Represents;

Kim Taehyung

Jeon Jungkook

Park Jimin

Min Yoongi

Kim Namjoon

.

.

Unpredictable wheel

.

.

Chapter 4 : worry and heartbeat

Jungkook menekan empat digit pada pintu apartemennya dan masuk dengan tergesa; bahkan ia menanggalkan sepatu nike hitamnya begitu saja di pintu masuk. Suara gaduh yang ditimbulkannya membuat pria tinggi maskulin yang tengah menonton tv menatap heran, ia hendak menegur tapi rasanya percuma. Jungkook cukup bebal untuk diberi nasihat atau teguran sepele seperti; jangan berisik atau jangan berlari dalam rumah! Bagi Jungkook itu hanya angin lalu, dan ketika ia terjatuh karena ulahnya ia hanya bisa menyalahkan pria itu karena tidak melarangnya berlari –sudahlah, bagaimanapun Jungkook masih bocah.

"hyung! Hyung! Masih punya masker wajah, tidak?" tanya Jungkook dengan wajah memerah dan napas tersengal, dari nada bicaranya sepertinya pria itu tergesa dan memaksa. Entah apa yang menggerayangi benaknya saat ini, "habis, tuh. Baru saja kupakai, ada a –"

"belikan lagi"

" –huh?"

Jungkook menghela napasnya kesal, "belikan satu untukku. Masker wajah, yang peel off"

"untuk?"

"ya maskeran lah, hyung"

"untuk?"

"mau pergi,"

"ke?"

"HYUNG!"

Sebenarnya pria itu bisa saja tertawa akan tingkah laku Jungkook yang menggemaskan, tapi sayangnya Jungkook terlihat sangat kesal dan terdesak. Sebenarnya apa yang dia pikirkan; selama hidupnya belum pernah ia dengar Jungkook yang merengek minta dibelikan masker wajah. Untuk informasi, Jungkook cukup pelit untuk perawatan wajah. Keramas dan gosok gigi saja harus diingatkan selalu, pakaian semua dia yang mencuci dan menggosok. Ada yang aneh dari anak ini, tapi entah ia tak tahu apa itu. Detik berikutnya pria itu menghela napas sepelan mungkin, "kemari, Kook. Duduklah. Aku tidak bisa mengerti kalau kau terengah dan tiba-tiba begitu,"

Jungkook mendudukkan dirinya disamping pria maskulin itu; rambut mereka sama; hitam legam dan wajah mereka sama tampannya, bibir mereka sama merekahnya, "jadi, ada apa tiba-tiba kau ingin masker? Kau tahu, ini jarang sekali" mendengarnya Jungkook mendengus sebal. Apa susahnya sih dibelikan masker wajah, toh sebenarnya pria ini selalu punya stok; tapi sepertinya sudah habis dan Jungkook tidak kebagian, "aku mau pergi, hyung"

"kemana? Dengan siapa?"

Dan jantung Jungkook kembali berdegup kencang, darahnya megalir deras dan berada didekat permukaan kulit; membuat wajahnya nampak memerah. Tidak mungkin kan ia bilang kalau diajak berkencan oleh –Kim Taehyung? "dengan temanku," jawabnya ragu. Dan pria dihadapannya ini mengernyit heran. Pikirnya ia siapa, bisa ditipu begitu mudah seolah ia adalah orang asing? Mereka terpaut satu tahun dan telah hidup bersama sejak lahir, memangnya kebohongan sulit dideteksi? Terlebih ini Jeon Jungkook; pria dengan segudang kepolosan yang seolah punya dinding tebal namun transparan sehingga tidak ada yang bisa menodainya namun ia selalu terlihat jujur dan jelas. "jangan coba-coba bohong padaku, Jeon kecil. Kau pikir aku baru mengenalmu dua hari lalu?"

Ungkapan telak itu membuat bulu kuduk Jungkook meremang sesaat, ia tahu semua akan berakhir begini. Bodoh, seharusnya ia bisa bersikap biasa aja dan membeli masker itu sendiri; sialan. "apaan, aku tidak berbohong, hyung –"

"jangan bilang kau diajak kencan?"

Jantung Jungkook memompa darah lebih kuat lagi, wajahnya semakin memerah dan napasnya agak tersendat; sialan betul pria ini –semakin mirip cenayang. "bu –bukan begitu, aku –aku hanya –"

Dan bantahan yang belum teruntai dari Jungkook terhenti ketika pria itu mengelus kepala Jungkook dengan lembut, ia menatap Jungkook dengan lembut namun matanya menyiratkan kewaspadaan, napasnya lebih lembut dan hangat, "kau sudah besar, mungil. Kurasa memang waktunya kau bergerak dari keterpurukan –". Sekujur tubuh Jungkook menghangat, dadanya berdesir kuat namun lembut, napasnya tidak lagi tersengal, ia memejamkan matanya penuh syahdu; sudah lama ia tidak dimanjakan begini.

" –apa dia laki-laki?"

Dan degupan itu berhenti sesaat, begitu pula elusan lembut di kepala Jungkook. Membuat Jungkook membuka matanya dengan cepat, menyiratkan kewaspadaan, marah, dan ketakutan yang bergabung satu, "memangnya kau tidak menyerah; terus saja –"

"lupakan saja, hyung"

Pria itu menyingkirkan tangannya dari kepala Jungkook, menatap si mungil dengan heran. "lupakan saja, aku tidak akan kemana-mana," dan setelahnya Jungkook bangkit dengan menghentakkan kakinya sebal menuju kamarnya; mungkin ia akan berteriak atau berguling-guling disana. Entah, yang jelas ia sebal sekali sampai rasanya ingin memukul siapapun atau membanting apapun,

"Jeon Jungkook –"

" –berhenti disana, Jeon Jungkook –"

Dan bagai tersihir Jungkook menghentikan langkahnya, meski tidak berbalik untuk menatap pria yang memanggilnya itu, ia masih terlalu malas untuk membuka suara

" –aku mengerti, seharusnya kau katakan saja yang sebenarnya, aku –"

" –aku tahu, aku kakakmu; kenapa kau tidak bisa percaya bahkan padaku, Jungkook-ah?"

Kalimat dengan nada putus asa itu membuat Jungkook membalikkan badannya dengan sigap, ia terkejut bukan main; pria itu menatapnya dengan putus asa dan kecewa –apa sebegitu tersiksanya ia, karena Jungkook? " –baiklah, kau mau masker; itu yang kau dapatkan. Aku pergi dulu,"

"Wonwoo hyung –!"

Pria itu baru saja mengenakan sepatunya dan tangannya bahkan belum menyentuh kenop pintu, namun Jungkook memanggilnya dengan nada tinggi; entah bentakan apa yang akan ia dapat. Sebenarnya ia cukup pusing hari ini, makanya ia tidak masuk kuliah karena takut pingsan dan malah merepotkan orang lain. Ia akhirnya membalik badannya dan detik berikutnya mendapatkan Jungkook yang memeluknya seperti orang kesetanan, "h –hei, Jungkook-ah –"

"terima kasih hyung,"

.

.

Jungkook merasa sangat bahagia hari ini. Sabtu ini langit menunjukkan kecerahan yang tiada tanding; angin berhembus lembut, semua berjalan dengan lancar, burung-burung terdengar menyanyi, bunga mulai mekar –semua karena wajahnya; wajah yang sudah diberikan masker.

Masker wajah ekstrak lemon yang dibelikan Wonwoo; hyung satu-satunya itu membuat wajahnya segar dan ia merasa wajahnya begitu tampan sekaligus murni dan polos, mengisyaratkan kedewasaan yang apik namun masih lugu. Bahkan Woonwoo memuji adiknya setelah termangu beberapa detik begitu Jungkook siap dengan setelan kasual untuk pergi kuliah pagi ini.

Hebatnya, entah dapat ilham darimana Jungkook bisa belajar dengan sigap, aktif, dan memuaskan. Ia sangat bersemangat mengikuti perkuliahan Namjoon, bahkan senyumnya tidak luntur barang sedetik; hingga Namjoon memanggilnya dan memberikannya beberapa pertanyaan –Jungkook bisa menjawabnya dengan tepat. Good, Namjoon tersenyum puas menampilkan lesung pipi yang nampak seksi. Sempat terpikir dalam benak Jungkook bahwa kakak beradik Kim memang terlahir seksi atau bagaimana, "kau nampak bahagia. Wajahmu menyilaukan, sialan"

Dan dunia seindah kelopak mawar layu begitu suara cempreng Jimin mengusik gendang telinganya, ia menatap pria itu jengah, "kau dan suara cemprengmu itu, sialan –membuatku gerah" dan selanjutnya Jimin tertawa lepas, yang membuat Jungkook ikut tertawa –karena sebenarnya hinaan itu bukanlah sungguhan, itulah cara mereka saling menyayangi. "ya terserah aja deh. Jadi apa yang membuat Jungkookie senang, hm?"

Jungkook tersenyum penuh malu, "sebenarnya, aku –aku ada rencana malam ini –"

"wow, wow, wow –kau, wow! Jungkook sudah bisa berkencan, ya?"

"apaan," Jungkook tertawa sembari menyikut pundak Jimin yang sudah tertawa sejak mereka berbincang. " –apa itu Kim Taehun?"

"for God's sake! Namanya Kim Taehyung, Jiminie pabo"

"iya, pokoknya itu –kau kan tahu aku pelupa," kata Jimin dengan suara imut yang dibuat; membuat Jungkook mengernyit jijik padanya meski dalam hati ia memekik betapa menggemaskan wajah Jimin itu, sejujurnya Jimin itu menggemaskan tapi ia tidak suka mengakuinya, "demensia baru tahu rasa kau"

"ya! Kau mendoakanku demensia atau apa nih?!"

Jungkook mengendik bahu dengan wajah meremehkan, "tidak tahu –"

" –by the way, kau punya rekomendasi fashion style untuk makan malam sederhana?"

" –tapi yang berkesan dan... romantis –"

Dan selanjutnya tawa Jimin yang menggema dan lucu memenuhi koridor dan pendengaran Jungkook.

.

.

Jimin menyesap jus jeruknya dengan nikmat, udara memang masih dingin tapi ia penggemar berat jus jeruk; sehari tanpa jeruk seolah tubuhnya kekuarangan cairan, katanya. Ia tersenyum sendiri bahkan diselingi tawa yang sempat ia tahan. Masih ia ingat betapa lugu saat Jungkook meminta pendapatnya perihal pakaian untuk berkencan. Bocah itu memang tidak mengatakannya secara gamblang, tapi ia yakin seratus persen bahwa Jungkook akan menghabiskan malam nanti bersama Kim Taehyung. Ia tidak bisa berhenti tersenyum mengingat betapa bahagianya dia melihat Jungkook mengekspos semburat merah muda di pipi gembulnya dan bicara dengan malu-malu tapi angkuh; menggemaskan.

Mata sipitnya berhenti menutup karena senyumannya, ia memfokuskan penglihatannya dan ia tertegun. Bagaimana tidak jika di hadapannya adalah pria manis mungil yang garang; Min Yoongi. Pria manis itu tengah memangku wajah mungilnya dengan tengan tangan kanan dan mendengarkan lagu lewat earphone, rambutnya begitu berkilau dan segar, bahkan ia mengenakan long coat yang membuatnya tenggelam dan nampak makin mungil. Anehnya, tatapan pria itu bukan datar seperti biasa, melainkan sendu; seolah ia tengah sedih meratapi sesuatu yang entah apa Jimin juga tidak tahu,

Yang pasti Jimin ingin tahu.

Maka ia memutuskan untuk menempelkan ujung sedotan pada jus jeruknya menuju bibir tipis Yoongi; membuat empunya terkejut dan menatap Jimin dalam diam. Jimin hanya tertawa, karena ia pikir Yoongi butuh dihibur. Tak masalah jika ia dapat hantaman lagi; asalkan Yoongi bisa melepas kesedihannya barang sedetik dua detik. "jangan pasang wajah sedih begitu, hyung –"

" –aku jadi ikutan sedih, kan. Nih jus jeruk untukmu, hyung" Jimin mendudukkan dirinya disebelah Yoongi, tangan mereka bersentuhan tanpa sengaja; dan Jimin sempat bergidik karena tangan Yoongi begitu dingin. Ia hendak bertanya tapi Yoongi keburu menerima jus jeruk itu dan menyesapnya dalam diam, "ini bekasmu, ya?"

Jimin menelan ludahnya gugup, mampus. Pasti ia dapat baku hantam atau –

"thanks"

–namun sepertinya Jimin sedang beruntung, karena Yoongi kembali menyesap jus itu dalam diam. Tidak ada umpatan, bantahan, cacian, penolakan, maupun hantaman dari pria mungil nan manis itu. Ini membuatnya heran; meski ia berdebar kencang dan pipinya bersemu karena hell! Ini kan indirect kiss, gila gila gila. Siapapun tolong sadarkan Park Jimin, "hyung?"

Yoongi hanya menggumam tanda ia mendengar Jimin memanggilnya, "kenapa –kenapa kau nampak murung? Ah –itu, bukannya ingin tahu, hanya –uh, bagaimana ya". Jujur saja menghadapi Yoongi yang diam itu benar-benar memacu adrenalin. Ia takut Yoongi kembali ke sifat awal karena Jimin sangat cerewet tapi satu sisi ia suka Yoongi yang mengiyakan semua ucapannya dan lebih menerima keberadaan Jimin, "tidak apa, kau sedang apa disini?"

Dan jantung Jimin hanya bisa memekik senang; berdebar begitu kencangnya sampai napas Jimin tercekat, pipinya bersemu pelan dan matanya memanas, namun buru-buru ia mengontrol dirinya "ingin ketemu Yoongi hyung yang manis~ habisnya hyung manis nampak sedih, jadi aku kemari menghiburmu" ucapnya dengan nada riang dan penuh percaya diri; meski usai itu napasnya tersengal menahan debaran.

" –terima kasih,"

Yoongi tersenyum tipis nan tulus. Sebenarnya Jimin anak yang baik dan perhatian, namun ia hanya tidak suka kalau Jimin memperlakukannya seolah ia mangsa empuk bagi maniak pedophil, tersenyum mesum dan bersikap seolah ia ini sangat dekat; baginya Jimin itu menyebalkan, berisik, dan mengganggu –tapi baik dan perhatian. Ia juga cukup bisa menilai kalau bocah itu menyukainya, toh memang nampak jelas. Lihat saja wajahnya yang kikuk dan salah tingkah serta rona merah muda di pipinya, "uh –iya, hyung. Sama-sama, eum –itu, kalau hyung berkenan –"

"masalahku bukan masalahmu, kau harus paham tentang itu, Park"

Kalimat yang dingin dan telak itu seolah menampar Jimin. Bagaimanapun Yoongi adalah Min Yoongi; pria introvert yang dingin dan cuek, tidak suka mengumbar apapun terlebih privacy dan masalahnya. Dan Jimin sudah terlalu jatuh dalam lubang yang diciptakan Yoongi tanpa sengaja hingga rasanya Jimin ingin tahu segala tentang pria mungil itu, meski ia tidak memberitahunya secara langsung. Tapi Jimin tidak semudah itu untuk menyerah, seolah ia adalah pengemis cinta yang tak hentinya mengejar Yoongi. "aku tahu, hyung memang pelit"

Dan Jimin hanya akan kembali pada sifatnya yang ceria, manis, dan bebal makian dari Yoongi. Dapat ia lihat Yoongi mendengus pelan; akhirnya Min Yoongi kembali. Meski sifatnya ketus tapi ia suka Yoongi tidak terlihat sedih lagi. "jangan suka campuri urusan orang, Jimin-ah". Jantung Jimin berdegup kencang lagi, selama ini Yoongi hanya memanggilnya bocah, Park, atau cacian misalnya bedebah, bodoh atau keparat. Dipanggil dengan nama akrab begitu, siapa tidak bahagia? "hyung, co –coba kau panggil aku lagi, sekali lagi, hyung"

"heung? Jimin-ah?"

Jimin pasti gila, ia sudah tidak tahan untuk tidak mencubit pipi pria mungil dihadapannya ini karena heol! Min Yoongi benar-benar menggemaskan dengan wajah bingung dan mata mengerjap begitu, sialan kau Yoongi. "AISH! KAU! JIMIN –YA! JANGAN CUBIT PIPIKU –AW! SAKIT BODOH –YA! HENTIKAN!"

"kalian mulai akrab ya, hyung"

Jimin menghentikan aksinya dan melirik Yoongi yang tengah mengusap pipinya yang memerah dan menggerutu pelan; menggemaskan. Ia mendongak menatap seseorang yang berucap barusan dan tersenyum bangga, "oh, Jungkook –"

Dan Yoongi buru-buru mendongak juga, mendapati Jungkook yang nampak dewasa dan tinggi sekali namun wajahnya begitu lugu dengan senyum murni itu. Wajahnya berubah muram, matanya memanas, dan tangannya mengepal kuat, napasnya memburu, rahangnya mengeras; Jeon Jungkook. Pria yang merenggut kebahagiaannya, yang membuat Taehyung menderita.

" –ya, begitulah, hehehe. Sudah menemukan baju yang bagus, hm?"

"apaan, kau ini –oh, omong-omong... Yoongi hyung –itu, eum –Taehyung hyung tidak bersamamu, hyung?"

Yoongi menggeram pelan, membuat Jimin menatapnya heran. Ia sering melihat Yoongi menggeram kesal padanya karena ia cerewet dan suka menggoda Yoongi tapi ia tidak melihat yang seperti ini, "hyung –"

"KAU! Jeon Jungkook!"

"n –ne, hyung?" dan Jungkook kembali menciut menengar Yoongi memanggilnya dengan nada marah begitu. Sebenarnya ia sudah ingin menjauhkan Yoongi dalam kehidupannya karena ia pikir pria manis itu memang sudah tidak menyukainya sejak awal; dan ia tidak mau membuat masalah.

"apa yang sebenarnya kau berikan pada Taehyung, hah?!"

"n –ne?" wajar Jungkook bingung, ia memang sedang tidak paham situasi dan tiba-tiba Yoongi membentaknya dan membawa-bawa nama Taehyung. Terakhir yang ia ingat adalah mereka bertiga mampir makan eskrim lalu dia dan Taehyung makan seafood atas paksaan Jungkook, setelahnya mereka hanya berjalan beriringan menuju supermarket tempat Taehyung bekerja lalu Jungkook pulang dengan senyum tanpa henti; juga degupan jantung yang menggila karena ajakan kencan yang ia terima. "a –aku tidak tahu apa yang hyung maksud, tapi –"

"Taehyung sakit –"

Napas Jungkook terkesiap, matanya membulat, tenggorokannya perih dan gatal, otaknya mati meskipun telah memberi impuls agar jantungnya berdetak kuat usai mendengar Yoongi, " –dan itu karena kau, keparat kecil"

.

.

Taehyung sakit. Pria seksi sempurna itu sakit. Karena dirinya yang begitu keparat.

Entah apa maksudnya yang jelas Jungkook berlari keluar kampus usai pikirannya porak poranda dan ia tidak bisa kembali fokus saat kuliah berlangsung. Ia tidak peduli dengan Jimin yang berteriak memanggilnya; toh juga pasti pertanyaan tidak penting atau sekadar mengucapkan hati-hati. Setelah mengatakan bahwa Taehyung sakit dan itu karena ulahnya, Yoongi langsung pergi begitu saja tanpa menambahkan kalimat penjelas; membuat Jungkook bingung setengah mati. Apa yang telah dia perbuat hingga makhluk seindah malaikat jatuh sakit?

Berdasarkan informasi kecil-kecilan dari memori yang bisa ia ingat kalau rumah pria itu sekitar dua ratus meter menuju barat jika ditinjau dari rumahnya. Dan Jungkook akan mencarinya dengan segala kemampuan yang ia punya; berlari dan bertanya pada orang sekitar. Ia berlari dengan sangat cepat seolah menantang angin yang berhembus meniupkan daun kering untuk jatuh dari ranting pohon. Pikirannya kalang kabut seolah menolak keindahan yang Tuhan berikan untuk cuaca cerah hari ini; bagaimana bisa ia tenang jika pria yang sukses membuatnya berdebar gila sedang sakit –dan itu karena ulahnya.

Ia terus mengingat hal buruk apa yang ia lakukan pada Taehyung hingga membuat pria itu sakit; sialan. Bahkan Yoongi tidak memberitahu Taehyung sakit apa, dan apa ulah keparat yang ia perbuat. Mengesampingkan itu, Jungkook berlari lebih kencang seolah takut matahari akan terbenam lebih cepat dan ia akan semakin sulit menemukan Taehyung.

"jadi dia tinggal di apartemen? Oh, sial"

Napasnya terengah, ia menghentikan larinya dan menumpukan tangan pada kedua lututnya yang lemas karena berlari jauh. Ia menyeka peluh yang telah membanjiri wajahnya dan mendongak; menatap gedung yang lumayan tinggi bertabur jendela dihadapannya.

Itu apartemen Taehyung tinggal. Tidak salah lagi, Jungkook cukup pandai perihal arah, mata angin, peta, dan sejenisnya jadi ia seratus persen yakin tempat tinggal Taehyung disini.

Parahnya, kakinya sudah lemas dan ia tidak mungkin berkunjung ke setiap pintu dan mengetuk untuk memastikan dimana kamar Taehyung. Maka ia memutuskan untuk tetap masuk dan menemui siapa saja didalam sana; bagus lagi kalau ada pemilik apartemen jadi ia tidak perlu repot mengetuk setiap pintu. "permisi,"

Ada sebuah meja kayu kecil di sudut kiri dari pintu masuk. Dan ada seorang wanita yang Jungkook kira mungkin sekitar dua puluhan usianya; rambutnya bergelombang indah berwarna merah maroon, matanya tajam tapi tatapannya lembut, wajahnya amat manis dan sifatnya sopan dan ramah sekali. "ada yang bisa saya bantu? Ayah sedang keluar, sebetulnya"

"a –ah, itu aku ingin tahu, apa anda tahu Kim Taehyung tinggal di kamar nomor berapa?"

Wanita itu mengernyitkan dahinya samar, seolah pertanyaan Jungkook adalah hal aneh dan asing ditelinganya, atau ia sedang berpikir dimana kamar itu? Mengingat bangunan ini cukup tinggi dan ia rasa kamarnya ada lumayan banyak, "maaf, tapi aku sedang liburan semester disini dan baru saja tiba kemarin, kurasa aku tidak tahu –"

"bisa anda hubungi ayah anda? Kumohon,"

Jungkook tidak mau tahu, hatinya sudah mencelos begitu gadis itu mengucapkan kata maaf. Ia tidak bisa menyerah begitu saja, ia harus menemukan Taehyung sekarang juga. "baiklah, mohon tunggu" maka gadis itu mengambil ponselnya dan menekan speed dial nomor dua; sepertinya memanggil ayahnya. Jungkook mendengus kesal, kenapa lama sekali? Ia sudah tidak tahan menunggu lama begini, ia bersumpah kalu dalam lima menit urusan ini tidak menghasilkan apapun, ia akan mendatangi semua kamar dan memastikannya sendiri.

"maaf, Tuan"

Kata penyesalan yang diucapkan gadis itu membuat napasnya terkecat, oh Tuhan apalagi kali ini. Ia hanya ingin melihat keadaan Taehyung yang sampai membangunkan si hyena lapar –Min Yoongi. Ia rasa ia akan benar-benar menjalankan rencana bodohnya barusan,

"menurut regulasi yang dibuat ayah; demi privacy penghuni, kami dilarang memberikan informasi apapun pada orang asing, termasuk nomor kamar atau siapapun yang tinggal didalamnya. Kecuali jika anda pernah berkunjung kesini sebelumnya karena kami memilki daftar hadir tamu –"

Hati Jungkook pecah seketika, napasnya lolos begitu saja seolah paru-parunya berlubang, otaknya kosong dan tidak bisa berpikir lagi; entah apa yang harus ia perbuat kali ini.

" –apa anda pernah mengisinya? Siapa nama anda?"

.

.

Langit telah berubah menjadi oranye terang, angin berhembus lembut namun dingin. Suasanya mulai senyap meskipun banyak pejalan kaki atau pengemudi kendaraan lalu lalang. Namun yang Jungkook dengar adalah sepi, senyap, bisu. Seluruh inderanya serasa mati dan kaku, ia tidak bisa berpikir. Kakinya telah lemas karena berlari, napasnya sudah hampir habis, pikirannya masih kalang kabut, berjalan saja rasanya seperti ingin mati.

Ia tidak menemukan Taehyung, bahkan hanya perlu satu langkah lagi; tapi ia justru terpeleset hingga terperosok kedalam jurang. Ia gagal, tidak bisa melihat keadaan Taehyung yang katanya tengah sakit itu. Ia tidak bisa berpikir setenang daun gugur yang jatuh begitu saja.

Sebetulnya ia juga heran; kenapa ia begitu terpuruk dan khawatir mendengar Taehyung sakit? Hatinya terasa tercabik begitu ia tidak bisa menemui pria itu. Bahkan ia telah berlari kesetanan dari kampus demi hasil yang nihil; sia-sia. Untuk apa ia begitu kalap dan seperti orang gila, padahal Taehyung bukanlah seseorang yang berarti dalam kehidupannya. Eksistensi pria itu tak lebih dari beberapa minggu dalam hidupnya dan hanya membuat Jungkook olahraga jantung; tapi kenapa rasanya ia begitu rindu, tenang dan senang jika bersamanya? Dan rasanya begitu sakit mendengar Taehyung tengah menderita; terlebih karena ulahnya.

Ia tidak bisa mengingat bahkan menerka hal keparat macam apa yang ia lakukan hingga Taehyung sakit. Ia betul-betul kehabisan ide bahkan untuk menemukan secuil clue untuk menyimpulkan hipotesa bagaimana Taehyung bisa sakit. Seharusnya ia menahan Yoongi dan bertanya lebih lanjut; bukannya diam menaganga seperti orang bodoh dan berlari kesetanan tanpa arah.

Bukan sengaja kalau Jungkook menyenggol bahu siapapun itu, ia hanya terlalu lelah berpikir dan tubuhnya masih lemas –terlebih kakinya. "hei, Jeon Jungkook"

Jungkook menghentikan langkah gontainya begitu mendegar suara yang berat dan dalam namun sedikit serak; ia mengenal suara ini. Rasanya ia ingin menangis mendengarnya, napasnya kembali normal namun jantungnya berdegup kuat, buru-buru ia membalikkan badannya –

"Namjoon seonsaengnim,"

.

.

"jadi... Taehyung hyung –dia ,"

Namjoon mengangguk pelan namun melirik mimik Jungkook yang duduk disebelahnya, "ya, dia alergi makanan laut; udang, cumi, ikan –hanya ikan laut saja, gurita, yah –begitulah"

Jungkook menundukkan pandangannya; matanya memanas, napasnya memburu, tangannya mengepal kuat dan kepalanya pening luar biasa. Ini semua salahnya; benar kata Yoongi. Ini semua gara-gara si keparat Jeon Jungkook yang seenaknya memberi Taehyung seafood padahal Taehyung alergi seafood. Dasar bedebah, kenapa ia tidak tanya dulu –tapi kenapa Taehyung tidak menolaknya.

Namjoon mendesah pelan, ia juga punya rasa iba meski wajahnya terkadang nampak garang dan tak bersahabat, ia sebetulnya peduli, "bukan sepenuhnya salahmu, Taehyungnya saja yang tidak –"

"tidak, seonsaengnim –ini, ini salahku. Maafkan aku"

Namjoon menggiring tangannya untuk mengelus rambut pemuda yang menjadi mahasiswanya ini. Sebetulnya ia ingin menjelaskan semuanya; lengkap dari huruf a sampai z, tetapi mengingat adiknya yang kini terbaring sakit dan menyedihkan, ia mengurung niatnya. "seharusnya aku bisa mengerti raut wajah aneh Taehyung hyung saat kami makan bersama kemarin,"

"Taehyung memang pribadi yang tidak enak menolak, jadi bukan salahmu juga –"

"tetap saja, aku yang salah. Aku memaksa meski Taehyung hyung sudah memberikanku kode kalau ia tidak mau memakannya tapi – tapi aku menepisnya dan bersikap tak acuh"

Namjoon memijit pangkal hidungnya pelan, jujur ia juga sama peningnya. Ia sudah lelah mengurus adiknya, mengajar di tiga kampus, lalu jadi guru privat, dan harus menenangkan Jungkook yang sedang melankolis. "seberapa parah –"

" –seberapa parah Taehyung hyung? Aku memberikannya banyak sekali seafood kemarin; kurasa – kurasa Taehyung hyung –dia –"

Buru-buru Namjoon memotong ocehan Jungkook, "tidak apa, ia sudah merasa baikan sekarang. Aku sudah siap siaga kalau-kalau ia kambuh; jadi tenang saja. Bukan pertama kali hal ini terjadi, kau tidak usah khawatir" Namjoon hanya berucap dengan penuh kasih dan memancarkan senyumnya yang manis ditemani lesung pipi yang sangat memesona. Sejenak Jungkook terpana akan kesempurnaan dosennya ini; Kim Taaehyung dan Kim Namjoon, dua bersaudara yang sangat memesona. "seo –seonsaengnim, ada sesuatu, saya –"

"tapi maaf, kau tidak bisa menjenguk Taehyung,"

Jungkook membulatkan matanya; darimana pria itu tahu kalau ia ingin melihat Taehyung? Dan kenapa ia tidak boleh, bukannya Namjoon juga mengenal Jungkook? Ia rasa dirinya tidak punya catatan buruk dimanapun bahkan dimata Namjoon; jadi kenapa ia lagi-lagi dilarang menemui Taehyung bahkan kali ini oleh kakaknya sendiri. "kenapa?"

Jujur Jungkook sudah lemas sekarang, dan ia benar-benar ingin melihat keadaan Taehyung. Kenapa Tuhan seolah mempersulit keadaan. Dan ia bersumpah kalau ia melihat gelagat aneh dari Namjoon, matanya tidak fokus dan terlihat gugup; seolah menutupi sesuatu. "pokoknya tidak bisa, setidaknya belum. Kau belum bisa bertemu Taehyung, Jungkook"

"tapi seonsaengnim, saya –"

"maafkan aku," Namjoon memberikan senyum simpul kemudian bangkit dari duduknya, ia menepuk pelan bokongnya; takut-takut celananya kotor karena mereka duduk di bangku jalan yang tidak jelas kebersihannya. "tapi aku hanya bisa membantumu sampai disini, aku tahu kau merasa bersalah –"

" –tapi tidak usah begitu diindahkan, baik aku dan Taehyung tidak ada yang menyalahkanmu. Jadi kau tenang saja, – "

" –cukup hubungi dia melalui sms, telpon, atau chat saja. Saat ini kau belum diijinkan kerumahnya, akan ada waktunya, bahkan aku tidak akan mengijinkan sebelum dia mengijinkanku, maaf –"

Entah karena saking jeniusnya pria itu atau bagaimana, Jungkook sama sekali tidak paham apa yang diutarakan Namjoon; siapa yang berwenang untuk perijinan itu? Kenapa Jungkook seolah dilarang kesana sebelum waktunya; seakan ia pria baru pubertas dan belum boleh minum alkohol.

" –lain kali panggil aku hyung saja, tidak apa. Kalau begitu, aku duluan"

Dan meskipun Namjoon melangkah begitu tenang, lembut, seperti seorang model hingga sosoknya tak nampak lagi, Jungkook masih menatap kepergian Namjoon dengan pikiran yang kosong.

.

.

Namjoon masuk apartemen yang ia tinggali bersama adiknya. Ia meletakkan tas selempangnya lalu mencuci muka sejenak, wajahnya masih kusut karena kepalanya pening luar biasa. Begitu banyak yang ia pikirkan saat di perjalanan pulang. Terlebih perihal adik dan mahasiswanya; Taehyung dan Jungkook.

Namjoon telah mengganti kemeja formilnya dengan kaus warna putih berpola abstrak warna pastel. Ia melangkah menuju dapur dan meneguk segelas air dingin dari kulkas; ia butuh dihibur sejenak oleh segarnya air melewati kerongkongannya tanpa paksa. Setelahnya ia melangkah menuju kamar tidur Taehyung, memastikan apa yang sedang adiknya lakukan; apakah ia tidur atau barangkali sedang membaca, entahlah.

"hai, sedang apa?"

Taehyung yang ternyata sedang duduk di ranjangnya menoleh dan tersenyum lebar, "hai, hyung. Aku sedang mendengarkan lagu saja. Hyung cepat sekali pulangnya,"

Namjoon tersenyum dan masuk kedalam, menggiring tubuh tingginya dan duduk di tepi ranjang Taehyung. Ia tidak sadar kalau punya adik yang begitu manis, bahkan ruam merah di wajahnya bukan membuatnya iba tapi membuatnya gemas karena Taehyung bergitu menggemaskan, "hari sabtu kan memang cuma sedikit jadwalnya, kau ini –"

Taehyung melepas earphone dari daun telinganya sembari tertawa ringan, tanpa sengaja menggiring Namjoon dalam kehangatan. Ia menatap kakaknya gemas, "iya ya, aku lupa" dan ia tertawa lagi; sehingga Namjoon tak tahan lalu ia mengusak rambut Taehyung yang tebal itu sampai-sampai ia kepikiran untuk menggunduli Taehyung saja, rambutnya tebal dan sudah panjang.

"tadi aku bertemu Jungkook,"

Dan senyum Taehyung memudar seketika, napasnya sedikit tercekik mendengar nama yang sebetulnya daritadi sedang menari-nari dalam benaknya. "Jungkook? Apa –apa dia –"

Hati Taehyung mencelos begitu saja ketika Namjoon menggelengkan kepalanya pelan. Mereka tidak butuh untaian kata yang panjang karena melalui tatapan mata pun mereka dapat bicara. Taehyung bertanya melalui matanya karena ia tidak sanggup untuk berucap, dan Namjoon dengan sigap membaca pesan dari adiknya itu,

"maaf. Tapi dia tidak ingat,"

.

.

Wonwoo tengah menyuap bibimbap yang baru saja ia buat dan menatap heran Jungkook yang tengah mondar mandir dihadapannya bak robot rusak. Ia melirik jam dinding di arah jam tiga dari tempatnya duduk; sekarang pukul sembilan. Ia mengernyit heran, bukankah malam ini Jungkook ada kencan?

Pandangannya beralih pada pakaian Jungkook, ia masih mengenakan kaus kutang warna hitam dan boxer abu-abu, wajahnya kusut dan rambutnya acak-acakan, ia menggumam entah apa tapi terus menggenggam ponselnya erat. Apa yang sedang adiknya lakukan itu?

"kau bilang ada kencan,"

Jungkook berhenti mondar-mandir dan menatap kakaknya, "tidak jadi, hyung"

"kenapa?"

Jungkook menghela napas pelan, kemudian berjalan menuju kakaknya yang tengah berada di meja makan. Ia merengut kesal dan bingung; apa yang harus ia lakukan? "Taehyung hyung sakit, kami tidak jadi –uh, berkencan" jujur saja meski khawatir dan kalang kabut, kata kencan adalah kata memalukan dan membuat pipinya memanas karena –ah, pokoknya Jungkook jadi gugup sendiri.

Wonwoo hanya mengangguk dan bergumam 'oh' lalu kembali makan, ia juga bingung. Lalu apa masalahnya? Kenapa Jungkook malah seperti orang bodoh begitu; mondar-mandir tidak jelas. Membuatnya pusing saja, "sudah kau jenguk?"

"tidak boleh, hyung"

Kakaknya mengunyah pelan dan mengernyit bingung, "maksudnya?" Jungkook menghela napas lagi, ia sudah lelah dengan perdebatan pikirannya sendiri dan sekarang kakaknya menambah kadar pusingnya. "kata kakaknya aku tidak boleh berkunjung menjenguk, entah kenapa aku juga tidak tahu"

Wonwoo mengangguk, "mungkin Taehyung butuh istirahat total dan tidak bisa diganggu," Jungkook berpikir sejenak; benar juga apa yang dikatakan kakaknya. Mungkin maksud Namjoon tadi adalah Taehyung butuh bed rest total. Duh, ia jadi merasa lega; coba diutarakan dengan sederhana. Ia kan jadi mengerti sehingga tidak gundah gulana begini. "mungkin, tapi aku tetap khawatir" dan Jungkook kembali mengoceh bagai bayi lapar, membuat Wonwoo menelan bibimbap dengan amat sangat terpaksa, "hubungi saja dia; telepon atau sms"

"itu dia masalahnya; aku tidak punya kontaknya"

Selanjutnya sebuah hantaman dari sendok besi mendarat di dahi Jungkook membuat si empunya berteriak nyaring kesakitan. "dasar bodoh, kenapa bisa tidak punya. Dikemanakan otakmu itu, ha?" oke, Wonwoo sudah lumayan pening atas sikap bodoh adiknya itu; Jungkook dan Taehyung sudah mengenal dalam kurun waktu kurang lebih seminggu dan bahkan mereka hampir berkencan –itu pun gagal karena Taehyung sakit; tapi kenapa Jungkook bisa begitu bodoh tidak punya nomor ponsel pria itu. Dasar bedebah.

"ish, hyung. Habisnya aku tidak kepikiran, kan kita bisa bertemu di kampus –AW! HYUNG! SAKIT!"

Wonwoo sudah tidak tahan untuk membongkar isi kepala Jungkook; sebenarnya otaknya sempurna apa tidak, sih. Bisa-bisanya berpikir sempit begitu, dasar bocah. "yasudah, tidur sana. Kau bilang besok masuk jam enam pagi,"

Jungkook hanya mengangguk lemah; meskipun hatinya masih kacau dan tidak bisa tenang tapi ia mengingat kata-kata Namjoon untuk tidak terlalu memusingkan hal ini. Ia melangkah dengan gontai menuju kamarnya, berharap ada keajaiban yang dibawakan peri tidur untuknya; membawakan kabar kalau Taehyung sudah sembuh dan ia bisa melihatnya besok pagi.

Meski hanya akan bertemu di alam mimpi, ia rasa tidak masalah. Toh dalam mimpi ia masih bisa berdebar jika Taehyung adalah bintang tamu di bunga tidurnya. Ia sudah mematikan lampu kamarnya dan meletakkan ponsel di atas nakas, ia naik ke atas ranjangnya dan segera menarik selimut; berusaha bergelung dalam kehangatan sebelum –

Bzzt. Bzzzt.

–sebelum ponselnya berdering dan harus membangunkan Jungkook. Dengan tidak rela Jungkook mengulurkan tangannya dan meraih ponselnya tanpa sedikitpun bangkit. Ia membuka password ponselnya dan mengernyit samar, sebuah pesan ternyata. Sial, dia kira telpon penting. Tahu begitu kan ia bisa tidur saja dan membacanya besok pagi.

Hei, kau lupa kencan kita? Cepat turun karena aku sudah hampir mati kedinginan.

p.s. satu menit kau tidak muncul, aku akan menghukummu bocah nakal.

-kim taehyung si tampan yang seksi

Tidak butuh waktu lama untuk Jungkook bangkit dari tidurnya dan menganga lebar. Demi Tuhan, ini Kim Taehyung mengiriminya pesan! Baru saja ia bingung karena tidak tahu cara menghubunginya dan wow! Taehyung bahkan menghubunginya duluan dan membahas kencan –tunggu, KENCAN?!

Demi Tuhan sejak mendengar Taehyung sakit Jungkook melupakan acara itu; dan demi apa kalau Taehyung sudah dibawah sana menunggunya? Ini sudah jam sembilan lebih, kemarin mereka berjanji untuk bertemu jam delapan –itu berarti Taehyung sudah diluar sana dalam kedinginan selama satu jam! Astaga, Jungkook melesat turun dengan mengenakan mantel tebal warna jingga lembut dan sepatu puma blaze hitam putih; ia lari terbirit-birit karena sekali lagi, Taehyung menunggunya!

"hei! Hei! Jeon Jungkook –hei bocah, mau kemana?!"

.

Taehyung tersenyum simpul sembari memasukkan ponselnya kedalam saku mantelnya. Ia terkikik dalam hati; pasti Jungkook tengah terbirit. Ia yakin kalau Jungkook mengira ia sudah menunggu satu jam; padahal ia memang baru sampai –setelah berhasil kabur dari Namjoon. Jam tidur Namjoon memang jam sembilan, maka Taehyung akan bangkit dari tidur pura-puranya dan keluar apartemen.

Detik berikutnya ia mendengar suara pintu kaca yang seakan beradu dengan sesuatu; membuatnya terkejut bukan main. Dan ia hanya tertawa kecil melihat Jungkook terantuk oleh pintu kaca, rupanya ia betul-betul terbirit menuju Taehyung, dasar bocah.

"hyung! Taehyung hyung –ampun, Taehyung hyung –"

Taehyung tersenyum simpul, "kau pandai mengatur waktu, apa kau berlari dari kamarmu menuju kemari, hm? Kau menghabiskan waktu empat puluh detik saja, seperti singa lapar saja kau ini"

Jungkook menghirup napas banyak-banyak. Yang benar saja, empat puluh detik? Wow, ingatkan Jungkook untuk ikut lomba marathon atau apa karena larinya cepat sekali; apa ia juga secepat itu saat berlari ke apartemen Taehyung? Yang jelas Jungkook melihat pria dihadapannya ini sedang tersenyum manis, tubuhnya tenggelam dalam mantel yang ia kenakan, rambutnya yang tebal tersapu lembut oleh angin malam; oh Tuhan jantungnya baru saja berpacu habis berlari dan penampilan Taehyung membuatnya gila. "maaf, hyung –aku, maaf hyung. Apa hyung menunggu sangat lama?"

"ya, tentu saja. Kau bocah nakal, segala melupakan kencan kita –"

Bukan salah siapa-siapa jika wajah Jungkook memanas dan memerah, napasnya makin tersengal dan kepalanya mendadak pening. Bagaimana bisa Taehyung mengatakan kencan dengan begitu mudah; bahkan mereka bukan kekasih atau apa. " –jangan bengong, ayo kencan! Aku sudah hampir mati beku"

"e –eh? I –iya hyung,"

Jungkook berjalan dengan kikuk disamping Taehyung yang memasukkan lengannya kedalam saku mantelnya. Mereka sama-sama menghembuskan napas lega dan membuat asap putih keluar dari kedua belah bibir mereka; cuaca malam ini cukup dingin, sebetulnya. Jungkook tidak berhenti melirik Taehyung yang terus menatap kedepan. Ia melihat bagaimana wajah pria itu terpahat begitu sempurna; rahangnya jelas dan tajam seolah jemarinya akan terluka jika menyentuhnya, hidungnya mancung dan tegas, bibirnya tebal tapi sempurna dengan warna merekanya itu, matanya besar dan cantik, bulu matanya panjang dan melengkung indah, dan rambutnya sangat manis. "jangan melihatku terus, nanti kau tersandung"

Si mungil terkesiap; bagaimana Taehyung bisa tahu ia tengah mengagumi Taehyung? Bahkan ia tidak tahu apakah Taehyung balas meliriknya atau tidak; apa saking terpananya ia akan pesona Taehyung hingga ia tidak sadar betapa bodohnya ia terlihat.

"habisnya hyung manis sekali –eh, "

Dan Jungkook menutup mulut sialannya yang masih terpaku pada Taehyung, ia bersumpah kalau otaknya sudah menyuruh mulutnya untuk mengelak; tapi kenapa mulutnya tidak patuh? Lihatlah sekarang Taehyung menghentikan langkahnya dan menatapnya geli, mampus kau Jungkook. "kau makin pandai menggoda, Kook. Thanks, though. Ayo lanjut jalan"

Sebuah anggukan membalas ungkapan Taehyung, kemudian ia berjalan pelan. Namun ia kembali melirik Taehyung; apa ia sudah sembuh? Apa ia baik-baik saja? Bagaimana rasanya setelah melewati masa kritis; ia baru saja membaca artikel di internet efek alergi seafood dan itu membuatnya membayangkan betapa tersiksanya pria itu. "hyung, a –apa kau baik-baik saja –maksudku, itu –eum –"

"hal seperti itu bukan kali pertama, jadi aku sudah biasa. Tidak usah terlalu dipikirkan, ya"

"seharusnya kau menolaknya hyung, seharusnya kau bilang padaku –"

"aku baru saja sembuh, sudah dimarahi habis-habisan" oh Taehyung sedang merengut lucu, ia meniup poni panjangnya dan jalannya menghentak-hentak. Jungkook termangu sesaat; betapa menggemaskan pria itu. Ia jadi tidak tahan; tidak, tahan. Tapi memandang tubuh Taehyung yang begitu mungil dibanding mantelnya itu membuat Jungkook mendesah frustasi. Ia begitu ingin memeluk dan merengkuh Taehyung saat itu juga; dari apa yang ia lihat Taehyung sudah menggigil dan nampak kesal dengan cuaca dingin. Wajah Taehyung masih memerah membuatnya amat sangat menggemaskan membuat Jungkook berfantasi liar untuk mengecup atau menggigit pipinya pelan.

Salah siapa; Taehyung yang sempurna atau Jungkook dengan fantasi liarnya?

Akhirnya Jungkook tersenyum manis melihat Taehyung berjalan didepannya; wah sudah berapa detik ia termangu sampai ia tertinggal. Ia menghampiri Taehyung dan mengeluarkan tangan kiri Taehyung dari saku mantelnya –kemudian menggenggamnya erat dan memasukkannya kedalam saku mantel Jungkook. Membuat Taehyung menatapnya dengan penuh tanya meski jantungnya berdegup kencang; sangat kencang seolah jantung itu ingin meloncat keluar. "dingin sekali, ya hyung. Ah~ apa sudah hangat sekarang?"

Taehyung masih asyik menatap Jungkook yang nampak sangat maskulin, bagaimana pria itu bisa bersikap sangat manis dan dewasa dalam sekejap? Matanya memanas namun ia buru-buru mengerjap cepat, "y –ya, sudah hangat"

.

Entah apa yang dipikirkan seorang Kim Taehyung, bahkan Jungkook masih dalam mode blank. Bagaimana dua orang yang mengucap kata kencan bisa dikatakan berkencan kalau mereka ada di minimarket? Ya, setelah adegan sok romantis yang Jungkook lakukan mereka berbincang santai sampai Taehyung mengatakan tempat tujuan mereka sudah lewat; akhirnya mereka berbalik dan sekitar satu menit kemudian Taehyung berucap 'Tadah!' dengan ceria seperti anak kecil memberi kejutan dan ya, Jungkook terkejut –dan heran. Kenapa mereka berkencan di mini market dua puluh empat jam?

Segala hipotesa yang Jungkook coba bayangkan pecah begitu Taehyung datang membawa nampan besi; ada dua cup ramen dan dua susu vanilla dingin, sebungkus rumput laut kering, dan beberapa camilan seperti tortilla, keripik madu, dan buah anggur hijau. "ayo ayo~ makanan datang~"

Pria tinggi itu duduk dihadapan Jungkook dengan senyuman lebar, bahkan matanya menyipit saking senangnya. Tangannya menepuk-nepuk riang, seperti bayi bertemu susu saja. "kau bilang tidak suka Msg, hyung? Ramen kan banyak Msg nya"

Taehyung merengut lucu, "aku mau coba makanan instan. Sesekali, menjadi nakal itu perlu". Ia membuka tutup kaleng susunya lalu meneguknya mantap. "sembari menunggu ramennya matang, makan buah dulu ya~ makan buah lebih bagus kalau perut kosong" ujar Taehyung dengan girang dan memetik anggur dari tangkainya.

Jungkook mengikutinya, ia memasukkan dua buah anggur sekaligus ke dalam mulutnya. Ia makan sembari menatap betapa lucu Taehyung dihadapannya. "hyung,"

"hm?"

"kenapa kita berkencan disini?" Jungkook meminum susu vanillanya, menatap Taehyung heran. Ia juga tidak habis pikir oleh jalan pikiran pria seksi itu. "habisnya kita sudah terlalu larut untuk pergi, dan aku masih lemas untuk jalan terlalu jauh –"

Taehyung memasukkan empat anggur sekaligus, " –jadi yang kupikirkan cuma minimarket dua puluh empat jam, hehehe"

Sungguh jawaban tak terduga.

" –apa kau tidak suka, Jungkook-ah?"

Dengan sigap Jungkook menggeleng kuat, bukannya dia kecewa atau apa. Sumpah, dia hanya bingung kenapa dia diseret kemari, itu saja. Ternyata Taehyung luar biasa polos juga, ia jadi bersalah sesaat usai Taehyung mengatakan ia masih lemas; apa itu efek alerginya? "bu –bukan begitu, hyung. Hanya saja –itu, aku –"

"kau berharap aku menggeretmu ke Namsan tower, begitu? hahahaha"

Oh sial, Taehyung kembali ke mode suka menggoda andalannya. Membuat Jungkook tersipu dan telinganya memerah mendengar Taehyung tertawa dengan begitu indah dan manis. "apaan, tidak –eh hyung, ramennya sudah matang sepertinya"

Taehyung meneguk susunya cepat dan membuka tutup bungkus ramennya, benar sudah matang. Ia pun menggumam senang dan menyanyi tidak jelas, membuat Jungkook tersenyum lagi. Ia mengaduk ramen baru matang itu kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi menghasilkan uap hangat yang mengepul hebat.

"whoa~ hahahaha~! Uap uap uap~"

Beruntung Jungkook masih mengaduk ramennya karena kalau ia sedang makan bisa saja ia tersedak melihat betapa menggemaskan Taehyung hanya karena uap panas. Seolah itu adalah gelembung sabun yang ditiup anak kecil. Ingatkan Jungkook untuk menahan hasratnya agar tidak membungkus Taehyung pulang seolah ia anak kucing tersesat yang menggemaskan. "hyung norak deh, ini cuma ramen instan, tahu"

Dan seharusnya Jungkook tahu kalau ejekannya barusan membuat Taehyung merengut lagi, ah dasar bodoh. Jungkook jadi semakin gila dan frustasi. Kalau Taehyung yang seksi membuatnya gila dan limbung, maka Taehyung yang imut membuatnya frustasi dan mati-matian menahan nafsu liarnya. "berisik deh kau bocah nakal"

"habis ini aku punya permainan"

"apa itu?"

"adu main piano tiles 2" ucap Taehyung dengan mantap. Ia mengunyah keripik tortilla yang sudah terkoyak bungkusnya itu. Ia dapat melihat seringaian di wajah manis Jungkook, entah apa yang dipikirkan bocah itu. Apa dia barusan meremehkan Taehyung?

"yakin, tidak mau mainan yang lain? Piano tiles 2?"

Taehyung semakin mengernyitkan dahinya samar, kalau iya memang kenapa? Ia sedang dalam fase addict dengan permainan tap piano itu; itu juga karena ia melihat Yoongi main dan jadi kepingin. Apa Jungkook mahir piano tiles 2, ya? Nada bicara dan caranya menatap sangat meremehkan. "iya, tapi ada reward dan punishmentnya, tahu"

Jungkook menukikkan alisnya heran dan secara spontan memiringkan kepalanya; membuat Taehyung memekik dalam hati karena Jungkook nampak sangat lucu seperti kelinci minta diadopsi. "apa hukuman dan hadiahnya?" dalam benak Jungkook pasti hukuman dan hadiahnya tidak terlalu berarti dan mendengar Taehyung mengajaknya adu piano tiles, jujur ia merasa seolah dunia ada dalam genggamannya. Mengingat betapa sederhana jalur pikirannya untuk berkencan di minimarket, Jungkook hanya berdecih pelan.

"kalah; lompat kodok sampai rumah, menang; boleh minta apapun"

Dan tawaran itu agak terdengar menarik. Ia bisa meminta apapun pada Taehyung nanti; bisa kan ia meminta untuk berkunjung ke apartemennya? Atau meminta Taehyung jadi kekasihnya –hentikan fantasi liar ini. Tapi ia agak bergidik mendengar lompat kodok sampai rumah karena serius, mereka berjalan kaki selama tiga puluh menit lebih dari apartemennya dan selama itu ia akan lompat kodok? Tapi seringainya muncul kembali; toh ia tidak akan kalah.

"bagaimana?"

"call"

Dengan semangat Taehyung menyuap susu kalengnya sampai habis dan sedikit menetes melalui bibir sampai dagunya; bahkan Jungkook sudah mengepal kuat untuk tidak membersihkan tetesan itu dengan bibirnya yang dingin dan lidahnya yang hangat –sebenarnya ia minum susu atau alkohol, sih. Kenapa otaknya mesum begini, sialan.

Taehyung mengeluarkan ponselnya dari saku mantel kemudian membuka aplikasi piano tiles 2, ia tersenyum manis pada Jungkook yang masih menatapnya remeh, "selamat lompat kodok, Jungkookie"

"tidak –kau, selamat lompat kodok, Taehyungie hyung"

.

Jungkook ambruk ke tanah dengan napas terengah, kepalanya pusing, rambutnya sudah basah karena peluhnya sendiri, bahkan mantel yang ia gunakan hanya membuatnya semakin gerah. Akhirnya Jungkook membalikkan posisinya yang tadi seperti merangkak menjadi duduk dan menunduk, ia meraup oksigen sebanyak yang ia bisa selagi masih ada kesempatan.

Taehyung menyodorkan sapu tangan warna putih lengkap dengan senyum manis dan disambut Jungkook yang langsung mengusap wajanhya kasar. Taehyung tertawa melihatnya, kemudian mendudukkan dirinya disamping Jungkook yang masih asyik bernapas banyak-banyak. "kau meremehkanku sih, rasain tuh. bocah nakal sepertimu memang harus dihukum"

Jungkook melirik Taehyung sekilas lalu menghela napasnya berat, "aku hanya terpeleset satu blok, hyung. Hyung saja yang tidak mau kasih kesempatan lagi," mendengarnya Taehyung berdecak dan menggeleng pelan. "kalah, ya kalah. Jangan banyak alasan, kiddo. Sekarang terima hukumanmu; lompat kodok sampai rumah. Ayo ayo~ masih tiga ratus meter lagi" ucap Taehyung yang bangkit menarik-narik lengan Jungkook yang sudah terkapar itu.

"aish, hyung~ aku lelah"

Jungkook malah tergeletak dan menggeliat, merengek seperti bayi baru bangun dan menangis mencari mama dan haus ingin susu. Kakinya menghentak-hentak ke udara dan kepalanya menggeleng kuat dan suaranya mencicit menolak, "kau sudah bersedia, jangan curang dong"

"tidak mau, hyung~~ capek, tahu. Hyung gak pernah lompat kodok sejauh lima ratus meter, apa?"

"kan sudah sepakat, ya jalani saja."

Si mungil makin merengek seperti anak anjing yang akan ditinggal majikan, membuat Taehyung jengah meskipun hatinya berteriak betapa lucunya Jungkook saat ini. Tapi ia cukup tahu kondisi dan hell, mereka masih di pinggir jalan dan Jungkook menghalangi jalan; bisa-bisa membuat orang lalu lalang menatapnya heran. "hyung, jebal –"

"jangan begitu, Kook. Kau memalukan, ah. Cepat bangun dan lompat kodok lagi,"

Jungkook makin kuat menggeleng, badannya benar-benar lelah dan ia sangat haus; bahkan Taehyung memintanya membayar semua makanan yang mereka makan –catatan, Jungkook tidak bawa dompet dan bersyukur ada beberapa ribu di saku mantelnya, bonus mereka tidak beli air minum. "aku ngantuk, hyung~ capek, ngantuk"

"makanya cepat lompat kodok sampai rumah, nanti kau boleh puas-puas tidur"

Suruhan Taehyung membuatnya geram, kakinya lemas karena tadi sore berlari kalang kabut dan sekarang lompat kodok sejauh lima ratus meter; demi Tuhan baru dua ratus meter saja rasanya kakinya hampir terpisah dengan tubuhnya. "nanti kutinggal kau sendiri disini, bye –AH!"

Gerutuan Taehyung dan rengekan Jungkook bungkam begitu Jungkook menarik tangannya kuat hingga membuat Taehyung limbung dan terjatuh diatas tubuh Jungkook. Mereka berdua terdiam, membiarkan angin berhembus dan terdengar meski hanya sayup-sayup. Jungkook meremang menyadari kepala Taehyung sangat pas di lehernya dan ia yakin wajah pria itu berada di ceruk lehernya, ia bisa merasakan betapa dingin bibir Taehyung ketika bersentuhan dengan lehernya.

Jantung mereka sama-sama berdebar kencang meski terhalang mantel tebang sehingga tak satupun dari mereka dapat mendengarnya. Entah atas dasar apa tangan Jungkook tergiring untuk memeluk pinggang mungil Taehyung, memberi impuls yang menyengat empunya sehingga membangunkan kesadarannya kembali. Ia hendak mengangkat tubuhnya tapi tubuhnya tidak mau sejalan dengan otaknya; entah atas dasar apa ia merasa nyaman sekali dalam pelukan gelandangan itu. Pelukan yang seperti main-main bahkan memalukan; karena mereka masih di jalan!

"kalau tidur disini; bersamamu, boleh?"

Taehyung tidak bisa menjawab pun mengangguk atau menggeleng. Otaknya betul-betul mati dan kosong; tadi Jungkook menggenggam tangannya, sekarang memeluknya hangat. Ia sangat pening dan kehabisan oksigen karena sedari tadi ia menghirup aroma strawberry yang segar dan manis dari tubuh Jungkook. Suaranya yang cukup berat barusan menampar Taehyung seolah mengingatkan kalau ini dunia nyata.

Sejujurnya ia merindukan Jungkook; amat sangat rindu sampai rasanya napasnya tercekik kala nama Jungkook terdengar tanpa sengaja, ketika bayangan bocah itu menari-nari bagai pirngan hitam rusak Taehyung limbung seketika. "kuberi waktu dua menit, habis itu lompat kodok lagi"

Dan akhirnya Taehyung hanya terdiam mengiyakan apa yang Jungkook mau. Lagipula tidak ada yang bisa ia lakukan selain diam, toh ia juga menikmati kehangatan yang Jungkook salurkan.

"sadis"

"harusnya kau bersyukur menjadikan Kim Taehyung yang tampan sebagai guling, kau harus tahu betapa beruntungnya seorang Jeon Jungkook sekarang"

Jungkook tersenyum manis, masih memejamkan mata. Hatinya menghangat dan penuh, perutnya tergelitik dan rasanya geli dari ujung rambut hingga kuku jari kakinya. Tangannya semakin mengeratkan pelukan pada tubuh Taehyung yang ternyata sangat mungil dan kurus. "jangan banyak bicara, aku terangsang saat bibirmu bergerilya di leherku"

"keparat! Lepaskan aku!"

.

.

Matahari sudah terbit sejak tadi, dan beranjak naik seiring berjalannya waktu yang terasa lambat. Cahaya matahari menembus jendela kaca yang tertutup gordyn putih dengan motif lubang dibeberapa sisi; membuat seorang pria yang asyik tertidur merasa silau dan akhirnya membuka mata. Ditatapnya guling yang ia peluk,

Apa yang semalam itu cuma mimpi? Rasanya bukan. Bahkan ia ingat betapa hangat dan geli lehernya semalam. Ia ingat betapa pegalnya ia tertidur dan beberapa kerikil dan tanah yang mengotori mantelnya, jadi semalam bukanlah mimpi kalau ia memeluk Taehyung.

Ia bangkit dari tidurnya dan mengambil ponsel diatas nakas; mengernyit heran karena Jimin mengiriminya pesan.

Hei, aku tidak mau repot-repot meniru tanda tanganmu. Salahmu sendiri tidak datang, silahkan hubungi Jinyoung seonsaengnim untuk meminta tugas pengganti.

p.s. kau akan mati melewati mata kuliah Jinyoung seonsaengnim dengan keterangan alfa

Dan Jungkook membulatkan matanya, ia melirik waktu di sudut kanan atas ponselnya yang menunjukkan pukul delapan pagi. Demi Tuhan, seharusnya hari ini dia masuk jam enam untuk praktikum pengganti! Sialan, kemana Wonwoo hyung?

Akhirnya ia keluar dari selimutnya dan berlari keluar kamar; namun larinya terhenti karena membaca sebuah sticky note warna hijau di pintunya,

Jangan salahkan aku kau tidak bangun. Kau tidur seperti orang mati dan tersenyum mesum, aku jadi tidak tega karena aku sudah meneriakimu dengan speaker tapi tidak berhasil.

Fighting~!

"AISH! WONWOO HYUNG –!"

.

.

.

TBC