Sasuke menggeliat tidak nyaman saat lengan Naruto secara tidak sengaja memeluknya terlalu erat hingga ia sulit bernapas.

"Tsk," decaknya malas, mengerjap beberapa kali sebelum menepis tangan si pirang.

"Nhh, Teme, ini masih pagi. Tidur lagi saja," protes Naruto.

"Aku harus kembali ke sekolah," jelas Sasuke, mencoba bangkit dari atas kasur. Namun dengan cepat Naruto menahannya.

"Aku akan mengantarmu, jadi cium aku dulu," pinta Naruto mengecup pinggang Sasuke, hingga membuat pemuda berkulit pucat itu lagi-lagi tersentak kaget.

"Tidak perlu," tolak Sasuke.

"Kasar sekali," cibir Naruto pelan, "padahal semalam kau terlihat sa—"

"Berhenti mengatakan kalimat itu, Dobe!" sergahnya dengan wajah memerah. "Aku harus cepat kembali ke sekolah, tas, uang, dan mobilku semuanya masih ada di sana."

"Ada di garasi," gumam Naruto

"Huh?" Sasuke mengernyit tidak paham.

"Semuanya ada di dalam garasi, aku sudah meminta mereka membawanya ke sini," jelas si pirang.

"Mereka?"

"Asistenku, Teme," ada jeda sesaat, "lagipula ini weekend, untuk apa kau ke sekolah?" lanjut Naruto, menarik tubuh Sasuke kembali ke dalam pelukannya.

"Dobe, yang benar saja! Lepaskan aku!"

"Kita sepasang kekasih, kau ingat? Kau sendiri yang mengatakannya," ungkap Naruto, mengendus aroma mint yang berasal dari leher pucat jenjang itu.

"Berhenti mengingatkanku hal itu," protes Sasuke, mendorong wajah si pirang menjauhi tubuhnya.

"Ow! Ow! Ow!" teriak si pirang, baru saja hendak membalas perlakuan Sasuke dengan ciuman, tiba-tiba saja terdengar ketukan yang berasal dari arah pintu

"Sarapan sudah siap, tuan."

Naruto menghela napas, lalu bangkit dari atas kasur. "Menganggu saja," ujarnya mengenakan pakaian yang ia pungut dari lantai.

Sasuke ikut mengumpulkan bajunya dari atas lantai, hendak mengenakannya kembali, tetapi Naruto mencegahnya.

"Apa kau yakin akan mengenakan pakaian seperti itu? Seragam kusut dan kotor, bahkan ada bercak sperma di sana."

Sasuke diam, menurutnya perkataan Naruto benar adanya.

"Bersihkan tubuhmu, dan pilih saja sesukamu baju yang ada di lemari," ujar si pirang, "dan aku akan menunggumu di bawah," lanjutnya mengacak lembut surai hitam Sasuke.

"Hn," gumam Sasuke datar, memperhatikan Naruto yang melangkah menjauhinya. Tidak habis pikir jika pria bersurai pirang itu adalah kekasihnya saat ini hanya karena keputusan bodoh yang diambilnya semalam.

.

"Dobe, selera bajumu sangat buruk."

Naruto menoleh, menatap ke arah Sasuke di belakangnya mengenakan kemeja hitam, dan celana jeans hitam mililknya.

"Setidaknya, tidak ada bercak spe—"

"Diam kau!" potong Sasuke, mengacungkan pisau yang berada di atas meja.

"Whoa! H-hey ... hey! T-teme, itu bisa sangat berbahaya, kau tahu?"

"Jangan pernah membicarakan hal itu lagi, atau kubunuh kau," ancam Sasuke datar, tetapi Naruto tahu jika garis keturunan Uchiha yang satu itu sungguh-sungguh dengan apa yang ia ucapkan.

"B-baiklah," sahut Naruto tersenyum kaku, "k-kau tidak makan, Teme?"

"Aku tidak lapar."

"Uh ... tomat?"

Sasuke mulanya menolak karena harga dirinya mengatakan 'tidak', tetapi saat perutnya berbunyi, malu-malu ia meraih mangkuk berisikan benda bulat merah itu dari tangan Naruto.

"Habiskan, ya. Aku mau mandi dulu."

"Hn," gumam Sasuke tidak peduli.

Asik melahap tomat kesukaannya, tiba-tiba saja ia dikagetkan oleh seseorang yang berdiri di sebelahnya.

"S-siapa kau?" tanya Sasuke, dengan mulut penuh tomat.

"Aku Tsunade, kepala pelayan di rumah ini." Wanita paruh baya itu membungkuk sopan.

"Aku Sasu—"

"Uchiha Sasuke? Kekasih tuan Naruto, bukan?" potong Tsunade.

"K-kau tahu?"

"Tuan Naruto memberitahuku tadi pagi. Dia yang menyuruhku untuk mempersiapkan ini semua," jelasnya menunjuk ke arah semangkuk tomat, di tangan Sasuke.

"Tsk, si Dobe itu," geram Sasuke, dengan wajah memerah sempurna.

"Tsunade, ada seseorang yang mencari anda," ujar salah seorang pelayan wanita, berjalan mendekati ke arah mereka.

"Baiklah, Sasuke aku permisi dulu," ujar Tsunade, membungkuk sopan sebelum berjalan meninggalkan ruang makan.

"Tuan Uchiha."

Merasa namanya dipanggil, Sasuke menoleh ke arah pelayan wanita di hadapannya, yang berani mengganggu kegiatan asiknya dengan tomat.

"Kau kekasih tuan Naruto yang baru?" tanya pelayan itu menyelidik.

"Apa urusanmu?" ketus Sasuke, balik bertanya dengan raut wajah tampak tidak senang.

"Sebenarnya tidak ada, hanya saja wajahmu mengingatkanku pada seseorang," ujar pelayan itu.

"Maksudmu?" tegas Sasuke.

"Hm, entahlah. Aku ragu ingin memberitahumu tentang hal ini, tetapi sebelumnya tuan Naruto pernah menjalin hubungan khusus dengan Sai," jelas pelayan itu.

"Sai?" tanya Sasuke, "vokalis band itu?"

Pelayan itu merespon dengan menganggukkan kepalanya.

"Jadi, gosip itu benar," gumam Sasuke.

.

"Lihat wajahnya itu," ujar Sakura pada Hinata dan Neji sambil menunjuk ke arah Naruto.

"Dia sepertinya sangat bahagia," ujar Hinata.

"Hey, Naruto! Kau sedang jatuh cinta, ya?" tanya Neji, setengah berteriak.

"Apa urusan kalian?" ujar Naruto balik bertanya, sambil menjulurkan lidahnya.

"Kau tidak menyembunyikan sesuatu dari kami 'kan?" Sakura memincingkan matanya.

"Aku ... tidak menyembunyikan apa pun," ujar Naruto, melirik sekilas ke arah mobil milik Sasuke.

"Kau, yakin?" Neji menatap tidak percaya.

"Kau tidak berbohong 'kan Naruto?" timpal Sakura.

"Berbohong itu tidak baik, Naruto," lanjut Hinata.

"Uh, itu ... a—"

"Naruto! Scene 42!"

Jika saja saat itu Kakashi tidak memanggilnya, Naruto yakin, Sasuke tidak akan mengampuninya lagi.

"Kalian dengar itu? Sekarang giliranku," ucapnya melangkah mundur, menjauhi 3 orang yang kini tengah memandang aneh ke arahnya.

"Aku yakin Naruto menyembunyikan sesuatu," desis Sakura.

"Sepertinya begitu," timpal Neji.

"Neji, Sakura, tidak baik mencampuri urusan orang lain," ucap Hinata, menggelengkan kepala.

"Hinata! Ini bukan mencampuri, tetapi mencari tahu!" jelas Sakura dengan seringai di bibirnya.

"B-benarkah?" tegas Hinata.

"Itu benar, Hinata," jawab Neji mencoba meyakinkan.

"Baiklah! Kalau begitu aku akan membantu kalian!" ujar Hinata, dengan senyuman manis di bibirnya.

"Bagus!" balas Sakura semangat, memeluk Hinata erat dengan kedua tangannya.

"Hey, bukannya itu Sasuke?" Neji menunjuk ke arah mobil yang terparkir cukup jauh dari tempat duduk mereka.

"Benarkah? Aku tidak bisa melihatnya, tidak jelas." ujar Sakura.

"Lihat baik-baik, siapa yang duduk di kursi pengemudi!"

"Bukankah, Naruto dan Sasuke sedang bertengkah saat ini?" sela Hinata.

"Kau benar, lalu apa yang dia lakukan di sini?" selidik Sakura, menatap secara bergantian ke arah Hinata dan Neji.

"Aku tidak tahu," sahut Neji mengedikkan bahunya.

Sakura melangkah ke arah meja yang terletak tidak jauh dari posisi mereka, mengambil sebotol minuman isotonik kesukaannya, lalu menenggak habis tidak tersisa.

"Naruto ... Sasuke ... Naruto ... Sasu— Neji!"

"Huh? Aku?" tanya Neji, menatap aneh ke arah Sakura tidak paham.

"Hey, coba kalian pikirkan, bukankah Sasuke mengingatkanmu dengan seseorang?"

"Huh? Siapa?" tanya Neji.

"Mmm ... Sasuke," ada jeda sesaat, "Sai?" Hinata menatap Sakura ragu.

"Benar!" sahut Sakura.

"Sai? Siapa Sai?" Neji menoleh bergantian ke arah Sakura dan Hinata, tampak tidak mengerti maksud kedua wanita cantik di hadapannya.

"Itu, kira-kira 2 tahun yang lalu, kau tidak ada di Konoha saat itu, jelas saja kau tidak tahu," jawab Sakura.

"Sai, adalah mantan kekasih Naruto, ini fotonya," timpal Hinata menyerahkan ponselnya pada Neji.

Neji mengernyit.

"Apa kau memikirkan apa yang kupikirkan?" tanya Sakura.

"Aku tidak tahu Sakura, kurasa Naruto bukan tipe yang seperti itu," jawab Neji.

"Aku setuju, kurasa Naruto memang bukan tipe yang seperti itu," tambah Hinata menganggukkan kepalanya.

"Aku tahu, tetapi ayolah! Apa kalian tidak ingat bagaimana tingkah Naruto saat bertemu Sasuke pertama kalinya?"

"Aku ingat," jawab Hinata.

"Sangat jelas," tambah Neji.

"Um, t-tetapi aku yakin Neji, Naruto bukan ti—"

"Ya, Hinata. Aku tahu, aku juga percaya Naruto bukanlah tipe yang seperti itu," potong Neji.

Sakura mengedikkan bahunya. "Entahlah, sepertinya kali ini aku harus tidak setuju dengan kalian."

.

"Teme," panggil Naruto, mengetuk kaca mobil Sasuke berulang kali.

"Hn?"

"Buka pintunya, aku mau istirahat," jawab Naruto.

"Kenapa tidak di mobilmu saja?" sahut Sasuke.

"Tidak bisa, mobilku hanya memiliki 2 kursi, lagipula kau 'kan ke—"

"Aku tahu!" potong Sasuke, cepat-cepat membuka pintu mobilnya.

Naruto segera merebahkan tubuhnya di kursi penumpang, menggunakan lengan sebagai penyangga kepala, ia menyamankan tubuhnya di sana.

"Teme, kau lapar?"

"Tidak," sahut Sasuke.

"Aku punya beberapa kaleng minuman isotonik, kau mau?"

"Tidak."

"Teme ... kau marah?"

"Tidak dan diam, Dobe! Kau ini mengganggu sekali!"

"Memangnya kau sedang apa?" selidik Naruto.

"Apa matamu buta?" ujar Sasuke balik bertanya.

Naruto memilih untuk diam, Sasuke terlihat tidak ingin diganggu saat ia fokus pada laptopnya, dan ia mencoba untuk mengerti, tetapi saat iris birunya menangkap leher jenjang Sasuke dari balik kursi, ia tidak bisa menahannya lagi.

"Sasuke," panggil Naruto.

"Hn."

"Pindah ke belakang."

"Aku sibuk, Dobe."

"Tsk," ada jeda sesaat, "Sasuke."

"Sasuke."

"Sasuke."

"Sasuke."

"Dobe!" bentak Sasuke.

"Teme."

"Teme."

"Teme."

"Apa maumu?!" Sasuke menutup laptopnya, dan menatap Naruto tajam.

"Pindah ke belakang, aku butuh bantal," gumam Naruto manja.

Sasuke tidak langsung menjawab, ia menatap Naruto curiga sebelum tersenyum sinis. "Aku akan pindah jika kau berjanji tidak menggangguku lagi."

"Baiklah, aku janji," sahut Naruto menyanggupi, dengan seringai khas miliknya.

Sasuke membawa laptopnya, pindah ke kursi penumpang belakang, tepat di sebelah si pirang.

"Ah, akhirnya," desah Naruto lega, saat kepalanya berada tepat di atas paha Sasuke.

"Aku tidak bisa tidur jika tidak ada bantal," ujar Naruto.

"Hn, terserahmu saja, Dobe."

"Kau tidak romantis sekali, Teme," protes Naruto, "padahal aku ini kekasihmu."

"Kau ... sudah kubilang berulang kali untuk tidak mengingatkanku hal itu lagi," sahut Sasuke menatap tajam.

Merasa tidak dipedulikan, dengan sengaja Naruto menggigit ritsleting celana pria berkulit pucat itu.

"D-Dobe! Apa yang kau— Ah!"

"Hanya memberikan sedikit hukuman pada seseorang yang menganggap kekasihnya itu tidak penting." Dengan seringai di bibirnya, Naruto mengecup, dan menjilat pangkal penis Sasuke perlahan.

"Nhh ... D-Dobe," panggil Sasuke terbata.

"Sepertinya hanya tubuhmu yang menganggapku ini benar-benar kekasihmu, Teme," goda Naruto, melahap seluruh penis Sasuke, menghisapnya dengan perlahan, dan sesekali menggigitnya.

"Nhhh—hahhh! Ah!" desah Sasuke, mencengkram surai pirang dengan erat, saat melepaskan cairan hangat itu di dalam mulut Naruto.

"Huh? Secepat itu?" goda Naruto, menjilati sisa sperma yang menetes dari tangannya.

"Brengsek kau, Dobe," geram Sasuke, saat tubuhnya dipindahkan, ke atas pangkuan si pirang.

"Giliranku?" bisik Naruto, tetapi Sasuke menggelengkan kepalanya cepat.

"Tidak hari ini."

"Baiklah." Naruto mengangguk mengerti sambil tersenyum. Ia mengecup bibir pucat Sasuke lembut, lalu mendekap tubuhnya dengan erat hingga Sasuke terlelap di pangkuannya.

.

"Neji."

"Neji?"

"..., Neji!"

"H-huh?" gumam Neji, menoleh ke arah Hinata di sisi kirinya.

"Kau menduduki tas Hinata," ujar Sakura, "apa kau tidak tahu, jika tas adalah jiwa para wanita?"

"Ah ... benarkah? M-maafkan aku," ujar Neji, cepat-cepat bangkit dari atas kursi.

"Neji?" panggil Hinata, menatap khawatir.

Neji hanya diam, menatap wajah Sakura, dan Hinata secara bergantian.

"Hey, kau ... baik-baik saja?" tanya Sakura, menaikkan sebelah alisnya.

"Tadi Naruto yang bertingkah aneh, sekarang Neji," ujar Hinata.

"Ponselku ... tertinggal di mobil," ucap Neji, melangkah cepat-cepat meninggalkan kedua rekan kerjanya yang kini menatap aneh ke arahnya.

"Ada yang aneh," gumam Sakura.

"Aku juga merasakan hal yang sama," timpal Hinata.

"Ah ... lalu di mana si pirang aneh itu?" ujar Sakura, merogoh ponsel dari sakunya untuk mengirimi sebuah pesan singkat untuk Naruto.

"Mungkin, dia sudah pulang?"

"Tidak mungkin, malam ini Kakashi berulang tahun, dan mengajak kita semua untuk minum-minum di barnya."

"Uh ... aku, sepertinya tidak bisa ikut," ujar Hinata takut-takut.

"Apa?! Kau ini sudah cukup dewasa untuk itu, ayolah ikut saja!" paksa Sakura, mencubit gemas pipi Hinata hingga memerah.

"Ow!" teriak Hinata.

"Hey, Sakura, Hinata!"

Keduanya menoleh, ke arah pria bersurai pirang yang saat ini melangkah ke arah mereka.

"Dari mana saja kau?" selidik Sakura.

"Mobil," sahut Naruto santai.

"Uh ... Naruto, kau ikut ke bar nanti malam?" tanya Hinata. Berharap Naruto akan sekubu dengannya.

"Aku tidak biaa menolak ajakan Sakura yang manis ini dan Kakashi yang terhormat Hinata, tentu saja aku akan ikut nanti malam."

"Kau menjijikkan Naruto," cibir Sakura.

"Ah, begitu ya," sahut Hinata lesu.

.

"Kakashi mengundangmu untuk datang ke acaranya."

Sasuke hanya bisa menatap datar ke ponselnya, sambil menaikkan sebelah alisnya.

Baru saja ia kembali ke apartemen selama 5 menit, Shikamaru sudah mengingatkannya tentang hal yang menurutnya tidak penting.

.

"Sakura, sudahlah ... kasihan Hinata."

Naruto memandangi 2 wanita di hadapannya yang kini tengah berlomba menenggak alkohol dari botolnya masing-masing.

"Biarkan saja mereka," timpal Kakashi, melangkah mendekati Naruto dengan beberapa botol baru lainnya di tangan.

"Itu benar," ucap Neji.

"Huh? Bahkan kau membiarkan adikmu sendiri u—"

"Sekali-kali tidak apa-apa," potong Neji.

"Apa Sasuke dan Shikamaru belum datang?" gumam Kakashi pelan, bahkan hampir tidak terdengar karena dentuman musik yang keras.

"Tsk, jika Hinata itu adikku, aku sudah membawanya pulang saat ini!" ujar Naruto.

"Maaf kami telat," ujar Shikamaru, melangkah mendekati Kakashi dengan senyum lebar, diikuti Sasuke di belakangnya.

"Eh? Shika? T-Teme?" ujar Naruto bingung.

"Aku yang mengundang mereka ke sini," jelas Kakashi, memberikan Shikamaru, dan Sasuke beberapa botol minuman.

"Kenapa? Kau tidak suka melihatku?" tanya Sasuke, menyeringai tipis saat ia melangkah menghampiri Naruto.

"Kenapa kau tidak bilang padaku jika kau akan ke sini?" bisik Naruto.

"Aku dipaksa, Dobe." Sasuke balik berbisik.

"Kalian sudah berbaikan?" ujar Shikamaru, berdiri di antara Sasuke dan Naruto dengan gelas berisikan minuman warna hijau di tangannya.

"Su—"

"Belum," potong Sasuke.

Kakashi dan Shikamaru hanya bisa diam, menatap aneh ke arah Sasuke dan Naruto, sedangkan Neji, Hinata, dan Sakura sibuk dengan kegiatan masing-masing.

"Begitu rupanya," gumam Kakashi.

"Ya, sepertinya begitu," timpal Kakashi.

"Kenapa kalian?" tegur Sasuke.

"Tidak," sahut Shikamaru dan Kakashi bersamaan, seraya berjalan beriringan menjauhi pria pucat di hadapannya.

"Kenapa kau berbohong?" bisik Naruto.

"Bukan urusanmu, Dobe!"

"Teme."

"Hn."

"Kau tidak minum?"

"Tidak."

"Benarkah?" Naruto tertawa, "kau memang anak yang baik."

Kesal karena merasa diejek, Sasuke menatap Naruto tajam, lalu merebut botol minuman di tangan Naruto, dan menenggaknya hingga tandas.

"H-hey, pelan-pelan Teme, itu beralkohol tinggi."

"Giliranmu," ujar Sasuke, melempar botol kosong di tangannya ke arah Naruto.

"A-aku?" tegas Naruto gugup.

"Hn."

Botol demi botol ditenggak habis oleh Sasuke dan Naruto, bahkan koleksi botol kosong Sakura dan Hinata yang kini tertidur pulas di salah satu sofa, kalah banyak dengan botol kosong milik mereka.

"Whaa ... lampu itu memiliki wajah sepertimu," ujar Naruto tidak jelas, menatap ke arah lampu yang berkerlap-kerlip di langit-langit ruangan.

"Tsk, dasar Dobe."

"Sasuke ... kau ini kejam sekali ... ini tidak adil! seharusnya kau mengatakannya sejak awal jika kau itu kuat minum," gumam Naruto.

"Hn," gumam Sasuke dengan seringai di bibirnya.

Ia bangkit dari atas sofa, melangkah ke arah toilet di sudut ruangan, untuk membasuh wajahnya dengan air dingin.

"Hey, Sasuke," sapa seseorang dari arah belakang.

"Hn."

"Aku kagum, kau mampu mengalahkan Naruto telak malam ini," ujar Neji, melangkah ke arah wastafel di sebelah Sasuke untuk mencuci tangannya.

"Hn, dia memang pria yang bodoh."

Neji tertawa, "tetapi kau mencintainya 'kan?"

Jantung Sasuke berdegup kencang, tubuhnya mematung menatap Neji yang kini menatap balik ke arahnya.

"Siang tadi, aku melihatmu dan Naruto di mobil," jelas Neji, "tidak perlu terkejut seperti itu Sasuke, aku tidak akan memberitahu siapa pun, hanya saja, jika kau ingin menyembunyikan statusmu ini, berhati-hatilah dengan Sakura, sepertinya ... dia sangat penasaran akan hubungan kalian berdua."

.

Continued