Akhirnya ujian selesai. Sebenarnya belum sepenuhnya selesai, tapi setidaknya ada sedikit waktu longgar. Jadi, Vee manfaatin buat update fic ini.

Declaimer © Naruto is Masashi Kishimoto's

Story : Be My Friend, please!

Warnings : Sesuatu mungkin saja terjadi *hah?*

Selamat membaca!

Malam semakin larut. Jalanan pun mulai membersihkan diri. Para penikmat hanami malam sedikit demi sedikit berkurang. Hingga segelintir orang yang masih ada bisa dihitung jari.

Ino masih diam di sana. Segelas minuman hangat yang tinggal sedikit tergenggam rapi dalam tangannya. Minuman pemberian pemilik kedai ramen tadi seolah menjadi tumpuan hidupnya di malam yang mulai mendinging ini. Bahkan si pemilik kedai sudah akan menutup kedainya, tapi Ino masih setia menunggu di kursi depan kedai itu. Entah apa yang membuatnya menunggu, kakinya enggan digerakkan. Ino tengah berusaha mencoba untuk mempercayai kata-kata pemilik kedai itu.

Setidaknya hingga sekarang.

Diedarkannya pandangannya ke arah datangnya ia tadi. Tapi manik biru itu belum juga menangkap tiga siluet yang ditungguinya. Ia pun menunduk kecewa.

"Kau tidak pulang, Nak?" tanya wanita pemilik kedai yang kini tengah mengunci pintu geser kedainya sambil menatap Ino.

Ino pun melihat jam tangannya kemudian menatap wanita lagi itu sambil berdiri.

"Saya rasa begitu. Saya permisi dulu. Terimakasih minumannya." Ino membungkuk sebentar kemudian berbalik ke arah berlawanan dari asal kedatangannya tadi.

Angin malam seketika berhembus begitu ia menjauh dari kafe itu, membuatnya merekatkan jaket-bajunya. Kali ini Ino benar-benar merutuki keterlupaannya membawa syal.

Pikirannya seketika berjalan ke apartemennya. Ia teringat ayahnya. Dan lagi-lagi Ino merutuki dirinya yang melupakan sebuah cara dari berbagai cara agar ia bisa keluar dari tempat ini dan pulang.

Kenapa ia tak menelpon ayahnya sedari tadi?

Dirogohnya tas selempang kecilnya mencari benda kotak yang bisa menghubungkannya dengan ayahnya itu. Ia terus berjalan sambil mencari nomor ayahnya. Begitu ketemu, ia memilih option message.

Kemudian, ia mendongak lagi, memastikan tiga sosok yang walaupun ia masih enggan mengakuinya, tapi selalu mengisi benaknya. Ia khawatir.

Sementara kepalanya berputar ke sana kemari, tangannya dengan lihainya bermain di keypad ponselnya menulis pesan yang dihafalnya luar kepala. Tapi tiba-tiba, kakinya terpeleset karena tak menyadari adanya beberapa anak tangga kecil di jalanan itu.

"Akh!"

Membuatnya terjatuh dan lututnya bertabrakan langsung dengan salah satu tangga kecil itu.

"Aww!" ia meringis kesakitan. Bahkan ponselnya yang kini berkedip-kedip tak jauh dari posisinya tak dihiraukannya. Kaki kanannya sakit bukan main. Bagaimana tidak? Bagian persendian kakinya terbentur keras, tentu orang akan berekspresi sama dengan Ino bila mengalami hal yang sama. Matanya menutup sebelah, sementara satunya lagi mengamati darah segar yang mengalir dari bawah lutut itu, menimbulkan perih di kulitnya.

Perlahan, digerakkannya kakinya itu dan seketika kakinya itu seolah kesetrum listrik. Tanpa sadar ia sudah menggigit bibirnya, menahan rasa sakit yang semakin bertambah itu. Ia tak yakin bisa berjalan dengan keadaan kaki seperti itu. Apalagi berjalan, berdiri pun ia ragu.

Dan satu pertanyaan yang jelas terngiang di benaknya. 'Bagaimana caranya pulang?'

Ia kembali mengedarkan pandangannya. Baru ia sadari, tempat jatuhnya kini sudah tak sama kondisinya dengan sebelum ia jatuh. Tempat itu lebih rendah dan entah menuju kemana. Ada pembatas berupa tumbuhan merambat yang membuat tempatnya tak terlihat dari jalanan yang lebih tinggi. Dan hanya dari atas tangga serta penerangan yang redup itu yang bisa membuatnya dilihat orang lain. Tapi lebar tangga itu hanya berkisar satu meter. Ia tak yakin orang-orang akan menyadarinya.

Ditengoknya jam tangannya. Dan pikirannya seketika meliar. Perasaannya tak lagi merasa nyaman. Ia penduduk baru di kota itu, ia tak tahu seluk beluk tempat itu, terutama, dimana ia sekarang. Apa yang akan terjadi pada seorang gadis sendirian di malam hari seperti ini? Kemana ia harus pergi?

Ino..mulai takut.

%%%

"Tenang paman. Kami akan mencarinya," kata Sakura kemudian menutup panggilan ponsel dari Yamanaka Inoichi. Ia benar-benar khawatir sekarang. Penikmat yozakura semakin sedikit. Malam pun semakin menampakkan kelamnya, sampai ia yakin, bila lampu-lampu di sekitar tempat ia dan kedua temannya berdiri dimatikan, pasti ia takkan bisa melihat apa-apa.

"Aku sangat khawatir. Kita harus cepat mencarinya," katanya gusar.

Walau kedua laki-laki di depannya tak menunjukkan ekspresi apa-apa, tapi dari lubuk hati mereka, mereka ikut merasakan hal yang sama dengan si gadis.

"Ayo kembali mencari!" akhirnya, Sakura beserta kedua temannya, Sasuke dan Naruto, kembali melanjutkan pencarian yang sempat tertunda karena lelah dan panggilan Inoichi tadi.

Mereka sudah mengelilingi area yozakura hingga ke sudut-sudut toko. Mereka juga sudah mengelilingi jembatan, tempat kemungkinan Ino berada, tapi tetap tak mendapati sosok gadis pirang itu. Dan kini tinggal satu arah yang belum mereka jelajahi, bagian selatan. Tempat paling jauh dari kota.

Mereka menoleh ke sana kemari. Sama seperti sebelumnya, kedai-kedai di sekitar mereka sudah mulai tutup, bahkan banyak yang sudah tutup total. Dan tentu saja, hal itu semakin membuat ketiganya khawatir.

"Sakura-chan! Lebih baik kau pulang saja. Biar kami yang mencarinya. Orang tuamu pasti juga menunggumu di rumah." Naruto tiba-tiba berusul. Sakura masih fokus dengan area sekitar mereka.

"Tidak bisa. Kita datang kemari bersama, pulang pun harus bersama. Aku ingin menemukan Ino," jawabnya.

Akhirnya Naruto hanya bisa menghela nafas pasrah. Percuma berdebat dengan Sakura di saat seperti ini.

"Lebih baik kita tanya ibu itu. Mungkin saja dia melihat Ino." kali ini Sasuke bicara. Ia langsung beranjak mendekati seorang paruh baya yang berjalan ke arah mereka, diikuti kedua temannya di belakangnya.

Ia berhenti di depan orang itu dan langsung bertanya, "Sumimasen. Apa Anda melihat seorang gadis remaja berambut pirang sendirian?"

Wanita itu tampak berpikir.

"Kami kehilangan teman kami." Sakura menambah. Matanya menyiratkan penuh harap.

"Jadi kalian temannya?" wanita itu menjawab sambil tersenyum, membuat ketiga remaja itu tersentak seketika.

"Anda melihatnya? Dimana dia sekarang, Bi?" Sakura terlihat antusias.

Wanita itu tersenyum semakin lebar. "Dia menunggu kalian sedari tadi. Dia berjalan ke arah sana." Wanita itu menunjuk arah selatan.

Sakura, Naruto, dan Sasuke menggangguk hormat, kemudian pergi ke arah yang ditunjukkan wanita tadi. Kali ini mereka tak hanya berjalan, tapi mereka berlari. Berharap Ino tak semakin jauh dari mereka.

Setelah hampir 300 meter berlari, akhirnya mereka berhenti sejenak sambil mengatur nafas yang memburu. Kekhawatiran masih mengisi relung hati Sakura. Ia makin tak sabar untuk menemukan Ino.

"Ayo kembali mencari!" perintah Sakura lagi yang mendapat anggukan singkat dari Naruto dan Sasuke.

Namun, langkah mereka tiba-tiba terhenti oleh suara ketukan teratur entah dari apa.

TUK

TUK

TUK

Mereka terdiam sejenak, memikirkan kemungkinan bunyi apa itu.

"Dari sana!" perhatian Sakura dan Naruto teralihkan oleh sahutan Sasuke tiba-tiba. Ia menunjuk sebuah jalan kecil yang minim penerangan tak jauh di depan mereka.

Sakura dan Naruto mengangguk. Mereka kemudian mengikuti langkah Sasuke. Semakin dekat, mereka semakin sadar, tempat itu bukanlah jalanan kecil yang datar tapi lebih rendah dan dihubungkan oleh tangga-tangga kecil. Sontak saja, mata Sakura melebar ketika mendapati teman yang dicarinya tengah terduduk di tepi jalan itu sambil menatap mereka. Sebelah tangannya memegang sepatu boot heels-nya yang ia yakini sebagai sumber suara ketukan tadi.

Tanpa berpikir panjang lagi, ia langsung melesat mendekati gadis itu dan tentu saja akan memeluknya ketika tiba-tiba ia menyadari sesuatu, membuatnya urung memeluk gadis itu.

"Ino-chan? Apa yang terjadi dengan kakimu?" tanyanya khawatir.

Ino sedikit mengalihkan perhatiannya dari mimik khawatir Sakura dan menjawab lirih, "Aku..terjatuh."

"Bagaimana bisa? Kau harus lebih hati-hati Ino-chan. Ah! Kalau tak salah aku bawa tisu." Sakura langsung merogoh tas kecilnya dan mengambil tisu basah dari sana. Ia menatap Ino sejenak.

"Agak sakit. Tapi bertahanlah." tanpa menunggu persetujuan Ino, ia langsung mengusap luka di lutut Ino pelan dengan tisu itu.

Dan karena posisinya sangat dekat dengan Ino, ia bisa mendengar desahan tertahankan dari Ino, membuatnya harus mengusap luka itu semakin perlahan.

Sementara Ino, di sela-sela rasa sakitnya, ia menatap gadis pink itu diam. Ia bisa melihat dengan sangat jelas peluh yang membanjiri kening gadis itu. Mungkinkah karena mereka tak henti-hentinya mencarinya sedari tadi?

Matanya beralih tepat ke sorot mata gadis pink itu. Keseriusan jelas terpancar darinya. Dan Ino yakin, dengan sangat yakin, bahwa gadis itulah yang paling mengkhawatirkannya diantara mereka bertiga. Kini ia akui, Sakura memang jujur. Tak tersimpan kebohongan di sorot matanya. Berbeda sekali dengan teman-temannya dulu.

Hanya saja, setelah adanya bukti-bukti itu, apa ia akan tetap ragu? Apa ia akan tetap bersikukuh pada pendiriannya?

"Sudah selesai. Darahnya sudah tak mengalir lagi." kata-kata Sakura membuyarkan lamunannya. Ia menatap bekas luka di lututnya yang sudah lebih bersih dari sebelumnya.

"Ayo kita segera pulang dan mengobati lukamu, agar lukamu tidak terinfeksi." Sakura tersenyum kemudian berdiri sambil mengulurkan tangannya.

Ino sudah akan bilang kalau ia tak bisa berdiri ketika suara Sasuke lebih dulu menginterupsi, "Dia tak bisa berjalan, Sakura. Kalau dia bisa berjalan, dia tak mungkin memukul dinding itu dengan sepatunya, hanya untuk orang lain menyadarinya."

Sakura sepertinya baru tersadar.

"Ah iya. Benar juga."

Sasuke lantas beranjak ke samping kiri Ino. Diraihnya tangan Ino, bersiap membopongnya.

"Dobe! Jangan diam saja! Bantu aku!" perintah Sasuke.

Naruto sedikit tersentak. "Ah ya." Kemudian ia mengambil posisi di samping kanan Ino. Seperti Sasuke, ia bersiap membuat Ino berdiri.

"Hati-hati!" ujar Sakura.

Setelah melalui usaha yang tidak mudah, akhirnya mereka bisa membuat Ino berdiri, walaupun hanya dengan satu kaki. Sasuke merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan ponsel Ino lalu mengulurkannya pada Ino.

"Dari tadi paman Inoichi menghubungimu. Dan aku tahu kenapa kau tak menjawabnya," kata Sasuke.

Ino mengambil benda kotak itu dengan sebelah tangannya yang sudah tak dibopong Naruto lagi. Ia mencoba memencetnya, namun tak muncul apapun dari layar ponsel itu.

"Rusak?" tanya Ino memastikan.

Sasuke mengangguk sekilas. "Mungkin."

"Apa kita mesti memanggil taksi agar Ino bisa pulang?" tanya Sakura.

"Tidak perlu! Biar aku saja yang menggendongnya," sahut Sasuke tiba-tiba. Ia memberi isyarat pada Naruto dan Sakura untuk menahan tubuh Ino agar tak terjatuh, sementara ia berbalik kemudian menggendong Ino ala piggy-ride.

Ino hanya diam menurut. Protes pun tak mungkin sekarang. Lagipula, ia merasa lelah untuk melakukannya. Walaupun ia hampir tak melakukan apa-apa tadi. Mungkin emosinya yang lelah.

Dengan ekstra hati-hati seperti tadi, akhirnya Sasuke berhasil menaikkan Ino di punggungnya. Sempat lutut Ino merasa sakit tapi berusaha ia tahan. Ia tak ingin merepotkan orang lain lebih dari ini.

Mereka pun kembali berjalan. Kali ini terkesan sunyi. Naruto dan Sakura tak biasa kehilangan kata-kata, tapi kali ini berbeda. Dan Ino cukup merasa aneh karenanya.

Meskipun begitu, ia tetap enggan menanyakannya. Biar mereka sendiri yang memulai.

"Ino-chan?" panggil Sakura setelah agak lama.

Ino menoleh. "Hn?"

"Boleh aku tahu?"

"Apa?" mungkin karena lelah, Ino jadi tak sedingin sebelumnya. Lagipula, mereka juga telah menolongnya. Terutama mereka tak henti-hentinya mencarinya hingga malam yang sangat larut di saat mereka sendiri bisa pulang ke rumah tanpa harus mempedulikannya. Dan Ino harus mengakuinya, hatinya berubah sangat ringan ketika ia melihat wajah-wajah mereka di jalanan kecil tadi.

Ia senang, di antara semua orang yang mungkin melewati tempat itu, mereka bertigalah yang berhasil menemukannya. Yang pasti karena itulah ia lebih rileks sekarang.

"Kenapa tadi kau berlari? Apa kau tak menyukai pertunjukannya?" tapi pertanyaan Sakura kali ini sukses membuatnya kembali tegang. Alasannya berlari dari mereka adalah karena ia tak ingin merasakan hal yang sama seperti masa lalu. Mereka akan melupakannya setelah ia pergi nanti, mereka akan lupa siapa Ino bagi mereka. Siapa pun, termasuk Ino, pasti tak menginginkan pertemanan menusuk itu terjadi.

Ia mengalihkan perhatiannya dari Sakura.

"Bukan apa-apa," jawabnya lemah.

"Benar bukan apa-apa?" tanya Sakura kembali.

"Benar kok."

Pembicaraan pun berakhir, digantikan kesunyian yang lumayan agak lama. Ino terbuai dalam pertarungan benaknya. Awalnya ia akan berterimakasih walaupun sebenarnya sangat enggan sekali. Tapi begitu topik menyesakkan itu kembali diungkit, semangatnya seketika luntur. Walaupun ia sulit mengakuinya sebagai 'semangat'.

Dan harusnya Sakura mengerti itu.

"Aku minta maaf."

Baiklah, mungkin gadis itu memang benar-benar mengerti.

Ino kembali menatap Sakura.

"Tidak apa-apa," ucap Ino.

Sakura mengangkat tangannya, meraih salah satu tangan Ino yang memeluk leher Sasuke sebagai tumpuan, membuat Ino mengerutkan alis heran.

Ia menggenggam tangan Ino hangat. Bibirnya membentuk senyum tulus, senyum yang pernah ditunjukkannya padanya saat mengunjungi kediaman Tsunade dulu, membuatnya kembali mematung.

"Aku senang kau baik-baik saja, Ino-chan," kata Sakura.

"Sakura-chan! Kenapa dia terus? Perhatikan aku juga dong," rancau Naruto. Sejak tadi pemuda itu diam saja. Entah apa yang dipikirkannya, tak ada yang tahu.

"Kau baik-baik saja, Naruto," balas Sakura sambil memberikan tatapan jengkelnya pada pemuda jabrik itu.

"Jadi aku harus tidak baik-baik saja begitu?"

"Mungkin."

Naruto yang tadinya berada di samping Sakura kini beralih ke kiri Sasuke dan Ino, membuat Sasuke dan Ino berada di tengah di antara mereka.

Ia lantas menatap Ino kesal.

"Hei, Ino! Katakan bagaimana kau terjatuh tadi? Aku akan menirumu," geram Naruto.

"Sakura, harusnya kau tahu, tanpa membuatnya terjatuh, dia sudah memprihatinkan." Sasuke yang juga terdiam sedari tadi akhirnya angkat bicara.

"Benar juga. Harusnya aku menyadarinya." Sakura terkikik geli. Sementara Naruto merengut semakin kesal. Walaupun Ino tak bisa melihat Sasuke dari balik punggung pemuda itu, tapi ia tahu Sasuke tengah berseringai.

Dan pemandangan di depannya ini terlihat lucu. Bila Ino tak sadar diri, ia pasti sudah ikut tertawa. Ino ingin sekali tertawa, tapi entah ego atau mungkin keraguannya masih ada, hingga ia sulit mengeluarkan tawanya.

Akhirnya, hanya senyuman dan suara tertahan yang mewakili rasa senangnya.

"Keluarkan saja," suara Sasuke yang pelan mengalihkan perhatiannya.

"Eh?"

"Kalau memang ingin tertawa, tertawa saja. Atau kau akan tersedak."

"Egh."

Dan Ino benar-benar tersedak setelahnya, diikuti suara terkikik kecil yang tanpa disadarinya keluar dari bibirnya. Bagaimana tidak? Pernyataan itu lucu dan cukup membuatnya tersentak.

"Lihat! Bintangnya banyak sekali. Mereka terlihat indah, bukan?" kata Sakura tiba-tiba.

Sasuke, Naruto, dan Ino mengikuti arah pandang Sakura. Benar sekali, bintangnya beribu-ribu, tersebar memenuhi langit malam, dan berkelip-kelip bagai lampu gantung.

Mengagumkan.

"Mereka sangat banyak. Baru kali ini aku menyadari bintang-bintang itu," komentar Naruto.

"Apalagi dinikmati bersama seperti ini. Sangat menyenangkan," tambah Sakura.

Walau lelah dan dingin menyelimuti mereka, tapi kebersamaan mereka, membuat dua hal itu tak terlalu terasa. Dan walau mereka tak dapat menikmati yozakura sesuai rencana, tapi mereka tak menyesal. Mereka cukup menikmati saat ini. Ino harus mengakuinya, ia juga menikmatinya. Tapi, satu hal yang selalu tak membuatnya nyaman di saat-saat seperti ini.

Masih dengan menatap bintang-bintang itu, Ino berucap, "Aku..masih belum mengerti. Kenapa kalian melakukan semua ini? Kenapa kalian tak pulang saja tadi? Apa aku kurang jahat terhadap kalian?"

Sunyi pun seketika mengisi. Pernyataan itu sukses membuat ketiga teman Ino terdiam. Sejak tadi Sakura tak henti-hentinya mendekatinya, ia ingin sekali mengucapkan kalimat-kalimat itu. Ia ingin mengetahui jawaban atas pertanyaan yang selama ini mengganggunya. Dan kali ini, ia memberanikan diri untuk meminta jawaban.

Ino beralih menatap Sakura yang terlihat ragu-ragu untuk menjawab pertanyaannya.

"Aku takkan marah seperti dulu," kata Ino.

Sakura seketika tersenyum.

"Ino tak jahat kok. Dan kalau kita kemari bersama, maka pulang pun harus bersama."

Ino terdiam menunggu Sakura melanjutkan kalimatnya.

"Dan sebenarnya..aku penasaran kenapa Ino-chan selalu bersikap seperti itu."

"Aku juga," sahut Naruto.

Waktu pun jadi terasa lambat di antara mereka.

"Kalau aku memberitahu kalian, apa yang akan kalian lakukan?" tanya Ino serius.

Sakura membalas tatapan itu penuh arti.

"Aku tak tahu. Tapi, apa kau masih ingat apa yang kita bicarakan waktu itu, Ino-chan? Kau tahu, masih ada satu hal yang sebenarnya ingin kukatakan padamu."

Semuanya terdiam. Dan Ino merasa sedikit tegang menunggu.

"Kau tak perlu menjadi temanku. Tapi..biarkan aku jadi temanmu."

%%%

Sunyi menguar di udara. Hanya suara langkah kaki yang teratur dari seorang remaja laki-laki. Padahal ia tak sendiri.

"Bagaimana?" tanya remaja itu.

Yang ditanya hanya menyandarkan kepalanya di pundak remaja itu. Yang jelas, karena dia tengah digendong di punggung remaja itu.

"Aku tak tahu," jawab si gadis yang terdengar lesu.

Remaja laki-laki itu sepertinya cukup mengerti. Jadi diam adalah hal yang dilakukannya untuk memberi si gadis waktu berpikir.

Mereka berdua barusaja berpisah dengan kedua teman mereka yang lain. Sakura, salah satu teman mereka mendapat panggilan orang tuanya untuk pulang.

Sementara yang satunya lagi tentu menemani gadis itu pulang. Tinggallah mereka berdua yang mengisi jalanan malam itu.

"Kenapa kau tak pulang saja? Aku bisa meminta ayahku menjemput," Ino, gadis itu akhirnya bicara.

"Kau mengusirku?"

"Tidak. Tapi ini sudah larut malam."

"Apa kau sedang mengalihkan pembicaraan?" tanya Sasuke. Dan itu membuat mata Ino menyipit.

"Jangan bermain-main, di saat..di saat seperti ini. Aku‒ eh?" Sasuke tiba-tiba menurunkan Ino, tapi dengan hati-hati. Ditahannya kedua tangan Ino yang masih bertumpu di bahunya. Lalu ia berbalik pelan, memastikan Ino yang berdiri di satu kaki tak kehilangan keseimbangannya ketika ia berbalik.

Dan ia bisa menatap mimik bertanya Ino kepadanya kemudian. Di samping kedua tangannya yang menahan keseimbangan gadis itu, ia menatapnya penuh intimidasi.

"Apa kau bisa pulang sekarang? Kalau aku melepaskanmu, apa kau bisa pulang sekarang?" gertaknya. Ia sungguh tak tahan dengan gadis itu.

"Kheh. Kau tentu bisa pulang sendiri. Itulah yang kau katakan tadi, bukan?"

Ino menggeleng tak percaya. Ia tak mengira kata-kata it keluar dari pemuda dingin di depannya kini. Matanya beralih pada tangannya yang kini perlahan dilepas. Keseimbangannya seketika menghilang dan ia harus berganti meraih tangan pemuda itu sebelum terjatuh.

Akhirnya, ia kembali menatap pemuda itu. Tapi pemuda itu masih saja menatapnya dingin. Wajah heran Ino kini tergantikan dengan mimik memelas.

Meskipun ia tahu, pemuda itu ingin menyadarkannya, tapi haruskah sekarang? Ia cukup dibingungkan dengan perasaannya dan keraguannya, tidak bisakah pemuda itu tidak menambah beban pikirannya?

Dan ia juga tahu, kalau sampai tangan itu terlepas dari tangannya, sudah dipastikan ia akan terjatuh.

Tapi, nampaknya pemuda itu benar-benar berniat ingin mengakhiri semua ini. Perlahan, Sasuke melepas tangan Ino yang berpegangan pada lengannya. Dan Ino menatapnya tak percaya. Ayolah, apa Sasuke serius? Apa harus di saat-saat seperti ini?

Waktu yang ditakutinya akhirnya tiba. Tangan Ino akhirnya terlepas sepenuhnya dari Sasuke. Kemudian, pemuda itu berbalik dan berjalan meninggalkan Ino.

Ino tak tahu seberapa lama lagi ia bisa menahan keseimbangannya di atas satu kaki. Dan akhirnya..

BRUK

ia terjatuh.

Sasuke terus berjalan tanpa menoleh. Pemuda itu tak tahu lagi bagaimana bicara pada perempuan keras kepala itu.

Ino terus menatap nanas langkah pelan Sasuke. Gadis itu punya ego yang sangat tinggi, hingga ia sama sekali tak bersuara hanya untuk memanggil pemuda itu. Karena baginya, memanggil pemuda itu sama saja meminta bantuan. Dan itu benar-benar berlawanan dengan apa yang selama ini ia lakukan pada mereka.

Ino menunduk. Sekarang bagaimana caranya ia pulang? Ia tak mungkin menghubungi ayahnya ketika ponselnya tak berkedip sama sekali.

Tapi, saat merenungkan apa yang telah dilakukan mereka bertiga padanya, masihkah ia egois?

Seketika itu ia mendongak.

"CHOTTO MATTE!" teriaknya.

Tapi itu tak menghentikan langkah Sasuke sedikit pun.

"MATTE!"

Sasuke tetap berjalan. Dan Ino hanya bisa menunduk meratapi keegoisannya.

Sasuke..pemuda itu berusaha mengingatkannya arti penting kebersamaan. Bahwa seseorang takkan bisa hidup tanpa teman. Dan bagaimana ia tak seharusnya membuat Sakura menjauh darinya. Lalu..apa keputusannya?

Tiba-tiba memorinya berjalan ke beberapa waktu lalu, ketika pembicaraannya dan Sakura terjadi.

'Ino tak perlu jadi temanku. Tapi..biarkan aku jadi temanmu.'

'Aku akan terus menyakitimu.'

'Tidak apa, selama Ino mempercayaiku.'

'Kau gila.'

'Hihi. Aku ingin melihat Ino tersenyum.'

Ino kembali mendongak. Entah sejak kapan matanya kini diselimuti air mata, walau tak satupun tetes air mengalir. Matanya menatap penuh arti sebuah tangan yang terulur padanya, kemudian pada sosok pemuda yang sempat diteriakinya tadi.

Mungkinkah ini..

Bisakah ia..mempercayai mereka?

%%%

TING TONG

Suara bel pintu itu bergema di ruang serba putih itu. Si penghuni ruang berdiri kemudian berjalan ke arah pintu lalu membukanya.

"INO-HIME?" pekiknya terkejut. Putrinya tengah berdarah di punggung remaja di depannya dan ia baru mengetahuinya sekarang.

"Dia terjatuh. Sepertinya bagian persendiannya sedikit bengkak," jawab Sasuke di depan orang itu yang ternyata ayah Ino, Inoichi.

Mendengarnya, semakin membuat Inoichi panik.

"Bawa dia ke kamarnya! Akan kusiapkan P3-nya," perintah Inoichi.

Sasuke hanya menurut. Ia membawa Ino ke dalam menuju kamarnya yang ditunjukkan oleh Ino. Ia kemudian mendudukkan gadis itu pelan di kamarnya lalu berbalik menatap gadis itu.

"Doumo ‒terimakasih," kata Ino menunduk. Dirasakannya usapan lembut di kepalanya. Dan ketika ia mendongak, ia bisa melihat Sasuke tersenyum padanya.

"Ini bukan hanya tentangmu, tapi ini juga tentang kami."

Sasuke mundur selangkah.

"Sampai di sini malam ini. Aku harus pulang." dengan begitu Sasuke berbalik menuju pintu serta melambaikan tangannya sebagai isyarat salam perpisahan. Ino terus menatap sosok itu pergi bahkan ketika siluet itu sudah menghilang dari pandangannya.

Ia menghembuskan nafas.

Hari ini, hari yang melelahkan bagi Ino.

Entah bagaimana esok.

%%%

Ino mesti bersyukur, karena esoknya adalah hari minggu, dimana ia tak harus pergi ke sekolah. Kakinya tak bisa berjalan dan ia tak harus memaksakan diri untuk melakukannya.

"Hime? Ayah membelikanmu tongkat untuk membantumu berjalan. Buka pintunya, Hime!" panggilan Inoichi menyentaknya.

Ia berjalan menuju pintu tertatih-tatih dan membukanya, hanya untuk menampilkan sosok ayahnya yang tersenyum padanya. Ia membalas dengan senyuman.

"Doumo arigatou, Otou-san," katanya.

"Hari ini, Tou-san akan membawamu ke seorang dokter ahli. Mungkin ia bisa membantumu. Bagaimana?"

"Aku mau."

"Bersiap-siaplah!"

"Ha'i!"

Hari itu Ino dan ayahnya memutuskan pergi ke dokter ahli yang kata ayahnya sangat profesional. Ayahnya cuti sehari itu. Lagipula kalau bukan ayahnya, siapa lagi yang mengurusinya di saat seperti ini.

Dan begitu mereka sampai di depan rumah dokter itu, Ino hanya bisa melebarkan matanya.

"Tsunade Senju?" pekik Ino tak percaya. Ia tak mengira dokter ahli yang dimaksud itu Tsunade Senju.

"Loh? Kau sudah mengenalnya, Ino-hime?" tanya ayahnya.

"Belum. Tapi kami pernah-akan-mengenalnya."

Mereka akhirnya memasuki rumah itu dan sosok berambut hitam pendek adalah yang pertama kali menyambut mereka, "Selamat datang. Oh! Inoichi-san? Lama tidak berjumpa." Ino tahu wanita itu bernama Shizune. Begitu ia menyadari keberadaan Ino, ia memekik, "Ah! Inoichi-san! Inikah putrimu?"

Inoichi menatap Ino kemudian Shizune.

"Iya. Dia cantik bukan?" kata Inoichi.

Shizune terkikik.

"Benar. Dia sangat cantik. Nah! Ayo masuk!"

Inoichi dan Ino pun masuk. Mereka disambut oleh seorang Tsunade yang duduk sambil mengerjakan dokumen-dokumen itu yang entah apa itu. Di antara matanya bertengger sebuah kacamata bening yang tampak berkilau ketika terkena cahaya.

Menyadari ada yang datang, ia mendongak dan tampak terkejut mengetahui siapa yang datang.

"Inoichi?"

"Ya, ini aku. Bagaimana kabarmu?" Inoichi berjalan mendekatinya dan duduk di sofa di depannya. Ino mengikuti.

"Kau sudah tahu sendiri, Inoichi. Oh! Dan siapa ini? Putrimu?" tanya Tsunade. Sepertinya ia tak mengenali Ino padahal mereka pernah bertemu. Yah, mungkin efek dari alkohol yang diminumnya waktu itu.

"Tentu saja. Hanya putriku yang secantik ini."

Dan mereka pun tertawa bersama, meninggalkan Ino yang tersipu malu.

Mereka kemudian bercakap-cakap seolah mereka teman yang lama tak bertemu. Yah, itulah yang dikatakan Shizune tadi. Bicara soal Shizune, begitu percakapan antar teman itu dimulai, Shizune sudah menjadi bagian dari percakapan itu. Ino sih tak terlalu masalah dengan hal itu. Ia sudah terbiasa diam. Apalagi kali ini percakapan antar orang dewasa, ia tak masalah bila harus jadi pendengar. Hanya saja, ia sempat aneh melihat wajah Tsunade yang begitu berbeda dengan apa yang diceritakan Shizune padanya dan Sakura dulu. Orang itu terlihat tegar ‒err atau mungkin justru kejam dilihat dari matanya yang seolah siap menggigit siapa saja. Dan mungkin itulah topeng yang digunakannya. Seperti halnya Ino selama ini.

Pandangan Ino berubah redup.

Apa yang dikatakan Sakura memang benar. Ia lebih mudah memahami perasaan Tsunade daripada perasaan gadis pink itu. Dan itu karena ia tak punya kehidupan yang sama seperti Sakura.

"Ada urusan apa kau kemari, Inoichi?" pertanyaan itu membuat Ino kembali fokus.

"Kau lihat? Putriku kemarin terjatuh dan lututnya cidera. Kau bisa melakukan sesuatu untuknya?" raut muka Tsunade seketika berubah.

Ia terlihat tak suka dengan pembicaraan ini.

"Kau sudah tahu keputusanku, Inoichi. Aku takkan mengobatinya," kata Tsunade. Jelas sekali ia sangat tak setuju dengan hal itu.

"Aku tidak memintamu mengobatinya. Aku memintamu melakukan sesuatu untuknya."

"Itu sama saja."

Inoichi menghela nafas.

"Baiklah. Kalau begitu Shizune saja. Dia juga belajar medis, kan?"

Dan hal ini sukses membuat Tsunade tersentak. Ia menatap tajam Inoichi. Sementara Shizune, ia justru terlihat ragu.

Ino tahu, ia merasa tak enak mengambil posisi Tsunade yang seharusnya mengobati pasien. Bukan dirinya.

"Aah.. Inoichi-san, saya tidak bisa‒"

"Tidak masalah. Lagipula dia asistenku," potong Tsunade tetap menatap Inoichi lekat.

Di sampingnya, Shizune tampak tak nyaman. "Ta-tapi Tsunade-sama‒"

"Kapan kau ingin memeriksakan putrimu?" potong Tsunade lagi.

"Tentu saja sekarang, Tsunade."

Setelah itu, Ino dituntun menuju ranjang seperti ranjang rumah sakit yang berada di pojok ruang tamu. Ino yakin, rumah ini dulunya tempat praktek Tsunade. Terlihat dari banyaknya peralatan medis serta ranjang itu sendiri.

Pemeriksaan yang dilakukan Shizune berjalan lancar, walaupun ia kurang cekatan, seolah tak terlalu hafal dengan metode-metode pemeriksaan. Yah, Ino bisa memaklumi. Shizune memang bukan dokter itu sendiri. Dia hanya asisten dokter.

Akhirnya, merasa jengah dengan kelambatan serta keraguan Shizune dalam bertindak, Tsunade pun turun tangan. Ia sedikit menyingkirkan Shizune dari jalannya lalu mulai memeriksa Ino.

Ino sendiri, ia sering memekik kesakitan ketika tangan Tsunade bersentuhan ataupun menekan bagian kakinya yang sakit. Tapi, Tsunade juga punya cara sendiri mengatasi rasa sakit yang timbul, misalnya, dengan menekan daerah sekitar area yang sakit dan sesekali mengurutnya.

Memang dokter yang ahli.

Dan Ino rasa, ia sempat melihat ketidaksukaan di mata coklat Tsunade saat Shizune mengobatinya tadi. Ketidaksukaan karena sesuatu dan cenderung bukan kedengkian terhadap Shizune.

Ino terus menatap wanita itu dalam.

Begitu selesai, Tsunade menatap Inoichi serius sambil berkata, "Dia harus dioperasi. Cidera ini berpengaruh dengan saraf. Tulangnya harus segera diluruskan lagi sebelum semakin membengkak."

Ino terkesiap mendengarnya. Benarkah itu? Operasi?

"Apa kau tak bisa melakukan sesuatu tanpa harus operasi?" pekik Inoichi.

"Kurasa tidak. Aku bisa memberimu resep. Tapi itu hanya sebagai pengurang rasa sakit dan bukan menyembuhkannya," kata Tsunade, "Kalau tidak cepat ditangani," Tsunade berhenti sejenak, "dia akan pincang."

Ruangan itu seketika terasa mencekam. Tak ada yang berani bersuara. Ino melebarkan matanya horor.

"Lakukan sesuatu untuknya!" semua pandangan seketika mengarah pada Inoichi yang tertunduk marah.

"Apa maksud‒"

"Lakukan operasi untuknya!"

"Aku tidak bisa." Tsunade melawan.

"Ya, kau bisa."

Dokter wanita itu tetap angkuh. "Kalaupun aku bisa, aku tetap tidak akan melakukannya. Kau sudah tahu itu Inoichi."

"Aku tidak peduli. Dia putriku. Dia berharga untukku."

"MEREKA JUGA BERHARGA UNTUKKU." Tsunade berteriak dan membuat yang lain mematung. Ini kali pertama Ino melihatnya berteriak.

Suasana pun menjadi terasa berat. Kepala Shizune tertunduk. Dia tahu benar apa yang tengah Inoichi dan Tsunade bicarakan.

Ino mulai mengira-ngira kalimat barusan berhubungan dengan mengapa dokter itu berhenti dari dunia kedokteran. Dan siapa 'mereka' yang ia maksud?

"Lalu untuk apa kau memulai semua ini? Untuk apa kau menjadi dokter kalau kau tidak bisa melakukan peranmu?" Inoichi memecah suasana. Ia berjalan mendekati Ino yang duduk di atas ranjang dan berdiri di sampingnya sambil mengelus ujung kepalanya.

"Dan untuk apa aku meneruskannya kalau hal itu membuat mereka pergi?" balas Tsunade. Ia tak semarah tadi meskipun terlihat jelas sorot matanya yang sendu.

"Kau hanya memikirkan perasaanmu. Kau tidak memikirkan orang lain."

"Justru aku memikirkan mereka agar mereka tak menjadi korbanku."

Inoichi tertawa. "Kheh. Kau tidak memikirkan mereka. Kau hanya takut dengan masa lalumu."

Tsunade terdiam sejenak. Lalu menghela nafas.

"Aku tetap tidak akan melakukannya."

"Nyonya Tsunade! Tolonglah kali ini saja," kata Shizune setelah sekian lama terdiam, "Kami percaya padamu."

Kini Ino semakin yakin, Tsunade melepas gelar dokternya karena ia tak ingin membuat orang lain menjadi korbannya. Korban dari praktek medisnya. Dan 'mereka' yang ia maksud tadi mungkin seseorang terdekat yang sangat berharga baginya, seperti saudara, teman, bahkan kekasih. Oleh karena itu, ia semakin yakin untuk berhenti menjadi dokter.

Tsunade menatap Inoichi tajam. "Bagaimana bila terjadi hal yang tak diinginkan?"

"Selama kau tidak merasa takut." Inoichi berkata seolah ia tahu semuanya. Tapi, bukankah ia memang tahu?

"Baiklah."

%%%

Akhirnya, Tsunade bersedia mengoperasi Ino. Melalui negosiasi yang panjang dan walaupun tidak di rumah sang dokter karena tidak tersedianya alat, mereka tetap berhasil melakukannya. Kini kaki Ino masih dibalut perban dan boleh berjalan setelah beberapa hari ke depan.

"Sudah sampai," ucap Inoichi.

Tsunade keluar dan beranjak ke rumahnya diikuti Shizune di belakangnya.

"Tunggu sebentar!" dengan tertatih-tatih, Ino beranjak keluar dari mobil dan mendekati dokter itu sebelum dia benar-benar masuk dalam rumahnya.

Sang dokter menatapnya bingung.

"Bolehkah aku bertanya?"

"Silakan."

Ino menarik nafas. "A-apa yang dikatakan ayahku benar?"

"Apa yang dikatakan ayahmu?"

"Apa anda memang takut?" hal itu sukses membuat Tsunade mengalihkan perhatiannya dari Ino.

"Nyonya Tsunade?"

"Kau boleh berkata seperti itu."

Ino masih belum puas. "Lalu kenapa Anda melakukannya? Kenapa Anda mengoperasi saya?"

"Kalau aku tak melakukannya, kau akan kesakitan." Tsunade tertawa kemudian kembali berjalan ke rumahnya. Tapi, hanya sebentar lalu dia berbalik.

"Nak, kalau kau takut, kau takkan tahu apa yang akan terjadi. Sudah ya, hati-hati saat berjalan!"

Tepat saat itu, Ino menyadari sesuatu. Suatu hal kecil yang ia rasa terlambat kalau baru disadari.

%%%

"Kenapa melamun?"

Ino hanya menggeleng lemah.

"Kau bosan? Kesepian? Haruskah kupanggilkan mereka?" tanya Inoichi.

"Mereka?"

"Iya, mereka." walaupun Ino tak benar-benar tahu, tapi ia sudah punya dugaan siapa yang dimaksud ayahnya sebagai 'mereka'. "Tak perlu."

Sambil mengedikkan bahu, Inoichi memilih diam.

Ino menatap jalanan luar jendela mobil yang terlihat berjalan dengan pandangan kosong. Pikirannya berjalan ke beberapa waktu lalu. Kata-kata Tsunade berhasil membuatnya kehilangan fokus untuk saat ini.

Ketakutan yang mengambil alih semuanya. Ketakutan yang membuatnya tak berani melihat kemungkinan yang menyakitkan bagi hatinya. Dan Ino, sama halnya dengan Tsunade, tak mengerti apa-apa.

Ino menghela nafas. Kalau biasanya ia mengelak, kali ini ia serasa tak bisa berkutik lagi.

Ketakutan membunuh kepercayaan. Dan mungkin kepercayaan bisa membunuh ketakutan juga. Tinggal apa pilihan orang itu. Mungkin Ino bisa mencoba mempercayai 'mereka' kali ini. Ia takkan tahu bila terus merasa takut.

"Otousan!" panggilnya.

"Ya?"

"Tolong antarkan aku ke toko coklat!"

%%%

Sebungkus kotak coklat berbentuk hati berpita bunga biru-putih tergenggam rapi di salah satu tangannya. Sementara tangannya yang lain menyangga tongkatnya. Awalnya sedikit ragu, tapi begitu mengingat apa yang membuatnya melakukan hal ini, keraguan itu perlahan lenyap. Digantikan oleh keyakinan yang meninggi.

Ia sudah melepas secarik kertas kecil sebagai sebuah pesan di loker seorang teman yang akan menjadi penerima benda berbungkus itu. Senyumnya mengembang seraya langkahnya yang mulai teratur menuju taman belakang sesuai perjanjian. Ia semakin tak sabar.

Begitu sampai, pemandangan khas taman terpampang di depannya. Taman belakang sekolah Konoha High terbentuk indah mirip seperti taman kota. Luas, indah, berwarna-warni bunga. Dan yang sedikit membedakan taman itu dengan taman kota adalah taman belakang sekolah lebih banyak pepohonannya serta alas taman yang ditumbuhi rumput. Di taman kota sudah beralaskan semen.

Ia mengambil duduk di sebuah bangku kosong berwarna biru yang kebetulan berada di dekat pojok dinding. Ditatapnya benda coklat yang terpangku di pangkuannya. Pita mawar berwarna biru yang berarti niat tersembunyi dan putih yang melambangkan persahabatan. Walaupun mungkin Sakura, korban coklatnya, takkan memahami maksudnya, tapi setidaknya gadis pink itu menerimanya.

"Aku tak tahan dengan sikapnya."

"Hn?"

"Teme, coba lihat dia, sampai kapan kita akan seperti ini kepadanya? Dia tak pernah peduli dengan kita." suara-suara itu tiba-tiba menggema di telinganya. Tepat dari belakangnya, di balik dinding putih itu.

Karena merasa tak asing dengan suara serta pembicaraan itu, ia pun mengambil tongkatnya lalu berjalan mendekati dinding itu. Kemudian, bersembunyi di sana. Suara-suara itu kembali terdengar.

"Kau tak mengerti, Naruto!"

"Aku tahu." sunyi mengisi sementara. "Sakura.. aku melihatnya menangis. Ini kali pertama aku melihatnya menangis."

"Lalu?"

"Aku tak tega. Gadis itu sama sekali tak melihat kita. Kalau kita terus memperlakukannya seperti ini, Sakura hanya akan terus menangis."

"Naruto‒"

"Aku tidak suka dia. Anak macam dia tak pantas mendapatkan teman."

Tubuh Ino seketika menegang. Kaki sebelah Ino yang masih mampu berdiri pun seakan terasa sama seperti kaki kirinya.

"Aku membencinya. Kheh! Hei, Sasuke! Bagaimana kalau kita kerjai dia saja, eh?" dan ia sudah tak tahan lagi. Sambil meninggalkan tempat mengejutkan itu, air mengalir lancar di kedua belah pipinya. Bahkan tanpa sadar coklat hatinya telah pergi dari tangannya.

TUK

Hatinya terasa perih. Kumpulan kata tadi berdengung hebat di benaknya. Seperti awal mula sebuah trauma. Ino sudah berencana untuk berbaikan dengan mereka. Ino sudah akan mengakhiri ke-egoisannya. Tapi, ia tak menyangka kata-kata itu yang keluar dari mulut teman-temannya. Bagai terpeleset bebatuan licin ketika hampir sampai puncak.

Mereka tak menyukainya. Terlebih, mereka membencinya. Otaknya memintanya untuk tidak mempercayai kata-kata itu begitu saja. Tapi, ingatan masa lalu yang berusaha dikuburnya kembali bermain di benaknya, mengalahkan argumentasi otaknya.

Isak tangisnya pecah begitu saja. Seperti inilah yang ditakutinya ketika mencoba memulai pertemanan dengan orang lain. Dibenci plus dilupakan. Yang manapun ia tak mau.

Langkahnya berhenti tepat di ujung tangga yang di sebelahnya tertulis 'atap sekolah'. Rasanya, kali ini pun akan sama. Tempat itu akan tetap menjadi tempat favoritnya, entah ia suka atau tidak.

Sambil menyeka sisa air mata yang masih ada, ia bersandar di dinding di sampingnya. Perlahan, tubuhnya merosot dan terduduk di lantai. Bagaimanapun juga, ini semua tak lepas dari ketidakpercayaannya. Kalau saja Ino menyadarinya sejak awal, ini semua takkan terjadi. Mungkinkah ia menyesal? Kesempatan bertemannya lenyap begitu saja, mungkinkah ia akan menyerah?

"Malam ini main bersama, yuk! Kita ajak Sakura juga." Ino kenal suara itu. Suara salah satu teman sekelasnya yang pernah menggosip tentangnya. Dalam arti, tak menyukainya.

"Kenapa kita mengajaknya? Bukankah dia sudah punya gadis membosankan itu," balas yang lain.

"Kurasa tidak. Tidakkah kau lihat, dia sering diacuhkan oleh gadis membosankan itu."

"Iya juga sih. Baiklah, toh, Sakura juga teman kita."

"Sakura pasti akan menyukainya."

"Tentu saja. Dan dia juga pasti menyesal berteman dengan gadis pindahan itu. Untung kita ada untuknya."

"Kasihan sekali bocah itu. Haha!" dan suara itu perlahan menghilang diiringi suara tawa yang entah karena apa sebagai penutupnya.

Ino hanya duduk sambil menatap kosong kedua kakinya. Untuk kedua kalinya dalam sehari ini, ia telah mendengar sesuatu yang berhasil membuatnya menangis. Tapi, untuk yang terakhir, lebih terkesan sesuatu yang membuatnya tega membuang coklat berbentuk hatinya tadi ke tong sampah. Bibirnya sedikit terangkat membentuk seringaian yang sewaktu-waktu bisa berubah menjadi tawa getir.

Lagi-lagi, dengan tertatih-tatih, ia berdiri. Sekarang ia tahu jawaban yang beberapa waktu lalu sempat terselip di benaknya.

Ia.. takkan menyesal. Dan tentu saja.. ia menyesal karena dengan bodohnya bertanya 'apakah aku akan menyerah?'. Tak usah mencari jawabannya pun, ia tak memerlukannya.

Ia akan kembali pada pendiriannya. Karena.. ia hanya akan selalu dilupakan. Dan satu lagi yang ikut memperkuat prinsipnya. Di dunia ini.. tidak ada teman sejati. Seharusnya ia tahu itu. Yah, Ino menyesal baru mengetahuinya sekarang.

Kheh, lucu sekali, pikirnya getir.

%%%

"Ayo kembali ke kelas!" perintah Sasuke sambil berdiri.

"Yah."

Mereka, Sasuke dan Naruto, beranjak pergi dari tempat bercengkerama harian mereka. Karena jalan kembali ke kelas dari tempat persembunyian harus melewati taman belakang sekolah, Sasuke menangkap sesuatu sebelum ia sempat menginjak benda itu, tepat di balik dinding.

"Ada apa?" pertanyaan Naruto tak dihiraukannya. Ia menunduk demi mengambil benda menarik itu. Ditatapnya benda itu penuh tanya.

"Coklat?" gumamnya.

%%%

KRING KRING

Suara dering ponsel itu menghentikan langkahnya. Dirogohnya ponselnya dari saku rok sekolahnya. Begitu mengetahui siapa yang memanggilnya, tanpa membuang-buang waktu lagi ia mengangkatnya.

"Halo? Otousan?" jawabnya.

"Ino-chan, dinas ayah sudah selesai. Besok, kita harus pindah lagi. Beri salam pada teman-temanmu ya? Ayah sayang kamu."

Dengan tatapan kosong, Ino menjawab, "Ya. Aku mengerti."

Waktunya balas review :

zielavienaz96 : Suka Sasuino-nya? Saya juga. Lalu, bagaimana kali ini? Selamat membaca..

Kay Yamanaka : Yoha.. Ini udah update kok, walaupun habis hiatus tapi kan nggak terlalu lama, ya kan? Silakan dinikmati..

Runa BluGreeYama : Sifat Ino..maunya sih dipertahanin, tapi nanti nggak sampe-sampe final dong.. Khufufu, trims udah review Runa-chan, di chapter ini, sifat Ino udah agak melunak..semoga tetep suka yak?

jenny eun-chan : hoho.. Terimakasih udah beri semangat buat Vee. Ini udah di-update. Semoga bisa ngobati rasa penasarannya. Review lagi yak.. Ganbatte! #lho?#

Charlotte Rui : Bagaimana? Ino sudah sadar kan di sini? Kwawkwk.. Oh dan, matur suwun sudah review *pake logat jawa*.. Review lagi juga nggak apa-apa lho.. Hehe

NarutoisVIP : Aku juga suka Ino yang ceria, tapi Ino yang pendiam juga nggak masalah sih..#lu dukung siapa sih?# oh, arigato udah review..

Shin Key Chan : hehe, nggak kilat, tapi yang penting di-update kan? Oiya, jangan lupa komentar lagi yak? #bungkuk-bungkuk#

Guest : Ini sudah saya lanjuuuutkaaan.. Selamat dinikmati dan terimakasih review-nya..

shiro19uzumaki : maaf ya shiro, aku nggak bisa buat inonaru atau sasusaku di sini.. Kucoba buat di lain fic saja yak, ok? *blink2* jangan lupa review lagi yah.. Hihi..

Dan terimakasih buat siapa saja yang udah mampir apalagi baca.. Doumo arigatou.

Komentar lagi yak?