SCANDAL OF PRINCESS
.
Naruto tetap bukan punya saya
.
SasuHina
.
Rate : T – K
.
Genre : Drama, romance
.
Warning : OOC, Typos, dan masih banyak kesalahan yang mungkin tidak sengaja
(^/\^)
.
Hinata memasuki gerbang sekolahnya dengan cara mengendap-endap. Hampir setengah semester ia bersekolah di SMU Konoha membuatnya hafal setiap sudut tempat di sekolah ini, termasuk watak sebagian teman-temannya. Khususnya yang berjenis kelamin perempuan.
Hinata menengok kanan dan kirinya juga ke sekitar sejauh matanya bisa melihat. Lewat koridor gedung sekolah bagian belakang. Ia hanya ingin menyelamatkan dirinya dari kejaran siswi-siswi yang menurutnya sangat merepotkan.
"HINATA CHAAAAANNNN!" Beberapa murid perempuan memanggilnya dari arah samping dan berlari menuju ke arahnya. Sang Hyuuga itu cuma bisa menghela nafas panjang dan meladeni apa yang mereka mau.
"Hinata, adakah waktu untuk hari Senin lusa?" tanya seorang gadis berambut senja. Hinata tampak kelabakan ditampar pertanyaan yang intinya hampir sama oleh keenam Senpainya ini. Ia mengeluarkan buku agenda berwarna ungu dari tasnya kemudian memilah tiap hari yang diingikan oleh Senpainya.
Sementara itu dari atas atap sekolah berdiri dua orang pria dari yang sedang mengamati gadis berambut indigo yang dikepang itu. Seorang lagi berseringai dan yang satu lagi tampak cemas dengan keadaan gadis itu.
"Hey, Teme! Tega sekali kau menghukumnya seperti itu," Si rambut durian mulai mengeluarkan suaranya pada sahabat karibnya itu.
"Menurutku itu bukan hukuman, itu hadiah." ujar Sasuke sambil masih menatap Hinata tanpa berkedip sekejap pun. Naruto menangkap sesuatu oleh kedua iris sapphirenya terhadap raur wajah Sasuke.
"Tapi kalau dia jadi asistenmu dia bisa mati kewalahan menghadapi fansgirl-mu, Baka Teme," komentar Naruto tapi Sasuke hanya tersenyum. Tipis sekali.
Flash back
Sasuke mengajak Hinata masuk ke sebuah kafe yang tak juauh dari tempat mereka sebelumnya. Sebuah kafe eskrim mungil tapi nyaman. Setelah memesan menu mereka mencari tempat duduk di pojok dekat jendela. Tak lama kemudian pesanan mereka datang, dua eskrim ukuran jumbo dengan topping blueberry dan tak lupa roll stick serta daun mint yang menancap sebagai hiasan.
"Ayo dimakan," ujar Sasuke yang sedari tadi melihat Hinata tidak menyentuh eskrimnya sama sekali, gadis itu malah menunduk.
"Kau tidak marah kan?" Tanya Hinata mendadak, masih menyembunyikan wajahnya dibalik poninya.
"Hn?"
"Gara-gara yang tadi," ujar Hinata sekenanya. Entah kenapa dia merasa bersalah. Tidak seharusnya dia membuntuti orang yang melakukan kegiatan privasinya, dan satu lagi itu sangat tidak sesuai dengan ajaran dari klannya bukan.
"Tidak, asalkan kau mau jadi asistenku," kata Sasuke dan sukses membuat Hinata menegakkan wajahnya. "Mudah, Cuma mencatat administrasi dari client ku lalu menyusun jadwalnya, kalau kau tidak paham peraturannya ada di buku ini." Tambahnya.
"Ah,, mudah sekali," kata Hinata sambil meraih buku saku yang tadi diberikan Sasuke padanya. Setelah ia membukanya matanya membulat, terkejut. Tentu saja.
"Sehari kau bias kencan dengan sepuluh gadis,?" Tanya Hinata tidak percaya.
"Kalau hari libur," jawab Sasuke sambil menyuapkan sekrim ke dalam mulutnya.
"Benarkah?" tanya Hinata pada pria yang hanya dijawab dengan tatapan tajam dari Sasuke. "Iya-iya, aku mengerti," gerutu Hinata.
Flash Back Off
"Mayonaka no uta ga saken da boku hontou wa , ano hi kara zutto…"
Ini sudah yang kesekian kalinya ponsel Hinata berbunyi dan bergetar. Untung saja kali ini Sensei-nya sedang cuti, jadi jam pelajaran kosong. Tapi meskipun demikian, tetap saja mengganggunya walaupun suasana kelas sangat gaduh.
"Kenapa tidak diangkat?" tanya Gadis berambut pink yang duduk di sampingnya. Hinata menghembuskan nafas berat dan menenggelamkan wajahnya ke dua lengannya yg terlipat di atas meja.
"Aku sudah menerima telepon 15 kali pagi ini," ujar Hinata dengan lemah. Sungguh tidak ada semangat lagi dalam diri heiressHyuuga ini. Aura hitam tampak menyelubungi Hinata di mata Sakura. Manik Emerald sakura melihat ke arah jam dinding.
Tak lama kemudian ponselnya berhenti berbunyi dan bergetar. Membuat pemilik manik soft lavender ini kembali menegakkan tubuhnya dan segera meraih ponsel silver yang ia letakkan di dalam laci meja, kemudian mengeluarkan baterai ponselnya.
"Hey~" ujar Sakura menegur tindakan Hinata.
"Ayolah Sakura chan, satu hari saja aku ingin tenang," ujar Hinata sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan wajah imutnya. Tentu saja membuat Sakura tidak tega melihat temannya ditindas oleh Senpai tidak beres itu.
"Kadang aku senang dan sekaligus sedih melihatmu menjadi sekertaris Tenshi Senpai," ujar Sakura.
"Aku tidak merasa senang. Dia suka sekali menindasku. Tapi anehnya kenapa aku selalu menurut padanya," ujar Hinata sambil memiringkan kepalanya. Dalam benaknya ia memutar ulang saat-saat bersama Senpai yang Tidak Jelas -menurutnya-. Tapi ada kalanya dia sangat nyaman di sekitar pria itu. Ia sendiri juga merasa heran, kenapa bisa seakrab itu dengan pria itu.
"Nah... Itulah, makanya aku kasihan. Lihat tampangmu yang seperti orang putus asa ini. Kenapa tidak kau laporkan pada ayahmu saja," ujar Sakura yang tiba-tiba semangatnya meluap-luap. Hinata hanya memandang temannya dengan tatapan heran. Sakura yang menerima tatapan aneh dari Hinata segera memperbaiki sikapnya.
"Apa aku salah?" tanya Sakura. Hinata terkikik menahan tawanya supaya tidak berlebihan.
Dari sikap Sakura tadi Hinata bisa tahu kalau temannya itu sangat khawatir padanya.
"Atau jangan-jangan kau mulai jatuh cinta padanya?" tebak Sakura sambil memberikan tatapan menyelidik pada Hinata dan sukses membuat gadis keturunan Hyuuga itu terpaku.
"Hey, jangan sembarangan," kilah Hinata sambil tergugup.
"Perasaan nyaman jika di dekat seseorang meskipun orang itu sering menganiayamu lahir dan batin itu apa namanya kalau bukan cinta?"
Entah kenapa perasaan aneh mulai menggerayangi benak Hinata. Dia merasa nyaman tapi dia tidak suka pria itu. Dibilang tidak suka tapi jika jauh darinya rasanya aneh.
Tidak, itu tidak benar, ujar Hinata dalam hatinya.
Waktu menunjukkan pukul 3.15. Ia terlambat 15 menit dari waktu yang dia sepakati dengan Senpainya. Dengan buru-buru dia berlari menuju taman rahasia, tempat janjian Hinata dengan Senpai-nya, Sasuke.
Hinata mengatur nafasnya terlebih dahulu setelah sampai beberapa meter lagi menuju kursi taman yang ada di tepi koridor. Manik lavendernya menangkap siluet sasuke yang duduk di bangku taman tadi.
"Senpai, gomenasai ne. Aku terlambat," kata Hinata sambil membungkuk dalam. Sasuke tersenyum jahil melihat Kouhai-nya yang tampaknya merasa sangat bersalah. Di otak jeniusnya sudah terangkai susunan kata-kata yang rencananya akan ia gunakan untuk mengerjai Kouhai yang tengah membungkuk di depannya.
"Kau membuang waktuku, bocah. Apa kau pikir aku punya banyak waktu?" Kata Sasuke ketus sambil melipat tangannya di depan dada. Tanpa babibu Hinata menegakkan tubuhnya lagi sambil memberi tatapan kesal pada Sasuke.
"Aku kan sudah minta maaf," ucap Hinata menanggapi gerutan tidak jelas dari Sasuke.
"Benarkah? Aku tidak dengar," ujar Sasuke yang benar-benar sudah membuat emosi Hinata meluap, diketahui dari tangan Hinata yang mulai mengepal kuat dan siap melayangkannya ke wajah mulus pria menyebalkan di depannya.
"Berikan jadwalku," kata Sasuke yang lebih tepat disebut perintah.
Hinata mengaduk-aduk isi tasnya untuk menemukan buku agenda kecil sambil menggerutu tentang kelakuan Senpainya. Sikap sesuka hatinya, main perintah, marah tanpa alasan, jahil, semua sifat itu milik Sasuke di mata Hinata saat ini sehingga ingin sekali ia mengatainya dengan sebutan...
"Kekanakan," gumam Hinata secara spontan.
"Apa kau bilang?" Sepertinya sasuke mendengar gumaman Hinata yang terdengar sangat pelan jika didengarkan orang lain.
"Memangnya aku bilang apa? Ini," tanya Hinata untuk menutupi kenyataan tentang apa yang ia gumamkan tadi dan segera memberikan buku tadi pada Sasuke untuk menghindari cekcok mulut yang berkepanjangan. Walaupun Sasuke tidak banyak bersuara, tapi lebih dari tiga bulan cukup untuk mengetahui karakter luar Sasuke bahwa Pria yang sedang membaca buku agenda itu adalah Pria yang hobi berargumentasi dan juga unggul dalam perdebatan. Entah debat yang masuk akal maupun yang sangat tidak masuk akal. Dia pasti akan menjadi politikus sukses atau seorang pengacara handal di Jepang, begitu pendapat Hinata.
"Uangnya sudah ku transfer ke rekeningmu." Tambah Hinata.
"Apa kau tidak pegal? Duduk sini," ujar Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya dari buku kecil yang iya pegang dengan tanganan kananya, sedangkan tangan kirinya menepuk sisi kosong disampingnya. Seperti yang katakan Sasuke, Hinata duduk di sampingnya. Kakinya diayun-ayunkan untuk menghilangkan kebosanan. Sesekali ia mencuri pandang wajah Sasuke. Pipinya kontan merona ketika mengingat ucapan Sakura saat di kelas tadi.
"Kenapa? Kau terpesona padaku?" Tanya Sasuke tiba-tiba saat memergoki gadis yang dulu memanggilnya dengan sebutan O-niichan ini tersipu setelah mencuri pandang ke arahnya.
"Apa?" bukan jawaban yang diterima Sasuke, tapi pertanyaan retoris yang diucapkan dengan ketus dari bibir mungil Hinata. Sasuke tersenyum geli sambil melirik ke arah Hinata yang memasang tampang sebal. Imut, itulah yang tertangkap di lensa onyx Sasuke ketika Hinata mengerucutkan bibirnya.
Sasuke meraih sekaleng softdrink, lalu diarahkan ke pipi Hinata sehingga membuat gadis itu sedikit terkejut karena tiba-tiba sesuatu yang dingin menyentuh pipinya. Tak lama kemudian kaleng softdrink yang tadi digenggam oleh Sasuke berpindah tangan pada Hinata.
"Ini apa?" pertanyaan aneh keluar dari mulut Hinata. Sebenarnya ia sendiri tahu apa yang ada di tangannya sekarang ini. Tapi maksudnya...
"Upah kerja kerasmu," jawab Sasuke yang mengakibatkan seulas senyum dan rona merah di pipi Hinata muncul.
"Bukannya anak kecil selalu mengharapkan upah setelah melakukan hal dengan baik?" tambah Sasuke yang sukses membuat lengkungan senyum Hinata runtuh dan rona merah karena tersipunya lenyap diganti dengan rona merah menahan marah.
Benar-benar pria menyebalkan. Setelah mengangkatmu tinggi-tinggi kemudian dia menghempaskanmu. Benar-benar iblis bertopeng malaikat, begitulah cerca Hinata dalam hati.
Sasuke mulai menanyakan karakter orang yang akan menjadi kliennya pada Hinata. Di samping bertugas sebagai asistennya, Hinata juga dituntut seklektif dalam memilih kliennya karena ia tidak bisa berkencan dengan sembarang orang. Ia bekerja sebagai tempat curhat dan pemberi solusi kliennya yang benar-benar bermasalah.
"Semuanya orang baik, mereka ramah padaku dan beberapa orang yang dulu pernah jadi klienmu sering mengirimiku e-mailuntuk menanyakan kabar," ujar Hinata.
"Benarkah?" tanya Sasuke masih membolak-balik halaman bukunya.
"Kau tidak percaya?" tanya Hinata sambil mengalihkan pandangannya pada Sasuke.
"Iya, aku percaya asal...
"Jangan terima klien yang bersikap kasar padaku, iya kan?" lanjut Hinata yang sudah hafal kata-kata yang akan diucapkan Sasuke. Dia tertawa kecil saat menerima tatapan tajam dari Sasuke.
"Kau sudah berkali-kali mengucapkannya,"
Sasuke meminum softdrink kalengnya kemudian menutup buku yang dari tadi ia baca setelah menchecklist semua jadwal untuk besok. Pria itu menyandarkan punggungnya di penyandar bangku taman. Ia mencoba menikmati angin yang berhembus di sekitarnya, tak urung bunga-bunga yang ada di taman itu bergoyang seiring hembusan angin.
"Tapi kenapa?" tanya Hinata, memecah keheningan di antara mereka. Sasuke hanya memalingkan pandangannya pada Hinata.
"Kenapa harus orang yang baik padaku?" tambah Hinata.
Di sinilah sisi yang sering membuat Sasuke tidak nyaman. Hinata terlalu polos sehingga kadang melontarkan pertanyaan yang sulit ia jawab karena ia hanya ingin menyimpan alasannya untuk dirinya sendiri.
"Jangan besar kepala, kalau dia membuat janji dengan baik berarti dia benar-benar butuh bantuan kita," jawab Sasuke sambil mengacak-acak rambut Hinata. Si pemilik rambut menggembungkan pipinya, kesal karena dandanannya rusak.
"Ne, Senpai, nanti malam kabarnya mars akan terlihat dari bumi," kata Hinata sambil menyodorkan kaleng softdrink miliknya, secara tidak langsung ia meminta Sasuke membukakan untuknya. Hinata tahu Sasuke sangat suka dengan hal-hal yang ada hubungannya dengan antariksa maupun astronomi, makanya dia mencoba membuat topik pembahasan tentang hal itu.
"Mars memang selalu terlihat dari bumi, Bocah," komentar Sasuke. Kali ini dia menyadari kalau dia benar-benar tidak pandai mencari topik. Padahal dia sudah susah-susah mencari info di internet.
"Tapi memang benar, nanti mars akan terlihat di langit bagian timur sejak senja sampai malam. Selain itu, dua bintang akan muncul di sebelah barat bersamaan dengan bulan sabit. Sepertinya malam ini penjaga langit malam akan berpesta," Sasuke segera menambahkan kata-katanya agar gadis di sampingnya tidak kecewa. Ia tahu kalau Hinata pasti sudah mencari info tentang fenomena malam ini.
"Pasti sangat indah," gumam Hinata.
"Fenomena ini akan terus terjadi sampai akhir bulan kedelapan. Oh ya, nanti malam akan ada bintang jatuh,"
"Ah, benarkah?" Hinata tampak antusias ketika daun telinganya menangkap kata bintang jatuh.
"Kau punya teropong bintang? Kalau ada, kita lihat sama-sama," ujar Sasuke.
"Um... Sepertinya ada di kamar O-niichan ku," jawab Hinata mengingat-ingat terakhir kali ia melihat teleskop bintang milik O-niichan nya.
"O-niichan-mu suka melihat bintang?" tanya Sasuke. Ia tertarik saat mendengar kata O-niichan yang keluar dari mulut Hinata, dia juga tahu kalau orang yang dimaksud Hinata adalah dirinya.
"Tidak tahu, pada saat itu aku masih kecil jadi tidak mengerti apa itu kesukaan atau apapun," jawab Hinata.
"Hn,"
Hinata tiba di rumahnya pukul 4 sore. Rumahnya tampak sepi. Jelas saja kedua orangtuanya yang sibuk bekerja, sedangkan sepupu yang bertugas mengasuhnya sedang ada tugas yang pasti adalah menggantikan posisi ayahnya sementara sejaK Tuan Besar Hyuuga menjadi Perdana Menteri.
Ketika hendak melangkah naik ke tangga menuju kamarnya yang ada di lantai dua, seorang pelayan wanita membungkukkan tubuhnya pada Hinata . Hinata tersenyum membalas sambutan dari pelayannya.
"O-jousama, apa Anda sudah makan?" Tanya pelayannya.
"Hm… sudah, tadi aku sudah makan di kantin bersama Sakura Chan," Jawab Hinata dengan ramah.
"Makan malam akan siap pukul 6. Namun tampaknya Anda harus makan sendiri," ucap Pelayan itu. Hinata memiringkan kepalanya kemudian mengangguk paham.
"Aku mengerti," jawab Hinata kemudian melanjutkan perjalanannya yang tertunda menuju kamarnya.
Hinata menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu yang terbuat dari kayu ek. Pintu kamar yang dulu milik kakaknya. Kakinya melangkah mendekat dan menyentuh permukaan kayu. Dingin. Itulah yang dirasa kulit epidermisnya. Ia mendekatkan tubuhnya seakan memeluk pintu itu. Jika ada orang lain yang memergoki tindakannya ini pasti akan tertawa. Untuk apa memeluk pintu? Namun lain di hati Hinata. ia bukan ingin memeluk pintu itu namun ingin merasakan keberadaan ang pemilik kamar yang sekarang entah dimana. Di negeri antah berantah mungkin?
"O-niichan…" gumamnya sambil menutup matanya.
Krieett…
Suara pintu berderit, sangat perdengar pili di hati Hinata. Pintu yang jarang sekali di buka. Cahaya kecil terpancar dari salah satu sudut kamar. Lampu hias kecil yang memang dipasang untuk dirinya supaya dia tidak takut ketika masuk ke kamar ini.
Kain-kain putih menutupi semua furniture yang ada di dalam ruangan, agar tidak berdebu. Langkahnya menyusuri setiap sudut kamar milik seseorang yang ia rindukan. Kemudian ia berhenti di depan sebuah foto di atas tempat perapian. Seorang pria paruh baya yang ia ketahui adalah ayahnya, wanita cantik yang merupakan ibunya yang tengah duduk sambil menggending balita berusia 3 tahun, dan Laki-laki berumur 5 tahun yang mengenakan jas hutam dengan pemanis dasi kupu-kupu. Ia tersenyum dan berandai-andai.
"Seandainya bisa seperti ini lagi…"
Setelah makan malam, Hinata kembali masuk kamar dan segera mengerjakan tugas dari gurunya. Sekarang ini sudah empat jam dari dia kembali ke kamar. Ia merelaksasikan punggungnya dengan menarik lengannya ke atas, ia segera menutup mulutnya ketika ingin menguap. Sepertinya rasa kantuk mulai menyerangnya. Tapi 15 menit lagi dia harus mengirim pesan pada Senpainya untuk membangunkan pria itu.
"Mayonaka no uta ga saken da boku hontou wa , ano hi kara zutto."
Ponsel silver milik Hinata bordering tanda ada pangggilan masuk. Ia segera meraih benda yang takjauh dari tempat duduknya. Akuma Senpai calling… itulah yang terulis di layar ponselnya.
"Moshi-moshi," sapa Hinata.
"Sudah mau tidur?" Tanya Sasuke di seberang sana.
"Kenapa setiap kau menghubungiku aku seperti habis minum chlortrimeton,?" Tanya Hinata tanpa menghiraukan pertanyaan Sasuke. Dai seberang sana Sasuke tampak menahan tawa.
"Apa separah itu?" Tanya Sasuke dan Hinata mengangguk seakan bertatap langsung dengan Senpai yang menurutnya lebih mirip iblis daripada malaikat.
"Jangan tidur dulu, pertunjukkan sebentar lagi akan dimulai," ujar Sasuke.
"Benarkah?" Hinata langsung menuju teropong bintang yang telah ia siapgan di beranda kamarnya. Benar sekali kalau benta itu masih ada di kamar kakaknya.
"Iya, kututup teleponnya. Selamat menikmati," ucap Sasuke sebelum mematikan sambungan teleponnya.
Hinata mengedarkan pandanyannya ke langit mala mini. Penuh bintang, seperti kata Sasuke tadi sore. Mars terlihat di sebelah timur dan bulan sabit ada di barat. Manis sekali. Ia menyipitkan matanya di depan lensa teleskop supaya bisa melihat bintang-bintang itu dengan jelas.
"Belum tidur?" ucap seseorang tiba-tiba dari arah kamarnya. Hinata sempat terkejut mendengar sapaan tiba-tiba itu. Mata lavendernya mengerling kea rah kamarnya. Seorang wanita cantik tengah berjalan menuju ke arahnya. Ibunya telah pulang.
"Kapan O-kaasan datang?" Tanya Hinata saat ibunya telah duduk di sampingnya.
"Baru saja," jawab ibunya sambil tersenyum menatap langit malam. "Langitnya sangat indah," kata ibunya lagi
"Iya sangat indah," gumam Hinata sambil mengikuti kemana arah mata ibunya menuju.
"Hinata, minggu depan kita harus ke Kyoto, kau tidak lupa kan?" Tanya Nyona Hyuuga pada putrinya.
"Ah, O-Kaasan, aku hamper saja lupa. Minggu depan kan sudah tanggal 23 Juli," ujar Hinata sambil menepuk dahinya. Bagaimana bisa ia lupa liburan wajib setiap tahunnya.
"Tapi kali ini sepertinya kita hanya akan berdua," ujar Ibu Hinata yang tampak berekspresi murung.
"O-tousan sangat sibuk, begitupula O-niisama," Hinata juga ikut mengerucutkan bibirnya. Kemudian tersenyum. "Tapi jangan cemas, aku akan temani Kaasan,"
"Ahh… anak baik," Ucap Ibu Hinata sambil menarik putrinya dalam pelukannya.
"Cepat tidur, ini sudah larut," katanya sambil menasehati Hinata, Hinata tersenyum kemudian mencium pipi ibunya sebelum ibunya pergi dari kamarnya. Mtanya kembali menyusuri langit malam.
"Senpai jelek, oyasumi," gumamnya kemudian tersenyum.
Seorang pria yang hamper 17 tahin itu tengah memandang langit bertabur bintang di atap tempat tinggalnya. Ia gunakan kedua lengannya sebagai bantalan. Mata onyxnya menyelami tiap titik indah langit. Sungguh, ia sangat menyukai langit malam ini.
Kanashimanai de tomoyo anata ga tooi sora no shita de
Itsuka omoi dasu kioku ni
Yasashisa ga afurete I masu you ni waratte okure
Ponsel yang ia simpan di saku celananya berbunyi. Ia segera mengangkat panggilan masuk yang ternyata berasal dari teman jabrik kuning yang menurutnya berisik itu. Namun walaupun menyebalkan terkadang dia sangat membantu.
"Hn," gumam Sasuke ketika mengangkat teleponnya.
"Hey, Sasuke. Jangan lupa minggu depan peringatan kematian ibumu. Aku sudah pesan tiket kereta untuk kita berdua sekaligus peginapan. Jangan lupa ganti uangku segera," ujar Naruto .
"Hn," setelah itu Sasuke memutuskan sambungan teleponnya.
.
.
.
2872 Words
A/N : Maaf atas keterlambatan updatenya. Semoga tidak mengecewakan. Dan maaf kalau masih belum teliti dalam mengedit. Hehehehe. Saya mau bagi u-name twitter nich, kali aja ada yang mau follow, velonia94
Pasti saya folback kok kalo mension XD hehehehe #numpangpromo
-/\- Senpai dan teman", Saya Yanagi mengucapkan minta maaf sebesar-besarnya jika ada kesalahan. Sebentar lagi UNAS 2012 akan dimulai. Saya minta doa restu dari teman" supaya dapat mengerjakan UNAS. Dan untuk sesame pejuang ujian nasional 2012 lainnya, mari kita berdoa dan berusaha sekuat tenaga.
Akhir kata, Jangan lupa Review ya….
specialy to my koko chan
