Thanks buat kevin lost in galaxy yang udah nanya. Emang kamu dari galaxy mana sih? Kok bisa sampe nyasar? Wkwkwk. Umurnya Tae itu ga pas 3 tahun sih sebenernya, gimana ya ngejelasinnya, hampir 3 tahun. Disaat Kookie 16, Tae belum genap 19 gitu hehe. Dan soal MPREG itu, hmmm cause Jungkook is special. For me. Lol. Also for Taehyung. I mean he has to take care of Jungkook and protect him because Jungkook is special.

Dan apa? Kamu mau ngumpanin Tetet ke hiu? Aku siap jadi hiunya wkwkwk


Step keempat! Huray!

Ini BL guys

Keuntungan dan kerugian karena membaca fanfic ini di tanggung oleh pribadi masing-masing

Don't like Don't read

_line_

BTS belongs to God, Their Familys, Their Management, and ARMY

.

.

.

.

Hold Me Tight

(Cause I wanna hold you as long as I can)

.

.

.

.

"Eomma, aku mau ke rumah Jin-hyung," Taehyung berteriak dari depan kamarnya. Ia sempat melihat ibunya masuk ke kamar Mingyu untuk mengantar sarapan. Adiknya yang manja, Kim Mingyu, selalu minta sarapannya dibawa ke kamarnya oleh Nyonya Kim di hari Minggu.

"Sepagi ini? Mingyu saja baru bangun. Kau tidak mau sarapan dulu, Tae?" Nyonya Kim buru-buru keluar dari kamar Mingyu dan mendapati Taehyung sudah berdandan rapi. Sebuah track suit hitam melekat di tubuh Taehyung serta ada headband putih di kepalanya. Ia menenteng raket tenis.

"Kau tidak sara…pan?" Nyonya Kim mengulangi pertanyaannya. Ia mengernyitkan dahi. Sejak kapan Taehyung main tenis? Akan tetapi wanita itu mengurungkan niatannya untuk bertanya karena Taehyung terlihat sangat bersemangat. Ia tidak ingin mengacaukan mood Taehyung.

"Tidak usah. Aku mau makan di tempat Jungkook saja," Taehyung mengorek telinganya.

"Ingat, jangan menyusahkan Jungkook dan Nyonya Jeon," Nyonya Kim mewanti-wanti Taehyung.

"Aku tahu. aku bukan anak kecil," Taehyung mendesis pelan.

Nyonya Kim tertawa geli melihat reaksi Taehyung yang sama setiap minggunya ketika menanggapi pesan-pesannya.

Sejak Jungkook menunjukkan ketertarikan terhadap bidang olahraga mendadak Taehyung juga mulai berolahraga dan pergi ke tempat Gym. Taehyung juga mulai menyempatkan untuk berolahraga di hari Minggu bersama Jungkook. Padahal seluruh keluarga Kim tahu kalau Taehyung itu orang yang malas berolahraga, sehingga badan Taehyung cenderung kurus bahkan tidak berbentuk.

Disaat Jungkook mulai belajar main bowling, Taehyung akan belajar bermain bowling juga, disaat Jungkook dan Jin belajar memanah, Taehyung akan mati-matian berlatih memanah sampai larut. Taehyung ingin menguasai bidang olahraga yang dipelajari oleh Jungkook sehingga jika Jungkook kesulitan ia bisa membantu Jungkook lalu menyombongkan diri setelahnya.

Sebenarnya, Taehyung lumayan ahli bermain anggar namun Jungkook tidak pernah tertarik untuk mencoba bermain anggar. Taehyung hanya ingin dilihat oleh Jungkook. Sederhana.

Taehyung berlari menuju pintu setelah mendengar ibunya memberi izin. Ia hendak meraih daun pintu sebelum suara ayahnya menyambangi telinganya.

"Tae, kau mau kemana?"

"Ke rumah Jin-hyung. Appa ada perlu denganku?"

"Sebenarnya, kita akan kedatangan tamu hari ini," Tuan Kim terlihat berpikir, "Bisa kau tinggal di rumah? Appa mau mengenalkan kau dan Mingyu ke teman Appa."

"Tapi, aku sudah ada janji dengan Jungkook-ie."

"Hari ini saja, Tae. Appa mohon!"

"Kenapa harus hari ini?" bahu Taehyung melemas dan turun. Raket yang dipanggul di bahunya melorot seketika.

"Karena ini Minggu, Kim Taehyung. Kau dan Mingyu mana ada waktu di hari lain."

Taehyung melepaskan genggamannya pada daun pintu. Ia melihat jam tangannya lalu kembali menaiki tangga dan memasuki kamarnya.

Tak berapa lama, Nyonya Kim mendatangi Tuan Kim sambil melihat Taehyung yang menutup pintu kamarnya.

"Kenapa dia kembali lagi? Katanya mau ke rumah Kim Seokjin?!"

"Aku memintanya untuk tidak pergi karena Tuan Park akan datang kemari."

"Tuan Park yang mana? Ayahnya Jimin-ie?"

"Ayahnya Park Soo young."

.

.

.

"Taehyung-ah, ini Park Soo young."

"Oh, iya."

Taehyung tidak menunjukkan ketertarikannya dalam acara bincang-bincang khas klien antara ayahnya dan Tuan Park. Jadi, ketika mereka sedang serius membicarakan sesuatu tentang pekerjaan atau menyinggung sedikit tentang keluarga, Taehyung lebih memilih untuk main game di handphone, mengetik pesan atau sekadar memakan makanan yang disuguhkan ibunya di meja.

"Tae, perkenalkan dirimu!" bisik Nyonya Kim. Ia menyenggol lengan Taehyung dengan siku tangannya.

"Oh, iya," Taehyung mengalihkan pandangannya dari layar handphone, "Kim Taehyung imnida," lalu Taehyung kembali fokus ke layar handphonenya lagi. Pemuda berambut coklat tidak berganti baju, ia masih menggunakan track suit hitam dan headband putihnya. Berbeda dengan kedua orang tuanya dan juga Mingyu yang memakai pakaian kasual namun tetap sopan.

"Bersikaplah yang sopan. Tuan Park memperhatikanmu, anak muda," bisik Nyonya Kim lagi. Wanita itu segera tersenyum sembari menawarkan kimchi botol buatannya. Pembicaraan mereka berlangsung saat makan siang. Momen makan siang memang menjadi salah satu waktu yang cocok untuk berdiskusi tentang sesuatu yang semi-formal.

Taehyung menghela nafas lalu memasukkan handphone ke saku celana. Kemudian, ia menyibak poninya ke belakang.

"Maafkan aku, Tuan Park. Aku harus membalas beberapa pesan dari teman sekolahku. Masalah sekolah," Taehyung berdusta dan memaksakan senyumnya. Sejak tadi ia mengetik pesan pada Jungkook dan Jungkook tidak membalasnya.

"Tidak apa-apa. Anak muda sekarang memang banyak kesibukan," balas Tuan Park sembari meletakkan gelas berisi air putih, "Sayangnya, Soo young tidak bisa merasakan hal yang sama. Dia homeschooling."

Taehyung bisa menangkap perasaan sedih khas seorang ayah dari cara Tuan Park berbicara tentang anaknya, Soo young. Dan dari percakapan antara ayahnya dan Tuan Park, Taehyung menangkap informasi kalau Tuan Park adalah klien baru ayahnya.

Ayah Taehyung adalah seorang sarjana pertanian yang mempunyai dan mengelola lahan pertanian di Daegu. Lahan peninggalan kakek Taehyung itu diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan produk buah-buahan berkualitas premium dan membawa nama Taehyung dan keluarganya sebagai salah seorang keluarga petani sukses. Sedangkan Tuan Park adalah pengusaha yang bergerak di bidang makanan. Singkat kata, ayah Taehyung, Tuan Kim, dan Tuan Park menandatangi perjanjian untuk bekerja sama dan saling menyokong dengan menggabungkan dua usaha mereka.

Di waktu inilah Taehyung bertemu dengan Soo young. Gadis bermarga Park itu lebih banyak diam. Sejak kematian ibunya, Soo young menjadi pendiam dan menurut laporan pihak sekolah, Soo young menarik diri dari pergaulan. Gadis itu akhirnya mengalami pembullyan dan memutuskan untuk sekolah di rumah.

Itu yang Taehyung tangkap dari cerita Tuan Park.

Taehyung tidak menyangkal kalau Soo young adalah gadis yang cantik. Tapi sikapnya yang terlalu pasif dan diam membuat kecantikan itu tenggelam, ditambah gaya rambut Soo young yang bisa dibilang sedikit mengerikan.

Gadis itu mengurai rambut hitamnya sampai menutupi sebagian wajahnya. Penampilan Soo young yang unik untuk sejenak mengingatkan Taehyung pada hantu Jepang yang merangkak dari sumur tua.

"Jadi namamu adalah-," Taehyung mengutuk dirinya sendiri yang tidak punya bahan obrolan yang layak, ia bahkan melupakan nama gadis yang baru saja memperkenalkan diri padanya.

Taehyung mengambil nafas. Ini akan jadi mudah kalau lawan bicaranya adalah Jeon Jungkook. Taehyung tidak harus berpura-pura menjadi seorang pria sopan yang mengesankan.

Kim Taehyung dan Park Soo young kini sedang duduk di ruang tamu. Kedua orang tua mereka sudah pergi untuk membicarakan pekerjaan. Sementara Mingyu sudah kabur entah kemana dan Taehyung tidak tega meninggalkan seorang gadis emo duduk sendirian di ruang tamu.

"Soo young, Taehyung-ssi," jawab Soo young lirih. Gadis itu terus menunduk namun sesekali mengintip sosok Taehyung dari sela-sela rambutnya.

Karena tidak tahan dengan penampilan Soo young, Taehyung melepas bandananya dan mengulurkannya kepada Soo young. Soo young melongo dan hanya memandangi Taehyung dengan tatapan khas orang bingung.

"Pakai! Geez, sini biar aku pakaikan kalau begitu," Taehyung bangkit dan mengikat rambut Soo young asal. Hanya sekadar untuk membuat wajah Soo young bebas dari rambut hitam Sadakonya.

"Biar aku jujur padamu. Untuk ukuran anak kelas 2 SMA, dandananmu sedikit mengerikan. Kau itu lumayan cantik, tapi rambutmu membuat semuanya berantakan. Nah, biarkan rambutmu seperti ini dan lebih seringlah tersenyum. Tadi, namamu siapa?"

"S-Soo young."

"Joy!"

"Apa?"

"Aku akan memanggilmu Joy. Artinya kebahagiaan. Nama Soo young sedikit terkesan muram," Taehyung mengecilkan suara di akhir kalimatnya.

Taehyung kembali menyisir rambutnya, ia tidak memperhatikan wajah Soo young yang memerah dengan mata berkaca-kaca menahan air mata.

Soo young tidak terbiasa dengan orang yang berterus terang sekaligus memberikan perhatian Kim Taehyung. Ada rasa pedih di dadanya tapi disaat yang bersamaan ia senang karena Taehyung memperlakukannya seperti anak pada umumnya.

"Hei, kau mendengarkan aku atau tidak? Aku bicara padamu, Park Soo young-ssi."

"A-apa? kau tadi bilang apa?"

"Aku mau pergi. Aku ada janji. Katakan pada ibuku kalau aku ada urusan penting."

"T-Tentu."

Taehyung memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celana. Taehyung mengernyit sesaat dan Soo young kerutan di dahi Taehyung sama sekali tidak membuat kadar ketampananan Kim Taehyung berkurang.

"Sampai jumpa."

"Sampai jumpa, Taehyung-ssi."

Dada Soo young menghangat. Kim Taehyung mampu memberikan kebahagiaan dengan cara yang sederhana. Park Soo young tiba-tiba tersenyum lalu menutup wajahnya sendiri. Ia jatuh cinta.

.

.

Sejak pertemuan keluarga Kim dengan Tuan Park dan Park Soo young, Kim Taehyung terpaksa berbohong kepada Jungkook. Ia tidak bisa menemani Jungkool berolahraga kendati Jungkook pada dasarnya tidak pernah memaksa namun Taehyung tetap merasa bersalah. Dikala ia harus menemani dan menghibur Soo young, Taehyung terpaksa meninggalkan Jungkook. Kim Taehyung tidak mungkin mempertemukan mereka berdua. Jungkook menyita semua perhatian Taehyung dan Taehyung tahu betul ia tidak akan bisa memperhatikan Soo young jika Jungkook bersamanya.

Salah satu sebab Kim Taehyung harus memperhatikan Soo young karena pemuda itu punya tugas penting dari ayahnya yang tidak bisa ia tolak yaitu menemani dan mengubah seorang gadis emo penderita hemophilia tingkat sedang menjadi gadis ceria lagi. Setidaknya sampai Soo young berangkat ke Amerika untuk pengobatan. Setelah itu, Taehyung akan memusatkan hidupnya kepada Jungkook. Sayangnya, Taehyung tidak tahu jika keberangkatan Soo young akan memakan waktu yang cukup lama. Empat bulan.

Untuk membuat Soo young kembali ceria, Taehyung berusaha menuruti permintaan Soo young dan mengajak gadis itu melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan karena dianggap terlalu lemah. Taehyung menuruti semua keinginan Soo young termasuk menerima cinta gadis itu.

Taehyung pikir semuanya sudah berakhir saat Soo young pergi ke Amerika dan menghilang selama setahun lebih. Taehyung pikir ia tidak perlu mengucapkan kata perpisahan dan ia mengarang cerita kandasnya hubungannya dengan Soo young agar ia bisa mendekati Jungkook dan menghalau Mingyu yang punya ambisi sejenis.

Tapi kini dia kembali. Park Soo young kembali dan Kim Taehyung tidak bisa menyembunyikannya lagi dari Jeon Jungkook.


Taehyung kembali ke ruang makan dan terkesiap saat tidak mendapati sosok pemuda 16 tahun yang tadi ia tinggal bersama neneknya. Yang Taehyung lihat kini hanya neneknya, duduk sendirian sambil mengelus kemeja mendiang kakek Taehyung, nampaknya rasa rindu menghinggapi nenek Taehyung lagi.

"Jungkook! Kemana Jungkook?" tanya Taehyung.

Nenek Taehyung terlihat acuh tak acuh, "Pulang."

"Kenapa tidak memanggilku? Kenapa tidak pamitan padaku?"

"Nenek harus bilang apa? Jungkook bilang ingin pulang sendiri."

"Setidaknya, ia bisa pamitan-,"

"Jungkook-ie sudah pamitan padaku."

"Padaku?!"

"Memangnya kau siapanya Jungkook?" Nenek Taehyung menyeringai.

"Nenek tahu kalau aku menyukai Jungkook-ie. Tentu saja aku calon pacarnya Jungkook."

"Lalu gadis yang di dapur itu bagaimana? Dia bukannya pacarmu juga?"

"Aku sudah putus-"

"Bagaimana bisa putus? Soo young bilang hubungan kalian baik-baik saja. Kau masih punya pacar dan sepertinya Jungkook-ie bisa membaca keadaan," Nenek Taehyung bangkit dari kursi sembari memegangi pinggangnya,

"Ah, pinggangku," sekali lagi ia memandang Taehyung, "Aku menyayangi Jungkook sama seperti aku menyayangimu dan Mingyu. Aku mendukungmu dan Jungkook. Sungguh. Tapi kalau seperti ini keadaannya, lebih baik kau tidak memberikan Jungkook perhatian yang berlebihan. Kasihan Jungkook-ie. Anak malang dia itu."

"Aku tidak-"

"Kalau kau tidak bisa menjaganya, biar kusuruh Mingyu."

"Aku akan menjaganya, Nek."

Nenek Taehyung melambaikan tangan pelan sebagai isyarat bahwa dia sudah capek berdebat.

"Terserah kau sajalah."

Perdebatan kecil Taehyung dengan neneknya makin membebani batin Taehyung. Ia berlari menuju rumah Jin namun gerbang rumah itu sudah di gembok. Tidak biasanya digembok disaat hari belum begitu malam. Taehyung berteriak-teriak tapi tidak ada seorang pun yang datang. Beberapa menit kemudian, Taehyung melihat Jungkook sedang membawa sebuah nampan, berjalan di jalanan kecil dekat taman bersama Jin. Taehyung meneriakinya tapi Jungkook tidak menoleh.

"Jungkook-ah, tolong lihat aku," gumam Taehyung.

"JUNGKOOK-AH. JEON JUNGKOOK!"

Taehyung menghabiskan waktu setengah jam untuk berteriak tapi Jungkook tidak keluar untuk menemui Taehyung. Membiarkan Kim Taehyung berdiri dimakan dingin di depan gerbang rumah Kim Seokjin.

Setelah menunggu berjam-jam, Taehyung tidak sanggup berteriak lagi malam itu.


"Kook, ayo kencan!"

Jungkook terbatuk hebat. jelly di dalam mulutnya keluar tanpa bisa dicegah karena Kim Mingyu mengucapkan sesuatu yang mengagetkannya.

"K-kencan?"

"Ya, kencan. Double date. Nanti malam," Mingyu menjilat bibir atasnya yang terbalut bekas kopi Americano kalengan.

"Double date? Kau gila! Aku ini namja, Gyu," Jungkook menjauhi Mingyu sambil melempar botol bekas minumannya.

Mingyu tersenyum lebar menunjukkan giginya yang tidak rapi itu, "Ayolah! Aku benar-benar tidak punya pasangan untuk pergi."

Jungkook mendengus, "Kalau tidak punya pasangan kenapa ikut double date?"

"Karena aku tahu kalau kau akan datang. Sebab," Mingyu memanjangkan nada bicaranya, "Jeon Jungkook akan datang dan menyelamatkan Kim Mingyu dari rasa malu dan tidak akan membuat Kim Mingyu kehilangan harga diri. Tolong aku, ya?" Mingyu mengedipkan mata di depan Jungkook dengan harapan agar Jungkook merasa iba.

"Ini pemaksaan," Jungkook berjalan menjauhi Mingyu. Ia ingin pergi ke kelas karena waktu istirahat tinggal beberapa menit.

Mingyu mengejar Jungkook, "Ya! Teganya kau padaku. Mukaku mau ditaruh dimana nanti, aku terlanjur berjanji."

"Salahmu sendiri."

"Aku akan malu kalau datang sendirian."

"Bukan urusanku."

"Kumohon, tolong aku, Jungkook-ah."

Jungkook membuang nafas kasar-kasar. Ia menatap Mingyu dengan mata hitamnya kemudian menggigit bibir, "Jemput aku di depan gerbang. Jangan protes dengan apa yang akan aku pakai nanti."

"Aigo, Jungkook-ah. Kau memang penolongku."

"Ngomong-ngomong, kita mau double date dengan siapa?"

"Soo young Noona dan Tae-hyung."

.

.

Jungkook serasa ingin mengunci dirinya di kamar. Ia tidak percaya ia akan pergi berkencan. Kencan ganda dengan Kim Taehyung, Kim Mingyu dan Park Soo young. Namja 16 tahun itu memandangi dirinya di cermin besar, memperhatikan setiap detail dirinya yang ia rasa kurang sempurna. Sebentar-sebentar Jungkook menyisiri poninya, lalu ia merapikan kerah sweaternya. Ia gugup. Sangat gugup. Bukan karena ini adalah kencan pertamanya tapi karena ini adalah pertama kalinya ia akan melihat Taehyung berkencan dengan orang lain. Untuk pertama kalinya Jungkook akan melihat bagaimana Taehyung memperlakukan seorang gadis yang dicintainya.

"Jungkook-ah, kau sudah selesai? Mingyu menunggu diluar," Nyonya Jeon mengetuk pintu kamar Jungkook dan berkata lembut kepada putra semata wayangnya itu.

"N-ne," Jungkook membuka pintu dan Nyonya Jeon takjub dengan penampilan Jungkook. Jungkook nampak lain dengan sweater putih berkerah tinggi dan jaket hitam dengan corak putih yang abstrak serta celana hitam yang terlihat glossy dari kejauhan.

"Eomma kenapa? Ada yang aneh dengan penampilanku?" tanya Jungkook saat ia menyadari binar di mata ibunya berubah.

"T-tidak. K-kau memakai sepatu boots dari Tuan Muda Jin?! Itu cocok sekali untukmu," Nyonya Jeon tidak pernah terlalu memperhatikan kalau Jungkook bisa setampan ini, "Uri Jungkook-ie sangat tampan. Aigo, tampannya, aigo," Nyonya Jeon mulai mencubiti pipi Jungkook.

"Eomma~," Jungkook berusaha mengelak dari cubitan ibunya.

"Sebenarnya kau mau pergi kemana? Tidak biasanya kau berdandan seperti ini jika keluar dengan Mingyu."

"Hanya pergi jalan-jalan."

"Benarkah? Bukan kencan?" Nyonya Jeon mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Jungkook.

Jungkook mengerucutkan bibirnya dan mendelik sesaat membuat ibunya tertawa kecil.

"Jangan pulang terlalu malam," Nyonya Jeon mengantar Jungkook sampai ke depan paviliun. Dari kejauhan wanita itu melihat Mingyu yang melambai senang di depan mobil putihnya. Mingyu tidak menyetir, ia menyuruh sopir di rumahnya mengantarkan ia dan Jungkook ke tempat yang telah ia usulkan kepada Soo young.

Jungkook berlari ke arah Mingyu. Ia tersenyum dan Mingyu menyambut senyumnya.

"Jangan berlari, Kook. Rambutmu jadi berantakan. Sini aku rapikan dulu," Mingyu meraih tangan Jungkook dan mengurai gumpalan rambut hitam Jungkook yang mencuat dan terpisah dari kawanannya.

"Kau jadi agak lain," Jungkook memandangi penampilan Mingyu serta perlakuan Mingyu yang menurutnya tidak seperti biasanya.

"Hari ini Kim Mingyu adalah pasangan kencan Jeon Jungkook. Yang berarti Kim Mingyu harus menjaga Jeon Jungkook dan membuatnya senang. Meskipun ini bukan kencan kita yang sesungguhnya tetap saja ini hari yang istimewa untukku" bisik Mingyu ke telinga Jungkook.

Jungkook sontak memundurkan badan dan memukul dada Mingyu karena merasa malu.

"Aku mencoba untuk romantis," kata Mingyu sembari membukakan pintu mobil untuk Jungkook. Ia juga melindungi kepala Jungkook agar tidak membentuk lengkung pintu mobil.

Jungkook menggigit bibirnya. Sejujurnya ia ingin tertawa melihat Mingyu yang pada dasarnya adalah teman kecilnya bersikap romantis karena acara kencan ganda dengan pasangan palsunya yang tak lain adalah Jungkook.

"Eung, aku menyukainya."

.

.

Kaki Mingyu hampir membeku. Mantel hitam panjangnya tidak cukup untuk membuatnya hangat. Pemuda 16 tahun itu berjingkat-jingkat kecil lalu melirik Jungkook yang sedang menyilangkan tangannya dan meniup udara kosong. Mereka menunggu di depan sebuah tempat permainan arkade, dimana biasanya Jungkook dan Mingyu bermain dengan Taehyung.

Jungkook mengingat tempat ini dengan baik. Taehyung membawanya kemari saat usia Jungkook 12 tahun. Kala itu, Taehyung bilang dia menyisihkan uang jajannya untuk mengajak Jungkook main permainan arkade dan berjanji membelikannya sate ikan.

Jungkook tertawa menggigil ketika melihat Mingyu berlari mengelilinginya. Taehyung dan Soo young sudah terlambat 20 menit dari jam yang telah di tentukan dan sayangnya Mingyu sudah menyuruh sopirnya pulang.

Sebuah mobil berwarna putih berjalan berhenti di depan mereka, seketika itu pula Mingyu berhenti berlari. Pemuda tinggi itu mematung di samping Jungkook dan memperhatikan sosok pemuda yang keluar dari dalam mobil sambil membanting pintu mobil cukup keras.

"Hyung lama sekali, aku dan Jungkook-ie hampir mati kedinginan," protes Mingyu.

Pemuda yang keluar dari dalam mobil, Kim Taehyung, diam tak bersuara tapi matanya menjelajah, menguliti Jungkook. Jungkook bisa mengatakan kalau Taehyung sedang marah.

"Hyung!" Mingyu menegur Taehyung yang mengabaikannya.

Taehyung membisu, ia memilih untuk membukakan pintu mobil yang lainnya, membantu seorang gadis bermantel tebal keluar dari dalam mobil. Gadis dengan beanie hat abu-abu dan penutup telinga putih.

"Maaf kami terlambat, Mingyu-ya. Aku sedikit kesulitan memilih baju. I-ini kencan ganda pertamaku," Soo young menautkan jemarinya satu sama lain dan mencuri pandang kepada Taehyung. Sedangkan Taehyung secara terang-terangkan menatap Jungkook. Dan Jungkook, ia hanya menundukkan kepala.

"Dimana pasangan kencanmu?" tanya Soo young lagi.

"Biar aku kenalkan pada Noona lagi," Mingyu meraih telapak tangan Jungkook, membawa lelaki manis itu mendekat kearahnya, "Noona, ini Jeon Jungkook. Pasangan kencanku," Mingyu menepuk pundak Jungkook.

"Omo!" Soo young menutup mulutnya, matanya yang besar itu tiba-tiba menyipit, menjadi semacam garis lurus dan sudut bibirnya terangkat, "Harusnya aku tahu kalau Jungkook-ssi bukan hanya sekadar teman untukmu. Wah, harusnya aku sudah curiga," Soo young mendorong pelan lengan Mingyu. Gadis itu menaikkan alisnya, "Jungkook memang cantik, Gyu-ya," Soo young lalu berbisik, "Kau tidak salah pilih."

Mingyu terbatuk. Pipinya memerah. Mata hitamnya beralih dari Park Soo young kepada Jeon Jungkook. Teman sekelasnya itu balik menatapnya dengan ekspresi bingung.

"Ehm, bagaimana kalau kita masuk sekarang? Di dalam lebih hangat," Mingyu mengerling kepada Jungkook. Ketika Jungkook ingin berjalan ke dalam, Mingyu menawarkan diri untuk menggandeng tangan namja imut itu. Mereka tidak mengetahui bahwa ada orang yang merasa sangat terbakar di awal musim dingin ini.

Kim Taehyung,

Pemuda yang tidak bisa melepaskan pandangannya dari Jeon Jungkook bahkan saat Park Soo young mencengkeram lengannya dengan erat.


"Ini babak final! Mingyu melawan Taehyung! Taehyung-ah, fighting!"

Park Soo young berada di tengah-tengah antara tubuh Mingyu dan Taehyung. Setengah jam yang lalu mereka telah memutuskan untuk bermain lempar bola basket ke ring mini. Permainan kesukaan Mingyu.

Mingyu melawan Jungkook dan Soo young melawan Taehyung. Sejak awal permainan pun pemenangnya sudah dapat dipastikan. Kim Mingyu dan Kim Taehyung.

Jungkook dan Soo young dapat disingkirkan dengan mudah dan kini kedua kakak beradik Kim yang akan bertanding. Kendati permainan ini bukan sesuatu yang serius, raut wajah wajah Taehyung jauh dari kata santai. Alis pemuda itu hampir menyatu. Ia bahkan tidak membalas ucapan-ucapan penyemangat dari Park Soo young. Taehyung malah memperhatikan Jungkook yang menunduk memainkan ujung sweaternya dan Mingyu yang dengan kurang ajarnya menepuk pipi Jungkook dan sesumbar berkata kalau dia akan menang. Taehyung menyeringai, tentu saja dia tidak akan membiarkan Mingyu menang.

Taehyung begitu berambisi untuk mengalahkan adiknya. Ia tidak ingin Mingyu mendapat perhatian Jungkook. Ia sudah cukup iri dengan Mingyu yang mendapat senyuman manis dari Jungkook sedangkan dirinya, dilihat oleh Jungkook pun tidak.

"245! Tae, sedikit lagi!" pekik Soo young.

"Gyu, susul Tae-hyung. Ayo lebih cepat lagi!" Jungkook menjadi antusias dan gemas melihat Mingyu beberapa kali gagal memasukkan bola basket. Ia mengguncang tubuh Mingyu.

"Ah, sial!" Mingyu memukul besi pembatas di sampingnya saat layar di permainan lempar bola basket itu menampilkan tulisan game over. Ia kalah tipis dari Taehyung. Pemuda berambut hitam itu melihat Soo young memeluk Taehyung dengan ekspresi yang luar biasa senang. Gadis itu menggesekan pipinya ke pundak Taehyung lalu memuji laki-laki bersurai coklat itu setinggi langit.

"Kau menang Taehyung-ah! Menang! Ah, hebatnya namjachinguku!"

Taehyung menepuk tangannya untuk membersihkannya dari debu. Namja dengan paras menarik itu kemudian melirik Jungkook yang sedang merapikan poni Mingyu dan menenangkan Mingyu yang kalah dalam permainan.

"Maafkan aku, aku kalah."

"Gwenchana, lain kali kau pasti menang. Kau haus? Biar aku belikan minuman," Jungkook menepuk punggung Mingyu.

"Aniya, biar aku yang membelinya. Kim Mingyu akan menyenangkan Jeon Jungkook hari ini. Aku sudah berjanji kan? Jadi, kau mau minum apa?"

"Samakan saja denganmu," jawab Jungkook.

"Kalau begitu kopi?!"

Jungkook mengangguk mantap, "Dua kopi untuk Mingyu yang kelelahan dan Jungkook yang kalah di babak pertama," kata Jungkook. Mingyu tertawa keras tapi ia dapat dengan jelas mendengar sebuah dengusan dari samping tubuhnya. Dari sudut matanya ia bisa mengetahui kalau Taehyung sedang memandanginya.

"Dua kopi akan segera datang. Bersabarlah!" Mingyu mencubit pipi Jungkook sebelum pergi dengan setengah berlari.

Pada akhirnya Mingyu meninggalkan Jungkook bersama sepasang kekasih yang Jungkook kira saling menyayangi. Jungkook berpura-pura sibuk dengan ponselnya ataupun pura-pura bersiul atau bahkan menggerak-gerakan kakinya perlahan, membenturkannya dengan mesin permainan.

"Jungkook-ie, kemari! Mendekat padaku agar kau merasa hangat. Kau pikir ini musim apa? Jaket seperti ini tidak akan bisa melindungimu dari udara dingin," suara Taehyung agak berat tanda kalau dirinya sedang tidak dalam mood yang bagus. Ia menyeret jaket Jungkook agar mendekat ke arahnya. Taehyung yang memakai long coat warna coklat sontak membuka mantelnya itu dan mengambil sebuah sapu tangan dari saku mantelnya. Ia mungkin sedih karena Jungkook datang bukan untuknya tapi Taehyung tidak bisa membiarkan Jungkook kedinginan. Taehyung memakaikannya kepada Jungkook tidak peduli jika Soo young sedang menonton atau berpikiran aneh tentang ia dan Jungkook.

"Kemari! Biar kupasangkan sarung tangan untukmu."

"Hyung, Soo young Noona menonton," bisik Jungkook. Uap tipis keluar dari lubang hidung Jungkook.

"Memangnya kenapa? Dia punya mata."

Jungkook memukul pundak Taehyung dan membuat namja yang nyaris 3 tahun lebih tua darnya itu sedikit terhuyung,

"Dia pasangan kencanmu," kata Jungkook lirih.

Raut muka Taehyung semakin muram. Senyum tipis yang sepersekian detik menghiasi bibirnya seakan lenyap tertiup angin, terbang entah kemana.

Jungkook mendorong dan menepis tangan Taehyung yang berusaha memakaiakan sarung tangan berwarna biru pada tangannya. Dorongan Jungkook yang terakhir berhasil membuat Taehyung hampir jatuh terduduk.

"Baik. Kau tidak mau pakai sarung tangan? Fine." mata Taehyung meruncing, seperti memberikan efek tatapan penuh tusukan jarum pada tubuh Jungkook. Namja itu berujar dingin.

"Bukan begitu- Maksudku, aku bisa pakai sendiri. Berikan sarung tangannya padaku!"

Taehyung sontak mengangkat tinggi sarung tangannya dan membiarkan Jungkook meloncat tanpa henti di depannya. Jungkook terus berusaha menggapai sarung tangan di tangan Taehyung namun Taehyung juga ikut meloncat agar Jungkook tidak bisa menjangkau sarung tangan yang sebenarnya adalah milik Taehyung itu.

Taehyung terus menggoda Jungkook, sebelum pada akhirnya Jungkook menginjak kaki Taehyung dan membuat pemuda yang lebih tua darinya itu meloncat dengan satu kaki seperti sedang main permainan ayam-ayaman.

"Appo! Ya!"

"Kau yang mulai duluan, Hy-"

"Ehm, Tae, aku haus. Bisa kau belikan aku minuman?!" Soo young memotong perkataan Jungkook. Gadis itu memasang wajah memelas sambil menggosok pelan lehernya. Gadis itu merasa terabaikan dan mencoba masuk ke dalam obrolan Jungkook dan Taehyung.

"Tunggu sebentar!" sahut Taehyung.

Acaranya untuk menggoda Jungkook lebih lama terhenti. Taehyung meraba kantong-kantong di mantelnya, mencari dompetnya,

"Aku akan segera kembali," lanjut Taehyung sembari meletakkan sepasang sarung tangan di telapak tangan Jungkook, "Aku mau melihat sarung tangan ini sudah kau pakai saat aku kembali ke sini, Jungkook-ie," Taehyung masih sempat mengancam Jungkook sebelum pergi membelikan minum pesanan Soo young.

Jungkook mendadak menjadi diam ketika Soo young menatapnya dengan pandangan yang tidak bisa Jungkook artikan. Rasanya ada seseorang yang siap mengulitimu hidup-hidup hanya dengan pandangannya saja. Namja 16 tahun itu mendaham, bersiul kecil sambil memakai sarung tangan Taehyung.

"Aku tidak tahu kalau Taehyung-ah sedekat itu denganmu."

Jantung Jungkook berdetak lebih cepat ketika Soo young membahas Taehyung.

"Ne, kami sudah lama berteman," Jungkook mengangguk kecil, ia membuat suara mendesis main-main dengan mulutnya pertanda bahwa Jungkook sedang gugup. Jungkook tidak ahli bicara secara langsung dengan orang baru.

"Ah, really? Aku tidak tahu, Taehyung tidak pernah bercerita tentangmu," Soo young menggaruk pelipisnya.

"A-aku bisa mengerti. Tae-hyung punya banyak hal yang lebih penting untuk diceritakan daripada aku," Jungkook tertawa sarkas. Ia mendongak ke langit-langit, matanya menatap lampu warna-warni yang menggantung dimana-mana.

"Aku tidak bermaksud menilai pertemanan kalian. Maaf!" Soo young buru-buru memperbaiki kata-kata yang sudah terlanjur ia ucapkan. Gadis itu merasa sedikit menyakiti Jungkook.

"Tidak masalah," Jungkook tersenyum lembut.

"H-hanya saja, j-jika kau sedemikian dekat dengan Taehyung-ie, boleh aku minta bantuan?"

"Ye?" sahut Jungkook sembari membenarkan letak sarung tangannya.

"Hubunganku dan Taehyung sedikit renggang karena kepergianku ke Amerika. Ini memang sedikit tidak sopan karena menceritakan masalah pribadiku padamu. Tapi aku tidak bisa menahan diriku. Taehyung terasa sangat jauh dariku meskipun kami berdua adalah sepasang kekasih. Bisakah kau membantuku lebih dekat dengan Taehyung-ie? Aku ingin lebih dekat dengan Kim Taehyung, Jungkook-ssi."

.

.

.

.

.

To be Continued…

.

.

.

Agak ngadet di chapter ini, karena ide tentang Vkook lagi kosong. Stoknya abis. Perlu isi ulang keknya. Maaf karo kurang nge-feel, lain kali akan mencoba lebih keras untuk membuat cerita lebih baik.

Kali ini, tolong dimaklumi :')) apa? banyak scene sama Joy? tolong dimaklumi wkwkwk

Thanks for everyone, jangan lupa untuk review dan kasih aku ide untuk nulis ff vkook.

Yorobun, Saranghae ^^