RED

Disclaimer : Kurobas punya mas Fujimaki, Akashi punya saya /digampar

Pairing : Akashi x Kuroko

Genre : Romance, Hurt/Comfort, mungkin agak humor.-.

.

.

.

Tidak!

Jangan! Kumohon padamu… AKH!

'Tetsuya?'

AKHHH!

'Kenapa ia berteriak seperti itu?'

Hikss… Sa-sakit..

Kumohon… hiks, hentikan… Akashi-kun…

'Dan mengapa ia menangis dan memohon seperti itu padaku?

—Apa yang telah kulakukan padanya?'

AKASHI-KUN!

"!"

Akashi terbangun dengan peluh memenuhi dahinya. Dengan napas yang terengah-engah, ia berusaha untuk duduk dan menetralkan detak jantungnya yang baru saja seperti berlari maraton tersebut. Sepertinya ia baru saja bermimpi buruk.

"Yang barusan itu…. apa?" gumamnya.

Seketika bayangan akan 'mimpi' itu kembali teringat di benaknya. Di 'mimpi' tersebut, ia melihat Kuroko seperti sedang disiksa oleh 'seseorang', dan kalau dilihat dari banyak kissmark di tubuhnya, ia juga diperkosa oleh orang tersebut. Tapi anehnya, Kuroko terus memohon pada dirinya untuk berhenti, dan terus meneriaki namanya.

Karena terlalu banyak, berpikir Akashi pun memutuskan untuk bangkit dan melupakan tentang 'mimpi' itu. Begitu ia menyibak selimut, betapa kaget dirinya saat melihat tubuhnya yang tak terbalut sahelai benang pun. Yang paling membuatnya terkejut ialah saat ia melihat terdapat seseorang yang sangat familiar baginya sedang tertidur dalam keadaan yang serupa dengannya.

Yang membuat dirinya bingung adalah mengapa Kuroko yang notabene adalah istrinya itu bisa berada di kamarnya? Bukankah mereka sedang pisah ranjang? Dan lagi, mengapa keadaannya terlihat sangat kacau dengan tangan yang masih terikat dasi kerja…. Apa yang mereka perbuat semalam?

"Uhm.. Tetsuya?"

.

.

.

Akashi POV

Aku menatap Tetsuya dengan tatapan yang sulit diartikan oleh diriku sendiri. Seketika, berbagai pertanyaan muncul di benakku ketika melihat keadaan Tetsuya saat ini.

Keadaannya sangatlah kacau. Terdapat banyak kissmark di seluruh tubuhnya dan juga masih dapat kulihat jejak airmata yang terbekas di pipinya. Juga terdapat sedikit bercak darah di sprei ranjangku.

Satu hal yang kutahu pasti, semalam kami melakukannya.

Sex.

Tapi…. Mengapa aku tak ingat sama sekali? Dan lagi, apa aku benar-benar melakukan hal itu dengannya? Kalaupun kami melakukannya semalam apa aku telah bersikap sangat kasar sampai mengikat tangannya seperti itu?

"!"

Tunggu!

Tadi pagi aku terbangun karna aku bermimpi melihat Tetsuya…

Tidak.

Itu bukan mimpi, itu nyata.

Yang benar saja?!

Seseorang yang kulihat di mimpi itu tak lain dan tak bukan adalah diriku sendiri, dengan kata lain.

Aku baru saja melihat diriku sendiri menyiksa dan memperkosanya semalam.

Sialan.

-o.O.o-

Sementara itu di tempat lain.

Terdapat dua orang emak-emak yang sedang berpelukan sambil menangis dan tertawa(?) di waktu yang bersamaan. Berlembar-lembar tisu tergeletak tak berdaya di lantai menandakan kalau mereka sedang bersedih atau mungkin malah sebaliknya

"Hiksss… Hiksss, Natsuko-chan."

"Hiksss…. Chihiro-chan."

Setelah itu, tak ada dari mereka yang membuka suara hingga secara mengejutkan mereka melepas pelukan mereka dan..

"AKHIRNYA KITA BERHASIL!" ucap mereka kompak.

"TAK KUSANGKA SEI-CHAN MELAKUKAN HAL ITU JUGA! OHHH, INI TERLALU DILUAR DUGAANKUUU-SSU!" teriak Natsuko.

"AKU JUGAA, HAHA! MASA' GARA-GARA CEMBURU SAJA IA LANGSUNG MENERJANG TECCHAN! HAHA DASAR SINGA LAPAR(?)" sahut Chihiro dengan teriakan pula.

Yap, mereka baru saja melihat rekaman malam pertama anak mereka. Memang di dalam ruang monitor yang mereka rancang itu walaupun sinyal berbunyi saat terdapat interaksi antar Akashi Kuroko dan mereka 'kebetulan' tidak berada di sana, secara otomatis cctv tersebut akan merekamnya. Ya, seperti kerja kamera cctv pada umumnya yang membedakannya hanyalah kalau ada interaksi yang terjadi antar anak mereka ruang monitor itu akan berbunyi.

"Aku senang tujuan kita untuk mendapat video malam pertama anak kita tercapai tapi…"

"Tapi?"

"Entah kenapa, aku merasa tidak bahagia Natsuko-chan. Terutama saat aku melihat ekspresi kesakitan yang dialami oleh Tecchan. Walaupun aku mencintai 'yaoi', tapi kalau melihat anak sendiri mengalami hal itu ntah kenapa hatiku sakit," ucap Chihiro lirih dan perlahan air mata mengalir di pipinya.

"Chihiro-chan.."

Natsuko pun langsung memeluk sahabatnya itu dan menenangkannya.

"Kalau aku yang berada di posisimu pasti aku akan mengatakan hal serupa. Maafkan aku Chihiro-chan. Ini semua adalah ideku, tapi percayalah walaupun aku menginginkan video malam pertama mereka yang kuinginkan hanyalah mereka bahagia tanpa perlu terbebani oleh perjodohan yang kita lakukan-ssu."

Setelah menjelaskan hal tersebut Natsuko pun ikut menangis dan memeluk Chihiro erat.

"Aku tahu…. sudahlah jangan menangis lagi, ada hal yang lebih penting yang harus kita lakukan Natsuko-chan," ucap Chihiro sambil melepas pelukannya.

"Hal penting?"

"Um, akan kuberitahu nanti. Lebih baik kita melihat hal apa yang akan dilakukan Sei-chan setelah melakukan hal itu semalam dengan Tecchan."

Natsuko mengangguk mengerti. Sedetik kemudian, mereka memfokuskan pandangan mereka kembali pada monitor besar di depannya.

-o.O.o-

Back to Akakuro's house.

Pagi yang cerah di akhir pekan ini harus diawali dengan kejutan yang membuat sesosok pria yang memiliki surai berwarna merah cerah yang kita kenal sebagai pewaris tunggal Akashi Corp. itu menyesal. Ia terus menerus merutuki dirinya sedari tadi karna kebodohannya. Bagaimana tidak? Karena hal sepele, ia sampai melakukan tindakan kekerasan terhadap istrinya bahkan sampai memperkosanya.

Ia sangat mengingat detail perlakuan kejinya semalam. Mulai saat ia menampar istrinya, mengikat tangan istrinya, bahkan sampai memaksa melakukan hal 'itu' tanpa peduli suara erangan kesakitan yang dialami istrinya tersebut. Bahkan ia masih mengingat kalau istrinya sempat berkata 'aku mencintaimu' semalam.

Dengan penuh penyesalan ia membuka dasi yang mengikat tangan istrinya. Tercetak jelas lebam merah di tangan tersebut, dan hal itu makin menambah rasa bersalah dalam benak Akashi. Akashi yakin saat ia melakukannya semalam, Kuroko terus menerus meronta dan menahan rasa sakit dengan memegang erat ikatan dasi tersebut.

"Nghh."

"!"

Terdengar suara lenguhan dari pemuda bersurai biru muda yang sedang tertidur di sampingnya yang tak lain dan tak bukan adalah istrinya. Nampak beberapa kali ia mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang memasuki irisnya.

"Tetsuya"

"!"

Kuroko menolehkan pandangannya ke asal suara yang terdengar familiar di pendengarannya. Sedetik kemudian, ia membelalakkan matanya ketika menatap pemuda bersurai merah cerah di depannya. Dan ingatan tentang kejadian semalam pun kembali membayangi pikirannya.

Segera, ia turun dari ranjang yang menjadi saksi bisu terenggutnya keperjakaannya semalam. Dan selanjutnya ia memungut seluruh pakaiannya yang tergeletak di lantai dan segera berlari keluar dari kamar tersebut.

"Tetsuya!"

Dan tentunya hal tersebut takkan dibiarkan oleh Akashi.

Grep.

"LEPAS! LEPASKAN AKU!"

"TETSUYA! DENGAR AKU—"

Dengan hentakkan yang keras, Kuroko berhasil melepas cengkraman Akashi dari tangannya dan sedetik kemudian ia segera berlari menuju kamar kosong yang tepat berada di kamar suaminya tersebut.

BLAM.

"TETSUYA! BUKA PINTUNYA!"

DOK DOK DOK.

"TETSUYA! IZINKAN AKU MENJELASKAN SEMUANYA!"

Karna tak juga mendapat respon dari seseorang yang berada di dalam kamar tersebut, ia terus menerus mengetuk pintu itu sambil meneriakkan namanya.

"TETSUYA!'

"….Hiks."

"!"

Tiba-tiba terdengar suara isakan dari dalam kamar tersebut.

"….Hiksss…. hikss.."

Suara isakan itu perlahan menjadi suara tangisan pilu yang membuat siapapun yang mendengarnya akan ikut merasakan kesedihan yang dialami si penderita, dan hal itu berlaku juga pada Akashi.

"Tetsuya..."

"…pergi…"

"?"

"….kumohon pergilah….Akashi-kun…"

"Aku takkan pergi sampai kau membuka pintu, aku akan menunggu di sini."

"….."

Setelah itu Akashi duduk bersandar pada pintu kamar dari luar, begitupun hal yang dilakukan Kuroko di dalam. Saat ini jarak mereka hanya dipisahkan oleh pintu kamar.

.

.

.

Sudah hampir 1 jam dan tak ada satupun dari mereka yang beranjak dari tempat itu, seolah mereka berusaha meresapi perasaan masing-masing.

"Tetsuya."

Akashi mencoba mencairkan suasana dengan membuka percakapan, sayangnya hal tersebut sama sekali tak mendapat respon dari yang bersangkutan.

"Aku tahu kau masih marah tentang apa yang terjadi semalam karna itu aku ingin…"

Cklek.

Baru saja Akashi akan menyelesaian perkataannya, secara tiba-tiba pintu yang menjadi tempatnya bersandar bergeser dan sebelumnya terdengar suara pintu terbuka. Mata Akashi terbelalak ketika melihat Kuroko yang berdiri tepat di depannya dengan tatapan kosong.

"Tetsuya…?"

Dengan cepat Akashi berdiri dan menatap Kuroko.

"Lupakanlah soal kemarin, anggap saja hal itu tak pernah terjadi," ucapnya dingin lalu berlalu meninggalkan Akashi.

"!"

Secara tiba-tiba, nada bicara Kuroko yang biasa terkesan datar saat ini terdengar sangat dingin dan lagi tatapan mata yang kosong itu membuat dirinya terlihat seperti makhluk tanpa jiwa.

Grep.

"Mengapa kau berkata seperti itu Tetsuya?" ucap Akashi sambil menahan pergerakan Kuroko.

"…"

"Jawab!'

"Bukankah kau menganggapku jalang, hmm? Kau tahu kan seorang jalang tak pernah mempermasalahkan dengan siapa ia tidur, karna itu aku tak ingin mempermasalahkan hal ini."

Mendengar jawaban Kuroko secara refleks Akashi melepas genggaman tangannya pada lengan Kuroko dan menatapnya tak percaya.

Diam.

Hanya itu yang bisa dilakukan Akashi saat ia melihat tatapan kebencian yang sedikit tersirat dari pancaran iris birunya itu.

"Ah, aku sampai lupa kalau tidak salah sebelum kita melakukan hal itu kau menyuruhku untuk tinggal bersama Kagami-kun bukan? Kalau begitu…"

Kuroko terdiam sejenak selama beberapa detik

"Perintah itu akan kuterima dengan senang hati, karna bersamamu hanya akan menorehkan luka di hatiku setiap harinya. Dan aku sudah sampai batasku untuk menahan semua itu."

Kuroko mengatakan hal tersebut dengan nada lirih disertai senyuman yang tersirat luka di dalamnya, tak lupa juga dengan air mata yang mengalir di pipinya membuatnya terlihat benar-benar tersakiti dengan tindakan Akashi selama ini.

Pemandangan yang terlihat di depannya membuat Akashi bungkam bahkan tak sanggup untuk mengeluarkan sepatah kata pun untuk membalas ucapan Kuroko.

Setelah mengatakan hal tersebut Kuroko berjalan menuju kamar mereka—ah, lebih tepatnya kamar suaminya saat ini.

Drap. Drap.

Kriet.

"…..Sebelumnya aku ingin meminta maaf karna baik diriku maupun keluargaku telah membebanimu dengan diadakannya pernikahan ini—"

Sejenak ia menggantungkan kalimatnya karna sibuk untuk memasukkan pakaiannya ke dalam koper.

"…"

"—dan aku merasa bersalah karna secara tak sadar keberadaanku di sini telah membuatmu tak nyaman, lagipula pasti sulit bagimu yang tak menyukai sesama jenis untuk menerima kehadiranku, bukan?"

"…"

Drap. Drap.

"Karna itu mulai hari ini aku takkan hadir di hidupmu lagi, Akashi Seijuurou."

Akashi benar-benar bungkam dan hanya bisa membelalakkan matanya saat mendengar ucapan Kuroko.

"Tapi sebelum aku pergi aku ingin melakukan sesuatu…"

Kuroko berjalan mendekati Akashi dan ia berusaha menghilangkan jarak diantara mereka dengan mensejajarkan tinggi badan mereka dan…

Cup

Ia mencium bibir Akashi singkat, bukan ciuman penuh nafsu ataupun ciuman penuh kasih sayang yang selama ini dilakukan oleh pasangan kekasih. Hanya sebagai ciuman perpisahan singkat. Kontan hal itu membuat Akashi kaget.

"Maaf jika aku lancang. Aku selalu ingin melakukan hal itu denganmu sejak dulu. Sejak kau masih berstatus sebagai kaptenku di teikou. Tapi, sayangnya hal itu sudah terjadi semalam ya haha." ucap Kuroko berusaha mencairkan suasana diantara mereka.

"…"

"Dan ada satu hal yang ingin ku ucapkan juga sejak dulu. Ah, kurasa aku sudah mengatakannya semalam. Kuharap kau mendengarnya. Aku tak keberatan untuk mengulangnya sekali lagi."

Kuroko berjalan menjauhi Akashi dan berdiri tepat di depan pintu rumah kemudian berbalik.

"Aku mencintaimu Akashi-kun."

Wuzzzzzzz.

Seketika angin musim dingin menerbangkan helaian rambut mereka begitu Kuroko membuka pintu rumah mereka.

Tepat setelah mengatakan hal itu Kuroko pun meninggalkan Akashi yang masih belum bisa mencerna apa yang sedang dialaminya saat ini.

-o.O.o-

Kagami's mansion.

Ting, nong.

Ting, nong.

Ting, nong.

Terdengar suara bel yang dipencet secara terus menerus oleh sesosok misterius yang berdiri tepat di depan mansion Kagami. Sontak hal itu tentunya mengganggu si pemilik mansion yang masih terbuai di alam mimpinya. Tapi, tidak sepenuhnya terbuai, sih. Ia hanya malas bangkit dari kasur kesayangannya dikarnakan ini hari libur. Lagipula siapa sih tamu yang nekat datang pada pukul 07.30 disaat hari libur seperti ini? Itulah yang ada di batin Kagami, si pemilik mansion tersebut.

Ting, nong.

Ting, nong.

"Uhhhh, siapa sih yang berkunjung sepagi ini?" ucapnya malas.

Ting, nong.

"…"

Ting, nong.

"IYA, IYA. TCH, DASAR!"

Ketika sesosok misterius tersebut hendak menekan tombol bel untuk yang kesekian kalinya tiba-tiba pintu tersebut dan menampilkan si pemilik rumah.

"DASAR KENAPA BERTAMU SEPAGI—"

Kagami langsung terdiam ketika mengetahui siapa sesosok misterius yang berdiri tepat di depannya.

"Ohayou gozaimasu, Kagami-kun."

"Ka-kau!?"

-o.O.o-

Akashi POV

Tetsuya….

Apa yang baru saja ia katakan? Ia….. mencintaiku? Ku kira aku salah mendengarnya semalam..

Tetsuya….

Kau… mengapa kau mengatakan hal itu? Apa kau benar-benar seorang homosexual sampai berani mengatakan hal tabu seperti itu?

Dan, beraninya kau pergi dariku setelah mengatakan hal itu heh?

Mengapa aku tidak bisa bergerak 1 cm pun dari tempat ini? Mengapa? Aku ingin—ah, tidak aku harus mengejarnya! Ya, aku harus mengejarnya!

Tapi kenapa tubuh ini tak mau mendengarkan perintah otakku… Kenapa?

Seketika beberapa keping memori tentang Tetsuya berputar di ingatanku.

"Ah, okaerinasai Akashi-kun."

"Ohayou gozaimasu."

"Kau sudah bangun ya? Kebetulan sekali aku baru selesai menyiapkan sarapan untukmu."

"Akashi-kun mengapa pulang selarut ini?"

"Akashi-kun apa kau sudah makan? Aku sudah buatkan makan malam untuk kita berdua."

"Akashi-kun."

"…Akashi-kun."

"….Hiks kumohon hentikan, hiks.. Aka.. shi..kun"

"AKASHI-KUN!"

Tes.

Tes.

Tanpa sadar, air mata sudah mengaliri pipi ini. Mengapa aku baru menyadarinya sekarang kami-sama? Mengapa?

Mengapa aku baru sadar kalau selama ini Tetsuya sudah terlalu baik padaku?

Aku ingat ia selalu tersenyum saat bersamaku meskipun seringkali aku mencampakkannya. Ia akan tetap berusaha untuk tersenyum dan memulai pembicaraan denganku meskipun aku tahu hatinya terluka.

Setiap pagi ia juga selalu bangun lebih pagi dariku hanya untuk menyiapkan sarapan untuk kami. Dan ia juga selalu menungguku hingga larut malam hanya untuk menanyakan apakah diriku sudah makan atau belum, meskipun aku bertaruh kalau ia sudah mengetahui jawaban apa yang akan keluar dari bibirku karna sudah terlalu sering aku mengatakan "Sudah".

Bahkan ia sengaja untuk tidak makan terlebih dahulu sebelum aku pulang dan menanyakan hal tersebut.

Sungguh bodoh dirimu Tetsuya. Bukankah kau sudah mengalami hal seperti itu selama 3 bulan lamanya? Tapi, mengapa kau tetap melakukan hal itu setiap harinya meskipun kau tahu sekeras apapun usahamu aku takkan pernah menyentuh makananmu itu ataupun membalas perbuatan baikmu, bukan?

.

.

.

Tidak.

Akulah yang bodoh.

Bagaimana mungkin hatiku sama sekali tak tergerak dengan segala perbuatan baiknya selama ini?

Jawabannya mudah.

Karna aku membencinya, membenci dirinya yang seenaknya masuk dalam kehidupanku. Meskipun aku mengenalnya sejak SMP, tapi tetap saja hubungan kami hanya sekedar sebagai teman se-tim. Dan patut digaris bawahi bahwa awalnya aku sama sekali tak membencinya. Lain hal nya dengan saat ini, saat dimana status kami berubah menjadi suami-istri bila bisa dikatakan seperti itu.

Dan aku tak menyangka kalau ia memiliki perasaan khusus terhadapku sejak dulu.

Apa yang kau suka dari diriku yang brengsek ini, Tetsuya?

Sudah berkali-kali aku menyakitimu, tapi mengapa kau masih memiliki perasaan itu padaku? Apa kau tak ingat saat Interhigh di tahun terakhir kita di SMP dulu? Apa kau tak ingat saat aku berkata kalau aku tak menganggapmu 'pemain bayangan' lagi saat Winter Cup? Apa kau tak ingat siapa orang yang membuatmu pernah membenci basket?

Itu aku Tetsuya.

Itu aku..

.

.

.

Tok, Tok.

Tok, Tok .

Suara ketukan pintu seketika membuyarkan lamunanku. Segera kuhapus air mata yang sedari tadi mengaliri pipiku.

Tok, Tok.

Sial siapa sih yang bertamu sepagi ini? Tak tahukah ia kalau aku baru saja kehilangan seseorang yang sangat berharga—tidak aku tak menggapnya berharga.. aku hanya..

Tok, Tok.

"Tunggu sebentar!"

Karna bekas air mata masih sangat terlihat di pipiku dan mataku sedikit memerah aku menyempatkan diri untuk membasuh mukaku terlebih dahulu sebelum membuka pintu.

Drap. Drap.

Cklek.

"Ohayou gozaimasu, Akashi-kun."

"Ka-kau!"

Setelah itu, aku dapat melihat sudut bibir orang tersebut sedikit terangkat.

"Kita harus bicara."

-To Be Continued-

.

A/N : Haloooo jumpa lagi dengan saya~ maaf banget baru bisa ngapdet new chap sekarang karna tanggal 2 kemaren saya abis ukk dan yahhh seminggu setelahnya remed remed an dan classmeeting.-. dan maaapppp banget kalo chap ini kurang panjang, abisan kalo kepanjangan takutnya bikin bosen T-T

Aku seneng banget chap kemaren dapat respon positif dari para readers /padahal aslinya ngerasa chap kemaren menurutku nista banget-_-/

Thanks for Lunette Athella–san for being my beta reader for this fic dengan sukarela(?) /nangis terharu/

Ahhh udahlah maap kalo banyak bacot.-. nahhhh sebelumnya mau bales guest reviewer dulu~ kalo yg login seperti biasa lewat PM~ ;))

Guest-san : pengennya sih gitu tapi… /nunjuk2 rate diatas/ kalo bisa untuk adegan uhukBDSMuhuk bakal aku jadiin side story dari ff ini, ya doain aja semoga saya kuat bikinnya.-.

Meong-san : Aduhh makasih :")) wkwk biar waktu yang menjawab Kuroko akan memilh 'RED' yang mana /smirk

Ohhhh okee okee ngerti, makasihh penjelasannya~

*Blushing* Ka-Kamu jangan senggol2 saya nanti saya jatoh dan gabisa bangun lagi /ga gitu-_-

Iyaaa saya usahain ga terkena gejala WB tapi saya ini tipe orang yg kalo ngapdet gabisa cepet loh jadi kalo lama harap maklumi saya /muka melas/

Okeee ini udah update yaaa maaf ga kilattt dan makasih atas reviewnya /nangis terharu.

g-san : Makasih^^

nata-san : yahh authornya sendiri maso sih /ga. Iyaa aku wujudin keinginan kamu untuk ngebikin Kuroko marah kok :")) tapi sayang Akashi sudah terlanjur kehilangan(?)

iyaa saya juga ga nganggap ini flame kok ;)

rei-san : INI UDAH UPDATE TP SAYA GABISA NGABULIN WISH KAMU UNTUK NAIK RATE /pundung. Makasihhhh! dirimu semangat sekali, aku jadi ikut semangattt uwooooo /ngomong ala rock lee.

Yuuka-san : Diantara semua review yang msk kemaren saya paling terharu ngeliat review dr kamu dan lune-san :"))

Saya bisa ngerasain apa yang kamu rasain saat saya masih berstatus jadi reader duluuu:")) Maafkan saya ya yang gabisa update cepet, sebisa mungkin saya nyoba tp selalu aja ada halangan(?)

Iya aku gituin soalnya Kuroko cowo trus Akashi itu jg cowo jadi harusnya suami-suami kan (?) jadi aku bikin "istri (suami)" gitu buat memperjelas aja klo mereka itu pasangan yaoi di chap ini aku coba make "istri" aja~

btw CMIIW itu apa?

Okay, mind to RnR?