Ini fic pertamaku, apabila ada kesalahan mohon bantuannya^^ (bungkuk-bungkuk badan)

Terima kasih banyak yang udah me-review

Semoga fic saya dapat menghibur kalian

Summary : Karin 7 tahun pernah bertemu dengan seorang anak laki-laki di mercusuar pantai kota Karakura dan mereka berjanji untuk bertemu kembali. Namun ketika bertahun-tahun menunggu, di tahun ke-6 penungguannya terjadi insiden kecelakaan (tabrak lari) sewaktu Karin pulang dari penungguannya di mercusuar. Kejadian itu membuatnya amnesia. Di umur yang ke-16, Karin bertemu dengan seorang laki-laki yang mengingatkannya akan kejadian 9 tahun silam. Apakah laki-laki itu laki-laki yang sama yang ditunggunya?

Genre : Hurt/Comfrot/Romance

Rated : T (aku ga begitu ngerti dengan ini, ada yang bisa menjelaskan?)

Pairing : HitsuXKarinXOC

Warning : Karena pemula mungkin banyak kesalahan dalam penulisan, mohon di maklumi (puppy eyes)

Disclaimer Tite Kubo-Sensei

'Burung biru kembali melintasi waktu membawa sesuatu yang hilang kembali ke tuannya'

Chapter 4

(Scar of Time)

~Toushiro's POV~

Toushiro menyalahkan lampu kamar yang belakangan sering ia kunjungi. Ruangan itu kini tampak terang. Tempat tidur dengan coverbad biru es tebal membuat kamar itu terkesan hangat. Jendelanya tampak sudah lama tidak dibuka ditandai dengan engselnya yang tampak begitu kaku berkarat, di samping tempat tidur terdapat meja belajar yang diatasnya terdapat foto sepasang anak laki-laki. Toushiro memandangi foto itu. Salah satu dari meraka tampak tersenyum dengan lebar dengan syal biru muda bermotif salju putih dilehernya dan yang satunya lagi hanya terdiam tanpa ekspresi dengan menggunakan syal putih bermotif salju biru muda pada ujungnya.

Kemudia mata emerald Toushiro beralih kesebuah kanvas tertutup kain putih yang terletak didepan jendela kamar itu, dia langkahkan kakinya kesana dan melepas kain putih halus itu dari tempatnya. Sesosok perempuan 7 tahun tampak tersenyum lebar sambil memegang bola dipinggangnya, mata perempuan itu sehitam rambutnya yang pendek hanya sebahu, perempuan itu adalah Karin 7 tahun.

Setelah puas melihat lukisan itu, Toushiro beralih ke meja dimana foto sepasang anak laki-laki tadi berada, dibukanya laci meja itu, tampak buku harian ukuran sedang berwarna putih dengan gambar bulu bluebird ditengahnya. Dengan cepat buku itu segera berpindah dari tempatnya ke tangan kecil Toushiro. Buku itu yang menyebabkan salah satu laki-laki di foto tadi meninggal atau lebih tepatnya Toushiro lah yang menyebabkannya meninggal..Batin Toushiro.

-Toushiro, 7 Years old-

Aku berusaha mencari yuki-kun dengan perasaan yang marah sambil membawa buku putih bergambar bulu bluebird yang masih tertutup rapi, aku tidak tertarik untuk memilikinya sedikitpun walaupun itu dari kembaranku sendiri. Aku bahkan tidak suka jika dia berbuat baik padaku'

Itu semua karena perhatian ayah yang berlebihan padanya. Ya itu memang menurutku atau mungkin karena aku begitu iri mengetahui dia lebih pandai dalam melukis di bandingkan aku. Ayah selalu memujinya membangga-banggakannya bahwa ia akan menjadi penerus ayah. sebagai pelukis terkenal. Sedangkan aku ditinggal sendiri, ya selalu sendiri.

Kasih sayang ibu tidaklah cukup untukku tanpa pengertian seorang ayah yang mengakuai keberadaan anaknya. Ditambah lagi sekarang ibu sudah pergi menjauh tak dapat terjangkau lagi.

Hari ini ulang tahun kami, ayah pergi keluar negeri untuk menghadiri pameran kenalannya sehingga tidak dapat merayakannya dengan kami. Ya untukku itu bukanlah masalah besar, karena aku memang tidak tertarik untuk merayakannya.

Yukimaru adalah kembaranku, sekilas kami memang tampak sama, tapi didalam lubuk hati kami yang terdalam kami berbeda. Hari ini dia memberikan sebuah buku putih kesayanggannya padaku sebagai hadiah.

…...

Aku menemukannya sedang berdiri disebuah mercusuar, matanya menatap kearah langit yang terbentang luas, mungkin dia jenuh dengan kegiatannya setiap hari untuk private melukis, tentu saja dengan guru yang didatangkan ayah dari luar jepang.

Sejak menyadari talenta yuki-kun yang berlebih, ayah selalu memperlakukan dia secara istimewa, iu memang menurutku, tapi aku yakin yuki-kun juga menyadari perhatian ayah yang berlebih tersebut padanya.

Aku telah sampai didekatnya…tepatnya dibelakang punggungnya..

"Aku tidak butuh buku ini, silahkan kau ambil kembali" Bentakku padanya sambil menyodorkan buku putih tersebut kepadanya

"Kenapa?" Tanyanya padaku

"Aku tidak berminat"

"Itu buku kesayanganku dan aku ingin kau memilikinya, karena aku lebih sayang padamu" dia tersenyum padaku.

Aku sudah muak padanya, kenapa dia selalu baik padaku padahal aku selalu membalasnya dengan perkataanku yang kasar.

Karena kesal ku lempar buku putih itu kearah laut, Yuki-kun ikut melompat ke laut menyusul buku itu. Aku kaget dan terdiam beberapa detik. Dengan cepat aku berusaha menuruni tangga mercusuar tersebut untuk turun menyelamatkannya. Aku berenang dengan cepat menujunya, ku temukan tubuhnya sudah lemas dengan buku putih sialan itu berada didadanya dengan tangannya yang berusaha mendekap buku itu. Aku berusaha membawa dia kepermukaan. Aku menangis melihat keadaannya yang begitu lemah, darah segar kelaur dari belakang kepalanya, kini rambutnya yang seputih salju berubah menjadi merah padam. Nampaknya sewaktu terjun menyusul buku sialan itu kepalanya menerjang karang.

"Shiro-kun, gomenasai"

"Diam Yuki-kun, aku akan segera membawamu pulang dan kau akan segera baik-baik saja"

"Gomen, aku tidak bisa menemanimu lagi" sedetik kemudian dia tidak bernafas lagi namun tetap berusaha tersenyum padaku

Sore itu langit tampak gelap, segelap hatiku yang semakin kesepian

Ayah segera pulang ke Jepang dan kembali ke rumah. Aku tampak depresi berat akibat kejadian itu. Beliau memutuskan untuk membawaku tinggal di luar Jepang bersamanya, meninggalkan Jepang yang penuh kenangan pahit dan meninggalkan buku putih bergambar bulu bluebird itu yang merupakan saksi kematian yuki-kun tanpa sempat membukanya.

-End Flash Back-

Ku buka buku putih bergambar bulu bluebird ditengahnya ini, tadinya aku tidak ingin menyentuhnya apalagi membukanya karena akan mengingatkanku pada rasa pahitnya ditinggal seseorang yang kita sayangi. Tapi aku juga tidak tahan melihat Karin yang selalu tampak sedih jika membicarakan Yuki-kun. Sebenarnya apa hubungan diantara mereka?

Aku menarik nafas panjang, perlahan ku buka buku yang sekarang ada ditanganku ini. Tulisan yang kukenal menghiasi lembaran pertama buku kenanganku bersama kembaranku ini….

To : My Lovely Twin

"Ne..shiro-kun Otanjoubi Omedeto….

Aku juga ingin mendengar kata yang sama dari mulutmu…aku berharap

Aku tahu kau mungkin tidak ingin mendengarku berkata banyak padamu, jadi semua yang ingin kukatakan padamu aku tulis dalam buku ini. Semoga kau mengerti..

Ne shiro-kun..

Ku harap kau suka dengan buku ini seperti perasaan sukaku pada buku ini.

Buku ini amat berharga untukku, tapi akan kuberikan buku ini untukmu karena kau jauh lebih berharga dari buku ini.

Kau pasti bertanya, kenapa buku ini berharga untukku kan?

Ya, karena buku ini adalah buku yang dulu kita perebutkan, buku sketsa dari ibu dan kau merelakannya hanya untukku. Aku sangat senang saat itu. Dan berjanji akan menjaga buku yang kita perebutkan ini.

Namun, buku inilah yang menyebabkan ayah berubah perhatian padaku, karena melihat lukisanku dibuku putih ini, pastinya kau sudah tahu. Jadi tolonglah kau simpan buku ini untukku, aku tidak mau buku putih ini lagi, aku hanya mau dirimu kembali.

Andai waktu dapat berputar dan kembali kemasa kecil kita dulu, akan ku relakan buku ini untukmu, agar kau tidak seperti sekarang bagai musim dingin yang tak merindukan musim semi.

Aku sangat sedih melihatmu selalu tampak murung dari balik jendela kamarku, aku mengerti perasaanmu. Kau kira aku senang dengan perhatian ayah yang berlebih padaku? Aku sangat tersiksa, aku sangat tersiksa karena itu membuatmu sedih.

Aku seperti burung didalam sangkar, terpenjara dan ingin bebas terbang. Tapi aku juga tidak dapat membuat ayah sedih karena menghancurkan harapannya.

Aku harap kau mengerti.

Aku tahu kau pasti marah sekali padaku, itupun tidak apa-apa yang terpenting aku akan tetap menyayangimu.

Ne shiro-kun apa yang harus aku perbuat? Aku bingung…apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu tertawa seperti dulu?

Aku selalu memohon pada Aoi tori-kun untuk menyampaikan pesanku pada Tuhan, aku ingin kau tertawa. Tertawa saat kita selalu bersama dulu.

Hee shiro-kun aku ada cerita untukmu.

Sudah beberapa bulan belakangan ini aku memperhatikan seorang anak perempuan dari balik jendela kamarku. Dia mempunyai mata dan rambut yang begitu hitam, tapi aku yakin hatinya tak sehitam matanya.

Perempuan itu selalu tertawa riang dan dia nampaknya suka sekali bermain bola. Setiap hari aku memperhatikan dia bermain dari balik jendela kamarku ini dan selama aku memperhatikan dia selama itu pula dia tertawa bersama teman-temannya.

Aku ingin sekali kau bisa tertawa seperti dia.

Kemarin di mercusuar aku tidak sengaja bertemu dengannya, nampaknya dia habis bermain bola seperti biasanya, dia bilang ingin berteduh ditempat itu. Bajunya tampak basah akibat salju yang meleleh, entah kenapa aku sangat senang memberikan syal pemberian ibu padanya. Kau mungkin akan marah padaku karena syal yang kita janji akan jaga bersama aku berikan padanya.

Oh ya, aku bernyanyi disana, apakah kau masih ingat lagu Aoi tori yang dulu ibu ajarkan pada kita? dia tampaknya senang dengan lagu itu, dia mendengarkanku bernyanyi sambil memejamkan matanya.

Dan

Kami berjanji akan bertemu lagi ditempat itu.

Ya, kami berjanji

Oh ya, Kau ingin tahu apa yang kulakukan ditempat itu?

Disana aku berdoa agar kau…

Tulisan terakhir dibuku ini membuat mataku sedikit berair. Sudah lama aku tidak menangis, karena hatiku tak dapat menangis.

"arigatou yuki-kun" desahku pelan.

Ku buka lagi buku itu, ku temukan sebuah sketsa lukisan kami bertiga. Yuki-kun di samping kiri, Karin-chan di tengah dan aku disamping kanan sedang tertawa bersama.

~End Toushiro's POV~

Seorang laki-laki berambut putih salju dan bermata emerald nampak sedang memperhatikan langit yang terbentang luas di atas kepalanya. Tangan kecilnya melingkarkan sebuah syal putih bermotif salju biru yang sudah lama tidak laki-laki itu pakai lagi. Setelah syal itu terpasang manis dilehernya. Kedua tangannya, ia tenggelamkan dalam saku jaket biru tua yang ia gunakan. Sepasang sepatu kets putih tampak mulai bergerak menjauhi tempat yang manusia bilang sebagai rumah itu.

~Hinamori's POV~

Tidak sengaja aku melihat Shiro-chan akan pergi ke suatu tempat. Mukanya tampak sedang memikirkan sesuatu. Aku ingin tahu, ingin tahu apa yang dia pikirkan? Apakah tentang Karin?

Aku sadar, akhir – akhir ini dia tampak berubah. Dia yang biasanya tidak suka berbicara banyak pada orang lain, sekarang berbicara banyak pada orang lain, ya orang lain itu adalah Karin.

Padahal untuk berusaha mengobrol dengannya saja, aku sangat berusaha keras mendekatinya dulu di Eropa, aku bahkan meminta bantuan ayah agar satu guru private dengan guru melukisnya agar aku bisa dekat dengannya. Memang susah awalnya mengajaknya bicara, namun perlahan-demi perlahan karena perhatian yang ku berikan padanya, nampaknya dia mulai bisa berbicara padaku. Aku semakin bersemangat untuk mendekatinya, karena ku sadar aku suka padanya.

Keputusan ayah untuk memindahkan sekolahku ke Jepang, sempat ku tentang dengan keras. Ya ku tentang dengan keras, karena aku tidak ingin berpisah dengannya.

Aku pernah menangis dipundaknya, ku ceritakan rencana ayah yang akan memindahkanku ke Jepang padanya. Mendengar dia juga akan pindah ke jepang enam bulan ke depan, (ya mungkin untuk menyusulku), aku sangat senang dan mulai timbul perasaan harapan bahwa cintaku akan terbalas olehnya, Shiro-chan.

Tanpa ragu-ragu akau mengikutinya dari belakang. Jalanan tampak sepi, ya mungkin karena ini sudah sore. Langkah kakiku berhenti ketika melihat Shiro-chan memasuki sebuah pemakaman, Pemakaman kota Karakuara. Dia melangkahkan kakinya menuruni sebuah tangga dimana terdapat ribuan batu nisan tersusun dengan rapi. Aku hanya memperhatikannya dari atas tangga sini, berusaha agar dia tidak menyadari kehadiranku.

Di baris ke tiga dan nisan ke dua dari ujung dia berhenti, terdengar kata-kata dari mulutnya ditelingaku…

" Ne..Yuki-kun bagaimana kabarmu? Maaf aku baru datang menjengukku, padahal sudah hampir satu minggu aku pulang ke Jepang….. Kau pasti marah padaku….. Oh ya, aku sudah membaca tulisanmu yang ada didalam buku putih pemberianmu dulu….. Tadinya aku tidak mau memegangnya lagi karena akan mengingatkan ku padamu. Tapi entah kenapa dorongan yang kuat hadir didalam hatiku untuk memegang dan membuka buku itu. Ya dorongan yang kuat dari perempuan bernama Kurosaki Karin"

Mendengar nama Karin disebut-sebut oleh laki-laki yang ku sukai itu membuat hatiku berdetak kencang, panas rasanya karena laki-laki yang sudah ada dalam pikiranku selama ini ternyata memikirkan orang lain, selain aku. Lagipula siapa itu Yuki?, Shiro-chan tidak pernah bercerita tentang dia padaku. Apa sebenarnya hubungan mereka dengan Karin. Otakku dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan itu sedangkan perasaanku mulai tak menentu.

Aku melanjutkan kegiatanku menguping pembicaraan seorang laki-laki yang aku sukai itu dengan batu nisan yang disebutnya dengan panggilan Yuki.

"Sepertinya perempuan yang kau perhatikan dulu adalah perempuan yang sama yang sekarang sedang menggangu pikiranku. Perempuan yang pernah memperoleh ucapan janji darimu itu nampaknya sedang berusaha mencarimu…ya mencarimu, untuk menagih janjimu padanya, janji untuk bertemu denganmu…. Aku bingung Yuki-kun, apakah aku harus jujur padanya bahwa akulah yang menyebabkan dia tidak dapat lagi menagih janjinya padamu? Bahwa akulah yang menyebabkanmu meninggal? Wahai kembaranku….."

Mataku langsung membulat penuh, tak yakin dengan hasil pendengaranku. Ternyata Shiro-chan selama ini mempunyai kembaran, kembaran yang pernah bertemu dengan Karin-chan dan dia tidak pernah menceritakannya padaku. Padahal aku mengirah akulah orang yang terdekat dengannya.

Laki-laki yang sedari tadi ku ikuti tersebut, nampak menghelah nafasya yang tersa berat.

"…..Hmm…Aku takut, aku takut dia akan membenciku, jika aku jujur padanya Yuki-kun?"

Setelah mengucapkan kata itu, shiro-chan tampak tertunduk merenungi sesuatu yang aku tidak tahu. Lama sekali dia tertunduk hingga hari hampir malam..aku mulai bosan menungguinya ditambah lagi rasa sakit yang kini menggores hatiku mengetahui orang yang kusukai selama ini ternyata sangat ketakutan dibenci oleh perempuan selain aku, Momo Hinamori.

Setelah mengucapkan selamat tinggal, laki-laki yang ku ikuti sedari sore tadi itu meninggalkan pemakaman. Sebelum Shiro-chan menaiki tangga untuk pulang. Aku segera bersembunyi diantara rimbunnya semak-semak untuk menutupi kehadiranku.

Keadaan sudah aman, aku keluar dari persembunyianku dan berjalan menuju nisan yang disebut-sebut Yuki itu.

Hitsugaya Yukimaru

20 Desember 1995 – 20 Desember 2002

Tulisan itu membuatku tersenyum tipis, Orang bernama Hitsugaya Yukimaru tersebut akan membuat Shiro-chan dan Karin saling membenci.