Voice
.
.
.
.
.
.
Disclaimer : Mereka hanya milik Tuhan dan Cho hanya meminjam nama mereka
Cast : DBSK dan yang lain
Pairing : Yunjae
Rate : T
Genre : School Life, YAOI, Romance, Hurt/Comfort,
Alur kadang cepet kadang lama dan yang pasti bakal banyak typos
Enjoy it ^o^
Hati - hati ya bacanya, "..." tulisannya italic itu berarti Yunpa yang lagi ngomong ^^
.
.
.
.
.
Jaejoong dan Yunho yang membawa buku catatannya keluar dari kamar Yunho, diluar para suster dan anak - anak panti tengah berkumpul. Sepertinya makan malam akan segera dimulai, tapi Jaejoong melangkahkan kakinya keluar panti diikuti oleh Yunho.
" Masuklah" Jaejoong membukakan pintu mobilnya untuk Yunho
" ..."
" Aku hanya ingin membicarakannya didalam mobil agar aman"
Yunho akhirnya mengangguk dan masuk kedalam mobil Jaejoong. Jaejoong pun segera masuk kedalam mobil. Mereka berdua duduk dikursi depan.
" Begini Yun, appaku membutuhkan orang yang bisa mengerjakan laporan keuangannya dalam waktu empat hari"
" ..." Yunho mengerutkan keningnya bingung, laporan perusahaan?
" Karena ini menyangkut perusahaan appaku, berarti hal ini bersifat rahasia makanya aku ingin membicarakannya disini. Ini kau lihat datanya dulu" Ucap Jaejoong memberikan notebook yang baru saja dia nyalakan juga berkas yang dibawanya
Dengan ragu Yunho melihat berkas yang diberikan oleh Jaejoong. Mengerjakan laporan perusahaan? Dia memang terbiasa membuat laporan keuangan di kafe juga panti tapi jika perusahaan... Bukankah laporan itu dibuat untuk skala besar?
" Kau hanya perlu membuat laporan bulan ini saja Yun, bagaimana? Aku juga membawakan contoh hasil laporan keuangan sebelumnya untuk referensimu"
Yunho menggeleng ragu, dia takut tidak bisa mengerjakannya.
" Wae? Kau ragu? Kenapa eoh?"
'' Aku tidak pernah mengerjakan laporan dalam skala besar''
" Kau ragu eoh?! Kau pasti bisa Yun"
"Aku tidak tahu, empat hari adalah waktu yang cukup sebentar"
" Kau pasti bisa Yunho"
" ..."
" Tiga juta"
Yunho mengerutkan keningnya dan menatap Jaejoong bingung.
" Appaku akan memberikanmu tiga juta won jika kau bisa mengerjakannya dalam waktu empat hari. Bagaimana? Itu cukup untuk pengobatan Changmin bukan?"
" ..."
.
.
.
.
.
~ Chapter 3 ~
.
.
.
.
.
Jaejoong berjalan penuh kekhawatiran menuju panti tempat Yunho tinggal. Ini adalah hari terakhir bagi Yunho untuk menyerahkan laporan keuangan perusahaan appanya. Appa Jaejoong pun sudah seperti orang yang kebakaran jenggot karena khawatir laporannya tidak selesai dan lusa pertemuan dengan para pemegang sahan akan diadakan.
Mr. Kim tidak mau dianggap sebagai orang yang tidak bertanggung jawab karena pekerjaannya yang belum selesai.
" Yunho eodie? Apa dia belum keluar kamar?" Tanya Jaejoong setelah masuk ke dalam panti
" Belum, tadi dia keluar hanya untuk mengambil makan dan ke kamar mandi untuk buang air kecil" Jawab suster Tae Hee
" Yunho..." Lirih Jaejoong sembari menatap pintu kamar Yunho
.
- FLASHBACK -
.
" Tiga juta won kalau kau bisa mengerjakannya"
Yunho sangat kaget mendengar hal itu, tiga juta won? Itu bukan uang yang sedikit. Dengan uang itu dia bisa membawa Changmin ke rumah sakit untuk terapi dan memperbaiki panti asuhan yang mulai lusuh. Belum lagi dia bisa membelikan beberapa potong pakaian untuk adik - adiknya di panti. Bukankah sudah lama mereka tidak membeli pakaian dan hanya memakai pakaian yang diberikan orang lain?
Yunho menatap bingung Jaejoong, dia tidak mengerti kenapa Jaejoong mempercayainya untuk menyelesaikan laporan keuangan itu. Dia hanya namja bisu yang bahkan belum lulus sekolah, bukankah Jaejoong bisa menyewa akuntan untuk mengerjakannya?
" Yun! Jangan melamun! Kau dalam masa genting sekarang! Changmin membutuhkan uang itu"
Yunho segera mengambil pulpen dan mulai menulis kembali.
" Kenapa kau tidak menyewa akuntan saja? Aku tidak akan mampu menyelesaikannya"
" Aku memang bisa menyewa akuntan. Tapi, aku tahu kau memerlukan uang itu Yun. Aku mohon, demi Changmin"
Saat Jaejoong mengatakan demi Changmin hati Yunho bergetar. Anak itu yang membuat Yunho mampu menjalani hidup keras, namja kecil yang sudah dia anggap adik kandungnya. Jika bukan dia yang mengumpulkan uang, siapa yang menjamin kehidupan Changmin nantinya? Tidak mungkin dia menyerah begitu saja bukan? Yunho memejamkan matanya dan membayangkan Changmin tengah tersenyum padanya dan mengatakan hal yang dia inginkan.
' Min mau makan yang banyak, Min mau pelgi jalan - jalan cama temen - temen di panti. Mau tidul dipeyuk Yunho hyungie dan Min mau jadi doktel bial gak ada lagi yang cakit kayak Min'
Yunho membuka matanya dan mengangguk perlahan. Dia kemudian kembali menggoreskan tinta pada kertasnya.
" Aku akan melakukannya jika kau menyediakan keperluanku selama empat hari ini"
Jaejoong membulatkan matanya, tiba - tiba saja matanya menghangat karena bahagia. Dia benar - benar tidak menyangka Yunho akan menyetujuinya!
" Ne!" Jaejoong mengangguk senang " Aku akan melakukannya"
Yunho tersenyum tipis, dia senang melihat wajah bahagia yang ditunjukkan oleh Jaejoong. Semoga saja Jaejoong membantunya dengan tulus dan tidak memanfaatkannya seperti orang lain.
.
- FLASHBACK OFF -
.
Dan sejak empat hari yang lalu Yunho tidak keluar kamarnya kecuali untuk keperluan yang sangat penting. Jaejoong pun setiap hari pergi ke panti untuk memantau keadaan Yunho dan tentu saja bermain dengan Changmin yang kelihatan pucat itu.
Namun Jaejoong belum bertemu dengan Yunho sejak empat hari lalu, Yunho bahkan tidak masuk sekolah. Saat Yunho keluar kamar, dia tidak keluar kamar meskipun suster Tae Hee memanggilnya. Yoochun pun begitu, sejak Jaejoong menceritakan apa ytang terjadi pada Yoochun, namja itu membantu Junsu dan suster Tae Hee merawat anak - anak panti.
" Min lapel"
" Eh?"
Lamunan Jaejoong terhenti saat Changmin menarik bagian lutut celana bahannya dan menunjukkan mata lebarnya.
" Min... Lapar?" Tanya Jaejoong dengan lembut
" Ne"
" Oh, hyung membawa makanan. Ayo kita makan"
Jaejoong menggandeng Changmin menuju meja makan dan memangkunya. Dia kemudian mengeluarkan makanan yang tadi dibelinya untuk anak - anak panti, nasi dan bulgogi. Changmin makan dengan lahap nasi serta bulgogi yang disuapkan Jaejoong padanya. Sesekali dia bersenandung karena senang dengan makanan yang dia makan, suster Tae Hee jarang memasakkan anak - anak panti daging dan itu membuat anak - anak panti terlihat bersemangat memakan makan malam mereka hari ini.
Jaejoong sesekali menatap pintu kamar Yunho, selain khawatir tentang laporan keuangan appanya Jaejoong juga mengkhawatirkan keadaan Yunho. Empat hari tidak bertemu dengan Yunho membuatnya gemas, dia benar - benar ingin mendobrak pintu yang sudah menghalanginya bertemu dengan wajah Yunho.
Pernah satu hari setelah Yunho menerima pekerjaan yang Jaejoong tawarkan, Jaejoong mengetuk pintu kamar Yunho dan menanyakan keadaannya namun namja itu hanya menjawab bahwa dia baik - baik saja melalui selembar kertas yang dia selipkan pada bawah pintu. Walaupun mengabarkan bahwa dia baik - baik saja, Jaejoong benar - benar ingin melihat langsung keadaan namja itu. Seperti sangat merindukannya, eoh?
" Hyung, aaaa"
" Omo! Ne Minnie!"
Jaejoong kembali menyuapi Changmin dan sesekali bermain dengan Changmin selagi menyuapinya. Sedangkan Junsu yang sedang menyuapi anak panti lainnya melihat kearah pintu kamar Yunho, hatinya sangat sakit karena tidak bisa membantu Yunho. Dari cerita Jaejoong, Yunho sedang berusaha mendapatkan uang untuk Changmin berobat dan yang bisa dia lakukan sekarang hanya diam dan menunggu. Ugh... Junsu membenci hal itu. Apa lagi dia baru satu kali bertemu dengan Yunho selama empat hari ini, dia ingin juga memastikan secara langsung bagaiman keadaan Yunho!
Rasanya ada yang kurang ketika Yunho tidak ada disekitarnya. Biasanya Yunho akan menanyakan bagaimana sekolah Junsu? Apakah Junsu sudah makan? Atau hal - hal tentang yang Changmin lakukan walaupun semua itu dilakukan Yunho menggunakan bahasa tangannya. Junsu... Merindukan Yunho...
" Hyung! Yunho hyung!"
" Eoh?!"
Junsu langsung meletakkan makanan yang dipegangnya dan berdiri. Niatnya ingin menghampiri Yunho terhenti saat dia melihat Jaejoong menghampiri Yunho terlebih dahulu. Dia memegang dadanya dan merasakan sesuatu saat dengan lancangnya (menurut Junsu) tangan Jaejoong menyentuh wajah Yunho.
" Syukurlah dia sudah keluar"
Junsu menoleh dan melihat Yoochun sudah berdiri disampingnya, wajah namja itu terlihat lelah karena membantu menemani anak - anak panti bermain hari ini.
" E-eh ne" Lirih Junsu
Sekarang mari kita lihat Jaejoong yang tadi menghampiri Yunho yang baru keluar kamar dan langsung menangkup wajah namja itu.
" Y-yunho yah... Kau baik - baik saja kan?" Tanya Jaejoong dengan matanya yang berkaca - kaca
Tentu saja hal itu membuat Yunho kaget, karena tidak mengira Jaejoong akan ada di panti dan berbuat seperti ini padanya, maksudnya menangkup wajahnya. Hatinya pun menghangat saat melihat mata berkaca - kaca Jaejoong, rasanya menyenangkan jika ada yang mengkhawatirkanmu. Tapi tunggu, Jaejoong mengkhawatirkannya atau mengkhawatirkan laporan keuangan appanya?
" Yun, kenapa melamun? Kau baik - baik saja bukan?" Jaejoong mengulangi pertanyaannya
Yunho mengangguk pelan.
" Syukurlah"
Rasanya lega saat Yunho menganggukkan kepalanya, tapi wajah Yunho cukup pucat dan terlihat mengenaskan.
" Kau mau makan?" Tanya Jaejoong
Yunho menggelengkan kepalanya.
" W-"
" Waeyo? Kenapa hyungie tidak mau makan? Min aja udah makan sama Jae hyung"
Jaejoong dan Yunho menoleh, dia melihat Changmin berdiri diantara mereka, menatap polos kearah Yunho. Yunho kemudian berjongkok dan mengelus puncak kepala Changmin lalu dia menggerakkan tangannya.
" Ne, Min dicuapin sama Jae hyungie. Hehehe, Min kangen banget sama hyung"
Grep
Changmin memeluk Yunho, suster Tae Hee pun menghampiri mereka bersama Junsu dan Yoochun. Mereka tersenyum senang melihat pemandangan di depannya.
" Mandilah Yun, kau terlihat mengenaskan seperti itu!" Ucap suster Tae Hee
" Ne hyung, kau juga harus makan! Lihat tubuhmu kurus sekarang. Padahal kau mengurung diri hanya empat hari" Ucap Junsu
" Cepatlah bersihkan tubuhmu dan bantu kami" Kali ini Yoochun yang berkomentar
Yunho melepaskan pelukannya dari Changmin dan berdiri, dia kembali menggerakkan tangannya dan diangguki oleh suster Tae Hee, Junsu dan Yoochun. Jaejoong melangkah mundur, dia merasa dia bukan siapa - siapa bagi Yunho. Bahkan dia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Yunho. Sedih menjalar dalam tubuhnya, dia juga ingin mengerti apa yang dikatakan Yunho menggunakan tangannya itu.
Jaejoong berjalan lemas menuju kursi tempatnya tadi menyuapi Changmin dan memperhatikan penghuni panti dan Yoochun berinteraksi dengan Yunho. Yunho terlihat lega dan kadang menggelengkan kepalanya, menggerakkan tangannya dengan cepat namun para penghuni itu tampak mengerti bahkan tersenyum dan tertawa.
" Hyungie"
Jaejoong menoleh kebawah dan mendapati Changmin berdiri disampingnya. Jaejoong mengangkat Changmin dan memangkunya. Dia menaruh kepalanya di atas kepala Changmin.
" Hyungie waeyo?" Tanya Changmin
" Ani" Jaejoong mengeratkan pelukannya pada Changmin
Dia melihat Yunho berlalu dari sana, sepertinya beranjak menuju kamar mandi. Tak lama suster Tae He menghampirinya.
" Yunho akan membersihkan dirinya dulu baru menemuimu lagi"
" Ah ne suster"
" Minnie ah, kenapa kau manja sekali pada Jaejoong eoh?" Tanya suster Tae Hee
" Min cenang waktu Jae hyung peluk Min, rasanya nyaman"
Jaejoong tersenyum mendengar pendapat Changmin, Jaejoong sendiri menyayangi Changmin seakan namja kecil itu adalah adiknya. Rasanya menyenangkan bisa bertemu dengan Changmin dan bermain dengannya. Akhirnya Jaejoong mengobrol dengan suster Tae Hee dan Changmin sampai seseorang melangkah mendekatinya.
Tap
Tap
Tap
Langkah kaki itu membuat Jaejoong mendongakkan kepalanya, dia melihat sepasang kaki dibalut jeans di depannya, siapa lagi kalau bukan milik Yunho. Yunho menggerakkan tangan kirinya seakan meminta Jaejoong mengikutinya. Jaejoong menganggukkan kepalanya dan menyerahkan Changmin pada suster Tae Hee. Mereka berdua kemudian berjalan menuju mobil Jaejoong untuk berbicara. Setelah sampai di dalam mobil Yunho menyerahkan notebook milik appa Jaejoong serta file - file yang sudah tersusun rapi pada Jaejoong.
" Kau menyelesaikannya?"
" Ya" Jawab Yunho pada kertas yang dibawanya " Aku sudah menyelesaikan semuanya"
" Omo! Aku akan langsung memberikan laporan ini pada appa agar appa bisa memeriksanya dan senin aku akan mengabarkannya padamu! Apa tidak apa - apa?"
" Ya, ini adalah harapan satu - satunya agar Changmin dan panti bisa lebih baik"
" Ne, aku tidak akan mengecewakanmu" Ucap Jaejoong bersungguh - sungguh " Aku akan membawanya pulang sekarang"
Yunho menganggukkan kepalanya, Jaejoong pun pulang setelah berpamitan pada para penghuni panti dan berjanji akan datang berkunjung hari senin.
.
.
.
" Joongie!"
Panggil appanya yang menunggu dengan tidak di depan rumah bersama dengan sang eomma. Mereka hanya takut laporan keuangan itu tidak selesai malah jadi berantakan karena batas waktu untuk rapat semakin dekat.
" Ne appa!" Jaejoong keluar dari mobil membawa tas notebook appanya dan langsung menyerahkan pada sang appa
" Appa akan langsung ke ruang kerja, kau bawalah data - data lainnya ke ruang kerja appa"
" Beres appa"
Jaejoong membawa data - data lainnya menuju ruang kerja appanya bersama sang eomma. Saat masuk ke dalam ruang kerja appanya, sang appa baru saja membuka data yang dibuat oleh Yunho.
" Appa akan memeriksanya kembali dan akan appa berikan kabarnya besok"
" Jangan lama - lama appa, dia sangat membutuhkan uangnya"
" Ck, kau ini. Ne, appa kan tidak pernah ingkar janji"
" Arasseo"
" Jangan terlalu memaksakan dirimu yeobo" Mrs. Kim mendekat dan mencium puncak kepala suaminya sedangkan Jaejoong menatap jengah eommanya yang sering 'menyerang' appanya terlebih dahulu
" Baiklah, Joongie pergi ke kamar ne"
" Ne"
.
.
.
Jaejoong melangkah pelan menuju tempat tidurnya dan setelah sampai dia duduk dipinggir tempat tidurnya. Dia memejamkan matanya dan tiba - tiba saja terbayang wajah Yunho yang tengah tersenyum padanya saat mengucapkan terima kasih.
Tangan Jaejoong menyentuh dada sebelah kirinya yang terasa hangat saat Yunho tersenyum padanya. Rasanya ada yang aneh pada dirinya, bukankah dia sering mendapatkan senyum dari orang lain, namun kenapa hanya senyum Yunho yang ada dipikirannya?
Jaejoong membuka matanya dan tersenyum mengingat perbuatannya itu, bagaimanapun Yunho membawa nuansa baru dalam hidupnya. Tapi... Bagaimana caranya agar dia bisa mengerti apa yang Yunho katakan tanpa harus media kertas dan pulpen?
" Hah..."
Jaejoong menghela nafasnya dan berdiri, dia berjalan menuju jendela kamarnya dan menatap bulan yang terang di atas langit sana.
.
.
.
Namja bermata musang itu menatap bulan yang terang benderang dari jendela kamarnya. Dia masih merasakan sentuhan yang dilakukan Jaejoong padanya, padahal itu hanya sentuhan yang biasa dia terima dari para suster penjaga dan penghuni panti.
Tapi...
Sentuhan itu terasa berbeda saat Jaejoong yang melakukannya. Yunho menyentuh pipi kanannya dan mengelusnya, sentuhan Jaejoong benar - benar masih terasa walaupun dia sudah membasuhnya. Rasanya sangat hangat menjalar kedalam tubuhnya, belum lagi dia senang wajah khawatir yang ditunjukkan Jaejoong untuknya. Rasanya... Ugh... Menyenangkan.
" Ngghhh..."
Yunho, namja bermata musang itu menoleh dan melihat Changmin menggeliat resah dalam tidurnya. Yunho segera naik ke atas tempat tidur Changmin dan mengelus punggung Changmin yang sedang berbaring miring itu.
" Minnie ah..." Lirih Yunho dalam hati saat wajahnya berhadapan dengan wajah Changmin " Hyung akan menyembuhkanmu, tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu karena kau adalah adik untukku"
Grep
Yunho memeluk Changmin tapi tidak erat karena takut Changmin sesak nafas. Dia mengelus punggung Changmin sampai namja kecil itu berhenti mengigau dan tertidur lelap dalam dekapan hyungnya.
.
.
.
Jaejoong menunggu dengan tidak sabar pada meja makan pagi ini, ini adalah hari senin dan Jaejoong terus - terusan berjalan mondar mandir di depan pintu ruang kerja appanya hingga membuat sang eomma marah dan menyuruh Jaejoong untuk duduk di ruang makan.
" Ughh... Appa lama!" Keluh Jaejoong
" Omo baby, bersabarlah! Bukan pekerjaan mudah memeriksa laporan keuangan baby. Appamu bahkan hanya keluar beberapa kali kemarin"
Jaejoong menghembuskan nafasnya saat merasa eommanya benar. Appanya kemarin hanya keluar untuk makan dan ke kamar mandi, hal yang Yunho lakukan saat menyelesaikan pekerjaan darinya.
Ceklek
Tap
Tap
Tap
" Appa, otte?!" Pekik Jaejoong tanpa memperdulikan wajah appanya yang kelelahan itu
" Joongie! Lihat appamu, tidakkah kau khawatir dengan keadaannya?" Tanya Mrs. Kim
" E-eh? Mianhae appa! Joongie sangat penasaran!"
" Ne baby..." Mr. Kim duduk disalah satu kursi dan menyangga dagu menggunakan kedua tangannya, diikuti Mrs. Kim yang duduk disampingnya sembari menyerahkan secangkir teh hijau untuk Mr. Kim
" Minumlah dulu" Ucap Mrs. Kim
" Gomawo yeobo" Ucap Mr. Kim kemudian mengecup pipi istrinya
" Ish!" Jaejoong mempoutkan bibirnya
" Hahahahaha, mianhae baby! Appa kan perlu menambah energi sebelum berbicara"
Mr. Kim mengambil sepotong roti bakar di depannya dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
" Laporannya hampir sempurna, dia melakukan kesalahan Joongie"
" M-mwo? Apa kesalahannya sangat fatal?"
" Hum" Mr. Kim menganggukkan kepalanya
Jaejoong menelan ludahnya dengan susah payah, kesalahan apa ini? Apa sangat parah?"
" Dia menuliskan 'baya', seharusnya 'biaya' dan yah... 'laporan' menjadi 'laperan'" Jelas Mr. Kim dengan santai
" Mwo?"
Jaejoong dan Mrs. Kim memandang tak percaya pada Mr. Kim terlebih Jaejoong yang speechless dengan jawaban appanya.
" Ya appa! Itu kan hanya masalah kecil!" Pekik Jaejoong
" Hahahhaha! Ne... Dia tidak melakukan kesalah Joongie ah, hanya kata - kata saja yang salah dan yah... Appa harus merapikan kolom - kolom yang dia buat"
" Ugh, appa menyebalkan!"
" Tapi kau menyayangi appa kan..." Goda Mr. Kim
" Yeobo, kau ini! Kau tidak tahu saja, anak ini sedari tadi mondar - mandir di depan ruang kerjamu!"
" Aigo... Tidak sabaran eoh?"
" Ish appa!"
Mr. Kim terkekeh sebentar sebelum akhirnya dia menatap anaknya dengan pandangan serius.
" Joongie ah" Panggil Mr. Kim
" Ne appa?"
" Bisakah kau bawa temanmu itu ke kantor appa sepulang sekolah?"
" Wae?" Tanya Jaejoong dan membuat Mrs. Kim juga ikut tertarik dengan pembicaraan suami dan anaknya itu
" Appa ingin mengobrol dengannya dan menyerahkan uang yang appa janjikan"
" Omo! Jadi, dia mendapatkannya?!"
" Ne"
Jaejoong memekik senang setelahnya, dia berjingkrak - jingkrak senang. Sang eomma yang melihat kelakuan kekanakan anaknya hanya bisa tersenyum dan memeluk lengan suaminya. Dia jadi ikut penasaran dengan teman Jaejoong yang satu ini...
.
.
.
" Yunho yah!" Panggil Jaejoong setelah duduk di tempatnya
Yunho menoleh dan menatap Jaejoong, sejujurnya dia juga tidak sabar menerima berita dari Jaejoong. Dia ingin tahu apakah pekerjaan yang dilakukannya benar? Jujur saja, Yunho sangat pesimis dengan hasil akhirnya. Mengerjakan laporan keuangan perusahaan?
Ayolah... Jangan bercanda!
Dia hanya anak sekolah yang tidak mengerti dengan laporan perusahaan. Hanya saja, saat bekerja di kafe dia disuruh oleh sang manager, awalnya Yunho menolak tapi sang manager mengancam tidak akan memberikan gaji Yunho jika tidak mengerjakan laporan keuangan kafe sehingga akhirnya Yunho mau mengerjakannya.
" Appaku ingin bertemu denganmu sepulang sekolah nanti dikantornya" Ucap Jaejoong
Yunho mengerutkan keningnya, seakan bertanya 'wae?'
" Appa ingin berbincang denganmu dan menyerahkan uangnya"
Yunho mencerna ucapan terakhir Jaejoong dengan lama, apa katanya? Menyerahkan uang? Jadi... Dia berhasil menyelesaikannya? Menyelesaikan laporan keuangan sebuah perusahaan?!
" Jinjja?" Yunho menunjukkan tulisannya pada Jaejoong
" Ne! Kau ikut aku sepulang sekolah ne!"
Yunho menganggukkan kepalanya dengan semangat kemudian tersenyum lebar, di dalam pikirannya dia sudah berkhayal bisa membawa Changmin hari sabtu ini dan langsung melakukan renovasi di panti. Jaejoong mengipasi wajahnya yang terasa panas saat melihat senyum lebar yang diperlihatkan Yunho padanya.
.
" Lihat, dia bilang tidak menyukainya tapi wajahnya memerah saat Yunho tersenyum padanya"
" Ne, dia harus disadarkan"
" Hum, aku setuju padamu naga!"
" Yah! Kau yang punya julukan itu"
" Aigo... Kita adalah naga - naga seksi yang bersahabat dengan namja cantik nan bodoh itu"
" Yah! Jangan sampai Jaejoong tahu kau memanggilnya cantik! Bisa habis kau!"
" Hahahahaha, ayo masuk dan kita ganggu kedua namja itu"
" Baiklah..."
" JAEJOONG AH!"
" Oh! Jiyoung ah, Kris!"
" Annyeong Yunho sshi" Sapa Kris
" Annyeong" Sapa Jiyoung
Yunho menganggukkan kepalanya, dia balik menyapa menggunakan kedua tangannya.
.
.
.
Atas paksaan Jiyoung dan Kris akhirnya Yunho serta Yoochun makan siang di kantin bersama mereka dan Jaejoong. Jiyoung mencoba bertanya pada Yunho dan Yunho menjawabnya pada kertas memo yang dia taruh pada saku seragamnya.
Jaejoong mempoutkan bibirnya saat merasa Jiyoung serta Kris mencari perhatian pada Yunho. Yoochun sendiri merasa senang karena akhirnya Yunho bisa mendapatkan teman baru lagi selain Jaejoong.
.
.
.
Tiba - tiba saja Yunho merasa gugup dalam perjalanannya menuju kantor tempat appa Jaejoong bekerja. Apa yang akan ditanyakan oleh appa Jaejoong? Apa appa Jaejoong akan kecewa padanya saat tahu dia bisu? Apa appa Jaejoong orang yang galak? Tegas? Menakutkan?
Aigo...
Memikirkannya saja membuat Yunho ingin menyuruh Jaejoong untuk mengantarnya pulang saja. Suster Tae Hee pasti sangat sibuk hari ini karena kemarin ada lima bayi yang diantar ke panti. Bukan diantar begitu saja, dua bayi diantarkan polisi karena orangtua mereka meninggal dalam kecelakaan, satu bayi diantarkan karena ditemukan di taman, satu bayi lagi diantarkan eomma kandungnya dengan alasan tidak mampu membiayainya dan satu bayi lagi ditinggalkan di halaman panti begitu saja. Melihat bayi - bayi yang usianya belum genap satu tahun itu membuat Yunho miris dan teringat masa kecilnya.
Degh!
Jantung Yunho berdetak cepat saat mengingat masa lalunya. Yunho memejamkan mayanya dengan erat, dia mencoba menjauhkan bayang - bayang masa lalunya itu namun tidak bisa, semua memori itu terus berputar dalam otaknya.
" Yun! Yunho yah! Wae?!" Tanya Jaejoong panik
Yunho membuka matanya dan langsung menatap Jaejoong, dia menggelengkan kepalanya.
" Kau pusing?" Tanya Jaejoong
Yunho menggelengkan kepalanya pelan
" Kau baik - baik saja bukan?"
Yunho mengangguk.
" Syukurlah"
Jaejoong tersenyum lebar padanya dan hal itu membuat Yunho terpaku sampai melupakan bayang - bayang masa lalu yang tadi hinggap dikepalanya.
" Kita sudah sampai"
Yunho mengangguk dan mengikuti Jaejoong turun dari mobilnya. Mereka bertemu resepsionis yang langsung membiarkan anak bosnya itu naik ke lantai dua puluh. Yunho memandang kagum pada perusahaan milik appa Jaejoong, terlihat minimalis namun elegan. Dia belum pernah memasuki gedung setinggi dua puluh lantai. Dia hanya pernah mengantar hidangan kafenya ke gedung dengan lima lantai.
Tok tok tok
" Masuk"
Jaejoong membuka pintu kantor appanya dan dia kaget karena mendapati sang eomma ada di sana.
" Eomma? Kenapa kesini?" Tanya Jaejoong
" Eomma penasaran juga, cepat bawa masuk temanmu" Jawab Mrs. Kim
" Ne, kajja Yunho yah"
Jaejoong berjalan masuk kedalam ruangan appanya terlebih dahulu diikuti Yunho dibelakangnya. Yunho langsung membungkukkan tubuhnya saat melihat namja dan yeoja paruh baya yang dia yakini adalah orangtua Jaejoong.
" Annyeong!" Sapa Mr. dan Mrs. Kim
Yunho kembali membungkukkan tubuhnya, memang seperti itu caranya memberikan salam. Sedangkan hal itu membuat kedua orangtua Jaejoong bingung karena Yunho tidak menjawab sapaan mereka.
Jaejoong menepuk keningnya dengan keras, kedua orangtuanya belum tahu jika Yunho bisu bukan?
" Y-yun, aku belum memberitahu keadaanmu pada orangtuaku" Ucap Jaejoong ragu saat Yunho sudah kembali berdiri tegap
" Maksudmu apa baby?" Tanya Mr. Kim
Yunho menggerakkan tangannya membuat perhatian Mr. Kim tertuju kembali padanya namun baik Mrs. Kim dan Mr. Kim tidak mengerti maksud dari gerakan tangan Yunho.
" Yunho... Bisu eomma, appa"
Kedua orangtua Jaejoong membulatkan matanya, menatap tidak percaya pada namja yang terlihat normal itu. Sungguh, Yunho terlihat bisa mendengar dan berbicara saat masuk ke dalam ruangan Mr. Kim!
.
.
.
" Aku sangat bangga bisa bertemu denganmu Yunho yah! Kau mengerjakan laporan perusahaanku dengan detail dan rapi" Ucap Mr. Kim
" Anda terlalu memuji" Tulis Yunho
Mereka berempat kini sedang makan siang dengan makanan yang dibawakan oleh eomma Jaejoong. Yunho menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan Mr. Kim padanya.
" Bagaimana kau bisa mengerjakan semua itu Yunho?" Tanya Mrs. Kim
" Dulu, Yunho mengerjakan laporan keuangan kafe tempatnya bekerja namun dia mendapatkan perlakuan tidak adil sehingga dia di pecat padahal semua itu bukan salah Yunho" Jawab Jaejoong yang entah kenapa merasa sebal mengingat cerita ini dari Yunho
" Omo! Jinjja?!"
" Ne, tapi tidak apa - apa. Saya baik - baik saja. Jaejoong menyiakan semua yang saya butuhkan. Saya hanya mencari caranya lewat internet kemudian mengerjakannya" Tulis Yunho kemudian tersenyum tipis
" Kalau begitu kau memang benar - benar cerdas" Puji Mr. Kim yang hanya dia dibalas sebuah senyuman oleh Yunho " Ayo selesaikan makan siang kalian dan appa akan memberikan uang yang appa janjikan" Lanjutnya
Tak sampai setengah jam keluarga Kim dan Yunho menyelesaikan makannya namun mereka masih duduk santai pada sofa diruangan itu.
" Yunho yah, kau ingin gunakan uang itu untuk apa?" Tanya Mr. Kim kemudian menoleh untuk menatap anaknya yang sudah membuka mulutnya " Appa bertanya pada Yunho, kau diam saja"
" Ugh" Jaejoong mempoutkan bibirnya
Yunho kembali menulis pada kertas memonya dan ditunjukkan pada orangtua Jaejoong. Jaejoong yang kepo mencoba melihat namun sang appa melarangnya.
" Kau begitu baik hati Yun" Ucap Mrs. Kim dengan mata berkaca - kaca, Yunho menggelengkan kepalanya sedangkan Mr. Kim berjalan menuju laci mejanya untuk mengambil sebuah amplop berwarna coklat dan diserahkan langsung pada Yunho
" Gunakanlah sebaik - baiknya, sampaikan salam pada suster kepala disana. Kami akan mampir untuk mengunjungi panti itu nanti dan kau cukup memanggil kami dengan ahjusshi dan ahjumma mulai sekarang"
Yunho menganggukkan kepalanya.
" Dan... Satu lagi Yunho, ahjusshi menawarkan pekerjaan untukmu" Ucap Mr. Kim
Yunho mengerutkan keningnya, begitu juga dengan Jaejoong.
" Ahjusshi ingin kau bekerja disini sepulang sekolah, ahjusshi ingin menjadikanmu asisten untuk Junki"
" Tapi saya memiliki banyak kekurangan"
" Tapi kelebihanmu lebih banyak, ahjusshi rasa Junki bisa memahamimu dengan baik karena dia bisa berbahasa isyarat"
Jaejoong mengangakan mulutnya, asisten appanya, Lee Junki adalah sosok yang begitu sempurna. Cerdas, teliti, tegas namun baik hati dan yang Jaejoong tahu dia mengusai lima bahasa sehingga appanya sangat menyayangi Junki tapi dia tidak tahu bahwa asisten appanya itu bisa bahasa isyarat? Waw...
Yunho tampak ragu menerima pekerjaan yang ditawarkan oleh Mr. Kim. Dia masih anak sekolah yang banyak kekurangannya, apa kata pegawai lain jika Yunho bekerja disini? Apa mereka akan menerimanya?
" Kau tidak perlu ragu Yun. Junki akan mengajarimu dengan baik dan dengan kau bekerja disini, kau bisa menabung untuk biaya kuliahmu juga membantu panti lebih banyak. Dan, ah! Membiayai pengobatan adikmu"
Yunho tahu dia tidak memiliki pilihan lain, ini satu - satunya jalan agar dia bisa berbuat banyak untuk panti yang sudah merawatnya selama ini. Jika dia bekerja di tempat Yoochun, dia akan merasa semakin menyusahkan sahabatnya itu walaupun keluarga Park tidak pernah mempermasalahkannya. Perlahan Yunho menganggukkan kepalanya hingga membuat kedua orangtua Jaejoong tersenyum begitu pula dengan Jaejoong.
" Baiklah, pulang sekolah kau langsung kesini ne? Dan kau pulang pukul tujuh" Jelas Mr. Kim
" Berarti aku hanya bekerja empat jam?" Tanya Yunho dalam tulisannya
" Ya, kenapa?"
" Tidak, aku akan bekerja enam jam perhari disini jika ahjusshi mengizinkannya"
" Sampai pukul sembilan malam?"
Yunho menganggukkan kepalanya.
" Apa tidak apa - apa?" Tanya Mr. Kim
" Tidak masalah bagiku untuk pulang malam ahjusshi"
" Baiklah, mulai besok Junki akan menjemputmu"
Yunho langsung tersentak kaget dan memajukan tangannya, dia menggerakkan tangannya ke kanan dan kiri berulang kali kemudian menulis sesuatu pada kertas memonya.
" Mohon jangan prioritaskan saya, saya akan bekerja seperti pekerja part time. Saya akan naik bus menuju kesini"
Mr. Kim menghela nafasnya kemudian menganggukkan kepalanya, dia mengerti kenapa Yunho mengatakan hal itu.
" Baiklah, sampai jumpa besok Yun"
Yunho menganggukkan kepala kemudian membungkukkan tubuhnya hendak pamit. Jaejoong pun berdiri karena dia harus ikut Yunho ke panti untuk pelajaran tambahannya.
" Kau mau kemana baby?" Tanya Mr. Kim
" Ikut Yunho" Jawab Jaejoong dengan santai
" Kau akan mengantarkan Yunho sampai panti?"
" Joongie akan belajar bersama"
" Eh?!"
" Hmmmm" Jaejoong sepertinya teringat sesuatu " Apa aku belum bilang kalau Yunho adalah tutorku eooma, appa?"
" MWO?!" Kedua orangtua Jaejoong tentu saja kaget, anaknya tidak pernah cerita siapa yang menjadi tutornya itu
" Kau yang mengajari anak kami?" Tanya Mrs. Kim dan diangguki oleh Yunho " Omo..."
" Kau... Bisa tahan menghadapi otak lemot Jaejoong Yun..." Ucap Mr. Kim
" Appa!" Jaejoong mempoutkan bibirnya
" Jja, berangkatlah kalian. Dan Yunho, terima kasih sudah membuat nilai - nilai pelajaran Jaejoong membaik" Ucap Mrs. Kim kemudian tersenyum lembut
Dada Yunho terasa hangat mendengar ucapan Mrs. Kim, dia merasa sangat senang karena bisa membantu Jaejoong. Jaejoong melirik kebawah, melihat selembar kertas yang tadi Yunho berikan pada appanya tergeletak begitu saja pada meja di depannya. Dengan hati - hati Jaejoong mengambilnya dan membaca tulisan Yunho.
' Aku akan menggunakan uang itu untuk terapi adikku, merenovasi panti dan membelikan pakaian untuk adik - adikku yang lain serta kebutuhan untuk adik - adik baruku'
Ah~
Yunho bahkan tidak memikirkan dirinya sendiri malah memikirkan bagaimana kehidupan keluarganya di panti asuhan.
.
.
.
Jaejoong menutup buku di depannya dan menoleh kesamping dimana Changmin tengah menggambar. Dia sudah selesai belajar bersama Yoochun, Junsu dan Yunho. Karena Yunho akan mulai bekerja besok, maka Jaejoong dan Yoochun akan mendapatkan pelajaran tambahan setiap hari sabtu dan minggu saja. Tidak masalah bagi Jaejoong, karena dia masih bisa belajar dengan Yunho dan mengunjungi Changmin.
" Kapan kau akan membawa Changmin ke rumah sakit?" Tanya Jaejoong
" Hari Sabtu" Jawab Yoochun setelah Yunho menggerakkan tangannya
" Ah~"
" Min gak mau! Min gak suka lumah sakit!" Ucap Changmin yang mendengar percakapan Jaejoong dan kawan - kawan
" Tapi Minnie ah, Minnie memangnya tidak mau sembuh?" Tanya Jaejoong
" Mau, tapi Min benci lumah sakit"
" Kau mau sembuh bukan?" Jaejoong mengangkat Changmin dan menaruh bocah kecil itu pada pangkuannya
" Ne, tapi..."
" Kalau Minnie sembuh, Minnie seperti jagoan! Lalu Minnie bisa melakukan apapun yang Minnie suka! Minnie tidak mau?"
" Hmmmm..." Changmin mencebilkan bibirnya " Min mau!"
" Nah, itu baru anak pintar" Jaejoong mengelus puncak kepala Changmin
Yunho tersenyum, dia tersenyum melihat Changmin bisa akrab dengan Jaejoong. Jaejoong benar tulus berteman dengannya dan dia sudah membuktikannya jadi tidak apa membuka hatinya untuk berteman dengan Jaejoong bukan?
" Hyung" Lirih Junsu yang melihat Yunho tersenyum, Yunho bukanlah orang yang mudah tersenyum untuk orang yang baru masuk dalam hidupnya tapi... " Eoh?"
Junsu tersentak saat sebuah tangan mengguncang pundaknya, pelakunya adalah Yunho. Yunho menggerakkan tangannya kembali.
" A-ani... Aku... Belum mengerti yang ini hyung" Jawab Junsu kemudian menunjuk satu soal yang sebenarnya sudah dia mengerti
.
.
.
Sabtu pun tiba, Yunho pergi ke rumah sakit diantar oleh Jaejoong. Mereka sudah mendaftar dan menunggu gilirannya untuk bertemu sang dokter.
" Min cenang Jae hyungie mengantal Min hali ke lumah cakit!" Changmin tersenyum dengan wajah pucatnya
" Ne, hyung juga senang bisa mengantarkan Minnie ke sini" Balas Jaejoong
" Changmin, Shim Changmin" Panggil seorang suster
" Ne!" Jaejoong mengangkat tangannya
Yunho mengambil alih Changmin ke dalam gendongannya kemudian mereka berjalan menuju ruangan dokter.
" Oh, hai Changminnie" Sapa sang dokter, Joon Jihoon
" Annyeong ahjusshi"
" Aigo, aku sungguh merindukanmu" Jihoon mengambil alih Changmin dan menggendongnya
Cup
Changmin mengecup pipi Jihoon, dokter yang sudah dikenalnya sejak dia bolak - balik ke rumah sakit.
" Dan... Siapa dia?" Tanya Jihoon menatap Jaejoong
" Annyeong, Kim Jaejoong imnida. Teman Yunho"
" Oh... Aku Joon Jihoon, dokter bagian dalam"
" Senang bertemu dengan anda"
" Cukup panggil ahjusshi atau hyung saja"
Sret
Yunho menarik lengan Jihoon dan mengatakan sesuatu dengan tangannya, entah apa yang dikatakannya Jihoon tertawa dan membaringkan Changmin pada ranjang disana, dia akan memeriksa Changmin.
" Minnie ah" Panggil Jihoon
" Ne ahjusshi?"
" Minnie bermain dengan suster dulu ne? Ahjusshi akan berbincang dengan hyungmu"
" Jangan lama - lama ne?" Ucap Changmin
" Ne"
Seorang suster membawa Changmin keluar dari ruangan Jihoon, meninggalkan Yunho dan Jaejoong serta sang dokter.
" Jadi Yun... Besok, tolong kau bawa Changmin untuk menginap disini ne? Aku akan mulai terapinya senin nanti"
Jaejoong menatap Yunho yang tengah mengerutkan keningnya seakan bertanya kenapa pada Jihoon.
" Aku harus mengambil beberapa sample darah Changmin, sepertinya keadaan Changmin semakin memburuk karena kau tidak memeriksakannya secara rutin Yun"
" M-mwo" Jaejoong membulatkan matanya " Dia baik - baik saja bukan dok?!"
" Aku tidak bisa berbohong dengan mengatakan dia baik - baik saja. Changmin harus segera melakukan perawatan intensif mulai besok Yun, atau kau akan terlambat"
Yunho menggelengkan kepalanya, dia meyakinkan sang dokter bahwa dia akan melakukan perawatan intensif pada Changmin.
.
.
" Yunho yah..." Panggil Jaejoong saat mereka sudah dalam perjalanan pulang, Yunho menoleh " Minnie pasti kuat, percayalah"
Yunho mengangguk kemudian menoleh ke kursi belakang tempat Changmin tertidur usai kelelahan bermain dengan suster tadi di rumah sakit.
" Kau harus segera membereskan pakaian Changmin setelah ini"
Hanya anggukan yang diberikan oleh Yunho, setelahnya dia memejamkan matanya. Jaejoong tahu ini pasti berat untuk Yunho, Changmin akan dirawat mulai besok untuk menerima perawatan dan terapi, Jaejoong pun ikut sedih.
.
.
.
Jaejoong menatap Yunho yang duduk bersama suster Tae Hee dan kedua orangtuanya. Kedua orangtuanya? Ya... orangtua Jaejoong datang berkunjung setelah Changmin pulang dari rumah sakit.
Mereka pun membawakan pakaian baru untuk semua penghuni panti. Mrs. Kim merasakan hangat saat tangan kecil Changmin menyambut uluran tangannya. Changmin adalah seorang namja kecil yang sangat riang walaupun wajahnya pucat, Mrs. Kim pun sudah mengetahui perihal penyakit Changmin yang harus dirawat besok.
" Hah..." Mrs. Kim menghela nafasnya, dia merasa prihatin pada namja cilik itu
" Jumma waeyo?" Tanya Changmin
" Ah ani... Minnie senang sekali makan eoh?" Tanya Mrs. Kim mengalihkan pikirannya
" Ne" Jawab Changmin dengan ceria kemudian tersenyum
Mrs. Kim mengelus puncak kepala Changmin dengan sayang kemudian mengecup kening namja cilik itu. Ada sebuah getaran saat Mrs. Kim mencium Changmin, tidak... Dia bukan pedofil, tapi dia merasa sayang pada Changmin padahal ini kali pertama mereka bertemu. Aneh...
" Minnie ah" Jaejoong mengambil alih Changmin
" Ne?"
" Minnie ah... Kau harus kuat besok"
" Ne, Min tau! Min gak akan nyusain hyung - hyung, noona dan sustel dicini. Min akan jadi anak baik di lumah cakit becok" Ucap Changmin yang sudah mengetahui bahwa dia akan dirawat mulai besok
Mata Jaejoong berembun kembali mendengar apa yang diucapkan oleh Changmin. Dia memeluk Changmin dengan erat dan mengecupi puncak kepala Changmin, dia pun membisikkan kata - kata yang membuat Changmin menjadi tenang. Yunho tersentuh dengan apa yang Jaejoong lakukan pada Changmin, Jaejoong terlihat sangat memanjakan dan meyayangi namja kecil itu. Tidak salah jika dia mulai mempercayai Jaejoong bukan?
Namun dari mereka semua, seseorang memandang keduanya dengan mata memanas dan tangannya terkepal menahan emosi...
.
.
.
.
.
.
.
Jaejoong merasakan getaran di atas meja nakas tempatnya tidur dan tak lama mengalunlah sebuah lagu milik boyband kesukaan Jaejoong, Dong Bang Shinki - Balloon.
" Nghh..."
Jaejoong menggeliat dan menutar tubuhnya, tangannya mencari benda persegi panjang miliknya dan langsung melihat id penelepon yang sudah mengganggu waktu tidurnya.
" Yoochun?"
Jaejoong mengerutkan keningnya kemudian mencoba untuk duduk bersandar pada tempat tidurnya. Dia melirik jam dinging di kamarnya, pukul dua malam.
" Ada apa ini?"
Jaejoong menekan tombol hijau pada layar ponselnya kemudian menggesernya.
" Yeobosseo?" Lirih Jaejoong masih dengan suara mengantuknya
" Jaejoong ah!"
Jaejoong langsung membuka matanya lebar - lebar kala mendengar suara panik Yoochun. Suara namja itu seakan - akan dia sudah berlari ratusan kilo meter.
" Yoochun ah waeyo?" Tanya Jaejoong
" Jae ah! Cepat ke rumah sakit!" Perintah Yoochun
" Wae? Ada apa?"
" Changmin kritis"
" Mwo?! Ada apa?!" Jaejoong benar - benar kaget dan jantungnya sudah berdetak dengan cepat
" Kebakaran"
" Mwo?!"
" Panti... Kebakaran!"
" ..."
.
.
.
.
~ TBC ~
.
.
.
.
Ups...
Annyeong!
harus TBC di situ hahahahahaha #ketawanista
Voice udah Cho update walaupun terlambat 1 hari, padahal Cho janji kemaren update-nya #poutgagal.
Mianhae?
Oke deh, FF Hurt, Otaku Bear, Voice udah Cho update. Selanjutnya apa ya? hahahahaha
.
Special Thanks :
.
Jongin DO (ne...), meyy-chan (yah segitu dah pokoknya.. masalalu biarlah masa lalu~~~ #plakk blm an kok), My jeje (ia ...), anira bluecat (sip sip, nado hwaiting!), cokelat (ya... Semoga aja dia percaya ^^), teukiangle (makasih ^^), vichi. vhan (ia, kan dulu publishnya sebelum ff yang sebelumnya tamat jadi buat prolognya dulu, makanya lama), ccsyaoran01 (ia), sukyu (ne), nabratz (pasti kok), yunacho90 (sabar ne, Yunpa kan emank bae sama sapa aja ^^), dheaniyuu (pasti...), Uchiha Tachi'4'Sora (bukan... Mereka bukan sodara kandung kok ^^), RereYunjae Pegaxue (nado hwaiting, masa lalu belom bisa di ceritai in disini), lee sunri hyun (hahaha, kyk na sih gt), GaemGyu92 (pasti diterima kok!), Hana - Kara (Ia tapi Cho belom ketemu Yunjae Momennya nih, nado hwaiting!), narayejea (masa lalunya chap depan kalo ga ada halangan),
readeraja (bukan, mereka bukan sodara kandung ^^sabar ya), hyuashiya (udah lama kok cerita na ^^), meirah. 1111 (masih amnesia ga? Ulang dulu sana baca na hahahahaYunpa mah ganteng diapain aja ^^), min (pasti kok), diahmiftachulningtyas (masa lalu belom terungkap hahahaha), yunjae heart (pasti kok, pasti selalu semangat! Hahahahaha makasih eonn!), danactebh (ok...), Youleebitha (nado bogoshippo~~ Amin, Cho maunya update kyk dulu hahahaha), Choi ann (sabar ya, masa lalu belom terungkap ^^), 5351 (penyakit bang mimin? diusahakan sembuh kok ^^),
Alif (hahahah, masih lanjut kok ^^), rizkyamel63 (sip sip sip ^^), momo chan (couple? Belom an ada buat bang Mimin, Cho aja nanti yang masuk castingnya hahahaha), akiramia44 (ia, pasti kok ^^ nado hwaiting), Kuminosuki (makasih ^^), joongmax (cinta Jaemma dikit demi sedikit sadar lah nanti hahaha), himeryo99 (sip deh ^^), jj (kalo lupa, baca ulang aja hehehehe), Deep'O'world (hahaha, ga bisa T^T), Avanrio11 (Reaksinya diem aja wong dia bisu... hahahaha)
.
Thanks juga untuk yang udah follow, fav dan para SiDer tentu aja
.
So? bang Mimin Cho apain ya di chap depan? #smirk
Oke deh, semoga Cho bisa update lagi secepatnya hahahahahaha
Aduuhhh... Cho pengen liad YunJae dibelakang panggung lagi deh... Mereka satu camp gak ya? satu kasur ga ya? NC an gak ya? PLAAKKK! Mianhae otak yadong Cho ne? Hhahahahahaha
See u next Chap
.
.
.
Minggu, 4 Oktober
#YunJaeIsBack2015
