Fanfiction

Cast : Jongin, Sehun

Genre : Romance, Drama

Summary : Jongin tidak pernah menyangka suatu hari ia terbangun dengan status baru yaitu sebagai tunangan seorang anak milioner bernama Oh Sehun. Seharusnya dia bisa saja kan membeberkan kebenaran dan kembali pada hidup tenangnya? Tapi…Jongin memilih berperan menjadi tunangan Sehun. Hanya peran, tidak sungguhan. Benarkah hanya peran? HunKai/SeKai/SeJong. Yaoi.

Chapter Four

"Jongin, Ibu dan Ayah akan pergi dulu. Jangan lupa kunci pintu kalau keluar rumah."

"Iya Bu."

"Ibu sudah masak tumis daging, tinggal dipanaskan saja kalau kau mau makan."

"Iya."

"Noona-mu akan pulang untuk mengambil baju ganti nanti jam sembilan. Jangan tidur dulu sebelum dia pulang, mengerti?"

"Iya."

"Jangan hanya menonton TV dan membaca komik, kerjakan PR musim panasmu juga!"

"Iya Bu."

Wanita tengah baya itu menghela nafas panjang melihat anak bungsunya yang sedari tadi ia ajak bicara hanya menjawab pendek-pendek, tanpa menatapnya sama sekali lagi. Pandangan pemuda yang dipanggil Jongin itu menatap komik yang sudah beberapa jam terakhir ia baca.

"Ibu berangkat." Sang ibu menyerah dan menutup pintu kamar Jongin. Suaminya sudah menunggu dibawah untuk pergi ke acara reuni SMU yang akan diadakan diluar kota. Tidak lama kemudian Jongin mendengar suara mobil yang berjalan menjauh, pertanda jika ibu dan ayahnya sudah pergi.

Jongin menurunkan komik yang pura-pura ia baca dan kembali melamun.

Ini sudah lewat jam tujuh malam, berarti sudah sekitar empat atau lima jam setelah kejadian Sehun menyatakan cintanya. Jongin yang tadi kabur dari apartemen Sehun begitu saja langsung kembali ke kamarnya dan mengunci diri.

Beruntung ibunya tidak cerewet dan bertanya macam-macam kenapa tingkah Jongin tidak ceria seperti biasanya. Jongin pun menggunakan komik sebagai alibi agar ia tidak begitu terlihat bodoh karena melamun berjam-jam.

Jongin tidak bisa mencurahkan rasa gundahnya pada siapapun, bahkan tidak pada Chanyeol yang merupakan teman baiknya sejak kecil. Jongin mana tega membuka aib Sehun yang merupakan tokoh masyarakat? Bukannya Chanyeol ember atau tidak bisa dipercaya, tapi masalah Sehun ini sangatlah rahasia. Bisa-bisa hidup Sehun hancur kalau sampai ada yang tahu pria itu pura-pura bertunangan.

Pikiran Jongin terasa sangat rumit.

Sehun menyukainya.

Bagi Jongin itu sangat rumit karena…karena apa ya? Jongin hanya merasa tidak siap saja. Mereka kan baru saja berkenalan tiga hari astaga! Ada sedikit rasa malu Jongin karena sikapnya yang tadi begitu konyol. Langsung lari meninggalkan Sehun begitu saja adalah salah satu hal yang paling bodoh yang pernah Jongin lakukan.

Jongin kan masih tujuh belas tahun, ada orang yang tiba-tiba menyatakan cinta padanya tentu saja ia takut. Apalagi Sehun tadi juga sempat bicara kalau mereka akan bertunangan sungguhan. Jongin tidak mau menikah muda! Dia masih ingin kuliah dan bekerja!

Penyesalan juga membebani hati Jongin.

Menolak pernyataan cinta dari pria sesempuran Sehun itu adalah perbuatan yang hanya akan orang idiot lakukan. Dan Jongin baru saja melakukannya. Pasti sekarang Sehun tidak mungkin masih menyukai Jongin kan? Dengan sikap Jongin yang begitu kekanakan dan konyol.

God, demi Tuhan. Sehun adalah pria yang di idamkan banyak orang. Tampan, mapan, cerdas dan dikenal dengan perilakunya yang sopan dan baik. Jongin sering mendengar jika anak para pengusaha besar di Korea Selatan kebanyakan arogan dan Sehun memiliki reputasi yang begitu bersih. Jongin jadi penasaran bagaimana sikap arogan para anak orang kaya lainnya jika Sehun termasuk rendah hati.

Bukannya Sehun kurang ajar—well, sedikit. Tapi menarik seseorang begitu saja ditengah makan siang adalah sikap yang kurang sopan. Lalu Sehun kadang juga seenaknya sendiri pada Jongin. Menariknya kesana kemari, membelikan baju mahal, mengajak makan siang lalu tadi barusan Sehun menciumnya sembarangan!

Okelah mereka pernah tidur bersama. Tapi itu kan hanya one night stand! Hubungan mereka sekarang hanyalah hubungan pertunangan palsu yang akan berakhir dalam beberapa bulan. Jongin kadang menyesali keputusannya untuk membantu Sehun jika semuanya berakhir serumit ini.

Memangnya apa sih yang rumit Kim?

Kau yang membuat semuanya rumit Kim.

Jongin memandangi cincin berlian yang beberapa hari lalu Sehun berikan untuknya. Maukah dia sungguhan menjadikan cincin ditangannya menjadi cincin tunangan sungguhan? Jongin tidak tahu…

Lamunan Jongin terhenti ketika bunyi bel menggema diseluruh rumahnya. Kening Jongin mengerut, ini kan baru pukul tujuh dan untuk apa Noona-nya memencet bel. Apa Noona-nya sudah mulai pikun dan lupa kode rumahnya sendiri?

Detak jantung Jongin meningkat.

Jangan-jangan perampok. Tapi perampok tidak akan memencet bel pintu korbannya? Atau jangan-jangan pembunuh? Imajinai Jongin belakangan sangat kacau karena adanya Sehun dikepalanya.

Jongin mengintip dari jendela dan melihat sebuah motor besar terparkir didepan rumahnya. Lalu ada siluet pria yang ia yakini orang yang membunyikan bel rumahnya. Jongin semakin heran, pasalnya motor didepan rumahnya itu bukan motor murah. Itu motor yang harganya setara dengan mobil.

Jongin mengintip dari bagian rumahnya yang lain.

Oh Sehun?

Hati Jongin rasanya mencelos.

Sehun kerumahnya?

Harusnya Jongin tahu kalau Sehun akan segera menghubunginya dan ia sama sekali belum tahu alasan apa yang akan ia berikan kalau Sehun bertanya kenapa tadi ia pergi begitu saja. Menjawab dengan jujur? Rasanya kok jawaban Jongin akan terlihat sangat kekanakan walaupun kenyataannya Jongin memang masih anak-anak.

Bel rumah Jongin berbunyi lagi.

"Jongin?" Suara Sehun terdengar lega ketika Jongin sudah berdiri didepannya dengan kepala menunduk. "Jongin, ini untukmu."

Jongin mendongakkan kepalanya dan menemukan sebuket bunga didepan wajahnya. Buket bunga mawar merah besar yang begitu cantik. Jongin yakini buket itu paling tidak berisi lima puluh batang mawar merah. Cantik sekali.

"U-untukku?" Jongin merona melihat pemberian Sehun. Baru pertama kali seumur hidupnya Jongin menerima bunga dan sebagai tipe orang yang romantis, Jongin langsung merasa seluruh dadanya dipenuhi bunga.

"Boleh aku masuk?" Sehun bertanya sambil tersenyum. Jongin menatap Sehun dan ia baru saja memperhatikan penampilan Sehun. Biasanya Sehun selalu terlihat dengan pakaian resmi yang mahal tapi kali ini?

Pakaian Sehun masih mahal hanya saja tidak seperti biasanya.

Celana jeans biru tua yang sobek dilututnya. Kaus putih polos dan juga jaket kulit hitam serta sepatu boots yang biasa digunakan para pengendara motor. Jongin menaikkan sebelah alisnya, merasa heran dengan penampilan Sehun. Apakah Sehun aslinya seorang bad boy seperti ini?

"Bagaimana penampilanku? Aku baru mencobanya sekali ini.." Sehun terlihat sedikit salah tingkah melihat tatapan Jongin.

"Uh, ak-aku tidak tahu kalau Hyung punya pakaian kasual seperti ini." Jongin membukakan pintu rumahnya lebih lebar agar Sehun bisa masuk.

"Aku memang baru saja membelinya."

"Huh? Untuk apa?" Jongin lebih heran lagi mendengar jawaban Sehun. Kalau pakaian seperti ini bukan gaya Sehun, untuk apa pria itu membelinya?

"Aku pikir kau lebih suka pria yang sedikit pemberontak dan juga bad boy." Sehun kini terlihat merona. Hal yang baru pertama kali Jongin lihat. Mendengar jawaban Sehun pun Jongin ikut merona, jadi Sehun berdandan seperti ini untuk dirinya? Apa motor itu juga baru saja Sehun beli karena bagian dari gaya bad boy-nya?

"A-aku sebenarnya lebih menyukai Hyung yang biasanya." Jongin menjawab lirih dengan malu-malu. "Dari mana Hyung menduga aku suka pria bad boy?"

"Teman makan siangmu tadi terlihat seperti bad boy. Seenaknya saja mencubit dan mengusap kepala orang lain. Apa dia tidak melihat cincin yang kau pakai?" Sehun berkata setengah mengomel dan Jongin pun tertawa.

Dari mananya Minho itu bad boy?

Sukanya saja menghabiskan waktu di perpustakaan.

"Kalau begitu Hyung lebih bad boy dong, Hyung meniduriku sembarangan." Jongin berkata dengan wajah menggoda membuat Sehun menggaruk lehernya. Padahal baru sekali ia melakukan hal nekat membawa sembarangan orang keranjangnya, tapi kesannya ia adalah penjahat kelamin yang mau dengan lubang manapun.

"Hyung jangan merasa bersalah. Aku juga menginginkannya malam itu. Aku tahu Hyung bukan seorang bad boy." Jongin langsung merasa bersalah karena melihat Sehun yang tidak nyaman.

"Jongin, apa kau sungguh-sungguh dan sama sekali tidak menyukaiku?" Sehun menatap Jongin dalam-dalam. Belum sempat keduanya duduk diruang tamu namun Sehun dengan cepat langsung menuju inti permasalahan.

"Uh.."

"Aku bisa menunggu jika alasannya kau belum siap." Sehun menarik Jongin agar berdiri didepannya.

"Hyung.." Jongin menatap mata Sehun. "Aku sebenarnya merasa malu karena tindakanku tadi."

"Harusnya aku yang malu. Aku menyatakan perasaan dengan cara yang sama sekali tidak romantis ditambah aku tidak pernah mengajakmu berkencan sama sekali tiba-tiba aku mengatakan cinta." Sehun yang sebelas tahun lebih tua dari Jongin tentu saja lebih dewasa dan bisa meraba-raba keadaan.

Hanya saja tetap aneh ada seseorang yang menolak cintanya seperti tadi namun bagi Sehun itu menunjukkan jika Jongin bukanlah pemuda biasa. Jongin tidak mencari sesuatu apapun darinya yang akan merugikannya, seperti harta dan popularitas misal.

"Kau menyukaiku kan?"

Jongin malah cemberut mendengar pertanyaan Sehun barusan. Harusnya kan Sehun berdebar-debar menunggu jawaban Jongin. Harusnya kan Sehun terlihat gugup dan takut kalau cintanya tidak diterima. Tapi kenapa Sehun sok yakin begini sih?

"Hyung tidak romantis!" Jongin dengan kesal memukul Sehun dengan buket bunga yang masih ia bawa dan Sehun pun terkekeh pelan.

"Tidak ada yang bisa menolakku sayang, kau pun begitu. Semua orang selalu jatuh dalam pesonaku." Sehun menggenggam pergelangan tangan Jongin, mengeluarkan senyuman yang biasa ia gunakan untuk men

"Jadi, Hyung akan meninggalkanku sama seperti orang yang juga jatuh dalam pesona Hyung?" Jongin bertanya dengan suara lirih.

"Jadi itu yang membuatmu menolakku?" Sehun menaikkan sebelah alisnya.

"Well, tidak mungkin kan Hyung akan serius denganku?" Jongin balik bertanya.

"Kenapa kau bisa berpikir begitu?" Sehun mengernyitkan dahinya dan Jongin melepaskan genggaman tangan Sehun dari tangannya. Jongin menuju ruang tengah dimana ada sebuah vas kosong.

"Aku masih tujuh belas tahun dan aku rasa aku tidak memiliki kualifikasi sebagai calon istri dari salah satu pewaris Oh Corporation." Jongin membawa vas kosong itu menuju dapur untuk mengisinya dengan air wastafels dan Sehun mengikuti setiap langkah Jongin.

"Memangnya kenapa kalau kau tujuh belas tahun? Kau tidak akan tujuh belas tahun selamanya kan?" Sehun berkata dan mengambil vas yang sudah dipenuhi air itu, ia yakin jika tangan langsing Jongin akan keberatan membawa vas itu. "Dan memangnya apa kualifikasi untuk menjadi istriku?"

"Entahlah, mungkin berasal dari keluarga yang—" Jongin tidak sempat melanjutkan ucapannya karena bibirnya tiba-tiba dikecup oleh sebuah bibir yang belakangan ini sering ia pikirkan.

"Kau tahu itu adalah hal yang paling aku benci. Ketika kau anak seorang milioner semua orang berpikir jika mereka harus menjadi anak milinoner juga agar bisa berteman atau bahkan makan siang denganku. Apakah anak milioner tidak bisa merasakan kehidupan sosial seperti layaknya orang lain? Jatuh cinta pada siapapun yang mereka pilih?" Sehun menatap Jongin tajam begitu ciuman mereka terlepas. Jongin menatap mata Sehun yang terlihat terluka, sama seperti beberapa jam lalu ketika mereka berada di apartemen Sehun. Sehun pasti pengalaman kurang mengenakkan tentang pertemanan.

"Hyung.." Jongin menyentuh pipi Sehun lembut, berusaha menenangkan Sehun. "Hyung aku hanya berkata secara realistis. Dunia yang Hyung miliki beda dengan duniaku. Aku hanya pemuda biasa, sangat biasa. Hyung bisa meninggalkanku setelah Hyung bosan denganku."

"Jadi benar begitu, itu alasanmu menolakku?" Sehun bertanya dengan suara sedih.

"Uh, sedikit banyak."

"Kau tidak ingin mengenalku lebih dulu? Bahkan ketika kau menyukaiku, kau memilih untuk tidak mencobanya terlebih dahulu?" Jongin terdiam mendengar ucapan Sehun. Sikapnya adalah sikap orang yang sudah takut kalah sebelum berperang. Jongin bahkan tidak pernah memiliki traumatis akan percintaan tapi kenapa ia begitu sulit untuk membuka dirinya untuk dicintai dan mencintai?

"Hyung.."

"Jongin, tolong kenali aku lebih dulu. Kita akan berkencang selama satu bulan, setelah itu kau boleh mempertimbangkan untuk menerima cintaku.." Sehun memandang Jongin dengan tatapan memohon.

"Ba-baiklah.." Jongin mengangguk kecil setelah ia terdiam beberapa saat.

"Good, ayo berkencan!" Sehun tersenyum lebar dan menarik tubuh Jongin kedalam pelukannya. Tanpa Jongin sadari, bibirnya membentu senyuman kecil. Apa susahnya sih menerima Sehun langsung?

Kini Jongin dan Sehun duduk disofa ruang tengah rumah Kim.

Sehun yang ingin terus dekat dengan Jongin, merangkul erat-erat Jongin sampai Jongin terlihat kurang nyaman duduknya. Jongin sendiri yang pengalaman berkencannya sangat minim hanya menunduk malu. Kenapa dulu waktu ia telanjang didepan Sehun ia tidak malu tapi kini hanya duduk bersebalahan saja ia merona seperti tomat?

"Jongin, apa kau memiliki traumatis dalam percintaan?" Sehun bertanya tiba-tiba.

"Uh, tidak. Kenapa?" Jongin menggeleng.

"Kau menolak cintaku padahal sudah jelas kalau kau menyukaiku. Siapa tahu kau takut untuk jatuh cinta." Sehun berkata sambil mengelus rambut Jongin lembut.

"Hyung kita baru saling mengenal tiga hari, mana mungkin aku langsung menerima cintamu? Hyung juga menyatakannya tidak romantis, nyaris memperkosaku lagi."

"Lagi? Kapan aku memperkosamu?" Sehun bertanya dengan nada tidak terima. "Tadi siang kau yang menyodorkan tubuhmu!"

"Hyung!" Jongin mencubit lengan Sehun keras. Apa harus sevulgar itu sih kata-katanya?

"Aku benar-benar penasaran denganmu Jong. Kau itu kadang bisa terlihat dewasa, kadang manja, kadang menggemaskan, kadang galak. Sebenarnya seperti apa dirimu?" Sehun memandang wajah Jongin lekat-lekat dari samping.

"Maka dari itu aku menolak pernyataan Hyung, Hyung saja sama sekali tidak mengenalku." Jongin ingin sekali memandang wajah Sehun yang begitu dekat dengan wajahnya tapi ia tidak tahu apakah dia kuat. "Apa Hyung tipe yang mudah jatuh cinta?"

"Tidak. Aku sebenarnya baru sekali menjalin hubungan serius."

"Berarti yang tidak serius banyak?" Jongin mengangkat sebelah alisnya.

"Aku baru sekali menyatakan cinta pada seseorang sebelum aku bertemu dirimu. Kau adalah yang pertama membuatku bertingkah konyol." Sehun menarik dagu Jongin agar pemuda itu memandangnya. "Apa kau menyukai teman makan siangmu tadi?"

Jongin menelan ludahnya ketika wajah tampan Sehun hanya beberapa senti dari wajahnya, mata Sehun yang menatapnya dalam-dalam membuat perut Jongin bergolak. Belum lagi pernyataan Sehun yang menyatakan jika dirinya membuat pria itu bertingkah konyol. Jongin jadi merasa...begitu bahagia.

"Du-dulu."

"Baguslah kalau dulu karena sekarang kau hanya boleh menyukaiku." Sehun tersenyum lebar hingga mata tegasnya berubah menjadi begitu menggemaskan, menghilangkan kesan dingin yang biasanya Sehun tampilkan.

Pemuda tujuh belas tahun dan pria dua puluh delapan tahun itu terus mengobrol. Jongin menceritakan teman-temannya, sekolahnya dan juga orang tuanya. Sehun menceritakan tentang keluarga besarnya, sekolahnya di Eropa dan juga pekerjaan yang akan ia ambil alih dari keluarganya. Keduanya sama sekali tidak bicara tentang pertunangan palsu mereka, mereka hanya bercerita mengikuti alur dan mengenal satu sama lain.

Dalam waktu dua jam Sehun jadi tahu kalau Jongin itu tipe orang yang romantis dan suka bermanja-manja. Meskipun kadang Jongin pendiam tapi pikiran pemuda itu lebih dewasa dari umurnya. Jongin juga jadi mengerti jika kehidupan anak seorang milioner tidaklah gemerlap seperti yang ditampilkan di drama-drama. Sehun mungkin memang memiliki kendaraan mahal dan pakaian-pakaian desainer tapi dibalik kemewahan yang Sehun miliki, pria itu menganggung beban yang besar.

Sehun dan Jongin tampak begitu nyaman satu sama lain. Jongin sudah bersender manja dalam pelukan Sehun dan Sehun juga dengan santainya membelai rambut Jongin atau mengecup kepala Jongin.

"Nini!" Sebuah teriakan seorang wanita mengejutkan Jongin dan Sehun.

"Noona?" Jongin dengan cepat menjauh dari Sehun dan berdiri menyambut kakak perempuannya. Jongin melihat jam dinding ruang tengahnya, jam sembilan lewat sepuluh menit. Astaga, Jongin sampai lupa kalau kakaknya akan pulang sejenak.

"Motor siapa didepan?" Langkah kaki kakaknya terdengar terburu-buru.

"Mo-motor Sehun." Jongin menjawab ragu. Kakak perempuannya memang sudah tahu perihal Sehun, tidak mungkin kan ibu Kim tidak menceritakan berita jika anak bungsunya sudah bertunangan? Untung saja Jongin bisa menahan ibunya agar tidak menyebarkan berita itu pada keluarga besar atau tetangga-tetangga yang lain.

"Sehun?" Suara kakak Jongin terdengar terkejut. Tidak lama kemudian, Hyorin, kaka perempuan Jongin sudah berdiri diruang tengah rumahnya sendiri dengan wajah bengong. Tidak percaya jika Oh Sehun sedang berada diruang tengahnya.

Hyorin bereaksi sama hebohnya dengan ibu Kim. Bahkan Hyorin berlari pulang dari kantornya hanya untuk bertemu Jongin dan membombardir adiknya dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Sehun, bagaimana mereka bisa bertemu dan bagaimana mereka bisa bertunangan.

"Noona, bukankah kau harus segera pergi?" Jongin berkata dengan suara pelan. Malu sebenarnya ia melihat reaksi Hyorin yang seolah melihat keajaiban dunia.

"Ah ya, a-aku harus pergi." Hyorin menoleh kearah Jongin. "Tapi aku ingin bicara padamu sesuatu." Hyorin berjalan menuju dapur dan mengisyaratkan agar Jongin mengikutinya.

"Apa kau mau mengusirku agar bisa berduaan dengan Sehun?" Hyorin berbicara agak terlalu keras sampai Jongin menendang kaki kakaknya itu.

"Kau sengaja mengundang Sehun kerumah saat ayah dan ibu pergi?" Hyorin bertanya galak pada adiknya. "Kau masih kecil Jong! Tidak boleh melakukan hal yang tidak-tidak!"

Jongin melotot galak pada kakaknya yang tidak juga segera merendahkan suaranya. Ia yakin sekali kalau Sehun pasti mendengar ocehan tidak masuk akal kakaknya. Memalukan sekali!

"Noona! Sehun Hyung hanya mampir sebentar! Dia akan pulang sebentar lagi!" Jongin mendesis pelan.

"Sehun Hyung? Kenapa tidak mesra sekali panggilanmu?" Hyorin menaikkan alis dan menggoda adiknya yang terlihat kesal.

"Sudahlah sana pergi lembur! Cari uang yang banyak supaya kau bisa cepat menikah!" Jongin dengan kesal mengusir kakaknya.

"Mau bekerja sekeras apapun aku, sepertinya kau yang akan menikah duluan." Hyorin tertawa kecil sambil setengah berlari meninggalkan dapur. Hyorin tahu kalau Jongin kesal digoda seperti itu dan beberapa hari terakhir Hyorin sangat gemar menggoda Jongin soal Sehun.

"Sehun, aku akan pergi lagi. Tolong jangan pulang terlalu larut karena Jongin sedang sedikit sakit jadi harus istirahat cepat." Hyorin berkata pada Sehun dengan setengah mengusir.

"Ah iya. Aku akan segera pulang setelah ini." Sehun mengangguk sopan pada Hyorin. Sehun bisa melihat kekesalan Jongin karena sikap kakaknya walaupun Sehun mengerti betul maksud baik Hyorin. Sehun punya kakak perempuan dan ia sendiri juga sangat protektif pada kakak perempuannya.

Jongin masih cemberut setelah Hyorin pergi.

"Kau tidak ingin aku pulang?" Sehun tersenyum menggoda pada Jongin.

"Bukan begitu!" Jongin menjawab cepat. "Aku cuma kesal karena dia selalu memperlakukanku seperti bayi!"

"Kau memang bayi." Sehun mencubit pipi Jongin gemas dan mengambil jaket kulitnya.

"Hyung mau pulang?" Jongin mendongak melihat Sehun yang sudah berdiri dan mengenakan jaketnya.

"Kau tidak ingin aku pulang bukan?" Sehun memakai jaketnya dan menunduk pada Jongin yang duduk disofa.

"A-aku hanya.."

"Kau suka sekali berbohong." Sehun mengecup dahi Jongin mesra. "Kau bilang tidak menyukaiku dan kini kau berpura-pura rela aku akan pulang."

"Siapa yang berbohong!" Jongin mendorong Sehun dengan kesal. Malu karena Sehun mudah sekali membaca dirinya padahal ia selama ini tidak pernah mengatakan apa-apa.

"Fine, aku akan pulang." Sehun menyeringai dan berdiri tegak namun ia bisa melihat bibir penuh Jongin yang semakin mengerucut. Ia biarkan saja Jongin cemberut, pemuda ini sepertinya agak kesulitan mengakui perasaannya sendiri jadi ia beri Jongin kesempatan untuk berkata-kata.

"Apa besok kau akan pergi bekerja di toko buku itu? Besok mungkin aku akan agak sibuk karena Hyung-ku minta ditemani ke bengkel dan aku akan mengikuti rapat saham." Sehun berkata dengan dibumbui kebohongan. Memang ia seharusnya mengikuti rapat saham namun karena ia belum resmi bergabung menjadi salah satu pekerja disana jadi Sehun bisa mangkir dulu.

"Iya besok aku bekerja." Jongin berkata dengan wajah ditekuk. "Aku juga akan pergi dengan teman-temanku setelah itu." Jongin menambahkan.

"Baiklah." Sehun mengangguk kecil sambil menahan senyuman. Sehun ingat betul jika tadi Jongin mengatakan jika besok ia ingin tidur-tiduran dirumah sepulang bekerja. "Aku akan pulang, cepatlah istirahat."

Sehun baru berjalan beberpaa langkah namun ia merasakan sesuatu menarik pakaiannya.

"Hyuung.." Tangan Jongin mencengkram ujung jaket Sehun. Mata besar Jongin menatap Sehun dengan tatapan menahan tangis.

"Hey, kenapa kau menangis?" Sehun langsung duduk disamping Jongin.

"Hyung kenapa pura-pura tidak tahu kalau aku masih ingin bersama Hyung?!" Jongin berkata kesal dan Sehun pun terkekeh pelan.

"Kau harus belajar mengungkapkan apa isi hatimu Jongin. Kau selalu menunggu orang menduga-duga keinginanmu." Sehun memeluk Jongin yang masih cemberut. "Kalau kau menginginkan sesuatu katakan, orang tidak akan mengerti apa maumu jika kau tidak mengatakan apapun."

Jongin terdiam.

"Hyung apa kau dulu sungguhan mengambil jurusan bisnis ketika kuliah?"

"Tentu saja, kenapa?"

"Kau lebih mirip psikolog, Hyung." Dan Sehun terkekeh.

"Menjadi pebisnis juga harus mengerti psikologis dengan begitu kita bisa memilih lawan bisnis dengan baik atau bagaimana menghadapi lawan bisnis." Sehun menarik Jongin agar menatapnya. "Jadi kau ingin aku tetap disini?"

Jongin mengangguk kecil, begitu menggemaskan.

"Nanti kalau Noonamu pulang bagaimana?"

"Hyung bisa sembunyi dikamarku." Jongin menjawab dan menyenderkan kepalanya lagi didada Sehun. Ah, begini kemarin dia sok jual mahal dan tidak mau menerima mengakui perasaannya tapi kini ditinggal pulang saja tidak mau.

"Dikamarmu?" Alis Sehun naik. "Hm, baiklah dikamarmu."

"Hyung jangan berpikir yang aneh-aneh." Jongin berkata memperingatkan. "Kita baru beberapa jam mulai mencoba berkencan."

"Kenapa tidak?" Sehun tertawa karena Jongin bisa menebak isi kepalanya. "Kita bahkan melakukannya saat kita bukan siapa-siapa."

"Hyung!" Jongin mencubit pinggang Sehun.

"Baiklah. Aku akan pulang nanti tengah malam dan kalau kakakmu pulang aku akan sembunyi dikamarmu." Sehun menarik Jongin agar lebih rapat memeluk dirinya.

"Hyung jaketnya lepas." Jongin merengek manja. Sehun tersenyum dan melepas jaketnya. Sehun suka sekali sisi Jongin yang manja seperti ini. Sehun suka sekali melihat wajah Jongin yang merengut manja ketika keinginannya tidak dipenuhi, Sehun suka mendengar suara Jongin ketika merengek. Sehun kadang menertawai dirinya yang menurutnya sudah berubah jadi gila. Sejak kapan ia suka disuruh-suruh? Tapi dengan Jongin, ia selalu memenuhi apapun yang pemuda itu inginkan.

"Hanya jaket saja yang dilepas?"

"Hyung bisa tidak berhenti berpikiran mesum? Merusak suasana romantis saja." Jongin mendongak dan menatap galak Sehun.

"Hey, aku jadi mesum karena kau." Sehun mencubit hidung mungil Jongin. "Salahmu terlalu seksi, kau harus tahu setiap malam aku susah tidur karena memikirkanmu."

Jongin hanya mencibir mendengar ucapan Sehun karena sebenarnya ia pun begitu. Jujur saja, ia sebenarnya sudah berpikiran yang mesum-mesum sejak tadi tapi ia tidak ingin merusak suasana romantis. Jongin juga harus menjaga harga diri dong, sudah cukup dulu ia mau-mau saja Sehun tiduri. Kali ini ia harus jual mahal agar dia kesannya bukan cowok murahan.

"Ceritakan tentangmu lagi."

"Hyung saja yang cerita."

"Baiklah." Sehun terdiam sejenak, memikirkan apa yang ingin ia ceritakan. "Dulu, aku pernah diajak temanku untuk jalan-jalan ke Las Vegas waktu masih SMP."

"SMP?" Jongin terkejut.

"Iya, dia bersama kakaknya. Aku diajak dan disana mereka pesta alkohol juga wanita. Aku malah bermain catur bersama penjaga kasino." Sehun bercerita dan tertawa mengingat kelakuan konyolnya dulu.

"Hyung, apa anak-anak orang kaya selalu mudah menghamburkan uang?"

"Kebanyakan. Menurutmu aku gampang menghamburkan uang?" Sehun bertanya balik dan Jongin mengangguk. "Menurutku—bukannya aku sombong—aku tidaklah di didik untuk menjadi orang yang arogan dan sombong namun lingkunganku kebanyakan bersikap seperti itu jadi yah, kadang aku bisa sangat mengesalkan."

"Hyung memang mengesalkan."

"Tapi kau bisa jatuh cinta padaku kan?"

"Tidak juga."

"Jual mahal sekali sih adik manis ini." Sehun mengecup pipi tembam Jongin gemas.

"Aku tidak manis!" Jongin cemberut.

"Kalau kau cemberut kau semakin manis."

"Tidak! Aku itu maskulin Hyung!" Sehun tertawa mendengarnya dan Jongin mencubit perut Sehun keras.

"Kau itu sukanya kekerasan sih!"

"Memang!"

"Aku suka, lebih menantang." Sehun berkata dengan raut wajah yang mesum. Jongin kembali mencubit perut Sehun keras. "Cubit aku lagi dan aku akan menciummu."

Jongin mencubit perut Sehun lagi.

Sehun benar-benar mencium Jongin.

Bukan ciuman lembut seperti beberapa saat yang lalu. Bibir Sehun meraup rakus bibir Jongin yang sangat ia rindukan. Sehun menangkup wajah Jongin dan memeluk tubuh Jongin seraya melumat bibir itu penuh perasaan.

Jongin yang memang sedari tadi sudah ingin sekali mencumbu Sehun hanya mengalungkan lengannya pada leher Sehun. Perlahan-lahan, Jongin sudah tidak lagi duduk disamping Sehun namun berubah jadi dipangkuan Sehun.

Ciuman mereka semakin panas seiring berjalannya waktu.

Jongin membalas ciuman Sehun dengan sangat bersemangat. Tangannya meremas rambut Sehun dan pinggangnya terkadang bergerak sensual diatas pangkuan Sehun. Sehun sendiri semakin bersemangat akan sikap agresif Jongin, tangannya berkali-kali merabai paha Jongin hingga akhirnya menyelinap masuk kedalam celana yang kenakan Jongin, meremas bongkahan pantat Jongin gemas.

"Hmmhh.." Jongin melenguh kecil disela-sela ciuman mereka. Lidah mereka saling melilit dan beradu, berusaha mendominasi. Awalnya Sehun berusaha menguasai permainan namun Jongin terus berusaha mengambil alih hingga akhirnya Sehun biarkan Jongin menguasai bibirnya.

"Sekarang siapa yang mesum? Hm?" Sehun berkata dengan suara serak ketika ciuman mereka terputus. Jongin dengan wajah memerah menatap Sehun yang tampak begitu menggoda.

"Kalau boleh jujur, kau adalah pria terseksi yang pernah aku temui. Kadang aku tidak percaya kau masih tujuh belas tahun." Sehun meremas pantat Jongin lebih keras, membuat selangkangan mereka menempel semakin ketat.

"Hyung juga sangat seksi, aku ingin punya otot perut seperti punya Hyung." Jongin berkata pelan sambil menyentuh perut Sehun yang masih berbalut kaos.

"Kau tidak akan pernah dan tidak boleh punya otot." Sehun mendorong pinggang Jongin agar menggesek tonjolan miliknya lagi.

"Kenapa? Hyung takut aku jadi top?" Jongin bertanya usil dan Sehun tertawa.

"Dengan penis seperti ini kau ingin jadi top?" Sehun meremas selangkangan Jongin membuat pemiliknya mengerang sensual.

"Ish, sombong sekali yang penisnya besar." Jongin merengut.

"Aku begitu bahagia malam ini karena kau akhirnya milikku."

"Milik Hyung? Aku tidak pernah setuju jadi milik Hyung." Jongin berkata menggoda.

"Hah, kau selalu jual mahal." Sehun memeluk pinggang Jongin mesra. "Kalau kau bukan milikku, harusnya kau lari ketika aku melakukan hal ini.." Tangan Sehun perlahan meraba menuju lubang Jongin dan merabanya perlahan.

"Hmmmhhh…Hyung janganhhh…" Jongin memberontak dalam pelukan Sehun.

"Kenapa?"

"Tidak ada lube." Jongin menjawab pelan dan Sehun tertawa.

"Kau sangat menggemaskan, kau tahu itu?" Sehun mengecup bibir Jongin sekali dan mendorong tubuh Jongin agar berbaring diatas sofa. Jongin dengan manja menggigit bibirnya, suka sekali cara kasar Sehun memperlakukannya.

"Boleh aku melihat didalam sini?" Sehun menyentuh tonjolan Jongin dan meremasnya pelan. Jongin mengangguk cepat. Sehun pun dengan segera menarik celana Jongin beserta celana dalamnya. Penis mungil Jongin sudah berdiri tegak dengan kepala yang mengilap oleh cairan precum.

"Begini kau bilang aku mesum? You dirty boy!" Sehun mengerang perlahan melihat pemandangan panas itu. Jongin dengan sengaja melebarkan kakinya agar Sehun bisa melihat penis juga lubang ketatnya.

"Hyung aku merasa seperti pria murahan." Jongin berkata lirih.

"Kenapa? Kau mengangkang hanya untukku, itu bukan murahan." Sehun dengan cepat meletakkan dirinya diantara kaki Jongin, wajahnya kini sudah begitu dekat dengan bagian terintim Jongin.

"Hyung tidak menganggapku murahan?" Jongin bertanya sambil menahan nafas, matanya menatap Sehun yang sudah sangat dekat dengan kepala penisnya.

"Tidak pernah." Sehun menjawab dan mengecup ujung penis Jongin. Pemuda tujuh belas tahun itu langsung mendongak dan mengerang penuh nikmat. Sehun yang menyukai desahan Jongin mengecup ujung penis Jongin lagi.

Lagi.

Dan lagi.

Hingga Sehun mengulum penis mungil itu dengan mudah kedalam mulutnya. Jongin mendesah dan mengerang merasakan penis kecilnya dimanjakan, ia berusaha memandang kepala Sehun yang bergerak diantara kakinya namun kenikmatan yang melandanya sangatlah intens hingga membuka matapun Jongin tak sanggup.

"H-hyunghh.." Paha Jongin mulai bergetar. "Hnghh…uhhh…te-terus Hyunghh…hangghhh…shhh…."

Sehun menyedot kuat penis dimulutnya sebelum menggerakkan kepalanya lagi, memanjakan Jongin yang sudah diambang surga dunia. Lidah Sehun menggoda lubang penis Jongin sementara tangannya meremas dua bola kembar Jongin yang semakin berat.

"Ja-jangan berhenti Hyunghh..akkhhh…mhhmmm…uuhhh…shhh…" Jongin ikut menggerakkan pinggulnya tidak sabar. Akhirnya setelah bermalam-malam ia hanya bermain dengan tangannya, sesuatu yang jauh lebih nikmat membantu mengeluarkan hasratnya.

Sayangnya Sehun berhenti.

Tepat ketika Jongin sudah akan mengeluarkan cairan kentalnya.

"Hyuuuungggg!" Jongin terlihat sangat kesal.

"Menungging." Sehun tidak peduli dengan rengekan Jongin dan memerintah Jongin untuk membalik tubuhnya. Jongin dengan patuh membalikkan tubuhnya hingga pantat sintalnya menghadap wajah Sehun yang menyeringai puas. Tanpa banyak menunggu, Sehun memukul sekali pantat sintal itu dan membuka bongkahan yang sering kali ia bayangkan ketika akan tidur. Lubang merah muda yang pernah sekali ia cicipi menyambutnya dan Sehun bersiul senang.

Sehun mengecup lubang ketat Jongin dan Jongin melenguh.

Sehun menjilat kecil lubang itu dan Jongin mengerang.

"Hyung please manjakan aku." Jongin berkata dengan suara bergetar. Sehun terkekeh pelan dan memukul pantat Jongin lagi sebelum ia menenggelamkan wajahnya pada bongkahan seksi didepannya.

"Ohhh…Hyunghhh…uhhh…anghhh….shhhh…" Jongin mencengkram bantal sofa yang berada dibawahnya ketika lidah dan bibir Sehun melesak dalam lubang laparnya. Sehun mencengkram kedua pahanya agar Jongin tidak banyak bergerak.

"Hnnghh…Hyunghh…Se-sehun Hyunghh…akkkhhh…" Lidah Sehun yang hangat menggesek bibir lubang Jongin dan perlahan menggaruk dinding anusnya. Awalnya lembut hingga akhirnya Sehun dengan rakus menyedot, menjilat, mengulum dan menusuk lubang ketat itu dengan lidah dan bibirnya.

"Hmmhh…enak sekalihhh….ohhh…hngghhh…" Jongin menunggingkan pantatnya semakin tinggi agar Sehun bisa menenggelamkan lidahnya semakin dalam. Sehun mengerang dan mengirimkan getaran pada anus Jongin yang sudah berkedut-kedut.

"Akkhhh…hnnghhhh…H-hyunghhh…mhhhmmm…" Jongin berusaha menggapai penisnya yang menggantung menyakitkan diantara kakinya namun Sehun dengan cepat menepis tangan Jongin.

"Hands off dirty boy." Sehun menampar penis tegang Jongin membuat lendir bening yang keluar dari sana mengucur semakin deras.

"Ahh..sa-sakit Hyunghh.." Jongin berjengit merasakan nyeri yang menyerang penisnya. Sehun menampar penis Jongin sekali lagi sebelum mengecap lubang merah muda pemuda itu lagi.

"Ohhh…ahhhh…Hyungghhh….akkhhhh…" Jongin mendesah lebih keras. Tangan besar Sehun yang tadi menahan pahanya kini berada pada penisnya. Memijat benda mungil itu sesekali dan juga mengocoknya pelan.

"Hngghh…ahhh…Hyunghh…le-lebih cepathhh…" Jongin berusaha mendapatkan kenikmatan lebih dengan menggerakkan pinggulnya. Sehun tentu saja tahu jika Jongin sudah dekat lagi dengan puncaknya dan ia menusuk lidahnya semakin dalam pada lubang Jongin juga mengocok penis Jongin semakin cepat.

"Ohh…Hyungghhh…a-akuhh…akhhh…hngghhh…nyahhh…hhmmhh…" Jongin mencengkram bantal sofa semakin kencang, pahanya gemetar karena tidak kuat menopang berat badannya sendiri.

"Oh Tuhanhh..Hyunghh…Hyunghhh..anghhh…" Jongin bergetar keras ketika kocokan Sehun pada tangannya semakin cepat. "Hyunghh..mmhhmmm..a-aku—NO PLEASE HYUNGGHH! HENTIKAN!"

Desahan Jongin berubah menjadi teriakan putus asa ketika tangan yang sedari tadi mengocok dan memanjakan penisnya jadi mencengkram erat pangkal penisnya yang akan mengeluarkan cairan cinta.

"P-please Hyunghh..sa-sakithhh…ahhh…" Sehun tidak mempedulikan rintihan memohon Jongin, ia tetap melumat dan menusuk lubang anus Jongin dengan lidahnya.

"Akhh…shhhh…Se-sehun Hyunghhh…uuhhhh…." Jongin nyaris menangis karena tubuhnya terus dirangsang namun ia tidak diijinkan untuk orgasme. Sehun masih terus dan terus menusuki anus Jongin dengan lidahnya tidak peduli dengan rengekan kesakitan Jongin atau penis Jongin yang berkedut-kedut ditangannya.

"Hyunghh..pleasehh..let me cumhh..anghhh…sa-sakit sekalihhh…" Jongin memohon lagi, berharap Sehun berbaik hati dan membiarkannya mendapatkan orgasme karena Jongin bisa merasakan jika gelombang orgasme mulai mendekatinya lagi.

"Ohh..ahhh…Hyunghhh…akhhh…hngghhhh…." Jongin bingung harus menangis atau mendesah karena rasa sakit dan nikmat datang bersamaan menerpa tubuhnya. "Hyunghh…uuhhh…ahhh…Hyunghhhh!"

Sehun melesakkan lidahnya dalam-dalam dan juga melepas cengkramannya pada penis Jongin, membiarkan sperma Jongin keluar mengotori sofa rumah keluarga Kim. Sehun memandang tubuh Jongin yang bergetar ketika orgasme, oh..betapa indah tubuh pemuda didepannya ini.

"Hmmh..uhh..hahh.." Jongin terengah-engah dan menjatuhkan dirinya pada sofa yang kini kotor oleh cairannya sendiri.

"Banyak sekali.." Sehun berkomentar melihat betapa banyak sperma yang dikeluarkan Jongin. Pemuda itu merona mendengarnya dan berbalik untuk menatap Sehun yang sudah diselimuti gairah yang harus segera mendapatkan pemuasan.

"Hyung, aku rasa Hyung tidak akan pulang malam ini." Jongin tersenyum nakal dan mencolek spermanya sendiri dari perutnya lalu mengemut telunjuk lentiknya dengan sensual.

"Tentu saja. Bahkan kalau kau mengusirku aku tidak akan pulang sampai kau selesai bertanggung jawab pada little Sehun." Sehun menggeram rendah melihat sikap nakal Jongin. Sehun nyaris lupa bagaimana pemuda ini bisa sangat menggairahkan dan polos disaat bersamaan.

"Kamarku ada disana." Jongin menunjuk sebuah pintu diujung dekat pintu menuju halaman belakang. "Kalau Hyung mau melanjutkannya didapur atau kamar mandi aku tidak masalah." Jongin menambahkan dengan senyum nakalnya.

"Bagaimana kalau semuanya?" Sehun dengan sigap menggendong Jongin menuju kamar anak bungsu keluarga Kim itu. Sehun benar-benar akan menghabisi Jongin malam ini.

To Be Continue

Yehet!

Karena chapter ini banyak mengandung unsur enaena jadi updatenya habis lebaran yaaaa^^

Terima kasih sudah mau menunggu hihi.

Makasih juga udah banyak yang support seri ini, semangat mau ngelanjutinnya kalo gini :)

HunKai udah semi jadian nih hahaha

Gara-gara Jongin jual mahal sih tapi kalo ditembak cowok yang baru kenal semingguan Author juga mikir sih wkwkw

Kalo seganteng Sehun masih mikir ga ya hahahaha

Btw jangan lupa tinggalkan review, kritik dan saran yaaa^^

Saran dan kritik kalian sangat membantu penulisan seri ini hihi

Gomawo dan selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakan^^

Author minta maaf ya kalo banyak salah sama teman-teman sekalian hihi.

Gomawo^^