We Are Family
Chapter 4
Taman bermain, memang tempat yang menyenangkan, khususnya untuk anak-anak. Orang-orang datang ke tempat ini tentunya untuk bersenang-senang. Apalagi di hari libur seperti ini. Banyak para remaja seusiaku yang datang bersama pasangan atau teman-teman. Wajah mereka tampak ceria. Sementara aku, mungkin tidak sepenuhnya untuk bersenang-senang. Nyatanya, aku ke tempat ini untuk menjaga seorang bocah.
"Sakura-chaaan… Sakura-chaaan…"
Kembali, Naruto memanggilku seraya melambaikan tangannya saat kuda yang ditumpanginya berputar melewatiku yang tengah berada di luar area permainan komidi putar. Aku tersenyum sambil balas melambaikan tangan. Entah sudah yang ke berapa kalinya Naruto terus berteriak seperti itu. Setiap putaran rasanya dia berseru padaku sambil melambaikan tangan dengan tawa yang lebar. Sebenarnya Naruto sempat memaksaku untuk ikut naik permainan, tapi aku menolak. Kepalaku sudah cukup pusing mengikuti Naruto yang sangat lincah, apalagi kalau ditambah naik komidi putar juga.
Dia benar-benar senang kuajak ke tempat ini. Aku sudah merasa lelah sekarang. Bagaimana tidak? Sejak tiga jam lalu kami datang ke tempat ini, Naruto begitu semangat menarik tanganku dan mencoba banyak permainan. Aku tidak tahu kenapa anak ini seperti tidak merasa capek sedikit pun, sementara aku… rasanya kakiku mau copot mengikutinya.
Beberapa menit kemudian ―yang bagiku terasa berjam-jam, akhirnya komidi putar berhenti juga. Orang-orang mulai turun dari kudanya masing-masing, termasuk Naruto. Dia pun segera berlari menghampiriku dengan senyum yang tidak pernah hilang dari wajahnya.
"Bagaimana? Kau senang tidak?" tanyaku.
"Iya, Sakura-chan, Naru senang banget!" serunya.
"Bagus, deh! Sekarang istirahat dulu, ya? Aku capek."
Wajah Naruto seperti menyiratkan kekecewaan, namun akhirnya dia mengangguk juga.
"Sakura-chan, Naru mau bola itu, boleh tidak?" tunjuk Naruto pada sebuah bola karet sedang di salah satu stand penjual mainan.
"Ya, sudah, ayo beli."
"Asyiiikk!" Naruto bergegas menarik tanganku ke stand tersebut. Setelah mendapatkan mainan yang diinginkannya kami pun menuju ke tempat yang tidak terlalu ramai namun tidak sepi juga. Aku mendudukkan diri di sebuah bangku kayu yang membelakangi air mancur besar lalu meneguk jus jeruk kalengku sampai habis, sementara Naruto asyik melompat-lompat sambil memainkan bola karetnya yang memantul-mantul di atas tanah.
Angin menggerak-gerakkan rambutku dengan lembut. Awan pun terlihat menggumpal seperti gulali di langit yang biru cerah. Sungguh siang yang sempurna, pas sekali untuk jalan-jalan. aku bisa melihat beberapa pasang kekasih berjalan beriringan, saling bergandengan tangan, berceloteh tentang sesuatu hal. Beberapa orang terlihat berjalan ramai-ramai bersama teman-temannya, saling tertawa dan bercanda. Aku mendesah pelan. Pandanganku kembali pada Naruto yang masih asyik sendiri. Setidaknya aku sudah membuat seseorang merasa senang.
Aku pun teringat sesuatu. Tanganku kemudian merogoh tas selempang kecil yang kuletakkan di atas bangku dan menarik selembar foto dari dalamnya.
Fotoku dan Naruto bersama seorang badut panda penghibur taman bermain.
Aku tersenyum kecil.
Wajah Naruto terlihat begitu lucu di foto itu. Dia tampak sedikit ketakutan saat memegang tangan besar sang 'panda'.
Perlahan, senyumku berubah nanar.
Sampai kapan semua ini akan berjalan?
Sejak awal, aku tidak punya pilihan. Tidak― Pilihan itu sebenarnya ada, hanya saja… entahlah. Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan. Bagaimanapun, aku hanya seorang remaja yang masih labil dan belum begitu mengerti hal-hal orang dewasa, apalagi bertanggung jawab untuk seorang anak kecil yang sebetulnya bukan saudara kandungku.
Aku tidak pernah membayangkan akan seperti apa jadinya kami nanti. Yang aku pikirkan adalah bagaimana aku bisa memenuhi kebutuhan kami berdua. Aku hanya bersyukur ada orang-orang yang begitu baik seperti Minato-nii, Jiraiya ji-san, Ayame-neesan, Nenek Chiyo yang selalu membantuku.
Kalau sekarang ada yang bertanya, apa aku masih marah pada ayah, aku tidak tahu. Dalam hati kecilku aku tidak bisa memungkiri kalau rasa marah itu masih ada, hanya saja tidak sebesar dulu. Mungkin karena sekarang aku sudah mulai terbiasa dengan keadaan ini. Dan tidak jarang pula, Naruto berkali-kali membuatku tersenyum.
Setidaknya aku tidak merasa sendirian.
Terlalu asyik tenggelam dalam pikiranku sendiri, aku sampai tidak sadar kalau Naruto sudah tidak ada di depanku. Aku terhenyak. Iris hijauku dengan cepat menyusuri sekitar, namun Naruto tidak kelihatan. Jantungku mulai berdebar lebih cepat.
Setelah memasukkan kembali foto yang tadi kupegang ke dalam tas, aku segera berdiri dan mulai mencari Naruto.
"Sial, apa yang aku lakukan?" rutukku pada diri sendiri. Pikiran burukku mulai mengarah kemana-mana. Aku tahu di tempat ramai seperti ini banyak orang jahat. Siapa yang tahu, kalau beberapa menit yang lalu, mungkin Naruto sudah dibawa seseorang.
Pikiranku sendiri membuatku semakin panik. Aku semakin mempercepat langkahku dan terus mencari. Aku juga sempat bertanya pada orang-orang yang lewat, berharap mereka melihat Naruto, namun mereka menggelengkan kepala dan tidak tahu sama sekali.
Aku terengah. Keringat mulai mengalir dari pelipisku. Aku merasa sudah mencari kemana-mana, namun aku belum juga menemukan Naruto. Aku semakin panik sekaligus cemas.
Tanpa berpikir panjang, aku meraih ponselku. Dengan jemari gemetar, aku berhasil menekan kontak seseorang. Terdengar nada panggil selama beberapa detik, sebelum kemudian suara seseorang di seberang telepon menjawab panggilanku.
"Halo, Sakura-chan?"
"H-halo, Minato-nii…" jawabku sedikit parau. Tenggorokanku terasa kering.
"Ya, ada apa, Sakura-chan? Kau… baik-baik saja?"
"M-Minato-nii… Naruto…" Entah kenapa sulit sekali untuk berbicara. Aku malah mulai berkaca-kaca.
"Naruto? Kenapa dengan Naruto-chan? Sakura-chan, apa yang terjadi?" Suara Minato-nii mulai terdengar khawatir.
Aku menelan ludah, berusaha untuk sedikit tenang dan mengumpulkan suaraku. Sekarang, sebutir air mata mulai jatuh dari mataku. "Naruto… Naruto tidak ada. Aku… sudah mencarinya… tapi dia tidak ada… Tolong… Minato-nii."
"A-apa?" Minato-nii tampak terkejut. "Sakura-chan, dengarkan aku! Kau… tenang, ya! Sekarang kau ada dimana?"
"Di… di Taman Bermain Konoha… Aku… Aku hanya mengalihkan perhatianku sebentar, tapi… tapi Naruto sudah tidak ada di sana. Minato-nii… aku takut Naruto dibawa seseorang…"
"Sakura-chan, jangan berpikir macam-macam dulu, ya? Sekarang kau tunggu di sana dan coba cari lagi Naruto-chan. Aku akan segera menyusulmu. Ingat, tetap tenang, oke!"
"Terima kasih, Minato-nii…"
Aku pun mengakhiri panggilan itu dan mulai mencari Naruto sekali lagi.
'Kumohon, Tuhan…' gumamku dalam hati seraya mengusap sebutir lagi air mata yang jatuh ke pipi. Aku tidak boleh menangis sekarang.
End of chapter 4
Yaww! Chapter 4-nya jadi juga. Karena chapter 3 kemaren yang diubah itu jadi merembet ke chapter 4 juga. Tapi kurasa yang ini lebih baik daripada konsep awal. Semoga kalian juga menikmatinya, hehe… Chapter selanjutnya bakal muncul tokoh baru dan mulai masuk ke inti masalah. Tapi mulai chapter depan bakal jadi normal POV karena bagian itu susah kalau dari Sakura POV. :D
Makasih buat yang udah baca lagi dan big thanks buat yang udah fave dan review chapter sebelumnya : heryanilinda, gui gui M.I.T, Ikhwan Namikaze, fajar jabrik, & Waraney. Review kalian berarti besar buatku! ;D
