Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

STORIA

By Bakso Puyuh Kuriitama

~Tiap gambar selalu menyimpan sebuah kisah di dalamnya~

Chapter 4: KiKuro – Kyawaaaii~!

Featured: Drabble(s), based on 'see you next time' cards in the end of each KnB anime episodes.

Tidak ada keuntungan materi apapun yang saya dapatkan dari pembuatan fanfiksi ini. Cerita ini hanya dibuat untuk kepuasan pribadi semata.

.

.

.

"Kurokocchi, kalau dipikir-pikir kok kau ini kecil sekali ya?"

Twitch.

Kise bilang apa tadi—kecil?

"Tinggimu masih masuk rata-rata sih, tapi rasanya kecil sekali kalau dibandingkan dengan Aominecchi maupun Midorimacchi."

Tolong. Kalau mau membandingkan, harusnya jangan pilih orang-orang nista yang tingginya di atas 190 senti itu.

"Ah, tapi Akashicchi juga sama pendeknya denganmu." Harusnya ia rekam itu, lalu tunjukkan pada Akashi. "Itu pun, Akashicchi masih lebih tinggi darimu."

Tolong. Cuma beda tipis. Sekali lagi, beda tipis.

"Tubuhmu juga kurus, apa kau selalu makan dengan baik?"

Tunggu dulu. Kuroko selalu mendapat asupan empat sehat lima sempurna di rumahnya. Sudah itu pun biasanya sering ketambahan vanilla shake dan burger. Percayalah, Kagami tidak pernah pelit dengan tumpukan makanannya.

"Lihat, mengangkatmu dengan satu tangan sambil membawa bola basket seperti ini pun tidak terlalu sulit bagiku."

Cukup. Kuroko mulai hilang kesabaran.

"Kise-kun. Turunkan aku."

Dengan segala emosi benci yang tertuang dalam kalimat pendek itu, Kuroko membuka mulut.

Namun bukannya menurut, Kise malah membuang bola basketnya entah ke mana dan malah makin gencar memeluk Kuroko. Ugh, se-sesak…

"Hngggghhhhh Kurokocchi kau imut sekaliii~"

"K-Kise-kun… lepas…. napas…"

Melihat wajah Kuroko yang makin senada dengan warna rambutnya, Kise melonggarkan pelukannya—tetap saja ia enggan untuk benar-benar melepas pelukan maut itu. Seolah tak sadar dengan kondisi Kuroko yang sudah megap-megap bak meregang nyawa, Kise meneruskan racauannya.

"Badanmu memang sangat kecil dan kurus—"

Twitch.

Masih berani saja Kise berkata demikian.

"—tapi kau sangat nyaman untuk dipeluk. Tubuhmu juga hangat sekali, Kurokocchi! Pokoknya pas lah kalau kupeluk! Uuh, kalau begini tidak apa-apa deh Kurokocchi jadi kecil terus~!"

Twitch.

"Kise-kun. Lepas."

"Eh?"

"Lepas. Sekarang."

Dalam sekejap tadi, Kise seolah melihat bayangan yandere dari mantan kaptennya semasa smp. Seram. Sungguh, sangat menyeramkan.

Tanpa menunggu detik tambahan, Kise segera refleks menjauh dari Kuroko. Jangan coba-coba dengan Kuroko yang sedang yandere, serius. Terakhir, Aomine pernah dikejar sekawanan lebah akibat membuat Kuroko naik darah.

"K-kurokocchi..?"

"Jangan pernah coba memelukku lagi."

Takut-takut, Kise mencoba mengintip ke balik punggung Kuroko yang meringkuk membelakanginya.

"Kuroko—oh."

Wajah Kuroko memerah, pasti karena malu.

"Aih luthunyaaaaahhh~!"

Dan tanpa perlu menahan diri lagi, Kise kembali memeluk Kuroko seerat mungkin. Lagipula, ia yakin kalau Kuroko tidak akan marah kalau ia peluk sekarang.

The End

000000

A/N: Oke saya muntah darah. #plak! Demi Kuriboh nyosop di aspal, saya kesulitan pas ngetik ini. Gaya bahasa saya jadi rada berantakan karena kebawa style nulis fic baru yang banyol garing (dan walhasil, bahasanya nggak baku abis.)

Uhh, entahlah. Apakah saya bakal mengalami perubahan style menulis? (dan andai iya, saya yakin perubahan ini bakal jijik banget karena saya bakal lepas landas sama bahasa baku). Well, lihat nanti aja lah. Intip fic baru saya juga ya~ #promo

Last, terima kasih banyak pada semua pihak yang telah memberi apresiasi pada karya nista saya ini. Baik melalui review, fav, maupun follow.

See ya~!

Ratu bulu yang menjelma jadi penjual bakso,

Bakso Puyuh Kuriitama