JUST ONE DAY

Cast: TaeKook/V-Kook, Jun-Kook/Ze-Kook, V-Min slight Jung-Min.

OC: BTS BAP members.

Disclaimer:
Cerita ini hanyalah fiktif belaka yang MURNI dari pikiran fujoshi author, terimajinasi dari masalalu dan masakini author maupun kerabat. terinspirasi dari beberapa komik, novel, buku, anime, lagu, film, maupun iklan ataupun sinetron/? Jika ada kesamaan judul/cerita/alur/tokoh/tempat jangan salahkan author. Karna mungkin itu bertanda kita berjodoh.

NO PLAGIAT!
WARNING! TYPO! YAOI!

JUST ONE DAY
Chapter 4

V POV

Pagi yang aneh, entah perasaanku saja atau memang aku ini aneh? Dari semenjak aku datang ke sekolah ini semua siswa melihatku. Hhhh masa bodolah.. Aku ingin segera kekelas, ingin tidur.

"KARENA MULAI SEKARANG KAU BUKAN SAHABATKU LAGI!"

BRAK!

"PAGI~ Wow ada apa ini? Kenapa kalian semua memandangku seperti itu?" Aku dengar, tadi JiMin sedang membentak JungKook, sepertinya. Dengan tampang bodoh aku membanting pintu kelas dan lihat, semuanya langsung menoleh ke arahku. Mereka tak ada yang membalas sapaanku. Dengan santai aku menuju bangkuku.

SRET!
Tapi, belum sempat aku sampai pada kayu yang akan mendaratkan pantatku, JiMin datang dan langsung menarikku.

"Aku perlu bicara denganmu!"

Itulah yang dikatakan JiMin sebelum menarikku keluar dari kelas dan mendapat tatapan aneh dari semua makhluk yang ada didalam kelas.

.

.

.

"Ada apa?" Tanyaku saat aku dan JiMin, bukan. Maksudku JiMin yang menarikku ke belakang sekolah. Ya, mungkin seperti itulah. JiMin menatap lurus kedepan dengan pandangan kosong. Oh, ada apa ini? Kenapa perasaanku tak enak?

"Sebelumnya, aku ingin bertanya padamu satu hal." Aku menatapnya seolah bertanya apa itu? "Mengapa kau melakukan itu semua? Bukankah kau menyukai JungKook?!" Oh damn it! Aku langsung mengalihkan pandanganku kearah lain. Kenapa JiMin mengetahui itu? Ya, ku akui.. aku memang menyukai makhluk yang bernama JungKook itu. Aku sungguh terkejut JiMin mengetahui itu, bahkan sangat. Tapi aku menutupi tampang terkejutku itu dengan bertingkah bodoh atau memang aku bodoh?-_-

"Hahaha, kau berkata apa JiMin-ah? Mana mungkin aku menyukai orang itu? Hahaha.." Kulihat JiMin menatapku dengan jengkel. Ah aku sungguh tak suka dengan keadaan seperti ini.

"Tak usah berbohong Tae-ya, aku tahu.. kau menulis nama JungKook di balik penghapusmu itu. Kenapa? Kau terkejut? Ah, aku tidak bermaksud membacanya kok, hanya saja tempat pensilmu itu terjatuh karena tersenggol olehku saat istirahat dan isinya termasuk penghapusmu itu berhamburan. Kukira kau tak melakukannya tapi tutup penghapusmu tidak menutupi nama dibalik itu sepenuhnya, kau tahu?" Aku tidak percaya dengan semua ini. Ada apa dengan JiMin?

"Apa maumu?" Tanyaku dengan nada dingin. Kulihat JiMin tersenyum meremehkan.

"Tak ada, kau tahu? Aku sungguh tak suka dengan apa yang kau lakukan itu!" Aku menaikkan satu alisku bingung. Apa JiMin menyukai JungKook? Atau… "Bukan kau dan Junhong saja yang menyukai JungKook. Aku juga menyukai JungKook! Dan aku sungguh tak terima dengan apa yang kau lakukan kemarin!"

"Fuh~ kukira kau menyukaiku.." Ucapku dengan senyum yang aneh, mungkin?

"Jangan bertingkah bodoh! Mana ada yang mau menyukaimu! Dasar idiot!"

"Hei! Apa maksudmu mengataiku idiot?!"

"Karena kau memang idiot! Coba katakan mengapa kau lakukan itu? Padahal kau juga menyukainya! Kalau alasanmu tak bisa kuterima, maka kau benar-benar idiot!" Ucap JiMin serius. Oh astaga, orang yang lebih pendek dariku ini sungguh tak bisa ditebak. Aku menghela napas pelan. Lalu memandang lurus kedepan.

"Dari awal aku sudah kalah Jim.." Ucapku lirih. "Dari tinggi, otak dan juga basket. Aku sudah kalah dari Junhong.." Aku tersenyum miris setelah mengatakan itu. JiMin mendudukkan dirinya di salah satu bangku. Ia menunduk.

"Kau lemah Tae! Kalau kau berpikiran begitu, itu tandanya kau lemah!" Teriaknya, membuat hatiku nyeri mendengar kata-kata yang keluar dari bibirnya.

"Aku tahu rasanya Jim, aku tahu.. Yang kau rasakan sekarang. Sangat tahu." Kulihat tubuh JiMin mulai bergetar, oh ayolah aku bukannya orang bodoh yang tak tahu situasi apa yang terjadi dengan JiMin. Orang itu pasti menangis. Aku segera menghampirinya dan duduk disampingnya dengan pandangan lurus kedepan, tak ingin menatapnya.

"Kau tahu Jim? Aku bukanlah orang yang melankolis ataupun dramatis. Tapi yaa... Kalau ada yang ingin kau ceritakan. Ceritakanlah padaku, tak usah malu hehe.."

"Kau sungguh tak membantu Tae! Apa hubungannya melankolis atau dramatis dengan menyuruhku bercerita padamu? Konyol!" Ucap JiMin dingin, tapi ia tak terisak? Aku langsung menatapnya.

"Kau benar! Untuk apa aku mengatakan itu?" Ucapku dengan konyolnya mananyakan pada diri sendiri. Kulihat ia tertawa dan menghapus airmatanya.

"Kau tahu Tae? Kenapa aku tak berniat mengatakan bahwa aku menyukai JungKook?" Aku hanya bergumam 'hmm?' menanggapi pertanyaannya. "Karena aku tak ingin merusak hubungan persahabatanku dengannya, aku tak ingin ia berubah menjadi membenciku seperti membencimu." Aku tertawa pelan mendengarnya.

"Dan kau tahu Tae? Aku mengatakan pada JungKook bahwa aku menyukaimu. Demi itu semua." Oh yang ini aku langsung benar-benar tertawa lepas. Ia sedikit bingung atau mungkin kesal karena aku tertawa?

"Kau berbohong padanya atau memang kau sekarang menyukaiku?" Tanyaku sedikit menggodanya, mungkin agar membuat lebih nyaman suasana dan tidak canggung.

"TIDAK! Hatiku hanya untuk JungKook seorang!" Aku semakin tertawa. Menggoda JiMin ternyata asyik juga, tapi lebih asyik menggoda my love JungKook. "Tapi..." JiMin mulai menunduk lagi, kali ini lebih dalam.

"Apa? Kenapa kau menunduk seperti itu lagi? Oh ayolah wajahku lebih tampan daripada sepatu bututmu Jim." Ucapku mencoba mengembalikan suasana nyaman tadi. Karena suasana sekarang lebih mencekam/? Oh baiklah sepertinya ia serius.

"Taehyung-ah! Aku gagal menjadi sahabat yang baik untuk JungKook! Hiks.." Aku tidak tahu aku harus menjawab apa. "Aku sudah tak bisa -hiks- menahan perasaanku lagi -hiks- hingga akhirnya aku terbawa emosi hiks." Oh ayolah jangan menangis seperti itu, aku bingung harus apa?

"Menangislah jika itu membuatmu lega JiMinie.." Ucapku sok bijak. Padahal aku hampir terbawa suasana. Hei ingatlah aku juga menyukai JungKook! Oke ini aneh. Aku menenangkan seseorang yang sedang galau karena orang yang ia sukai atau orang yang aku sayang jadian dengan orang lain karena ulahku! Oh ya ampun siapa yang bodoh disini?
Selagi aku berkelut dengan pikiranku, JiMinpun menangis sejadinya disampingku. Ia akhirnya bercerita kejadian dikelas dan alasan mengapa ia seperti itu. Tangisnya sudah mereda tak seperti tadi yang terisak, namun ia masih menunduk.

"Kenapa tak kau lihat semua pesan dari JungKook?" Tanyaku atau mungkin lebih tepat saran. Karena menurut ceritanya ia tak membuka semua pesan dari JungKook. Dan tak tahu JungKook sudah jadian dengan Junhong.

"Aku.. Aku terlalu sakit hati hingga tak ingin membuka satupun pesan darinya! Tak akan!" Ucapnya dengan nada kesal. Seperti seorang yeoja menurutku.

"Kau itu bodoh atau apa? Mungkin saja kemarin ia meneleponmu dan mengirimi banyak pesan karena memberitahumu tentang ia dengan Junhong. Ayolah buka saja semua pesannya." Ucapku, mungkin otakku sekarang lagi benar hingga berpikiran seperti. Oh baiklah lupakan. Dengan ragu JiMin mengambil ponselnya, menghidupkan ponsel itu yang entah sejak kapan sengaja ia matikan.
Hening untuk beberapa lama. Sebanyak apa JungKook mengirimi ia pesan? Aku yang tadinya menatap pohon diujung sana kini menoleh kearah JiMin yang entah sejak kapan ia sudah menunduk dalam -lagi- dan ponselnya ia genggam erat.

"Astaga Tae... Hiks.." Oh jangan lagi, ya Tuhan..

"Apa? Ada apa Jim? Kenapa kau menangis lagi?" Tanyaku sedikit santai. Satu hal yang aku ketahui hari ini. Ternyata JiMin lemah pada JungKook. Ia lebih lemah dariku dan ia mengatakan aku lemah? Sial.

"Ternyata JungKook -hiks- meminta pendapatku -hiks- ia harus menerima Junhong -hiks- atau tidak hiks.." Ucapnya dengan suara yang sudah serak. Mungkin efek ia sudah menangis tiga kali?

"Nahkan! Kau salah paham! Dan kau harus meminta maaf pada JungKook!"

"SHIREO! Hiks hiks.." Aku menghela napas pelan. Lalu menatapnya.

"JungKook mengirimimu pesan meminta pendapat tentang jawaban atas Junhong bukan?" Tanyaku, ia mengangguk. "Lalu pesan yang lain ia memberitahumu bahwa ia telah menerima Junhong bukan?" Ia mengangguk lagi. "Lalu pesan berikutnya ia pasti khawatir karena kau tak membalas satupun pesan darinya ataupun mengangkat teleponnya?" Ia mengangguk-angguk lagi. Oke, aku frustasi dengan orang ini, tapi tumben otakku benar? Astaga Taehyung, nenek-neneknya juga pasti berpikiran seperti itu! Eh tapi aku tak mau disamakan dengan nenek-nenek! Jangan nenek-nenek! Eum, mungkin seperti bayi? Ya, bayi! Eh, mana mungkin bayi sudah bisa berpikir dan berbicara pula? Ah sudahlah!

"Maka dari itu, kau harus meminta maaf padanya! Tak ada penolakan!" Ucapku dengan tegas atau mungkin sok tegas. Ia mengangguk -lagi-.

"Terimakasih Tae, kau menenangkanku," Ucapnya sembari menghapus airmatanya yang masih mengalir. Aku tersenyum tipis. Ia akhirnya mengangkat wajahnya. Dan wow! Lihatlah wajahnya yang merah, hidung merah, mata sipitnya yang sudah hilang entah kemana/? Ini moment langka yang harus kuabadikan!

"Kurasa... Aku harus melupakan JungKook, hehe.." Ucapnya dengan senyum yang dipaksakan. Aku sedikit iba mendengarnya dan tak jadi memotret wajah imutnya yang sangat langka itu. Oke baiklah cukup bercandanya, ini tak lucu. Oke, aku akan serius. Akupun menariknya kedalam pelukanku. Ia sedikit kaget dengan apa yang kulakukan. Namun, aku mengelus lembut punggungnya hingga ia tak menolak pelukanku.

"Ya.. Lupakanlah hal yang membuatmu sakit dan terbebani. Tapi jika itu penting, pertahankanlah! Sebelum kau menyesal." Ucapanku itu sukses membuatnya menangis lagi dalam pelukanku. Ya.. Kami mengalami hal yang sama. Yaitu jatuh cinta pada orang yang sama, mengalami cinta bertepuk sebelah tangan dan juga patah hati, karena ia sudah bersama cintanya, cinta pertamanya, tak akan ada jalan lagi untuk kami mendapatkan cintanya. Ya.. Lupakan.. Kami harus melupakan cinta kami pada seseorang yang bernama JungKook itu. Tanpa sadar aku meneteskan air terlarang itu dari mataku. Lalu aku mengeratkan pelukanku pada JiMin.

Tuhan.. Aku tahu kami mencintai orang yang sama.. Dan juga merasakan sakit yang sama. Tapi jika ia bahagia, kami tak apa..

Tuhan.. Apapun akan kulakukan itu demi membuat JungKook bahagia. Jika tindakanku ini benar dan membuatnya bahagia. Kuatkanlah aku dan JiMin, ya Tuhan..

Tuhan.. Aku tahu aku bodoh melakukan itu.. Membuatnya bersatu dengan orang yang ia sayang padahal ada aku yang lebih menyayanginya..

Tuhan.. Jagalah JungKook dan buatlah ia bahagia selalu.. Walau tanpa aku.. Walau bukan karenaku.. Walau bukan bahagia denganku..

.
JungKook POV
.

Pagi yang buruk! Sangat buruk! Aku sungguh tak bisa menahan airmataku saat JiMin membentakku dengan kata-kata yang membuat hatiku sangat sakit. Aku keluar kelas untuk mencari JiMin yang menyeret Taehyung entah kemana. Perasaanku berkecamuk.
Bel masuk sudah berdering sekitar 10 menit yang lalu. Aku mengurung diriku ditoilet menenangkan pikiran dan hatiku yang sangat kacau. Aku membasuh wajahku berkali-kali ketika cairan bening itu lolos dari mataku.
Ketika kurasa sudah sedikit tenang, aku keluar dan langsung berlari menuju atap yang kosong, tak ada siapapun. Akhirnya langkahku mengarah kebelakang sekolah. Samar-samar aku mendengar seseorang terisak disana. Dua siswa duduk dibangku taman belakang sekolah membelakangiku. Itu adalah JiMin dan Taehyung.
Oh ya Tuhan kenapa hati ini terasa sakit lagi? Kenapa begitu sesak. Akupun berdiri merapatkan tubuhku dengan tembok gedung olahraga. Dengan was-was aku memperhatikan mereka berdua, walaupun aku tak dapat mendengar percakapan mereka.
Kulihat Taehyung memeluk JiMin. Tuhan tolong aku, kenapa dada kiriku rasanya sakit sekali? Apa ini? Kenapa sesak sekali ya Tuhan?
Napasku tercekat, aku menutup mulutku dengan tanganku agar isakanku tak lolos. Aku melihat Taehyung semakin mengeratkan pelukannya pada JiMin yang mulai membalas pelukan Taehyung. Airmataku kembali jatuh dengan derasnya.. Ini lebih sakit dari perkataan JiMin dikelas tadi. Kakiku lemas hingga aku terperosot duduk dilantai, menekuk lututku dan menangis dalam diam. Airmataku mengalir terus, seakan tak ada yang bisa menghalangi air itu untuk terus keluar.

Tuhan.. Maafkan aku.. Aku baru menyadari.. Bahwa aku lebih mencintai Taehyung daripada Junhong.

Tuhan.. Maafkan aku.. Apakah aku egois? Apakah aku salah telah menyukainya? Menyayanginya? Bahkan mencintainya?

Tuhan.. Maafkan aku.. Maafkan aku yang dengan cepatnya berpindah hati..

Tuhan.. Jika memang jalanku dengan Junhong. Buatlah aku melupakan Taehyung.. Buatlah aku melupakan cintaku padanya.. Buatlah aku kembali mencintai Junhong..

.

.

.

Author POV

Bel istirahatpun tiba. Semua siswa berhamburan ke cafetaria untuk memberi asupan gizi pada perutnya yang meronta-ronta kelaparan. Namun tidak dengan anggota club basket yang harus berlatih karena akan mengikuti lomba antar sekolah.

"Hei Junhong! Kudengar kau sudah pacaran dengan JungKook? Traktir kami lah, yaa sekalian perayaan kecil-kecilan karena kau resmi menjadi Tim Inti." Ucap Hoseok, pemain inti dari kelas 3B. Junhong tersenyum tipis.

"Ya benar. Kau harus traktir kami. Atau kau akan ku masukkan kedalam ring." Sambung YoonGi. YoungJae, Hoseok, dan beberapa anggota basket lainnya yang terdiri dari kelas 1, 2 dan 3pun tertawa mendengar ucapan sang ketua. Tetapi tidak dengan seseorang yang duduk dipojok lapangan sedang sibuk berkutat dengan ponselnya. Junhong berdecak mendengar perkataan YoonGi dan tawa anggota basket. Iapun melirik kepojok lapangan.

"Hei Taehyung! Aku akan mentraktirmu. Kau mau apa?" Teriak Junhong dari tempatnya. Sedangkan yang dipanggil tak menoleh masih sibuk dengan ponselnya. Mengabaikan sekitar.

"YA! Apa-apaan kau Junhong? Kenapa hanya Taehyung yang kau tanyakan?!" YoonGi teriak tidak terima.

"YA! YoonGi jangan berteriak! Kau seperti yeoja saja!" Teriak Hoseok tak mau kalah.

"SIAPA YANG KAU BILANG SEPERTI YEOJA HAH?! TERIAKANMU ITU YANG SEPERTI YEOJA!"

"LIHAT TERIAKANMU LEBIH MEMBAHANA YOONGI!"

"YA! KENAPA KALIAN BERDUA MEMPERMASALAHKAN TERIAK?! KALIAN BERDUA SEPERTI YEOJA!" Seketika lapangan indoor itu hening, setelah Yongguk, sang pelatih mereka datang dan langsung berteriak. Anggota yang lain hanya menggelengkan kepalanya. Sedangkan Junhong memasang wajah datar melihat YoonGi dan Hoseok. Berbeda dengan Taehyung yang justru berdiri dan berjalan kearah pintu keluar dengan santainya.

"Mau kemana kau Taehyung?" Tanya Yongguk pada Taehyung. Seakan hanya angin lewat, Taehyung tak memperdulikan pertanyaan dari pelatihnya itu. Ia butuh bertemu dengan seseorang yang sedari tadi saling menukar pesan dengannya.

.

"Ya! Kalian berdua kemana saja?! Bolos pelajaran hingga jam istirahat selesai!" Teriak Namjoon, sang ketua kelas 2B pada Taehyung dan JiMin. Mengapa JungKook tidak kena marah? JungKook tentu kena omelan sang ketua kelas tersebut, namun mereka berdua tak tahu karena JungKook kembali kekelas terlebih dulu dibanding mereka berdua. Dan mereka berdua tak tahu jika JungKook sama seperti mereka, membolos hingga jam istirahat.

"Aku latihan basket Namjoon, kau harus tahu itu." Ucap Taehyung dengan santainya. Lalu Namjoonpun menatap JiMin yang sedari tadi menunduk, menutupi wajahnya yang sangat buruk. "JiMin menemaniku hingga selesai." Lanjut Taehyung. Mereka semua tak tahu jika Taehyung berbohong, kecuali dua orang yang memang anggota basket. Tapi mereka berdua bungkam.

"Mesra sekali latihan basket ditemani. Apakah kalian sudah jadian?" Tanya JongUp antusias, Taehyung dan JiMin tetap menunduk terdiam. Taehyung lupa jika dikelasnya ada JongUp dan Bambam yang faktanya anggota basket.

"Tentu saja, kami baru jadian hari ini!" Teriak Taehyung dengan lantangnya lalu merangkul mesra JiMin. Yang dirangkulpun hanya diam masih menundukkan kepalanya. Seisi kelaspun langsung bersorak. Tak tahu jika seseorang yang duduk didekat jendela baris kedua dari depan mulai menjatuhkan air matanya lagi. Dengan secepat kilat ia menghapus airmatanya itu.

"Namjoonie~ aku tak enak badan. Bisakah aku ijin pulang?" Ujar seseorang itu dengan suara serak. Semua mata yang ada dikelas itupun menatapnya.

"Tentu Kook, kau sangat terlihat tidak baik-baik saja. Bergegaslah, biar ku antar." Ucap Namjoon, JungKook -yang meminta ijin pulang-pun mengangguk lalu merapihkan barangnya.
Taehyung dan JiMin masih terdiam ditempatnya melihat JungKook dan Namjoon yang sudah keluar kelas. Taehyung merasakan bahu JiMin kembali bergetar. Ia tahu JiMin pasti menangis lagi, iapun mengusap bahunya lembut menenangkannya lalu mengajaknya kebangku mereka.

.

"JungKook?" Panggil Junhong, membuat yang dipanggil dan Namjoon menghentikan langkahnya. Junhongpun menghampiri JungKook dan menatapnya yang menundukkan kepala.

"Ah kebetulan sekali Junhong-ssi, apakag kau sibuk? JungKook sakit, bisakah kau mengantarnya?" Tanya Namjoon. Junhong yang mendengar JungKook'nya' sakit langsung merangkulnya.

"Tentu, kau bisa mengandalkanku." Ucap Junhong yang dibalas senyuman oleh Namjoon lalu memberikan tas yang ia bawa -tas JungKook- ke Junhong.

"Baiklah, Kook cepat sembuh oke? Hati-hati ya Junhong!" Ucap Namjoon lalu kembali kekelas.

"Hei, ada apa hmm?" Tanya Junhong lembut. JungKookpun masih betah menatap lantai, membuat Junhong memegang kedua pipi JungKook dan menyuruhnya menatapnya. Betapa kagetnya Junhong melihat hidung merah, mata merah dan juga bengkak.

"Mengapa kau menangis?"

.

.

.

To Be Continue

.

Annyeong~ maaf bangeeeettt nih aku lama updatenya. Gak sempet huhu.. Ceritanya makin gak jelas ya hihi.. Entar juga jelas kok /? Dan maaaaaaaaaaaffffffff bangeeeeeeeettt aku gak bisa bikin cerita sedih. Jadi maaf yaaa kalo gak nge-feel…

BIG THANKS TO:
Zahee, btskookies, rapp-i, 95kimvi, shinjungsj3, kiddo
YANG UDAH POLOW, FAV, DAN BACA FF YANG MEMBOSANKAN INI DARI AWAL HINGGA NUNGGU AKU UPDATE. AKU SAYANG JUNGKOOK MOAH :3 *PLAK

SO, JEBAL-AH... REVIEW AGAIN~