"Oh! Kau yang kemarin kan?"
Aku hanya tersenyum kecil. Hari ini aku kembali ke rumah sakit, ke ruangan EunJae. Dia bersemangat menyapaku.
.
Stay
-Z-
.
YunJae Fanfiction
.
Terinspirasi; Stay – Sugarland
.
NP; Take A Bow – Rihanna
.
"Jadi kau teman Jaejoong?" Tanya EunJae sambil duduk di atas ranjang. Aku hanya mengangguk singkat menjawab pertanyaannya. Tidak mau jujur mengatakan aku kekasihnya.
"Jaejoong pernah bercerita tentangmu," ucapku.
EunJae membalasnya dengan tertawa halus, "Anak itu dari dulu memang tidak berubah," dia melirik kearah jam, "Sebentar lagi dia mungkin kemari."
"Dia rajin mengunjungimu?"
"Yup! Hampir setiap hari"
Ada decitan pelan diperasaanku.
"Dia dan Hyunjoong banyak memberi dukungan untuk sembuh," tawanya pelan sebelum bersandar ke punggung ranjang, "Mungkin kalau tidak ada mereka aku tidak seperti sekarang."
"Memangnya kenapa?"
EunJae menggaruk tengkuknya, "Aku butuh dukungan orang lain setelah orangtuaku meninggal."
Aku mengangkat alis, terkejut, "Aku turut sedih mendengarnya."
"Ah tidak apa-apa santai saja."
Setelah itu kami diam. Aku memandang jendela lama, sambil berfikir.
"Kudengar dulu kau berpacaran dengan Jaejoong," kataku.
"Eh?!" eskpresi EunJae berubah menjadi terkejut, "Jaejoong cerita?"
Aku hanya tersenyum kecil.
"Ah iya, memang dulu seperti itu. Hehe, tapi sekarang sudah tidak kok. Kami putus beberapa tahun yang lalu, ya putus baik-baik sih."
"Kenapa kalian berpisah?"
EunJae salah tingkah, "Y-ya seperti itu, jarang berkomunikasi karena kesibukan, semakin lama semakin renggang, lalu kami memutuskan berpisah saja. Aduh, aku terlalu banyak bercerita," ucapnya malu.
Aku tertawa hambar, "Santai saja."
EunJae kembali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mungkin kehabisan kata-kata lagi. Sementara aku memandangnya lama. Sudah semalaman penuh aku memikirkan ini, aku cukup mantap.
"Kau masih mencintai Jaejoong ya?" tanyaku dengan kekehan diakhirnya, berusaha membuat suasana tidak menjadi canggung.
EunJae diam lama. Dia terkejut. Tiba-tiba wajahnya bersemu.
Dan dia menjawab 'iya'.
Oh, well…
.
.
Cklek
"Yunho?"
Aku dan EunJae sontak mengalihkan pandangan dan mendapati Jaejoong yang baru datang menatap kami terkejut. EunJae menyapa Jaejoong tapi tidak dia hiraukan. Mungkin dia terlalu kaget aku disini.
Tak lama aku bangkit berdiri dan mendekati Jaejoong, "Bisa bicara?" tanyaku. Jaejoong tidak menjawab, tapi aku berjalan keluar terlebih dahulu. Yakin dia akan mengikutiku.
.
.
Aku dan Jaejoong duduk dalam diam di bangku lorong rumah sakit. Tidak ada yang membuka suara.
Jaejoong menatap kakinya yang dia goyang-goyangkan. Sedangkan aku menatapnya dari ujung mataku.
"Oh, ya," Jaejoong menegakkan tubuhnya dan menatapku, "Aku membeli ponsel baru. Aku sudah menyimpan nomormu, tadi pagi kutelpon tapi kau tidak jawab."
"Oh."
Mendapat jawabanku Jaejoong terdiam dan kembali melihat ke arah kakinya.
"Kau kenal EunJae?" tanyanya.
"Baru saja kenal."
"Kenapa tidak bilang?"
"Kenapa harus bilang?" balasku sengit.
Jaejoong kembali menatapku lama. Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya, tapi aku membalas menatapnya. Menantang.
"Kau berubah, Yun. Ada apa?"
"Kau pikir, kau tidak berubah?" tanyaku balik.
Jaejoong mengerang kesal, "Berhenti balik bertanya. Kau masih marah karena kemarin? Aku minta maaf. Maafku tidak diterima?"
Aku mengalihkan pandangan darinya.
"Hei, Yun. Aku minta maaf, oke?" dia memegang tanganku dan aku langsung menyentaknya. Dia pasti kaget.
"Diamlah. Kau membuatku semakin marah," ucapku.
Jaejoong membeku sesaat. Kemudian dia mengacak rambutnya frustasi.
Kemudian kami diam. Aku berusaha meredam rasa kesal, sedangkan Jaejoong menatap ke berlawanan arah. Aku tidak bisa mengintip ekspresinya.
Setelah mulai tenang, "Jae-"
Jaejoong menoleh. Wajahnya memerah.
"-kita putus."
"Apa! K-kenapa?"
"Kurasa lebih baik begini," ucapku pelan.
Jaejoong menatapku tidak percaya, "Gara-gara masalah kemarin?"
"Itu salah satu alasannya."
Jaejoong menarik nafas berat, "Kau masih tidak mau memaafkanku perihal masalah kemarin?"
Aku menggeleng pelan, "Aku lelah dengan hubungan kita. Oke?"
"Lelah? Itu alasanmu? Berikan alasan lain!" Jaejoong memaksa. Dia tidak puas dengan jawabanku.
Aku mendesah, "Aku terlalu lelah cemburu, Jae. Got it?"
Dia menggeleng. Wajahnya semakin merah.
Rasanya aku sedikit takut kelepasan dan menangis di depannya. Semua rencanaku akan hancur, "Kau lebih mementingkan EunJae daripadaku."
"Dia sakit Yun. Kau cemburu aku dekat dengannya?"
"Aku tidak masalah kau dekat dengannya. Aku cemburu dengan cintamu padanya."
Jaejoong mencelos, "Apa yang ada di otakmu? Aku tidak mencintainya."
"Mungkin sekarang tidak. Tapi kau kembali belajar untuk mencintainya."
"Aku tid-"
"Iya! Kau iya!" paksaku, "Kalau tidak, kau akan lebih perduli dan sayang padaku."
Jaejoong terdiam.
"Kadang aku berhadap EunJae mati saja."
"Jung Yunho!"
"Terlalu jahat ya?"
Jaejoong memejamkan matanya. Setelah itu dia kembali menatapku, "Aku mencintaimu. Apa itu masih tidak bisa menjelaskan bahwa aku ingin hubungan kita tetap?" suaranya bergetar.
"Lalu aku harus bersabar dengan hubungan ini sampai kau mencintainya?" ucapku meremehkan.
"Yun, aku lelah berdebat. Aku sudah bilang aku tidak mencintainya."
"Dengar, aku sudah memikirkan ini dengan matang. Kurasa ini memang jalan yang terbaik," ucapku pada akhirnya. Keputusanku sudah bulat. Jika setelah ini dia masih mau membalas ucapanku, lebih baik aku pulang.
Jaejoong menutup wajahnya dengan kedua tangannya, "Kau sudah merencanakan ini, sedangkan aku tidak siap. Lalu setelah ini aku harus bagaimana jika kita berpisah?!" di kalimat terakhir suaranya menjadi parau, "Kau ingin aku kangen sampai gila?"
Aku hendak meninggalkannya, namun kata-katanya membuatku bertahan sejenak, "Kau pernah putus cinta dengan EunJae. Setelah dengan dia kau bisa move on, kan? Setelah kita berpisah, kau juga bisa melakukan hal yang sama," suaraku melunak.
"Tapi berbeda! Kami berpisah saat aku sudah tidak mencintainya lagi. Tapi kita berbeda,"—sejenak aku mendengarnya mulai terisak—"Kita berpisah saat aku masih mencintaimu. Kau tidak tahu rasanya seperti apa!"
Aku mendesah, "Kau bisa menghilangkan rasa sakit itu dengan orang yang sedang kau belajar cintai—EunJae."
Setelah itu aku berdiri dan pergi. Meninggalkannya. Tokoh yang memutuskan hubungan memang selalu terlihat jahat, aku tahu. Sekarang aku merasa sangat jahat pada Jaejoong. Kalaupun aku mengalah dan membiarkan hubungan ini, aku bisa membayangkan dia akan kembali mengabaikanku. Memangnya berubah semudah itu?
Aku menaruh tanganku di saku dan berjalan cepat. Aku bisa merasakan mataku panas dan terasa penuh.
Yeah, aku menangis.
END
~Side Story~
[Normal POV]
Sudah 10 menit sejak Yunho pergi. Jaejoong tetap duduk di tempat yang sama. Dia menatap lantai dengan tatapan kosong. Entah apa yang dipikirannya, namun satu hal yang pasti, perasaannya hancur. Matanya memerah dan wajahnya berantakan.
Tak lama dia bangkit berdiri dan memasuki ruangan EunJae. Disana pria itu menatapnya terkejut.
"Jae, kau kenapa?"
"Kadang aku berhadap EunJae mati saja."
Ucapan Yunho teringat membuat hatinya berdecit pelan.
"Aku mau pulang," ucap Jaejoong lirih.
EunJae menatapnya kecewa, "Dengan tampang seperti itu? Ayolah, duduk. Cerita denganku ada apa?"
"Aku hanya ingin pulang. Kesini untuk pamit."
EunJae meneliti Jaejoong, "Kau bertengkar dengan Yunho? Temanmu itu?"
Jaejoong membeku, "Yunho bilang hubungan kami teman?" tanyanya pada akhirnya.
"Sure. Memangnya apa? Sahabat? Hehe."
"Dia kekasihku…" ucap Jaejoong lirih
"Hah?"
Jaejoong mengalihkan wajahnya. Air matanya kembali menumpuk, "Aku akan pulang."
BLAM
Pintu tertutup.
Jadi sudah berapa hati yang terluka?
Yeah, 3 hati.
SELESAI!
Sebenarnya fanfic ini kubuat dengan makna—untuk para gadis;
Kalau kalian berpacaran, pacarmu minta putus atau kamu merasa harus putus. Ya putusin.
Berhenti berfikir akan memberikan segalanya untuk cowokmu. Jangan murahan!
Antara sadar & tidak, kadang kamu memberikan sesuatu yang tidak seharusnya cowokmu terima di masa kalian pacaran. Got it?
Beda cerita kalau itu suamimu. Kasih apa aja terserah.
Sobat gua yang cowo selalu ingetin, "Jangan macem-macem pas pacaran. Mau pernikahan kamu nanti gagal?"
P.s.: Boleh loh berbagi hal ini ke temen2 kamu :)
.
Oke, stop cuap-cuap.
Thanks to; gdtop, Youleebitha, jaena, hanasukie, joongmax, Aaliya Shim, manize83, lipminnie, lee sunri hyun, YunHolic, duvypanha, irengiovanny, danactebh, Nayuya, HISAGIsoul, loupeu, Rly. , riska0122, Oya, nickeYJcassie, all guest and aaallll readers! I LOVE YOU SO MUCH.
