnya, ini sudah sore hari. Dan entah mengapa, perasaannya sangat gusar jika puterinya belum dikembalikan. Masih teringat jelas gambaran Kiba membawa pulang Sakura dalam keadaan yang—ah, Kizashi siap meledak jika mengingatnya.
Lagi pula, siapa yang main terima lamaran itu—kalau bukan istri dan anaknya sendiri? Mereka pasti sudah gila, pikir Kizashi. Andai kata ia berada di rumah saat Tsume dan Kiba datang, ia pasti tolak mentah-mentah dan mengusir mereka dengan penggaruk rumput yang ada di halaman. Tapi sengaja ia lepaskan Sakura pagi ini bersama Kiba untuk pergi ke tempat tetua Inuzuka karena Kizashi pikir Kiba memang pemuda yang berniat bertanggung jawab setelah mengapa-apakan anaknya.
Namun hingga senja menjelang malam, Sakura belum juga dipulangkan membuat Kizashi naik pitam. Ia khawatir terjadi sesuatu pada puterinya di kandang anjing ini, begitu pikirnya. "Maafkan suami saya, dia hanya khawatir pada Sakura. Puteri kami yang dibawa Inuzuka Kiba ke sini tadi pagi."
Penjaga itu mengangkat alisnya, "Oh, gadis berambut merah muda itukah? Yang sangat wangi itu?" Mebuki menggaruk pelipisnya, setahunya, ia belum membelikan deodorant baru untuk puteri semata wayangnya. Jadi mustahil saja kalau Sakura dibilang wangi.
"Ah iya, pokoknya rambutnya merah muda dan pendek sebahu," Mebuki menjelaskan, telapak tangannya sejajar dengan telinga sekarang, "Tingginya kira-kira segini dan tubuhnya cukup kurus." Selesai memberi cirri, Mebuki mendapatkan anggukan dari sang penjaga yang sedang mengelus dagu.
"Ya, aku melihatnya." Penjaga itu ingat Kiba membawa gadis yang ditafsir bernama Sakura itu masuk tadi pagi dan sedikit mengundang pemuda Inuzuka sekitar karena wanginya. "Kemungkinan besar ada di rumah Nyonya Tsume, ibunya Kiba. Baiklah, nyonya. Temanku akan mengantar Anda dan suami Anda masuk." Setelah itu, sang penjaga memanggil temannya.
Datanglah seorang pria bersama anjing cokelatnya. Dengan kedua tangan diluruskan di depan kaki-kakinya yang berjongkok, ia mengangguk setelah diberi instruksi lalu menatap sepasang Haruno itu. "Mari, lewat sini."
Kizashi dan Mebuki terenyuh sebentar ketika orang yang menuntun jalan mereka malah merangkak cepat seperti anjing cokelat di sebelahnya. "Tunggu!" Kizashi sedikit berteriak setelah setengah berlari mengikuti langkah cepat ninja anjing dan anjingnya di depan sana. Sang dog-nin itu pun berhenti memutar tubuhnya dengan tumpuan tangan, lantas nyengir dan menegakan tubuh ketika Kizashi dan Mebuki hampir sampai dengan napas tersengal.
"Maaf, Tuan. Aku jarang keluar dari distrik dan hampir saja lupa kalau orang luar Inuzuka tidak bisa berjalan secepat kami."
"Kau sebut itu berjalan?" Kizashi sedikit kesal. Aneh-aneh saja orang ini. Diliriknya sekitar, memang ada beberapa Inuzuka yang berjalan santai bersama anjingnya, ada pula yang berlari merangkak seperti anjing, dan ada yang berlari seperti ninja.
"Oh, Tuhan. Puteriku masuk ke kandang siluman anjing…" bisiknya pada diri sendiri menatap tanpa harapan. Mulai ada sesal mengapa ia mempercayakan Kiba tadi pagi. Kizashi pernah masuk beberapa distrik klan, tapi Inuzukalah yang terlain. Bahkan Aburame yang cukup seram dengan serangga di mana-mana, tidak seaneh di sini.
Entah, ada hawa yang berbeda di tempat ini. Orang biasa sepertiku saja bisa merasakan ada yang tidak beres di daerah ini, apa lagi ninja? Batin Kizashi masih menyapu pandang setiap tempat yang ia lewati. Pekarangan rumah di daerah ini pada umumnya berumput hijau yang terlihat lebih subur dibanding rumput di luar distrik.
Pohon-pohon tumbuh lebat dan tinggi, terlihat lebih besar dan subur dibanding area luar distrik. Keadaan langit yang menjelang malam ini, menambah kesan mistik di tempat ini. Mungkin karena penerangan yang tidak merata. Ada beberapa rumah yang lampunya redup, ada pula yang terlalu terang hingga mengundang laron.
Sementara Mebuki memeluk lengan suaminya, berjalan mengikuti pria di depan yang kini berjalan santai sesekali bercanda dengan anjing cokelatnya. Mata hijaunya ikut menyapu ke sekitar, gongongan anjing masih terus terdengar samar. Ia bisa bayangkan berapa banyak anjing di distrik ini jika satu manusia memiliki minimal satu anjing partner.
Ia juga tidak menemukan satu pun kandang anjing di luar rumah. Mebuki berpikir sejenak, lantas anjing-anjing tersebut ditaruh di dalam rumah? Wanita itu sedikit berjengit, ia tahu anjing adalah binatang yang cukup pintar. Hanya saja, melatih anjing untuk tidak buang air sembarangan dan makan dengan rapih tidaklah mudah.
Langit semakin gelap menampakan bulan yang hampir purnama. Jika tidak salah, Mebuki tadi melihat beberapa pasang mata bersinar angker di balik lebatnya pepohonan. Ia refleks memeluk erat lengan suaminya seraya mengalihkan pandangannya lurus ke depan. Mencoba membuang jauh-jauh pikirannya.
Setelah beberapa saat, sampailah mereka di sebuah rumah berukuran sedang tepat di pojok distrik. Yang tentu saja sudah cukup membuat Kizashi sedikit lelah berjalan bersama isterinya.
"Oiii, Kibaaa!" teriak pria penuntun jalan itu tanpa mengetuk pintu, gongongan anjing cokelatnya kini disahuti gonggongan seekor anjing dari dalam. Dan ternyata itu adalah anjing putih yang dikenal dengan nama Akamaru. Seperti sedikit berkomunikasi dengan anjing itu, sang pria penuntun jalan pun mengangguk. "Terima kasih, Akamaru. Semoga kau lekas sembuh…"—"Woof!"
"Tuan, Nyonya, maaf penghuni rumah ini sedang pergi ke tempat para tetua Inuzuka. Anda menunggu di sini atau saya antar ke sana?"
"Kau bercanda?" Kizashi lesu memegangi kedua lututnya, "Tidak kusangka distrik Inuzuka cukup luas. Kurasa makan seperdelapan lahan desa dan untungnya mengambil sektor di pojokan seperti ini." ayah Haruno Sakura itu pun menghela napas.
"Baiklah, kalau Anda lelah Anda bisa menunggu di dalam. Ada Akamaru yang menjaga rumah ini. Kalau menunggu di luar, udara malam tidak bersahabat mengingat ini pertengahan musim gugur—"
"—dari tadi pagi, masa belum kelar juga urusan bocah itu pada tetua Inuzuka?"
"—ya mungkin saja mereka membicarakan banyak hal. Kudengar Kiba telah terdeteksi sebagai alpha—"
"—bah, apa pula itu—"
Dilatar belakangi dialog antara Kizashi dan pria penuntun jalan juga sesekali gongongan anjingnya, Mebuki memperhatikan ke sekitar lagi. Dilihat dari kayu-kayu yang tersusun membentuk rumah ini, jelas warna cokelat gelap namun pucat itu menunjukan umur yang tidak muda. Mungkin sudah berdiri dan dihuni turun temurun.
Di luar distrik ini, rumah dan bangunan sudah menggunakan semen dan pintu berkenop. Tetapi rumah di depannya ini—serta sepanjang jalan sejauh mata memandang—menggunakan kayu-kayu tua dan kuat, pintunya pun pintu geser. Mebuki bahkan tidak yakin ada penghangat ruangan di dalam.
Tanpa sengaja, lagi-lagi Mebuki merasa ada beberapa pasang mata menyala dari balik kegelapan pepohonan. "—ah," Mebuki segera menghampiri pria penuntun jalan dan suaminya yang sedang sibuk menunjuk ini dan itu seperti membicarakan pelitur dan jerami di samping pagar.
"Bisa antarkan kami ke tempat para tetua Inuzuka saja? Kurasa tidak sopan kalau kami masuk ke dalam, dan menunggu di luar juga tidak mungkin karena cukup dingin." Potong Mebuki semakin cemas. Separno apa pun dia pada tempat ini, ia akan berani mengambil puterinya dahulu untuk dibawa pulang, ketimbang pulang dengan beban pikiran.
"Oh jika Anda ingin masuk, silakan. Tsume, Hana dan Kiba pasti mengerti."
"—tidak, bukan begitu juga…"
.
.
"Pulang," Hinata memeluk lengan Naruto dan menoleh ke arah yang lain, "Hari sudah gelap, kurasa aku dan Naruto-kun akan pulang dulu."
Sakura masih duduk di teras belakang, kepalanya bersandar di tiang kayu. Matanya kosong ke arah pepohonan belakang, mengabaikan rekan seangkatannya yang sedang berkumpul untuk memanggang daging.
"Kau yakin, Hinata?" tanya Chouji mengangkat sekantung daging mentah yang akan dimasak, "Ini enak sekali lho."
Hinata mengangguk dan lekas berpamitan pula kepada yang lain, "Ayahku akan marah jika aku pulang larut."
"Hai', aku akan mengantarmu," Naruto kemudian berpamitan kepada guru Kakashi dan yang lain. Tak terkecuali Sakura. "Sakura-chan, kami pulang duluan."
"Sakura-chan?"
"Sakura-chan?"
"Ah, ya, ya?" Sakura menegakan duduknya dari sandaran, matanya masih sayu. "Ada apa, Hinata, Naruto?"
"Ano, aku harus mengantar Hinata pulang supaya paman Hiashi tidak kehilangan kepercayaan padaku. Yeah, kau tahu?"
Sakura tersenyum mengerti dan mengangguk, "Ya, berhati-hatilah kalian berdua."
Sepeninggalan Naruto dan Hinata, Sakura masih diam menyandarkan dirinya. Pikirannya benar-benar dipenuhi oleh Kiba. Pemuda itu menghilang di balik kegelapan pepohonan sebelumnya. Sementara rekan seangkatan dan guru Kakashi juga Gai sibuk mempersiapkan diri menerima jamuan tetua…
"Sebenarnya tidak perlu repot-repot," gumam Kakashi. Tetua bersih keras ingin berterima kasih atas partisipasi angkatan Naruto cs hari ini dengan menjamu mereka pada makan malam. Membakar daging khas yakiniku bersama di belakang.
"Ah, tidak masalah. Kami sulit membayar dengan materi, izinkan kami menjamu dengan hidangan khas Inuzuka. Ini bukan yakiniku biasa."
"AWH," Sakura tiba-tiba mengerang saat ada benda tajam menusuk arteri pada tengkuknya, ia tidak sempat menoleh untuk mencari tau siapa pelakunya karena matanya keburu menggelap dan hilang sudah kesadarannya.
"Maaf, Jidat," gumam Ino memangku kepala Sakura, dielusnya dahi sang sahabat yang sudah berkeringat. Lalu ia menoleh dan mengangguk pada Tsunade, "Sudah, Tsunade-sama."
"Hn."
"Apa… yang kalian lakukan pada Sakura?" Tsume mengusap wajahnya yang berkeringat dan menghampiri, tatapan matanya seperti tidak terima melihat Sakura terkapar. Sejujurnya ia sudah agak stres memikirkan Kiba yang lari ke tengah hutan dan menghilang, kini melihat Sakura lagi…
"Tenang, Bu," Hana menahan lengan Ibunya, "cuma dibius biar tidur," lanjutnya menenangkan dan memberi lirikan minta maaf pada Tsunade dan Ino karena telah dicurigai Tsume. Hana menggeret Ibunya lembut dan menjauh.
"Sakura harus istirahat dengan tenang, Hinata menginformasikan semua syaraf Sakura menegang karena terlalu memikirkan Kiba dalam diam, jadi kami memutuskan untuk membuat Sakura tertidur dulu…" Hana melanjutkan penjelasannya sambil menggandeng Tsume ke depan.
Tak lama, anjing besar milik Tsume menghampiri dan menggonggong. "Ada apa, heh?" tanyanya pada anjing besar berbulu hitam yang salah satu matanya ditutup seperti bajak laut. Seakan mengerti gonggongan berikutnya, Tsume langsung terbelalak dan masuk ke dalam rumah untuk menuju ke depan pintu.
Suara langkahnya terdengar membentur lantai kayu karena terburu-buru. Dan di sanalah kedua orang tua Sakura berdiri bersama salah satu Inuzuka yang lain beserta anjing cokelatnya. "Ah, Haruno-san. Selamat malam."
Kizashi menoleh dengan wajah yang sama sekali tidak bersahabat. Berbeda sekali dengan Mebuki yang tersenyum sopan mendapati kehadiran Tsume. "Maaf, kami mau menjemput Sakura."
"Ya, puteramu bilang akan memulangkannya sebelum matahari terbenam," Kizashi melipat tangan. Sungguh ia merupakan pria tua yang ceria dan bersahabat. Namun akan berubah seratus delapan puluh drajat hanya karena mengkhawatirkan puteri semata wayangnya.
Tsume mengerti, tentu ia akan lebih garang dari Kizashi dan Mebuki jika puterinya, Hana, di posisi Sakura. Tapi ketidak berdayaannya lah yang membuatnya terbungkam bingung. Ia tidak tahu harus berkata apa meski mulutnya sudah terbuka dan desah napas gugup. Karena ia tidak berani untuk terus terang bahwa Sakura tengah terluka di dalam, bahwa puteranya sedang di masa percobaan sebagai alpha—Tsume khawatir jika Kizashi dan Mebuki kurang pengertian akan hal ini.
"Sakura… sedang di dalam." Katanya terbata, mencoba untuk tidak berbohong sekaligus menutupi apa yang sebenarnya terjadi. Tsume tahu, ini salah—sangat salah jika membohongi orang tua Sakura yang semestinya berhak tahu apa yang terjadi pada puteri mereka. Tapi Tsume tidak siap kehilangan Sakura secepat ini jika memberi tahu hal yang sebenarnya. Ia memikirkan dampaknya pada Kiba kelak jika hubungan anaknya dipersulit orang tua Sakura.
"Kami tahu, Tsume-san." Sahut Mebuki, "Tolong panggilkan ia, kami ingin dia pulang sekarang bersama kami." Nada Ibu bermata hijau itu merendah mencoba untuk tetap ramah di area distrik yang bukan tempatnya berasal.
"Ah Bibi!" kunoichi berambut pirang keluar dari dalam dan memberi salam sopan. Ino menyisir poni pirang panjangnya dengan jari selagi mendekat. "Sakura ketiduran di dalam! Biarkan ia menginap, ya?"
Kizashi mengerutkan alisnya, ia ingin menanyakan keberadaan Kiba untuk bisa didampratnya karena tidak bisa menepati janji, tapi tidak enak hati dengan Tsume. Lagian ini distrik orang. "Hmm," gumamnya dengan suara baritone khas dirinya, "Kenapa kau juga ada di sini? Memangnya ada acara apa?"
Ino tersenyum, "Ini, kebetulan saja sedang kumpul. Di dalam ada Tenten, Karin, Sasuke, Lee, Sai dan sensei serta lainnya, kok! Jika berkenan, paman dan bibi bisa bergabung." Mata aquamarine itu melirik Tsume, "Iya, kan, Bibi Tsume?"
Tsume sedikit terkejut ketika namanya disebut dalam keterangan Ino yang tidak bohong. Wanita itu tersenyum mengangguk. Ino kemudian mendekat lagi pada kedua orang tua bermarga Haruno tersebut sambil berbisik. "Begini, Bibi, Paman. Tetua Inuzuka menjamu angkatanku dan sensei -sensei-nya, ini acara umum saja kok—" jelas Ino asal bicara berharap Kizashi dan Mebuki tidak curiga, "Dan rencananya akan ada latihan bersama ninja tipe sensor…"
Perlahan, Tsume bernapas lega melihat Ino menggiring perlahan Kizashi dan Mebuki untuk pulang. Entah apa yang dikatakan si pirang Yamanaka tersebut, yang pasti Kizashi dan Mebuki tidak sekeras tadi ekspresinya dan berpamitan pulang dengan sopan pada Tsume.
"Maaf, ya, Haruno-san." Ucap Tsume sebelum dua orang bermarga Haruno itu meninggalkan area rumah tetua Inuzuka. "Sudah membuat Anda khawatir. Tapi tidak perlu cemas, besok Sakura akan ku antarkan pulang bersama kalian."
Suasana mendadak hening setelah Tsume menyelesaikan kalimatnya, karena Kizashi menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan—pria tua itu menghela napas. "Jujur saja, Inuzuka-san, aku meragukan Kiba. Bahkan aku tidak mengenal puteramu sama sekali. Tapi tiba-tiba saja, ia datang masuk ke dalam hidup kami karena Sakura telah—" Helaan napas. Kizashi tidak mungkin meneruskan secara gamblang perihal Sakura yang pernah Kiba nodai. Terlebih lagi di situ ada Ino yang berdiri menunggui mereka semua.
Tsume langsung tahu kesalahannya. Harusnya ia bilang besok Sakura akan diantar Kiba, bukan malah diantar dirinya sendiri. Wajar baginya jika Kizashi mulai berpikir kalau Kiba pemuda yang kurang bertanggung jawab. Akhirnya wanita itu hanya bungkam tidak punya sepatah kata pun untuk dikeluarkan. Karena ia sendiri tidak bisa menjamin kalau puteranya besok kembali dari hutan.
"Kau mesti tahu rasanya punya anak gadis, kan?" kali ini Mebuki yang bersuara, ia tahu Tsume juga punya puteri bernama Inuzuka Hana yang merupakan kakak Kiba. Tsume mengangguk.
"Bukannya kami tidak sopan. Sungguh, aku minta maaf. Tapi kami hanya khawatir." jelas Mebuki.
"Aku mengerti, karena itu aku minta maaf atas perlakuan puteraku kepada puterimu," Tsume Setengah menunduk, "Aku berjanji akan menjaga Sakura seperti puteriku sendiri selama ia bersama Kiba. Aku juga akan mendidik anakku untuk memperlakukan puterimu dengan baik."
Mebuki tersenyum, "Maaf kalau kami menyakiti hatimu, Inuzuka-san. Habis mereka masih amat belia. Pikirannya masih labil dan kami sungguh-sungguh khawatir."
"Aku sepemikiran, maka dari itu, mohon kerja samanya Haruno-san." Tsume berojigi dibalas dengan gerakan serupa Mebuki dan Kizashi yang sekalian berpamitan pulang.
.
.
Suara auman menggema dari kejauhan. Hutan tersebut begitu gelap dan hanya mengandalkan terang bulan yang tidak seberapa. Sakura merasakan udara dingin menyapa pori-pori kulitnya.
Di pinggir danau ia temukan Kiba, telah meringkuk tak berdaya. Pemuda itu berjongkok memegangi kepalanya sendiri. Mulutnya terbuka untuk berteriak. Tapi Sakura tidak bisa mendengarnya sama sekali.
Sakit.
Sakit.
Sakit.
Lama kelamaan gerakan bibir Kiba terbaca oleh Sakura, disusul suara Kiba yang mendadak terdengar amat jelas.
"SAKIIIT!" teriak Kiba menjambak rambut cokelatnya. Mendadak ada segerombolan anjing ke luar dari bali pepohonan dan menggonggong berisik.
"Kiba!" Sakura terbangun, keringat dingin mengalir dari pelipisnya beserta napasnya yang tidak teratur. Ia memandang cepat ke sekitarnya yang ternyata berupa dinding kayu, ia sendiri telah terbungkus nyaman di dalam futon lengkap dengan selimut tebalnya.
Suara gonggongan dari dalam mimpinya seolan membututinya ke dunia nyata. Akamaru menggonggong keras di dekatnya. Anjing besar berwarna putih itu menggigit selimut Sakura untuk disingkap. Ia terus menggonggong pada gadis merah muda itu seperti memberi tahu sesuatu.
"Akamaru…" Sakura mengelus kepala Akamaru yang mengelak dan terus menggonggong. Moncong Akamaru pun menggigit baju Sakura pada bagian pinggang selagi ia berusaha untuk mundur agar Sakura tertarik. Anjing tersebut menggeram-geram.
Sakura akhirnya mendapat pencerahan, ia teringat dengan mimpi buruknya barusan. "Akamaru, apa ini soal Kiba?"
"Woof!" sahut Akamaru cepat. Sakura pun bergegas bangkit meski lengannya terasa nyeri sekali. Lengan yang ternyata sudah dibalut perban dan sudah bengkak karena luka sayat. Ia segera berjalan cepat dengan langkah besar-besar mengikuti Akamaru di depannya untuk keluar menuju halaman belakang yang menguarkan bau daging panggang. Rekan seangkatannya ternyata sedang menikmati pesta makan malam bersama tetua.
"Sakura! Kau mau kemana?" teriak Hana.
"Summimasen. Aku akan segera kembali!" sahut Sakura dari jauh sambil memegangi bawah lengannya yang sakit, berlari mengikuti Akamaru.
"Ah tidak apa-apa!" kata salah satu tetua, "Alpha akan bisa menemukan pasangannya. Kiba pasti akan terpancing dengan keberadaan Sakura yang mendekat. Mari kita uji teori yang selama ini hanya kita pelajari tersebut."
Sementara itu Sakura berlari tertatih, ia bahkan lupa memakai sandal ninjanya. Kaki-kakinya yang mulus jadi terasa sakit menghajar batu-batuan tidak rata bentuk dan kehalusannya di permukaan tanah hutan berumput segar tersebut. Lengannya yang bengkak begitu menyiksa. Ia sempat jatuh beberapa kali mengikuti Akamaru yang begitu cepat.
Setelah terakhir Sakura terjatuh, akhirnya Akamaru yang sempat berada jauh di depan kini menghampiri Sakura. Untuk pertama kalinya ada manusia lain yang menunggangi Akamaru selain Kiba, yakni Sakura. Gadis itu berpegang pada leher anjing besar berbulu putih tersebut. Permukaan bulunya begitu tebal dan halus menghangatkan permukaan kulit terluar Sakura yang sejujurnya mulai membeku karena dingin hutan ini.
Hutan ini begitu gelap, Sakura nyaris tidak melihat apa pun. Sungguh sejujurnya ia sangat takut dan adrenalinnya terpacu saat berada di atas punggung Akamaru yang berlari begitu cepatnya. Ketakutannya meroket saat terdengar auman seperti dalam mimpinya. Begitu persis. Dan rasa takut itu kian meroket lebih ekstrim saat perlahan Akamaru mengerem, menggesekan kaki berkuku-kuku tajamnya di atas tanah berumput.
Akamaru menggonggong keras sampai tubuh besarnya terguncang mengguncangkan Sakura juga. Gadis itu semakin ketakutan. Ada rasa sesal karena sudah terlanjur masuk hutan ini begitu dalam. Tapi ia juga tidak bisa menahan rasa khawatirnya pada Kiba. Kalau ia yang berdua saja bersama Akamaru bisa setakut ini, bagaimana dengan Kiba yang sendirian di hutan ini?
Gonggongan Akamaru berubah menjadi geraman tipis lemah seorang anjing yang seperti habis dimarahi majikannya. Ia mengendus-endus tanah, suaranya seperti sedih dan cemas. Entah mengapa Sakura bisa mengetahui dan merasakannya. Ia turun dari punggung Akamaru dan langsung merasakan bagaimana dinginnya batu basah yang ia pijak.
Tunggu! Batu? Sakura menggesekan kakinya, ia benar-benar merasa buta dengan kegelapan di hutan ini. Batu ini licin dan basah juga bersuhu sangat dingin. Di sekitarnya juga hanya terdapat bebatuan dengan sedikit anah. Tidak ada rumput.
"Kibaaa!" panggil Sakura takut, suaranya bergetar. Ia sudah tidak tahu lagi bagaiaman caranya untuk mencari. Matanya dibutakan kegelapan. Tubuhnya mulai kedinginan. Yang menjadi tumpuannya hanya berpegang pada Akamaru yang besar namun ketakutan seperti dirinya.
"KIBAAA!" Suara Sakura menggema, membuatnya bertambah takut jikalau ada makhluk lain yang tidak dinginkan mendengar dan meresponnya. Ia hanya mau Kiba. "KIBA! KUMOHON! DI MANA KAU?" "WOOF!" sambung Akamaru seperti ikut meneriaki Kiba. Tapi tidak ada jawaban apa pun. Hutan begitu sunyi, bahkan tidak ada suara serangga mau pun burung hantu.
Untunglah, awan tebal yang hitam kini mulai bergesar. Memperbolehkan bulan untuk menerangi pandangan Sakura. Kini ia melihat dengan jelas tepat di depannya terdapat danau persis seperti di mimpinya. Untung saja ia tidak melangkah maju, karena jika ia melakukan hal tersebut, ia bisa jatuh dari ketinggian dan tercebur dalam danau kemudian beku.
"Nggghhh!"
"Gghhh!"
"Grrhhh!"
Suara geram sakit terdengar, Sakura langsung menolehkan kepalanya ke segala arah demi mencari asal suara tersebut. Itu Kiba! Kiba! Sakura yakin itu suaranya Kiba yang terdengar seperti kesakitan. Akhinya Sakura memutar jalannya dan menuruni jalan menuju lembah dan lebih dekat dengan danau secara langsung.
Di atas daun-daun gugur yang kering dan dingin itu Kiba berbaring miring.
"KIBA!" seru gadis tersebut nyaris menjerit.
.
.
Tsume dan Hana terlihat memberi pakan anjing masing-masing. Satu anjing Tsume dan ketiga anjing Hana langsung mengabaikan makanan meraka karena ikut-ikut menggonggong melihat kedatangan Akamaru. Seluruh tamu jamuan termasuk para guru seperti Kakashi dan Gai pun teralihkan perhatiannya karena gonggongan yang terlalu kencang tersebut. Perasaan Tsume tidak enak seketika, melihat anjing besar hitamnya, Kuromaru, bisa sekeras itu menggonggong dan mengikuti Akamaru. Sepertinya sesuatu terjadi pada Kiba jauh di hutan sana.
"Ketiga Haimaru-ku…" gumam Hana menatap kepergian tiga anjing besar partner-nya, ia menatap Tsume, "Ada yang tidak beres, Bu."
Tsume mengangguk. "Ayo susul."
Hana balas dengan anggukan, dan dua wanita Inuzuka itu melompat dan berlari cepat. Melihat itu, tetua Inuzuka ikut berlari. "Sesuatu yang besar tengah terjadi!" Serunya. Disusul tetua yang lain. Tentu saja itu membuat Kakashi dan Gai mengajak semua muridnya untuk ikut mengejar. Kalau sampai tetua Inuzuka mau repot-repot melakukan pengejaran untuk mencari tahu, berarti memang ada sesuatu yang besar tengah terjadi.
Shikamaru, Chouji dan Ino pun turut andil, Kurenai tidak hadir dalam acara ini, itu berarti mereka harus jadi murid mandiri.
Keadaan hutan begitu gelap gulita, cahaya bulan yang tadinya terang benderang pun mendadak redup karena adanya awan gelap yang tebal menutupi langit di atas mereka. Beramai-ramai menembus hutan pepohonan yang menjulang tinggi.
Karin mulai berkeringat dingin, ialah kunoichi tipe sensor yang bisa dikatakan paling sensitif, apa lagi Hinata sebagai tipe sensor yang lain sudah pulang bersama Naruto. Karin jadi tidak bisa membagi berasaan gelisahnya. "Aura di sini sangat gelap dan dingin." Katanya, berlari di sebelah Sasuke yang melirik. "Rasanya seperti aku merasakan aura mu sesaat sebelum menembakan chidori padaku di hari kematian Danzou, Anata."
Sasuke bergumam. "Itu berarti ada keberadaan yang sangat jahat."
Shino menyambung, "Seranggaku…" ia menatap serangga-serangganya yang mundur ke belakang tak ikut dengannya. Maka ia memutuskan untuk berhenti di jalan.
"Shino!" panggil Chouji.
"Maaf, aku rapuh tanpa seranggaku. Mereka terlalu takut untuk melanjutkan rute ini." beritahunya saat semakin tertinggal jauh di belakang. Membuat Chouji jadi ikut merinding karena angin dingin mulai menyambangi mereka.
"Aku buntu," gumam Shikamaru tidak dapat memprediksi apa pun, "Tch, sial. Merepotkan!"
Sementara itu Ino di posisinya mencoba merapal jutsu dan membentuk segel berkali-kali ia menghubungi Sakura dengan telepatinya tapi nihil. Ia bahkan tidak bisa menentukan arah jutsunya terkirim.
"Mundur!" teriak Karin tiba-tiba merentangkan tangan. Ia sudah membalap susah payah semua tetua Inuzuka termasuk Tsume dan Hana yang tadinya paling depan. Akhirnya ketika ia dapat mencapai posisi paling depan, ia pun menghentikan semuanya.
"Cakra Sakura sudah hilang tidak bersisa bersama anjing-anjing tersebut." Kata Karin. Sesungguhnya, para Inuzuka yang merupakan tipe sensor juga sudah menyadarinya meski ragu. "Aku sangat ketakutan di sini. Tempat ini menyimpan sesuatu yang besar. Ku mohon demi keselamatan kalian semua, kita kembali."
"Bagaimana dengan Sakura?!" protes Ino emosi. "Kalau kau takut, kau saja sana yang kembali! DASAR PENAKUT!"
Karin jadi ikut naik pitam karena sedang ketakutan dan disinggung telak, "Kau bodoh, ya, hah? Aku berkata begini untuk menyelamatkan kalian semua dasar tidak tahu terima kasih! Kau tidak sadar dengan mundurnya serangga Aburame, itu sudah pertanda hutan ini bahkan tidak bersahabat dengan hewan! Apa lagi kita! Manusia!"
"CUKUP! Jangan berkelahi!" Tsunade tidak percaya ini, tapi ia mensumon Katsuyu kecil untuk datang.
"Putri Tsunade!" Katsuyu merapat naik ke pundak Hokage pirang cantik tersebut, "Ada apa? Kenapa tempat ini gelap sekali? Dingin… di sini dingin…" gumam siput tersebut.
"Pergilah, lacak Sakura, dia membutuhkan banyak penyembuhanmu."
"Maafkan aku Putri Tsunade, tapi keselamatan kalian tidak dijamin di sini. Aku tidak bisa merasakan Sakura-chan dan kalian semua. Aku buta… Aku mohon pulanglah. Pulanglah. Segera. Sekarang juga." Siput itu menghilang menyebabkan kekacauan yang tambah kronis di masing-masing kepala mereka yang tengah berpikir keras. Apa yang sedang terjadi?
.
.
Kiba tengah menggeram-geram kesakitan. Tangannya mengepal di samping tubuhnya sementara tangan yang lain meninju-ninju dadanya sendiri. Matanya terpejam kesakitan. Sementara gigi bertaringnya terlihat karena sedang meringis kesakitan. Sakura berlari mendekat bahkan nyaris terpeleset jika tidak dijaga Akamaru yang membututinya.
"Kiba…" Sakura langsung berjongkok di depan Kiba dan meraih kedua tangan pemuda itu yang tengah memukul-mukul dadanya sendiri. Rambut cokelat Kiba basah, bajunya juga basah, sepertinya Kiba habis menceburkan diri di danau tersebut—dilihat dari jejak seret air dari bibir danau menuju tempat Kiba berada.
"Sakit…" rintihnya, "Sakit…"
Sakura menahan kepalan Kiba yang berusaha memukul diri sendiri kembali. Ia tahan sekuat tenaga meski Kiba makin kuat menarik, dan itu membuat lengan bengkak Sakura terasa sakit. "Kiba, sadarlah! Kumohon jangan sakiti dirimu!"
"Sakit… sakit. SAKIIIIIIIIT!" jeritnya berhasil melepaskan tangannya dari Sakura, pemuda itu berguling… kiri, kanan, dengan kepalan tangan mengepal kuat di di depan lehernya, lutut-lututnya menekuk. Ia mengerang memilukan hati Sakura yang tengah diuji.
"Bertahanlah, aku akan berusaha," katanya, menahan pergerakan Kiba dengan memegangi kedua pundaknya. Lewat sentuhannya tersebut Sakura mulai menganalisa apa yang salah dengan kekasih barunya itu. Mata hijau emerald-nya membulat dan perlahan berair. "Tidak. Apa yang terjadi?"
Organ tubuh bagian dalam Kiba hampir matang terpanggang. Syaraf-syarafnya tegang sekali menyebabkan kram fatal hampir di seluruh otot. Sepertinya tubuh Kiba habis terbakar, tapi tidak ada luka bakar. Kulitnya baik-baik saja. Sakura bingung dibuatnya. Kiba terus bergerak, ia memegangi tangan Sakura yang menahan bahunya, ia cangkram lengan kurus tersebut.
"Sakit… sakit…" erangnya. Suaranya begitu ditekan padahal ingin menjerit. Gigi-giginya begemeletuk.
"Tenanglah, aku akan membuatmu lebih baik. Kumohon berhenti bergerak…" penglihatan Sakura memburam karena matanya berkaca-kaca. Ia berusaha menyentuh Kiba tapi ditahan oleh tangan pemuda itu.
"Sakit… sakit… jangan disentuh!"
Tapi Sakura bersikeras, sekeras Kiba mencengkram pergelangan Sakura hingga gadis itu mengaduh sakit. "Akh! Kiba, sakit!" pendar hijau di tangan Sakura pudar. Mengaduh kesakitan selagi air matanya sungguh-sungguh tumpah. Ia tidak berdaya, lengannya bengkak membuat tubuhnya tidak fit. Ia berusaha memperbaiki dan menyembuhkan organ dalam Kiba yang dikategorikan gawat—namun kelemahannya menjadikannya semakin tidak berdaya.
Kiba melihatnya, Sakura terisak karena ulahnya.
"Diamlah, Kiba, tolong aku…" Sakura memohon. Telapak tangan Kiba kini mengepal-ngepal, geraman sakitnya belum juga menghilang. Ia tidak merintih lagi, ia hanya menggeram-geram menahan sakitnya dan berusaha diam di tempatnya beraring dengan tangan yang makin kuat mengepal.
"Tahan seperti itu," Sakura tersenyum sakit, ia mengalirkan cepat cakra penyembuhnya. "Iya, bagus…" katanya berusaha tertawa kecil menghibur Kiba yang masih menggeram-geram menahan diri untuk tidak bergerak. Matanya terpejam sakit. Tapi Sakura tahu Kiba mulai membaik dan masih berusaha memudahkan Sakura dengan diam di tempatnya.
Sakura terus gencar menyembuhkan Kiba melalui bahunya, ia pernah mempelajari cara efisien mengalirkan cakra ke seluruh tubuh adalah melalui punggung, bahu atau lengan. Dada Kiba yang tadinya naik turun mulai tenang, napasnya mulai ringan dan Sakura bisa melihat kepalan tangan Kiba yang memerah mulai melonggar.
Gadis itu mengulum senyum haru dan terus menyembuhkan semampunya. "Terus… bertahanlah, Kiba." Cakra hijau itu terus mengalir, mengalir, mengalir hingga Kiba bisa merasakan tubuhnya menyejuk dan tidak seperti panas terbakar tadi. Wajah pucat seperti orang tuanya mulai pudar, pudar dan pudar membaik hingga napasnya sangat ringan dan rileks.
Kiba membuka matanya dan menatap lurus gadis bermata emerald yang sedang menyembuhkannya. Ia mengulurkan tangannya yang kurang bertenaga untuk menghapus air di pipi Sakura. Wajah Sakura begitu putih dan mulus, gadis itu cantik meski dalam keadaan menangis ketakutan. Pantulan cahaya pola air bergerak menghiasi wajah Sakura yang kini tersenyum manis dan haru. Menularkan senyuman tipis Kiba yang baru Sakura sadari begitu amat tampan dengan mata tajam Kiba menyipit lembut seolah ikut tersenyum kepadanya.
Lama kelamaan pendar hijau penyembuh itu kian tipis dan Sakura merasakan tubuhnya melemas. Ia menjatuhkan perlahan pergelangan dan dadanya di atas dada Kiba. Mendekatkan wajahnya untuk mengecup bibir tipis pemuda Inuzuka itu. Kiba membalasnya dengan mengelus rambut merah muda itu seakan berterima kasih telah menyelamatkannya dari rasa sakit yang luar biasa menyiksa tadi.
Tubuh Sakura makin lemas dan kepalanya merosot ke sebelah Kiba. Ia benar-benar lemas. "Syukurlah." Katanya, "Syukurlah kau baik-baik saja sekarang. Aku sangat takut kehilanganmu tadi…" suara Sakura kian kecil di telinga Kiba dan benar saja, gadis itu pingsan. Kiba menarik napasnya tidak percaya dalam ketidak berdayaannya. Baru saja gadis itu menyelamatkannya, mengecup penuh kasih bibirnya, dan mengucapkan kalimat manis berupa rasa khawatir yang membuat Kiba begitu merasa dicintai.
Perasaan baru yang begitu menyenangkan. Perasaan yang baru pertama kali ia rasakan seumur hidupnya. Perasaan dicintai. Pemuda bertato taring anjing itu lantas membaringkan Sakura yang lemas kehabisan tenaga di sampingnya. Ia tatap wajah terpejam itu. Benar-benar tidak percaya, gadis yang sempat direbutkan Naruto dan Lee dan dikagumi secara diam-diam oleh shinobi lain kini ada di sini untuknya.
Mata tajam Kiba menatap lapisan perban di lengan Sakura, ia ingat luka itu. Dan sangat menyesal jika mengingat bagaimana Sakura sempat melindunginya dari serangan Naruto. Emosinya sempat naik namun tangan Sakura merambat ke dadanya.
"Aku bisa merasakan kemarahanmu," gumam lemas Sakura dengan matanya yang terpejam. "Jangan biarkan kemarahan menguasaimu, Kiba. Jangan…" dan Sakura benar-benar tidak sadarkan diri setelah membuat Kiba terkejut barusan. Tangan pemuda Inuzuka itu mengelus pipi Sakura yang halus, menciumnya, mencium keningnya.
Kalau bisa, Kiba akan menggendong Sakura dan berlari cepat untuk pulang. Tapi tenaganya sendiri sudah terkuras, yang ia bisa kini hanya menyelimuti Sakura dengan tumpukan daun-daun kering. Memeluk gadis itu berusaha membuatnya tetap hangat.
"Arigatou…" gumam Kiba memejamkan mata.
.
.
A/N : Nah, apa yang bisa kukatakan selain maaf karena terlalu lama update dan terima kasih telah bersedia membaca sampai ke sini? T_T Pisau bermata dua. Maksudnya adalah kekuatan alpha Kiba itu tidak semata-mata kekuatan yang bisa diterima dan menjadi hebat begitu saja. Bagaimana pun Kiba tetap ninja biasa yang belum siap menerima kekuatan yang hampir sama besarnya dengan jinchuuriki. Jadi Kiba bisa mencelakakan orang lain/musuh tapi ia juga melukai diri sendiri (Pisau bermata dua). Beda dengan Naruto, Gaara, dan jinchuuriki lain yang memang kuat sebagai jinchuuriki.
