Desclaimer : All the casts is belongs to God, their parents, and Agency

You Are The Apple Of My Eye is belongs to Giddens Ko

This fanfiction is REMAKE by Film

Warning; Typo(s), OOC, Plot, dan banyak kesalahan yang dapat ditemukan.

Enjoy

Happy Reading


.

.

Yoongi terlihat sibuk sendiri, bolak-balik di depan rak berisi banyak buku. Terkadang ia mengambil buku yang dikiranya menarik tetapi kemudian meletakkannya kembali lagi ke dalam rak. Ia nampak bingung memilih, seperti tidak niat sebenarnya.

Puas dengan hanya melihat-lihat, Yoongi pun beralih mencari Jungkook. Mereka berdua sedang berada di dalam sebuah toko buku omong-omong, entah kenapa tiba-tiba Jungkook mengajak Yoongi untuk mampir ke toko buku langganan mereka sepulang sekolah, padahal hari ini Yoongi begitu malas dan ingin cepat-cepat sampai rumah untuk rebahan, tetapi ia tidak enak untuk menolak, pasalnya ia melihat Jungkook sedikit aneh hari ini. Entah apa yang sedang anak itu pikirkan, bahkan saat ini Jungkook terlihat seperti melamun di depan rak berisi puluhan variasi alat tulis.

"Jungkook, apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan?" Yoongi berkata tiba-tiba, membuat Jungkook yang sedang memegang sebuah pensil mekanik berwarna hitam sedikit terkejut.

"Tidak, Tidak ada apa-apa." Balasnya sambil sibuk menggeleng-geleng kepala.

"Kau terlihat aneh hari ini, sebenarnya ada apa?" Yoongi kembali bertanya, mencoba untuk mendapat jawaban yang memuaskan, namun Jungkook kembali menggeleng dan berkata bahwa ia benar-benar tidak apa-apa.

"Apa ada sesuatu yang ingin kau beli, Yoon?"

"Tidak, sebenarnya aku memang sedang tidak ingin membeli sesuatu hari ini, kau?"

"Uh-oh ya, aku mau membeli beberapa pensil baru, kupikir aku membutuhkannya."

Dan Jungkook mengambil secara acak beberapa buah pensil mekanik di depannya.

.

.

.

Hari ini berjalan begitu baik, tidak ada guru yang bertingkah aneh dan mengesalkan seperti kemarin. Pun, anak-anak di kelasnya bertingkah sangat manis hari ini, tidak ada yang membuat gaduh atau mencari masalah kecuali Taehyung dan kawan-kawan tentunya, mereka tetap bermain-main pada saat jam pelajaran tengah berlangsung, tetapi mereka tidak menganggu murid lain, hanya asik sendiri saja, dan itu sama sekali tidak masalah. Resiko akan mereka tanggung sendiri jika tiba-tiba guru mereka mengadakan ujian mendadak, mereka yang tidak mengerti akan berakhir mendapat nilai anjlok. Namun siapa yang peduli dengan nilai jelek? Siapapun itu, pastilah ia bukan seorang Kim Taehyung.

"Hey Tae! Kau mau ikut ke kantin tidak?" jimin berteriak di dalam rangkulan Namjoon, mereka ber empat sudah di dalam posisi sejajar saling berangkulan, berniat menuju kantin bersama-sama.

"Tidak jim, aku malas ke kantin, lagipula tadi pagi aku sempat membeli Odeng di jalan, jadi aku akan makan itu saja, tapi aku titip belikan minum ya!"

"Baiklah! Kami pergi dulu Tae, jangan kangen!"

"Huh, tidak akan!" Taehyung mendengus, apa-apan Jimin, batinnya.

Taehyung mengambil sebuah plastik yang ia bawa, kemudian membukanya dengan hati-hati pada sterofom yang membungkus Odeng miliknya. Taehyung sempat mampir ke penjual Odeng langganannya tadi pagi, sengaja membelinya untuk di bawa ke sekolah, entahlah Taehyung hanya merasa ingin makan Odeng dari tempat langganannya saja.

Taehyung begitu menikmati saat memakan makanan berbentuk bulat itu, bahkan ia sampai mencium-cium Odeng itu dengan penuh cinta sebelum ia masukkan ke dalam mulut. Beberapa siswa yang tidak sengaja melihat tingkah aneh Taehyung seketika merasa jijik dengan apa yang taehyung perbuat. Taehyung memang begitu senang melakukan hal nista, pikir mereka.

Taehyung tidak peduli dengan pandangan orang lain, ia hanya begitu suka dengan apa yang ia makan, bahkan ia tidak peduli dengan suara berisik pengeras suara yang sedang mengumumkan sesuatu, ia hanya fokus dengan apa yang ada di tangannya, tak menyadari juga jika di belakangnya sudah berdiri seseorang yang sedang memandanginya, sampai sebuah tusukan menyakitkan mampir di bahunya barulah Taehyung berhenti memakan Odeng dengan caranya yang berlebihan itu.

"Aw! Apa-apaan sih?" Taehyung berbalik, merasa punggungnya sakit seperti ditusuk suatu benda yang cukup tajam, lalu mendapati seseorang dengan wajah datar memandanginya sambil memperlihatkan pensil mekanik di tangannya. Jeon Jungkook, siapa lagi.

"Apa?!" Taehyung bertanya begitu sinis kepada Jungkook yang hanya bertampang datar, sedikit heran sebenarnya dengan keberadaan Jungkook di depannya saat ini, mau apa anak ini menghampirinya? Datang dengan secara tidak baik-baik pula, ditusuk dengan pensil 'kan lumayan sakit.

"Terimakasih untuk yang kemarin." Jungkook berkata singkat dengan tetap mempertahankan wajah datarnya.

Ternyata ada ya orang yang mengucapkan terimakasih dengan wajah datar seperti itu, Taehyung baru mengetahuinya saat itu, dan ia merasa kesal dengan tampang datar Jungkook, rasanya ia ingin melakukan sesuatu agar wajah datar nan songong itu hilang dari orang di depannya ini. Tetapi Taehyung benar-benar merasa malas untuk berurusan dengan Jungkook.

"Sudahlah, itu tidak penting, lagipula aku sudah lama tidak olahraga, lompat sambil mengangkat kursi itu cukup bagus untuk membentuk tubuh atletisku." Katanya sombong sembari mengibas-ngibaskan tangan.

Setelah berkata demikian Taehyung segera membalikan tubuhnya, mengangkat bahu acuh lalu kembali melanjutkan acara makannya yang sedikit tertunda, namun lagi-lagi ia mendengar suara Jungkook di belakangnya.

"Terimakasih."

Taehyung berbalik lagi, memandang Jungkook dengan alis naik sepertiga, bingung. Sepertinya anak ini memang sungguh-sungguh ingin berterimakasih, tetapi kenapa wajahnya hanya datar seperti itu, sih?

"Aneh mendengarmu mengucap terimaksih tetapi tetap bertampang datar seperti itu, lebih baik kau belikan aku minum saja sana kalau benar-benar ingin berterimakasih."

"Boleh aku bertanya sesuatu?" Bukannya mengiyakan apa yang Taehyung katakan, Jungkook mengabaikannya dan malah balik bertanya kepada Taehyung.

"Hm?."

"Kenapa kau tidak pernah belajar, Taehyung-ssi?"

'ctak' suara perempatan imajinner yang muncul di atas kepala Taehyung. Apa-apaan pertanyaan itu? mengesalkan sekali.

"Siapa bilang aku tidak belajar? Dengar ya, Jeon Jungkook-ssi aku ini suka belajar, asal kau tahu. Tetapi kemampuanku itu terlalu hebat jika aku giat belajar, sampai-sampai aku sendiri pun takut dengan kemampuanku. Maka dari itu, kau perlu berhati-hati. Karena sekali saja aku belajar dengan giat, aku akan langsung bisa mengalahkanmu!"

'pletak'

"Aduh!" Taehyung mengaduh begitu sebuah botol air mineral mampir di kepalanya, ia mengusap kepalanya dan berbalik ke arah samping untuk mendapati Jimin beserta teman-temannya yang lain tersenyum tanpa dosa ke arahnya.

"Sialan kau Jim! Ini sakit, tahu."

"Hehe mianhae, habisnya kau seperti sangat sibuk berpacaran."

"Sialan!"

Taehyung segera memungut air mineral yang tergeletak tak jauh dari tempatnya, langsung mengabaikan Jungkook yang hanya menatap sekumpulan kawanan anak-anak bandel itu tanpa ekspresi. Sedikit menghela napas, Jungkook berniat untuk kembali ke dalam kelas. Setidaknya ia sudah merasa sedikit lega saat ini, karena sudah berterimakasih kepada Taehyung dari apa yang anak itu lakukan untuknya kemarin. Seperti satu beban telah hilang dari punggungya, Jungkook tidak merasa memiliki hutang budi atau semacamnya lagi kepada Taehyung. Meski entah mengapa ia masih merasa ada sedikit kejanggalan, dia sendiri tidak tahu apa itu. Melihat Taehyung yang sangat santai dalam belajar membuat dirinya sedikit, khawatir?─mungkin, entahlah Jungkook tidak mau ambil pusing dengan sesuatu yang bukan menjadi urusannya. Tidak menghabiskan waktu lama untuk memandang Taehyung, Jungkook pun segera kembali ke dalam kelas.

.

.

.

Bel tanda kebebasan sudah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu, Taehyung berjalan sendirian menuju halaman parkir sepeda tempat langganan sepedanya terparkir. Ia segera menghampiri sepeda kesayangannya dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebelum ia menaiki sepeda kesayangannya itu, Taehyung berniat untuk membersihkannya terlebih dahulu. Ia tidak mau sepeda kesayangannya itu terlihat buluk ketika dikendarai oleh orang tampan, maka dengan penuh penghayatan Taehyung pun telaten mengelap bagian-bagian dari sepedanya.

Dari kejauhan terlihat Jungkook berdiri membelakangi Taehyung, nampak ragu memperhatikan Taehyung dari jauh. Ia sengaja menyuruh Yoongi untuk pulang lebih dulu hari ini, beralibi bahwa ia perlu melakukan sesuatu sebelum kembali ke rumah. Namun sekarang ia nampak ragu, sebenarnya apa yang ingin ia lakukan untuk Taehyung? Dari tadi Jungkook memikirkan hal ini, sebenarnya. Perasaan janggal itu membuatnya tidak nyaman, maka setelah memantapkan diri Jungkook pun melangkahkan kakinya untuk menghampiri Taehyung.

"Taehyung-ssi." Pangggilnya. Namun tidak mendapatkan jawaban, suaranya teredam oleh headset yang terpasang di kedua telinga Taehyung.

Jungkook menghela, segera ia mengambil sebuah pensil di dalam tasnya untuk menusuk keras punggung Taehyung dengan benda itu, membat Taehyung tersentak dan langsung berbalik menghadap Jungkook. Mengernyit bingung dan kesal ketika lagi-lagi mendapati Jungkook berada di depannya.

"Apa?" Taehyung melepas headset yang sejak tadi menyumpal kedua telinganya, berkata begitu ketus kepada pemuda pemilik mata onyx di depannya itu.

"Ini," Jungkook mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya, lalu menyerahkannya kepada Taehyung. Dengan raut muka heran yang kentara, Taehyung menerimanya sembari bertanya menggunakan mimik wajah.

"Itu adalah kumpulan soal ujian yang aku buat sendiri, kerjakan di rumah, besok bawa kembali dan serahkan kepadaku, aku akan mengoreksi jawabanmu."

Taehyung melihatnya, membuka lembaran-lembaran buku yang terisi penuh oleh tulisan tangan Jungkook, kemudian ia mendengus meremehkan, apa Jungkook menulis semua ini untuknya? Yang benar saja.

"Huh, yang benar saja Jungkook-ssi, kau pikir aku mau mengerjakan semua itu?" Taehyung melengos, kembali menyibukkan diri dengan sepeda kesayangannya.

Jungkook menghela, mencoba bersabar dengan tingkah mengesalkan Taehyung, ia kembali mengorek isi tasnya dan mengeluarkan sesuatu.

"Dan buku soal matematika ini, kerjakan soal yang sudah kutandai dengan stabilo warna kuning. Ujian berikutnya kau seharusnya bisa mendapat nilai 50." Taehyung menerima buku tebal itu dengan berat hati, membolak balik halaman dan melihat banyak sekali soal yang sudah Jungkook tandai dengan stabilo warna kuning, dan apa kata Jungkook tadi, setelah mengerjakan semua soal bodoh ini, ia hanya akan mendapat nilai 50?

"Hanya 50?"

"Aku tidak pernah bilang memperbaiki nilai itu akan mudah, setelah kau selesai mengerjakan semua soal itu, aku akan memberikanmu yang lebih sulit."

"Cih, apakah aku memiliki sebuah hutang padamu? Mengapa aku harus mendengarkan dan melakukan apa yang kau suruh?, merepotkan saja."

"Aku hanya menjalankan tugas yang sudah diberikan kepadaku, membantu dan mengawasimu belajar, tolong permudah semua ini Taehyung-ssi, kau hanya perlu mengisi soal-soal yang sudah kuberikan itu, benar atau salah itu adalah urusan belakangan, yang penting kau sudah latihan untuk mengerjakan soal."

"Apa peduliku tentang tugas yang diberikan kepadamu itu, aku tidak mau."

"Aku hanya tidak ingin memandang rendah kepadamu Taehyung-ssi."

"Apa menurutmu dengan nilai tinggi itu artinya kau bisa memandang rendah orang lain? Terserah, lakukan saja sesukamu, aku tidak peduli kau mau memandang rendahku sekalipun."

"Aku sama sekali tidak memandang rendah seseorang yang mendapat nilai jelek," Jungkook berkata dengan sabar, meski Taehyung tetap membelakanginya dan sibuk berkutat dengan sepedanya, Jungkook tetap melanjutkan penjelasannya.

"Yang aku pandang rendah hanyalah orang-orang yang sebenarnya tidak pernah belajar dengan giat , tetapi memandang rendah orang lain yang belajar dengan giat."

Lalu setelahnya Jungkook pergi begitu saja, meninggalkan Taehyung dengan dua buah buku miliknya yang sengaja ia tinggalkan tanpa menunggu tanggapan dari Taehyung. Sedangkan Taehyung sendiri tampak terpekur dengan apa yang barusan Jungkook katakan, mungkinkah Jungkook mengambil serius ucapannya saat jam istirahat tadi? haah, benar-benar anak itu. Taehyung menghela napas berat dan melirik dua buah buku berhalaman cukup tebal di atas tanah tepat berada di sampingnya. Haruskah ia membawa pulang buku-buku itu? batinnya menimbang-nimbang.

.

.

Paginya, Taehyung masuk ke dalam kelas dengan lesu. Semalam ia tidur agak larut, itu semua berkat Jeon Jungkook. Salahnya yang memberikan dua buah buku berhalaman tebal yang penuh dengan soal-soal, membuat Taehyung sedikit merasa tidak enak hati dan akhirnya membuka buku pelajaran itu untuk coba ia kerjakan. Membuatnya begitu menyesal membuka dan mencoba untuk mengerjakannya, sulit, tetapi membuatnya malah semakin penasaran, sehingga tanpa sadar jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan pukul dua belas tengah malam, dan Taehyung baru tertidur pukul satu dini hari. Sungguh pagi ini ia sangat mengantuk.

Taehyung berjalan terhyung-huyung menuju kursinya, mengabaikan teman-temannya yang memandanginya dengan ekspresi aneh. Ia menyampirkan tas sekolahnya dan mendudukkan dirinya dengan kasar, langsung menumpukan kedua lengannya di atas meja untuk dijadikan bantalan kepala mengantuknya, membuat Jungkook yang berada tepat di belakang sedikit heran dengan tingkah Taehyung pagi ini, karena biasanya anak itu akan berteriak heboh dan tidak jelas ketika memasuki kelas.

'tuk'

Jungkook menusuk punggung Taehyung dengan pensil yang dipegangnya, membuat tubuh lemah itu tersentak kecil, Taehyung menghela napas dan berbalik, memandang Jungkook dengan kedua matanya yang terlihat begitu sayu.

"Apa?" Ia bersuara begitu lemah.

"Soal ujian." Balas Jungkook datar.

"Ck," Taehyung merogoh tasnya, mencari-cari buku yang menjadi penyebab kantuk tak tertahankannya pagi ini, lalu memberikannya kepada Jungkook dengan lemas. Kemudian berbalik tanpa peduli dengan hasil pekerjaan yang ia kerjakan semalam.

Jungkook menerima buku itu dengan semangat, ia langsung membuka lembar demi lembar buku yang penuh dengan tulisan tangan miliknya, lalu mengecek satu persatu soal yang sudah ia tulis dan dikerjakan oleh Taehyung. Tidak semua Taehyung isi, memang, namun Jungkook cukup senang karena setidaknya Taehyung sudah mau mengerjakan beberapa.

"Banyak salah." Jungkook berkata setelah selesai mengecek soal yang sudah Taehyung kerjakan. Dalam tidur pura-puranya Taehyung mendengus, mencoba untuk tidak mendengarkan gerutuan Jungkook, pikirnya masih untung ia mau susah-susah mengerjakan soal-soal bodoh itu semalam.

"Kau pasti hanya mengerjakannya dengan asal tanpa melihat buku panduan 'kan, Taehyung-ssi?" Jungkook tahu Taehyung pasti mendengarnya, maka ia tetap berbicara walaupun Taehyung tampak memejamkan mata.

Taehyung berbalik, memandang malas pada Jungkook yang malah nampak begitu segar dengan buku itu di tangannya, ia langsung mendekati tubuhnya ke arah Taehyung dan menggeser buku itu agar terlihat juga oleh Taehyung. Tanpa peduli bahwa orang di depannya terlihat sangat sangat mengantuk dan malas meladeninya.

"Dua soal yang ini, kau bisa langsung mendapat jawabannya di buku panduan," Jungkook menunjuk dengan pensil soal-soal yang sudah ia tandai sebelumnya, "lalu soal yang ini sedikit lebih susah, kau tidak cukup hanya dengan menghafal rumus, harus dimasukkan ke cara yang ini, lalu dilanjutkan dengan yang ini, baru bisa," Jungkook masih terus saja menunjuk-nunjuk soal degan pensil dan menjelaskannya kepada Taehyung, sedangkan yang dijelaskan hanya diam saja tanpa memberi respon sedikitpun. Demi tuhan, Taehyung terlalu mengantuk untuk meladeni Jungkook yang menggebu-gebu menjelaskan cara mengerjakan soal-soal bodoh itu.

"Aku sudah menuliskan cara mengerjakannya Taehyung-ssi, pulang sekolah nanti kau bisa melihatnya sendiri." Lalu setelahnya ia menyerahkan buku itu kembali kepada Taehyung,

"Aish, aku sudah mengembalikan buku itu kepadamu, aku tidak mau mengerjakan soal apapun lagi. Kau tidak lihat ini hah, mataku terlihat seperti panda hanya karena bergadang mengerjakan soal-soal bodoh itu. Bahkan jawaban yang sudah ku cari setengah mati ternyata banyak yang salah, benar-benar menyebalkan." Tetapi meskipun bicara demikian, Taehyung tetap menerima buku yang Jungkook ulurkan padanya, mungkin tanpa sadar karena saking mengantuk. Diam-diam Jungkook tersenyum kecil melihat tingkah Taehyung.

.

.

.

A/n :

Aku tidak begitu tahu tentang jajanan khas korea selatan dan bagaimana cara penyajiannya, jadi tolong dimaklumi jika ada kesalahan atau tidak sesuai, ya.

Terimakasih yang sudah membaca dan memberikan review, silahkan baca dan review lagi jika berkenan. See you~

Salam hangat

Park sungra_