LOVE DETECTOR

Rated T+; Luffy X Sanji; Romance & Hurt/Comfort

Disclaimer; One Piece © Eiichiro Oda

Chapter 4. Flash Me Your Past

(Danger! Ini MATURE!)

Terima kasih buat yang sudah mau meluangkan waktu dan kuotanya untuk meninggalkan review kepada saya. Ternyata masih ada yang mau baca :)))

Teman saya ikut-ikutan ngedit ceritanya ni... jadi kalo ada kata-kata yang agak kagok, salahkan dia aja, ya. Dan... mungkin akan ada kata-kata yang sering kalian lontarkan di rumah saat baca ffn yaoi.

...

Kelas begitu ramai begitu sosok pria itu memasuki kelas mereka. Perempuan berteriak melengking, laki-laki hanya bisa meraung begitu melihat tubuh kekar tersebut. Mereka bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya pukulan yang akan dilancarkan guru baru mereka tersebut ketika mereka melakukan kesalahan.

Sosoknya tersebut bagaikan sosok devil di hadapan mereka. Dengan tubuh yang penuh otot—mereka bahkan yakin kalau jemari-jemari pria itu juga berotot- mata tajam berwarna kuning madu kecokelatan, rambut hijau yang abnormal tapi terkesan eksotik pada sosoknya tersebut, dan bekas luka di mata juga tiga anting yang bergelayutan di cuping telinganya.

"Nama saya Roronoa Zoro, mulai sekarang saya akan menjadi guru olahraga kalian karena guru kalian sebelumnya sudah dikeluarkan." Jawabnya dengan dingin, berhasil menusuk hati seluruh anak perempuan.

Para anak perempuan menatapi tubuhnya dengan nakal, sementara yang laki-laki menatap tubunya dengan ketakutan dan penuh harap untuk bisa seperti itu.

"Ada yang mau dipertanyakan?" tanyanya yang langsung menjatuhkan diri ke atas bangku guru.

Mendengar kata-kata itu, yang bagi para perempuan terdengar seperti undangan untuk berdansa, maka hampir seluruh tangan mengacung tinggi.

Zoro mengernyit dan memijit pangkal hidungnya. Karena inilah dia benci mengambil kelas yang penghuninya lebih banyak perempuan dibanding laki-laki. Dia mencari-cari sosok yang mungkin ingin bertanya mengenai hal yang waras, bukan mengenai apa tipe kesukaannya, apa makanan kesukaannya, atau lain-lain.

Kemudian dia menemukan sosok berambut oranye yang menatapnya dengan biasa dan mengangkat tangannya tidak setinggi perempuan genit lainnya. Zoro langsung menunjuknya.

"Yang berambut oranye... siapa namamu dan berikan pertanyaanmu." Ujar Zoro.

"Namaku Nami Merecitron. Berapa umur sensei dan apa keahlian sensei dalam olahraga?" balas Nami, yang kemudian dijawab dengan anggukan Zoro.

"Umurku dua puluh lima tahun, dan aku lebih ahli dalam berpedang dan kendo." Jawabnya datar, tidak memedulikan sorak sorai gadis-gadis yang menggila.

"Kau..." tunjuk Zoro pada gadis berambut biru panjang dan terkesan berkelas. Tipe yang kelihatannya lebih waras lagi.

"Nama saya Vivi Nefretari. Saya ingin mengetahui apa sensei sudah menikah? Soalnya anda sudah berumur dua puluhan." Jawab Vivi dengan sopan.

Zoro memangku dagunya dengan jempolnya. Sedikit risih dengan yang satu ini.

"Aku belum menikah."

Spontan sekelas langsung heboh dan dipenuhi teriakan tinggi. Langsung saja Zoro memukul meja agar mereka semua tenang. Dan ternyata berhasil.

"Dan aku tidak akan menikah." Jawabnya dingin.

Seisi kelas terdiam. Membisu.

"Ke... kenapa sensei?" tanya perempuan yang berambut hitam panjang dengan kacamata bergagang merah.

Zoro melirik ke arah perempuan itu, yang ternyata langsung berwajah merah. Berhasil membuat Zoro sick alias muak.

"Aku tidak tertarik dengan perempuan," jawabnya.

DIA GAY! Teriak seluruh siswa dan siswi dalam batin mereka.

Zoro menyeringai begitu melihat reaksi dari mereka semua. Ternyata mereka semua sangat kekanakan, mendengar hal seperti itu saja mereka sudah panik luar biasa. Dia bahkan ingin tertawa ketika melihat reaksi para siswa yang berwajah pucat karena penyataan tersebut.

Maaf maaf saja, ya... aku bahkan tidak tertarik dengan kalian semua. Siapa yang menginginkan pasangan kurus dan kekanakan seperti kalian? Ejeknya dalam hati.

"Baiklah, kalian semua akan kuabsen. Semua hadir?" tanya Zoro tanpa membacakan nama-nama di buku absensi.

"Semua ha... eh, Zoro Sensei! Sanji-san belum hadir." Jawab Vivi yang segera mengacungkan tangannya.

"Hah? Terlambat?" tanya Zoro.

"Iya sensei, tapi Sanji-san sudah mempunyai surat izin dari kepala sekolah untuk masalah tersebut." jawab Nami.

Zoro menggumam tidak jelas, lalu mengambil bolpennya dan mencentang setiap murid yang hadir. Tampaknya semua hadir, termasuk si Sanji yang katanya sudah memiliki izin tersebut.

KNOCK... KNOCK...

Semua mata langsung beralih ke arah pintu kelas. Mendapati sosok pria yang terlambat tersebut.

"Sensei, Sanji-san sudah datang." Ujar Vivi secara mendadak, berhasil membuat guru olahraga tersebut mengalihkan kepalanya ke arah orang yang dimaksud tersebut.

Dia tadinya berniat untuk menanyakan alasan mengapa dia terlambat, namun matanya terkunci dengan sosok berambut pirang tersebut.

Rambut pirang dengan bekas-bekas salju yang menyentuh setiap helai rambutnya itu terlihat sangat cantik.

Kulit sewarna susu berpadu persik yang sangat langka bagi Zoro.

Rona merah yang menyebar dari sisi pipi kiri sampai pipi kanan itu too much adorableness bagi Zoro.

Bola mata biru sepadu samudera, sedingin kristal es, yang berhasil mengunci tatapan Zoro dengan tatapan anak tersebut.

Lalu dia tersenyum.

Senyum yang bagi Zoro terlalu manis dan perlu diabadikan lima ratus kali.

"Maaf kalau saya terlambat, sensei... eh... marimo?"

Zoro mendelik, langsung kembali dari surga ke neraka. Dia ini... baru bertemu dengan dia, sudah berani mengejeknya?

"Jaga mulutmu, curlycue..."

Sanji mengekeh, lalu melepaskan syalnya yang tadinya menutupi hampir setengah wajahnya. Lalu dia membuka mantel hijau dongkernya, berhasil mengekspos tubuh yang Zoro tahu betul... menyimpan banyak otot, fleksibelitas, dan kekuatan, dia tidak bisa menyangka ada anak SMA yang sangat terbentuk seperti dia.

Balutan sweater turtle neck berwarna dusky white dengan collar hitam itu sama sekali tidak membantunya melepas pandangan dan menghilangkan pemikirannya mengenai tubuh yang berada di balik balutan sweater tersebut.

Dan celana jeans legging yang membalut erat kedua kakinya yang ramping tersebut, berhasil menunjukkan booty yang terlihat padat, bulat, dan empuk itu. Dia tipe yang sangat cocok untuk dilemparkan ke atas kasur, diserang, dan ditim... ya ampun Zoro... sadar nak.

Zoro mengangguk-anggukkan kepalanya, berpura-pura menyadari kalau itulah Sanji yang memiliki surat izin kepala sekolah.

"Duduklah ke tempatmu." Ujarnya.

"Terima kasih..." balas Sanji yang langsung berjalan menuju bangkunya yang ternyata... tepat di hadapan Zoro.

Kusooo... pikir Zoro yang langsung pucat pasi di bangkunya, kayak cewek yang baru dapet jatah bulanan *plak.

Kemudian, satu tangan teracung ke atas, berhasil menyadarkan Zoro dari tipuan pesona aphrodite yang sedang menggigiti ujung pensil mekaniknya yang berada di hadapannya.

"Ya?" tanya Zoro.

"Pak, apa kita sudah boleh memulai pelajaran kita hari ini?" tanya Gin sambil mengacungkan lembar jadwal pembelajaran mereka.

Zoro menaikkan alisnya, lalu menyeringai. Dia ada ide menarik untuk mengetes seluruh murid-muridnya, dan dia yakin... tidak akan ada seorangpun yang bisa melewati tes ini.

"Baiklah... kita hari ini akan berenang." Jawabnya dengan datar.

"APAAAA!"

"Sensei! Ini gila! Ini, 'kan awal musim dingin, salju juga turun dengan derasnya. Pastinya akan sangat dingin, sensei!"

"Benar, sensei! Kami semua akan mati kedinginan!"

"Lagi pula sensei, apa sensei bisa melatih kami juga?"

Zoro menyeringai mendengar pertanyaan yang terakhir tersebut.

"Tentu saja aku bisa, kenapa? Meremehkanku, heh?" balas Zoro yang berhasil mengakibatan seluruh penghuni kelas terdiam.

"Kalian semua, ganti baju dan segera ke gedung renang."

...

Zoro tertawa di balik tembok gedung renang sekolah. Melihat murid-muridnya menyerang pojok ruangan sambil meringkuk berhasil membuatnya mengetahui kalau murid-muridnya itu tida bisa diandalkan. Dia kemudian berjalan ke arah ruang ganti pria, namun terdiam begitu mendengar suara di dalam.

"Sanji..., jadi... apa jawabanmu?"

Zoro terdiam. Dia kenal suara itu. Kalau tidak salah siswa yang menanyakannya tentang jadwal pembelajaran olahraga hari ini. berarti dia Gin. Gin dan Sanji? Apa yang mereka lakukan di dalam sana?

"Eh... Gin, kita harus segera ke kolam. Si Zoro itu akan memarahi kita nantinya." Ujar Sanji, yang langsung membuat Zoro semakin penasaran tentang pembicaraan mereka.

"Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk menjawabnya sekarang. Tapi... bisakah kau memberi jawabanmu setelah selesai berenang?" tanya Gin.

"Ya, nanti saja ya. Sekarang kita pergi ke kolam."

Mengetahui mereka sudah selesai bicara, Zoro segera masuk ke dalam toilet yang terpisah dari ruang ganti agar mereka tidak melihatnya.

...

"Uuggh... dingin sekali..."

"Sensei itu pasti sudah gila menyuruh kita berenang di cuaca sedingin ini..."

"Ooh... coba lihat, sepertinya badai mulai turun lagi."

"Semakin deras, ya..."

"Aku harap ibuku sehat-sehat saja."

"Ibumu sedang mengandung, 'kan?"

"I..."

"APA YANG KALIAN LAKUKAN DISINI! Saya bilang, 'kan berenang?!"

Seluruh siswa dan siswi berteriak heboh, tidak berani melawan guru baru mereka tersebut. ayolah, mereka bahkan tidak berani terkena sentilan dari tangan gurunya tersebut.

Zoro menyeringai lagi ketika melihat murid-muridnya menjerit setelah mencelupkan ujung kaki dan tangan mereka ke permukaan air.

Dasar payah, dasar lemah... *kayaknya pernah denger.

"SANJI! KAU AKAN MATI!"

"Biarkan saja dia..."

"TIDAK SANJIIII! APA YANG KAU LAKUKAN!"

Zoro segera menoleh ke arah keributan tersebut, lalu matanya terbelalak melihat sosok berambut pirang tersebut tengah bersiap-siap melompat ke arah kolam berenang.

Di sampingnya, sosok yang dikenal Zoro... Gin, tengah melakukan peregangan dan pemanasan juga.

"SANJI! KAMI TIDAK MAU KAU MATI!" teriak laki-laki yang berhidung panjang.

"HUAAAA... Sanji! Nanti kamu kena hypothermia... jangan... huhuhu..." desak anak berambut cokelat muda yang tengah memeluk erat lengan Sanji.

"Carrot... lepaskan aku, aku tidak akan mati." Ujar Sanji dengan ekspresi yang tampaknya sudah malas dengan hal-hal seperti itu.

"Hei, Sanji... bagaimana kalau kita bertaruh? Kalau kau menang, kita akan melakukannya lagi. kalau aku yang menang, kita tidak akan melakukannya lagi."

"Terbalik, bodoh..." ejek Sanji yang sweatdrop mendengar pernyataan dari Gin.

"Mulai?"

"Ya..."

BYAR!

Zoro terkejut bukan main ketika melihat kedua pria itu langsung melompat dan melaju sekencang mungkin menuju ujung kolam yang Zoro tahu... 200 m kalau dihitung bolak-balik.

Melihat bagaimana mereka berdua berenang dengan kecepatan yang konstan alias tetap tapi cepat, Zoro bisa tahu kalau mereka berdua tidak memiliki kekuatan yang biasa bagi anak SMA.

Zoro terdiam ketika melihat mereka sudah berbalik arah, Sanji yang pertama kali berbalik, namun Zoro tahu kalau Gin memperlamban gerakannya. Dia tahu itu dari senyum Gin ketika akan berbalik arah.

Kemudian Zoro terdiam melihat sosok berambut pirang tersebut bangkit dari permukaan kolam dan memanjat dindingnya. Sosoknya yang benar-benar basah itu benar-benar terlihat menggoda. Zoro kemudian menyadari kalau Gin sudah sampai dan berjalan menghadapi Sanji yang ternyata langsung menendangnya di perut.

"KENAPA KAU MENGALAH, HAH?!"

Gin meringis, namun tersenyum ketika melihat Sanji mendongakkan kepalanya untuk menghadapi dia.

"Karena aku masih menginginkannya, Sanji... semester depan kita akan memilih jurusan, 'kan? Setidaknya..."

"Walau pisahpun, kita tetap bisa melakukannya, bodoh!"

Gin tersenyum, lalu merangkul bahu Sanji... berhasil meningkatkan kecurigaan Zoro terhadap kedua pria tersebut, apalagi ketika dia melihat wajah Sanji mulai merona merah saat dipandangi Gin.

Mereka... aneh...

...

Oke, jadi... kali ini rencana Zoro adalah ngumpet di dalam toilet yang berada di dalan ruang ganti untuk menguping pembicaraan kedua murid yang tengah dicurigainya sejak tadi. Hubungan mereka sangat mencurigakan, dan Zoro kayaknya benar-benar kepo deh tentang yang kayak ginian.

Semua murid sudah selesai berganti pakaian dan Zoro menyadari kalau hanya Sanji dan Gin yang tinggal di kolam berenang untuk terus berenang, dan saat itulah Zoro memiliki kesempatan mencari tempat untuk ngumpet.

BLAM...

Dan tampaknya kedua tersangka telah memasuki ruangan yang telah menjadi tempat negosiasi mereka.

"Jadi... bagaimana, Sanji?"

Zoro tidak bisa melihat apapun, sehingga dia membuka sedikit pintu toilet dan mendapati Sanji yang tengah berhadapan dengan Gin. Sanji tengah duduk di atas meja keramik untuk meletakkan tas, sedangkan Gin tengah menahannya dari kedua sisi.

"Ehm? Apa Gin?"

"Jawabanmu... apa kau... mau menjadi pacarku?" tanya Gin.

Pernyataan itu langsung membuat Zoro terdiam membisu. Matanya terbelalak lebar ketika melihat Sanji mulai merona merah.

"Bu... bukannya aku tidak suka... tapi Gin,"

"Langsung jawabannya saja... kalau kau tolakpun Sanji, aku paham-paham saja, kok." Ujar Gin yang tampaknya pengertian.

"G... Gin... aku tidak tahu apa yang akan ayahku lakukan jika kita berpacaraan."

"Aku tahu... karena aku anak geng, 'kan?"

Zoro semakin memicingkan matanya saat melihat Sanji menunduk dan mengangguk pelan.

"Sekalipun dia menerima anak berandalan, dia tidak akan mengizinkanku untuk mendekatimu, ya..." Gin tersenyum setelah menghela nafas.

Jantung Zoro semakin cepat. Ini aneh... Si Alis Keriting... GAY?

...

"Huaaa... aku tidak menyangka jadi selebat ini." Sanji menggerutu sambil menggosok-gosok kedua tangannya agar panas merambat ke tubuhnya, lalu menghembuskan nafas ke tanggkupan tangannya.

"Huuuh... Gin bahkan diseret ketuanya... padahal aku mau minta dia mengantarku..."

Sanji memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantelnya, memandangi salju-salju yang berbondong-bondong menyerang tanah. Dia tersenyum. Dia jadi merindukan Perancis dan Swedia kalau melihat cuaca sedingin ini.

DIN! DIN!

Sanji terkesiap, spontan dia langsung melihat ke samping, ...terdapat mobil sport mini hitam dengan strip hijau. Sanji memiringkan lehernya. Dia tidak ingat mempunyai pacar dengan mobil dengan warna seperti itu. Namun, Sanji tertegun begitu mendapati sosok berambut hijau keluar dari dalam mobil dan mulai berjalan ke arahnya dengan mantel abu-abu mess-nya.

"Kau butuh tumpangan?"

Sanji sedikit terkesiap, namun mengangguk ketika menyadari semakin derasnya salju turun. Dia kemudian mengikuti Zoro menuju mobilnya, namun sebelum dia membuka pintu, Zoro sudah keburu duluan membukakannya untuk Sanji. Sanji mengangguk, lalu masuk ke dalam.

Zoro kemudian menyalakan mesin mobilnya dan memasang pemanas, lalu berbalik ke belakang, tempat Sanji duduk yang sedang menekan-nekan tombol ponselnya.

"Hei, rumahmu ada dimana?" tanya Zoro.

Sanji mendongakkan kepalanya, lalu melirik kembali ke ponselnya.

"Saya tidak yakin bisa pulang sekarang, sensei... ayah saya pergi ke luar kota baru saja."

Zoro terdiam seribu bahasa. Jadi... anak ini mau dikemanakan?

"Bisa tolong sensei antar saya ke rumah Vivi?" tanya Sanji.

Zoro mendelik. Dia tidak akan membiarkannya.

"Aku kira kau itu gay, Sanji..."

Sanji terbelalak, namun dengan segera langsung tenang dan tersenyum mengejek pada Zoro.

"Lalu? Apa yang akan anda lakukan, Zoro?" tanya Sanji sambil mencondongkan badannya ke arah gurunya tersebut.

Zoro menyeringai. Dipagutnya dagu Sanji dengan jemarinya dan mengelus-elus ujung dagunya dengan lembut.

"Bagaimana kalau apartemenku?"

...

Semua pakaian Sanji basah kuyup karena salju yang sudah mencair. Dia menggigil. Semenjak pemanas mobil Zoro dinyalakan, salju itu mulai mencair dan membasahi pakaiannya. Dia benar-benar ingin mengganti pakaiannya, dan dia berharap Zoro memiliki baju yang seukuran dengannya, sebab Zoro memiliki ukuran setengah kali lebih besar darinya.

"Oi, tidak ada yang seukuran denganmu." Ujar Zoro yang masih mengacak-acak isi lemarinya.

"Ada sweater? Kaus oblong? Celana training? Itu juga cukup!" seru Sanji yang sudah tidak tahan lagi dengan kedinginan yang terus menggerogoti tubuhnya.

"Ya, kalau itu semuanya aku ada. Nih," Zoro kemudian melemparkan sweater dan celana trainingnya kepada Sanji yang langsung menangkapnya, lalu mulai membuka pakaiannya.

Perlahan-lahan, Sanji melepaskan sweater turtle neck-nya, kemudian dilanjutkan dengan kaus dalamannya. Setelah kedua pakaian atasan itu dilepaskannya, dia kemudian memakai sweater putih Zoro.

Zoro sendiri, yang dari tadi menonton Sanji, senyam-senyum sendiri kaya orang oon gitu, cengar-cengir ketika Sanji melepaskan celana jeans legging-nya dan memakai celana training biru tua miliknya.

"INI KEBESARAN!" Sanji berteriak begitu ia menyadari betapa longgarnya celana dan sweater itu di badannya. Yang benar saja si marimo ini! celana itu bahkan langsung turun setelah dinaikkan, tanpa tersangkut sedikitpun, sweaternya juga berhasil menunjukkan tulang selangka dan setengah dada bidang Sanji, juga lengan sweaternya kepanjangan.

"HUAHAHAHAHA!" Zoro tertawa, menurutnya, Sanji terlihat seperti anak TK yang berusaha memakai pakaian tentara atau polisi. Melihat reaksi gurunya tersebut, spontan Sanji merasa malu dan mukanya memanas yang langsung berubah menjadi merah.

"Oh! Kau tersipu! Merah banget! Huahahahaha!" tambah Zoro ketika dia melihat betapa merahnya wajah Sanji. Mendengar hal itu, segera Sanji menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

Lalu, Sanji tiba-tiba merasa bahwa batang hidungnya terasa gatal tak tertahankan, yang kemudian, bersin.

"HYAAATSI!"

Zoro tertegun, menyadari kalau figur yang ada di hadapannya itu mulai memeluk diri sendiri sambil menggigil kedinginan. Zoro menyeringai.

"Aku rasa sudah saatnya, alis keriting..."

"Apa?"

Namun, sebelum Sanji mengerti apa maksud gurunya tersebut, Zoro langsung melumat bibir merah mudah miliknya. Tersadar, mata Sanji terbelalak dan berusaha mendorong tubuh gurunya tersebut.

"Kenapa?" bisik Zoro dari balik lumatannya, dia masih melumat Sanji.

"Anda... eg... ingin melakukannya ehm... dengan saya?"

Pertanyaan itu dijawab dengan tubuhnya yang kemudian direbahkan ke atas sofa.

...

Semenjak itu, Zoro dan Sanji mulai menjalin hubungan rahasia. Zoro akan sengaja mengangkatnya sebagai asistennya dengan alasan dia kuat (?), sehingga tidak akan ada yang mencurigainya mengenai hubungan mereka berdua. Bisa barabe itu sekolah kalau mereka ketahuan pacaran. Pacaran antara guru dan murid saja sudah menggegerkan sekolah, apalagi ditambah dengan hubungan seksual sesama jenis.

Naasnya, Zoro dan Sanji ketahuan ketika Perona dan Porche memasuki kelas memasak dan mendapati mereka tengah bertukar saliva. Spontan. Perona berteriak dan Porche mengabadikan kejadian tersebut dan melaporkannya kepada kepala sekolah.

...

Lembar kertas itu seolah vonis kematian dari dokter bagi Sanji. Kepala sekolah mereka, dengan kesalnya menyatakan bahwa Sanji harus diberi skors paling sedikit sebulan dan wajib menjalani terapi dan rehabilitasi terhadap kelainan seksualnya tersebut. Zeff sendiri, yang merupakan orangtua Sanji, tidak memarahinya dan meminta Franky salah seorang temannya yang dapat diminta tolong, untuk membuat surat pernyataan rehabilitas palsu. Sanji penasaran mengapa Zeff melakukannya, dan itu dijawab Zeff bahwa mencintai seseorang bukanlah suatu kesalahan ataupun kelainan.

Seminggu sebelum masuk sekolah pada semester baru, Sanji ditelepon oleh Vivi, Nami, Robin, dan teman-temannya yang memang benar-benar teman, mereka menanyakan kabarnya dan bagaimana kehidupannya, semua itu cukup menyenangkan hati Sanji dan menghangatkan dirinya dari kedinginan dunia luar.

Suatu hari, Sanji bertanya-tanya pada Nami bagaimana kegiatan mereka di sekolah bersama Zoro, namun Nami dengan hati-hati mengatakan bahwa Zoro dikeluarkan dari sekolah. Nami juga meminta Sanji untuk tabah kalau dia ingin melihat-lihat isi percakapan di grup chat kelas mereka. Nami mengatakan bahwa banyak yang menyalahkan Sanji, tapi Nami tahu kalau Sanji bisa melepaskan diri dari penyalahan diri tersebut.

...

"Kau mau makan?"

Sanji menggeleng. Kue kastela yang sudah disodorkan itu sama sekali tidak menggugah seleranya, sekali bencinyapun dia membuang makanan, dia tidak tertarik sedikitpun. Sementara itu, Luffy yang dari tadi duduk di hadapannya, hanya diam saja setelah mendengar kisah lampau Sanji dan Zoro. Sebelumnya, Luffy hanya ingin melihat keadaan Sanji saja, tapi ada seorang pria tua dengan kuis kepang dan kaki palsu memaksanya masuk ke kamar Sanji dan memintanya untuk membujuk Sanji makan.

Karena melihat Sanji menangis, Luffy-pun mengajaknya berbicara, mengenai pertemuannya dan bagaimana hubungan mereka berdua dimulai. Setelah itu, Sanji hanya diam. Dia tidak menggerakkan sedikitpun badannya, hanya memandang ke arah dinding kamarnya semata-mata sebagai sebuah pelarian.

Tentu saja Luffy tidak tahan melihatnya berlaku seperti itu.

Makanya, dia menarik bahu Sanji dan menghadapkan tubuh langsing itu ke hadapannya.

"Apa karena itu kau tidak mau melihatnya, Sanji?"

Walau tidak dijawab, tatapan kosong itu cukup memberikan jawaban kepada Luffy, sehingga dia pun tersenyum.

"Kalau kau berpikir Zoro akan menyalahkanmu karena kasus kalian itu, kau salah, Sanji..." tegasnya, namun cengiran lebarnya masih tergores di wajahnya.

Kali ini Sanji terlihat tertarik, dia memberikan tatapan penuh pertanyaan kepada Luffy sekarang.

"Soalnya, Zoro sangat mencintaimu. Mana mungkin kalau dia begitu mencintaimu, dia akan menyalahkan dirimu atas segalanya? Dia itu sudah dewasa, pemikirannya lebih luas..."

Kata-kata Luffy terngiang-ngiang di kepala Sanji.

"Dia... masih... mencintaiku?" tanyanya dengan lirih, dijawab dengan anggukan kepala Luffy.

"Walaupun aku ini sangat kotor?" Luffy menggeleng.

"Sanji, kau tidak kotor... kalau kau memang mencintai seseorang, maka hatimu lebih bersih daripada putih..."

Luffy menjamah kepala Sanji, mengusaknya dengan lembut.

"Zoro melarangku memberitahunya padamu, Sanji. Tapi, aku tidak tahan melihat kalian begini."

Aku tidak tahan melihatmu menangis terus... itu menghancurkan hatiku,

"Pukul tiga sore ini dia akan pindah ke Kyoto," ujar Luffy, lalu dia mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.

"Kau mau mengucapkan perpisahan padanya?"

Sanji tidak menjawab, namun mendengar kata perpisahan itu, dia mengangguk. Luffy tersenyum, dia kemudian menyalakan ponselnya dan mencari nama Zoro di kontak-nya. Ponsel itu langsung dia sodorkan kepada Sanji yang menunduk, menatap lantai kamarnya.

"Halo Luffy?"

Sanji terkesiap sebentar. Dia benar-benar rindu dengan suara itu.

"Luffy? Ada apa? Aku harus ke stasiun setengah jam lagi,"

Sanji menelan ludahnya, disambarnya ponsel layar sentuh itu dari tangan Luffy, dan segera ditempelkannya ke telinganya.

"Zoro? Ini aku..."

Sanji bisa mendengar Zoro terkejut, tarikan nafasnya terdengar begitu keras.

"Sanji? Ini kau? Sungguh?"

Walau melalui telepon, Sanji bisa membayangkan rasa senang dan kaget Zoro di kepalanya.

"Ya, ini aku... Kau mau ke Kyoto?"

Hening sebentar, namun Zoro langsung menjawabnya.

"Ya, aku akan mengurus dojo milik Pamanku,"

Jangan pergi... desis Sanji dalam hati.

"Jangan pergi..." ujarnya dengan lirih.

Dia bisa mendengar Zoro mendesah nafasnya dengan lembut.

"Maunya begitu... tapi aku tidak bisa... kasihan Pamanku,"

"Kumohon, ...jangan pergi,"

"Sanji..."

"Aku merindukanmu..." kali ini Sanji menangis.

"Aku juga... aku sangat merindukanmu..."

"Jangan pergi..."

"Maaf..."

Sanji kemudian mendengar Luffy mendengus kesal. Dia tidak sadar kalau Luffy menyalakan speaker-nya.

"Kau mau pergi bersamaku?"

Sanji terdiam. Air matanya berhenti mengalir. Dia menoleh ke arah Luffy, pria itu tengah menundukkan kepalanya dengan hawa yang begitu serius dan Sanji tidak bisa menebaknya.

Jangan pergi... batin Luffy.

"Pergilah Sanji, aku punya saudara yang membantu dirimu untuk pindah ke sekolahnya di Kyoto," cengir Luffy, namun Sanji bisa menangkap keterpaksaan di setiap sunggingannya.

Dia berat meninggalkan semuanya.

"Ya... aku mau,"

Ini lebih baik... pikir Luffy, mempertahankan cengirannya.

Aku senang kalau kau senang, walau rasanya sakit sekali...

A/N: Kelamaan apdet... gomenasai minna... tenang aja... tetap LuSan kok,