Summary: Empat siku yang berkedut-kedut muncul di pelipis Slaine. Sekarang dia benar-benar tau apa tujuan Inaho. Alasan Inaho mengijinkannya mengundang Harklight , dan alasan Inaho memakaikannya syal semua itu hanya agar dirinya dan Harklight tidak berduaan di satu ruangan. Inaho benar-benar tau bagaimana cara merusak suasana!
Disclaimer: Gen Urobuchi, Katsuhiko Takayama
Genre: Romance, YAOI ALLERT
Rate: T
Pairing: Inaho x Slaine
Warning: OOC, typo eperiwer~~~~ , BL, Yaoi, Absurd, gak nyambung dengan summary, bahasa berantakan
Balasan review ~Cause Its You~
Chi-Chan: padahal kisahnya sepenggal doang *pukpuk Chi-chan
Tsusaki: anoo di cerita ini itu sudah jadi ciri khasnya Harklight o.o)a
DON'T READ , IF YOU DON'T LIKE STORIES ABOUT BL~~
CAUSE ITS YOU
(chap 4)
"He's a Ninja?"
"AAAAARRRGGGHHHH mooouuu" Slaine menutup tumpukan buku-buku di hadapannya.
Sejak dua setengah jam lalu dirinya sudah berkutat dengan berbagai buku referensi pemberian Inaho, namun tugas laporannya belum juga selesai. Padahal biasanya Slaine bisa menyelesaikan tugas laporan seperti ini hanya dalam waktu satu jam. Tidak ada satupun kalimat bahkan kata dari buku-buku yang dibacanya yang masuk di otaknya. Setiap mencoba memusatkan konsentrasi, ingatan tentang ciuman pertamanya bersama Inaho kembali memenuhi benaknya. Membuat suhu di sekitar daerah wajahnya terasa berkali-kali lipat lebih panas. Dan setiap kali ingatan-ingatan itu kembali, selalu saja tangannya menyentuh bibirnya sendiri. Sensasi yang telah ditinggalkan Inaho di sana masih dengan jelas dapat dirasakan Slaine.
"Bibirmu kenapa Bat?" Inaho yang sejak tadi sudah bersandar di pintu kamar Slaine akhirnya angkat bicara setelah puas mengamati tingkah Slaine hampir setengah jam tanpa disadari si pirang.
"Se.. ap.. ke.." ucap Slaine panik, terlihat dari cara bicaranya yang tidak jelas dan dari refleks tubuhnya berdiri dan membuat kursi yang sejak tadi didudukinya terpelanting ke belakang saat sadar Inaho ada di dekatnya.
"Memangnya kau anak kecil yang baru belajar ngomong Bat?"
"Apa yang kau lakukan di sini Ahorenji?"
"Kenapa ini masih bagian dari rumahku. Suka-suka aku mau berada dimana"
"Tapi ini kamarku. Tidak bisakah Kau menghargai privasiku? Pri-va-si!" eja Slaine sambil menekan di setiap suku kata yang diucapkannya kepada Inaho. "Aku saja selalu menghargai privasimu!" lanjutnya kembali duduk menghadap meja belajarnya, kembali membuka buku-buku tebal yang beberapa saat lalu ditutupnya bersikap sok sibuk di depan Inaho untuk menyembunyikan kegugupannya.
"Aku tidak pernah melarangmu ke kamarku Bat"
"Aho! Memangnya siapa juga yang mau ke kamarmu?"
"Jadi bukan tentang kamar?" Tanya Inaho pura-pura bodoh
"Bisakah kau keluar? Sekedar info untukmu, di sini aku lagi sibuk membuat ulang laporanku berkat orang aneh. Lucunya bahkan orang itu sempat lupa telah memberiku tugas. Terima kasih Sen-sei"
"Kau tau? Melihat wajah marahmu itu menyenangkan" lanjut Inaho lalu meninggalkan kamar Slaine sambil menyeringai.
"BAKA ORENJI! KAU MENYEBALKAN!"
~O~O~O~O~O~O~O~
Sore yang cukup buruk untuk berbelanja bahan kebutuhan sehari-hari di supermarket setidaknya begitulah menurut Slaine. Setelah hampir seharian waktu liburnya digunakan duduk menghadapi tumpukan referensi, meladeni setiap omongan Inaho yang selalu saja membuatnya terlihat bodoh sekarang dirinya harus berjalan di lorong-lorong yang terbentuk dari kumpulan rak-rak pajangan produk yang lebih terlihat seperti lorong-lorong labirin di mata Slaine. Belum lagi titipan barang kebutuhan Inaho yang sangat banyak. Tiga perempat dari belanjaan Slaine sore itu adalah barang milik Inaho. membawanya dengan kereta belanjaan saja sudah lumayan susah, bagaimana dia pulang membawa semua itu?
Bulu kuduk Slaine berdiri saat merasakan seseorang memegang pundaknya. Sangat tidak lucu menurutnya jika Inaho tiba-tiba muncul dengan tampang 'apa yang kau lakukan? Bisa kubantu?' di tengah antrian untuk membayar seperti ini. Tapi sangkaan Slaine salah besar. Yang berdiri di baliknya bukanlah sensei bermuka datar yang dia kenal –Slaine sedikit kecewa sebenarnya,hati kecilnya tidak bisa berbohong berharap si Orenji muncul tiba-tiba–. Tapi muncul adalah seorang wanita pendek yang warna rambutnya sengaja diberi warna merah jambu yang cukup mencolok di tengah keramaian seperti itu.
"Slaine-kun, lama tidak bertemu" sapa si wanita ramah setelah beberapa saat mereka saling berpandangan.
"Aha..ha..ha.. Lemrina-san.. apa yang kau lakukan di sini?" tanya Slaine seperti orang bodoh kepada wanita di hadapannya.
"Membayar pajak!. Slaine-kun masih tidak berubah, Kufikir karna sudah tidak bekerja di tempat kakak, kekikukan Slaine-kun akan sedikit hilang. Ternyata tidak juga, syukurlah."
"Aha..ha.."
Slaine hanya bisa tertawa hambar, tidak tau harus menanggapi seperti apa pembicaraan dengan Lemrina. Sejujurnya Slaine bahkan sudah lupa tepatnya berusaha menghapus semua memori kelamnya. Namun, pertemuannya dengan Lemrina kembali mengingatkan Slaine 'siapa dirinya sebenarnya'. Bagaimana tidak? Meskipun dirinya baru bekerja sebagai 'penghibur' di tempat Asseylum-san baru-baru ini –meskipun sekarang jalan Slaine sudah jauh dari dunia seperti itu berkat Inaho– yang tidak lain adalah kakak kandung Lemrina, tapi sejak kecil sejak ibunya menikah lagi dirinya tidak lebih hanyalah sebagai 'penghibur' untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan perawatan ibunya.
"Bagaimana dengan bossmu sekarang, ano maksudku…"
"Tidak apa-apa Lemrina-san, orang yang tau siapa aku yang sebenarnya pasti akan bertanya seperti itu. Dia baik tapi kadang menyebalkan. Dia perhatian tapi sering terlalu perhatian. Dia dewasa tapi tingkahnya kadang lebih kekanakan dari anak kecil. Dia selalu membantu tapi kadang malah menyusahkan."
"Dari cerita Slaine-kun dia orang yang lumayan aneh. Tapi syukurlah Slaine-kun betah"
"Aku bahkan tidak bilang kalau aku betah.."
"Slaine-kun tidak bilang, tapi dari cara Slaine-kun ngomong ketahuan kalau Slaine-kun betah di sana. Syukurlah Slaine-kun. Ano nee, aku tidak akan kalah darinya"
"Apanya?"
"Sepertinya Slaine-kun tidak sadar, tapi kurasa orang itu sudah mampu membuka sedikit hati Slaine-kun yang selama ini tertutup rapat."
"Lemrina-san.. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau katakan"
"Sampai berapa lama kau mau berdiri di sana? kau tidak lihat antrian yang panjang itu?"
Gleeek, Slaine hanya mampu menelan ludahnya sendiri saat mendengar suara orang yang baru saja menegurnya dengan ketus. Slaine tidak usah berbalik ke belakang tempat orang itu berdiri yang lalu mengambil kantong pelastik besar yang tengah ditenteng Slaine. Hanya melihat sorot mata berbinar dari kasir yang ada di hadapannya Slaine sudah tau yang di belakangnya itu adalah Inaho.
Sudah lama Slaine yakin kalau Inaho itu bukan manusia biasa. Sekarang Slaine malah semakin yakin Inaho itu adalah seorang ninja. Jika tidak, tidak mungkin dia selalu bisa muncul dimana saja seperti itu. Kalau dia bisa ke supermarket sendiri kenapa si Orange freak satu ini malah menyuruhnya membeli semua kebutuhannya? Slaine mengomel dalam hati. Sayangnya tempat di depan kasir bukanlah tempat yang tepat untuk memukul seseorang, bukan karna banyaknya saksi mata tapi juga karna ada cctv yang terpasang yang bisa menjadi bukti kejahatan Slaine seandainya dia benar-benar memukul Inaho. Ingin rasanya Slaine menendang orang itu.
"Nee, sampai ketemu lagi Lemrina-san" ucap Slaine pamit yang hanya dibalas lambaian tangan dari si rambut pink.
Sebenarnya Slaine sedikit bersyukur Inaho datang, dirinya tidak perlu susah-susah mengangkat barang belanjaan sebanyak itu. Buktinya Inaho membawa semua barang belanjaan yang tadi sempat jadi fikiran Slaine. Dengan santainya, bahkan seperti tanpa beban Inaho membawa semuaya sendirian. Untuk yang satu ini Slaine sempat kagum. Siapa sangka tubuh kecil Inaho –sekedar info Slaine lebih tinggi dari Inaho sekitar enam sentimeter, yang merupakan satu-satunya hal yang bisa Slaine menangkan dari Inaho– bisa kuat membawa semua itu.
"Kenapa kau ada di sini? Bukannya tadi kau bilang sangat sibuk makanya menyuruhku berbelanja?" tanya Slaine setelah selesai mengomel dan mengagumi Inaho dalam hati.
"Belanjaanmu sangat banyak, aku khawatir kau tidak bisa membawanya sendirian makanya ku jemput."
"Oh, terima kasih, kau memang sensei yang sangat pengertian Orenji" balas Slaine sambil tersenyum mengejek.
"Ternyata kau malah asik selingkuh dengan wanita lain. Cantik dan seksi pula, jadi tipemu sepeti itu Bat?" Inaho kembali bertanya dengan nada mengejek –sebenarnya Inaho sangat penasaran siapa wanita tadi. Jarang-jarang melihat Slaine bisa seakrab itu dengan orang lain selain Harklight, di kampus saja Slaine termaksud orang yang susah bergaul menurut pengamatan Inaho–, mengacuhkan ucapan terima kasih Slaine yang tadi.
"Apa?" tanya Slaine bingung dan ikut berhenti, saat Inaho yang sedari tadi berjalan di sampingnya tiba-tiba berhenti dan memiringkan sedikit kepalanya kepada Slaine untuk menunjukkan pipinya.
"Hadiahku karna menjemputmu, setidaknya aku dapat ciuman minimal di pipi"
"Kau tau sendiri kalau aku itu alergi dengan Pria. Kau mengejekku yah Ahorenji?"
"Padahal waktu itu, kau malah tidak mau melepaskan ciumanku" Inaho kembali menyeringai saat menyadari saat ini wajah Slaine sempurna berubah warna menjadi merah seperti tomat.
"Arrrgghh URUSAI!"
"Wajahmu merah Bat"
"Itu karna hawa di sini panas. Iya karna hawa di sini panas" jawab Slaine sembari mengalihkan pandangan ke arah lain
"Setidaknya sekarang kau tidak bilang 'trauma' tapi 'alergi' haha"
Inaho kembali berjalan pelan, menatap punggung Slaine yang semakin menjauhinya karna setengah berlari menuju parkiran. Sudah lama dirinya tidak sebahagia ini hanya karna menatap punggung orang lain. Seingatnya orang pertama yang bisa membuatnya merasa hidup adalah Inko, ingatannya kembali mengenang tunangannya. Didongakkannya kepalanya menatap langit biru di atas sana untuk menahan air matanya yang hampir tumpah karna mengingat Inko. Tidak pernah terlintas di dalam benaknya jika dirinya akan merasa sehidup ini hanya karna berada di dekat orang yang seharusnya dia benci. Orang yang menyebabkan Inkonya pergi ke tempat yang tidak dapat dijangkaunya.
~O~O~O~O~O~O~O~
Inaho yang pagi itu berniat membangunkan Slaine untuk membuat sarapan mereka hanya bisa memandang datar –penuh tanya– saat melihat Slaine yang ternyata sudah bangun tidak seperti pagi-pagi sebelumnya. Hawa pagi hari di bulan Oktober cukup dingin untuk membuat tulang menggigil. Tapi tidak bagi Slaine yang pagi itu sudah dipenuhi semangat membara. Sejak setengah jam yang lalu, Slaine sudah memncoba hampir setengah isi lemarinya. Mondar mandir di depan cermin seukuran badan yang terpasang di kamarnya seperti seorang model. Bahkan sesekali berpose layaknya model parfum pria di majalah.
"Ka….."
"Kau kelihatan norak bergaya seperti itu" celetuk Inaho saat Slaine tengah menatap dirinya di cermin dan keduan telunjukknya menunjuk pantulan bayangan dirinya yang sedang berpose.
Dengan malas Slaine berjalan menuju pintu, mendorong Inaho yang sudah menyilangkan tangan di dadanya dengan sombong, dan menutup pintu kamarnya tidak lupa mengunci kamar dari dalam agar Inaho tidak seenak jidatnya lagi memasuki kamarnya sekalipun ini adalah rumahnya. Oh ayolah, ini masih pagi, Slaine tidak ingin melihat wajah datar Inaho sepagi ini dan menghancurkan moodnya yang sudah sangat bagus.
"Sarapan sudah siap di meja makan" kata Slaine setelah moodnya membaik, dengan dua tarikan nafas panjang. Slaine kembali ke aktifitasnya yang tadi, melihat dirinya sendiri dari cermin. Membereskan pakaiannya yang sedikit berhamburan dan kembali melihat pantulan bayangannya di cermin terakhir kalinya sebelum mengambil tas dan beberapa buku kuliahnya. Meskipun sudah menyiapkan diri akan melihat Inaho berdiri tepat di depan pintu kamarnya saat dia membuka pintu, tetap saja Slaine kaget saat Inaho benar-benar berada di sana.
"Kau mau kemana dengan penampilan aneh seperti itu?" Tanya Inaho masih dengan ekspresi datar yang susah ditebak.
"Maaf saja kalau penampilan sehari-hariku aneh" jawab Slaine tidak mau kalah
"Ini bukan penampilanmu sehari-hari. Liat saja, kau bahkan menyisir rambutmu. Seingatku rambutmu tidak pernah serapih ini. memangnya kau mau kemana?"
"Mau kerja tugas kelompok. Kau ini sudah seperti ibu-ibu saja Orenji. Pertanyaanmu terlalu banyak!"
"Baiklah aku akan mengantarmu, tunggu aku…"
"Oh tidak terima kasih, aku sudah terlalu banyak merepotkanmu sensei. Aku tidak ingin menambah utangku padamu yang sudah sangat banyak dan menggunung itu."
"Aku sedang tidak ada kerjaan, jadi…"
"Orenji-sama, aku tidak tau rumah temanku dimana…"
"Kau mau ke rumah temanmu tapi kau tidak tau rumahnya? Kau ini bodoh?"
"Harklight dan aku janjian akan ketemu di café depan kampus, dari sana kami akan sama-sama ke rumahnya. Jadi kau tidak usah repot-repot mengantarku!" jawab Slaine kesal berjalan menuju tangga. Belum lagi kakinya menginjak anak tangga, pergelangan tangannya terasa sedikit sakit akibat genggaman Inaho yang tiba-tiba.
"Bagimana dengan rumah? Kau mau pergi tanpa memebersihkannya? Kau tau sendiri aku tidak tahan dengan debu" cegah Inaho pura-pura lemah, tapi di mata Slaine seperti mencari masalah
"Sudah kubersihkan tadi sebelum membuat sarapan"
"Cu..cu..cucian. iya, kau sudah mencuci pakaian? Hari ini sepertinya baik untuk menjemur."
"Kalau kau memeriksa keranjang pakaian kotormu, kau akan liat di sana tidak ada pakaian kotor. Pakaian kotormu yah itu yang sekarang menempel di tubuhmu Prof. Kaizuka"
"Makan siang. Kau mau melihatku mati kelaparan? Kalau kau pergi siang ini aku makan apa?"
Slaine memutar matanya malas. "Oh ayolah Orenji, sebelum aku tinggal di sini kau bisa masak sendiri. Atau kalau malas masak kau bisa memesan makanan, pizza misalnya. Dan lagi sepertinya kau terlalu banyak nonton drama Korea, kau kira kita ini full home?"
"Kau tau sendirikan aku sedang sibuk? Aku tidak sempat memasak. Aku sudah memutuskan tidak akan memakan makanan cepat saji. Itu tidak baik untuk kesehatan. Dan lagi kenapa kau harus berkelompok dengan Harklight?"
"Kenapa memangnya? Harklight partner yang bisa diajak kerja sama jika ada tugas seperti ini. dan pembagian ini langsung dari dosen! Sebenarnya maumu apa sih Orenji?"
"Tidak bisakah kau kerja sebagian, dia kerja sebagian? Nanti baru disatukan? Tidak usah pergi ke rumahnya segala"
"Yang namanya tugas kelompok itu kerjanya tidak seperti itu. Kami harus mendiskusikan apa yang kami kerja!"
"Pokoknya kau tidak boleh keluar rumah hari ini, firasatku tidak enak! Kalau kau mau kerja kelompok kenapa tidak suruh saja si Harklight itu ke sini? Kalian bisa kerja di sini"
"Hooooh. Kau jenius, dan dia akan tau kita tinggal bersama?"
"Kenapa memangnya? Aku kan bisa bilang kalau orang tuamu menitipkanmu padaku"
Slaine diam sejenak, memkirkan kembali semua yang dikatakan Inaho. Ide Inaho sebenarnya tidak buruk. Bukannya memang tidak aneh jika ayahnya menitipkannya kepada Inaho? Semua orang rasanya akan percaya dengan alasan semacam itu. Terlebih lagi, di rumah ini Inaho punya koleksi buku yang lumayan lengkap di ruang perpustakaannya, mungkin saja referensi yang dicarinya ada di koleksi buku Inaho. kalau mereka kebingungan, mungkin saja Inaho akan membantunya –yah meskipun yang satu ini agak diragukan–, dia juga tidak perlu membawa buku-buku beratnya ke rumah Harklight. Setelah sedikit merenung, akhirnya Slaine setuju dengan apa yang baru saja diusulkan Inaho. mengambil ponsel di tasnya lalu menghubungi Harklight.
"Moshi-moshi, Harklight-kun. Maaf tiba-tiba bagaimana kalao kerja tugasnya di tempatku saja? Ok. Akan ku kirim alamatnya di pesan"
Slaine kembali ke kamarnya menyimpan tas, sementara itu Inaho kembali menyeringai senang atas kemenangan di depan matanya.
Setengah jam berlalu, Slaine baru saja selesai membersihkan kediaman Inaho –untuk yang kedua kalinya pagi itu–, seseorang menekan bel yang disambut dengan senyum gembira Slaine sambil berlari menuju saja tangannya menyentuh gagang pintu dan bersiap membuka pintu. Sesuatu yang tebal dan hangat melingkari lehernya. Inaho hanya memasang tampang datar –tidak usah bertanya pakai saja– saat Slaine menatap wajah Senseinya.
"Moshi-moshi, maaf mengganggu"
"Harklight-kun, maaf tiba-tiba merubah tempat…."
"Aku yang menyuruhnya, semalam dia demam tinggi, sekarang sudah turun tapi aku tidak mengijinkannya kemana-mana dulu. Makanya kusuruh dia mengajakmu kerja tugas di sini"
Sekarang Slaine tau alasan Inaho memakaikannya syal. Yang Slaine tidak tau, memangnya apa untungnya berbohong kepada Harklight kalau dirinya sakit? Sekali lagi Slaine tidak tau apa yang difikirkan seorang Inaho Kaizuka.
"Se.. Maksudku Prof? Anda?" tanya Harklight tidak kalah bingung dan kagetnya
"Slaine tidak pernah cerita? Ayahnya menitipkan dia kepadaku, makanya dia pindah ke sini. Masuklah, di luar dingin."
Harklight mengangguk, mengikuti Inaho dan Slaine yang sudah lebih dulu masuk menuju ruang tengah. Sementara Harklight mengeluarkan semua barangnya dari tas, Inaho dengan santainya berbaring di sofa paling panjang di ruangan itu. Menutup sebagian wajahnya dengan lengan.
"Prof, Anda bisa masuk angin jika tidur di tempat ini? kenapa tidak tidur di kamar saja?" Tanya Slaine berpura-pura sopan saat baru kembali dari dapur membawa minuman dan beberapa cupcake buatan tangannya sebagai cemilan mengerjakan tugas.
"Aku sangat ngantuk, semalam tidak tidur karna merawatmu. Sudah tidak sanggup menaiki tangga untuk ke kamar. Aku hanya butuh sedikit… tidur… " jawab Inaho pura-pura tertidur.
Empat siku yang berkedut-kedut muncul di pelipis Slaine. Sekarang dia benar-benar tau apa tujuan Inaho. Alasan Inaho mengijinkannya mengundang Harklight , dan alasan Inaho memakaikannya syal semua itu hanya agar dirinya dan Harklight tidak berduaan di satu ruangan. Inaho benar-benar tau bagaimana cara merusak suasana!
"Harklight-kun cobalah, itu cupcake buatanku, kemarin…"
"JANGAN DIMAKAN" teriak Inaho yang langsung bangun dari tidurnya
"Prof?" Tanya Harklight bingung, pertama kalinya melihat Dosennya itu bertingkah cukup aneh, sangat berbeda dengan yang selama ini di kampus. Jangankan Harklight, Slaine yang sudah tinggal bersama Inaho saja masih bingung dengan apa yang baru dilihatnya. Namun, Slaine tau pasti Inaho akan melakukan hal-hal konyol lainnya. Benar saja apa yang terlintas di fikiran Slaine.
"Slaine membuat cupcake itu saat sedang flu, bagaimana kalau virus flunya ada di cupcake itu. Bisa bahaya kalau dimakan" ucap Inaho mengambil paksa semua cupcake buatan Slaine termaksud yang sudah hampir dimakan Harklight dan membawanya kembali masuk ke dapur. Tidak lama kemudian, Inaho keluar membawa beberapa bungkus cemilan seperti keripik kentang dan rumput laut. Lalu kembali tidur di sofa seperti tadi.
Slaine hanya bisa mengurut dada sabar melihat tingkah laku Inaho. rusak sudah rencana PDKT-nya kepada Harklight berkat manusia bernama Inaho. Mereka berdua Slaine dan Harklight kembali fokus mengerjakan tugasnya, sementara itu Inaho yang berpura-pura tertidur hanya mengawasi dari balik lengannya. Berusaha menahan tawanya karna sukses menghalangi niat Slaine dan sukses membuat Harklight merasa sedikit terintimidasi berkat kehadirannya. Saking fokusnya mereka mengerjakan tugas, mereka bahkan tidak sadar jam di dinding sudah menunjuk angka satu. Sudah lewat dari jam makan siang.
"Pantas saja aku sedikit lapar, jam makan siang sudah lewat. Harklight-kun ingin makan apa? Akan kubuatkan" Tanya Slaine
"Kau tidak perlu masak, aku sudah memesankan pizza untuk kalian. Sebentar lagi pengantar pizanya akan datang" sela Inaho. Benar saja baru sekitar lima detik dari Inaho menyelesaikan kalimatnya, bel rumah itu berbunyi. Tentu saja Inaho menyruh Harklight mengambilnya dengan alasan Slaine masih belum boleh terlalu kena hawa dingin.
"Tsk. Kau itu benar benar menyebalkan Orenji!" desis Slaine setengah berbisik takut kalau-kalau Harklight tiba-tiba muncul. Tapi Inaho tetap seperti biasa, pura-pura sedang tidak terjadi apa-apa dan tidak tau apa-apa.
"Harklight, bagaimana tugas kalian?" Tanya Inaho setelah Harklight kembali.
"Sudah rampung sekitar sembilan puluh lima persen Prof."
"Oh baguslah. Kalau sudah sebaiknya kau pulang yah. Aku tidak mengusirmu, tapi Slaine masih butuh istirahat." Lanjut Inaho dengan sangat sopan
"Tapi Prof…"
"Prof benar Slaine, Slaine butuh istirahat. Ayo cepat kita selesaikan ini agar Slaine bisa lebih cepat istirahat"
Lima belas menit kemudian, Harklight yang sudah membereskan barang-barangnya pamit pulang. Inaho dan Slaine sebagai tuan rumah mengantar Harklight sampai depan pintu. Sementara Slaine tengah depresi karna ulah Inaho, Inaho tengah bergembira ria karna usahanya berhasil. Tentu saja Slaine marah besar. Tapi jangan sebut Inaho Prof jika tidak bisa menghilangkan marah Slaine.
Sejak Harklight meninggalkan kediaman mereka, Slaine mengunci dirinya di kamar. Sampai Slaine mendengar teriakan Inaho dari lantai satu yang berasal dari dapur. Dengan sangat panik Slaine berlari menuju dapur. Menuruni dua bahkan tiga anak tangga sekali langkah.
"Apa? Orenji kau kenapa?" tanyanya panik saat mendapati Inaho tengah berjongkok di salah satu sudut dapur
"Hei lihat. Aku ternyata berbakat dalam seni. Liat cupcake buatanmu? Aku menghiasnya seperti ini. gambarnya mrip aku dan kau kan Bat?"
"Ku.. Ku kira kau.. kau kenapa-napa Ahorenji.. hiks"
"Bat.. jangan menangis. Hei aku baik-baik saja" ucap Inaho panik mendekati Slaine masih dengan memegang dua buah cupcake hiasannya. Dengan sekali sambar Slaine mengambil satu cupcake bergambar Inaho, dan memakannya seperti orang kesetanan. Slaine ingin menunjukkan bahwa saat ini dirinya sangat amat marah kepada Inaho, dan melampiaskan kemarahannya dengan memakan 'wajah' Inaho di cupcake itu.
"Tidak kusangkan kau sangat menyukaiku Bat. Cuuuuu" bukannya takut yang dirasakan Inaho seperti yang diharapkan Slaine. Inaho malah bahagia melihat Slaine memakan 'wajahnya' dengan santao mengecup pipi Slaine yang belepotan dengan krim cupcake lalu mengacak rambut si surai pirang yang masih terdiam karna bingung dengan apa yang baru saja terjadi.
"HARUSNYA KAU TAKUT AHORENJIIIIIII!" teriak Slaine, sementara Inaho hanya menutup mulutnya dengan punggung tangan berusaha menahan tawanya melihat tingkah anak didiknya.
~TBC~
OWARI
Jadi chapter ini kebanyakan inspirasi dari liat fanart-fanart yang bertebaran. Seperti yang kita tau bulan ini fanart InaSure itu dipenuhi dua gambar cupcake sama syal, makanya chapter ini masukin syal sama cupcake itu karna masih diliputi perasaan bahagia tiap liat fanart bertebaran tentang cupcake sama syal hahahaha.. see di chapter berikutnya
