Blood Vows
A Jeongcheol fanfic by titans_generation
Jeonghan, Seungcheol, Joshua (read: not Jihancheol)
Characters belong to themselves
Yaoi/BoyxBoy
Trigger Warning
Please enjoy ^^
4. Replacement 1
Ribut suara benda-benda keras yang dilempar perlahan menarikku dari dunia mimpi yang selalu menjadi tempat favoritku. Satu persatu aku kumpulkan kesadaranku sambil bergelut di bawah selimut. Pipi kiriku terasa panas dan semakin nyata rasa perih di punggungku. Dengan berat kubuka kelopak mataku yang seketika menangkap sinar matahari yang silau menembus kaca jendela.
Entah jam berapa sekarang dan dinding kamarku sudah bergetar. Ku putar tubuhku untuk membelakangi jendela, masih enggan menyapa pagi. Alih-alih menghindari sinar matahari, mataku menemukan sosok mama yang masih setengah terbungkus selimut, hanyut dalam sungai mimpi. Berkali-kali sudah aku menyaksikan mama dalam keadaan tanpa perlindungan seperti ini. Tapi napasku tetap tercekat dan dadaku sesak. Aku masih belum mampu melihatnya bahkan setelah malam-malam itu.
Baru saja aku akan membenamkan wajahku ke bantal, tangan mama tiba-tiba menepuk kepalaku. "Jeonghan, suruh adikmu diam. Mama harus siap-siap satu jam lagi," suruhnya masih setengah sadar. Suara jeritan diikuti bunyi benda-benda pecah yang merusak ketenangan pagi itu memaksaku untuk segera bangkit.
Tanganku yang masih diselimuti kantuk meraih celana pendek di lantai dan memakainya. Mataku menangkap bungkus plastik putih di atas meja dekat pintu. Mungkin itu obat yang dimaksud Seungcheol semalam.
Sambil menenteng kantong plastik itu kubawa kakiku melangkah keluar kamar. Suara jeritan itu semakin jelas terdengar dari kamar sebelah. Anak ini benar-benar merepotkan. Pintu kayu itu aku tendang beberapa kali dan suara berisik itu seketika hening. Beruntung aku hari ini tidak perlu mengomelinya pagi-pagi.
Di dapur, obat penambah darah dari Seungcheol aku minum tanpa pikir panjang. Jika aku tidak menuruti perintahnya, akan sulit untuk bekerja hari ini karena anemia. Meski hanya memakai celana pendek tanpa atasan apapun, pendingin ruangan di apartemenku tidak cukup dingin untuk membuatku menggigil. Mataku kosong memandang keran air sambil merasakan obat itu masuk dalam kerongkonganku, sehingga tanpa aku sadari seseorang tengah berdiri di belakangku.
"Lapar," kata itu terucap lirih dan datar namun tetap membuatku kaget setengah mati.
Kupalingkan badanku untuk mendapati adik laki-lakiku satu-satunya menatapku tanpa ekspresi. Bajuku yang kebesaran menggantung di badan adikku yang sedikit lebih pendek, hampir menutupi celana kain selututnya. Rambut coklatnya acak-acakkan, mungkin mama belum memandikkannya kemarin. Seperti yang kuduga, ada memar di dahinya dan luka-luka sayatan yang masih segar dan sedikit berdarah di lengan dan kaki, bekas keributan yang dibuatnya pagi-pagi.
"Sudah kubilang aku nggak bisa masak. Tunggu mama bangun," balasku sambil melewatinya, berniat melanjutkan tidurku di sofa ruang tamu barang sebentar.
Rupanya adikku itu pantang menyerah. Baru beberapa langkah jarakku darinya dan sesuatu yang keras menghantam kepalaku. Kulihat gelas plastik yang baru aku pakai untuk minum tadi sudah berada di lantai. Tentu saja ini ulah adikku yang tidak tahu sopan santun.
Aku berbalik cepat sambil mengangkat tanganku tinggi-tinggi. Telapak tanganku perih ketika bertemu dengan pipinya dan suaranya bergema di dapur. Satu kali tamparan di wajahnya itu sebenarnya tak cukup memuaskan kekesalanku. Ingin sekali kucabik-cabik mukanya yang menantangku. Ini hal biasa, kan? Pertengkaran antara kakak-beradik itu sudah lumrah, iya kan?
Badan adikku terbilang sedikit lebih pendek dibanding teman sebayanya. Bahunya yang kecil membuat adikku terlihat lemah dan perlu dilindungi. Wajahnya juga seperti malaikat kecil tanpa dosa, hanya ketika dia tidak membuat masalah. Ia diberi nama Yoon Jihoon oleh papaku. Umurnya 16 tahun dan sekarang dia menangis sejadinya di lantai. Tangannya terkepal menutupi wajahnya yang banjir air mata. Sambil menjerit ia menendang kaki meja makan.
Tidak sedikitpun hatiku bergetar melihatnya seperti itu. Jihoon sudah sering membuat keributan yang tidak penting di rumah dan menangis ketika aku hukum. Aku juga tidak punya waktu meladeni anak manja sepertinya. Banyak hal lain yang harus aku pikirkan selain dirinya, termasuk bagaimana aku ikut mencari pengganti yang sesuai keinginan Seungcheol. Pengganti yang lebih ingin mati ketimbang diriku. Pengganti yang lebih putus asa. Pengganti yang sudah hilang akal untuk melanjutkan hidup. Pengganti yang darahnya lebih menggiurkan dari darahku.
Tunggu, kenapa jadi terdengar menyebalkan?
Aku berkedip beberapa kali. Kilatan cahaya lampu flash yang seperti tanpa jeda menyilaukan mataku. Di sela bunyi shutter ada suara fotografer yang sibuk berteriak mengarahkan. Seorang manager yang berdiri di sampingnya sibuk menggigiti ujung jari. Beberapa staff juga sibuk berlalu-lalang mengangkut properti.
"Ayolah, mereka bilang kamu model profesional. Masa di depan model laki-laki pemula saja kamu beku begitu? Tatap matanya seperti kamu mau memakannya! Dadamu yang rata itu busungkan sedikit! Bisa tidak?" teriak fotografer itu lagi. Belum ada tiga kali dia menekan shutter kamera desahan napasnya terdengar lagi. Sambil mengomel fotografer itu memijit pelipisnya. Sudah dua jam berlalu sejak pemotretan dimulai dan kami belum menyelesaikan setengahnya. Model laki-laki di depanku meneguk air mineralnya dengan kasar selagi aku mengelap keringat di dahinya.
Ditengah-tengah pengarahan, fotografer itu memanggilku, "Hei, Jeonghan!". Dia melambai ke arahku dengan wajah menahan marah. Tanpa basa-basi aku berlari menghadapnya. "Coba beri contoh ke anak ingusan ini bagaimana mengatur ekspresi!" perintahnya segera ketika aku sampai di depan mereka. Ada tatapan merendahkan yang mengiringiku ke depan kamera, dari si model perempuan dan laki-laki juga manager mereka.
Wajar saja. Bisa apa memangnya asisten makeup artist sepertiku?
Setelah aba-aba dari si fotografer, kutarik karet yang mengikat rambutku dan membiarkannya jatuh di salah satu sisi wajahku. Mataku fokus ke kamera dan kutajamkan pandanganku dengan sepasang bibir yang sedikit terbuka.
Si fotografer beberapa kali mengambil gambarku sambil menyuruh si model perempuan untuk memperhatikan. Mataku beralih ke model pria menurut arahan, menatapnya tajam seolah dia adalah mangsaku hari ini. Aku tarik kerah bajunya dan kukunci mataku dengannya, mendiktenya bahwa saat ini, akulah yang sedang berkuasa. Napas model laki-laki itu tercekat dan aku spontan menarik sudut bibirku, merasa dipuncak kemenangan ketika dengan berat ia menelan ludah.
Sorak tepuk tangan dari si fotografer memecah permainan peranku. Aku berhenti mengintimidasinya dan tersenyum palsu ke arah si fotografer yang kini sibuk menceramahi si perempuan.
Air dingin mengalir dari puncak kepala ke bajuku. Tangan-tanganku berhenti memunguti kostum yang terserak di ruang ganti seraya menoleh ke belakang. Di sana berdiri Haebin, memandangku angkuh sambil menjatuhkan botol air mineral di tangannya.
"Maaf, kamu ada masalah denganku?" tanyaku sambil mengatur emosi. Kepalaku sudah cukup dingin, secara harfiah, karena air mineral yang sengaja dia tumpahkan ke kepalaku. Haebin memutar bola matanya seolah pertanyaanku barusan sangat bodoh. "Berhenti bermuka dua seperti itu Yoon Jeonghan!" ujarnya dengan nada memerintah. Aku paham sekali apa maksudnya dia. Sudah biasa seorang model yang ditangani fotografer Kang untuk menyapaku seusai sesi pemotretan.
"Maaf sekali lagi, tapi aku tidak pernah mengerti maksud kalian dengan muka keduaku."
"Aku baru tau kamu sebodoh itu. Lihatlah dirimu, kamu itu laki-laki, lantas berpose seperti perempuan dengan wajah tololmu. Yah, aku tidak peduli kalau kamu tolol atau sangat tolol, tapi berhentilah menyombongkan diri. Kamu itu cuma asisten, bersikaplah seperti seorang asisten."
Astaga aku tidak punya waktu untuk melayani kritik dan saran dari nona model ini. Aku harus pulang dan memberi makan adikku. Untuknya aku tidak berusaha menanggapi, lama-lama dia juga akan bosan.
"Jangan menatapku langsung seperti itu, Jeonghan. Aku ini lebih tinggi darimu yang cuma makhluk rendah, yang bisanya hanya membuka selangkangan di depan fotografer Kang!" nada bicara Haebin meninggi. Jari telunjuknya tepat berada di depan wajahku. Aku tidak habis pikir dengan tuduhannya. Aku mungkin mengajak tidur setiap laki-laki yang menurutku bisa membuat lupa dengan perasaanku terhadap Joshua. Tapi hanya itu alasanku, hanya itu yang membuatku pasrah ketika dimangsa kehormatannya oleh mereka. Dan aku tidak pernah melakukannya dengan fotografer Kang terlebih untuk alasan reputasi dan uang.
"Aku tidak bermaksud untuk mengguruimu, Haebin. Aku hanya menuruti perintah fotografer Kang untuk memberi contoh. Aku tidak butuh tidur dengannya untuk itu karena aku sudah lalu-lalang melihat super model di sini. Tidak perlu sampai menunjuk-nunjuk mukaku seperti itu, kata ibuku itu tidak sopan," jawabku, mulai bosan mendiamkannya.
Haebin tiba-tiba tertawa meremehkan, "Oh, kamu mau bilang kalau kamu bukan makhluk rendahan seperti yang sudah semua orang tau? Apalagi yang lebih rendah dari mencintai sesama lelaki? Sadarlah, Jeonghan. Kamu itu kotor, dasar penjilat! Pantas saja penyanyi gereja itu menolakmu mentah-mentah. Baru kulihat kalau kamu seburuk ini. Bau busukmu bisa tercium bahkan dari balik topengmu itu! Mandi sana! Dasar makhluk rendah bermuka dua! Menjijikan!"
Aku tidak pernah tau darimana dia mendapatan informasi itu. Aku tidak pernah tau jika dia mengenal Joshua atau tidak. Tapi aku bukan pemeran protagonis dalam opera sabun yang bisanya diam dan menerima sumpah serapah darinya. Aku juga tidak akan membiarkan Haebin menjadi antagonis yang akan terus menang menginjak-injakku sampai akhir cerita.
Tanpa diperintah tanganku sudah terangkat tinggi. Yang aku tau hanya wanita jalang ini perlu dibangunkan dari mimpi siang bolongnya. Yang aku tau hanya Haebin perlu didisiplinkan karena sudah tidak sopan. Tanganku mengayun cepat ke arah wajahnya yang memasang seringai memuakkan. Adrenalinku mendidih bahkan sebelum tangan itu mendarat dengan keras dan menyakitkan di wajahnya.
Sayangnya itu tidak pernah terjadi. Kulihat Haebin berjengit takut meski tanganku tak pernah sampai ke wajahnya. Pergelangan tanganku dicengkeram kuat oleh seseorang dari belakang sampai perih sekali rasanya. Tubuhku ditarik ke samping, sedikit menjauh dari Haebin.
"Tidak baik memukulnya, Jeonghannie," seketika wajah yang kemarin menyapaku di pintu apartemen berada sangat dekat denganku. Seungcheol tersenyum lebar seolah dia tidak melihat Haebin menyumpahiku. "Itu namanya penyiksaan terhadap hewan."
Tunggu, apakah aku sedang tersenyum? Aku akui kalimat Seungcheol cukup menghibur. Apalagi wajah Haebin yang seketika berubah masam mendengarnya.
Sedetik kemudian tanganku ditarik Seungcheol menjauh. Dibawanya aku keluar studio dan menuju jalanan yang mulai dipenuhi orang-orang yang pulang kerja. Sudah dua minggu ini Seungcheol datang ke tempatku bekerja, setiap kali dia lapar. Entah bagaimana caranya dia melewati resepsionis dan masuk sembarangan ke dalam studio. Seungcheol bilang dari jarak tertentu bau darahku bisa tercium seperti cherry pie yang baru keluar dari pemanggang. Itu memudahkan Seungcheol dalam menemukan di studio berapa aku berada.
"Aku tau kamu bohong soal bauku," ujarku tiba-tiba. Seungcheol menghentikan kegiatannya sementara dan memandang lurus ke mataku. Berhentilah Choi Seungcheol, aku yakin kamu tidak punya kemampuan membaca pikiran. Responnya kemudian membuatku ingin menampar wajahnya, menghapus seringaian meyebalkan di sana. Ia menjilat sisa darah di lenganku dan mengendus telapak tanganku.
"Yah, memang benar. Baumu jauh dari cherry pie yang manis. Busuk mungkin? Sangat busuk!" balasnya sambil mendramatisasi. Hidungnya berkerut setelah mencium sekilas tanganku. Seungcheol dan Haebin sama-sama mengatakan aku busuk, tapi entah kenapa aku merasa sedang dipuji oleh Seungcheol sekarang.
Seorang pelayan mendekat dengan nampan di tangan. Dia menatap kami sekilas sebelum berdehem dan meletakkan sepiring salad dan steak, dua menu yang membuatku menaikkan alis.
"Seungcheol?"
Lelaki yang aku panggil itu mendengus, belum sempat dia meminum lagi darahku dan harus mendongak lagi. "Hm?"
"Aku pikir kamu bisa kenyang hanya dengan darahku. Ternyata kamu perlu makan juga," aku melirik piring makanan di meja lagi sebelum kembali ke wajah Seungcheol.
"Itu bukan untukku," aku memiringkan kepala, bertanya-tanya jika kami akan kedatangan tamu. Tapi Seungcheol secara tidak langsung menyanggah pikiran itu "Itu untukmu. Bisa-bisa kamu pingsan kalau tidak makan yang benar."
Napasku tercekat. Mataku tak lepas dari mata Seungcheol yang gelap. Aku tahu sejak tadi aku sudah tenggelam dalam tatapannya, tubuhku sudah dikuasainya sejak setetes darahku menyentuh lidahnya. Tapi sekarang aku tidak benar-benar berada di depan Choi Seungcheol. Rambut Seungcheol yang hitam legam perlahan berubah kecoklatan. Kantung matanya sedikit lebih dalam dan sekejap mata dia bukan lagi Seungcheol yang aku lihat hampir tiga minggu ini. Senyumnya terlalu indah dan matanya lembut menatapku.
Dia Joshua Hong.
Kalimat yang diucapkan Seungcheol tadi berulang di kepalaku, tapi bodohnya suara Seungcheol samar dan berbaur dengan suara Joshua. "Itu untukmu. Bisa-bisa kamu pingsan kalau tidak makan yang benar."
Joshua tak pernah mengatakan kalimat itu. Perihal kenapa wajah dan suaranya muncul tanpa izin di kepalaku, mungkin karena aku terlalu gila menghayalkannya. Aku masih terobsesi padanya sampai perlakuan baik Seungcheol selalu berubah menjadi atas nama Joshua. Dan perasaan inilah yang harus aku batasi. Perasaan ini harus aku bakar bersama hukumanku di kehidupan setelah kematian. Aku takkan pernah bisa mengubahnya, bahkan setelah semua laki-laki dan perempuan yang aku habiskan malam-malam bersama mereka, tiada satu pun yang membuat Joshua benar-benar hilang dari pikiranku.
"Jeonghan?" suaranya lirih memanggil. Satu titik dalam otakku tahu kalau Seungcheol lah yang mengucapkan namaku, namun yang sedang bertatap muka denganku adalah wajah Joshua. Aku meringis. Sedalam inikah aku terjatuh? Tak adakah seorang pun yang bisa menarikku dari lubang yang kian melebar dalam hatiku? Bahkan Joshua yang merupakan satu-satunya terang dalam hidupku bukanlah sebuah petunjuk menuju kebahagiaan, tapi perangkap yang menuntunku semakin sesat dalam kesengsaraan.
Mataku memanas seiring Seungcheol memanggil namaku. Dadaku semakin sesak dan napasku mulai tak beraturan. Wajah Joshua yang sedang tersenyum dan menutupi wajah Seungcheol seketika berubah. Matanya memicing seperti tidak percaya akan sesuatu yang baru saja dia dengar, "Sadarkah kalau itu sebuah dosa, Jeonghan? Itu kotor, kamu tidak pantas memiliki perasaan itu terhadapku." Sama persis. Benar-benar seperti yang Joshua katakan padaku hari itu. Hanya berupa ingatan tapi begitu jernih sampai-sampai aku tidak mampu meraba kenyataan dan khayalan. Hingga dia menarik tanganku menjauh dari kenangan tentang Joshua.
Untuk pertama kalinya setelah kekacauan yang dibuat Joshua di dalam kepalaku, aku benar-benar menatap wajah Seungcheol. Yang aku lihat di depanku adalah Seungcheol. Yang menggenggam tanganku sekarang adalah Seungcheol. Yang menghapus basah di pipiku sekarang adalah Seungcheol. Seungcheol menarikku dari kenangan-kenangan buruk yang menghantuiku. "Sudah lebih tenang?" Seungcheol bertanya sambil mengangkat alis.
Benar. Hanya Seungcheol yang bisa membawaku keluar dari mimpi buruk ini. Seungcheol yang mampu menarik tubuhku keluar dari lubang penderitaan dimana selama ini aku terjebak di dalamnya. Dialah satu-satunya yang bisa membuatku merasa seperti manusia lagi.
"Tolong aku, Seungcheol."
"Kamu tahu aku lebih suka melihatmu menderita, Jeonghan."
"Munafik kamu Seungcheol! Kamu baru saja membelaku. Kemarin kamu mengobati luka dari Minhyuk, kamu harus menolongku juga sekarang! Bunuh aku sekarang. Hancurkan aku. Bakar aku sampai jadi abu!" kutarik kerah Seungcheol agar lebih dekat aku menatap matanya. Aku katakan padanya ini bukan sebuah permohonan tapi perintah, yang artinya aku tidak akan menerima penolakan.
Alih-alih menjauh, wajah Seungcheol mendekat padaku. Sekali lagi napasku tercekat dan dadaku sesak, tapi untuk alasan yang berbeda. Tidak seperti yang ada dalam artikel, tangan-tangan Seungcheol yang menyusup ke pinggangku tidak sedingin mayat. Faktanya mereka memang bukan mayat hidup. Napasnya menampar wajahku dan di bawah tatapannya aku membeku. Selalu seperti ini, Seungcheol menaklukanku hanya dengan berada di jarak sedekat ini dan seketika seluruh tubuhku tidak berfungsi dengan semestinya.
"Aku bilang aku akan membunuhmu. Itu pasti, Jeonghan. Tidak ada satu pun inangku yang bertahan hidup sampai saat ini dan itu juga yang akan terjadi padamu. Hanya sampai aku menemukan penggantimu. Dan itu tidak akan sulit melihat betapa hancurnya dunia yang kita tempati sekarang," Seungcheol berujar dengan penekanan di setiap suku katanya. Bukannya terdengar seperti sebuah janji, kalimatnya lebih seperti ancaman di telingaku.
Jika benar tidak sulit mencari penggantiku, lalu kenapa sampai hampir sebulan berlalu dia tidak menemukan satupun?
Tunggu. Benar saja ini tidak sulit. Pengganti yang diinginkan Seungcheol selama ini sudah ada di depan mataku. Aku terlalu muak melihatnya sampai lupa dia bisa membantu kematianku untuk datang lebih cepat. Aku berhenti mencengkeram kerah Seungcheol dan beralih menangkup kedua sisi wajahnya. Tanganku gemetar kegirangan, "S-Seungcheol, aku tau siapa yang cocok menjadi pengganti-"
Kalimat itu tidak sempat aku selesaikan ketika tiba-tiba terdengar keributan di bagian depan kedai. Beberapa perempuan berteriak dan sayup-sayup suara seseorang menggeram. Aku dorong tubuh Seungcheol ke belakang dan mengintip dari sekat yang membatasi mejaku dan Seungcheol dari bagian depan. Di sana sosok Joshua yang nyata berdiri bersama Seokmin dan beberapa rekannya, sibuk melilit tubuh seorang lelaki dengan rantai. Mereka berpakaian serba hitam dan menggunakan rompi dengan pistol Glock 43 di tangan, pistol yang aku temukan di bawah bantal Seokmin. Mereka para pemburu dan mereka datang untuk menangkap Seungcheol dan teman-temannya lagi.
Aku menyumpah dalam hati ketika mataku dan Joshua bertemu. Sekejap dia berlari ke arahku sebelum aku sempat menoleh kea rah Seungcheol. "Jeonghan! Apa yang kamu lakukan di sini?" ia tiba di depanku dengan dahi berkerut dan napas yang terengah. Segera dia menyambar wajahku, "Kamu pucat sekali! Apa kamu baru saja digigit?" tanyanya dengan panik. Aku lebih panik lagi.
Tidak. Setelah ini Joshua akan melihat Seungcheol yang ada di belakangku. Akan ada suara tembakan yang menembus dada atau bisa saja kepalanya. Aku akan menyaksikan Seungcheol berubah menjadi abu, tertiup angina dan menghilang selamanya. Tidak. Tidak mungkin secepat ini.
Tatapan Joshua belum beralih dariku dan itu membuat jantungku semakin terpacu, takut dia akan berpaling. Tapi matanya tiba-tiba melebar dan bibirnya terbuka, "Choi Seungcheol?"
Tbc
a.n. Aku baliiikkk. Aslinya chapter ini udah selesai sebelum puasa tapi bermasalah sama uploadnya. Tambah lagi UAS nya anak DKV itu luar biasa banget… Chapter 5 kira-kira update habis lebaran yaaa
makasih banyak buat yang udah sempetin baca, fave sama follow apalagi review. Review kalian itu berharga banget loh jd semacam moodbuster (kalo misalnya aku ngerasa pengen nyerah aja ngelanjutin ini XP). Kalo ada yg ga dimengerti tanya aja :)
lastly, review kalian sangat sangat dinantikan, thanks a lot for reading ^^
