Remake dari Kak Valeria Verawati yang judulnya "Pacarku Juniorku".

Jadi kalau ada cerita yg mirip atau persis seperti ini itu wajar ya, namanya juga remake :)

Novel ini adalah salah satu Novel favorit aku jaman sekolah dulu loh.

Jadi kupikir kayanya kalau diremake dengan member Bangtan cukup seru juga.

Semua alur cerita sesuai dengan Novel aslinya, cuma beberapa situasi akan disesuaikan dengan konsep boy x boy & imajinasiku :p

Sekali lagi aku bikin FF with no GS, semuanya cowok cakep yeee…

& mungkin karakter-karakter di sini adalah OOC. Tapi aku usahain supaya gak terlalu berbeda dengan karakter asli mereka, konsep 'Yoongi si manis galak' selalu aku tanamkan kok dipikiranku hihi.

Happy reading, semoga suka ya! ^^

Main cast: Min Yoongi (Uke)

MinYoon / JiHope / ChanJin / NamJin

Featuring: All BTS member & other Idol yang belum aku tentukan.

Rating T, Humor, Slice of Life, Fluff.

Yaoi, boy x boy.

DON'T LIKE DON'T READ.


Chapter 4

"Yoongi... gue anterin pulang ya," tawar Jimin saat semua anak sudah meninggalkan ruang kelas dengan penuh sukacita untuk segera pulang ke rumah.

Yoongi berjalan cepat menyusuri lapangan tanpa memedulikan tawaran Jimin yang berusaha menjajarkan langkahnya di samping Yoongi.

"Yoongi... jangan cuek gitu dong. Gue anterin lo pulang ya," rayu Jimin pantang menyerah. "Kan lebih enak naik mobil gue daripada naik bus."

Yoongi tetap nggak peduli dan mempercepat langkahnya menuju gerbang sekolah yang menganga lebar.

"Yoongi...," panggil Jimin sambil menahan tangan kiri Yoongi.

Yoongi berhenti dan menatap Jimin tajam.

"Panggil gue Suga! Dan lepasin tangan gue!"

"Nggak mau, gue mau panggil lo Yoongi seperti sahabat-sahabat lo. Gue baru mau lepasin tangan lo kalau lo mau pulang bareng gue."

"Gue bilang lepasin tangan gue!"

"Gue nggak mau!"

Plaakk!

Sebuah tamparan keras melayang di pipi Jimin. Semua mata kontan menatap mereka. Jimin melepaskan genggamannya. Dia nggak menyangka Yoongi akan senekat itu. Dalam hitungan detik, di pipi Jimin yang mulus dan lumayan putih tercetak bekas tamparan jari-jari tangan Yoongi.

"Dengar baik-baik, ya. Tamparan itu hadiah buat kekurangajaran lo megang-megang tangan gue. Kalau elo masih berani ganggu gue, gue nggak akan segan menghajar elo. Jangan kira gue nggak berani sama elo!"

Jimin terperanjat. Tapi entah emang cowok itu sabar atau bloon, ia nggak termakan emosi mendengar ancaman Yoongi.

"Yoongi, kenapa sih elo sewot banget sama gue. Apa gue salah, jatuh cinta sama elo?"

"Lo kira gue bisa kemakan rayuan gombal lo? Elo salah besar! Gue bukan cowok gampangan seperti yang lo kira. Kalau lo mau mainin cowok, gue rasa banyak temen sekelas lo yang bersedia!"

"Yoongi, gue nggak pernah nganggap elo cowok gampangan. Gue nggak pernah berniat mainin cowok mana pun. Gue cuma mengikuti kata hati dan debaran jantung gue yang udah menjatuhkan pilihannya ke elo..."

"Jimin, kalau elo masih coba-coba deketin gue dan sok ngegombal, gue akan benar-benar membenci elo dengan segenap jiwa raga gue!" bentak Yoongi kesal.

Anak-anak yang lagi bubaran kelas membuat pagar lingkaran di sekeliling Yoongi dan Jimin. Mereka membatalkan niat mereka untuk segera meninggalkan sekolah. Tontonan gratis yang seru ini sama sekali nggak boleh dilewatkan. Bahkan sampai-sampai ada yang nekat taruhan siapa yang menang dalam pertarungan kali ini. Kebanyakan sih pada megang Yoongi.

"Yoongi... gue suka sama elo. Dan gue akan membuat elo melihat ketulusan perasaan gue. Gue nggak akan mundur begitu aja. Tamparan ini malah membuktikan bahwa elo ada perhatian ke gue," kata Jimin lembut. Ia tersenyum manis menatap kedua bola mata Yoongi yang melotot marah.

"Dasar GILA!" teriak Yoongi lalu berlari meninggalkan Jimin dan menembus pagar lingkaran teman-temannya.

"HIDUP JIMIN!" teriak salah satu penonton yang kemudian diikuti sorakan teman-temannya yang lain. Ternyata Jimin yang menang.

"Ayo, lo bayar taruhannya!" tagih Jungkook, salah satu sobat Jimin yang ikutan pasang taruhan untuk kemenangan Jimin. Gayanya udah kaya bandar judi.

Anak-anak mulai bubar. Yang menang taruhan tertawa lebar, sedangkan yang memilih Yoongi cuma bisa mesem-mesem kecewa.

"Jimtet (Jimin bantet), lo TOP banget dah! Tu cowok bisa lo buat nggak berkutik. Hebat, hebat! Menang banyak nih gue!" puji Jungkook mendekati Jimin sambil mengantongi uang yang baru saja didapatkannya.

Jimin cuma diam dan mengelus-elus pipinya yang masih terasa agak panas.

"Wiii! Pipi lo merah juga. Tamparan tuh Suga Sunbae keras juga ya?" kata Jungkook. "Lo nggak serius kan naksir cowok kasar gitu?"

"Dia bukan cowok kasar. Dia cuma punya watak keras," bela Jimin.

"Jimin... jangan bilang lo serius naksir dia ya," ujar Jungkook curiga.

Jimin nggak menjawab. Dia hanya diam dan tersenyum. Tapi bagi Jungkook, senyum Jimin itu udah cukup sebagai jawaban.

"Lo gila, tet (bantet)! Segitu banyak cowok yang naksir lo sejak hari pertama kita masuk sekolah ini, elo malah milih cowok kasar yang jelas-jelas nggak suka sama elo," kata Jungkook heran. "Gue rasa otak lo udah nggak waras lagi."

"Elo salah, Kook!" bantah Jimin. "Justru karena gue waras, gue milih Yoongi daripada orang-orang sok jaim yang ngejar-ngejar gue tiap hari itu."

"Apa sih yang bagus dari tuh cowok?" tanya Jungkook. "Udah gitu, dia kan senior kita, galak pula, sama sekali nggak ada nilai plusnya deh."

"Sekali lagi lo salah," jawab Jimin. "Yoongi cowok paling baik yang pernah gue temui."


.

(^-^)

.


Yoongi membanting tasnya ke tempat tidur dengan kesal. Hari ini benar-benar hari terburuk buatnya. Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur dan mengambil gulingnya, lalu meremasnya gemas.

Kriing...!

Dering HP memaksa Yoongi untuk melepas pelukannya ke gulingnya dan segera mengangkat telepon. Lagi-lagi tanpa melihat caller idnya.

"Halo...," sapa Yoongi ogah-ogahan.

"Halo, Yoongi," sapa Jin ramah dari seberang. "Gue ganggu nggak?"

"Eh, elo, Jinnie," jawab Yoongi. "Nggak ganggu kok, ada apa?"

"Cuma mau ngobrol aja sama elo."

"Loh, tumben. Ada apaan sih?" tanya Yoongi heran. "Nggak biasanya elo berkesan misterius gini."

"Siapa yang misterius?" Jin malah balik tanya. "Gue cuma mau ngobrol biasa aja sama elo."

"Oke. Tentang apa nih?"

"Tentang elo."

"Gue?"

"Iya, tentang elo," jawab Jin. "Gue denger, pas pulang sekolah lo ribut sama Jimin di lapangan, ya?"

"Tau dari mana lo?"

"Dari berbagai sumber. Topik itu mulai jadi pembicaraan hangat di antara anak-anak, dan gue yakin besok berita itu pasti bakal jadi lebih heboh lagi."

"Pada kurang kerjaan, ya! Buat apa sih kejadian gitu aja dibesar-besarkan!"

"Yoongi, apa elo nggak sadar? Ini pertama kalinya ada cowok yang benar-benar berhasil merebut perhatian lo."

"Merebut perhatian gue?" tanya Yoongi. "Apa lo nggak salah Jin? Gue malah setengah mampus benci banget sama dia."

"Bukankah benci itu juga satu bukti bahwa elo merespons semua tindakan dia dan memberi dia satu perhatian lebih?"

"Maksud lo apa, Jinnie?"

"Yoongi, hampir tiga tahun gue kenal elo, dan gue tau siapa elo," jelas Jin. "Yoongi yang gue kenal sangat dingin sama cowok yang berusaha mendekatinya. Yoongi yang gue kenal pantang mengharapkan bantuan cowok kecuali jika ada hubungan kerja sama yang saling menguntungkan di dalamnya. Yoongi yang gue kenal nggak pernah mau merespon semua tindakan cowok yang mencoba pedekate sama dia. Yoongi yang gue kenal nggak akan mau ribut sama cowok karena urusan cinta."

Yoongi nggak bersuara. Dia nggak bisa membalas semua ucapan Jin. Dia terpaku diam.

"Tapi Yoongi yang sekarang mulai berubah," lanjut Jin. "Yoongi yang sekarang marah-marah dan ngejutekin seorang cowok yang sedang berusaha pedekate sama dia. Padahal dulu boro-boro melirik, setiap cowok yang mencoba mendekati Yoongi bakal dicuekin habis-habisan. Yoongi yang sekarang juga mau dianterin ke sekolah sama cowok tersebut meskipun dengan alasan terpaksa. Bahkan Yoongi yang sekarang bisa ribut di depan umum sama seorang cowok gara-gara masalah cinta."

"Tapi gue nggak ngeributin masalah cinta sama Jimin!" bantah Yoongi. "Gue cuma... gue cuma... nampar dia dan minta dia nggak ganggu gue lagi."

"Apa bedanya?" sahut Jin. "Itu malah semakin menunjukkan bahwa elo jelas merespons semua tindakan dia. Elo marah-marah sama dia, elo ngejutekin dia, elo bilang elo benci sama dia, bukankah itu berarti elo memberi perhatian dan menanggapi semua tindakan yang dia lakukan?"

"Tapi..."

"Lo masih ingat Suho nggak, cowok yang empat bulan lalu mencoba ngedeketin elo?" tanya Jin.

"Suho?" Yoongi malah balik bertanya. "Suho yang mana? Memangnya ada cowok yang namanya Suho yang mencoba deketin gue?"

"Tuh... benar, kan? Bahkan nama cowok yang pedekate sama elo aja lo nggak ingat," kata Jin. "Suho itu teman kuliahnya Chanyeolie, Yoongi...! Nah, sekarang kembali ke Jimin nih. Elo tuh benar-benar merespon kehadiran cowok itu."

"Gue nggak bermaksud gitu, Jinnie."

"Jujur sama gue, Yoongi," kata Jin, "apa elo udah jatuh cinta sama Jimin?"

"Nggak... itu nggak mungkin," jawab Yoongi. "Gue nggak mungkin jatuh cinta sama cowok aneh itu."

"Kenapa nggak, Yoongi? Elo nggak salah kok kalau elo jatuh cinta sama dia."

"Nggak mungkin! Gue nggak mau jatuh cinta," ujar Yoongi. "Cinta itu cuma bikin gue menderita, dan gue nggak akan membiarkan diri gue merasakan penderitaan yang sama kayak nyokap gue. Gue nggak akan membiarkan cowok mana pun menyakiti gue. Nggak akan!"

"Elo salah, Yoongi," kata Jin. "Kalau elo sendiri takut untuk mencintai, gimana elo bisa tau apa elo bakal menderita atau malah bahagia?"

"Gue nggak peduli! Lagi pula, buat apa sih elo ngomongin masalah ini sama gue?"

"Gue cuma mau membantu lo untuk jujur sama diri lo sendiri."

"Udahlah Jinnie," kata Yoongi kesal. "Gue nggak mau membahas Jimin lagi. Hari ini gue udah cukup capek gara-gara cowok rese itu. Gue sampai enek terus-terusan mendengar nama dia hari ini."

"Oke, oke. Sori ya kalau gue udah mengganggu elo, Yoongi."

"Nggak kok Jin. Elo nggak ganggu gue."

"Bohong banget!"

"Bener... Gue cuma nggak pengen mendengar nama cowok aneh itu lagi."

"Iya. Dia memang cowok aneh, Yoongi," ujar Jin. "Dia cowok aneh yang udah mulai memasuki kehidupan lo."

"Tuh, kan? Lo mulai lagi..."

Jin tertawa lalu berkata, "Oke, udahan dulu ya. Gue mau nelepon Chanyeol hyung. Bye!"

"Bye!" Yoongi menutup telepon lalu merebahkan tubuhnya di sofa.

Jimin lagi Jimin lagi. Mau nggak mau Yoongi kepikiran juga sama semua ucapan Jin barusan.

Apa iya gue jatuh cinta sama dia? tanya Yoongi pada dirinya sendiri.

Nggak mungkin!

Eits, apa iya nggak mungkin?


.

(^-^)

.


Yoongi duduk di sofa ruang tamu sambil membuka buku sejarahnya. Dia sedang menunggu Mama pulang kerja, sembari mengerjakan PR sejarah. Yoongi membalik halaman demi halaman buku sejarahnya, mencari jawaban untuk pertanyaan yang sedang dikerjakannya.

Jam sudah menunjukkan pukul 18.15. Tapi aneh, Mama belum juga pulang. Yoongi mulai nggak tenang, soalnya Mama bilang hari ini mau pulang lebih awal. Jadi aneh kalau jam segini Mama belum sampai di rumah. Apa jalanan macet, ya?

Deru mobil yang berhenti di depan rumah mengalihkan perhatian Yoongi dari buku yang ada di tangannya. Siapa yang berhenti di depan rumahnya? Yang pasti itu bukan Mama, soalnya biasanya kalau Mama lagi malas jalan, Mama akan naik ojek motor dari muka gang sampai depan rumah. Jadi nggak mungkin Mama naik mobil. Jadi siapa ya? Mungkin orang lewat aja kali ya, kata Yoongi berusaha menenangkan batinnya.

Terdengar suara pagar depan dibuka. Yoongi mengernyitkan dahi. Apa itu Mama? Suara mobil kembali terdengar lalu perlahan berlalu pergi. Bersamaan dengan itu kenop pintu berputar dan Mama muncul dari balik pintu dengan wajah lelah.

"Mama kok baru pulang?" tanya Yoongi heran.

"Iya. Memangnya kenapa, Sayang?" Mama ikutan heran melihat ekspresi Yoongi.

"Nggak. Aku cuma heran," jawab Yoongi. "Soalnya tadi aku dengar suara mobil di depan rumah."

"Oh... itu." Mama kelihatan gugup dan salah tingkah. "Ng... itu... tadi Mama diantar teman kantor Mama."

"Teman kantor?"

"Iya... mmm... teman kantor Mama," jawab Mama tambah gugup. "Manajer personalia di tempat Mama kerja."

"Kok tumben dia nganter Mama pulang?" tanya Yoongi, kayak polisi menginterogasi tersangka. "Jangan-jangan kemarin-kemarin dia juga yang nganterin Mama pulang? Cowok atau cewek, Ma? Apa dia punya maksud khusus sama Mama?"

"Kamu tuh apa-apaan sih, Yoongi?" Mama jadi sewot ditanya bertubi-tubi gitu sama anaknya. "Mama rasa Mama nggak perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan kamu yang aneh itu. Mama mau mandi."

Mama membawa tas kerjanya ke kamar lalu kembali keluar sambil membawa handuk dan berjalan menuju kamar mandi.

Yoongi menghela napas panjang. rasanya wajar aja kalau Yoongi curiga sama Mama. Masalahnya, selama ini Mama selalu pulang kerja sendirian. Mama itu wanita mandiri. Tapi kok sekarang Mama pakai acara dianterin pulang segala sama teman kantor yang katanya manajer personalia itu? Rasanya benar-benar mencurigakan, apalagi kalau melihat tampang Mama yang gugup waktu menjawab pertanyaan-pertanyaan Yoongi tadi.

Yoongi menutup buku sejarahnya dan membiarkan pikiran-pikirannya bekerja mencari jawaban untuk keanehan ini.


.

(^-^)

.


Besok siangnya, setelah bel pulang berbunyi, Yoongi sedang merapikan bukunya ketika tiba-tiba V nongol di kelas.

"Yoongi, lo harus ikut gue ke lapangan," ajak V.

"Apaan sih?" tanya Yoongi. "Lo kan tadi udah mau pulang duluan sama Hobi dan Jinnie, kok sekarang balik lagi sih?"

Yoongi yang masih sibuk merapikan buku-bukunya yang berserakan di atas meja memandang V heran. Kelas udah sepi. Anak-anak udah pada bubar dari tadi. Tinggal mereka berdua di ruangan itu.

"Pokoknya lo harus ikut gue sekarang juga," ajak V lagi yang kali ini lebih berkesan memaksa.

"Ada apa sih, Tae?" tanya Yoongi lagi. "Lo nggak liat ya, gue lagi sibuk ngerapiin buku-buku gue."

"So what gitu loh!" jawab V asal. "Yang penting lo ikut gue sekarang juga."

"Tapi gue lagi rapiin buku-buku gue, Taetae!" protes Yoongi.

"Gue bantuin," kata V lalu secepat kilat mengambil semua buku Yoongi yang berserakan di meja dan menjejalkannya ke dalam tas ransel Yoongi.

Yoongi cuma bisa melotot melihat buku-bukunya yang jadi lecek nggak keruan gara-gara ulah V.

"Udah, ayo jalan," ajak V sambil menarik tangan Yoongi meninggalkan ruang kelas. "Hobi sama Jinnie udah nunggu dari tadi."

"Iya, iya. Tapi pelan-pelan dong, Tae," Yoongi ngedumel.

"Kita nggak ada waktu lagi."

Memangnya ada apa sih?


.

(^-^)

.


Lapangan basket tampak ramai oleh anak-anak yang nggak jadi pulang. Mereka berdiri di sekeliling lapangan sambil berteriak-teriak heboh.

V dan Yoongi menerobos barisan penonton dan menempatkan diri di samping Jin dan JHope yang juga sedang seru memerhatikan lapangan basket.

"Ada apa sih?" tanya Yoongi heran.

"Lo liat aja sendiri," jawab V.

Yoongi menajamkan penglihatannya ke tengah lapangan. Di sana ada sebuah meja, dan di atasnya berdiri seorang cowok cakep sambil memegang TOA.

Yoongi melongo kaget, nggak percaya atas apa yang dilihatnya. Cowok yang berdiri di atas meja itu...

JIMIN!

Gila! Ngapain dia di situ? Di tengah lapangan, lagi! Dasar kurang kerjaan, tukang cari sensasi, maki Yoongi dalam hatinya.

"Halo semuanya...!" sapa Jimin, mulutnya menempel di corong TOA.

"Halo juga!" balas semua anak yang ada di situ, kecuali Yoongi pastinya.

"Oke. Hari ini gue spesial tampil di depan kalian semua untuk menghibur kalian selama kurang-lebih lima belas menit," kata Jimin. "Gue juga akan mempersembahkan lagu untuk seseorang yang udah membuat gue jatuh cinta..."

Mata Jimin tertuju pada sosok Yoongi yang berdiri di pinggir lapangan. Sinar matanya menunjukkan kehangatan dan ketulusan hatinya. Yoongi balas menatap Jimin, tapi nggak lama kemudian dia langsung buang muka.

"Semua siap bergoyang?" tanya Jimin kayak penyanyi profesional.

"Siap!" teriak anak-anak heboh.

"Lagu pertama gue persembahkan untuk para Jiminers yang udah banyak mendukung gue selama ini," kata Jimin. "Tapi sebelumnya gue mau ngesms pujaan hati gue dulu ya... Nah udah disend. Ayo pada cek HP, siapa tau ada sms masuk," kata Jimin lagi tapi matanya nggak lepas dari Yoongi.

Ketauan banget kalau Jimin sms nya ya ke Yoongi. Apalagi nggak lama tiba-tiba HP Yoongi yang emang tiap pulang sekolah udah nggak disilent bunyi tanda sms masuk.

Semua yang hadir harap-harap cemas, nahan nafas, deg-degan, nungguin Yoongi ngecek sms dari 'mama minta pulsa' atau emang dari yang lagi megang TOA di atas meja.

V yang ngintipin HP Yoongi lalu ngasih kode, "dari 'bantet sialan', Jimin tuh Jimin!" katanya sambil teriak memberi informasi.

Semua lalu kelihatan lega. Ada yang langsung ngambil nafas, ada juga yang langsung pasang muka lega dan disekitarnya pada nutupin hidung, ternyata ada yang sampai nahan kentut segala!

Lalu penonton mulai bersorak-sorak ke arah Yoongi sambil pada teriak-teriak,

"Baca! Baca! Baca!".

Yoongi yang jadi pusat perhatian mendadak jadi kaget dan reflek melihat isi sms yang diterimanya.

Sender: Bantet sialan

(dibaca dong ah) bultaoreune.

"Bultaoreune?" baca Yoongi tanpa sadar dan cukup kencang.

"Fire...!" tiba-tiba saja Jimin teriak dan langsung memulai nyanyiannya.

Yoongi cuma bisa bengong lupa mau marah ke makhluk aneh itu.

"Eoo... Eoo...!" sorak anak-anak.

Jimin mulai menyanyi dengan menggunakan TOA tanpa diiringi musik. Mana ditambah sambil joget-joget sendiri. Terdengar rada aneh dan ngos-ngosan, tapi lumayanlah.

"Si Jimin benar-benar gila!" ujar JHope. "Tapi gue suka cowok model gini."

"Lo suka cowok gila, Hob?" tanya Yoongi.

"Gilanya Jimin kan beda, Yoongi," jawab JHope. "Gilanya dia tuh keren banget."

Yoongi mencibir. Baginya sekali gila ya tetap gila. Apanya yang keren? Malah kayak orang kurang kerjaan banget.

"Jin, gue mau ngomong bentar sama elo." Tiba-tiba Namjoon, teman sekelas mereka, udah nongol di sebelah Jin dengan tampang serius.

"Oh, ada apa, Namjoon?" tanya Jin. "Ngomong aja sekarang."

Namjoon melirik sebentar ke arah ketiga teman Jin, lalu kembali menatap cowok itu. "Gue mau ngomong empat mata sama elo," jawab Namjoon. "Penting!"

Jin mengernyitkan dahinya heran, begitu pula ketiga temannya.

"Ya udah. Kita ngomong di kantin aja," tawar Jin.

Namjoon mengangguk lalu berjalan lebih dulu menuju kantin.

"Gue ke kantin dulu bentar," pamit Jin. "Nanti gue balik lagi."

Yoongi, JHope, dan V hanya bisa mengangguk kebingungan.

Tumben banget Namjoon berani ngajak Jin ngomong berduaan. Namjoon memang udah lama naksir Jin, ketahuan dari gerak-geriknya yang selalu baik sama Jin. Tapi anehnya dia nggak pernah berani ngomong berduaan sama Jin, apalagi nembak.

Jadi selama ini dia cuma menyimpan rasa sukanya dalam hati, sehingga akhirnya Jin jatuh ke tangan Chanyeol hyung. Makanya semua pada heran melihat Namjoon mengajak Jin kaya tadi. Rasanya aneh aja.

Tepuk tangan meriah dari anak-anak mengembalikan perhatian ketiga cowok itu pada Jimin yang masih berdiri di tengah lapangan.

"Oke, lagu berikutnya gue persembahkan buat cowok yang udah menawan hati gue. Dia adalah... Suga My Sweet Sugar alias Min Yoongi," ujar Jimin sambil menatap lembut Yoongi.

Yoongi melotot kaget. Semua mata yang ada di lapangan saat itu langsung melihat ke arahnya lagi. Tanpa Yoongi sadari, mukanya memerah kayak udang rebus.

"Love's battery" Jimin menyebutkan judul lagu trot yang akan dinyanyikannya, lalu melompat turun dari atas meja dan mulai bernyanyi sambil perlahan berjalan dan bergoyang mendekati Yoongi.

Bait demi bait dinyanyikannya di bawah sorakan dan tepukan tangan anak-anak yang masih setia menonton pertunjukannya. Jimin nggak peduli dengan puluhan mata yang menatapnya geli atau tawa dan teriakan mereka yang seakan melecehkannya. Dia tetap berjoget ria sambil menatap mata Yoongi, cowok pujaannya.

Sorakan dan tepuk tangan riuh mengakhiri lagu yang dinyanyikan Jimin. Yoongi menatap Jimin yang sudah berlutut di hadapannya. Dia benar-benar bingung nggak tahu harus berkata dan berbuat apa.

Jimin masih berlutut, lalu masih dengan menggunakan TOA, dia bertanya pada Yoongi,

"Yoongi, would you be the sugar of my heart?"

Mulut Yoongi menganga lebar. Dia nggak percaya dengan apa yang baru aja didengarnya. Nggak mungkin cowok gila ini benar-benar nekat ngomong gitu di depan semua orang. Yoongi celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri, mencari-cari sesuatu, siapa tahu ada kamera tersembunyi yang lagi meliput kejadian ini. Bisa aja kan, ini lagi acara reality show? Kan sekarang lagi jamannya segala sesuatu dibikin reality show. Tapi ternyata nggak ada.

Mata Yoongi malah tertumbuk pada dua cowok yang pernah ngegosipin dia di toilet sekolah. Kedua cowok itu berdiri diam di salah satu sudut lapangan dan memandangnya dengan sorot mata jijik.

Darah Yoongi bergejolak hebat, dan tiba-tiba saja emosinya meluap-luap. Yoongi jadi kesal sama kelakuan Jimin yang udah memberi kesempatan pada kedua cowok genit itu untuk memandanginya dengan tatapan merendahkan.

Yoongi menatap Jimin yang masih berlutut di depannya, lalu berkata tajam,

"Elo tuh benar-benar nggak punya malu! Gue jijik sama elo!"

Kemudian Yoongi berlalu begitu saja, meninggalkan Jimin yang terpengarah menatapnya, bersama puluhan mata yang juga kaget dengan jawaban yang dilontarkannya. Tapi Yoongi nggak peduli. Dia berjalan cepat menerobos kerumunan dan meninggalkan gedung sekolah.


.

(^-^)

.


"Yoongi, kok lo pulang duluan sih?" protes Jin di telepon sore itu.

"Sori, gue males aja jadi tontonan orang," jawab Yoongi. "Lagian, siapa suruh lo ngilang lama banget."

"Gue kan lagi ngomong sama Namjoon di kantin."

"Oh iya, gue lupa," kata Yoongi sambil nyengir. "Kalian ngomongin apaan sih? Tumben banget si Namjoon ngajakin elo bicara empat mata..."

Terdengar suara tarikan napas dari seberang. Jin terdiam sesaat.

"Ah, nggak penting," jawab Jin akhirnya. "Gue yang mestinya nanya sama elo, apa yang terjadi di lapangan setelah gue ke kantin."

"Lo pasti udah diceritain sama Tae atau Hobi."

"Iya sih," lanjut Jin. "Tapi gue mau dengar cerita versi elo."

"Ceritanya sama aja."

"Lo kedengarannya bete banget sih, Yoongi?"

"Masa?"

"Jutek, tau!" dumel Jin.

"Perasaan lo aja, kali."

"Ih, nih anak, kalo dibilangin," gerutu Jin lagi. "Gue kan cuma mau ngajak lo ngobrol. Kok respon lo ngebetein gitu sih?"

"Habis, lo ngajakin gue ngobrol soal tadi sih. Gue keki, tau!"

"Loh memangnya kenapa?" tanya Jin heran. "Jimin kan cuma bikin pertunjukan spesial buat lo di lapangan. Masa gitu aja salah sih?"

"Jelas salah!"

"Apanya yang salah?"

Yoongi merengut karena kesal.

"Jinnie, Jimin udah bikin gue malu. Dia bikin gue jadi tontonan anak-anak, dia bikin gue nggak punya muka di depan teman-teman dan junior-junior gue sendiri."

"Ya ampun, Yoongi...," ujar Jin. "Jimin nggak mungkin bermaksud kaya gitu."

"Lo tau dari mana?" tanya Yoongi. "Lo kan nggak ngeliat kejadian tadi. Anak-anak kelas satu pada ngeliatin gue dengan pandangan menghina. Gue benar-benar kesal banget."

"Nggak mungkin, Yoongi," bantah Jin. "Kalaupun iya, itu cuma karena mereka iri sama elo."

"Iri sama gue?"

"Iya lah," jawab Jin. "Mereka iri karena elo mendapat perhatian dari Jimin, cowok yang lagi naik daun di sekolah kita saat ini. Masa lo nggak ngerti sih?"

Yoongi terdiam sesaat, mencoba memikirkan kata-kata Jin. Entah mengapa Yoongi malah tambah kesal.

"Siapa yang suruh mereka pake acara iri segala!" maki Yoongi. "Mereka kira gue suka apa, sama hal-hal kayak gini? Gue ngerasa kayak di sinetron-sinetron, terlalu didramatisir, cengeng banget. Ih, gue benci banget. Dan ini semua gara-gara cowok gila itu. Gue benar-benar sial ketemu dia!"

Jin menghela napas panjang.

"Menurut gue bukan elo yang sial karena ketemu sama Jimin, tapi Jimin yang sial karena jatuh cinta sama cowok kaya elo, Yoongi..."


-TBC-