Disclaimer : All Characters belong to Masashi Kishimoto.

Suami Pengganti

.

Chapter 04

.

Bertemu Mantan.

.

.

Yamanaka Ino mengerjap. Ia menggeser posisi tubuhnya dari terbaring menjadi duduk. Lalu merentangkan tangannya ke atas, menguraikan otot-otot punggung yang terasa sedikit pegal dan menguap. Ia masih mengantuk tapi apa daya cuti sudah usai. Dia harus kembali ke kantor. Wanita itu menoleh ke sisi kirinya. Tetapi ranjang telah kosong. Itachi sepertinya sudah bangun dari tadi.

Ino terpaksa berbagi ranjang dengan suaminya karena memang tak ada pilihan. Lagi pula ranjang ekstra king size itu sangat besar, lebih dari cukup untuk menampung mereka berdua. Hanya saja tangan Itachi ke mana-mana dan dia hobi tidur dengan memakai celana boxer saja. Jadi bayangkan saja apa yang terjadi tadi malam. Ino mencoba tidak merasa risi. Lagi pula ini rumahnya dan Ino sudah pernah melihat dia telanjang. Dari pada freak out tentang kecenderungan hobi nudist Itachi. Lebih baik dia berusaha mengabaikan pria itu dan godaan-godaannya yang semakin berani.

Ino memutuskan untuk sarapan. Ia menuruni tangga. Sampai di bawah dia sudah mencium aroma gurihnya daging bacon yang sedang ditumis. Itachi masih tak berpakaian. 'Duh, Orang itu' Keluh Ino sebal dalam hati. Tapi kebiasaan memang sulit diubah. Ino paham, Dia juga telah lama tinggal sendirian. Jadi dia tak peduli cara dia berpakaian di rumah. Lagi pula tak ada yang melihatnya. Hanya sesekali Sasuke menginap dan saat mantan kekasihnya itu di sana. Siapa yang butuh pakaian. Memikirkan Sasuke lagi membuat hati Ino pedih lagi. Ia tak boleh memikirkan masa lalu karena pria yang bersiul-siul sambil menggoreng telur di hadapannya adalah pasangannya kini.

Ia sendiri membuat dirinya nyaman dengan tidur mengenakan gaun tidur sutranya. Maaf saja, Ino tak akan mengubah standar kenyamanannya hanya karena sekarang ia punya teman seranjang. Bila Itachi tak berusaha mengubah kebiasaannya untuk membuat dia nyaman. Ino juga tak akan berkompromi. Let them annoy each others.

"Selamat pagi suamiku." Ino menyapa Itachi dengan suara manis dibuat-buat. Wanita pirang itu berdiri di konter dapur.

"Ah, Aku harap kau tidur dengan nyenyak." Balas pria itu sambil menoleh.

"Akan nyenyak sekali bila kau tak mengorok dengan keras."

"Nanti juga kau akan kebal sendiri mendengarkanku menggorok tiap malam "

"Apa kau punya kopi?" Tanya Ino.

"Itu di sana, Aku baru saja menyeduhnya. Bisa kau tuangkan secangkir untukku." Pria itu menunjuk pada sebuah mesin pembuat kopi yang menyala. "Kau mau sarapan? Aku membuat telur dan bacon."

"Boleh," Ino mengambil dua cangkir dari rak dapur dan menuangkan cairan hitam pekat ke dalamnya. Aroma kopi yang kaya menyegarkan indra penciumannya. Ia mencampur sedikit gula dan susu dalam kopinya kemudian menyeruputnya meski masih cukup panas.

Itachi menata meja makan dan mengambil roti, selai dan butter dari kulkas. Ino hanya diam saja menonton sambil menikmati kopinya. Enak juga pagi-pagi sudah ada yang melayani. Pria itu tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya. Kedua tangannya melingkar di pinggang Ino. Sontak ia terkejut dan hampir menjatuhkan cangkirnya.

"Ayo kita sarapan, Sayang."

Entah mengapa di telinga Ino ajakan makan pagi itu terdengar seksi tapi juga membuat dia jadi geli.

Ino meletakan cangkirnya di meja konter dan berusaha melepaskan diri dari Itachi. "Apa yang aku bilang kemarin? Sudah lupa? Jangan sembarangan sentuh-sentuh."

Itachi mengabaikan omongan Ino, wanita itu masih saja jual mahal. Padahal sudah banyak hal terjadi pada mereka. "Maaf, Kau begitu cantik pagi ini. Ketika ileran pun kau masih terlihat cantik."

"Apa maksudmu?"

"Aku mengambil fotomu ketika kau masih tidur. Hm...apa yang akan aku lakukan dengan foto itu ya?" Itachi melepaskan Ino dan tersenyum jahil. Pria itu beranjak ke meja makan dan Ino mengikutinya dengan marah.

"Hapus!, Pokoknya hapus. Mana ponselmu. Biar aku hapus sendiri." Ucap Ino galak.

"Nope, Aku bisa menggunakan foto itu untuk memerasmu, Istriku."

Itachi berbicara dengan nada suara bisnisnya. Membuat Ino teringat pria ini juga licik dan licin. Dia juga akan menemukan hal untuk memeras Itachi. Lihat saja siapa yang mendapatkan upper-hand nanti.

"Oke, Apa yang kau inginkan?"

"Kau duduk di sana dan makan."

Ino menurut. Dia mengambil pisau dan garpu. Mulai menyantap makanannya. "Kau pintar mengurus diri ya."

Kemarin Ino mengamati betapa pria itu gila dengan kerapian. Tak ada satu benda pun di rumah ini terletak tidak pada tempatnya. Sedangkan dia sendiri wanita yang sedikit berantakan. Pria itu sudah protes dengan kardus-kardus Ino yang memenuhi ruang tamu tapi Ino tak menggubrisnya. Ia malas membongkar dan menata ulang barang-barangnya.

"Aku tinggal sendirian selama dua puluh tahun. Wajarkan aku menguasai surviving skill seperti masak dan bersih-bersih. Hal seperti ini tidak sulit untuk dipelajari. Aku tak seperti nona manja yang tak akan bisa hidup tanpa pelayan."

"Menyindirku nih?, Begini-begini aku wanita mandiri. Aku punya uang dan pekerjaanku sendiri. Aku tak perlu bergantung pada lelaki untuk membeli apa yang aku mau. Lagi pula zaman sekarang asal punya uang semua jadi mudah. Mau makan tinggal beli, bersih-bersih panggil orang saja. Mengapa aku harus repot-repot."

"Aku mengagumi kemandirianmu. Tapi kau bergantung pada lelaki secara emosional. Aku rasa itu alasan kau membiarkan dirimu menjadi begitu patuh pada adikku. Aku tak paham mengapa wanita dengan kepribadian yang kuat sepertimu membiarkan pasangannya mengambil kontrol atas dirinya."

Ino terdiam. Mencoba mencari jawaban dan menganalisa hubungannya dengan Sasuke. "Aku menghindari perdebatan dengan Sasuke. Kau tahu betapa keras sikapnya. Ia tak suka dibantah. Aku mencintainya dan tak ingin konflik di antara kami membuat kami terpisah. Bila dua orang bersifat keras ingin bersama bukankah salah seorang harus mengalah? Sejujurnya belakangan ini aku sedikit menjauh dari Sasuke tapi juga tak ingin melepaskannya karena kami sudah pacaran terlalu lama. Aku rasa aku lelah tidak menjadi diriku sendiri dan ia menyadarinya. Mungkin cepat atau lambat kami memang akan putus. Aku sudah membaca keengganan Sasuke untuk menikah tapi aku tetap memaksa."

"Mengapa kau begitu terburu-buru untuk menikah?"

" Lima tahun pacaran kau bilang terburu-buru. Kau pria, tak merasakan tekanan untuk menikah dan berkeluarga. Tapi bagiku social pressure untuk menikah sangat tinggi. Keluarga dan teman-temanku selalu bertanya kapan aku akan menikah karena kami telah lama bertunangan dan aku tak muda lagi. Mengesalkan sebenarnya ketika prestasi wanita baru dinilai lengkap ketika dia menikah, berkeluarga dan punya anak. Jadi mengabaikan masalah dalam hubungan kami. Aku mendesak Sasuke menikahiku. Dia setuju dan aku mengatur segalanya tapi akhirnya ia berubah pikiran dan kabur tanpa memberi penjelasan."

Itachi memberi Ino tatapan kasihan. Bila adiknya memang gentle dan tak lagi mencintai Ino seharusnya Ia menolak menikahi wanita itu dan putus baik-baik sebelum menjalin hubungan dengan Sakura. Sasuke malah membuat Ino merasa dikhianati dan dipermalukan. Seharusnya Sasuke bisa jadi lebih bijak. Adiknya bahkan tak memberikan penjelasan apa pun pada Ino yang membuat wanita itu semakin sedih dan bertanya-tanya.

"Ino, Apa kau siap untuk bertemu Sasuke?, Ayah mengadakan acara makan malam keluarga dan kita harus datang."

"Aku tak tahu."

"Ino, cepat atau lambat kau akan bertemu Sasuke. Kau tak bisa menghindarinya. Apa kau tak ingin mendengar penjelasan?"

"Apa itu masih penting?, ia meninggalkanku dan memilih Sakura."

"Mau bersembunyi untuk menjilat luka-lukamu? Menjadi pengecut bukan jalan untuk membalas perlakuan Sasuke. Lagi pula aku akan ada di sana bersamamu."

"Baiklah-baiklah. Kita akan datang dan bantu aku menendang bokong adikmu."

"Dengan senang hati, Istriku."

Ino telah mengosongkan piring dan cangkir kopinya. Wanita itu bangkit dari kursi dan beranjak pergi.

"Mau ke mana?"

"Mandi. Aku harus ke kantor."

"Lalu piring-piring kotor ini?"

"Kau bersihkan sendiri. Kalau kau memang sayang istri, lebih baik buat hidupku jadi lebih mudah, Terima kasih Sarapannya, Honey." Ino mengerling dan terkekeh. Ia naik ke lantai atas dan membiarkan pria itu membersihkan dapur sendirian.

Ino memoles bibirnya dengan lipstick sebelum berangkat ke kantor. Ia melirik Itachi yang sibuk berkutat dengan dasinya. Merasa pria itu tampak kerepotan. Ino berjalan ke arahnya.

"Sini biar aku pasangkan, Masa dari tadi belum selesai juga." Ino merebut dasi itu dari tangan Itachi. Dengan cermat dia membuat simpul dengan rapi.

Itachi menatap Ino yang begitu fokus memasang dasinya. Dia tak terbiasa dengan perhatian wanita. Selama ini hanya ada ibunya dan Konan. Sekretaris merangkap asisten pribadinya. Ia masih tak percaya ia punya istri. Tapi tinggal bersama seseorang sama sekali tidak seburuk yang ia duga. Malah hari-harinya menjadi menyenangkan bersama wanita itu.

"Oke sudah selesai." Ucap wanita berambut pirang itu.

Itachi meraih rambut pirang Ino yang menjuntai di wajah wanita itu dan mendorongnya ke belakang telinga. Tangannya tanpa sengaja menyapu pipi Ino. "Terima kasih."

Tiba-tiba keheningan yang canggung melingkupi mereka. Ino menahan nafas dan sedikit mendongkak, Ia menemukan wajah Itachi begitu dekat dengan wajahnya. Jantungnya berdebar. Mengapa?. Ino mencari jawaban di mata pria itu dan ia terkejut melihat Itachi memberikannya tatapan terpesona.

Ino berdehem, menyingkirkan mantra kebisuan yang menimpa mereka. "Kita harus berangkat sekarang. Aku tak ingin terlambat."

"Aku akan mengantarmu ke kantor."

"Serius. Kau tahu apa yang akan terjadi bila semua orang tahu kita menikah?"

"Biarkan saja mereka berspekulasi. Tak ada gunanya ditutupi."

"Baiklah."

Mereka membicarakan pekerjaan sepanjang perjalanan ke kantor Ino. Begitu sampai Itachi memarkirkan mobilnya tepat di pintu masuk lobby gedung Yamanaka. Pria itu turun membukakan pintu mobil untuk sang istri. Beberapa karyawan tampak lalu lalang memasuki gedung pusat bisnis Yamanaka int. Mobil Ferrari hitam yang terparkir di tempat VIP itu tentu tampak menjolok. Mereka semua terkejut melihat CEO Uchiha corp membukakan pintu mobil bagi Direktur mereka.

Ino menenteng tas kerjanya hendak beranjak, melangkah ke gedung kantornya.

"Ino, Kau melupakan sesuatu."

"Apa?"

Itachi mendekat selangkah dan mencium kening wanita itu. Ino hanya berkedip bingung.

"Selamat bekerja istriku, Nanti aku jemput jam lima" Itachi kembali memasuki mobil dan pergi.

Ino masih terbengong-bengong di tempat parkir "Dasar, Pria aneh." Gumam Ino heran.

Ino melangkah ke kantor, Para pegawai menunduk memberi salam padanya. Dia bisa menebak mereka tengah berspekulasi. Pernikahan Sasuke dan Ino bukan rahasia bagi karyawan di gedung ini. Melihat ia diantar dan dicium seseorang yang seharusnya menjadi kakak iparnya tentu saja menjadi skandal.

Begitu Ino masuk ke ruangannya. Shion sekretarisnya langsung menyerbu. Gadis itu pastinya ingin tahu apa yang terjadi dengan pernikahannya.

"Pagi, Bos...Bagaimana pernikahan dan bulan madumu dengan Sasuke?"

"Ah, Jadi gosip belum sampai di kantor rupanya."

"Aku memang baru kembali dari menikah dan bulan madu di Yunani. Tapi tidak dengan Sasuke. Aku menikahi kakaknya."

"Apa?" Teriak Shion. "Bagaimana itu bisa terjadi?"

"Si brengsek itu meninggalkanku di altar untuk lari bersama Sakura dan Itachi di sana menawarkan diri menjadi pengganti. Kami melanjutkan pesta dan bulan madunya."

"Ya, Tuhan. Apa kau baik-baik saja Ino?"

"Entahlah Shion, tapi aku rasa tak buruk juga. Aku tetap menjadi Nyonya Uchiha." Ino tersenyum getir.

Shion memeluk Ino, "Kau pasti sakit hati ditusuk dari belakang oleh mereka."

"Benar Shion. Aku kecewa mengapa mereka merahasiakan ini dariku."

"Lalu bagaimana dengan Itachi? Kau jadi terpaksa menikah dengan pria yang seperti balok es itu."

"Aku pikir hidupku bakal jadi suram menikah dengannya. Tapi Shion. Itachi ternyata tak seperti yang kita bayangkan. Dia penuh kejutan di balik ekspresi kaku, sopan yang selalu ia kenakan di ruang rapat. "

"Dan bagaimana malam pertama kalian. Penuh kejutan juga kah?" Shion terkikik kecil

"Hush, Jangan ditanyakan." Semburat merah jambu mewarnai pipinya.

.

.

Konan sadar ada sesuatu yang sedikit berbeda dari bos nya. Apa ia tak salah lihat. Sang bos tampak senyum-senyum sendiri di antara tumpukan dokumen yang harus dia baca dan tanda tangani. Apa yang terjadi sebenarnya selama bos-nya cuti. Bukankah Itachi pergi ke luar negeri untuk merayakan pernikahan adiknya tapi mengapa ia kembali dengan cincin melingkar di jari manisnya.

Konan kembali masuk ke ruang kerja Itachi meletakan setumpuk file lagi. "Maaf Pak, Karena anda cuti seminggu pekerjaan jadi menumpuk seperti ini."

Itachi merenggut, Biasanya ia tak keberatan dengan banyak pekerjaan. Malah dia menikmati bekerja sampai larut malam. Lagi pula dia tak punya hal lain untuk di kerjakan. Tapi hari ini. Dia hanya mau cepat-cepat pulang dan menjemput istrinya.

"Aku tak mau lembur hari ini, Akan aku selesaikan besok saja."

Kalimat itu membuat alis Konan terangkat dengan rasa keingintahuan. Itachi yang selalu membuatnya ikut-ikutan lembur kini menunda pekerjaan. Sesuatu yang besar telah terjadi.

"Maaf, Boleh aku tahu apa yang terjadi?, Kau kembali dari pernikahan adikmu dan mengenakan cincin kawin. Itu aneh."

"Ah, Karena sesuatu dan lain hal pernikahan Sasuke batal dan menjadi pernikahanku."

"Kau menikah? Dengan siapa? Aku tak tahu kau punya kekasih rahasia."

"Aku tak punya kekasih. Yang aku nikahi itu kekasih Sasuke."

Mata Konan terbelalak. "Kau menikahi Yamanaka Ino?"

"Yep, karena Sasuke meninggalkan wanita malang itu di altar."

"Tapi kau terlihat senang Itachi."

"Aku merasa punya istri itu menyenangkan. Aku pergi sekarang Konan, kau juga boleh pulang. Aku harus menjemput istriku di kantornya."

Itachi meraih jas dan tas kerjanya. Ia berlalu begitu saja. Meninggalkan asistennya keheranan. Bila Konan tak mengenal Itachi dengan baik dia pasti berpikir pria itu sedang jatuh cinta. Tapi dengan mantan pacar adiknya? Itu gila.

Itachi muncul di kantor Ino. Para pegawai langsung mengenalinya. Manajer lantai depan langsung menyambutnya.

"Tuan Uchiha, Apa anda punya janji rapat dengan atasan kami? Saya tak mendengar informasi apa pun tentang kunjungan anda hari ini."

"Aku datang untuk menjemput istriku." Begitu pria itu selesai bicara pintu lift terbuka.

Ino melangkah dengan anggun menuju sang Suami berdiri tapi wajahnya tampak gusar.

"Kau bilang jemput jam lima. Ini jam lima lebih lima belas menit. Kau terlambat." Ino mencak-mencak tanpa menyadari salah seorang manajer perusahaan berdiri di sana.

"Tapi jalanannya macet, Sayang"

"Huh, Kau memang sengaja membuatku kesal kan Itachi."

Pria itu meraih tangan Ino dan menuntunnya ke luar. Ino tak menolak dan membiarkannya saja. Itachi melihat jam tangannya.

"Aku rasa kita tak punya cukup waktu untuk pulang dan berganti pakaian."

"Lalu apa saranmu?"

"Membeli pakaian dan berganti baju di apartemenku."

"Kau masih punya apartemen di tengah kota?"

"Tentu saja, aku sering pulang larut dari kantor jadi aku memilih tidur di apartemenku karena pulang ke rumah sangat jauh."

Mereka berhenti di sebuah butik. Ino menatap Itachi dengan tanda tanya. "Memang kita perlu baju baru? Ini hanya makan malam keluarga kan?"

"Aku sudah punya baju ganti. Tapi kau butuh baju Nyonya-ku sayang. Bila kau mau bertemu mantan bukankah sebaiknya kau tampil mengesankan"

"Uh...Aku melupakan Sasuke mungkin muncul."

"Dan bisa saja ia datang dengan Sakura. Jadi persiapkan mentalmu." Itachi memperingatkan Ino. Ia tak akan membiarkan istrinya di permalukan Sasuke kali ini.

Ino hanya butuh waktu lima belas menit untuk menemukan gaun yang cocok untuknya dan sepasang sepatu. Mereka langsung menuju apartemen Itachi untuk mandi dan berganti pakaian. Beruntung Ino selalu membawa make up pouch-nya ke mana-mana. Dia jadi bisa berdandan dengan tenang.

Apartemen pria itu cukup luas dan terletak tak jauh dari kantor mereka. Lagi-lagi Ino tak menemukan sesuatu yang ekstravagant di tempat itu. Semua tampak sederhana dan minimalis tapi berfungsi dengan baik.

"Ayo kita mandi." Pria itu menyeret Ino ke kamar tidur. Ia melepas sepatu, Jas dan kemejanya.

"Tunggu, Maksudmu kita mandi berdua?"

"Bukannya lebih irit waktu begitu?"

"Tidak, Aku mandi duluan karena aku butuh waktu lebih banyak untuk berdandan."

"Terserah deh," Itachi mengangkat bahu.

"Mana handuknya?" Tanya Ino.

Pria itu membuka lemari. Mengambil handuk berukuran besar dan melemparkannya ke kepala Ino.

"Ya, Sudah. Cepat mandi sana."

Itachi mendengar suara pancuran kamar mandi dinyalakan. Ia memilih baju untuk dikenakan. Lalu membuka brankas tempat ia menyimpan surat dan barang berharganya. Ia mengambil sebuah kotak beludru hitam yang di berikan Ibunya ketika ia mulai bekerja di perusahaan.

Tak lama Ino keluar dari kamar mandi dengan rambut dan kulit lembab. Tubuhnya hanya tertutup selembar handuk. Itachi ingin merengkuhnya. Bercinta dengan wanita itu lagi seperti saat malam pernikahan itu. Tapi sebagai pria baik dia harus bersabar akan ada waktunya untuk hal-hal seperti itu. Apa ia harus menunggu Ino menjadi mabuk berat dulu baru wanita itu memohon padanya? Alangkah baiknya bila Ino menyentuhnya karena ia Itachi, bukan sekedar untuk melarikan diri dari rasa sakit yang di tinggalkan adiknya. Tapi bila Ino memang menderita ia tak keberatan menjadi sekedar pelampiasan. Menjadi segala hal yang wanita itu butuhkan.

"Jam berapa kita berangkat?"

"Santai saja. Kau punya banyak waktu untuk mempersiapkan diri" Itachi pun pergi mandi.

Ino telah selesai berpakaian. Begitu pula sang suami. Ia menyapukan blush on di pipinya. Wajahnya yang tadi tampak pucat menjadi merona berseri. Ia puas dengan hasilnya. Ia tak terlihat seperti wanita yang patah hati.

"Sudah siap?" Itachi bertanya pada wanita pirang yang berdiri di muka cermin.

"Sudah"

"Aku punya hadiah untukmu." Itachi melangkah mendekat dan menyerahkan kotak beludru hitam ke tangan Ino. "Bukalah."

Ino tertegun melihat perhiasan antik dari mutiara dan berlian yang Indah. "Ini...Kapan kau membelinya?"

Itachi tersenyum, Ia meraih kalung itu dari kotaknya dan memasangkannya di leher Ino. "Ini warisan keluarga. Perhiasan ini di miliki oleh nenek buyutku dan Ibuku menyerahkannya padaku. Dia bilang berikan pada Nyonya Uchiha berikutnya."

"Ini indah sekali."

"Kau pantas mengenakannya Ino. Karena kau sekarang bagian dari keluarga ini."

Pandangan mata mereka beradu di cermin. Untuk sesaat Ino bisa melihat betapa serasinya mereka. Ia teringat formulir pernikahan yang belum mereka tanda tangani dan kirimkan kembali ke kantor catatan sipil. Pernikahan ini masih belum legal. Ia heran mengapa Itachi menyimpannya.

"Itachi mengapa kau masih menyimpan formulir pernikahan itu."

"Karena aku ingin kau dan aku menandatanganinya suatu hari nanti."

"Kau yakin dengan itu?"

"tentu saja. Aku senang kau menjadi istriku."

"Hm.. ya sudah besok aku tandatangani. Aku rasa hidup denganmu tidak buruk. Kita bisa jadi partner hidup yang baik."

"Hm partner...sebaiknya kau mencoba membuat Sasuke cemburu malam ini." Gumam Itachi di telinga Ino.

"Bagaimana?"

"Bermesraan denganku tentunya." Pria itu menyeringai.

Ino memukul lengan Itachi, "Modus.."

"Siapa tahu bekerja. Bukankah kau mau balas dendam."

"Benar juga." Ino mengangguk setuju.

.

.

Mereka melangkah memasuki restoran terkenal yang tampak ramai malam itu. Dentingan musik jazz mengalun dari sebuah grand piano di tengah-tengah ruang restoran. Lantai granit sewarna papa catur dan chandelier kristal yang tergantung di langit-langit memberi kesan gothic. Kursi makan bergaya prancis berwarna hitam dan dilapisi jok beludru merah tampak menjadi aksen mencolok. Ino bersyukur memilih gaun yang pantas untuk makan di tempat ini.

"Selera Ibumu boleh juga. Memilih tempat yang begitu chic untuk makan malam keluarga." Komentar Ino.

"Ayahku tak suka tempat beginian. Ia lebih memilih restoran dengan dekorasi sederhana. Tapi dari pada bertengkar dengan ibuku ia menurut- menurut saja. Lagi pula makanan di sini enak."

Manajer restoran sepertinya mengenali Itachi. Pria itu menyambut mereka dengan ramah.

"Tuan Itachi Uchiha, Keluarga anda telah menunggu. Mari ikuti saya."

Ino dan Itachi mengikuti sang manajer menuju private dining room. Ruangan itu terletak terpisah dari para pengunjung lainnya.

Ino menggenggam erat lengan Itachi. Ia tegang menghadapi akan mantan kekasihnya. Perutnya tiba-tiba merasa melilit dan ia ingin lari.

" Brace your self, the strom is coming." Bisik Itachi di telinganya.

Begitu pintu terbuka mata Ino langsung terpaku pada pria berambut raven yang duduk dengan santai menyesap wine-nya. Di sebelahnya duduk wanita berambut merah muda yang sepertinya tampak terkejut melihat kedatangan mereka.

Wajah Fugaku dan Mikoto tampak gelisah. Seolah mereka merasakan sebentar lagi akan pecah pertempuran dan pertumpahan darah di sana.

Ino ingin menangis, berteriak dan memukul Sasuke yang berkhianat padanya. Ia ingin menjambak dan menampar wanita yang dengan tega merebut kekasihnya. Ya tuhan Ino ingin mereka berdua terbakar dalam api neraka. Ia begitu marah dan penuh kebencian bagi keduanya tetapi wanita berambut pirang itu menahan letupan emosinya. Ia melangkah dengan anggun menggandeng lengan suaminya.

Itachi memberi salam, "Maaf kami terlambat." Pria itu melingkarkan lengannya di pinggang Ino.

Sasuke dan Sakura tampak terkejut. Sepertinya belum ada yang memberitahu mereka tentang apa yang terjadi di pernikahan itu.

"Sasuke, Katanya kau baru kembali kemarin dari luar negeri." Itachi mendengar info dari orang-orang kantor. Mereka mengira adiknya berbulan madu dengan Ino.

"Ah, Iya aku baru kembali dari liburan di Italy ayah." Jawab pria itu. Entah Sasuke bebal atau tak tahu malu. Pria itu tak minta maaf dan mengabaikan soal kepergiannya yang mendadak dari Yunani.

Ino gemas, Jadi Sasuke dan Sakura kabur ke Italy berdua. Setelah meninggalkan pernikahan mereka begitu saja. Dasar biadab.

"Ah, Jadi kau pasti belum tahu Sasuke. Aku dan Ino menikah setelah kau kabur begitu saja. Aku berterima kasih padamu. Karena sekarang aku jadi mempunyai istri cantik dan pintar."

Mata Sasuke menggelap, Ia tak suka tangan Itachi melingkar posesif di pinggang Ino dan wanita itu dari tadi tak menatapnya.

"Aku tersanjung, sayang. Sekarang aku mengerti mengapa mereka bilang kau putra terbaik Fugaku. Kau memang lebih baik dari adikmu dalam segala hal. Andai saja aku tahu soal itu dari dulu." Ino tahu Sasuke benci kalah dari Kakaknya. Dan ia tak segan-segan menyenggol ego pria itu untuk membuatnya terusik.

Ino bisa melihat wajah Sasuke menahan marah, sedangkan Sakura hanya tertunduk. Mungkin terlalu malu untuk menatapnya.

"Bagaimana bila kalian duduk dan kita bisa mulai memesan makanan. Aku sudah lapar" putus Mikoto mencoba mencairkan suasana tegang di ruangan itu.

Ino duduk di sebelah Itachi. Ia melirik Sasuke sejenak. 'Aku akan membuatmu menyesal telah mencampakkan aku begitu saja.' Hati Ino yang sakit kini membara dalam dendam.

Tbc.