Warning; [M]

A/N: suwerr deh chapter ini bukan nadya yg bikin/? Tapi thia... makasih ya thia udh mau bantu bikinin chapter ini. Yah meskipun nadya itu payah banget buat bikin adengan enceh/? Setidaknya book thia jadi referensi lah buat nadya belajar bikin... *ehh* *kodekeras* -_-"

Bagaimana dia bisa terjerat dalam situasi ini?

Tikungan tajam membuat tubuh terlempar ke kanan dan ke kiri jika sabuk pengamannya tidak terpasang, tangan berpegangan kuat pada gagang pintu seolah nyawanya bergantungan pada itu.

Seumur hidupnya, Jungkook lebih memilih motor yang beroda dua dibandingkan kendaraan monster ini. Meskipun ia juga mempunyai kendaraan roda empat yang satu ini dirumahnya. Adrenalin terpacu ketika Taehyung menancapkan gas lebih dalam, kedua netra terpejam dengan gugup.

Tentu dia akan khawatir, bodoh sekali membiarkan orang yang sedang mabuk untuk mengendarai mobil membawanya entah kemana, tetapi tidak menemukan kekuatan yang cukup untuk mengelak semua gerakan Taehyung, dari cara ia menyentuhnya sampai cara ia mengemudi.

Tolong jangan membuatku mati muda tuhan,

Dengan tenaga kuat, Taehyung menginjak rem secara tiba-tiba, memberhentikan mobil sebelum terkena kendaraan yang berada tepat didepannya.

"Yah! Ini dimana?" Yang lebih tua beranjak keluar dari ferrari merahnya sebelum membukakan pintu untuk pemuda raven yang meronta dalam genggamannya

"Apartemenku."

Dia berulang kali menyodorkan kunci dengan tangan gemetar, efek kadar alkohol masih terasa saat ia tidak bisa menemukan lubang kunci. Melihatnya, Jungkook berubah kesal, merampas kuncinya dari tangan Taehyung dan membuka pintu.

"Mengapa kau membawaku kesini? Apa kau sudah gila? Aku tidak tahu daerah ini!" Ujarnya seraya ditarik oleh Taehyung menuju keruangan yang sepertinya ruang tamu

"Kau adalah propertiku semata wayang, temanilah aku disini hingga rasa peningku menghilang."

Sebuah gelas berisi air diletakan dihadapan Jungkook pada meja, Taehyung menunjuk dagunya pada gelas itu, "Minumlah, kau pasti haus."

Ya aku haus, kau telah menyerangku entah dari mana didalam mobil tadi,

"Well shit Kim Taehyung, jika minta ditemani kau tidak perlu menculikku kesini." Dengan kesal ia menggenggam dan mengarahkan ujung gelas pada bibir kuncupnya, kaki disilangkan pada yang satunya secara feminim.

Namun tiba-tiba kepala terasa berat, Jungkook memejamkan kelopak mata dengan bulu mata lentik berkontak dengan pipinya, gelas ditaruh dengan lemas diatas meja saat semuanya berubah gelap.

"Kalau tidak pasti kau tak akan ingin, anak manis." Taehyung tersenyum, dia melepaskan eratan jari Jungkook dari gelas krystal bening untuk meletakannya pada dishwasher.

Pemuda itu sudah tidak sadar diri, dan Taehyung harus memberitahu kepada siapa dia harus menurut, ini adalah saat yang tepat, Kim Taehyung yang sedang mabuk adalah Kim Taehyung yang akan mendapatkan semua keinginannya.

Bahkan jika ia harus bertindak sedikit kasar pada kelinci cantik ini.

"Alkohol memang bisa membuatku gila."

Jungkook terbangun dengan rasa sakit pada pergelangan, dia menggeram saat pening menabrak kepalanya. Kedua obsidian onyx halus terbuka dan terpaksa harus tertutup saat sinar lampu menyorot kearahnya.

Dalam sekejap pintu terbuka dan belum sempat ia menoleh kegelapan mengelilingi seluruh ruangan, hanya menyisakan siluet seorang berperawakan atletis, sisanya hitam kelam.

"Kau sudah bangun," nada beratnya lebih tedengar mengungkapkan pernyataan dibanding pertanyaan, membuat Jungkook sedikit begedik akibat suara yang berasal tepat samping telinganya.

Ada sesuatu dalam suara itu yang terdengar sedikit sultry, dan Jungkook yakin orang itu habis berminum dicium oleh bau alkohol dari nafasnya.

"Kau siapa?!" Sebelum bisa mengulurkan tangan, ada suatu tarikan yang menghentikannya. Dia diikat.

Jungkook bisa mengenali bahan ikatan ini sebagai sebuah dasi, dan damn ikatannya sangat keras sehingga ia tidak bisa menggerakan lengan sedikitpun. Sesuatu mengikat pada kepalanya dan Jungkook mendengar sebuah klik

Cahaya remang terlihat samar dari kegelapan yang lagi-lagi menyambutnya, siapapun orang itu pasti dia sudah gila telah mengikat kedua matanya, he blindfolded him.

"Astaga kau terlihat begitu menggiurkan jika jinak seperti ini..."

"Sepertinya aku kenal dengan suara ini." Jungkook mengerutkan keningnya seperti sedang berfikir. 'Aa...aku ingat ini suara orang gila itu' ucapnya dalam hati.

Suara derit ranjang yang di naiki menghampiri pendengaran Jungkook. Tak lama kemudian sesuatu yang berat di atas tubuhnya terasa mengukungnya dalam kurungan tubuh seseorang yang berada diatasnya sekarang.

"Apa yang ingin kau lakukan Kim Taehyung!!" Jungkook bertanya dengan menekan setiap kaliamatnya.

"Kau tahu seseorang dengan pengaruh alkohol akan berbuat apa ?"

"Kau gil-mmppphh" suara protesan Jungkook terbungkam oleh bibir pemuda yang berada di atasnya sekarang, menciumnya seperti orang kesetanan.

"Sial orang ini benar-benar gila. Ya Tuhan, ikatannya sangat sulit di lepas bagaimana caranya aku lolos dari orang gila bernama Kim Taehyung ini." Itu suara Jungkook yang sedang berfikir frustasi dalam hatinya.

Dengan otot lurik yang tidak dapat digerakan, Jungkook hanya dapat menerima perbuatan Taehyung dengan berat hati. Penutup mata tidak mengizinkan untuk melihat apa yang Taehyung lakukan kini selain membungkam bibirnya.

Tiba-tiba Jungkook merasa semua angin telah menamparnya, tangan Taehyung dengan kasar melepaskan seluruh pakaian yang ia kenakan membuat dirinya telanjang bulat diatas kasur dengan keadaan terikat.

Tepat setelah orang gila itu melepaskan tautan mereka, ia langsung memberontak dengan suara yang sedikit serak, "K-kau! Lepaskan aku sekarang juga!",

Taehyung terkekeh melihat pemuda yang meronta dengan sia-sia dibawah kungkungannya, mata bertambah gelap dengan hawa nafsu akibat tubuh mulus yang terekspos tanpa sehelai benang pun.

"Tapi jika kulepas, dimana bagian serunya?"

Secara reflek Jungkook membusungkan dadanya ketika Taehyung memberikan kulitnya sebuah jilatan dari perut sampai rahangnya. Yang lebih tua menyeringai tipis saat nafas pemuda dibawahnya semakin tidak teratur.

Jemari Taehyung tidak tinggal diam, mereka bergerak dengan perlahan diatas paha yang Jungkook rapatkan. mendecik malas, Taehyung membuka paksa kakinya, memperlihatkan sesuatu yang sudah menegang dibawah sana bersamaan dengan lubang kemerahan yang mengerat pada angin.

"Sudah sebasah ini? Bahkan aku belum memulai apa-apa." Bisiknya, nada bertambah rendah membuat peluh dingin membasahi kening Jungkook yang berusaha meronta dari benda metal yang terpasang pada kasur.

"A-akhh"

Jungkook tidak dapat menahan erangan kesakitan saat salah satu jari Taehyung berhasil masuk melewati lubangnya. Meskipun sedang mabuk, dia juga masih memiliki hati untuk tidak memasuki Jungkook secara kering.

"Shh, tahan dulu.. rasa sakitnya akan menghilang, aku janji."

Akan menjadi sebuah kebohongan jika jantung Jungkook tidak berdetak cepat ketika Taehyung berbicara lembut pada telinganya dengan nada penuh kekhawatiran.

Tetapi mau bagaimana pun dia tidak terima kalau keperjakaannya akan diambil oleh seniornya yang sedang mabuk, ini sama saja seperti tindakan pelecehan!

Tanpa menunggu Jungkook untuk terbiasa, Taehyung langsung memasukan dua jari sekaligus. Jungkook mengerang, dadanya terbusungkan saat bagian selatannya terasa seolah ia terbakar.

"T-tae--hhahh-s-sakit..!"

Sebuah aliran penyesalan menabrak Taehyung dari ketidaksadarannya, dia nenatap iba kearah pemuda dibawahnya. Namun hawa nafsu mengalahkan rasa simpatinya.

Dia menggerakan tangannya dari segala arah untuk menemukan satu tempat yang akan membuat Jungkook mendesahkan namanya tak karuan,setelah beberapa hentakan akhirnya

"Nghahh...! Tae-h-hyung~"

Taehyung tersenyum puas, bahkan saat mabuk pun ia bisa menumbuk tempat itu dengan tepat.

Jungkook memejamkan matanya, kalau dibuka pun yang menyapa hanya kegelapan. Tapi dia merasa dalam euphoria tinggi setiap kali Taehyung menggerakan jari panjangnya. Hanya erangan dan lenguhan hal yang bisa ia lakukan sebagai penyalur rasa nikmat.

Jika boleh jujur, borgol pada lengannya mulai terasa sempit. Ia yakin pergelangan tangannya sudah membiru akibat friksi dari besi dan kulit yang bergesekkan.

"Kau menyukainya hm? Kau suka cara jariku mengenai prostatmu?"

Suara beratnya memberikan kesan menggoda, pundak Jungkook bergetar hanya dengan nada husky dan serak dari mulut Taehyung. Tanpa sengaja kakinya mengenai sebuah benda mengeras dibalik celana pria yang mengikatnya.

Yang lebih tua menggeram, dia menenggelamkan ketiga jarinya dalam-dalam, merasakan dinding rektum menjepit kesekelilingnya. Ujung mulutnya tertarik keatas.

Dia sudah dekat, hanya dengan tiga jariku? Jadi kelinci ini masih perawan.

Melihat Jungkook dengan peluh mengaliri tubuh sintalnya membuat Taehyung ragu jika dia memang manusia, kelinci imut ini adalah bidadari yang jatuh dari neraka.

Tangannya mulai membiru. Jungkook meringis dan memutuskan untuk berdiam diri menahan rasa sakit pada bagian bawahnya karena dia sudah tidak ada tenaga untuk melawan.

Yang lebih tua tersenyum tipis. Melihat pemuda dibawahnya kini tidak mengelak semua perbuatan yang ia lakukan pada tubuhnya. Jungkook terlihat hampir hancur. Mungkin jika ia memberi sedikit simpati, pemuda itu tidak akan selelah ini.

Tetapi siapa Taehyung jika ia peduli?

Dia melepas borgol yang terkait pada kasur, membuat Jungkook sedikit tersentak tetapi kembali menghela ketika Taehyung memakaikannya kembali tetapi mengaitkan kedua tangannya.

Tetapi akhirnya sekarang ia bisa menggerakan tangannya bebas tanpa harus merasakan pergelangannya tercekik. Tidak ada niatan membuka penutup mata, Taehyung mendudukan dirinya pada kasur dan menarik Jungkook untuk duduk pada pahanya.

"Aku sering melihatmu dalam bar itu. Apa kau bekerja disitu? Sebagai apa? Stripper?" Jungkook berdecih dan menautkan alisnya tidak suka. Bisa-bisanya Taehyung menganggapnya sebagai pelacur yang menjual tubuh mereka untuk ditatapi oleh pria-pria bermata keranjang!

"Hah kau harap. Aku hanya pergi kesitu untuk menemui noona-ku. Dan kau sendiri? Tidak kusangka orang kaya sepertimu memiliki pekerjaan sebagai bartender."

Sebuah tangan melebarkan pahanya, secara otomatis membuat Jungkook terduduk manis tepat diatas hard-on milik Taehyung yang masih terlapisi celana jeans. Dia melenguh tanpa sengaja dan yang lebih tua menyeringai akibat respon yang Jungkook berikan. Sangat menggemaskan.

"Seorang pria tidak hanya bergantung kepada kekayaannya. Terkadang mereka harus berusaha untuk membuat penghasilan sendiri. Dan kau, apa kau yakin kau tidak keluar dari lukisan? Karena tubuhmu ini bagaikan mahakarya.."

Taehyung mengeratkan genggamannya pada pinggul Jungkook dan menaik turunkan tubuhnya dengan mudah, seolah menggerakan sebuah boneka. Jungkook memejamkam matanya yang masih terbalut penutup mata dengan kepala terlempar kebelakang. Dia benci bagaimana dia bisa menikmati setiap friksi yang Taehyung berikan setiap kali bokongnya bertemu dengan bahan keras jeans yang menutup sesuatu lebih keras lagi.

Pundaknya menegang dan dada terbusung kedepan, memberikan akses sempurna kepada Taehyung untuk meraup nipple nya yang terlihat sangat menggoda dengan warna merah muda.

Jungkook ingin melakukan apapun untuk bisa menyingkir dari orang yang kini sedang berbuat hal laknat pada tubunya. Ini adalah sebuah pelecehan!

Tetapi dia tidak bisa berbohong jika dia tidak tergairahkan oleh gerakan Taehyung. Pikiran dan mulut berkata tidak tetapi tubuhnya tidak ingin berkooperasi dari cara ia langsung menegang.

"A-ahn.. B-berhenti- c-cabul!"

Taehyung menaikkan alisnya, "Berhenti? Tetapi mengapa tubuhmu berkata seolah kau tidak ingin aku untuk berhenti? Luruskan pikiranmu Jeon." Dia menggeram ketika merasakan dua belah sintal itu berkontak dengan kejantannan yang berdenyut ingin dibebaskan.

Taehyung melepaskan kain yang terikat pada kepala Jungkook untuk memperlihatkan betapa kerasnya dia, betapa seksinya Jungkook sehingga ia bisa sangat terangsang seperti ini.

Jungkook mengerjapkan kedua matanya. Tidak banyak yang berbeda karena Taehyung telah mematikan lampunya, tetapi kini ia bisa melihat cahaya yang menerpa wajah tampan Taehyung yang bersinar dibawah sinar bulan. Wajahnya memerah akibat tatapan yang Taehyung berikan.

"J-jangan melihatku s-seperti itu!" Dia memalingkan wajahnya untuk menutupi rona yang telah menghiasi kedua pipi dengan sempurna. Benar-benar melupakan bahwa ia sedang telanjang bulat diatas tubuh Taehyung.

"Matamu sangat indah.."

Jungkook membelakkan matanya yang terpejam. Dia bertatapan dengan Taehyung yang sudah memajukan wajahnya. Alisnya bertaut, bibirnya mengatup untuk menahan sebuah senyuman yang hampir lepas akibat pujian dari Taehyung.

"Bibirmu sangat manis.."

Bahkan Taehyung pun tidak tahu jika apakah ini alkohol yang berbicara. Tetapi jika boleh jujur, Jungkook memang sangat mempesona seperti ini, dengan bilah bibir terbuka dan mata imut yang mengerjap lucu, tidak lupa dengan merah muda yang tertera pada pipi sedikit gembilnya memberikan kesan inosen jika saja dia tidak telanjang bulat.

"Hidungmu sangat menggemaskan.."

Dia mengecup hidung itu sebelum Jungkook bisa mengalihkan kepalanya kearah lain. Bahkan telinganya kini ikut memerah. Dia tidak menyukai cara tubuhnya menanggapi Taehyung.

Yang lebih tua mencondongkan mukanya. Bibirnya berhadapan langsung dengan telinga Jungkook yang terhiasi oleh beragam macam tindikkan piercing. menghembuskan nafas panas dan menjulurkan lidah untuk menjilat sebuah tempat dibalik telinganya.

Jungkook tidak bisa melakukan apa-apa lagi ketika Taehyung mengocok miliknya sendiri sebagai pengganti pelumas. Dia hanya memejamkan kedua matanya, menyembunyikan wajahnya pada bahu tegap Taehyung. Kedua tangan bersandar pada dada bidangnya sebagai penopang.

Mulutnya ingin sekali mengeluarkan sebuah rengekan ketika yang lebih tua mengangkat tubuhnya. Mereka menatap lamat satu sama lain untuk mengalihkan Jungkook dari rasa sakit saat Taehyung memasukinya.

"Engh- t-tolong.. p-perlahan," tangannya bergerak untuk menutup bibirnya. Jungkook merasa malu oleh suara-suara yang ia keluarkan. Tetapi Taehyung menarik tangan itu bersamaan dengan sebuah hentakan keras, tanpa sengaja Jungkook mengeluarkan sebuah desahan kencang ketika ia sudah menemukan prostatnya dengan sekali coba.

"Argh jangan tahan suaramu.. mendesahlah dan teriakkan siapa yang menggagahimu." Taehyung menggeram. Tangannya menaik turunkan tubuh Jungkook berlawanan dengan gerakan pinggulnya. Menggerutu kasar ketika suara kulit bertemu kulit bersonasi dalam kamarnya.

Sebuah kamar yang selalu dipenuhi keheningan kini terpenuhi oleh suara dosa yang mereka buat.

Nafasnya terengah akibat rasa euphoria yang sangat memabukkan setiap kali Taehyung terbenam dalam lubangnya. Memenuhinya. Jari-jari kaki kecilnya menekuk sebagai satu-satunya penyalur nikmat. Taehyung yakin kalau wajah Jungkook yang terengah ini adalah hal terseksi yang pernah ia lihat.

"A-ah! Nghahh~ T-tae..! A-aku-"

Jungkook tersontak saat yang lebih tua membalikkan posisinya sehingga kini punggungnya menghadap Taehyung. Tetapi kembali melenguh akibat sudut yang membuatnya lebih mudah mengenai prostatnya.

Setelah beberapa menit. Jungkook merasakan sesuatu dalam perutnya. Ia bisa merasakan Taehyung juga mendekat dari hentakannya yang mulai tidak teratur. "Fuck, aku sudah dekat."

Dalam dua kali gerakan, Jungkook hampir menangis dari orgasme terhebat dalam hidupnya. Cairan putih mendarat pada perutnya bahkan juga pada kasur Taehyung yang sudah berantakan akibat aktifitas mereka.

"Eungh~! T-tae, Hahh-!" Taehyung menjatuhkan kepalanya pada pundak Jungkook ketika dinding rektumnya mengerat. Dirinya sudah berada pada ujung, hanya satu dorongnya lagi dan-

"Nghahh! U-uh~ cum for me Tae..!"

Taehyung membenamkan dirinya sangat dalam dan melepas cairannya memenuhi lubang Jungkook. Baru pertama kali ini dia keluar sangat banyak, terlalu banyak sampai ada cairan yang keluar dan mengaliri paha putih yang lebih muda.

Masih berusaha turun dari ketegangan sesi mereka, Taehyung melepaskan borgol pada tangan Jungkook dan melemparnya sembarang arah. Tangan besarnya mendekap tubuh Jungkook yang lemas dalam pelukannya. Mengusakkan hidung runcingnyapada puncak kepala surai hitamnya.

"Itu, adalah orgasme terbaik yang pernah aku alami." Jungkook mendelik kesal pada pria yang dengan tidak sopan menciumi leher jenjangnya. Dia menggerutu tidak terima kalau keperjakaannya baru saja diambil oleh seseorang yang sedang mabuk.

Dirinya merasa sedikit kecewa. Entah apa yang merasuki Jungkook tetapi dia tidak ingin Taehyung untuk melupakan ini. Tidak ingin kejadian ini hanya semata wayang. Dia merutuki dirinya. Mungkin Jungkook yang mabuk.

Pagi menyapa mengusik tidur salah satu pemuda yang berada di kamar apartemen itu. Ia terduduk sambil memegangi kepalanya.

"Akhh...sakit sekali kepalaku...apa semalam aku minum lagi ?" Sambil memejamkan matanya erat ia mencoba bangun dari posisi duduknya...

"Eunghh..."

Lenguhan kecil seseorang membuat pemuda yang terduduk itu membeku seketika, tiba-tiba saja jantungnya berdetak cepat, pikirannya melayang kemana-mana. Dengan gerakan patah-patah ia menoleh ke arah samping tempat suara lenguhan itu berasal.

DEG!

"Oh shit, aku melakukannya lagi ? Tapi...tapi kenapa dengan dirinya ? Haishh..." pemuda itu mengacak-acak surainya membuatnya semakin berantakan.

Karena kurang yakin pemuda itu pun menyibak selimut yang menutupi tubuh bawahnya, dengan mata membulat kaget pemuda itu menutup kembali selimut yang menutupi tubuh bagian bawahnya. "Heol!! Ternyata memang benar...haiisshh."

Pemuda itupun melirik sekilas pemuda lain yang masih terlelap di sampingnya. 'Aku harus melihatnya sendiri. Jika memang benar aku melakukannya dengannya...matilah aku.'

Dengan susah payah ia menelan salivanya, tangannya terulur meraih selimut yang berada di atas dada pemuda yang masih terlelap itu. Perlahan ia menariknya dengan mata yang memicing...

Greb!!

"Jangan coba-coba membukanya, atau aku akan mematahkan tanganmu, Kim Taehyung!!" Setelah berhasil mencengkram pergelangan pemuda yang di panggil Kim Taehyung, Pemuda yang terlelap itupun membuka matanya perlahan kemudian menatap tajam onyx coklat gelap itu.

T.B.C

maaf sebelumnya ini masih belum di refisi ulang ya karen ini re-post dari wattpad. di wattpad tulisannya rapih kok nggak berantakkan kayak ini, karena biasa kalau copy paste pasti jelek di pengaturan percakapan dan bait ceritanya, diusahakan akan di perbaiki jika saya ada waktu banyak, sekali lagi maaf ya