"Ketika Naruto berusia limabelas tahun dan aku berusia delapanbelas tahun, aku dan Naruto akan kembali ke Jepang. Dan aku tak peduli bila papa dan mama menentang. Tahun depan aku sudah kelas tiga dan Naruto kelas enam, itu artinya tiga tahun setelah itu aku akan kembali ke sini." Jelas Sasori dengan senyum paling 'mengerikan' yang dilihat oleh Kushina maupun Minato.
"S-sasori-kun." Gumam pelan Kushina.
"Kenapa? Apa kalian tidak bisa memenuhi syarat yang ku berikan ini?" Tanya Sasori yang hanya di balas tatapan Minato dan raut bingung Kushina.
"Kenapa kau ingin sekali kembali? Bukan kah jika di Praha nanti kalian akan lebih bahagia?" Ujar Minato tenang, ia ingin tahu alasan di balik syarat putra semata wayangnya ini. Minato tahu, Sasori bukan tipikal anak yang mudah berterus terang, apalagi jika membawa-bawa nama adiknya. Itu artinya ada sesuatu hal penting bagi dirinya juga Naruto.
"Bahagia? Hah! Aku hanya tidak ingin Naruto merasakan apa yang pernah kurasakan." Ujar Sasori sembari memejamkan matanya.
"Maksudmu ?" Tanya Kushina.
"Aku dan Naruto sudah bahagia tinggal di sini. Kami bertemu banyak teman tapi diantara teman itu kami menemukan sahabat kami sendiri. Itu adalah hal berharga yang sulit orang dapat. Pikirkanlah kembali syaratku ini , Papa , Mama. Demi aku dan Naruto." Ujar Sasori seraya beranjak bangkit dari bangku yang hampir sejam ia duduki.
"Seperti yang telah aku katakan sebelumnya. Jika Papa dan Mama menentang , aku tidak peduli." Ujar Sasori yang langsung melangkahkan kakinya keluar ruangan ayahnya itu.
"Ne , anata, apa jawabanmu untuk Sasori-kun?" Tanya Kushina ketika sudah beberapa menit hanya dilingkupi keheningan setelah kepergian Sasori.
Minato hanya tersenyum untuk membalas pertanyaan sang istri.
'Lakukanlah yang terbaik, Sasori.'
MoonStar
.
By : Reii Harumi
.
Disclamier : Naruto Milik Masashi Kishimoto
Pairing : SasuFem!Naru
Warn : GenderBender , typo(s) , DLL , AU!
Genre : Romance , Friendship , Comedy , School Life.
.
Here we go ..
.
.
Chapter 4
Sasori memandangi jajaran bangunan dan toko sepanjang jalan menuju halte bus berikutnya. Sepasang headset yang menempel di kedua telinganya melantunkan musik favoritnya. Ia sudah menjalan semua strategi yang ia susun bersama Itachi. Ia sudah memikirkan segala resiko dari yang ringan hingga berat, tapi ia teringat ucapan Itachi saat diatap.
'Tenang saja, Sas. Gue siap bantuin lo kok.'
Sasori tersenyum samar hingga akhirnya handphone miliknya bergetar pertanda sebuah e-mail masuk.
From : Namikaze Naruto
To : Namikaze Sasori
Nii-san, sudah dimana ? Cepat pulang~~ T.T
Sasori menyerengit bingung. Kemudian ia langsung membalas kembali.
From : Namikaze Sasori
To : Namikaze Naruto
Aku masih di daerah Hanabuki. Kau ga bawa kunci rumah ?
Semenit kemudian ...
From : Namikaze Naruto
To : Namikaze Sasori
Hanabuki? Cepatlah datang, iya , aku lupa bawa T.T
Sasori menghela napas pelan sebelum akhirnya membalas
From : Namikaze Sasori
To : Namikaze Naruto
Tunggu Nii-san.
~************MoonStar*************~
"Nii-san lama!"
"Ah, suman suman , Naru." Ujar Sasori sambil memasukkan kunci rumah dan memutarnya.
"Ku kira aku akan mati kebosanan menunggu." Ujar Naruto yang langsung masuk dan membuka asal sepatunya.
"Hei! Buka sepatu dengan baik." Tegur Sasori tapi sang pelaku sudah menaikki tangga duluan menuju kamarnya.
Sasori membuka sepatu miliknya dan mengambil sepatu Naruto untuk disimpan di lemari sepatu. Ia memasuki ruang tamu yang cukup luas itu. Di rumah seorang CEO Namikaze Grup, tak ada satupun maid ataupun butler. Untuk beberapa alasan Minato tidak ingin menggunakan jasa pembantu. Dan dibandingkan rumah yang ditinggali ini, masih kalah bila dibandingkan dengan markas Namikaze Grup di Inggris. Sasori pun masuk ke dalam kamar dan segera membersihkan dirinya mengingat sudah hampir memasuki waktu untuk mandi sore.
"Nii-san?"
"Hm ?"
Sosok rambut pirang sebahu yang masih basah itu melangkahkan kaki menuju sang kakak yang masih mengusap-usap wajah dan lehernya dengan handuk kecil.
"Bantu keringkan rambutku dong, Nii-san." Pinta Naruto seraya menjulurkan hair dryer pada Sasori.
Sasori menoleh kearah Naruto, "Kau itu sudah besar, masa ga bisa keringkan rambut sendiri?"
"Tapi aku maunya sama Nii-san." Rengek Naruto.
Sasori tersenyum geli , "Baiklah."
Sasori mengambil hair dryer itu yang menyolokkan ke stop kontak di samping tempat tidurnya. Ia duduk dipinggir kasur dan menepuk-nepuk pinggir kasur sampingnya. Naruto langsung menaikki kasur kakaknya dan duduk. Dengan telaten, Sasori menyisir lembut rambut adiknya kemudian mengambil hair dryer dan menekan tombol on.
"Hei, bagaimana hasil ujian mu?" Tanya Sasori.
"Hehehe... aku dapet peringkat tiga di kelas." Ujar Naruto yang duduk membelakangi Sasori.
"Hee... Bohong. Kau kan tidak belajar." Tuduh Sasori.
"Enak aja, aku belajar tahu."
"Masa ?"
"Iya! Tanyakan saja Sasuke."
"Sasuke ?"
"Iya, dia mengajari aku loh~"
"Kenapa ga minta diajarin Nii-san?"
"Ah! Nii-san kan asik ngemodusin Dei-nee, jadi Naru males minta ajarin Nii-san."
Sasori menjambak pelan rambut pirang adiknya.
"Aduh, sakit tahu Nii-san." Protes Naruto.
"Siapa yang bilang aku ngemodusin Dei ? Dia sendiri yang datang minta tolong diajarin." Elak Sasori.
"Huu… Nii-san tuh gak akan bisa bohong di depan Naru sekalipun Nii-san mau mengelak terus-menerus." Ujar Naruto dengan santainya.
Sasori tertegun mendengar ucapan Naruto. Tanpa mendengar ocehan-ocehan Naruto, Sasori larut dalam pemikirannya sendiri. Ya, dia memang tidak bisa berbohong di depan Naruto begitu pula sebaliknya.
'Harusnya aku ingat itu. Bakabakashi.' Batin Sasori yang merutuki kebodohannya.
"Ne, Naru…" Panggil Sasori yang menghentikan ocehan Naruto.
"Hn?"
"Naru… Jika kau pindah ke tempat yang jauh dari sahabat-sahabatmu… apa kau akan sedih?" Tanya Sasori. Lidahnya sedikit kelu.
"Sekalipun jauh, aku akan tetap menemui sahabat-sahabatku." Ujar mantap Naruto.
"Bagaimana jika kau pindah negara dalam jangka waktu yang cukup lama? Apa… yang akan kau lakukan?" Tanya kembali Sasori.
Naruto terdiam, "Nii-san, apa maksud dari pertanyaan Nii-san tadi? Rasanya seperti aku dan Nii-san akan pergi jauh."
Sasori mematikan hair dryer dan menyimpannya dalam pangkuan. Ia memutar tubuh Naruto pelan hingga ia dan Naruto saling berhadapan. Ia menatap dalam mata biru Naruto yang menatapnya bingung.
"Naru… sebenarnya ada yang ingin Nii-san katakan. Tapi Naru harus janji untuk tetap mendengarkan dulu apa yang Nii-san katakan. Janji ?" Ujar Sasori seraya membelai lembut rambut pirang keemasaan Naruto.
Naruto mengangguk pelan, "Janji."
Sasori berhenti membelai rambut Naruto dan memejamkan matanya sejenak, " Naru, kita akan pindah ke Praha tahun depan."
Mata biru Naruto sedikit melebar mendengar ucapan Sasori , "Hahaha… Tidak mungkin Nii-san, pasti salah itu." Ujar Naruto dengan tawa dipaksakan.
"Sayangnya itu adalah kebenarannya." Ujar pelan Sasori.
Manik sapphire itu menatap sendu ke arah Sasori, "Lalu apa kita akan kembali lagi ?"
Sasori menggelengkan kepalanya pelan. Naruto menatap kakak laki-lakinya yang kini menatap dirinya dengan pandangan rasa bersalah. Tak lama kemudian Naruto tersenyum lembut dan langsung memeluk erat Sasori.
"Jangan menatapku dengan tatapanmu tadi, Nii-san. Selama Nii-san selalu ada disampingku… Naru baik-baik saja." Ujar lirih Naruto.
Sasori melirik kea rah Naruto yang masih memeluknya, "Kau… tidak sedih?"
"Bohong kalau aku bilang tidak. Tapi, sekarang zaman modern . Aku masih bisa berkomunikasi dengan sahabat-sahabatku yang lain." Jawab Naruto yang masih dalam posisi yang sama.
Sasori mengelus pelan rambut Naruto, "Terima kasih."
Walau kini Sasori telah mengatakan hal itu pada Naruto, tapi reaksi Naruto terlalu diluar perkiraannya. Ini yang membuat Sasori semakin kalut. Ia akan lebih merasa lega bila Naruto berteriak marah-marah dibanding diam seolah tak peduli seperti ini.
~************MoonStar*************~
"Hn? Reaksi Naruto diluar perkiraan?" Tanya Itachi ketika ia mendengar cerita Sasori yang mengatakan bahwa reaksi Naruto terlalu acuh.
Itachi membalikkan badanya dan menyandarkan punggungnya pada pagar balkon rumah.
/ Ya. Dan itu semakin membuat gue semakin panik. Gue bisa lebih lega kalau dia marah-marah atau minimal nangis./
"Mungkin… dia gak ingin lo makin khawatir. Gue rasa, Naruto juga pasti sedih . Gak mungkin dia gak sedih, Sas." Ujar Itachi.
/Itachi… apa ini akan berhasil?/
Itachi terdiam mendengar pertanyaan Sasori, "Gue gak jamin. Tapi gue yakin akan berhasil."
/Arigatou, Chi. Lo disaat mepet kayak gini emang ngebantu banget./
"Jadi maksud lo baru kali saran dari gue ngebantu masalah lo?" Ujar Itachi sedikit tersinggung.
/Binggo. Oke, itu aja yang cuma ingin gue sampaikan. Jaa./
"Tunggu dulu, Sas." Tahan Itachi.
/Hn? Ada apa?/
"Kalau lo sudah pindah ke Praha. Lo gak akan lupa sama gue kan?" Tanya Itachi. Oke, sekarang Itachi merasa ia seperti cewek yang akan ditinggal pergi sang kekasih yang akan merantau.
/Hahahahahaha…. Chi, lo beneran seorang Uchiha ? Hmppt… kayaknya gue sekarang akan meragukan wajah sok tembok lo itu./
"Huh! Gue kan Cuma nanya dan lagi wajah gue itu bukan wajah sok tembok! Itu wajah cool." Ujar Itachi dengan kedutan kecil di dahinya.
/Ya ya ya … Keep slow aja bro, gue gak akan ngelupakan lo. Dari hal baik lo sampai hal ter-aib lo pun gak akan gue lupakan. Oke, sekarang gue mau tidur. Jaa Mr. Ex-Uchiha./
Itachi memandang layar handphone dengan pandangan kesal, "Andaikan lo bukan sahabat gue. Sudah gue lempar lo ke bulan, Sas." Ujar sinis Itachi.
Itachi memandang langit malam yang kini diterangi cahaya bulan purnama. Tanpa sepengetahuan Itachi, Sasuke keluar dari daun pintu balkon dan berjalan kea rah Itachi.
"Aniki." Panggil Sasuke.
Itachi langsung menoleh kearah Sasuke, "Sasuke?! Kapan kau ada di sini?" Tanya Itachi sedikit kikuk.
"Apa Sasori-Nii akan pindah ke Praha?" Tanya Sasuke langsung tanpa membalas pertanyaan Itachi sebelumnya.
"Kau menguping?"
"Maaf dan lupakan. Sekarang jawab pertanyaanku."
Itachi memijat pelan dahinya yang terasa sedikit sakit. 'Gomen , sas.'
"Ya. Tapi bukan Sasori saja tapi beserta keluarganya juga." Ujar Itachi sambil bersedekap.
"Berarti – "
"Ya, Naruto pun akan ikut pindah ke Praha tahun depan. Mungkin setelah atau sebelum acara kelulusan nanti. Dan kata Sasori, mungkin ia dan Naruto takkan kembali lagi ke Jepang." Sela Itachi.
Sasuke terdiam mendengar ucapan Itachi. Ia langsung berbalik.
"Dengarkan ini, otouto. Kau jangan bilang hal ini pada siapapun. Biarkan Naruto sendiri yang mengatakan." Ujar Itachi seraya memejamkan matanya.
Langkah kaki Sasuke yang sebelumnya terhenti kini mulai melangkah kembali untuk masuk ke kamarnya.
~************MoonStar*************~
Hari yang ditunggu pun tiba. Hanami. Siapa yang tidak mengenal budaya Jepang satu ini? Kegiatan dimana merayakan datangnya Musim Semi dengan duduk di bawah pohon Sakura yang mekar dengan cantiknya ditemani dengan segelas ocha dan sakura mocha.
Kini di depan gerbang komplek telah berkumpul tiga orang anak dengan sepedanya masing-masing dan tas yang mereka kenakan dipundak.
"Sasuke dan Naruto mana ya?" Tanya Hinata pada diri sendiri. Ia terlihat santai dengan kaus ungu muda yang dipadukan dengan celana pendek hitam dan sandal ungu.
"Ini sudah hampir pukul setengah sepuluh." Gumam Neji yang melirik jam tangan hitamnya. Ia memakai baju tanpa lengan dengan celana coklat selutut dan sepatu santai.
"Bolehkah aku pulang ?" Tanya Shikamaru dengan tatapan mengantuk . Ia memakai kaus putih yang dipadukan rompi coklat , celana jins selutut dan sandal hitam.
"Huu… Kau harusnya makan seledri." Ujar Hinata.
"Memangnya aku pengidap insomnia apa?" Ujar Shikamaru dengan malasnya. Jujur bagi Shikamaru saat-saat tidur paling nyaman hanya ada di awal Musim Semi dan Musim Gugur.
"Habisnya kau pengennya tidur terus. Atau jangan-jangan kamu itu bukan rusa melainkan koala?" Ujar Hinata yang mengusap-usap dagunya, berpikir.
"Haah… Kau sepertinya tertular si baka onna itu deh." Sindir pelan Shikamaru.
"Apa kau – "
"MINNA! OMATASE!."
Hinata , Shikamaru , dan Neji mengalihkan pandangannya pada dua sosok yang tengah mengedarai sepeda menuju mereka. Dapat dilihat sosok pirang yang mengenakan pakaian tanpa lengan dengan celana jins pendek dan sandal putih. Dan sosok raven yang berada tak jauh dari si pirang menatap datar ke arah teman-temannya. Ia mengenakan kaus polo bergaris putih- biru dongker yang dipadukan dengan celana pendek hitam dan sepatu kets.
"Maaf menunggu lama. Soalnya mamaku lama masaknya." Ujar Naruto seraya menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.
"Ya sudah. Ayo!" Ujar Neji yang langsung mengayuh pedal sepedanya.
"Ayo , Sasuke!" Ajak Naruto yang kini tengah bersiap untuk mengayuh sepeda menyusul Shikamaru dan Hinata.
Sasuke hanya membuang muka dan langsung pergi tanpa membalas perkataan Naruto. Selama ini Naruto merasa aneh dengan Sasuke. Ia tampak lebih dingin padanya sejak beberapa minggu belakangan ini. Setiap Naruto menyapa atau mengajak ngobrol , Sasuke hanya diam atau pergi tanpa berbicara sedikitpun. Dan jujur saja Naruto sedih, dan semakin sedih ketika mengingat bahwa sebentar lagi ia akan pindah. Ia ingin memberikan kenangan manis untuk sahabatnya selagi ada waktu, tapi … kenapa Sasuke menjauhinya?
'Jika aku ada salah , aku minta maaf ya , Sasuke.'
~************MoonStar*************~
"Sasu , kamu mau – "
"Shika, ambilkan aku onigiri." Sela Sasuke tanpa menghiraukan tawaran Naruto.
Naruto kembali ke tempatnya dan mulai makan bersama Hinata. Sesekali ia tertawa kecil bersama Hinata, entah apa yang dibicarakan oleh mereka berdua. Sasuke menatap Naruto dengan pandangan sendu. Kenapa Sasuke menatap sendu Naruto dan agak menjauhinya ? Jawabannya karena Naruto tidak jujur terhadap perasaannya sendiri. Sasuke tahu Naruto sedih, Sasuke tahu Naruto kecewa , Sasuke tahu Naruto tidak ingin pisah dari sahabat-sahabatnya. Tapi… kenapa Naruto seolah menutupi perasaanya? Itulah yang membuat Sasuke sedikit kesal.
"Kau kenapa Sasuke ?" Tanya Neji yang melihat Sasuke sedikit menghela napas.
"Tidak apa-apa." Ucap Sasuke yang mengelap tangannya dengan sapu tangan miliknya.
Sekarang mereka telah membereskan bekal mereka masing-masing dan bersiap untuk berkeliling kota lagi.
"Naru.." Panggil Sasuke.
"Hm ? Ada apa Sasu?" Tanya Naruto. Ia merasa agak senang Sasuke mulai mau mengajak biacaranya lagi.
"Bisakah kau selesai keliling kota kita datang ke tempat 'kita'?" Ujar Sasuke langsung.
"Ahh… Boleh saja." Ujar Naruto riang.
Sasuke langsung mengambil tas miliknya dan berjalan mendahului Naruto. Naruto merasa lega, ia pikir … ia akan bermusuhan lama dengan Sasuke. Tapi … ada hal apa sampai Sasuke ingin mengajaknya ngobrol di tempat 'itu'? Pikir Naruto.
Naruto menggelengkan kepalanya pelan dan langsung mengambil tas ransel milik dan segera menuju tempat ia memarkir sepeda. Di siang hari yang menjelang sore dengan langit yang begitu cerah ini , terlihat lima orang anak kecil yang asik bersepeda bersama-sama menyusuri sungai yang berair jernih. Kelopak-kelopak bunga Sakura yang jatuh ke permukaan sungai semakin menambah ketentraman bagi yang melihatnya. Sesekali mereka saling bersahutan menyanyikan sebuah lagu kecuali satu orang yang hanya asik memperhatikan teman-temannya bersahutan menyanyikan lagu dengan asal-asalan. Yaa… Walau mereka adalah orang-orang kaya , tapi mereka lebih senang pergi bersama memakai sepeda atau bus.
"Baiklah, sekarang saatnya pisah. Lelah tapi rame! Terima kasih ya." Ujar Hinata senang.
"Akhirnya aku bisa kembali ke kasurku lagi." Ujar Shikamaru , entah kenapa ada unsur nada bahagia disana.
"Kami duluan ya , Naruto , Sasuke. Jaa." Ujar Neji yang langsung mengayuhkan kembali sepedanya yang disusul Hinata dan Shikamaru.
"JAA! DEWA MATA NE!" Teriak Naruto dari kejauhan.
"Haah… Hari ini seru sekali ya , Sasu." Celetuk Naruto.
"Hn."
"Ohya , kita langsung ke tempat ?" Tanya Naruto.
"Hn."
Sasuke dan Naruto menjalankan sepeda mereka ke sebuah taman komplek di belakang. Mereka memarkirkan sepeda mereka dan berjalan ke sebuah pohon tua yang besar dengan dedaunan yang masih lebat. Sasuke memanjat naik menggunakan tangga tali yang ada di sana disusul oleh Naruto. Ya, yang dimaksud Sasuke adalah sebuah rumah pohon yang masih kokoh. Ini ia dan Naruto temukan sekitar dua tahun yang lalu. Mereka berdua menyebutnya sebagai tempat kejujuran. Dimana siapapun yang masuk harus saling jujur terhadap satu sama lainnya. Sasuke membukakan pintu mungil untuk masuk ke dalam rumah pohon itu. Di dalam rumah pohon ada sebuah teropong , kotak besar , dan sebuah karpet.
"Tempat ini masih belum berubah ya… hanya sekarang debunya sudah agak berkurang." Ujar Naruto ketika asik memandangi sekitar isi rumah pohon itu.
Sasuke langsung duduk di karpet dan memandang langsung jendela. Bisa dilihat olehnya langit sore mulai muncul. Naruto menyimpan tas ransel dan duduk di sebelah Sasuke.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan , Sasu?" Tanya Naruto dengan senyum simpulnya.
Sasuke menatap mata Naruto dalam , "Naru… Apa kau akan pindah ke luar negeri?"
Mata Naruto sedikit melebar ,"A- apa yang kau bicarakan , Sasu? Aku tak mengerti."
"Jangan bohong. Katakan , apa kau akan pindah ?" Ujar Sasuke yang menatap tajam Naruto.
Naruto mengalihkan pandangannya ke keluar jendela, berusaha agar tak menatap mata Sasuke. Sasuke yang merasa diacuhkan itu, memegang wajah Naruto dan memaksanya untuk menatap matanya. Kini mata biru Naruto menatap langsung mata hitam Sasuke , ia menggigit pelan bibirnya.
"Naru … Bukankah kita sudah janji , bila di sini kita harus jujur ?" Ujar Sasuke lembut.
"I –iya . Aku akan pindah." Ujar Naruto lirih.
"Bagaimana perasaanmu ?" Tanya Sasuke dengan tangan yang masih tetap memegang wajah Naruto.
"Sedih."
"Kalau begitu menangislah." Ujar Sasuke.
"Untuk apa? Tak ada gunanya." Bantah Naruto.
"Tak akan ada gunanya juga jika kau terus memendam perasaanmu. Jika kau sedih , menangislah. Itu akan membuatmu lebih baik." Ujar Sasuke seraya melepaskan tangannya dari wajah Naruto.
Naruto menggigit kuat bibirnya , wajahnya memanas dan pandangannya mulai kabur. Isakkan pelan yang keluar dari mulut Naruto mulai terdengar, Sasuke menarik Naruto dan menepuk-nepuk pelan punggung Naruto.
"Nangis saja. Jangan ditahan." Ujar Sasuke yang masih menepuk-nepuk pelan punggung Naruto . Kebiasaan dari Mikoto ketika Itachi atau Sasuke ketika sedih , ia akan memeluk dan menepuk-nepuk pelan punggung anaknya.
Seketika meledaklah tangis kecewa Naruto yang selama ini ia tahan. Ia berusaha mati-matian agar tidak menangis dan membuat banyak orang khawatir. Naruto terus menangis dengan Sasuke yang masih setiap menenpuk-nepuk pelan punggung Naruto hingga akhirnya Naruto menjauhkan diri yang mengusap matanya yang agak bengkak.
"Bagaimana ?"
"L-lebih baik." Ujar Naruto yang masih mengusap matanya.
"Kalau begitu…" Sasuke mengambil sesuatu dari dalam kantung celananya sebuah kalung berbandul gembok dan kunci serta sebuah kalung yang tidak memiliki bandul. Sasuke mengambil bandul kunci dan memasukkannya ke kalung yang tidak memiliki bandul itu. Ia sedikit mendekat kea rah Naruto dan memasangkannya pada leher Naruto.
"Ini … apa?" Tanya Naruto seraya mengamati kalung dari Sasuke.
Sasuke langsung memakaikan kalung miliknya yang berbandul gembok , "Itu kalung untukmu. Jangan sampai hilang ya."
"Kenapa?"
"Soalnya ini pemberian dari Kaa-san." Ujar Sasuke enteng.
"A-apa ?! Kalau begitu jangan diberikan padaku." Ujar Naruto seraya akan melepaskan kalungnya.
"Jangan dilepas. Kata Kaa-san itu sudah jadi miliku. Jadi ga papa walau aku kasih satu ke kamu." Ujar Sasuke.
"Tapi … apa maksud dari ini? Kau gembok sedangkan aku kunci." Celetuk Naruto sambil menujuk kalungnya dan kalung Sasuke.
"Maksudnya adalah kau adalah satu-satunya kunci yang bisa membuka gembokku dan aku satu-satunya gembok untukmu yang bisa kau buka."
"Hah? Maksudnya ?"
"Sudahlah , kau akan baru mengerti ketika kau sudah mulai dewasa." Ujar Sasuke sambil beranjak.
"Hei! Jelaskan lagi apa maksudnya!" Paksa Naruto namun tak digubris Sasuke yang sudah berada diambang pintu.
"Kau mau pulang ga ? Kalau ga , aku kunci kau di sini." Ujar Sasuke dengan seringai menyebalkannya.
Naruto segera beranjak berdiri dan segera pulang bersama Sasuke.
'Naru , semoga saat nanti kita ketemu lagi. Ku harap kau mengerti maksud ucapanku tadi.'
T B C
*Pojokkan Author*
Harumi : Huaaah…. Haru cape -_-
Naru : Sabar ya~~ Sini Naru pijitin deh
Harumi : Boleh-boleh
Sasuke : Gila ! beneran gue di buat gundah gini lah.
Harumi : Lo kira gue boong apa hah? Lagipula wajah lo lagi susah tuh adalah hal langka tau
Sasori : Wow… Sasu kamu masih kecil udah pake acara lamar-lamar adek gue
Sasuke : Enak aja kecil-_- gue ga ngelamar kok , Cuma mengikatnya aja
Naru : Maksud lo ?
Sasuke : Sejenis tunangan tapi belum resmi
Naru: Dih! Ogah gue sama lu, mas ague tunangan sama ayam?
Sasuke : Biar ayam tapi lo cinta gue kan ? *evilsmirk*
Sasori : Stttt! Diam dulu napa sih-_- gue lagi menghayati isi naskah nih
SasuNaru : Baiklah , Ojii-san
Sasori : OJII-SAN?!
Harumi : Woi! Berisik!-_- Lebih baik kalian bertiga tutup sesi ini , gue mau berendam. Badan gue semuanya pegel-pegel nih. *Booft*
SasuNaruSaso :Baiklah … 1 2 … 3 Mind to review , minna? *Tebar foto Itachi*
