Warning: rating T, genrenya angst, pairing Yaya x Yaya as a friend, gatau apa ada cinta cintaannya atau nggak.

Boboiboy charas are Animonsta's

Happy reading!

.

.

.

Suasana pagi terasa sangat damai dan tenang. Jalan raya belum terlalu padat, dan udara masih sangat segar, mengingat susahnya mencari oksigen untuk bernafas dewasa ini. Asap mengepul dari rumah rumah, menandakan para Ibu tengah memasak untuk suami dan anak anaknya. Dengkuran masih terdengar di kamar anak anak kecil, dan gemericik air terdengar dari dalam kamar mandi orang orang yang tengah bersiap untuk memulai hari. Semua berputar seperti siklus yang tanpa habisnya.

Begitupun dengan kedua anak remaja yang dulunya tidak dekat sama sekali, namun mulai kemarin sore memulai kehidupannya sebagai teman.

Yaya membuka matanya perlahan, mengumpulkan kesadaran. Setelah sudah merasa cukup, ia tengah mendapati dirinya tertidur di meja belajar. Tak heran, Yaya sering mengalami ini. Yaya melihat jam weker yang terletak di samping tempat tidurnya. Matanya memicing sedikit, mencoba memfokuskan pandangannya karena jam weker itu kecil dan agak jauh dari tempatnya terduduk. Jam setengah 6.

Lalu Yaya menyadari sesuatu. Tempat tidurnya kosong. Seharusnya kan ada Ying disana.

Kemana Ying? Yaya mulai membuat spekulasi yang aneh aneh di kepalanya. Apa jangan jangan dia diculik? Tidak mungkin. Atau kabur karena putus asa lalu gantung diri di pohon toge? Tidak, yang ada togenya yang patah karena diikat dengan tali. Yaya melihat ponsel Ying di tempat tidur, lalu koper kopernya juga masih ada di sudut kamar. Berarti Ying tidak kabur. Eh, bisa juga sih. Kalau kabur pakai bawa bawa koper segala kan ribet.

Khayalan tidak jelas Yaya buyar ketika ia mendengar suara pintu kamar dibuka. Yaya menoleh ke arah pintu, melihat Ying yang masuk lalu menutup pintu kembali. Yaya heran. Bukan, Yaya bukan heran karena Ying tidak jadi kabur, tapi karena Yaya melihat Ying memakai seragamnya.

"Loh, katanya hari ini nggak mau masuk?"

Bukannya menjawab pertanyaan Yaya, Ying malah mengomentari cara tidur Yaya. "Kau benar benar tidak peduli dengan badanmu, ya? Kalau kau setiap hari tidur di atas meja belajar seperti itu, tulang punggungmu akan bengkok seperti keong."

Yaya mendengus, menatap Ying tajam. "Apa? Keong?"

"Iya, atau kalau bukan keong, mungkin nenek nenek buyut berumur seabad."

Yaya bangkit, dan berjalan sambil mengayunkan tangannya ke belakang, seolah bersiap memukul Ying. Ketika Ying balas menatap tajam, Yaya melewati Ying dan tangannya mengayun kedepan, mengambil handuk yang tergantung di belakang pintu.

"Ngomong ngomong, katanya nggak mau sekolah. Kenapa pakai seragam?"

Mata Ying yang tadinya menajam sekarang sudah kembali normal. Ying memutar badannya dan menghadap Yaya.

"Ngg— sayang uang sekolahnya. Soalnya sudah dilunaskan oleh Ayahku sampai tamat, saat aku pertama kali mendaftar."

"Sejak kapan kau jadi sayang uang begitu? Bukannya kau biasanya menghamburkan uang?"

Ying mendekati Yaya dan menggantungkan handuk yang tersampir di pundaknya. "Ya— sejak aku tidak punya uang. Ngomong ngomong kau sarkasme sekali sih, apa karena sekarang aku yang bergantung padamu? Ha?"

Yaya tertawa mendengar kata kata Ying yang seperti itu. "Hahahah— tidak juga sih. Sensitif sekali. Aku tidak bermaksud begitu sih," Yaya meraih gagang pintu dan memutarnya, "tapi terserah sih kalau kau menganggap begitu. Aku minta maaf." Yaya menarik pintu tersebut agar terbuka.

"ADAW!"

Yaya menoleh ke sumber suara, melihat Ying yang sedang mengelus kepalanya. Ying menoleh ke arah Yaya. "Sakit tau! Kalau buka pintu liat liat dong."

"Ya, kamu juga gantung handuk aja lama banget. Udah ah, aku mau mandi." Yaya pun keluar kamar lalu menutup pintu, meninggalkan Ying yang mengomel tidak jelas.

I

Setelah sekitar 15 menit berjalan, Ying dan Yaya berada di depan gerbang sekolah. Mereka tidak naik sepeda, karena sepeda tua Yaya sudah rusak. Jadi, terpaksa mereka berjalan kaki.

Ying menatap sekolah dengan tatapan ragu. Matanya telah menangkap beberapa anak yang menyadari keberadaannya lalu terlihat mulai berbisik bisik. Yaya menggenggam tangan Ying erat, lalu melepaskannya dan mendorong pelan pinggang gadis tersebut.

"Masuklah duluan. Kau yakinkan dirimu."

Ying menoleh ke arah Yaya dengan tatapan yang sulit untuk dijelaskan, memasang headset pada telinganya lalu melangkahkan kakinya untuk pertama kali tanpa kemewahan apapun, kecuali ponselnya yang merupakan besutan Apple dan berharga 15 juta tersebut. Walaupun ia memasang headset di telinganya, ia masih mendengar suara suara dari luar secara samar samar.

'Ih, dia yang sombong itu kan...'

'Udah bangkrut ya? Mampus. Karma tuh.'

'Kasian banget sih, eh liat deh Yaya di gerbang. Apa dia sekarang mengemis pada Yaya?'

'Oh, dia hidup bersama Yaya ya sekarang? Dasar, duo miskin.'

Ying menggelengkan kepalanya, menatap lurus ke depan dengan datar dan berbelok menuju koridor loker. Ying menghela nafas, lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan memandanginya.

15 juta...

Sementara Yaya masih menatap Ying yang memasuki sekolah dan melihat juga keadaan yang sangat tidak mengenakkan saat ini. Saat Ying sudah menghilang dari pandangannya, Yaya pun memasuki area sekolah dan masuk lewat koridor ujung untuk menghindari pertikaian.

I

Waktu telah berlalu dan sekarang saatnya untuk pulang.

Bagi Ying, biasanya waktu sekolah itu tidaklah lama, namun kali ini rasanya seperti seabad. Ditambah lagi dengan telinganya yang panas mendengar kasak kusuk orang tentangnya. Mau setidak peduli apapun dia, tetap saja ia merasakannya. Semua mata menatapnya dengan tatapan mengejek, marah, kasihan, dan sebagainya. Ia tengah menjadi berita utama dan gunjingan utama hari ini, dan mungkin untuk seterusnya. Dia seperti sudah mendapat jaminan bahwa ia akan menjadi mangsa empuk para pembully di sekolah. Tapi, dia sudah bertekad dan tidak akan mundur lagi.

Dulu, ialah siswi yang paling suka membully anak anak di sekolah bersama Suzy dan Amy. Namun, tampaknya sekarang roda sudah berputar ke bawah. Suzy dan Amy pun sudah berbalik punggung padanya. Saat ia membuka sosial medianya, akunnya yang dulu difollow oleh 1000 orang lebih, kini turun drastis menjadi hanya 181 orang, dan ia yakin 181 orang tersebut pastilah pengguna yang tidak aktif.

Ying menghela nafas, lalu membereskan peralatannya dan segera meninggalkan kelas. Ia berjalan dengan cepat menuju loker, sebelum ada masalah yang menimpanya. Saat selesai, buru buru ia meletakkan buku bukunya ke dalam loker.

"Hey, yang belajar itu kau atau lokermu, sih?"

Ying menoleh kebelakang dan mendapati Yaya di sana. Ying menghembuskan nafasnya lega, hampir saja ia menjadi gila karena tekanan batin seharian ini.

"Daripada kau. Jadi lokermu isinya apa? Percuma punya loker tapi tak diisi."

Yaya beranjak menuju lokernya dan meletakkan beberapa barangnya di sana. "Heh, tentu saja ada. Mukena untuk sholat, beberapa alat tulis cadangan, dan beberapa buku tugas. Oh, kau mau pulang kah?"

Ying menggelengkan kepalanya. "Kau pulang saja duluan. Aku ada urusan. Dan kau pulang kerja jam berapa?"

"Sebelum maghrib, sekitar jam 6 lah. Kalau begitu aku pulang dulu ya, takut terlambat. Sampai jumpa!" Yaya mengunci lokernya dan berjalan cepat keluar dari sekolah.

Ying yang melihatnya hanya geleng geleng kepala, lalu memasukkan beberapa buku ke dalam tasnya kembali untuk ia pelajari nanti malam. Mulai sekarang, ia tak meninggalkan semua buku di sekolah lagi. Ia harus belajar. Setelah semuanya beres, ia kembali mengunci lokernya, dan mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Ia kembali memandangi ponsel tersebut.

Ia tahu apa yang harus ia lakukan.

I

Yaya membuka pintu kamarnya dengan wajah yang lelah. Hari ini pelanggan di kedai cukup banyak, jadi ia bekerja ekstra. Dan sebagai bonus, ibu pemilik rumah makan memberinya sekotak pizza berukuran jumbo. Yaya pikir, Ying pasti senang mengetahui ia akan makan pizza malam ini sampai kenyang. Ngomong ngomong, apakah Ying sudah pulang atau belum?

Yaya melihat kamarnya kosong, dan melihat tas sekolah Ying bersandar di dinding. Itu artinya, Ying segera mandi. Yaya beranjak menuju meja belajar, ingin meletakkan pizzanya. Namun matanya membelalak ketika di mejanya terdapat sebuah smartphone android keluaran Korea, dan sebuah notebook, dan keduanya masih terbungkus rapi di dalam kotak.

Yaya tau ini 'ulah' siapa. Yaya menoleh ke tempat tidur, dan mendapati sebuah ponsel yang berjenis sama dengannya tersambung dengan charger. Yaya mengerutkan dahi, ini bukan ponsel Ying yang belasan juta itu. Jangan jangan...

"Ya, aku benar benar menjualnya. Dan lihat, aku mendapat lebih banyak gadget."

Mata Yaya membulat ketika melihat sebuah kunci sepeda motor juga terlihat di samping ponsel tersbut. "K— kau. Kau belikan apa saja hasil penjualan ponsel lamamu?!"

Ying mengeringkan rambutnya yang basah di depan kipas. "Aku... membeli 2 ponsel yang tidak murahan tapi tak semahal ponsel lamaku juga, lalu membeli sebuah notebook, lalu kredit sepeda motor bekas. Harga jual ponsel lamaku itu lebih tinggi dari yang kukira."

Yaya kaget setengah mati, tentu saja. "T— tapi, kenapa?"

"Aku ingin berterima kasih padamu. Aku belikan notebook untuk kita berdua, agar mengerjakan tugas semakin mudah. Juga agar wawasanmu luas, kau boleh miskin tapi isi otak tak boleh sempit—"

Yaya memasang muka datar.

"—hehe. Lalu kubelikan sepeda motor agar kita tak capek berjalan setiap hari. Setidaknya lebih lumayan mukaku gosong daripada kakiku varises karena kebanyakan jalan, huh. Lagipula untuk kondisiku yang sekarang ponsel mewah bukanlah hal yang penting lagi."

Awalnya Yaya terkejut mendengar pengakuan Ying. Namun beberapa saat kemudian, Yaya merasa terharu. Terharu dengan semua perilaku Ying terhadapnya. Tak disangka, dibalik sifat jahatnya selama ini, dia memiliki hati yang sangat baik. Mungkin jatuh miskin tidak sepenuhnya memberi keburukan baginya, malah ia dapat memperbaiki dirinya sekarang.

"Te— terima kasih Ying..."

Mata Yaya berkaca kaca. Melihat mata Yaya yang berkaca kaca, mata Ying ikut mengeluarkan air mata. Mungkin memang benar, menjadi miskin bukanlah suatu keburukan baginya. Ying bergerak mendekati Yaya, lalu memeluknya.

"Hiks—"

Mereka pun tenggelam dalam perasaannya masing masing untuk bebeberapa saat. Perasaan senang, terharu, dan bersyukur.

Setelahnya, Yaya yang duluan melepas pelukannya dan berjalan menuju meja belajar. Ia membuka kotak smartphone yang dibelikan Ying untuknya, dan mencoba menghidupkannya.

"Oh iya Ying, aku bawa pizza loh!" Dengan sebelah tangannya yang menghidupkan ponsel barunya, Yaya menunjuk ke arah pizza yang di bawanya tadi. Mata Ying berbinar binar ketika melihat pizza.

"PIZZA!"

Ying mengambil kotak pizza tersebut dan membukanya. Yaya yang melihat ponsel barunya sudah hidup, meletakkannya di atas meja belajar dan mencobanya nanti malam. Yaya berjalan mendekati Ying, ikut mengambil pizza dan memakannya. Mulut mereka berdua dipenuhi oleh pizza sekarang.

"Nyem— oh iya." Ying menelan pizza di mulutnya. "Aku sudah mendapat pekerjaan!"

Yaya yang sedang menelan pizza, hampir tersedak. "Ohok— serius?!"

Ying mengangguk dengan mata berbinar. "Iya! Aku mengantar koran dan susu setiap pagi dengan sepeda motor, tidak perlu capek capek sepertimu sampai sore."

Yaya cemberut, namun sesaat kemudian tertawa. Ying pun ikut tertawa.

Mereka pun tertawa bersama. Menertawakan diri mereka sendiri, namun sejuurnya mereka bahagia, dan terselip syukur kepada Tuhan atas takdir mereka.

Setidaknya, untuk sekarang ini.

.

.

.

TBC