The Beginning of My Love Life

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Story by: VieRichelyn17

Summary:

Dalam 21 tahun kehidupanku, aku tidak banyak memiliki pengalaman cinta. Kehidupan cintaku biasa-biasa saja, tak ada yang spesial. Yah, itu karena... aku masih belum bisa melupakan cinta pertamaku. Cinta pertama yang tidak pernah kuharapkan dan datang disaat yang tidak terduga. Cinta pertama yang rumit.

Warning: Abal, gaje, OOC, absurd, typo, and many more.

Preview:

Aku menghembuskan nafas perlahan. Menetralkan detak jantungku yang sudah melaju cepat tak beraturan. Aku kembali menatapnya. Lelaki berambut raven dengan iris onyx tajamnya. Lelaki yang selalu menghuni pikiranku selama 7 tahun ini.

"Hey, How are you, Sasuke-kun?"

Chapter 4: Secret

Happy Reading :D

Kalian tahu perasaan apa yang paling menyenangkan di dunia ini? Jatuh cinta kah? Perasaan terbalas kah? Bagiku, perasaan yang paling menyenangkan adalah ketika kau bertemu dengan seseorang yang ingin sekali kau temui.

Pernahkah kalian mendengar atau membaca kutipan ini?

Semakin lama kau tidak bertemu dengan orang yang ingin kau jumpai, semakin bahagia pula jika kau bertemu dengannya.

Ya. Inilah yang sekarang kurasakan. Perasaan bahagia yang meluap-luap. Aku sendiri bahkan tidak bisa menghentikannya.

Tidak bisa dan tidak mau.

"Hey, How are you, Sasuke-kun?" Hanya kalimat itu yang bisa kuucapkan.

Aku menatap wajahnya. Ia tampak terkejut melihatku. Mungkin ia sama sekali tidak mengira akan bertemu denganku setelah sekian lama disini. Di tempat ini. Di tempat ia menyakiti hatiku untuk pertama dan terakhir kalinya.

"Sakura..." Sasuke terlihat tidak bisa berkata-kata.

"Sudah lama sekali ya, Sasuke-kun? Hmm... berapa lama, ya? Ah! Sudah 7 tahun." Aku pura-pura tersenyum senang sambil berpikir mencoba mengingat-ingat. Padahal aku selalu menghitung setiap hari yang tidak kulalui bersamanya. Mana mungkin aku tidak ingat.

Sasuke tidak membalas ucapanku. Tatapannya sendu.

Aku yang masih melebarkan senyumku, perlahan menunduk.

Ah.. aku bahkan tidak tahu apa aku harus menangis atau tidak.

"Sakura." Aku menoleh saat namaku dipanggil.

Dihadapanku kini, Sasuke sudah tersenyum kecil.

"Kabarku baik. Bagaimana denganmu?"

Aku terdiam. Bukan karena Sasuke yang menjawab pertanyaanku, tetapi karena tatapannya. Tatapan sendunya masih belum hilang dari wajah tampannya. Walau ia tersenyum, sinar matanya terlihat sendu.

"Aku juga baik, Sasuke-kun." Aku memutuskan untuk menjawab pertanyaannya.

Kami terdiam. Sejak pertanyaan yang saling menanyakan kabar selesai dijawab, kami sudah tidak tahu harus mengobrol apa lagi. Ini terlalu mendadak. Aku tidak menyangka kami akan bertemu kembali di tempat ini.

Kami hanya saling menatap kedalam iris sang lawan bicara masing-masing. Emerald dan Onyx.

Onyx yang menenggelamkan itu, seakan membuatku melupakan kenyataan kalau lelaki di hadapanku ini pernah membuat hatinya sakit. Aku seakan lupa akan fakta itu. Onyx itu terlalu dalam, sampai aku tenggelam ke dalamnya.

"Nee... Sasuke nii, Neechan." Suara Obito menyadarkanku dari menatap dalamnya onyx itu. Sasuke ikut menoleh menatap adik sepupunya itu.

"Apa Sasuke-nii dan neechan ini saling kenal?" Tanya Obito polos sambil menatap Sasuke dan aku bergantian.

Sasuke menatapku sebentar. "Ya, kami saling kenal. Kami satu kelas dulu."

Obito menatapku. "Hee.. Benarkah? Kalau begitu kebetulan sekali, neechan." Bocah bersurai hitam itu menatapku dengan mata berbinar.

"Memangnya kenapa, Obito-kun?" Tanyaku bingung melihat keantusiasan Obito.

"Rencananya aku dan Sasuke-nii akan berkeliling Tokyo hari ini, sebagai hukuman karena Sasuke-nii sudah lama tidak pernah mengajakku jalan-jalan lagi." Di bagian ini Obito mendelik kesal pada Sasuke yang dibalas dengan tatapan cengo dari Sasuke. Aku terkikik geli melihat kedua uchiha ini.

"Terus aku juga ingin mengajak neechan ikut dengan kami karena kebetulan kalian juga saling kenal. Jadi ini sebagai ucapan terima kasih untuk neechan yang sudah mau membantuku saat aku tersesat tadi." Ucap Obito dengan senyum berseri-seri.

Aku sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan bocah ini. Untuk seukuran bocah seusianya, Obito termasuk anak yang pandai berbicara. Dia bahkan tak sungkan berbicara santai denganku yang notabene baru bertemu dengannya sekali.

"Nee-chan tidak keberatan kan?" Tanya Obito ketika melihat aku hanya terdiam.

Aku kembali menatapnya. "A-ehm.. Aku sebenarnya masih ada pekerjaan untuk kuselesaikan." Aku tidak bohong saat mengatakan ini. Memang tugasku sedang banyak-banyaknya, apalagi ditambah dengan deadline yang tinggal sebentar lagi.

Mendengar jawabanku, Obito terlihat murung. "Yahh..."

Aku semakin tidak tega ketika Obito semakin menundukkan kepalanya sambil mengerucutkan bibirnya.

"Hei, Obito-kun. Aku memang benar-benar tidak bisa pergi, setidaknya hari ini. Tapi aku janji bakal ngajak Obito jalan-jalan lagi kapan-kapan. Gimana?" Aku memberikan tawaran yang bagus. Buktinya Obito sudah tersenyum sumringah ke arahku.

"Benarkah?"

Aku mengangguk.

"YATTA!!" Aku sedikit terkejut mendengar seruan Obito. Tapi sedetik kemudian aku sudah tersenyum kecil.

Aku menaikkan pandanganku lagi, menatap Sasuke, yang ternyata juga sedang menatapku.

Aku tidak tahu apa yang ada dipikirannya saat ini. Mungkin bukan pada saat ini juga. Dari dulu lelaki itu memiliki pemikirannya yang tidak bisa ditebak. Aku tidak pernah tahu apa yang ada di pikirannya selama ini. Apa saja yang selalu dipikirkannya.

Tak mengerti dengan arti tatapan Sasuke, aku hanya terdiam. Balas menatap.

Tapi sedetik kemudian, raut membingungkan itu berubah. Sasuke tersenyum, menatapku tulus.

Dan seketika itu, entah kenapa aku bisa mengetahui apa yang ada di pikirannya.

Aku menaikkan sudut-sudut bibirku. Balas tersenyum.

"Sama-sama, Sasuke-kun."

~oOo~

Ino berjalan di sepanjang lorong gedung berinterior seni dengan langkah cepat. Gadis bermarga Yamanaka itu tak henti-hentinya berkomat-kamit, mengatakan hal yang sama berulang-ulang.

"Semoga belum terlambat, semoga belum terlambat..."

Dengan langkah yang semakin berat dan nafas yang terengah, Ino terus melanjutkan langkahnya. Ia bahkan tidak mau berhenti meskipun ia bisa. Ia tidak peduli dengan nafasnya yang sudah dingin, ia tidak peduli dengan tatapan orang-orang, ia tidak peduli dengan apapun. Ia hanya ini bertemu dengan orang itu.

Dan demi bertemu orang itu, ia akan terus berlari walau kakinya akan patah karena sudah berlari sejauh itu.

Ino memutar kembali kejadian dua jam lalu yang membuatnya berlari dari tempat kerjanya sampai disini.

"Hei Yamanaka-san, apa kabar?" Ino membalikkan tubuhnya, menatap lelaki yang menyapanya.

"Uzumaki-san?"

"Ya, ini aku. Masih ingat? Aku sahabat Sai sejak kecil. Kita pernah bertemu di acara seminar seni sebulan yang lalu." Kata seorang pria yang bermarga Uzumaki itu.

"Ah ya, benar. Uzumaki Naruto-san bukan?" Tanya Ino lagi, sekedar menanyakan kembali.

"Yap. Tapi kau tidak perlu seformal itu padaku, Yamanaka-san. Kau bisa memanggilku Naruto kalau kau mau." Kata lelaki yang bernama Naruto itu. Ia kini sudah memamerkan senyum rubahnya yang sudah menjadi ciri khasnya.

"Ah, kalau begitu mulai sekarang akan ku panggil Naruto, dan kau juga bisa mulai memanggilku Ino." Kata Ino sambil tertawa kecil.

"Eh, bolehkah?"

"Tentu saja. Aneh kan kalau hanya aku yang memanggilmu dengan nama depanmu, sedangkan kau tetap memanggil nama belakangku?"

"Ah ya, benar juga. Kalau begitu Ino saja ya."

Ino mengangguk sambil tersenyum kecil. Ia memperhatikan Naruto yang saat ini memakai kaus putih dilapisi jaket oranye-hitam. Sepertinya ini sudah menjadi ciri berpakaian Naruto, karena Ino juga melihat Naruto hanya memakai pakaian santai, meskipun ia sedang melakukan seminar.

"Oh ya, ngomong-ngomong Ino, kau pasti sedang sedih ya? Teruslah semangat, Ino. Dia pasti akan kembali tidak lama lagi." Naruto menepuk pelan pundak kiri Ino dengan tangan kanannya.

Ino mengernyit. "Kenapa... aku harus sedih?"

Sekarang giliran Naruto yang bingung. "Bukankah kau sedih mendengar bahwa Sai akan pergi ke Itali dua minggu lagi?"

DEG

A-apa? Di-dia akan pergi? Dua minggu lagi?

"Sa-sai bilang padamu kalau dia akan pergi ke itali dua minggu lagi?" Ino tidak bisa menahan air matanya yang langsung turun membasahi pipinya.

"Ya, dia bilang padaku kalau dia aka- tunggu, jangan-jangan... kau tidak tau?" Naruto terperajat melihat air mata yang sudah mengalir deras di kedua pipi Ino.

Ino menggeleng. Dengan masih sesenggukkan, ia terus menggeleng. Memberikan pernyataan kalau ia tidak tahu.

Naruto semakin bingung. Di satu sisi, ia tidak tahu kalau Sai dan Ino sedang ada masalah. Di sisi lainnya, ia tahu kalau Sai akan pindah kerja ke Itali dua minggu lagi. Dan sekarang ia tahu kalau sabahatnya itu tidak mengatakan apa-apa pada pacarnya sendiri. Ada apa ini?

Naruto mengangkat wajah melihat Ino yang masih menangis. Melihat kondisinya sekarang, pemuda pirang itu langsung tahu kalau ada masalah dengan hubungan sahabatnya dan gadis di depannya ini. Karena bukan hanya Ino yang seperti ini, Sai pun juga. Hanya saja pemuda itu lebih merahasiakan perasaannya dari siapapun.

Naruto menghela nafas. Sekarang apa yang harus ia lakukan? Ia terlanjur mengatakan kepada Ino kalau Sai akan pergi. Dan sekarang apa? Naruto bisa melihat dengan mata kepala sendiri, kalau mereka tidak mungkin ingin berpisah.

"Ino, hapus air matamu dan lihat aku." Naruto memegang kedua pundak Ino. Membuat Ino mendongakkan kepalanya menatapnya.

"Sai merahasiakan tentang kepergiannya, mungkin karena dia gak mau kau menangis seperti ini." Kata Naruto sambil tetap memegang kedua pundak Ino.

Ino yang mendengar perkataan Naruto, berhenti sesenggukkan.

Melihat Ino yang mulai tenang, Naruto melanjutkan. "Sai itu tipe orang yang tertutup sama orang lain. Aku bahkan tidak tahu kau ia tidak memberitahumu. Dan sekarang aku yakin ada masalah diantara kalian."

"Karena itu, Ino. Tolong temui dia sekarang. Aku tidak tahu masalah kalian tapi selesaikanlah masalah kalian sebelum dia pergi. Mungkin kepergian Sai akan sulit untuk dicegah karena ia sudah membuat kontrak, tapi setidaknya tidak ada masalah lagi di antara kalian." Naruto terdiam sejenak lalu kembali melanjutkan. "Jadi sekarang temui dia, bicara baik-baik, dan selesaikan masalah kalian. Jangan ada penyesalan, Ino."

Di detik selanjutnya, Naruto melepas pegangannya terhadap kedua pundah Ino. Membiarkan gadis bermarga Yamanaka itu berlari secepatnya.

Ino menghentikan larinya ketika sampai di depan sebuah pintu dengan tulisan 'Directur Executive'. Dia memantapkan hatinya sejenak, lalu memberanikan diri untuk mengetuk pintu berwarna coklat muda itu.

Tangan Ino terangkat, ingin mengetuk pintu. Tapi baru saja ia ingin mengetuk, pintu sudah dibuka dari dalam.

Ino terkejut melihat orang yang berada di balik pintu begitu pintu sudah terbuka sepenuhnya. Begitupun orang itu.

"I-ino, apa yang kau lakukan disini?" Sai menatap Ino kaget.

Ino hanya diam. Ia menunduk.

"Ino.."

"Kenapa kau tidak bilang padaku kalau kau akan pergi ke Itali dua minggu lagi?" Ino segera mendongakkan kepalanya menatap pemuda di hadapannya. Tatapan Ino begitu tajam, sampai menembus manik hitam Sai.

Berbeda dengan Ino yang menatap Sai tajam, pemuda itu membelalakkan matanya. "Bagaimana kau bisa tau?"

Ino mendengus. "Apa itu penting sekarang?"

"Ino... gomen... aku tidak ingin melihatmu sedih karena kepergianku." Jelas Sai sambil menunduk. Tak berani menatap manik aquamarine yang kali ini menatapnya nanar. Tak ada lagi tatapan tajam di kedua manik secerah biru laut itu. Hanya ada manik yang terluka.

"Aku tak peduli meskipun kau ingin ke Itali. Aku tak peduli meskipun kau tidak ingin bertemu denganku lagi. Tapi setidaknya jangan meninggalkanku tanpa mengatakan apapun." Ino kembali terisak. Ia tidak bisa menahan perasaan sakit di hatinya saat ini.

"Ino..." Sai mengangkat wajahnya menatap manik aquamarine di hadapannya.

Jadi Ino tidak membencinya. Ia tidak membenci keputusannya untuk pindah ke Itali. Dari awal gadis itu tidaj pernah membenci apapun dalam dirinya.

Sai tidak bisa menahan dirinya lagi. Ia menarik Ino ke dalam dekapannya. Memeluk gadis itu seakan dunia akan runtuh tak lama lagi.

Ino tidak bisa membalas pelukan Sai. Tubuhnya bergetar di dalam pelukan Sai. Ia tidak mau melepasnya. Selamanya. Tidak akan.

"A-aku i-ingin selalu seperti ini. Se-seperti ini... hangat." Ino semakin membenamkan kepalanya ke dada Sai. Mencari kehangatan sebanyak-banyaknya.

Sai tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya diam sambil terus mendekap kekasihnya. Kekasih yang sangat amat ia sayangi. Kekasih satu-satunya di hidupnya.

~oOo~

Aku merentangkan kedua tanganku keatas. Merenggangkan kedua bagian tubuh tersebut yang sudah hampir setengah hari melakukan pekerjaannya. Aku kini tersenyum puas melihat naskah terbaruku yang ku yakini sudah bisa kuserahkan ke tim penerbit dan editor besok pagi.

Aku melihat jam dinding yang tergantung di kamarku. Sudah pukul 11 malam. Ino pasti sibuk sekali dengan pekerjaannya sampai belum pulang juga.

Aku membereskan hasil pekerjaanku lalu langsung memasukkannya ke file. Aku berjalan ke arah tempat tidurku, berniat ingin istirahat setelah seharian penuh berusaha mencari ide untuk naskahku.

Baru saja aku hendak memejamkan mataku, ponselku bergetar. Menandakan ada pesan yang masuk.

Aku meraih ponselku yang kuletakkan di nakas sebelah tempat tidurku.

Begitu aku selesai mengetik password di ponselku, aku segera membuka aplikasi e-mail.

From : Sasuke

Aku segera melompat duduk. Dari Sasuke? Hah, benarkah?

Aku membuka pesan yang berada di paling atas itu.

'Sakura oneechan. Arigatou karena sudah berjanji akan mengajakku berjalan-jalan suatu saat nanti. Aku menantikannya ya... Oyasumi, Sakura-nee.'

Aku langsung tersenyum kecil begitu selesai membaca keseluruhan pesan itu. Yang mengirim pesan ini ternyata bukan Sasuke, tapi Obito.

Aku ingat tadi sempat memberikan nomor ponselku kepada Sasuke karena Obito bilang ia belum punya ponsel, jadi jika aku ingin mengajaknya jalan-jalan, aku bisa mengirimkannya ke ponsel Sasuke.

Aku menggerakkan jari-jariku untuk mengetikkan balasan.

'Iya sama-sama, Obito-kun. Neechan juga sudah tidak sabar untuk segera menghabiskan waktu bersamamu. Oyasumi, Obito-kun. Sampai ketemu lagi.'

Aku terdiam sejenak menunggu balasan darinya. Tapi setelah menunggu lama, tak ada satu pun balasan dari Obito.

"Mungkin dia sudah tidur..."

Aku menaruh kembali ponselku ke atas nakas. Membaringkan tubuhku kembali lalu memejamkan mata.

Sembari tersenyum lebar mengingat kejadian hari ini.

~oOo~

Sasuke terdiam menatap ponselnya lama. Ada dua pesan yang sekarang menjadi tampilan depan layar ponselnya.

Yang pertama sudah dapat dipastikan, terkirim oleh ponselnya.

Yang kedua terkirim oleh Sakura.

Sasuke membaca pesan yang kedua.

'Iya sama-sama, Obito-kun. Neechan juga sudah tidak sabar untuk segera menghabiskan waktu bersamamu. Oyasumi, Obito-kun. Sampai ketemu lagi.'

Sasuke mengalihkan pandangannya kearah Obito yang sudah terlelap di atas kasurnya. Lalu kemudian ia kembali menatap pantulan dirinya di cermin depannya.

Sasuke mendengus pelan.

"Dasar pengecut."

To be Continued...

Author's note: Chap ini lebih fokus ke Ino-Sai. Maklum ya, Author udah ngebet pengen buat adegan baper buat mereka. Kalo buat SasuSaku bisa nanti, hehehe. Sekian dulu buat chap ini, silahkan ditunggu updatetan selanjutnya. Arigatou minna-san...