oooooo
Perpisahan yang membuat mereka menyadari perasaan masing - masing.
Sejak awal mereka sudah terikat takdir yang akan membuat mereka berjalan bersama.
oooooo
"Ternyata benar kau berada disini" Yeri berjalan kearah pagar yang memiliki bentuk jaring - jaring yang mengelilingi atas sekolah mereka. Mendekati sosok yang dicarinya.
"Kau belum memberitahu mereka Mark" Tanya Yeri yang sudah berada disamping pria itu.
"Belum"
Pantas saja teman senior Mark datang menghampirinya, mereka bertanya apa mereka bertengkar karena sikap Mark yang akhir - akhir ini terlihat berbeda.
Flashback
"Aku hanya ingin menemuimu dan melihat wajahmu. Karena nanti dan seterusnya, hubungan kita akan sangat berbeda"
"Sejak awal aku tahu bahwa akhirnya akan seperti ini. Kadang aku selalu bertanya pada diriku sendiri, kenapa aku masih bertahan disisimu meskipun aku tahu hatimu sudah termiliki orang lain" Yeri tersenyum pada Mark yang duduk disampingnya.
Lapangan basket yang biasanya sangat ramai kini terlihat sangat sepi, menyisakan sepasang kekasih yang duduk berdampingan disalah satu bangku penonton.
"Di dunia ini ada banyak hal yang tidak bisa ku miliki, Meski dia sekarang ada disampingku. Seseorang pernah berkata padaku memaksakan kehendak bukanlah cara yang tepat untuk memperoleh kebahagiaan"
Mark hanya terdiam mendengar ucapan Yeri, dia seakan tahu kemana arah pembicaraan kekasihnya. Sejak seminggu kepergian Haechan, hubungan nya dengan Yeri tidak berjalan terlalu baik.
Meskipun Mark masih sering menjemputnya atau Yeri yang kadang menghampiri Mark saat latihan basket tapi mereka menyadari ada banyak perubahan dalam hubungan mereka. Dan mereka sama - sama tahu penyebab renggang nya hubungan mereka.
"Kenyataan memang kadang tidak sesuai dengan harapan. Aku akan melepasmu disini. Mark ayo kita akhiri hubungan kita." mata Yeri melirik sebuah benda yang melingkar di pergelangan taangan Mark, benda yang cukup mencuri perhatianya.
Sebuah gelang berwarna perak.
Yang akhir - akhir ini menghiasi pergelangan tangan milik Mark. Yeri tahu kekasihnya itu tidak terlalu menyukai memakai hal - hal seperti itu bahkan selama berpacaran dengan Mark, dia tidak pernah melihat Mark memakai sebuah jam tangan.
Tapi melihat bagaimana gelang itu tak pernah lepas dari lengan Mark, membuatnya akan langsung tahu siapa orang yang memberikan barang itu pada Mark.
"Pergilah jangan pernah menoleh kebelakang. Biarkan aku melihat punggungmu menjauh, Sebab jika kau menoleh kau memberiharapan padaku untukmemilikimu"
Meskipun tersenyum. Mark tau mata itu memancarkan sebuah kesakitan dan kekecewaan dan terbukti dengan air mata yang lolos dari matanya. Kali ini dia tidak akan merengkuh tubuh gadis itu atau hanya sekedar memeluk dan menenangkannya. Dia tidak ingin memberikan sebuah harapan palsu pada Yeri.
"Maapkan aku" balas Mark. Karena keterlambatan dirinya yang menyadari perasaan pada Haechan, membuat Mark menyakiti gadis itu.
Mark selalu ingin bertanya, Bagaimana takdir mengambil andil dalam kisah manusia. Siapa sangka Orang yang selalu bertengkar dengannya, mengumpat padanya dan tak segan - segan memukul nya merupakan orang yang hatinya pilih sebagai pemiliknya.
"Aku harap kelak kau akan menemukan orang yang benar- benar menyukaimu dan benar - benar kau sukai." Mark mengacak rambut milik Yeri sebelum meninggalkannya sendiri.
Sesuai permintaan gadis itu. Dia tidak akan menoleh kebelakang meskipun suara tangisan mulai terdengar oleh pendengarannya, ini semua demi kebaikan mereka berdua.
Flashback End
"Apa kau sudah menghubungi nya"
Mark menggelengkan kepalanya sebagai sebuah jawaban untuk Yeri.
"Kenapa? Mungkin saja dia sedang menunggumu?"
"Mengingat aku satu - satunya orang yang tidak tahu tentang rencana kepergiannya dan menjadi orang yang tidak pernah dia hubungi setelah pergi. Aku bingung apa yang harus aku katakan ketika menghubungi nya"
Jika saat itu ibunya marah karena dia tidak datang mengantarkan kepergian Haechan maka dia juga berhak marah pada semua orang yang tidak memberitahu Mark tentang rencana dari Haechan.
Kenapa mereka semua tahu kecuali dirinya? Apa anak itu sebegitu benci padanya sehingga enggan memberitahunya?
Kemarahannya kali ini bukan bentuk pembelaan diri seperti yang sering Mark lakukan ketika Ibunya selalu membela Haechan
Melainkan sebagai bentuk kekecewaan yang sedang di alaminya.
Berhari - hari dan berminggu - minggu sudah terlewat. Dan puncak kemarahan Mark adalah saat dia tahu bahwa Haechan selalu melakukan video call dengan teman - temannya dan juga keluarganya tapi tak pernah sekalipun anak itu menghubungi nya. Mark ingat betul pesan terakhir yang Haechan kirim padanya adalah pada saat dia meninggalkan korea dan itu sudah satu bulan yang lalu.
Seperti bunga saat musim semi yang terjatuh dan berguguran karena angin. Mereka tidak pernah menyalahkan angin yang berhembus, mereka hanya mengikuti kemana angin akan membawa mereka.
Sama seperti kondisi Mark saat ini. Dia tidak mempunyai alasan untuk menyalahkan anak itu, Sejak awal ini yang diinginkan oleh Haechan.
Aku jatuh cinta padanya. Tapi aku akan tetap membiarkannya tertutup. Sampai kami bertemu kembali.
~ Friend? ~
"Aku sangat iri dengan Haechan" adu Yeri.
Meski hubungannya dengan Yeri telah berakhir cukup lama tapi Mark masih bisa mendengar nada kecewa disetiap perkataan yang Yeri ucapkan.
"Dia bahkan tidak menyadari ada seseorang yang begitu mennyukainya. Jika orang tua kalian tidak berteman, mungkin saja hubungan kita tidak akan berakhir seperti ini" lanjutnya. Yeri sempat mengingat kembali percakapannya dengan Haechan.
"Meskipun orang tua kami tidak berteman, aku masih bisa bertemu dengan Haechan. Mungkin saat Haechan pertama kali masuk sekolah ini, Secara kebetulan aku memimpin kelompoknya jadi kami bertemu. Atau saat di jalan raya. Aku dengan tidak sengaja menabrak nya, jadi secara tidak beruntung aku tahu Haechan. Atau ketika disebuah bioskop. Dia yang duduk disebelahku dan Haechan yang menggenggam erat tangan ku karena takut menonton film horor yang sedang dia tonton. Kita hidup di bawah langit yg sama, jadi apapun bisa saja terjadi. Kami pasti tetap akan bertemu, karena aku yang akan menemukannya"
Angin disiang hari berhembus cukup kencang menerbangkan rambut panjang yang digerainya bersamaan dengan Mark yang mengakhiri ucapannya. Yeri melihat wajah tegas Mark dari samping, mata pria itu masih menerawang kedepan.
Yeri tidak tahu apa yang dilihat oleh Mark. Apa pria itu melihat sebuah pohon yang berada di depan sana, mungkin juga Mark melihat beberapa bangunan yang terlihat jelas di atas sini. Atau bisa saja sebenarnya Mark sedang berbicara pada seseorang yang jauh disana.
Mark
Apa jika aku berada diposisi Haechan perasaanmu akan sama atau karena itu seorang Lee Haechan sehingga membuatmu memiliki perasaan seperti itu.
Selama mereka berpacaran dia selalu berpura - pura tidak melihat bagaimana perasaan Mark pada Haechan. Tapi kali ini berbeda. Yeri tidak akan berpura - pura lagi Ketika didepannya, Mark dengan secara jujur berbicara bahwa dirinya menyukai Haechan.
"Ayo kita turun" ajak Yeri yang sudah memegang gagang pintu atap sekolah, dia masih terdiam menunggu Mark berbalik menghadap padanya.
"Apa para hyung yang menyuruhmu menemuiku" Mark sedikit mengerutkan dahinya.
"Kau harus mentraktirku makan siang karena teman - temanmu mengacaukan kegiatan makan siangku"
Mark tertawa ringan mendengar penuturan Yeri.
"Aku akan memberitahu para hyung tentang hubungan kita, jadi mereka tidak akan merepotkanmu"
Dia bisa membayangkan bagaimana Jaehyun hyung membawa Yeri atau bagaimana Doyoung hyung mengajukan berbagai pertanyaannya pada gadis ini dan tatapan serius Jhonny hyung yang mengamati mereka.
*
*
*
*
*
"Sudah beberapa minggu Mark berangkat dan pulang sendiri tanpa Yeri, aku tidak tahu bagaimana hubungan mereka. Tapi tadi aku melihat dia berjalan bersama Yeri" tukas Jeno
"Apa dia baik - baik saja" pertanyaan bodoh yang meluncur dari Haechan
Jeno menatap malas layar datar laptop didepannya yang sedang menampilkan wajah sahabatnya.
"Tentu saja dia baik - baik saja. Apa kau berpikir Mark akan menjadi terpuruk hanya karena kau pergi meninggalkannya"
"Heyy kenapa kau jadi marah seperti itu. Aku hanya bertanya"
Haechan tentu tidak terima saat Jeno meninggikan suaranya ketika berbicara pada Haechan.
Siapa yang tidak akan marah jika setiap malam dia akan mendapat kan panggilan video call dari Haechan hanya untuk mendengar pertanyaan sahabatnya yang selalu sama bagai sebuah kaset yang diputar berulang - ulang.
Bagaimana keadaan Mark?
Pertanyaan simpel yang selalu Haechan tanyakan padanya, awalnya dia akan menjawab sembari tersenyum dan mengatakan bahwa Mark baik - baik saja. Setiap dia bertanya tentang Mark maka Jeno akan memberikan jawaban yang sama dan jawaban itu membuat Haechan sempat marah padanya.
"Kenapa kau selalu memberikan jawaban yang sama, setidaknya beritahu aku apa yang Mark lakukan hari ini"
"Salahmu sendiri selalu bertanya hal yang sama. Apa kau pikir aku baby sister Mark yang tahu semua kegiatan yang Mark lakukan"
"Mengapa juga kau tidak langsung menanyakan sendiri pada orangnya" ucap Jeno
"Mark apa yang kau lakukan?, kenapa kau tidak menghubungi ku" Jeno sengaja menirukan suara dan ekspresi wajah sahabatnya.
"Sialan kau"
Jika saja mereka sedang bersama ingin sekali Haechan menyiram wajah sahabat bodohnya dengan air minum yang ada disebelah nya.
Sejak pertengkaran itu. Disetiap percakapan yang mereka lakukan, Jeno akan secara tidak sadar membicarakan tentang Mark. Meskipun dia jarang bertemu dengan Mark.
"Kau memang menyukainya dan jangan pernah berpikir untuk menyangkalnya!!"
Haechan menatap jengah wajah serius Lee Jeno.
"Oh My God. Hanya karena aku selalu menanyakan keadaannya dan aku bilang merindukan Mark belum tentu aku menyukainya" protes Haechan, tangannya mengusap rambut coklatnya prustasi.
"Ya terus saja menyangkal perasaanmu" balas Jeno malas
Haechan sungguh tidak terima dengan respon Jeno yang seakan tidak mempercayainya.
"Aku tidak menyukainya. Kau bahkan sudah tahu itu. Aku tidak pernah iri dengan kedekatan Mark dan Yeri, hatiku juga tidak sakit saat mendengar bahwa mereka berpacaran. Aku tidak menyukainya"
Tidak. Dia tidak akan mempercayai ucapan temannya. Mana mungkin dia menyukai Mark yang notabene sudah memiliki kekasih.
"Dan fakta yang harus kau ingat Lee Jeno. Aku dan Mark saling membenci"
"Apa Mark pernah berkata bahwa dia membencimu? Atau kau pernah bilang pada Mark bahwa kau membencinya?" Tanya Jeno. Haechan hanya menggelengkan kepalanya membuat Jeno semakin geram.
"Lalu kenapa kau selalu bilang kalian saling membenci?"
"Ayolah Jeno, kau orang yang paling tahu dengan kenyataan bahwa tidak ada 1 hari pun dimana aku dan Mark tidak bertengkar. Kami bahkan saling mengumpat satu sama lain"
Jeno mengusap wajahya kasar. Tolonglah, dia tidak ingin membanting laptop miliknya karena jawaban konyol Haechan.
"Aku menyerah. Kau terlalu bebal dan bodoh makanya tidak bisa menyadari perasaanmu sendiri"
Haechan menatap horror Jeno, terkejut dengan apa yang baru saja diucapkan temannya. Bebal dan Bodoh katanya.
Awas saja kalau dia kembali kekorea. Sudah dia pastikan wajah tampan temannya itu habis ditangannya.
"Dan orang yang saling membenci tidak mungkin berciuman dibawah satu payung saat hujan deras"
Haechan tersedak oleh ramen yang sedang dimakannya, sial hidung dan tenggorokannya terasa sangat perih sampai kedua matanya berair.
Dia berlari menuju dapur yang tak jauh dari tempatnya duduk. Meneguk segelas air dengan cepat. Dia bisa mendengar suara tawa Jeno yang menertawakan nya.
Dari mana Jeno tahu kejadian itu?
Haechan kembali duduk dengan sebuah botol kecil air mineral yang ada di tangannya. Matanya sekarang menatap Jeno penuh selidik.
"Apa?? Jangan menatapku seperti itu. Apa kau pikir aku tidak tahu"
~ Friend? ~
"Apa kau tidak merasa bersalah pada Mark?" Tanya Jeno
Melihat sikap Mark yang cukup berubah akhir - akhir ini membuat otak cerdas Jeno berpikir bahwa sahabatnya merupakan salah satu alasan dari perubahan sikap Mark.
"Tidak sama sekali"
Jeno tidak menemukan sebuah kebohongan dari mata Haechan ketika menjawab pertanyaannya.
"Kalau begitu, dengarkan aku baik - baik Lee Haechan. Saat kau pulang ke Korea nanti mungkin Mark sudah ada di Canada"
"Apa maksudmu? Jangan bercanda Lee Jeno, kau tahu itu dari siapa? bahkan ketika aku menghubungi ibu Mark. Bibi tidak mengatakan apapun padaku" sangkal Haechan.
Dia berharap setelah itu sahabatnya akan tertawa terbahak - bahak dan mengatakan padanya bahwa semua ucapannya itu hanya lelucon. Tapi kenapa wajah Jeno jadi semakin serius seperti ini.
"Aku sempat mendengar percakapan Mark dengan teman - temannya. Mungkin dia akan memberitahukan padamu saat Mark sudah berada dibandara, bukankah itu juga yang kau lakukan pada Mark"
Bayangan ketika dia pulang Mark sudah pergi meninggalkan nya. Seketika uluh hatinya terasa tercubit, Omongan Jeno seakan menamparnya.
"Kenapa kau terdiam?" Tanya Jeno
"Apa yang sekarang kau rasakan Haechan. Apa kau merasa sakit pada hatimu? Apa kau tidak ingin Mark meninggalkanmu? atau kau ingin marah jika Mark benar - benar pergi tanpa memberitahumu?"
YA YA YA ..
Ingin sekali dia berteriak menjawab semua pertanyaan yang sahabatnya lontarkan padanya. Tapi suaranya seakan menghilang entah kemana.
"Mungkin itu juga perasaan yang Mark rasakan saat kau pergi meninggalkannya"
Deg
Jantung Haechan berdetak sangat kencang, dia terdiam menahan rasa sakit yang entah kenapa muncul saat mendengar ucapan dari Jeno.
Mungkinkah?
Apa benar itu yang Mark rasakan saat dia pergi?
Apa Mark marah padanya?
Apa itu juga alasan kenapa Mark tidak pernah menghubunginya?
"Gelang berwarna perak, apa itu hadiah darimu"
"Ya aku memberikannya sebagai hadiah atas kemenangannya, dari mana kau mengetahui itu"
"Karena Mark selalu memakai nya"
Apa pun yang kau katakan, bagaimanapun kau menolaknya, cinta akan tetap berada disana, menunggumu mengakui keberadaannya
*
*
*
*
*
Jangan menangis! Sekarang aku akan mengatakan isi hatiku yang sebenarnya, Haechan, aku menyukaimu. Kau dengar tidak? Aku menyukaimu. Tapi sepertinya aku akan pergi. Haechan, aku sangat menyukaimu. Tapi aku benar-benar harus pergi.
Waktu tidak menunggu orang. Dan Waktu kita Selalu salah.
Sepertinya banyak hal yang sudah tak sempat lagi. Seperti sekarang, aku tidak sempat lagi mengatakan padamu kalau aku menyukaimu. Aku tidak sempat melihat ekspresimu saat mendengar pengakuanku.
Aku harap kelak kau akan menemukan orang yang benar-benar kau sukai. Tapi bila saat itu tiba, jangan perlakukan dia seperti kau perlakukan aku.
Kau harus mengubah sikapmu. Jangan terlalu galak. Kurangi kalimat umpatanmu, jangan pernah memukulnya. Jika tidak, mana mungkin ada yang mau denganmu. Tapi apa kau tahu? Aku menyukai sifatmu itu. Haechan ah, selamat tinggal.
Mark Lee
Haechan meremas surat yang ada di atas tempat tidurnya, kenapa jadi seperti ini ?
Apa ini sambutan yang Mark berikan atas kepulangannya? Dia tidak mau seperti ini? Kepulangannya ke Korea dengan tujuan untuk bertemu dengan Mark.
Dia berjanji akan bersikap sopan pada Mark? Dia tidak akan berkata kasar, dia tidak akan memukulnya. Ayolah Haechan akan menjadi anak yang baik asal Mark tidak meninggalkan nya.
"Semua sudah terlambat?" Ucap Jeno "Jika saja waktu itu kau pergi secara baik - baik. Maka semuanya tidak mungkin berakhir seperti ini, setidaknya kau dan Mark masih bisa bertemu meskipun kalian akan saling bertengkar satu sama lain"
"Orang yang selama 17 tahun menemanimu, menyaksikan bagaimana kau terlahir, merayakan tahun pertama ulang tahunmu, orang yang mengulurkan tangannya saat kau terjatuh, dia yang selalu menggendongmu saat kau menangis. Apa kau melupakan semua yang Mark lakukan untukmu saat kalian masih kecil dulu ... "
Hentikan .. aku mohon hentikan Lee Jeno.
Haechan menutup kedua telinganya, berharap dengan begitu dia tidak akan mendengar kembali ucapa sahabatnya itu.
"Dan orang itu sudah pergi Haechan. Orang yang kau sayangi telah pergi meninggalkanmu. Sama seperti yang kau lakukan padanya"
Tidak .. Tidak mungkin Mark meninggalkannya seperti ini
Haechan terus menggelengkan kepalanya, menyangkal semua ucapan sahabatnya.
~ Friend?~
Bola Matanya yang masih tertutup, bergerak dengan resah. Keningnya terus mengerut dengan keringat yang mulai mengucur dari dahi miliknya.
"Mark hyung" teriak Haechan saat kedua matanya terbuka. Napasnya masih tidak beraturan, tubuhnya pun terasa basah oleh keringat. Mimpi buruk yang sempat dialaminya, membuat Haechan menangis secara tiba - tiba.
Hanya karena mimpi perasaan nya jadi sangat kacau, kali ini dia sangat membutuhkan Mark dan kali ini dia tidak akan menyangkalnya lagi. Dia tidak peduli dengan kenyataan Mark sudah mempunyai kekasih.
Dia menyukai Mark. Dia begitu merindukan Mark. Dia ingin mendengar suara Mark.
Haechan segera menyambar ponsel yang ada di meja dekat ranjangnya ketika suara panggilan masuk beberapa kali terdengar. Dia langsung menjawab panggilan itu tanpa tahu siapa yang menghubungi nya.
"Halo .. kau belum tidur Haechan?"
Bukannya menjawab, Haechan malah menangis sejadi - jadinya. Kenapa Mark selalu ada saat dia membutuhkan sosok itu.
"Ada apa? Kenapa kau menangis? Apa kau mimpi buruk?"
"Aku merindukanmu Mark"
Suara lirih Haechan terdengar kurang jelas karena dia masih terus menangis ketika mengucapkan kalimat itu.
"Cepatlah kembali, aku akan menunggu kepulanganmu" Aku juga merindukanmu
ooooo
TBC
#4 : Friend? 08 Oktober 2017
Semoga kalian suka.
Jangan lupa berkunjung ke FF HIGHSCHOOL RAPPER yang baru update lagi
Selamat Membaca Jangan lupa komen pendapat kalian
