Chapter 03

Little Screet

Screet Poetry

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasuHina

Rated : T

"Aku hanya ingin keluar sebentar bersama dia, boleh kan ?" Kata Hinata sambil tersenyum manis kearah dua penjaga yang sepertinya sedang memandang kami berdua dengan tatapan tak suka. Apalagi kepadaku, seakan-akan dia ingin membunuh saja. Aku hanya mengalihkan pandanganku sambil tetap melirik kearah dua orang penjaga tersebut dan memainkan kakiku dengan cukup lincah meniru orang yang sedang main bola.

"Kau harus meminta izin pada Hiashi-sama terlebih dahulu, Hinata-sama" Kata seseorang pada Hinata.

"Sudahlah, Tou-chan sudah mengizinkan kami untuk kencan, jadi..." Tiba-tiba saja Hinata menghentikan ucapannya barusan dan kemudian melirik kearahku. Eh, apa ada yang salah dengan ucapannya tadi ya ? Oh, mungkin saat dia bilang akan kencan denganku. Sayang sekali ayahnya menanggapinya dengan serius.

"Oh, lagi kencan ya ? Kok pake sepeda gini sih ? Emangnya dia gak bisa membawa motor kesini" Telingaku langsung bereaksi mendengar hal tersebut.

"Sebenarnya... hmmm... hmm" Hei...! Apaan sih, Hinata. Kenapa dia membungkamku seperti ini ? Eh, alasanku pasti akan membuka kedoknya. Kukendurkan ototku melemahkan perlawananku pada Hinata.

"Ada apa ?" Tanya salah seorang penjaga kearahku. Huh...! Lain kali akan kubawa sebuah helikopter kesini agar aku tidak dihina seperti ini.

"Bukan apa-apa, sebenernya aku hanya gak sabar ingin bersepeda santai bersama dengan Hinata. Mungkin akan ada sensasi berbeda" Kataku sambil menyunggingkan sedikit senyuman kearah dua penjaga tersebut. Thanks god, aku bisa mencari alasan lain.

"Bener kan, Hinata ?" Tanyaku pada Hinata yang tampaknya masih berusaha mencerna apa yang kukatakan tadi.

"Uhm...! Iya" Kata Hinata sambil terkekeh pelan kearah kedua penjaga tersebut. Kukantongi kedua tanganku dan berjalan kearah sepedaku yang terparkir tidak begitu jauh dari sana. Hinata mengikutiku dengan sedikit berlari kecil dan sebelum menutup gerbang dia melambaikan tangannya hanya sekedar pamit kearah dua orang penjaga menyebalkan tersebut. Kutuntun sepedaku sekitar sepuluh meter kearah kanan rumah Hinata sebelum aku berhenti dan menoleh sedikit kearah Hinata. Kusandarkan sepedaku kedinding pagar rumah dan juga kusandarkan tubuhku disamping sepeda tersebut. Kulipat kedua tanganku dan menengadah keatas, kearah barat dimana masih terdapat sisa-sisa warna senja yang bertebaran diufuk barat sana. Kutiup pelan helaian raven yang menutupi mataku untuk memperluas pandanganku.

"Jadi, sampe kapan ?" Tanyaku tiba-tiba sambil melirik kearah Hinata yang sepertinya baru saja selesai dari acara lambai-melambainya dan sedang berjalan kearahku.

"Aku akan jadi pacar sementaramu" Kataku sambil melihat kearah Hinata yang terdiam seperti patung tersebut. Semilir angin senja kurasakan membelai helaian ravenku dari samping. Kulihat rambut panjang Hinata pun terbelai oleh angin lembut tersebut dan tampaknya Hinata masih terdiam.

"Uhm...! Ehm" Hinata yang tampaknya sadar segera mendehemkan mulutnya dan membereskan rambutnya yang bertebaran diterpa angin. Sedangkan aku tetap membiarkan helaian raven milikku untuk tetap di belai oleh angin, secara rambutku tidak panjang-panjang amat jadi aku membiarkannya saja.

"Itu tergantung, mungkin kita harus bicara ditempat yang lebih sepi daripada disini" Kata Hinata sambil berjalan mendekatiku dan melihat diriku mulai dari bawah sampe atas dan kemudian memasang wajah meledek kearahku yang masih bersandar pada sepeda gunungku tersebut.

"Aku pake kulot sih jadi gak mungkin akan naik sepeda butut mu itu" Kata Hinata. Aku hanya mengerling sebentar kearah Hinata dan kemudian tersenyum sinis kearahnya.

"Aku juga gak mau membonceng seorang cewek yang merepotkan" Kataku dengan wajah sinis kearah Hinata.

"Jadi, gimana donk ? Kencannya ?" Tanya Hinata dengan wajah bingung kearahku.

Siapa juga yang mau kencan dengan dia ? Kenapa sih cewek itu merepotkan sekali ? Mereka minta menang sendiri. Kalo gak dituruti aja mereka nangis-nangis kayak anak kecil. Bikin orang muak aja.

Tunggu, itu kan...!

"Gimana kalo disana ?" Tanyaku sambil menunjuk kearah depan dari rumah Hinata yang disinari banyak sekali lampu-lampu temaram dan juga mega merah yang tak sempat hilang. Hinata menoleh kearah tempat yang kutunjuk dan langsung memasang wajah masam.

Sebuah taman bermain, beberapa orang anak tampak bermain dengan cukup gembira di seluncur dan juga roda berputar yang sepertinya berputar dengan cukup kencang disertai tawa girang anak-anak yang cukup riang bermain di taman yang cukup sederhana tersebut.

"Kau mau gimana lagi ?" Tanyaku melihat wajah masam Hinata yang tampak sangat gak mengenakkan tersebut.

"Gak level tau gak di tempat kayak gitu" Kata Hinata sambil mengibas-ngibaskan tangannya seolah jijik dengan tempat yang dipenuhi oleh anak-anak tersebut. Aku hanya memasang wajah heran saja melihatnya kayak begitu.

"Apa-apaan tampang gak bergunamu itu ?" Sepertinya Hinata tersinggung juga melihat tampangku yang memang cukup menyebalkan sih. Bahkan bila aku sendiri yang dipasangi tampang begituan sudah pasti aku langsung menonjoknya.

Untung saja Hinata bukan cowok.

"Aku berani bertaruh kalo kamu suka bermain disana saat kecil dulu" Kataku dengan wajah malas dan langsung menggenggam tangan Hinata tanpa persetujuannya.

"Aku yakin pasti ada yang menarik disana" Kataku sambil tersenyum dan langsung menarik tangan Hinata yang tadi kugenggam. Yah...! Meskipun dia tidak setuju, tapi dia juga tak mampu menolak tarikanku.

"Tunggu dulu...! Hei...! Kau tidak mendengarku ya ? Berhenti sebentar dasar ayam" Celoteh Hinata tak kuhiraukan dan kupercepat langkahkau menuju sebuah permainan yang mungkin sudah ada selama ratusan tahun silam. Yupz...! Aku berencana melanjutkan pembicaraanku di sebuah, bukan ding dua buah ayunan yang tampak agak sedikit tersembunyi di rimbun bambu yang cukup gelap. Apalagi dengan semilir angin yang cukup kencang menggertakkan buluh-buluh bambu sehingga terkesan seperti diayuni seseorang. Hinata langsung menghentikan celotehannya begitu aku sampai sekitar sepuluh meter di depan ayunan tersebut. Tangannya yang tadinya mencoba untuk melepaskan diri sekarang berbalik menggenggamku erat. Aku hanya memutar bola mataku sambil mendengus melihat perubahan sikap Hinata tersebut. Kulepaskan genggaman tanganku dan langsung berjalan menuju sebuah ayunan lalu duduk diatasnya.

"Kenapa ?" Tanyaku begitu melihat ekspresi wajah Hinata yang berubah drastis. Dia tampak waspada dan mengawasi sekeliling. Entah apa yang ditakutkannya.

"Oh ya, wajar ya. Kau kan baru pindah kesini jadi gak tau tentang legenda tersebut" Kata Hinata dengan raut wajah mengejek seolah dia tahu semuanya yang ada di Konohagakure ini.

Kuputar otakku sedikit untuk mencoba mencari sebuah tebakan yang cukup tepat sambil kudorong ayunanku maju dan mundur. Kucoba untuk berusaha melihat sekeliling sambil mengira-ngira, ini tempat apa ya ?

"Pembantaian enam belas samurai yang menjadi prajurit sewaan sebuah kerajaan yang tidak terkenal di zaman edo" Akhirnya aku menemukan jawaban yang sekiranya cukup pas dengan analisisku. Hinata tampak terkejut dengan ucapanku barusan. Kurasa jawabanku tepat.

"Salah. Kenapa kau sebut kerajaan tak terkenal sih ? Kerajaan itu kan pernah menjadi legenda yang cukup terkenal. Kerajaan Ou beserta rajanya saat itu Yoshida-sama. Hanya orang-orang bodoh yang tidak mengenal keduanya" Kata Hinata. Ouw...! Ouw...! Ouw...! Sepertinya hanya sebuah kesalahan kecil yang tak berarti, tapi aku menyampaikannya dengan kata-kata yang salah seperti kerajaan tidak terkenal. Huh...! Merepotkan sekali dia.

"Yoshida-sama menyangka dirinya adalah titisan dewa matahari atau Amaterasu dan dia khawatir kalo saudaranya sendiri akan menyerangnya seperti dalam legenda mitologi jepang dimana Susano'o, kakak dari Amaterasu menyerang pemerintahan Amaterasu di Kotoamatsukami sehingga beliau berencana membunuh adiknya, Yotsuba-sama dengan bantuan enam belas samurai tersebut. Lalu setelah keberhasilannya keenam belas samurai tersebut dibantai untuk menutup mulutnya. Benar-benar mengerikan" Celoteh Hinata sambil melirik kekanan dan kekiri dengan wajah waspada.

"Itu kan cuma legenda, tapi aku tidak percaya kalo Susano'o si dewa samudera itu bersaudara dengan Amaterasu" Yah...! Sejak awal aku sudah gak percaya dengan mitologi jepang yang terlalu lebai menceritakan tentang kami-kami zaman dahulu.

"Bukankah dia dilahirkan oleh dewa Izanagi setelah istrinya yaitu dewa Izanami meninggal ?" Kata Hinata. Wah...! Rupanya dia tahu banyak nih tentang sejarah mitologi jepang, masak aku kalah sama dia sih.

"Hei...! Yang melahirkan kan bukan suami, tapi istri. Gimana cara melahirkannya coba ?" Tanyaku tak mau kalah dengan debat yang super hebat ini. Tapi, ini cuma tentang masalah konyol, gak papa lah, kuladeni aja. Lagi pula, aku suka dengan debat seperti ini. Kemenangan akan membuat kepuasan tersendiri.

"Kau gak pernah baca kan ? Setelah sedih karena kematian istrinya, Izanagi pergi mencari istrinya di sekitar bumi ini. Karena kelelahan dan kotor, dia kemudian mandi dan disaat mandi itulah lahir tiga kami bersaudara. Saat membasuh mata kirinya lahirlah Amaterasu sang dewa matahari. Saat membasuh mata kenannya lahirlah Tsukuyomi sang dewa malam. Dan saat membasuh hidungnya lahirlah Susano'o sag dewa samudera. Masa' gini aja gak ngerti sih" Cerocos Hinata menceritakan asal usul tiga kami bodoh yang saling menyerang di Kotoamatsukami.

"Aku ngerti kok. Tapi, pikirkan sejenak. Bila Susano'o dilahirkan saat Izanagi membasuh hidungnya berarti dia dilahirkan setelah kelahiran Amaterasu yang dilahirkan saat membasuh mata kirinya. Itu berarti Susano'o adalah adik termuda bukan? Kenapa di dalam legenda dia menjadi kakak tertua ?" Hinata langsung bingung mendengar cerocosanku barusan. Tampak dia hanya garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Oh...! Itu karena guru sejarahku bilang begitu sewaktu aku masih kelas satu SMA" Huh...! Jawabannya benar-benar sangat tidak kuharapkan, kukira akan terjadi debat yang seru disini.

"Makanya, jangan menelan mentah-mentah apa yang di ucapkan oleh guru. Guru juga manusia kan ? Lagi pula, pembantaian itu benar-benar menodai sejarah yang kelam tentang samurai. Sejak saat itu, kredibilitas samurai semakin menurun karena telah berani membunuh keluarga kerajaan sehingga kerajaan Ou diserang oleh klan Tokugawa dan memulai keshogunan Tokugawa yang dimulai dari Yoshinetsu Tokugawa dan merupakan titik balik industrialisasi di Jepang" Jelasku. Yah...! Kuakui aku memang tahu cukup banyak tentang sejarah Jepang mulai dari zaman edo dimana kemodern-an mulai masuk kedalam Jepang sampai Jepang menjadi modern seperti ini. It's Great.

"Sou ka" Kata Hinata yang sepertinya masih belum tahu apa-apa tentang semua itu.

"Lagi pula, aku tidak begitu percaya dengan tempat pembantaian tersebut" Kataku sambil melihat keufuk barat dimana mega merah sudah tak tersisa lagi.

"He...! Apa dasarmu menentang fakta yang telah diterima selama empat ratus tahun itu ?" Kata Hinata sambil berkacak pinggang di depanku.

"Syair, sebuah syair yang telah di terima selama lebih dari empat ratus tahun yang menggambarkan detil yang sangat tepat tentang pembantaian tersebut" Kataku memberi petunjuk tentang keanehan dalam pembantaian tersebut.

"Maksudmu syair Selamat Tinggal Hartaku yang dikarang oleh Mifune-sama saat dia telah putus asa saat keenambelas temannya dibantai dalam insiden tersebut" Tanya Hinata yang hanya kujawab dengan anggukan pelan.

Kalah dalam sebuah permainan

Dengan nyawa sebagai taruhan

Dengan wajah suram

Meniti balok hitam

Dengan wajah sedih

Mengambil balok putih

Tapi apa daya kupunya

Hitam berapa peluangnya

Peluang dua putih punya

TBC