Disclaimer:

Naruto © Kishimoto Masashi

Lantai Empat © Haruno Aoi

Warning: AU, CRACK, OOC, TYPO(S), hantunya OC, sinetron banget.

.

.

.

Lantai Empat…

Bab IV

.

.

.

Untuk merayakan promosinya, Gaara menuruti permintaan teman-teman sekantornya untuk mengadakan pesta. Karena itu, sekarang Gaara berada di sini; di sebuah tempat karaoke yang menjadi langganan teman-teman sekantornya jika mengadakan pesta. Di sini sudah hadir teman-teman kantor Gaara dari seluruh departemen.

"Hei, kau sudah mabuk," kata pria berambut hitam berkuncir dengan nada malas. Ia yang sedang melipat kedua tangannya di dada hanya memandang Gaara di sampingnya dengan pandangan malas. Sebenarnya ia merasa khawatir melihat teman sekantornya yang tidak terbiasa 'minum' tersebut. Namun Gaara masih memaksakan minuman berkadar alkohol tinggi itu agar masuk ke mulutnya dan mengalir ke lambungnya.

Karena Gaara tidak menghiraukannya, ia menyerah dan kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Ia mendengus malas melihat dan mendengar dua temannya yang sedang karaokean dalam keadaan mabuk—yang terdengar seperti meracau. Ia memutar bola matanya karena si rambut kuning jabrik dan si rambut hitam bob yang dilihatnya menyanyi sambil berpelukan dan terhuyung ke kanan dan ke kiri. Ia mengorek telinganya saat teman-teman kantornya memberikan tepuk tangan dan sorakan kepada dua 'penyanyi' yang gila-gilaan tersebut.

"Oi, Shikamaru," gumam Gaara. Matanya tampak sayu ketika melihat temannya yang punya gaya rambut nanas di samping kirinya. "Istriku hamil…"

"Ya, ya, ya, aku sudah tahu," balas Shikamaru sambil memutar bola matanya. "Beberapa minggu yang lalu kau sudah memberitahuku," lanjutnya seraya menopang dagu.

Shikamaru masih ingat ketika ekspresi datar Gaara digantikan dengan senyum tipis yang jarang memudar. Ia tahu kalau Gaara sangat bahagia saat Hinata dinyatakan hamil. Pasangan yang sudah menikah lebih dari dua tahun itu memang baru mendapatkan kepercayaan untuk menjadi calon orang tua.

"Brengsek! Semuanya brengsek!" umpat Gaara sambil membanting gelas kosongnya di meja.

"Ada apa sih?" tanya Shikamaru dengan nada suara tanpa antusiasnya.

"Shit!" Gaara memegangi kepalanya dan bangkit dengan susah payah. Ia berjalan terhuyung-huyung di antara meja-meja tempat rekan sekerjanya berkumpul. Beberapa kali ia tampak akan tersungkur ke depan. Untungnya beberapa temannya yang masih sadar mau menahannya hingga bisa berdiri tegak kembali.

Shikamaru menghela nafas melihat keadaan Gaara tersebut. Sungguh pemandangan yang sangat jarang dilihatnya. Biasanya jika Gaara ikut menghadiri pesta teman-teman sekantor, ia tidak pernah sampai mabuk. Shikamaru yang hampir menjadi kakak ipar Gaara, tahu kalau Gaara bukanlah peminum. Tanpa diberitahu, ia sudah mengira kalau Gaara sedang mengalami masalah tertentu.

Shikamaru berjalan di belakang Gaara sambil membawakan jas Gaara yang semula teronggok di samping tempat duduk Gaara. Ia semakin melebarkan langkahnya agar bisa mengejar langkah pendek dan tak beraturan Gaara.

"Dasar merepotkan," gumam Shikamaru sambil membopong Gaara yang berjalan ke arah toilet.

Shikamaru menunggu di luar kamar mandi ketika Gaara mengeluarkan semua isi lambungnya. Ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sudah lewat tengah malam. Ino—istrinya—pasti ngomel-ngomel saat ia pulang nanti. Ia harus menyiapkan bantal yang banyak untuk menutupi telinganya jika ingin tidur nyenyak. Lagipula, besok Minggu; ia bisa tidur sepuasnya walaupun sekarang tidur telat.

"Kau itu pria bukan sih? Masa minum segitu sudah mabuk?" gerutu Shikamaru saat Gaara baru muncul dari balik pintu toilet. "Ternyata kau tidak lebih kuat dari Temari," lanjutnya sambil kembali membopong Gaara menuju tempat parkir.

.

.

.

Gaara turun dari mobil merah marunnya yang dikendarai Shikamaru. Setelah Shikamaru menitipkan mobil Gaara pada salah satu security di apartemen Gaara, ia langsung pulang menggunakan taksi. Ia memang tidak membawa mobil karena Gaara yang memaksanya ikut ke tempat karaoke.

Gaara memasuki apartemennya seorang diri. Sebelumnya ia yang menolak tawaran Shikamaru untuk mengantarkannya masuk. Padahal keadaannya tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Ia berjalan terseok-seok ke kiri dan ke kanan sambil sesekali memegangi kepalanya yang terasa berat. Matanya tampak sayu dan terkadang ia mengerjapkan matanya ketika penglihatannya mengabur.

"Malam, Sabaku-san," sapa seorang security dengan name tag Hagane Kotetsu.

"Lebih tepatnya, malam menjelang pagi," ralat temannya yang bernama lengkap Kamizuki Izumo.

Gaara tidak menghiraukan suara-suara di sekitarnya. Ia langsung memasuki lift dan menekan tombol yang bertuliskan angka 4. Ia menyandar pada pojok lift karena tidak bisa menahan kepalanya yang serasa ditindih batu.

Gaara melirik ke kiri ketika melihat sekelebat sosok selain dirinya di dalam lift. Padahal sebelumnya ia yakin kalau ia sendirian ketika lift merangkak naik. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali karena meragukan penglihatannya sendiri.

Gaara menyeringai setelah menyadari kalau ia sedang mabuk. Ia menganggap sosok di sampingnya sebagai bagian dari halusinasinya, karena ia tidak melihat pantulan orang lain di pintu lift. Hanya ada dirinya. Itu yang dilihat Gaara. Walaupun sebenarnya masih ada sosok di sampingnya, Gaara malah tertawa kecil seolah menganggapnya sebagai kegilaannya sendiri.

Setelah keluar dari lift, Gaara merapat ke dinding agar ia tidak terjatuh ketika berjalan. Ia merayapkan tangannya melenusuri dinding menuju pintu bernomor 121. Beberapa langkah ia berjalan, ia merasa tengkuknya meremang. Gaara merasakan hawa dingin yang dibawa sosok wanita yang berjalan cepat melewatinya. Tetangga baru, pikir Gaara sambil mengerjapkan matanya. Setelah sosok berambut panjang itu semakin menjauh, Gaara bisa melihat bagian bawah tubuh sosok itu yang… tanpa kaki? Gaara kembali menyeringai karena tidak mempercayai penglihatannya.

Gaara semakin mendekati pintu kediamannya ketika ia merasakan tepukan di pundaknya. Ia berhenti dan menoleh ke kanan, asal tepukan tersebut. Ia hanya melihat lorong apartemen yang bercahaya temaram.

Gaara terbelalak saat kembali mengarahkan pandangannya ke depan. Sebentuk wajah penuh darah dengan bola mata keluar yang menyambut penglihatannya. Gaara meneguk ludah dan menahan nafas ketika sosok tersebut menjulurkan lidah panjang. Gaara ingin menganggapnya sebagai halusinasi lagi, tetapi yang ini rasanya begitu nyata; ia bisa merasakan dagunya basah karena sapuan lidah sosok di depannya.

Gaara menutup matanya, sampai ia tidak merasakan hawa dingin yang semula menyelimutinya. Ia hanya sendiri ketika membuka matanya lagi. Ia mengatur nafasnya yang sempat memburu. Ia yang tak ingin ambil pusing, meneruskan langkahnya hingga berdiri di depan pintu kediamannya yang bercat putih. Sambil menyandarkan dahinya di daun pintu, ia merogoh kunci yang seingatnya ia kantongi di saku celananya. Ia segera membuka pintu rumahnya dan menguncinya kembali. Ia berjalan ke ruang tamunya yang tanpa diterangi lampu. Setelah menemukan sofanya, ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke sana.

.

.

.

Gaara terpaksa membuka matanya yang terasa lengket ketika mendengar suara sesuatu berbahan kayu yang berbenturan dengan benda tertentu. Ia mengerjapkan mata tanpa bangun dari sofa merahnya. Menurut Gaara, suara yang didengarnya tidak asing lagi. Ia teringat Hinata yang mengiris sayur di atas talenan kayu.

Gaara yang tidurnya merasa terusik, langsung naik darah. Apalagi ia masih hangover dan kurang tidur. Belum lagi masalahnya dengan Hinata—tentu ia tidak bisa melupakannya.

"Berisik!" umpatnya penuh amarah tanpa membuka mata.

Kalau tidur Gaara terusik oleh—yang menurutnya—bunyi yang dihasilkan talenan kayu yang berbenturan dengan pisau, tidur Hinata terusik oleh suara Gaara. Hinata kembali merasakan sakit di belakang kepalanya setelah terbangun dari tidurnya. Ia juga merasa seluruh tulangnya kaku dan sulit untuk digerakkan. Lebih tepatnya, ia merasa lemas sampai sulit untuk menggerakkan anggota tubuhnya.

Pelan-pelan, Hinata bangkit walaupun dengan susah payah dan menahan rasa sakit di bagian tulang belakang; punggung dan pinggangnya. Masih dengan perlahan, ia menurunkan kedua kakinya dari tempat tidur. Ia masih duduk di tepi tempat tidur ketika melihat obat-obat yang ada di meja kecilnya. Ia teringat perkataan dokter kandungannya, yang menyuruhnya untuk meminum semua obatnya setelah makan. Di samping obatnya, Hinata juga melihat permen jahe yang biasanya ia gunakan untuk mengurangi mual. Ia membukanya sebungkus dan memakannya. Pasti Hanabi, batin Hinata. Karena seingatnya, kemarin ia sudah menghabiskan permen jahenya.

Hinata berdiri dan menegakkan badannya. Ia mencoba berjalan walaupun bagian belakang tubuhnya tidak bisa diajak kompromi. Ia merasakan sakit yang sangat pada bagian pinggangnya, yang bertambah sakit ketika ia berjalan. Kenapa sakitnya sampai ke pinggang? Hinata bertanya-tanya dalam hati. Dengan sedikit menyeret kaki, Hinata berjalan menuju ruang tamunya. Kelihatannya ia mengabaikan perintah dokter yang menyarankannya agar terus berbaring di tempat tidur.

"Gaara-san…" panggilnya ketika melihat Gaara tidur di sofa tanpa melepas sepatu. "Kenapa tidur di sini?" gumam Hinata dengan suara pelan sambil memungut jas Gaara yang terabaikan di lantai. Hinata kembali merasakan sakit ketika membungkukkan badannya. Ia memejamkan mata dan menekan giginya kuat-kuat, agar ia bisa melupakan rasa sakitnya.

Hinata bisa mencium bau tembakau dan alkohol dari jas Gaara. Selama mengenal Gaara, ia belum pernah melihat Gaara merokok. Gaara memang bukan perokok. Sejak kapan? Apa karena kemarin? Hinata membatin sambil memperhatikan raut wajah Gaara yang terlihat tidak nyaman dalam tidurnya. Nafas Gaara tersengal-sengal dan mulutnya terlihat kering. Hinata langsung menyimpulkan bahwa Gaara telah mengasup minuman beralkohol.

"Gaara-san…" gumamnya sambil menggenggam erat jas Gaara. Ia meletakkan jas hitam Gaara di sandaran sofa terdekat. Kemudian, ia melepas sepatu Gaara dengan pelan agar tidak mengganggu pemiliknya. Ia juga melepas dasi Gaara yang sudah longgar dan ikat pinggang yang masih melingkar kuat di pinggang Gaara. Kemudian, ia memberanikan diri masuk ke kamar mandi untuk mengambil minyak lavender. Hinata mengoleskan sedikit minyak menenangkan tersebut di sekitar lubang hidung Gaara. Dengan semua itu, ia berharap tidur Gaara bisa lebih nyenyak. Setahunya, minyak lavender bisa mengatasi efek buruk yang ditimbulkan minuman beralkohol.

Hinata kembali ke kamar mandi karena dorongan untuk mengeluarkan isi lambungnya. Itu merupakan ritual paginya sejak beberapa minggu yang lalu. Timbul rasa sakit dari tulang belakangnya saat ia kembali membungkukkan badannya. Sungguh menyiksa, meskipun Hinata tidak mengeluh dan hanya menyimpan rasa sakitnya seorang sendiri.

Hinata melihat Gaara yang duduk sambil memegangi kepala saat ia baru keluar dari kamar mandi. Ia melangkahkan kakinya mendekati suaminya tersebut sambil tersenyum tipis.

"Gaara-san…" Hinata menepuk pelan pundak Gaara. Ia tersentak karena tangannya ditepis Gaara dengan kasar. Ia masih mencoba untuk tersenyum. "Mau kubuatkan teh peppermint?"

Teh peppermint. Hinata mengingatnya sebagai minuman yang dipilih Gaara di saat pertama kali mereka makan bersama. Setahu Hinata, teh peppermint juga bisa mengatasi hangover.

"Urusi saja komikmu, agar kau bisa segera bertemu editormu!" bentak Gaara sambil berjalan ke dapur. Ia mengambil air putih dari kulkas dan langsung meneguknya untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering.

Hinata tidak bisa menutupi kesedihannya. Gaara tidak lagi menggunakan 'kamu', tapi digantikan dengan 'kau', yang menurut Hinata terdengar lebih kasar. Ia mengikuti Gaara karena ia harus segera meluruskan kesalahpahaman suaminya tersebut. "Yang kemarin itu—"

"Apa menurutmu menyenangkan, melihatmu yang hampir bugil berada dalam pelukan pria lain?" Gaara semakin meninggikan suaranya, bahkan ia memandang Hinata dengan tatapan yang tajam. Ia mendecih ketika melihat pipi Hinata yang dilalui air mata. Semarah apapun Gaara, ia tetap saja tidak sanggup melihat wanita menangis, apalagi jika itu adalah Hinata.

"Waktu Gaara-san datang, aku memang dari kamar mandi. Tapi aku—"

"Ya, ya, tapi aku tidak tahu apa yang kalian lakukan sebelumnya." Lagi-lagi Gaara memotong ucapan Hinata tanpa mau mendengar penjelasannya.

Hinata tidak bisa menahan air matanya yang turun semakin deras. Secara tidak langsung, suaminya telah menuduhnya berselingkuh dan tidur dengan pria lain.

"Tidak sabar menungguku pulang, hah? Kau tidak puas hanya dengan suamimu sendiri?" Gaara menarik salah satu sudut bibirnya. "Pelacur!" umpatnya tepat di depan wajah Hinata.

.

.

.

Bersambung?

.

.

.

Terima kasih kepada:

Hina bee lover, Shin-chan Yagami Wakwaw, Sora Hinase, Ekha, MeraiKudo, Sanada, Shaniechan, mEwluvLy-hiNano, Dindahatake, Kingi. Dawn, Nerazzuri, Lollytha-chan, Yuki no Kitsune, Uyung-chan, yuuaja, mayra gaara, Kazuki kobayakawa, yuki yuki-chan, Vipris

.

.

.

Maaf dan Terima Kasih…

20 Februari 2011

CnC? RnR?