BANANA KISS

Oleh

Vanilla Sky

Wayang

Kelinci gembul PMS

Beruang cokelat merana

Tetua BTS linglung

Genre

Manis; Manja; MESUM

Rated

AWAS!

Jung Kook mengajak Tae Hyung berlibur di rumahnya; kawasan Busan. Dulu, saat manajer mereka memberikan jeda liburan chuseok, Tae Hyung yang mengajak Jung Kook ke Daegu. Dan sekarang giliran si kelinci gembul yang membawa beruang cokelat kesayangannya ke tanah kelahirannya.

Mereka naik kereta bawah tanah sebagai sarana transfortasi untuk menuju Busan. Tidak terlalu jauh memang, dan Tae Hyung merasa senang karena Jung Kook tidak malu lagi mengenalkan dirinya pada keluarga besar di Busan.

"Hyung tidak lupa, kan, dengan hadiah yang kuminta jika aku legal? Dan sekarang aku sudah dua puluh tahun."

Tae Hyung mengangguk, tapi tidak mengatakan apa pun. Ini tentang permintaan Jung Kook yang aneh menurutnya. Sebuah ciuman. Itu memang sering dilakukan olehnya dan Jung Kook, hanya saja, media yang dipakai saat ciuman nanti justru membuat Tae Hyung merinding.

Banana kiss, di mana pisang yang akan menjadi perantaranya. Ya Tuhan, sebenarnya kelinci kesayangannya itu mendapat ide darimana?

"Kalau ketahuan Ayah atau Ibu bagaimana, Kook?"

Jung Kook mengangkat kepalanya yang sejak tadi menyandar di bahu Tae Hyung. "Kita tidak akan melakukan itu di rumah, Hyung."

"Lalu?"

Jung Kook tersenyum, kemudian berbisik ke telinga Tae Hyung. "Cari saja penginapan."

"Dan itu artinya kau mau aku kelepasan dan berbuat hal yang lebih dari sekadar ciuman, Jeon Jung Kook."

Jung Kook meringis. Memangnya kenapa jika mereka melakukan hal yang lebih dari itu? Bukankah Jung Kook juga sudah legal? Yoon Gi bilang rasanya seperti terbang di atas awan. Sakit memang awalnya, tapi, buktinya Yoon Gi dan Ji Min sering melakukannya. Jeon Jung Kook, kenapa pikiranmu mesum sekali?

"Hyung, kenapa sepertinya kau selalu menghindari obrolan kita jika menyangkut seks?" tanya Jung Kook polos. Seseorang, bisakah menyumpal mulut frontal, Jung Kook?

"Bisakah kita tidak membicarakan hal ini di tempat umum?"

Jung Kook langsung diam saat ekspresi Tae Hyung berubah dingin.

"Ini makanan kesukaan Jung Kook, Tae."

Ibu Jung Kook memberikan sesendok daging berbumbu gulai pada Tae Hyung. Saat ini, Tae Hyung sedang dijamu makan malam oleh Ibu Jung Kook. Duduk bersama keluarga Jung Kook di ruang makan, membuat Tae Hyung seperti makan malam bersama keluarganya. Bedanya, Jung Kook di sini adalah anak paling kecil, sementara dirinya adalah yang tertua.

"Gulai buatan Ibu juaranya, Hyung," ucap Jung Kook saat Tae Hyung memasukkan nasi dan gulai daging itu ke mulutnya.

"Ini sangat enak. Terima kasih untuk jamuan makannya, Bu," kata Tae Hyung sopan.

"Anggap saja itu untuk membalas semua kebaikan Tae Hyung karena sudah menjaga Jung Kook kami dengan baik."

"Ini memang sudah tugas Tae Hyung, Yah."

Jung Kook merasa jika kebahagiaannya benar-benar lengkap sekarang. Keluarga yang utuh, serta kehadiran Tae Hyung yang membuat hidupnya terasa berbeda.

"Katanya besok kalian akan pergi ke pantai?" itu kakak laki-laki Jung Kook yang bertanya.

"Benar, kami akan berlibur untuk beberapa hari di sana. Apa Hyung mau ikut?" tawar Tae Hyung.

"Tentu saja tidak. Aku juga akan pergi dengan temanku besok untuk berkemah."

"Bu, apakah kami boleh pergi besok?"

"Tapi, apakah Jung Kook tidak akan merepotkan?"

Jung Kook mengerucutkan bibirnya saat Ibunya mencoba menggoda.

"Tae Hyung akan pastikan jika Jung Kook tidak akan merepotkan."

"Kalian tentu saja boleh pergi."

Kenapa harus hujan di waktu yang tidak tepat, sih? Jung Kook sudah berkemas sejak tadi subuh. Dan cuaca sepertinya sedang tidak berpihak padanya. Padahal, ia sudah membayangkan liburan di pantai bersama Tae Hyung pasti akan menyenangkan. Membayangkannya saja sudah membuat pipi Jung Kook memanas.

"Ibu dan Ayah kemana, Kook? Kenapa rumah begitu sepi?" tanya Tae Hyung yang baru saja selesai mandi. Rambutnya masih basah, dan si tampan sengaja mendekat ke arah Jung Kook yang sedang menatap titik air yang jatuh dari langit melalui jendela kamarnya.

"Hyung rambutmu basah, jangan memelukku," rengek Jung Kook saat Tae Hyung dengan sengaja memeluk dirinya dari belakang.

"Habisnya aku diabaikan. Memangnya apa yang menarik dengan hujan, sih?"

Jung Kook terkekeh, lantas tangannya mengusap lengan Tae Hyung yang melingkar di perut landainya. "Hujan itu anugerah, Hyung. Air adalah sumber kehidupan paling utama bagi manusia. Jika tidak ada air, semua yang ada di muka bumi ini akan kering dan mati."

"Kenapa Jung Kook-ku jadi pandai berfilosofi seperti ini, eum?"

Jung Kook terkekeh. "Itu hanya salah satu yang diajarkan oleh guruku saat di sekolah. Oh ya, bagaimana kita ke pantai di hari hujan seperti ini?"

"Kita batalkan saja. Besok sebelum pulang, kita bisa pergi ke pantai sebentar. Bagaimana?"

Jung Kook mengangguk. "Ayo turun ke bawah. Ibu pasti sudah menyiapkan sarapan untuk kita berdua. Ibu tadi pagi bilang akan pergi ke rumah Nenek bersama Ayah. Nenek sedang sakit, jadi untuk beberapa hari mereka akan tinggal di sana."

"Lalu Hyung-mu?"

"Dia juga tadi pagi pamit pergi akan menginap di rumah temannya."

Tae Hyung melepaskan pelukan di tubuh Jung Kook. Membalikkan kelinci gembul yang masih berbalut piyama itu untuk menghadapnya.

Di kecupnya kening Jung Kook cukup lama. Membuat si manis dengan senang hati memejamkan matanya.

"Aku lapar, ayo sarapan," ajak Tae Hyung yang langsung disetujui oleh Jung Kook.

Kedua buntalan besar itu masih sibuk bergelung di bawah selimut dengan cemilan di tangan masing-masing dan film yang sedang mereka tonton. Jung Kook berhasil mencuri koleksi DVD horor milik kakak laki-lakinya; untung saja ia tidak menemukan koleksi DVD porno di antara tumpukan DVD lain. Biasanya ia paling anti dengan film seram. Tapi, sekarang, justru ia yang merengek pada Tae Hyung untuk meminta ditemani.

"Aku ingin minum," kata Jung Kook sambil menyingkap selimut, membuat Tae Hyung menoleh.

Si kelinci manis itu mengobrak-abrik isi kulkas—yang nyatanya hanya ada air dalam kemasan, sekotak telur, dan pisang. Tiba-tiba, ide untuk melakukan itu muncul di benak Jung Kook. Salahkan Yoon Gi yang meracuni Jung Kook dengan teori bahwa ciuman melalui pisang sebagai media itu jauh lebih panas dan menggairahkan.

Jung Kook mengambil pisang dan melupakan acara minumnya. Ia lantas berjalan menuju Tae Hyung. Bergelung kembali bersama beruang cokelat kesayangannya.

"Hyung…" Tae Hyung merasa merinding saat Jung Kook memanggilnya dengan nada manja. Ia menoleh, dan matanya terbelalak begitu melihat Jung Kook mengacungkan sebiji pisang.

"Ayo berikan hadiahku," rengek Jung Kook lagi. Tae Hyung meneguk ludahnya kasar saat Jung Kook mendekatkan wajahnya.

"Kita janji tidak akan melakukan ini di rumah," kata Tae Hyung yang sukses membuat Jung Kook mengerucutkan bibirnya.

"Tidak ada siapa-siapa, Hyung."

Tae Hyung mengeleng. "Tidak, Kook. Aku tidak mau mengambil resiko ketahuan oleh orang di rumahmu."

"Hanya berciuman lagipula, Kim Tae Hyung!" Jung Kook mulai kesal.

"Tapi…"

"Sepertinya aku salah meminta itu sebagai hadiah legalku."

Tamat riwayat Tae Hyung jika Jung Kook sudah mengucapkan itu. Si kelinci mana susah sekali dibujuk jika sedang merajuk.

Jung Kook hendak meninggalkan Tae Hyung ketika tangannya ditarik secara tiba-tiba. Menyebabkan ia terjatuh menimpa Tae Hyung.

"Aku takut kelepasan dan justru menyakitimu, Kook."

"Kita sudah sering membahas ini kurasa. Jika Hyung merasa keberatan, aku tidak akan memaksa."

"Jadi, apa yang harus aku lakukan dengan pisangmu ini, Babe?"

Seketika senyum manis menghiasi paras cantik Jung Kook begitu Tae Hyung melontarkan sebuah pertanyaan yang membuatnya merinding tak karuan.

"Kau bisa kupas kulitnya lebih dulu, Hyung."

[TBC]

P.S : Ini udah cukup jelas ya Vanilla rasa, jadi tinggal penjelasan di cerita selanjutnya kenapa bokong Dek Kook sampe memar dan luka terimakasih banyak buat yang sudah singgah sejenak di lapak Vanilla