CHAPTER 4
Hari Minggu adalah hari favorit semua orang. Kenapa tidak? Karena di hari Minggu, kita tidak melakukan rutinitas kita seperti bekerja, sekolah dan lainnya. Hari Minggu adalah hari libur yang diberikan setiap minggunya, hari dimana kita bisa mengisi kembali semangat yang sudah digunakan dari hari senin-sabtu. Dan orang yang satu ini juga sangat menyukai hari Minggu. Uchiha Sasuke senang melewatkan hari minggunya dengan berjogging disekitar apartemennya. Setelah puas berlari beberapa putaran, dia akan pergi ke pasar tradisional untuk berburu bahan makanan segar. Sasuke senang memasak dan segala sesuatu yang dimasak olehnya harus bahan fresh. Tapi karena posisinya sebagai Direktur Perencanaan, Sasuke tidak bisa memasak setiap hari. Jadi dia akan sangat menggunakan hari Minggunya untuk hobinya yang satu ini.
Hari ini Sasuke ingin membuat nasi goreng seafood, entah kenapa dari kemarin dia sudah tergiur melihat Naruto memakan nasi goreng seafood dengan lahap. Sebenarnya dia bisa saja memesan makanan yang sama, tapi mana mau dia ketahuan mengikuti menu makanan Naruto. Bisa-bisa Naruto akan menjadi besar kepala dan akhirnya dia akan menggodanya sepanjang hari. Itu tidak akan pernah terjadi! Setelah yakin semua bahan didapatkan, akhirnya Sasuke hendak pulang ke rumah. Tapi ada sesuatu yang mengganjal pikirannya, dan hal itu menuntunnya kembali ke toko bumbu masakan.
"Loh, kok abang ganteng balik lagi? Ada yang kelupaan?" tanya Bibi penjaga toko dengan ramah sekaligus bertujuan untuk menggoda Sasuke. Kapan lagi si Bibi bisa melihat cowok seganteng Sasuke sedang berbelanja kalau tidak sekarang? "Iya, Bi. Ada yang kurang kayaknya, tapi saya nggak bisa ingat." Jelas Sasuke. Dia masih berdiri dengan kantong belanjaan di kedua tangannya, Sasuke berpikir keras tapi tidak ketemu apa yang kurang. "Hinata-chan! Kau sudah datang!" Seru Bibi penjaga toko sambil memanggil seseorang. 'Hinata? Sepertinya nama itu tidak asing, tapi dengar dimana yah?' pikir Sasuke.
.
.
.
.
"Direktur Uchiha!" Aku tidak bisa lebih terkejut lagi, menemukan Direktur Uchiha, Bosnya Sakura-chan tengah berada di pasar tradisional seperti ini. "Kau mengenalku?" tanyanya bingung. "Oh, maafkan kelancangan saya. Nama saya Hyuga Hinata, saya adalah sekretaris Direktur Uzumaki yang baru." Jelasku. Sepertinya Direktur Uchiha sedikit mengingat tentang aku, karena dia mulai menganggukkan kepalanya. "Ada yang bisa saya bantu, Direktur Uchiha?", "Kita tidak sedang di kantor, jangan memanggilku Direktur. Aku terkesan tua." Tegur Direktur Uchiha. Aku seketika merasa bersalah, karena kupikir akan lebih sopan jika aku memanggilnya seperti di kantor. Daripada langsung memanggil namanya, bahkan Sakura-chan masih memanggilnya Direktur Uchiha.
"Ada yang bisa kubantu, Uchiha-san?" tanyaku lagi. "Hinata-chan, abang ganteng ini sepertinya kelupaan sesuatu untuk masakannya. Tolong kau bantu ya? Bibi mau melayani pelanggan yang lain." Kata Bibi Penjaga toko. "Baik, bi. Jadi, Uchiha-san ingin memasak apa?" tanyaku beralih kepada Uchiha-san, tidak kusangka aku akan bertemu dengannya di sini dan seperti ini. Aku tidak pernah tahu kalau Uchiha-san bisa memasak, dan aku juga tidak yakin apakah Sakura-chan tahu tentang ini. Pastinya Sakura-chan akan senang jika kuberitahu soal ini di hari Senin.
"Nasi goreng seafood.", "Apa?", "Ku bilang nasi goreng seafood, hyuga. Aku sepertinya melupakan sesuatu." Jelas Uchiha-san lagi. Sepertinya aku sedikit memancing emosinya, tapi seharusnya dia lebih sabar. Ini pasar tradisional dan di sini sangat ramai, wajar saja kalau aku kesulitan mendengar perkataannya. "Apa semua bumbu sudah? Bawang? Merica? Penyedap rasa? Kaldu mungkin?" tanyaku. "Hm, sudah semua. Tapi aku yakin ada yang kurang, seafood itu sangat Asia Ada sesuatu yang kurang tentang itu." Aku cukup terkesan Uchiha-san mengerti tentang Seafood yang selalu dikaitkan dengan masakan Asia, biasanya orang-orang seumurannya akan lebih mengolah makanan dengan gaya western daripada Asia lagi.
"Aku tahu apa yang kau lupakan, Uchiha-san! Minyak Wijen!" seruku. "Ah! Itu dia! Bi, berikan aku minyak wijen." Seru Uchiha-san kepada Bibi penjaga toko. "Terima kasih, Hyuga." Aku cukup terkesan karena bisa mendengar Uchiha-san berbicara lumayan banyak hari ini. Sebenarnya aku sudah beberapa kali bertemu dengannya di kantor, saat aku bersama Naruto-kun mengunjungi ruangannya, ataupun saat berpapasan selama di kantor. Tapi memang dasar sifatnya Uchiha-san, dia tidak terlalu peduli dengan orang lain. Dia hanya akan mengurusi pekerjaannya dengan maksimal dan soal lain akan diberikannya kepada Sakura-chan. "Sampai jumpa, di kantor." Katanya lagi sebelum pergi. "Sama-sama, Uchiha-san. Sampai jumpa." Balasku.
"Nah, Hinata-chan apa yang kau butuhkan?" tanya Bibi penjaga toko.
.
.
.
.
"Kau tidak bercanda? Maksudmu kau benar-benar bertemu dengan Direktur Uchiha di pasar tradisional di sekitar apartemenmu?" seru Sakura-chan sekali lagi. "Aku tidak tahu kalau dia punya hobi memasak seperti itu. Tapi apa kau yakin itu adalah hobinya, Hinata-chan?" tanya Sakura-chan lagi. "Tentu saja itu adalah hobinya, Sakura-chan. Aku yang juga hobi masak bisa dengan cepat tahu kalau Direktur Uchiha juga hobi dalam memasak. Dia bahkan tahu bagaimana harus mengolah makanan dan bahan apa saja yang dibutuhkan. Kemarin dia hanya melewatkan minyak wijen saja, tapi semua belanjaannya sudah komplit. Sepertinya dia adalah pria yang memasak dengan baik." Jelasku lagi.
"Wow, fakta terbaru dari Direktur Uchiha yang tidak akan pernah tahu. Untung saja ada kamu, Hinata-chan." Kata Ino-chan. "Dan untung juga, karena dengan ini Sakura-chan tidak bisa berbohong lagi kalau dia sudah tidak berusaha mendekati Direktur Uchiha lagi." Sindir Ino-chan.
"Yah, aku bisa bilang apa? Aku memang menyukainya, Ino-chan. Direktur Sasuke adalah orang yang tampan dan memesona, dia juga sangat ahli dan telaten dalam bekerja. Jangan lupakan soal dia yang sudah mapan di usia muda. Benar-benar calon suami idaman." Jawab Sakura-chan. Well, Naruto-kun juga begitu.
"Baiklah-baiklah, setidaknya kau tahu apa hobinya. Gunakan dengan bijak!" kata Ino-chan. "Ayo kembali ke dalam, jam makan siang sudah hampir berakhir." Ajak Ino-chan.
.
.
.
.
"Selamat siang, Naruto-kun. Ini ada berkas-berkas yang harus ditandatangani.", "Oh, baiklah. Berikan padaku." Kata Naruto-kun sambil kembali ke mejanya. Naruto-kun sedang melihat ke arah luar gedung saat aku memasuki ruangannya. "Hari ini kau ada waktu, Hinata?" tanya Naruto-kun. "Eh? Ah, ada. Kenapa Naruto-kun?" tanyaku heran, sekaligus gugup. Aku masih belum bisa melupakan kejadian di ruangannya ini. Saat dia mengecek suhu tubuhku dengan memegang dahiku. Sederhana, tapi selalu membuatku gugup dan merona kalau mengingatnya kembali.
"Bagaimana kalau sehabis kerja, kita makan dulu. Di rumah sedang tidak ada orang, jadi aku tidak punya teman makan. Bersediakah kau menjadi teman makanku malam ini?" tanyanya. Diajak makan malam bersama seperti ini, mana bisa aku menolak ajakannya. "Tentu saja, aku akan sangat senang bisa menemani Naruto-kun makan malam." Jawabku, berhati-hati agar tidak gagap, dan tidak ketahuan kalau aku sedang senang bercampur gugup. Setelah Naruto-kun menyelesaikan semua dokumen, aku langsung kabur keluar ruangan. Tentu saja setelah berpamitan dengan Naruto-kun, dia bosku? Ingat?
Komputerku tiba-tiba saja berbunyi, rupanya ada email masuk. Dan rupanya itu bukanlah email, melainkan undangan untuk bergabung dalam chatroom. Tebak saja siapa isinya? Tentu saja tak lain dan tak bukan adalah Ino-chan dan Sakura-chan.
Ino = Siang…
Sakura = Siang…
Hinata = Selamat siang, ada apa ini?
Ino = Aku memutuskan untuk membuat chatroom ini. Berguna untuk berbagi informasi, dan juga kalau bosan kita selalu bisa curhat di sini. Tentu saja kalau tidak sedang sibuk yah, kalau ketahuan chatting begini saat banyak kerjaan. Bisa-bisa kita kena tegur. Ha ha ha XD
Hinata = Oke, aku mengerti.
Sakura =Sip! Siap, Ino-chan!
Ino = Kalian sedang apa? Tidak sedang sibuk kan?
Sakura = Tidak, aku santai kok. Direktur Uchiha baru saja pergi untuk meeting bersama beberapa staff dan aku ditinggal disini.
Hinata = Oh, enaknya bisa santai.
Sakura =Tapi sebenarnya, aku ingin ikut Hinata-chan.
Ino = Ha ha ha, supaya tidak sedih. Bagaimana kalau kita pergi makan setelah kerja?
Sakura = Ide bagus! Aku ikut!
Ino = Oke! Hinata-chan, kau ikut tidak?
Hinata = Maaf, aku tidak bisa ikut dulu malam ini. Tapi selanjutnya aku pasti ikut!
Sakura = Tumben? Ada apa Hinata-chan?
Ino = Apa kau ada meeting dadakan?
Sakura = Atau Direktur Uzumaki menimbulkan masalah dan kau jadi harus lembur?
Hinata = Tidak, kok. Sebenarnya, aku diajak makan setelah kerja oleh Naruto-kun.
Ino = WOW! Sudah ku bilang dia juga menyukaimu, Hinata-chan!
Sakura = Oh! Pergilah! Have fun dan jangan lupa ceritakan pada kami setelah itu. Ha ha ha XD
Hinata = Dia hanya butuh teman makan malam kok, tidak lebih.
Ino = Sudahlah, Hinata-chan. Pergi saja, dan bersikap manislah. Siapa tahu kau berhasil mendapatkan Direktur Uzumai. Hihihi..
Hinata = Sudah kubilang, itu bukan seperti itu.
Sakura = Go get it, Hinata!
Apa yang harus kulakukan dengan kedua gadis ini?
.
.
.
.
"Hinata, ayo kita pergi!" ajak Naruto-kun sambil memamerkan senyumannya. Dia terlihat sangat riang hari ini, padahal kemarin-kemarin dia sempat selalu pulang dengan wajah lelah. Tapi wajar saja, karena kemarin kami sedang berusaha memenangkan tender dengan klien besar.
"Tunggu sebentar, Hinata. Aku akan mengambil mobil dulu, kau kedepan saja duluan." Kata Naruto-kun. Dia menyuruhku menunggu di depan kantor, sementara dia turun ke basement untuk mengambil mobilnya. Tak lama aku menunggu di depan kantor, Naruto-kun sudah terlihat. Dia kemudian menghentikan mobilnya di depanku. "Hinata, ayo!" ajaknya. "Naruto!" teriak seorang gadis. "Naruto!" teriak gadis itu sekali lagi, dia berlari ke arah Naruto-kun dan memeluknya di hadapanku. "Eh, ada apa Karin? Apa yang terjadi?" tanya Naruto-kun kebingungan. "Aku membutuhkanmu sekarang! Aku hancur, Naruto!" kata gadis itu sambil menangis di dalam pelukan Naruto-kun.
"Eh, aduh." Naruto-kun tampak kebingungan, dia melihat ke arahku seakan bertanya-tanya. Sementara gadis yang bernama Karin itu masih berada di pelukannya dan dia juga membalas memeluk gadis itu. "Sudahlah, Karin. Tidak apa-apa, kau ikut aku saja dulu yah?" Naruto-kun kemudian membawa gadis itu masuk ke kursi penumpang di depan. Aku terheran-heran namun untuk bertanya, aku tidak punya keberanian. "Hinata, maafkan aku. Sepertinya hari ini tidak jadi dulu, ini keadaan darurat." Jelas Naruto-kun. "Oh, aku mengerti Naruto-kun. Tidak apa-apa, dia tampaknya sedang kacau. Kau harus cepat-cepat menenangkannya." Apa yang kau katakan HINATA?! "Thanks, Hinata! Lain kali oke!" Seru Naruto-kun sambil berlari masuk ke dalam mobil. Kemudian aku hanya melihat mobil itu pergi dan menjauh, meninggalkan aku sendirian.
Yang kurasakan? Bingung dan sedih! Aku masih menentang diriku sendiri kalau aku sudah menyukai Naruto-kun, bosku sendiri yang mana aku sudah melanggar profesionalisme yang selalu ingin ku jaga. Sampai saat ini aku masih bisa menyangkal diri sendiri. Tapi saat Naruto-kun memeluk gadis itu, entah kenapa aku merasa sedih, dan kesal. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa? Apa ini namanya cemburu? Apa benar, aku sudah jatuh cinta pada Naruto-kun? Kepalaku serasa penuh, dan aku seketika merasa lelah. Kenapa ini harus terjadi? Kenapa hari ini? Siapa gadis itu? Begitu banyak pertanyaan yang ada di kepalaku, namun tidak bisa aku katakan.
"Hyuga? Kau baik-baik saja?", "Direktur Uchiha?", "Bukankah sudah kubilang untuk tidak memanggilku Direktur Uchiha? Ini diluar kantor." Omelnya. Di luar kantor? Benar juga, aku sudah tidak berada di dalam kantor. "Maafkan aku, Uchiha-san." Kataku. "Kau mau pulang?", "Iya, aku ingin pulang." Jawabku singkat. "Mau kuantarkan?" tanya Uchiha-san.
TO BE CONTINUED.
.
.
.
AN =
Hai! Hai! Kita sudah di chapter empat!
Seperti request dan saran dari reader, sya memutuskan membuat konflik di chapter ini. Jadi ceritanya tidak flat dan hanya manis-manis saja. Tapi saya tidak yakin konflik atau romancenya akan jadi gimana. Ha ha ha. Jujur saja selalu sulit untuk membuat romance dan konflik yang greget. Sya lebih jago ke something fluffy. LOL
But once again. Thank you for reading, review pliss. Sya butuh review, saran dari kalian. Saya juga tidak tahu sih, ini fanfic akan sepanjang apa. Semoga dalam perjalanan pembuatan fanfic ini tidak ada halangan, Amin.
Oh iya, saya uda nyoba untuk tidak selalu menggunakan POV dari Hinata. Tapi gagal = =a, gmna ya? Kurang enk. POV normal hanya digunakan saat bukan Hinata yang ada didalamnya. Maaf, penulis baru. Masih buth banyak belajar. Tapi saya akn tetap berusaha belajar, agar bisa memenuhi saran-saran reader sekalian.
Sekali lagi, thanks sudah membaca. Review yah! ^^
Dan terus nantikan kelanjutannya dari My Bossy Boss!
