Chapter 4 : The Challenge

Bereavement

" The Challenge. "

Author : Damien Cho

Genre : Crime, Mystery, Friendship, Fantasy

Rating : M

Cast : EXO Members ( Included Kris Wu )

Warning : NO NC, NO LIME, M untuk adegan pembunuhan, adegan sadis, dsb

DON'T LIKE,DON'T READ. TYPOS.

THIS STORY PURE OF MINE

NO PLAGIAT. APABILA ADA KESAMAAN, ITU MURNI KEBETULAN.

.

..

...

Enjoy The Story.

Chapter 4

Mereka berkumpul di ruang tengah. Ada Baekhyun yang tertunduk di samping Luhan yang masih gemetar. Kepala Xiumin yang telah terbungkus dengan kain putih diletakkan di tengah-tengah mereka semua. Kai meremas jarinya menahan diri, Kyungsoo dan Chanyeol menutup hidung menahan mual, Chen memijit tenguk Baekhyun. Laki-laki itu masih belum mau berbicara ketika ia dan Luhan kepergok oleh yang lain.

"Jadi, ada yang bisa menjelaskan semua ini?" Tanya Chen mengarah kepada Baekhyun dan Luhan. Yang paling tua menggeleng. Tapi perlahan, Baekhyun melepaskan pijatan Chen dari tenguknya dan menatap semua yang ada disana ragu.

"Aku... aku tidak sadar."

Jongin menyerngit tak paham.

"Iya. Waktu itu.. aku ingin keluar untuk buang air, tapi aku tidak tahu kalau ada Xiumin hyung disana. Jadi aku mengikuti dia menuju ruang utama. Dia membawa katana..." Getaran kecil terlihat di tubuh Baekhyun. Ia memeluk dirinya sendiri dengan pandangan kosong dan takut.

"Setelah itu, aku tidak tahu apa yang terjadi. Yang pasti, dia ingin melukai kalian semua."

"Tapi untuk apa?"

"Kau lupa tujuan ujian ini diadakan? Dia ingin kita semua mati Jongin..." Sergah Chen.

"Kita harus merahasiakan ini dari kelompok yang lain." Kyungsoo angkat bicara. Dia melipat tangan di depan dada dan memandang kepala Xiumin. "Kyungsoo benar. Jika sampai Kris tahu masalah ini, aku tak yakin kita akan tetap aman." Chanyeol menyetujui ucapan Kyungsoo. Yang lain tetap bungkam. Baekhyun semakin bergetar melihat kepala Xiumin yang dibungkus.

"Aku akan membuang kepala ini. Kalian beristirahatlah." Tutup Chanyeol sepihak. Segera dia membawa kepala itu keluar dari pondok. Baekhyun sempat meminta Chanyeol untuk tetap tinggal dan membuangnya besok saja. Tapi karena pada dasarnya Chanyeol itu keras kepala, pria tinggi itu tetap ingin keluar membawa kepala Xiumin. Baekhyun hanya pasrah melihat sahabatnya itu menghilang di balik pintu, tidak mampu menahan padahal pikiran buruk begitu menghantui dirinya.

~oOo~

Chanyeol berjalan menjauhi pondok sambil menenteng kain putih yang hampir diselimuti darah di tangan kirinya. Tangan kanannya membawa sebuah senter untuk menerangi jalan di depan.

"Mau dibuang kemana ini?" Monolog Chanyeol. Ia arahkan senternya ke hutan. Tidak bisa dibuang sembarangan. Kelompok yang lain akan menemukannya jika mereka menyadari Xiumin tidak ada disana. Jadi Chanyeol memutuskan untuk berjalan ke salah satu gudang di permukiman itu. Hampir 15 menit disana, Chanyeol keluar dengan membawa sebuah cangkul. Ia membawa peralatan itu ke pinggir hutan dan mulai menggali lubang disana. Chanyeol mematikan senter yang dibawanya agar tidak ada satupun yang melihat apa yang ia lakukan.

Tanpa dia sadari, seseorang tengah mengamatinya dari kejauhan. Orang itu memakai tudung dan masker. Menengok ke kanan dan kiri, memastikan tak ada seorangpun, dia mulai berjalan mendekati Chanyeol. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jacket. Posisi yang membelakangi membuat Chanyeol tak sadar akan kehadirannya. Dengan mengendap – endap, orang itu mendekati Chanyeol dan...

DOR!

"HUWAAA!"

"Hahahahahahaha..." Orang itu tertawa senang karena berhasil mengejutkan objek di depannya. Chanyeol mengelus dada kaget setelah melempar cangkul tadi entah kemana. Untung saja dia sudah mengubur kepala Xiumin. Dengan ragu, Chanyeol membalikkan badan dan menemukan seseorang yang tidak jelas wajahnya karena tertutupi masker dan tudung jaket.

"K-Kau.. siapa.?!" Tanya Chanyeol waspada sedikit gemetar. Orang di hadapannya diam tak menjawab. Tapi dilihat dari mata yang menyipit, Chanyeol tahu kalau orang itu tengah tersenyum? Atau menyeringai? Entahlah. Tak bisa dipastikan. Chanyeol hanya merasa, kalau mata itu begitu familiar di ingatannya. Orang itu menunjuk tanah bekas galian di belakang Chanyeol. Matanya menyiratkan 'aku-tahu-apa-yang-telah-kau-lakukan' membuat Chanyeol geram dan merengsek maju menarik masker yang dikenakan orang tak dikenal itu. Sebelum Chanyeol sempat melihat wajahnya, orang itu telah berhasil lari masuk ke dalam hutan. Chanyeol tak tinggal diam. Ia segera mengejar orang itu masuk ke dalam hutan. Gelap. Tak terlihat apapun. Dalam hati, pria tinggi itu merutuki kecerobohannya meninggalkan senter di pinggir hutan. Ia hanya bisa mengandalkan pendengaran yang anehnya tak ada suara langkah kaki atau apapun. Padahal dia yakin kalau orang yang dikejarnya tadi tepat berlari di depannya. Dia berhenti berlari. Tangannya meraba-raba sekitar dan menemukan batang pohon di sisi kanan. Chanyeol mendudukkan diri disana dan merapatkan mantel yang dikenakannya.

Srek...

"Siapa disana?"

Tak ada jawaban.

"Aku tanya. Siapa disana?"

Hening. Chanyeol berpikir mungkin itu hanya suara binatang atau apa dan menajamkan pendengarannya. Tapi setelah itu, tak ada suara apapun. Dia sedikit bersantai seraya meluruskan kakinya. Tanpa pria itu sadari, seseorang di tempat yang sama tengah menggenggam sebilah pisau di tangannya.

BUGH!

"ARGH!" Chanyeol mengerang hebat. Dia tersungkur ke tanah dan segera bangkit berlari tak tentu arah. Sesekali dia terjatuh oleh sulur tanaman dan bangkit lagi kala langkah suara kaki terdengar semakin dekat.

"SIAPA KAU!? BERHENTI DISITU!" Teriak Chanyeol kalap. Dia terjatuh dan melemparkan apapun yang didapatinya ke belakang. Meskipun tidak bisa melihat, ia tahu bahwa orang itu ada di belakang mengikuti dirinya. Chanyeol berbalik dan ingin berlari lagi jika saja tak kalah cepat dengan tarikan di kakinya. Ia menarik – narik kakinya dan memberontak keras saat merasakan kakinya seperti dikoyak oleh benda tajam. Chanyeol berteriak kesakitan. Dia meminta tolong dan berharap salah satu dari teman satu kelompok ada yang datang menolongnya. Dia menyesali keputusannya menolak tawaran Baekhyun tadi. Chanyeol menggeram sakit saat pisau yang jelas – jelas tak sesuai dengau ukuran kaki itu memaksa memotong kedua kakinya. Ia berusaha mundur dan menarik kedua kaki yang pasti sudah tak jelas bagaimana bentuknya. Tak ada rasa sakit lagi. hanya rasa kebas dan bau anyir yang mengelilingi. Kaki Chanyeol seolah mati rasa. Orang itu terkekeh pelan melihat pemberontakan Chanyeol semakin melemah. Ia tetap fokus dengan pemotongan paksa hingga kedua kaki Chanyeol akhirnya terputus. Nafas Chanyeol tersendat.

"Bagaimana ini? Kakimu putus Chanyeolliee..." Ujarnya dengan nada dibuat – buat.

DEG!

"K-Kau...!"

Chanyeol menutup mata dengan sebelah tangannya kala sinar senter menyeruak tanpa diduga. Ia menyipitkan mata dan menajamkan penglihatannya. Amarah berkumpul di ubun – ubun mengetahui siapa yang telah melakukan penyerangan terhadapnya. Ia menggertakkan gigi dan memaki kasar, mengeluarkan sumpah serapah. Orang tak diketahui tertawa keras dan memberikan pandangan kasihan.

"Sudah kuduga kau tidak bisa dipercaya!"

"Chanyeol terlalu berisik."

"Lepaskan aku brengsek! Atau aku beritahu yang lain...!"

"Beritahu? Chanyeol mau ya mulutnya robek?"

Chanyeol diam. Orang itu tak menganggap ancamannya sama sekali. Orang tak diketahui menghela nafasnya pelan dan menyandarkan diri di salah satu pohon. Chanyeol bisa melihat pergerakan itu dari cahaya senter yang dipegangnya. Perlahan, Chanyeol mengatur dirinya setenang mungkin dan menggerakkan telunjuknya menunjuk orang itu. Dia berbisik pelan dan tiba-tiba keluar api dari telunjuknya. Dia masih terus mengarahkan api ke pohon itu juga sekitar.

"Chanyeol memang harus mati. Kau tidak bisa diam sama sekali."

Laki-laki yang terpojok segera mengganti arah semburannya ke belakang. Suara bisikan yang datang tak tahu dari mana membuat dirinya semakin kalap. Ia terus saja mengarahkan api ke seluruh arah. Tak peduli dengan kondisinya yang semakin melemah karena darah terus saja mengucur keluar dari kakinya yang sudah buntung. Ia frustasi. Lama kelamaan, semburan api miliknya semakin melemah, hingga akhirnya tak keluar sama sekali karena tak ada kekuatan untuk melakukan sihir. Berkali- kali ia merapal mantra, tapi hanya api kecil yang keluar. Chanyeol gemetar. Ia menyeret tubuhnya paksa menjauh dari tempat itu. Yang ada di otaknya saat ini adalah memberitahu yang lain bahwa 'orang itu' adalah pembunuh berdarah dingin yang tidak punya hati sama sekali. Kelompoknya dalam bahaya. Chanyeol masih saja terus menyeret dengan nafas tersengal – sengal. Hanya saja... nampaknya, Dewi Fortuna tidak mau memihak padanya barang sekali pun. Orang itu ada di depan. Menyeringai mengerikan seraya menggenggam pisau kecil berlumuran darah yang Chanyeol yakini itu darah miliknya. Orang itu melangkah mendekat dan berjongkok di depan Chanyeol.

"Aku dengar... Kau pernah menarik tubuh anak kucing hingga putus kan?"

Chanyeol menggeleng cepat.

"Kau tahu? Anak kucing itu milikku. Dan tiap malam dia selalu datang ke mimpiku menuntut balas dendam."

"Cih! Omong kosong!" Decih Chanyeol menantang. Orang itu seketika diam dan berubah datar. Ia mengelus dagunya bingung. Berusaha menahan emosi yang memaksa keluar. Oh... ayolah. Tak akan menyenangkan jika mangsamu mati dengan cepat. Jadi dia berdiri dari tempatnya dan menginjak kaki Chanyeol hingga menimbulkan suara aduhan dari empunya.

"Omong kosong? Baiklah. Akan kutunjukkan bagaimana itu omong kosong." Chanyeol mendelikkan matanya takut melihat orang itu mendekat lagi dan menendang keras perutnya. Chanyeol meringis dan memuntahkan darah. Tidak sampai situ, dia mengikat kedua tangan Chanyeol di batang pohon dan merobek baju atasnya. Chanyeol berteriak marah menggerakkan badannya. Orang itu bersiul riang seolah tak mendengar dan mulai menggoreskan pisaunya ke perut chanyeol. Segaris demi segaris dia lakukan di luka yang sama hingga akhirnya menimbulkan luka robekan yang lebar di sekitar perut. Tak dihiraukannya jeritan kesakitan dari pemilik tubuh kala ia menarik paksa paha Chanyeol membuat robekan itu semakin melebar.

Chanyeol hanya mampu memekik pelan saat tubuh bagian atasnya terpisah dengan pinggangnya. Nafasnya terpotong-potong merasakan paru-parunya seolah dihimpit erat. Tak ada harapan lagi. Hal terakhir yang dia lihat sebelum matanya tertutup dengan sempurna adalah seringai memuakkan yang terpampang di wajah itu. Sayup – sayup terdengar...

"Selamat bertemu dengan anak kucingku... Park Chanyeol."

To Be Continued

a/n : Hahaha... bagaimana ini? Apa scene pembunuhannya kurang menyeramkan? Maaf ya untuk penggemar Chanyeol, biasnya saya nistain disini. Tapi ini untuk kepentingan jalan cerita kok. Bukan berarti saya membencinya atau apa. Tanggal lahir saya sama seperti Chanyeol lho... terimakasih untuk yang telah mereview, memfollow, dan memfav fic ini. Juga untuk silent reader yang telah membaca. Oh iya... Apa ada yang bisa menebak siapa yang membunuh Chanyeol? Review please.