BERMAIN
Seperti biasa penulis lepas seperti Petra mengurus segala kegiatan dirumah termasuk untuk menyuapi Eren yang masih berumur tiga setengah tahun. Sepertinya harapan Petra membawa piring kosong ke dapur hanya angan-angan belaka karena Eren terus saja berlari tidak terkendali setiap Petra menyuapi makanan kedalam mulutnya. "Eren berhenti, bunda lelah..."
"gak mau! Elen gak mau makan woltel!" bocah itu terus berlari mengindari Petra sambil membungkam mulutnya. Petra menghela napas panjang, "kalau Eren gak mau makan wortel nanti gak tinggi seperti ayah lho..."
"ayah kan pendek bunda..., yang tinggi itu om Elwin" tukasnya. Petra berpikir sejenak memikirkan perkataan Eren, ternyata ia salah menyinggung soal tinggi Levi kepada Eren. "kalau begitu, tinggi seperti om Erwin saja ya. Sekarang makan wortelnya" Petra menghampiri Eren yang bersembunyi dibalik sofa, dan lagi-lagi Eren terus berlari. "Eren, sekali saja ya nak"
"gak mau!" Eren malah menaiki tangga. Akhirnya Petra menyerah dan menaruh piring di dapur. Ia sudah lelah berlarian mengejar Eren. Tidak lama kemudian Petra mendengar sesuatu yang jatuh lalu mendengar suara Eren menangis. Petra langsung berlari menuju sumber suara. Posisi Eren sudah menangkup di bawah tangga, sepertinya bocah itu terjatuh dan air matanya sudah menganak sungai.
Petra mengangkat bocah itu kemudian membawanya ke sofa dan membaringkan kedalam pelukannya. "mana yang sakit Eren?" Petra memeriksa kepala Eren takut terbentur. Bocah itu tidak mendengar bundanya dan terus menangis. "sudah, sudah, jangan menangis. Anak laki-laki tidak boleh cengeng, mengerti?" Petra mengintruksi.
Petra tahu kalau Eren sudah menangis sulit untuk berhenti. Ia berinisiatif untuk menelpon Levi dan mengajak Eren berbicara agar berhenti menangis. Petra memanjang-manjangkan tangannya untuk mengambil ponsel di nakas sampingnya. Ia membuka kontak Levi dan memanggilnya. Tidak lama kemudian suara halo dari seberang sana terdengar.
"Levi, kau sedang apa? Sibuk tidak?"
"tidak, aku baru saja selesai mengajar mahasiswa. Memangnya kenapa?"
"tadi Eren jatuh dari tangga dan tidak mau berhenti menangis. Coba rayu dia agar berhenti menangis" dan Petra me-loudspeaker ponselnya
"Eren, berhenti menangis. Kan Eren sudah besar, setengah tahun lagi Eren mau sekolah. Malu sama temanmu kalau Eren cengeng"
Eren membuka suara ditengah-tengah sendunya "Elen, Elen nanti sekolah sama chacha ya yah?"
"tidak boleh! Jangan sekolah ditempat Sasha! Nanti kau ketularan gesrek" kata Levi keras dan berhasil membuat Eren makin menangis.
Petra akhirnya ikut bicara, "ayah gimana sih. Bukannya buat Eren berhenti menangis malah tambah nangis"
"pokoknya aku tidak setuju kalau Eren sekolah ditempat yang sama dengan bocah gesrek itu!"
Petra menghela napas panjang dan menghimbau, "iya, iya, tapi bilang saja 'iya' agar Eren berhenti menangis" Levi akhirnya mengabulkan permintaan Petra. "Eren, kau boleh bersekolah dengan Sasha, tapi Eren janji untuk berhenti menangis dan jaga bunda ya"
"Hn Elen gak nangis lagi, ayah cepat pulang ya" pinta Eren. "ayah agak sibuk hari ini, jadi ayah pulang larut malam" Eren sedikit kecewa. Petra mematikan loudspeaker dan membawa ponsel ke telinganya. "Levi, kau pulang larut malamnya jam berapa?" tanya Petra
"mungkin jam sebelas malam aku sampai rumah. Ada rapat dosen hari ini"
"baiklah kalau begitu, hati-hati dijalan ya sayang"
"hn". Kata singkat Levi mengakhiri percakapan.
Petra baru akan menaruh ponselnya kembali di nakas dan melihat Eren sudah mengantuk. Mungkin efek menangis tadi. Petra tadinya mau menuntun Eren menuju kamarnya, tapi ia tidak tega. Dan memutuskan untuk menggendongnya dan membawa ke kamarnya, membaringkan kemudian menyelimutinya. "sudah nyaman?" Eren mengangguk. "kalau begitu mimpi yang indah Eren Ackermannya bunda" Petra mengecup kening Eren.
0o0
Petra terbangun dari tidurnya saat cahaya lampu mengenai matanya. ia mengucek mata dan sekilas melihat perawakan Levi. Laki-laki itu menoleh, "apa aku membangunkanmu?"
Petra menguap, "tidak apa-apa, Kau baru datang?". "hn ya begitulah, aku lelah sekali hari ini" kata Levi sambil membuka dasinya. "benarkah? Apa kau sudah makan?"
"hn, bahkan aku terlalu lelah untuk membuka bajuku. Aku sudah makan tadi, tapi aku tidak keberatan kalau kau buatkan aku teh" kemudian Petra bangun dan mendekati Levi lalu membantunya membuka baju. Levi menatap wajah Petra yang sedang membuka kancing kemejanya. Istrinya begitu cantik dan pengertian.
Petra menyadari kalau Levi sedang memperhatikannya, "apa ada yang aneh dengan wajahku?" "tidak, hanya saja aku ingin mencium-mu". seketika wajah Petra memerah, "kau ini..., kau harus mandi, badanmu lengket"
"baiklah, setelah itu aku akan bermain denganmu sepuasnya" Levi menyeringai mengandung arti dan berhasil membuat Petra tersenyum ngeri. Kemudian Levi pergi mandi dan Petra membuat teh.
.
.
.
Petra sudah menunggu Levi di ruang tengah untuk meminum teh bersama. Tidak butuh waktu lama, Levi sudah rapi dengan piyama sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia duduk disamping Petra dan mengambil secangkir teh lalu menyesapnya. Ia hampir menghabiskan setengah cangkir, kemudian menaruhnya lagi. "bagaimana Eren, apa dia terluka jatuh dari tangga?" tanya Levi penasaran.
"tidak apa-apa, tidak ada luka sedikit pun, ia hanya terkejut dan menangis" kemudian Petra menyesap tehnya. Levi bangkit dari duduknya, "kalau begitu, kau tunggu aku dikamar. Aku akan memastikan Eren sudah tertidur pulas" ucapan Levi yang tiba-tiba nyaris membuat Petra tersedak, ia pikir Levi sudah melupakan acara bermainnya. Levi kemudian menuju kamar Eren, dan Petra berjalan gontai menuju kamarnya. Ia juga sebenarnya sudah lelah mengasuh Eren seharian, apalagi tadi sore mengejar Eren berlarian untuk menyuapinya.
.
.
.
Eren gusar di tidurnya, ia mendengar sesuatu seperti desahan-desahan. Dan berhasil membuat Eren ketakutan, mengingat Eren belum benar-benar berani tidur sendiri. Ia bangun dan mengambil bantal kemudian berlari kecil menuju kamar ayah dan bundanya. Namun aneh bagi Eren, semakin ia mendekat kamar orang tuanya semakin jelas suara-suara itu.
Eren bergidik ngeri dan menarik gagang pintu yang tidak terkunci menuju gravitasi. Eren menatap bingung melihat ayahnya sedang membelakanginya tanpa baju. Sama halnya dengan Levi dan Petra, mereka membeku. Petra mendorong Levi menjauhinya dan dengan cepat meyusup ke dalam selimut. Untung saja mereka belum bugil, Levi baru saja melepas atasannya kemudian secara tiba-tiba Eren membuka pintu.
"ayah, ayah kenapa gak pake baju?" tanya Eren polos, "ayah kepanasan? Kenapa rambut ayah berantakan" lanjutnya
Levi hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "ayah tidak kepanasan, ayah hanya bermain sebentar dengan bunda" Levi melirik Petra yang sudah menyusup kedalam selimut, "iya kan bunda?"
Petra menyembulkan kepalanya sedikit, "iya, apa yang ayah bilang itu benar" Petra tersenyum kecut. Lalu Eren tiba-tiba antusias, ia ikut membuka bajunya. Mata Levi dan Petra melebar, "E-Eren, apa yang kau lakukan?!" Levi terkejut bukan main.
"Elen juga ingin ikut belmain. Jadi Elen lepas baju" seketika Levi dan Petra tertawa miris
"ini permainan orang dewasa, Eren belum boleh. Ayo pake lagi bajumu" Levi memakaikan baju Eren kembali. Levi melirik Petra, "kau juga, pakai bajumu"
Setelah semua orang dalam kamar itu memakai baju, Eren masih penasaran "ayah, dewasa itu apa?"
"kalau Eren sudah besar, itu namanya dewasa"
"tapi kan kata ayah Elen udah besal kalau udah belhenti menangis" Levi menepuk jidatnya menghadapai Eren. "sudah-sudah sekarang Eren tidur ya, sudah malam" Levi menuntun Eren menuju kamarnya. Eren menggeleng, "gak mau! Elen mau tidul disini" dengan cepat Eren menghambur ke ranjang dan segera memeluk bundanya. "bunda, Elen boleh tidul disini ya?"
"iya sayang boleh kok" Petra mengusap pucuk kepala Eren. Sedangkan Levi mematung ditengah kamar dan akhirnya bergabung untuk tidur. Sepertinya hanya satu menit tertidur, mata Levi terbuka lagi karena ada sesuatu mengenai wajahnya. Setelah penglihatannya jelas, Levi baru menyadari kalau sesuatu yang mengenai wajahnya itu adalah kaki Eren.
Ini salah satu alasan kenapa ia tidak mau tidur bersama dengan Eren. Kalau tidak memberinya kaki ya menendangnya, sampai Levi tidak menyadari kalau ia sudah jatuh dibawah ranjang karena tendangannya. Ah sudahlah, pokoknya bagi Levi hari ini sangat melelahkan. Pasalnya ia rapat sampai pulang larut malam, gagal bermain dengan Petra dan Eren memberinya kaki. Sungguh hari yang sangat sangat melelahkan. Mungkin hal ini pernah dirasakan para orang tua. Dan Levi berpikir untuk mengunci pintu kamarnya lain kali.
jangan lupa reviewnya :D
