Pandora Hearts fanfic
Pandora Hearts © Mochizuki Jun
Story © arichu13 (me!)
Warning: AU, OOC, gaje, chara die, dll
Alice.
Ada lima orang. Lima orang korban.
Dihari berbadai salju, seseorang akan datang padamu dan menjadikanmu 'Alice'.
Third Alice was a child of the clover. She ruled with the dream of distortion.
"Nah, Echo, Gilbert, kalian tunggu saja ya. Aku akan mencarikan kalian teman lagi. Karena… masih ada tiga yang belum terisi. I, C, dan E." dan lagi-lagi, gadis bermata merah inilah yang berjalan-jalan mencari korban baru. "Tapi…" dia berhenti sejenak. "Apa tidak terlalu membosankan memakai para orang-orang desa biasa? Apa lebih baik kucoba memakai tuan putri atau sejenisnya?"
Dia mengangguk sendiri seperti orang gila. Dasar aneh. Lalu berjalan.
"Akan kujadikan dia sebagai seorang Alice! Tunggu ya!" dia mempercepat jalannya sambil tersenyum.
.
Tok tok tok.
Gadis bermata merah itu mengetuk pintu kerajaan. Dan muncullah para 'bodyguard' kastil itu.
"Aku ingin bertemu tuan putri." Kata si gadis.
"Sebentar." Si pelayan itu menemui tuan putri.
"Tuan putri, ada seorang gadis aneh yang ingin bertemu dengan Anda. Apa kuusir saja dia?"
Tuan putri itu terdiam sebentar. Karena merasa seperti ada hal penting dengan gadis bermata merah, dia memperbolehkan gadis itu masuk.
"Suruh dia masuk. Ada yang perlu kubicarakan dengannya." Kata tuan putri.
"Eh? B-baiklah."
Dan gadis bermata merah masuk.
"…" tuan putri menatap si gadis serius. "Tolong tinggalkan kami berdua." Katanya. Dan para pelayan pergi keluar.
Suasana langsung hening. "Jadi?" tuan putri langsung memulai topik. "Ada perlu apa denganku, gadis muda?"
Jelas, si gadis bermata merah tersenyum. "Ah, tidak penting kok tuan putri."
"Hah?" tuan putri agak kesal. Dia langsung berpikir, kenapa dia membiarkan gadis bermata merah aneh ini menemuinya? Ditambah lagi, ia malah menyuruh para pelayan pergi.
"Sekalipun tidak penting, ini menarik." Seringai muncul diwajah si gadis.
Tuan putri mulai mengambil posisi bersiaga.
"Siapa namamu tuan putri?" gadis itu menghilangkan seringainya. Buru-buru ia menanyakan nama tuan putri.
"Namaku? Ah… namaku Sharon." Kata tuan putri agak tenang karena ia pikir gadis itu tidak berbahaya.
"Eeh? Masa namamu Sharon?" lagi-lagi. Hipnotis untuk seorang tuan putri. Putri yang malang…
"Kau tidak sopan! Namaku memang Shar- eh…" agak gagal, tapi ternyata hipnotis berhasil juga. "Maaf. Aku tadi hanya sedikit bercanda. Namaku… I of Alice." dan ditangan Sharon muncul lambang clover pada kartu berwarna cokelat.
Kali ini, si gadis agak kaget juga. "Apa tadi kurang ya? Kok agak lama dia baru bisa kukendalikan?" ia terus menatap Sharon dengan takjub. "Putri yang kuat." Pikirnya. Tapi akhirnya dia tersenyum.
"Nah, I, kau punya saudara lho. Mau kupertemukan? Di Abyss?"
"Heh? Saudaraku sudah- eh… saudaraku…? Dimana?"
Sekarang si gadis bermata merah itu benar-benar kaget. Sepertinya agak sulit menggendalikan putri ini. Tapi dia tetap berjuang.
"Di Abyss. Mau kupertemukan kalian?"
Tuan putri mengangguk.
"Baiklah… terima kasih, tuan putri. Permisi." Gadis itu pergi meninggalkan Sharon.
"Selamat menjadi Alice, Sharon. Aku, Echo, dan Gilbert menunggumu menjadi Alice dan menjadi saudara kami."
"Tuan putri! Anda tidak apa?"
"… Eh? Aku tertidur?"
"Iya, tuan putri. Kami kaget lho. Tidur Anda lama juga." Seorang servant menjulurkan tangannya untuk membantu tuan putri duduk.
"Maaf." Sharon menerima uluran tangan itu dan berusaha duduk. "Berapa lama aku tidur?"
"Sekitar 2 jam hari. Cukup lama. Kami kira ada apa-apa. Syukurlah Anda baik-baik saja."
Sharon diam. Dua hari? Dia baru bertemu gadis bermata merah beberapa menit yang lalu kan? Selama itu kah? Ia menatap punggung tangannya. Tidak ada simbol clover. Ya sudah, berarti itu mimpi. Mimpi? Terasa nyata.
Tapi Sharon tidak menyadari bahwa sebenarnya itu bukan mimpi. Dan gadis itu ada diluar, di tamannya. Melihatnya sambil menahan tawa.
Benar-benar kisah tragis seorang putri…
.
Tidak ada yang berubah selama seminggu ini. Sharon tetap memerintah negeri seperti biasanya.
… Tidak ada yang berubah? Benarkah?
Sepertinya ada yang berubah. Apanya?
Dunia? Warga? Kerajaan? Atau… yang paling parah… diri Sharon sendiri?
Selama ini tidak ada yang menyadarinya, tapi, seperti Echo dan Gilbert, matanya berubah merah sebelah. Mata kanan. Sama seperti Echo.
Dan lagi… sejak saat bertemu gadis bermata merah, sifat Sharon berubah. Sangat keras, kejam, dan siap membunuh siapapun yang tidak mematuhinya.
Diktator.
Contohnya seperti ini;
"Bayar pajakmu! Sehari minimal $20! Ini baru $19 tau!"
"Maaf tuan putri! Uang saya hanya segitu!"
"Cepat bayar! Sekalipun harus mencuri, bayar $20!"
"Tidak akan! Saya tidak akan mencuri!"
"Apa? Kau mengelakku? Hukum dia! Penggal kepalanya!"
Dan orang bernasib sial itu mati terpenggal.
"Sudah ya? Echo dan Gilbert sudah tidak sabar menunggu saudaranya ini datang. Mari kujatuhkan ke Abyss…"
"Aaahhh… indahnya memiliki kekuatan. Dengan nama Alice inilah… aku akan menjadi orang terhebat!" Sharon berubah menjadi gila.
'Sharon…'
'Sharon…'
Suara dalam diri Sharon memanggilnya. "Apa?"
'Hm… kau baru sadar tentang keberadaanku?'
"Eeh?"
'Aku adalah dirimu. Kau hanya sampah yang menumpang padaku.'
"Apa?"
'Gelar putri ditujukan padaku. Kau hanya mengganggu!'
"H-hentikan!"
'Tidak bisa dihentikan. Kalau mau, kau harus pergi dari tubuhku atau…' tangan Sharon bergerak mengambil pisau dimejanya.
"T-tunggu!" pekik Sharon.
'Matilah!"
Zrats!
"Akh!"
Sharon membunuh dirinya sendiri. Ia memotong nadinya, menusuk dadanya, merobek kulitnya dibeberapa bagian, dan terakhir, menancapkan pisau itu dikepalanya sendiri.
'Matilah.'
"Duuhhh… mati ya? Aduh, padahal aku mau memakai cara yang lebih lembut lho, tapi ternyata malah seperti ini? Ufufu. Oke, yang penting kau sudah menuju Abyss. Selamat datang, di Abyss, I of Alice."
It's the end of the third Alice.
Who's the next Alices?
To be Continued
A/N:
Alice lama ya update chap 4 nya?
Gomen ne minna. Alice lain kali bakal berjuang cepet bikinnya.
Jangan lupa review ya!
Sampai jumpa di chap 5! The last 'ALICE'~ nanti masih ada sampai chap 6 kok.
