Title : [애별리(Love, Separate, Leave)] Chapter 4 – Mohwagwan
Genre : Saeguk, Shounen-ai
Rating : T
Length : Chaptered with 4.529 words
Author : leenahanwoo
Pairing: Kid x Law
Cast : Eustass Kid, Trafalgar Law and OC
Warning : SHO-AI Content ! Don't like don't read ! OOC-ness is everywhere !
Disclaimer : All One Piece casts are Eiichiro Oda-sama's. This story and OC are mine.
NOTE: TELAH HADIR CHAT GRUP ANIME + K-POP FANDOM. Bagi yang memiliki akun LINE, silakan add saya dengan ID leenahanwoo, dan nanti akan saya invite ke chat grup ini ^^ Mari kita lestarikan fandom Anime dan KPOP di bumi pertiwi Indonesia ‼!
Glossary:
Uiju : Provinsi di perbatasan Joseon dan Qing.
Gwanbok : Hanbok seragam pejabat istana yang dipakai sehari-hari
Damo : topi hitam yang dipakai oleh pejabat istana
Seop : 2 lapisan yang saling menindih pada bagian depan jeogori
##++~ Love, Separate, Leave ~++##
Law tak mampu berkata apa-apa mendengar perkataan Kepala Pengawal Seo. Baru dua hari berlalu sejak Kid mengatakan semua permasalahan akan diselesaikan oleh sang kepala pengawal. Dan pagi ini dia malah mendengar kabar buruk.
"Naeuri, apa itu benar? Bagaimana … maksud saya … tidakkah Arsip Registrasi telah disimpan di tempat yang aman?" takut-takut Law bertanya.
"Dokumen itu dicuri tepat ketika perjamuan untuk menyambut utusan Qing berlangsung tadi malam. Mereka memanfaatkan kelengahan kami, karena semua anggota keluarga kerajaan, satuan militer dan pelayan kerajaan berkumpul di Aula Injeonjong. Mereka berhasil menemukannya, di tempat penyimpanan rahasia milik Choi sanggung."
Jadi selama ini Arsip Registrasi berada di tangan Choi sanggung, sang kesayangan Raja Sukjong? Law sudah sering mendengar betapa sang raja memuja sanggung muda itu, bahkan melebihi Ratu Jang yang konon katanya memiliki kecantikan yang tak tertandingi oleh ratu-ratu Raja Sukjong terdahulu. Begitu percayanya sang raja pada Choi sanggung, hingga memberikan amanat untuk menyimpan dokumen sepenting itu. Namun tetap saja, Jang Hee Jae yang terkenal akan kelicikannya memiliki seribu satu cara untuk memperoleh apa yang dia inginkan.
"Aku memanggilmu karena aku ingin tahu apakah kau mendengar pembicaraan Jang Hee Jae dan Jin daegam selain dari apa yang kau sampaikan. Aku berharap bisa menemukan petunjuk dari tindak-tanduk mereka."
Sayangnya tidak. Law hanya mendengar segelintir dari pembicaraan mereka. Tentulah jika dia tidak segera pergi saat itu, mereka malah akan mencurigai dirinya. Jadi apa yang dia sampaikan di kantor Pengawal Kerajaan adalah apa yang dia dengar seluruhnya.
"Mohon maaf, yeonggam. Hanya itu saja yang saya dengar dari pembicaraan antara Jang yeonggam dan Jin daegam, tidak ada yang lain lagi," ujar Law dengan nada menyesal.
"Begitukah?"
Dan Law mengangguk, walau rasa bersalah masih membekas di hati karena tak mampu membantu lebih banyak. Tapi senyum kecil di wajah Kepala Pengawal Seo cukup memberitahunya bahwa dia memaklumi.
"Jadi, langkah apa yang akan kita ambil selanjutnya, yeonggam?" Wakil Kepala Nam menyuarakan apa yang juga dipikirkan oleh Law saat ini. Pemuda itu ingin mengetahui rencana sang kepala pengawal untuk merebut kembali Arsip Registrasi serta membuktikan kebenaran atas pertukaran yang akan dilakukan Jang Hee Jae dengan utusan dari Qing.
"Aku masih memikirkan … ah, anak itu sudah datang." Kepala Pengawal Seo yang baru akan menjabarkan pemikirannya langsung beralih pada sosok yang tengah berjalan mendekati mereka. Tinggi badannya yang menjulang membuatnya terlalu mudah untuk dikenali, bahkan dari jarak yang jauh sekalipun.
"Saya baru kembali dari Gunung Ganghwa, yeonggam." Kid membungkukkan badan hormat ketika tiba di hadapan mereka.
"Benarkah? Apa kau berhasil menemukan sesuatu?"
Pengawal itu mengangguk. Dia mengulurkan tangan dan menunjukkan sebuah benda bulat berwarna hitam di dalam genggaman. Law melihat sebuah topi dari bahan beludru yang lembut dengan rumbai pendek berwarna merah di bagian pucuknya, dan tampaknya tidak asing …
"Topi pengawal Qing?" Kepala Pengawal Seo berkata tanpa melepaskan tatapan dari benda tersebut.
"Ya, yeonggam. Kami menemukannya di semak-semak, di tempat yang dilaporkan oleh pengawal kerajaan yang mengawasi pembangunan benteng."
"Yeonggam, berarti benar bahwa Qing diam-diam mengawasi pembangunan benteng di Gunung Ganghwa!" seru Wakil Kepala Nam.
"Sesuai dugaan kita semula," ujar Kid. "Mereka pasti berusaha mencari tahu bagaimana proses pembangunan benteng sembari mencari tahu peta kekuatan Joseon."
"Semuanya hanyalah pelengkap laporan mereka nanti jika mereka berhasil mendapatkan Arsip Registrasi dan telah kembali ke Qing," lanjut Kepala Pengawal Seo.
Law meresapi semua pembicaraan itu. Semuanya berpusat pada Arsip Registrasi. Semua permasalahan ini berakar dari dokumen berisi informasi perkembangan kekuatan militer Joseon itu, yang diincar oleh berbagai pihak demi kepentingan pribadi, golongan tertentu, bahkan kerajaan tetangga. Dan keberadaannya yang hingga kini tak diketahui membuat empat orang yang berada di selasar yang senyap itu terdiam, mencari cara untuk memperoleh kembali dokumen yang hilang.
"Siang ini beberapa pemusik istana dan gisaeng akan pergi ke Mohwagwan. Mereka ditugaskan untuk memberikan pertunjukan kecil terakhir sebelum rombongan utusan dari Qing kembali ke kerajaan mereka tiga hari lagi. Bila saya bisa ikut dalam rombongan budak yang mendampingi para pemusik, saya bisa mengawasi dan memantau pergerakan Jang yeonggam dan Jin daegam. Jika beruntung, mungkin juga saya bisa mengetahui bagaimana dan di mana Jang yeonggam akan menyerahkan Arsip Registrasi pada Qing." Tanpa sadar Law berucap. Dia sangat ingin membantu para pengawal kerajaan untuk melaksanakan tugas mereka, dan hanya ini cara yang dapat dia pikirkan.
"Itu sangat berisiko. Kau tidak tahu bagaimana memata-matai orang lain, dan kau tidak terlatih untuk itu," tanggap Kid. "Maaf, aku bukan bermaksud untuk meremehkanmu, tetapi jika apa yang kau lakukan sampai diketahui oleh pihak Jang Hee Jae maupun pihak Qing, itu berarti kau akan membahayakan nyawamu sendiri."
Law dapat melihat pancaran kekhawatiran dari mata beriris amber itu. Dia menoleh pada Kepala Pengawal Seo dan Wakil Kepala Nam untuk meminta persetujuan, namun dia mendapati tatapan yang sama. "Saya yakin saya bisa. Dan saya berjanji akan sangat berhati-hati."
"Aku dan pengawal kerajaan lain akan ikut mendampingi …"
"Tidak, Kid," potong Wakil Kepala Nam. "Mereka pasti sudah memperkirakan bahwa berita hilangnya Arsip Registrasi telah sampai pada Yang Mulia Raja. Jika mereka mendapati ada pengawal kerajaan yang berusaha masuk ke dalam Mohwagwan, mereka pasti akan semakin curiga dan mencari cara yang lebih aman untuk bertemu. Bahkan mereka bisa berpindah tempat hingga ke Uiju, dan itu tidak akan mengherankan."
"Wakil Kepala Nam benar. Kita tidak bisa bertindak gegabah dengan mengirimkan prajurit lagi ke Mohwagwan, atau mereka akan lolos dari tangan kita dan kita mungkin tidak akan menperoleh bukti konkrit atas kejahatan yang mereka lakukan," ujar Kepala Pengawal Seo menyetujui pendapat sang wakil kepala pengawal.
"Tapi …." Pengawal itu ingin membantah, namun perkataan kedua pimpinan Pengawal Kerajaan itu benar adanya. Apa yang ingin dilakukan Law saja sudah cukup berisiko, dan keberadaan pengawal kerajaan di Mohwagwan tentu akan membuat mereka semakin berhati-hati. Bahkan tidak mustahil orang-orang itu dapat mematahkan usaha mereka dalam memperoleh bukti kejahatan itu, sehingga semua usaha mereka menjadi sia-sia.
"Jika aku mengizinkanmu pergi ke Mohwagwan, apa kau bisa melakukannya?" sahut sang kepala pengawal tiba-tiba.
"Ya?" Law menanggapi dengan bingung.
"Jika aku memintamu untuk pergi ke Mohwagwan dan mencari informasi yang kami butuhkan, apa kau bisa melakukannya?" ulangnya.
Law tersenyum. "Ya, yeonggam. Saya pasti bisa melakukannya."
"Tapi," lanjut kepala pengawal itu, "aku hanya meminta kau mencari informasi. Dengar, lihat dan amati apa saja yang mungkin menjadi petunjuk. Bila kau memperoleh sesuatu yang penting, segeralah memberitahu kami di kantor Pengawal Kerajaan. Biar kami yang akan bertindak. Kau tidak boleh melakukan hal yang menimbulkan kecurigaan, atau membahayakan dirimu. Apa kau mengerti?"
Pemuda itu mengangguk, merasa lega dan senang karena dapat membantu Satuan Pengawal Kerajaan sesuai yang dia inginkan. Rasa loyal terhadap Joseon membuncah tinggi-tinggi. Baginya, ini hanyalah salah satu hal yang dapat dia lakukan untuk kerajaan yang telah menaunginya, memberinya pekerjaan dan tempat tinggal yang nyaman.
"Terima kasih. Sekarang kembalilah ke Biro Musik sebelum ada yang mencurigaimu."
Perkataan sang kepala pengawal segera dipatuhi oleh Law. Pemuda itu segera beranjak dan meninggalkan tempat pertemuan mereka.
"Kid." Kepala Pengawal Seo menoleh kepada pengawal itu setelah sosok Law menghilang dari pandangan.
"Saya siap menerima perintah." Kid menunduk dalam keadaan siaga.
"Kumpulkan satuan mata-mata kerajaan dan menyamarlah. Kelilingi Mohwagwan, awasi tempat itu dari luar dan pastikan kalian semua menyebar di setiap titik strategis. Aku khawatir dengan anak itu. Sekalipun apa yang dia lakukan bukan hal yang berat, tetapi risiko yang dia emban cukup besar. Jadi kalian semua harus memastikan agar keselamatannya terjamin. Apa kau mengerti?"
Kid tersenyum lalu menunduk. "Baik, yeonggam."
…
Cho sanggung berjalan dengan cepat menuju Dapur Kerajaan. Berada pada wilayah di luar dinding Istana Dalam membuat area ini menjadi tempat yang seringkali luput dari pengawasan para penjaga istana. Selain itu, Kepala Biro Perjamuan dan Pesta lebih sering mendatangi tempat ini untuk memastikan semua persiapan makanan untuk perjamuan di Mohwagwan berjalan dengan lancar. Sanggung dari kediaman Daejojeon itu menyapa beberapa sanggung senior lain dari Dapur Kerajaan, untuk menghindarkan kecurigaan atas kedatangannya yang tiba-tiba. Berbasa-basi sejenak, sebelum akhirnya dia meneruskan langkah dan berbelok ke arah penyimpanan pasta kacang kedelai.
Di sana, seorang pejabat dengan gwanbok berwarna merah dan damo berwarna hitam telah menunggu. Dia bergerak dengan gelisah, dan beberapa kali mengusap keringat yang mengalir. Hari itu cuaca sedikit lebih panas daripada biasanya, membuatnya kelelahan menunggu sanggung yang diharapkan kedatangannya sedari tadi.
"Yeonggam," sahut Cho sanggung sembari memberi hormat.
"Akhirnya kau datang juga. Di mana dokumen itu?" Dia mengulurkan tangannya, meminta benda berharga yang sesungguhnya sedang digenggam erat oleh Cho sanggung di balik seop-nya.
Dia pun mengeluarkan dua buah buku di tangannya, lalu menyerahkan buku tersebut kepada si pejabat dan berkata, "Yang Mulia Ratu berkata agar jangan sampai terjadi kesalahan. Yang Mulia mendapatkan ini dengan susah payah, sampai harus memaksa agar Choi sanggung tetap tinggal di perjamuan makan malam hingga selesai. Memberikan kami cukup banyak waktu untuk menemukan dokumen ini di tempat penyimpanan rahasia di kediamannya."
"Tenang saja. Pasukan Pengawal Kerajaan sudah ditarik dari Mohwagwan, dan aku bisa lebih bebas bertemu dan menyerahkan ini pada Jin daegam. Katakan pada Yang Mulia untuk tidak khawatir, karena plakat pengakuan Putra Mahkota akan segera menjadi milik Joseon."
Cho sanggung tersenyum, merasa bahwa satu beban di pundak majikannya sebentar lagi akan lenyap. "Baik, Jang yeonggam."
##++~ Love, Separate, Leave ~++##
Pengawas Hwang memandang Law dengan mata penuh kecurigaan. Selama dia mengenal pemuda ini, belum pernah sekali pun tebersit dalam benaknya bahwa Law akan menawarkan diri menjadi budak pendamping untuk pertunjukan di Mohwagwan. Dia tahu betul betapa bencinya Law pada tempat itu. Terakhir kali dia menarik paksa budak bermata keperakan itu ke Mohwagwan, pun itu semua murni keterpaksaan, karena tidak ada budak muda lain yang bisa menggantikan selain Law. Si pengawas tak pernah mengajak budak yang telah berusia paruh baya untuk membantu pertunjukan; selain dikarenakan mereka bekerja lebih lambat, tentu yang menjadi pertimbangan adalah penampilan para budak muda lebih menarik untuk dilihat, tak akan membuat malu Biro Musik karena mempekerjakan budak yang tua dan jelek untuk keperluan persiapan pertunjukan. Dan sekarang pemuda ini meminta agar diikutkan dalam rombongan ke Mohwagwan? Sulit dipercaya, jika tak ada hal mencurigakan di baliknya.
"Berikan aku satu alasan jujur mengapa kau ingin ikut dalam rombongan ke Mohwagwan," ujarnya dengan dahi mengernyit.
"Naeuri, Seonju benar-benar terkena diare. Dia sedang ditangani oleh perawat sekarang." Law berusaha meyakinkan Pengawas Hwang. Dan sang pengawas tak perlu tahu bahwa budak yang dua tahun lebih muda dari Law itu mengambil sisa-sisa makanan dari perjamuan semalam, dan akhirnya sakit perut karena terlalu rakus memakan ini dan itu.
"Kau tidak menyuruhnya makan yang aneh-aneh, bukan?"
"Naeuri! Bagaimana mungkin Anda menuduh saya berbuat sejahat itu?" Law merengut sebal. Seonju sakit bukan disebabkan olehnya, walaupun Law cukup senang karena sakit yang dialami Seonju memberinya peluang untuk ikut dalam rombongan ke Mohwagwan. "Seonju sedang sakit, dan dia meminta saya untuk menggantikan tugasnya. Seharusnya Anda senang karena saya menawarkan diri tanpa harus dipaksa."
Pengawas Hwang berdecak. "Sebetulnya aku tidak percaya jika tidak ada udang di balik batu. Terkecuali kau melempar si udang dan menggantinya dengan kepiting untuk menyepitku dari belakang. Tapi terserah padamu. Silakan saja bila kau ingin ikut dalam rombongan para budak dan menggantikan Seonju. Tapi kuperingatkan, kalau kau membuat masalah atau tersesat lagi seperti kemarin dan menyusahkanku, aku tak akan segan-segan menghukummu."
Law tersenyum tipis. "Baik, naeuri."
Satu rencana berhasil.
…
Mohwagwan terlihat lebih suram dan sepi sejak terakhir kali Law mendatangi tempat itu. Tampaknya keceriaan para utusan Qing mulai pudar, karena mereka akan segera meninggalkan Doseon. Meninggalkan Mohwagwan yang penuh kemewahan dan suka cita, dan melewati perjalanan panjang untuk kembali ke kerajaan mereka. Walau Law menutup mulut rapat-rapat, hal itu tak membuat hatinya ikut terdiam. Dengan jantung berdebar, dia memasuki area Mohwagwan dan mengamati tempat itu dengan saksama. Tak ada yang tampak mencurigakan, walaupun pemuda itu merasakan ada ketegangan yang nyata dari para utusan Qing. Seakan mereka sedang dibebani oleh amanat berat di bahu. Apakah mereka semua sedang menunggu Arsip Registrasi hingga sampai ke tangan mereka? Apakah mereka semua tahu betul mengenai perkara ini? Bila itu memang benar, maka Law tidak habis pikir bagaimana Qing bisa berbuat serendah itu kepada kerajaan yang telah terjalin hubungan baik di antara keduanya.
Law melakukan pekerjaannya tanpa banyak halangan. Selalu sempurna seperti biasa, dan semua pemusik istana memuji hasil kerjanya yang maksimal. Di akhir pertunjukan, para utusan pun tampak sedikit terhibur dan lebih leluasa mengobrol satu sama lain, walau beban itu masih terlihat jelas di raut wajah mereka. Selepas pertunjukan, sesuai perkiraan pemuda itu, Geum kembali dipanggil oleh Wakil Pimpinan Oh untuk dikirimkan ke kamar Jin daegam. Kelihatannya Jin daegam menyukai keberadaan Geum, dan itu adalah hal yang menguntungkan bagi Law. Dia pun kembali menawarkan diri untuk mengantar Geum, setelah bersusah payah berjanji kepada Pengawas Hwang bahwa dia tidak akan lagi tersesat seperti waktu itu. Detak jantungnya semakin kencang berdebar. Rencana kedua berjalan lancar.
Perjalanan menuju kamar Jin daegam berjalan lambat dan terasa berat. Betul bahwa tugasnya hanyalah mencari bukti ataupun petunjuk mengenai keberadaan Arsip Registrasi, bagaimana dokumen itu akan diserahkan, di mana dan kapan. Kemudian dia bisa menyampaikan semuanya pada Kepala Pengawal Seo, dan berakhirlah tugasnya. Tenang, Law, itu tak akan sulit, ujarnya menyemangati diri sendiri.
"Law." Geum bersuara di tengah perjalanan. "Apa yang kau sembunyikan dari Pengawas Hwang?"
"Aku? Tentu saja tidak ada yang penting."
"Bagi Pengawas Hwang mungkin ini tidak penting. Tapi bagimu ini sangat penting, bukan?"
Sejak pertama kali Law memasuki Biro Musik, Geum adalah salah satu yang tak segan berteman dengannya. Mungkin karena sama-sama merupakan cheonmin yang berasal dari desa para budak, mereka lebih mudah akrab. Dari Geum-lah, pemuda itu mendapatkan buku-buku bekas yang berisikan tentang pengobatan tradisional, dan juga berbagai literatur lainnya, yang gadis muda itu peroleh selama masa pendidikannya menjadi gisaeng. Tentu, pertemanan mereka hanyalah sebatas itu. Para gisaeng dibedakan dari para budak dari segi pendidikannya, membuat Law dan Geum berada di tingkatan yang berbeda sekalipun mereka berasal dari golongan yang sama. Dan rasanya kurang pantas jika budak dan gisaeng berteman terlalu karib. Sayangnya, gisaeng di sampingnya ini bukanlah orang yang mudah dikelabui, dan Law merasa tidak perlu menutupi rencananya.
"Sangat penting bagiku, ya. Dan aku berharap kau akan membantuku, Geum."
"Sudah kuduga." Gadis itu tersenyum tipis, mengetahui bahwa tebakannya tepat sasaran. "Baiklah. Apa yang harus kulakukan, Law?"
…
Ruangan Jin daegam adalah salah satu kamar yang paling besar di Mohwagwan. Di dalamnya terdapat sebuah tempat tidur yang luas, sebuah meja dan beberapa kursi di area ruang utama yang tampaknya digunakan untuk meja kerja – Law bisa melihat beberapa dokumen dan buku-buku diletakkan di atasnya –, meja dan kursi lainnya di ruangan yang terletak lebih depan, serta beberapa lemari dan rak pajangan. Dengan tekun Law memeriksa semua buku dan dokumen yang tersebar di seluruh ruangan itu – persis seperti yang dilakukan Kid di waktu yang lalu, dan dia belajar banyak dari pengawal kerajaan itu. Tak ada petunjuk yang berarti, namun pemuda itu menemukan beberapa surat tak bernama yang dia duga berasal dari Jang Hee Jae, karena satu-dua di antaranya menanyakan mengenai kapan rombongan Qing akan tiba di Doseong, dan janji untuk 'memberikan hadiah' terbaik untuk kesudian mereka datang lebih cepat dari jadwal yang seharusnya. Law melipat surat-surat yang dirasanya penting, kemudian menyimpannya.
Geum memperhatikan semua yang dilakukan Law dalam diam, sembari duduk dengan anggun di salah satu kursi di ruangan itu. Pemuda itu sangat berterima kasih karena Geum tak menanyakan alasan mengapa dia harus melakukan itu, walau dia yakin sebetulnya sang gisaeng muda sangat ingin tahu alasannya. Tapi Law tak mengatakan apa pun selain bahwa dia meminta tolong agar dia bisa masuk ke dalam kamar Jin daegam, dan tampaknya gadis itu juga mengerti keadaannya.
Dan lagi, dia pun merasa keberuntungan tengah berpihak pada mereka, sehingga dapat masuk ke dalam ruangan itu tanpa ada halangan. Jin daegam dan beberapa utusan lain mendadak dipanggil ke istana dan belum kembali hingga mereka tiba. Dan pengawal yang biasa menjaga kamar-kamar di Mohwagwan pergi untuk mengawal rombongan utusan Qing yang pergi ke istana. Pemuda bermata keperakan itu menduga bahwa laporan mengenai utusan Qing yang memata-matai pembangunan benteng baru di Gunung Ganghwa telah sampai kepada Raja Sukjong, dan sang raja sedang menginterogasi kebenaran dari hal tersebut. Semoga saja mereka tak akan segera kembali, doa Law dalam hati.
"Apa kau sudah menemukan apa yang kau cari, Law?" Geum membuka suara pada akhirnya.
Law menggeleng kecil. "Belum semua. Aku masih harus mencari lebih banyak, tetapi sepertinya aku tidak akan menemukannya di sini."
"Aku harap kau segera menemukannya." Gisaeng itu menatap Law prihatin.
"Ya, kuharap begitu." Dia telah selesai mengecek buku terakhir di ruangan itu. Sudah saatnya dia keluar dan mencari tahu di tempat lainnya. "Dan Geum, terima kasih karena kau sudah banyak membantuku kali ini."
"Tidak masalah. Aku senang bisa membantumu." Senyuman kecil terbingkai di bibir gadis itu.
Menarik napas satu kali, Law beranjak dari ruangan utama dan meninggalkan Geum yang masih duduk dengan patuh. Sedikit iba pada gadis itu, mengingat betapa tidak adilnya perlakuan orang-orang terhadap para gisaeng. Mereka mungkin segolongan cheonmin, tetapi dengan bekal pendidikan dan kepintaran, kebanyakan dari mereka bahkan jauh lebih pandai daripada pejabat pemerintahan. Di saat strata sosial menjadi sebuah tolak ukur dari kehidupan seseorang, di kala itu pula Law seringkali geram akan tingkatan sosial yang katanya sesuai dengan ajaran konfusianisme itu. Sebuah tingkatan sosial yang tak masuk akal, karena baginya, mengkotak-kotakkan manusia berdasarkan derajat kehidupan sosial adalah tindakan yang sangat tak terpuji.
Law menggelengkan kepala. Bukan saatnya dia memikirkan rasa kasihan atas golongannya. Ada tugas yang lebih penting untuk dia kerjakan dengan segera, dan dia harus fokus pada hal itu. Baru saja dia akan melangkah dan keluar ruangan, samar-samar dia melihat sesosok pejabat menggunakan gwanbok merah tengah berjalan ke arah kamar Jin daegam, diikuti oleh seorang pejabat lainnya yang memakai gwanbok berwarna biru. Pejabat itu tengah menggenggam dua buah buku berukuran sedang di tangannya, sembari bersungut-sungut kesal.
'Gawat, bisa-bisa dia memergokiku," pikir Law. Dengan cepat ia bersembunyi di balik pintu kamar, tetapi membiarkan bilah pintu itu sedikit terbuka agar dia bisa mengawasi keadaan. 'Semoga saja dia segera pergi dari sini, jadi aku bisa melanjutkan tugasku.'
Law segera memutar otak mencari cara agar dapat pergi dari ruangan itu tanpa ketahuan. Sembari mengawasi kedua pejabat di luar kamar itu, dia melihat dua buah jendela di ruang utama kamar, yangtampaknya cukup besar untuk dilewati laki-laki dewasa. Jika pejabat itu tetap berada di sana hingga Jin daegam kembali, dia bisa mengambil pilihan untuk melompati jendela.
"… jadi Jin daegam belum juga kembali? Sial sekali, mengapa pula Yang Mulia memanggil mereka di saat seperti ini?"
"Ye, yeonggam. Saya mendapat laporan bahwa tadi malam ada utusan dan pengawal Qing yang diam-diam mengawasi pembangunan benteng baru, sehingga Yang Mulia Raja memanggil mereka untuk menginterogasi."
Sayup-sayup Law bisa mendengar kedua pejabat itu berbicara. Tampaknya mereka sangat gelisah dan ingin segera menemui Jin daegam. Tapi mengapa dia merasa mengenal suara itu …?
"Sialan dia. Sudah kubilang untuk menunggu kita mendapatkan dokumen ini dan tidak berbuat macam-macam di tanah Joseon. Mereka sangat tidak sabaran. Awas saja jika plakat itu sudah berada di tangan kita. Akan kukirim pembunuh bayaran untuk mencelakakan si tua bangka itu."
Law sangat terkejut ketika mengetahui bahwa yang sedang berada di luar ruangan itu adalah Jang Hee Jae. Pemuda itu memfokuskan mata keperakannya agar dapat melihat pejabat itu dengan lebih jelas. Jang Hee Jae sedang berdiri tak jauh dari pintu kamar Jin daegam, dengan dua buah dokumen mencurigakan yang sedang dipegang erat oleh Kepala Biro Perjamuan dan Pesta itu. Law mencoba membaca judul yang tertulis pada sampul dokumennya; sedikit sulit, namun samar-samar dia dapat membaca huruf-huruf hanja yang terpampang rapi.
Itu Arsip Registasi, teriaknya dalam hati.
Otak Law berputar dengan cepat merekam dan mengolah semua kejadian yang dia saksikan. Mengapa Jang Hee Jae dengan berani membawa-bawa Arsip Registrasi dan berencana untuk bertemu langsung dengan Jin daegam di Mohwagwan? Apakah mereka tidak takut hal ini akan diketahui oleh Raja Sukjong, bahwa mereka sedang melakukan kejahatan besar di tanah Joseon? Dengan cepat pula dia teringat pada raut wajah semua utusan Qing di aula Mohwagwan siang itu, beserta para pengawal Qing yang mengelilingi aula. Mereka semua terlihat tegang dan tak nyaman, seakan menunggu sesuatu yang besar akan terjadi. Berarti semua orang di dalam rombongan Qing memang terlibat? Karena itukah Jang Hee Jae dengan leluasa membawa dokumen itu tanpa takut akan ketahuan pihak lain? Karena semua orang akan melindunginya?
Sekali lagi Law menatap Jang Hee Jae dan bawahannya yang masih setia berdiri di depan kamar Jin daegam. Kepala Pengawal Seo telah memberinya peringatan agar dia hanya mencari informasi dan menyampaikannya kepada Pengawal Kerajaan. Tapi rasa ragu menghinggapi hati. Arsip Registrasi sudah di depan mata. Bila dia mematuhi perintah sang kepala pengawal untuk tidak berbuat apa-apa selain menyampaikan informasi yang dia peroleh, maka mereka akan kehilangan dokumen itu. Dan mereka pun akan kehilangan kesempatan untuk menangkap semua tersangka yang terlibat. Tidak, Law tidak bisa membiarkan dokumen itu jatuh ke tangan Qing dan membuat semua perjuangan para pengawal kerajaan Joseon menjadi sia-sia. Dia harus merebut kembali Arsip Registrasi dari tangan Jang Hee Jae. Tapi bagaimana caranya?
"Law."
Pemuda itu sedikit terkejut melihat Geum berdiri tepat di belakangnya. Raut penuh kekhawatiran tampak jelas di wajah cantiknya.
"Geum, kembalilah duduk di sana." Law tidak ingin gadis itu lebih cemas karena hal ini. "Aku akan mencari cara agar bisa keluar …"
Perkataan Law terpotong ketika Geum memberikan dua buah buku ke tangannya, hanya buku Doktrin Ajaran Jalan Tengah dan Ajaran Agung, membuat pemuda itu mengernyitkan dahi tak mengerti. Sementara gisaeng muda itu hanya tersenyum kecil.
"Mengapa kau memberikanku buku ini?" tanyanya.
"Supaya kau bisa keluar dari tempat ini dan melaksanakan tugasmu."
…
Jang Hee Jae terus menggerutu saat bawahannya mengatakan bahwa Jin daegam tiba-tiba saja dipanggil oleh Raja Sukjong ke istana. Padahal dengan susah payah dia memperoleh dokumen di tangannya. Mohwagwan telah menjadi tempat paling aman untuk melakukan pertukaran ini. Semua pengawal kerajaan telah ditarik mundur oleh Kepala Pengawal Seo – dia memperkirakan hal ini dikarenakan rombongan Qing akan segera kembali ke kerajaannya dalam tiga hari dan tidak perlu lagi dikawal dengan ketat seperti pada saat kedatangan mereka pertama kali. Terlebih lagi semua pengawal Qing di dalam rombongan ini memihak kepada Jin daegam, yang berarti tak akan ada yang berani berkhianat. Tapi sekarang dia harus menunggu sang perwakilan Qing untuk kembali ke Mohwagwan, di tengah hari yang panas pula. Dasar tua bangka sialan! umpatnya dalam hati.
"Berapa lama lagi dia akan kembali?" tanyanya pada bawahan yang memakai gwanbok biru di sampingnya.
"Sepertinya tak lama lagi, yeonggam. Sudah setengah jam berlalu sejak Yang Mulia Raja memanggil mereka. Mereka pasti akan kembali sebentar lagi."
Jang Hee Jae ingin kembali menggerutu ketika sebuah siluet berlari dengan kencang ke arahnya. Dia yang terkejut dan tak siap pun akhirnya bertabrakan dengan orang itu, membuat keduanya terjatuh dengan keras. Kakak kandung dari Ratu Jang itu mengerang kuat, karena tabrakan itu membuat tubuhnya harus mendarat di atas tanah berbatu. Sementara buku yang dia pegang terlempar tak jauh dari tempat mereka berada. Dengan segera, orang itu bangkit dan terus berkata 'maafkan saya, mohon maafkan saya, yeonggam' berulang kali. Jang Hee Jae juga segera berdiri dibantu oleh bawahannya.
"Kau … budak sialan! Kau mau membunuhku, hah?" bentaknya marah.
Pemuda dengan pakaian budak berwarna hijau di hadapannya masih terus membungkuk-bungkuk memohon ampun, sehingga bawahan Jang Hee Jae segera memotong, "Hei, budak, pergilah. Yeonggam akan menghukummu kalau kau tidak segera angkat kaki dari sini."
"Baik, yeonggam. Saya akan segera pergi." Dia menunduk dan mengambilkan buku-buku yang terjatuh ke tanah. Dua buah buku dia serahkan kepada Jang Hee Jae, dan dua buku lainnya dia peluk dengan erat. Tampaknya seseorang menyuruh budak itu mengambilkan buku untuk dibaca, begitulah tebakannya. "Mohon maafkan saya."
"Cepat pergi dari sini!" Kembali Jang Hee Jae membentaknya, dan membuat budak itu makin ketakutan. Tanpa menunggu lagi, dia berbalik dan berjalan cepat menjauhi mereka.
"Yeonggam, apa Anda tidak apa-apa?" tanya sang bawahan.
"Dasar budak kurang ajar. Punggungku sakit sekali. Dan membuat suasana hatiku makin buruk saja," geramnya. "Siapa pula yang membiarkan budak berkeliaran di Mohwagwan?"
"Sepertinya dia budak dari Biro Musik, yeonggam. Perintahkan saja Wakil Kepala Oh untuk menghukum cambuk budak itu."
"Ide bagus. Dia harus tahu diri dan sadar atas kesalahan bodohnya itu."
Dalam kekesalannya, tak sengaja matanya melirik judul dokumen yang sedang dia pegang. Tangannya bergetar hebat ketika membaca huruf-huruf hanja itu. Erangan marah pun tak terelakkan, memecah kesunyian di area belakang Mohwagwan.
…
Law merasa makin berdebar. Ketegangan, ketakutan, ditambah langkahnya yang ingin segera sampai di gerbang depan Mohwagwan membuat jantungnya terus berdetak tak beraturan. Setelah Geum memberikan kedua buku itu, dia memantapkan hati untuk menggunakan dan menukarnya dengan dokumen yang berada di tangan Jang Hee Jae. Tanpa banyak bicara, Law berlari ke arah pejabat itu dan dengan sengaja menabrakkan diri hingga keduanya terjatuh ke tanah. Sesuai perkiraannya, buku yang semula dia pegang dan Arsip Registrasi terlempar ke tanah, dan dia gunakan kesempatan itu untuk menukar keduanya.
Law memeluk erat dua buku di dalam dekapan. Tak akan ada yang mencurigai seorang budak membawa buku, tentu saja. Orang-orang mungkin mengira dia sedang mengantarkan buku untuk seseorang. Tapi dia tidak boleh gegabah. Jangan berjalan terlalu cepat maupun terlalu lambat, atau orang akan segera melirik curiga pada tindak tanduknya. Benar, dia sudah bisa melihat gerbang Mohwagwan. Hanya tinggal sedikit lagi.
Tepat ketika Law telah menginjakkan kaki di gerbang Mohwagwan, dia menarik napas lega yang panjang. Masa bodoh dengan pengawal Qing yang melihatnya dengan tatapan aneh. Setelah ini, dia bisa segera berlari ke arah istana dan menemui Kepala Pengawal Seo di kantor Pengawal Kerajaan. Semua akan berakhir, dia melaksanakan tugasnya hingga selesai – agak sedikit lebih banyak dari apa yang dia perlu dapatkan –, dan sang kepala pengawal kerajaan akan mengurus sisanya. Pemuda itu tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada hubungan Qing dan Joseon, tapi dia sangat berharap sang raja akan mengambil tindakan tegas atas kejahatan tingkat tinggi ini.
Baru saja dia selesai menuruni tangga di gerbang Mohwagwan, dia bisa mendengar teriakan samar-samar dari dalam tempat itu. Teriakan marah sekaligus perintah dalam bahasa Cina .
"Ada pencuri di Mohwagwan! Segera temukan dan tangkap dia!"
Mata keperakan itu membelalak lebar. Tanpa basa basi dia berbalik dan berjalan cepat menjauhi Mohwagwan. Kerumunan rakyat terhampar di luar tempat itu, dan Law bisa membaur di dalam kerumunan itu untuk menyamarkan diri. Beruntung sekali Mohwagwan terletak sangat dekat dengan pasar rakyat, yang menjelang sore hingga malam hari maka akan semakin ramai, seperti saat ini. Hanya itu rencana yang terpikirkan olehnya ketika para pengawal Qing telah tiba di gerbang Mohwagwan.
"Cari budak berperawakan tinggi dan berbaju hijau. Dia pasti belum jauh!"
Teriakan kedua membuat Law semakin kalut. Dengan cepat dia melangkah memasuki kerumunan para penduduk. Hanya di saat seperti ini, dia merutuki tinggi badannya yang di atas rata-rata. Penduduk Joseon yang berpostur sedang tak mampu menutupi dirinya secara sempurna. Sial sekali! umpatnya dalam hati. Hanya tinggal menunggu waktu sebelum para pengawal Qing itu melihat dirinya …
"Itu dia. Cepat kejar!"
Salah seorang pengawal Qing berhasil melihat sosoknya di antara keramaian. Law berlari menyusuri kerumunan orang-orang di depannya, tak berani menoleh ke belakang. Dia bisa mendengar teriakan dan umpatan dalam bahasa Cina dari para pengawal Qing yang kesulitan mengejarnya di tengah-tengah kerumunan orang-orang itu. Tidak ada waktu berlama-lama, pemuda itu harus segera mencari cara agar dapat kembali ke jalan yang mengarah ke istana. Namun kejaran pengawal Qing itu membuat dirinya semakin jauh dari jalan utama.
Law baru saja memikirkan langkah selanjutnya untuk mencari jalan lain yang dapat membawanya ke istana ketika dia menyadari bahwa kerumunan penduduk mulai berkurang. Dia kembali mengumpat dalam hati ketika menoleh ke belakang dan melihat bahwa para pengawal Qing berhasil mengurangi jarak di antara mereka. Dan sialnya, pemuda itu tak bisa menemukan tempat bersembunyi di antara toko-toko yang berbaris rapat. Jadi dia terus berlari melewati jalanan yang semakin sepi.
'Apa aku akan tertangkap? Apa aku tidak akan bisa mencapai istana?'
TBC
Author's Note:
Akhirnya, chapter 4 yang panjang ini kelar juga XD
Tak bosan-bosan ku berterima kasih kepada semua orang yang telah membaca, meninggalkan review dan menyukai cerita ini. Ku tak tahu apa yang membuat kalian betah, tapi ku harap kalian akan bertahan hingga finish.
Anyway, last but not least, would you mind to leave any review?
Review Reply
Vira D Ace : Sama-sama ^^
ly NWW : Terima kasih banyak, semoga betah bacanya ^^ Dan ini sudah dilanjut, enjoy!
Cho Eun Min : Kkkkkk. Ku tak tahu bagaimana harus membalas ocehan panjangmu, nak XD But anyway, thank you very much for your support, and I'll love to read every review you write for this story ^^ Dan selamat menikmati chapter tegang kali ini XD XD XD XD (tegang betulan yak, bukan yang lain)
