Sehun terus saja memperhatikan jam serta Kris secara bergantian. Bibirnya terus menggumamkan kata seperti 'jangan sekarang', 'semoga setelah sampai di rumah' dan masih banyak lagi yang lainnya.

"Eum, Kris. Bisakah kau memelankan lajunya?"

Kris menaikan sebelah alisnya mendengar ucapan Sehun, dan tanpa banyak bertanya lagi, ia mulai memelankan laju mobilnya. Sambil sesekali menggelengkan kepalanya. Rasa kantuk mulai menyerangnya. Sedikit mencubit pipinya untuk mengembalikan kesadarannya, namun tampaknya tidak memberikan efek apapun. Ia hanya berharap jika mereka berdua sampai di rumah dalam keadaan selamat

Dan sepertinya Tuhan berkehendak lain. Karena detik berikutnya. Tepat pukul 18.00. Kris memejamkan kedua matanya, saat ia tengah melajukan mobilnya.

.

.

.

.

.

CKIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTT TTTTTTTTTTTTTTTTT!

.

.

.

.

.

.

Tittle : Alter Ego

Author : FleursLove

Main Cast :

- Huang Zi Tao as ZiTao/Tao

- Wu Yi Fan as Kris/YiFan

Other Cast :

-Kim Jongin

-Lu Han

-Oh Sehun

Pairings :

-Kris x Zitao – Seme!Kris – Uke!Zitao

-Tao x Yifan – Seme!Tao – Uke!Yifan

Slight :

-Sehun x Yifan – Seme!Sehun – Uke!Yifan

Length : Part - III

Genre : Romance, Comedy, de el el.

Rating : T+ atau mungkin M?

Disclaimer : Cast diatas ada milik Tuhan, orangtua mereka, SMEnt, kecuali TaoRis milik saya..#dibakartaorisshipper. Cerita ini MURNI pemikiran saya, apabila ada kejadian atau persamaan lainnya, saya mohon maaf. Tapi ini MURNI hasil pemikiran saya. SO DON'T PLAGIAT! DON'T COPAS!

Warning: OOC (Out Of Character), Miss Typo(s), Yaoi, Alur cerita yang makin gaje.. Dan masih banyak kekurangan lainnya.. DON'T LIKE! DON'T READ! NO BASHING!

.

.

.

.

.

Happy Reading~

.

.

.

.

.

And the story begin~

.

.

.

.

.

.

Sehun menghembuskan nafas lega, ketika ia mengetahui jika ia telah berhasil mengambil alih kemudi dan meminggirkan mobil Kris ke pinggiran jalan raya. Ia bersyukur karena ia memiliki gerak refleks yang lumayan cepat. Well, sebenarnya siapa yang tidak akan menjadi terlatih jika ia sering mengalami kejadian serupa seperti sekarang ini.

Ini bukan pertama kalinya Kris tertidur ketika ia mengendarai mobilnya. Ini sudah ke—entahlah, Sehun sendiri pun sudah tidak mampu menghitung berapa kali ia hampir mengorbankan nyawanya sendiri hanya untuk mendampingi Kris ketika mereka pulang menjelang malam hari.

Sehun kemudian menjauhkan dirinya dan mulai menyenderkan tubuhnya pada kursi penumpang. Jujur saja, ia lelah. Siapa yang tidak lelah jika hampir setiap hari harus melakukan hal yang sama. Ia seperti mempertaruhkan nyawanya, lima puluh persen kemungkinan ia bisa selamat, dan sisanya, mungkin ia sudah di alam sana bersama pria bersurai pirang itu.

Memejamkan matanya, Sehun berusaha mengatur kembali deru nafasnya yang sedikit tidak teratur. Ia kemudian membuka kembali kedua kelopak matanya dan menatap Kris yang masih memejamkan kedua matanya. Entah kenapa, Kris terlihat begitu..cantik ketika tertidur seperti itu. Memalingkan mukanya ke arah jendela, Sehun mendengus sebal. Apa yang sedang ia pikirkan, sih? 'Brengsek.' Maki Sehun dalam hati.

"Kau baik-baik saja, Sehunnie?"

Oh, bagus. Sekarang sang pelaku sudah sadar rupanya. Begitu mendengar suara berat dari Kris, Sehun segera mengalihkan pandangannya dan melihat ekspresi khawatir yang jelas kentara di paras tampan Kris.

Namun bukannya menjawab pertanyaan dari Kris, Sehun malah mengangkat salah satu tangannya dan menyentil pelan kening Kris. "Kau masih bisa bertanya apa aku baik-baik saja, ketika kau hampir saja—selalu—bahkan membuat diriku celaka, huh?"

Kris meringis mendengar ucapan Sehun. Sambil mengelus keningnya yang terkena sentilan dari pria berambut pelangi tersebut. "Maaf kan aku, Sehunnie." Ujar Kris dengan nada bersalah. "Aku, tidak—"

Sehun segera menutup mulut Kris dengan tangan kirinya dan membuat Kris membulatkan matanya sempurna. Bahkan samar, terlihat rona merah menodai pipinya. "Sshh.. sudahlah. Tidak perlu meminta maaf. Sekarang antarkan aku pulang ke rumah, Yifan." Titah Sehun sambil tersenyum manis dan melepaskan bekapan tangannya, kembali ke posisinya semula. Kini ia mulai melipat kedua tangannya di dada dan memilih memandangi pemandangan di luar jendela mobil Kris. Kris—atau mungkin Yifan, hanya menganggukan kepalanya sekilas, lalu kembali focus menatap jalanan di depannya. Perlahan ia mulai menghidupkan kembali mesin mobilnya, dan mulai melajukannya dengan perlahan.

.

.

.

.

.

.

.

"Terima kasih telah mengantarkanku pulang, Yifan." Sehun membungkukkan tubuhnya dan kemudian tersenyum. Membuat Yifan mengusap belakang lehernya, kikuk.

"Ti-tidak perlu berterima kasih. Harusnya aku lah yang berterima kasih, Karena kau selalu menolongku." Kini Yifan yang membungkukkan tubuhnya dan menatap Sehun dengan malu-malu.

Sehun hanya menggelengkan kepalanya, lalu mengusap lembut helaian rambut Yifan. "Tidak perlu. Kau adalah juga termasuk sahabatku. Jadi itu adalah salah satu kewajibanku untuk menolongmu. Kris dan Yifan. Sama pentingnya untukku."

Rona merah kembali menghiasi paras eum, cantik Yifan. Ia harus mengakui, jika jantungnya sering berdebar tak menentu jika berhadapan dengan pria tampan bersurai pelangi dihadapannya itu. Yifan tak menjawab ucapan Sehun, ia memilih untuk menundukkan kepalanya dan menatap ujung sepatunya. Ia.. menyukai pria itu.

Sehun kini menepuk pelan kepala Yifan. "Sekarang pulang, dan beristirahatlah. Jangan lupa makan malam dulu. Kau pasti lelah, karena tadi Kris berlatih dengan sangat keras." Membuat Yifan semakin menundukkan kepalanya dalam, tak berani menatap wajah Sehun. Ia—tidak tahu harus menjawab apa, hanya anggukkan kepala lah yang menjadi jawabannya.

"Kalau begitu aku masuk ke dalam dulu, ya. Hati-hati di jalan." Sehun kembali tersenyum, ya, walaupun Yifan tidak dapat melihat senyuman di paras tampan Sehun.

Namun baru saja ia membalikkan badan, ia dapat merasakan sebuah tangan menahan pergelangan tangannya. Sehun hanya menghembuskan nafas maklum. Ia sudah terbiasa dengan, eum, sifat Yifan yang seperti itu. Kembali membalikkan badannya, ia hanya menemui Yifan yang masih menundukkan kepalanya.

"Ada apa, Yifan?"

Gelengan. Hanya gelengan kepala yang Sehun dapatkan sebagai jawabannya. Membuat Sehun kembali menghela nafas, maklum. Ia kemudian mengulurkan tangannya dan mengangkat dagu Yifan agar Yifan menatap wajahnya. Kedua pasang mata itu bertemu, saling mengagumi keindahan satu sama lain.

"Ada apa, Yifan? Kau tidak ingin bercerita padaku, eum?"

Yifan kembali diam, namun matanya masih menatap iris kelam Sehun.

"Tidak apa. Aku tidak apa." Jawab Kris. Meski pun terdengar sedikit keraguan di setiap katanya. Benarkah ia, tidak apa-apa?

"Oh, baiklah. Kalau begitu, pulanglah." Sehun kini mendekatkan tubuhnya pada Yifan dan sedikit berjinjit untuk menyamai tingginya dengan Yifan, kemudian mengecup lembut kening Yifan. Membuat Yifan refleks memejamkan kedua matanya. "Hati-hati. Dan maaf, sudah menyentilmu tadi." Bisik Sehun. Lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Yifan yang terdiam terpaku sambil memegangi keningnya yang..dikecup oleh Sehun.

Ia.. tidak sedang bermimpi, kan? Menepuk kedua pipinya pelan lalu menggelengkan kepalanya, berusaha menyingkirkan sekelebat kejadian yang baru saja terjadi. Yifan kemudian melangkahkan kakinya menuju mobilnya lalu pulang ke rumahnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Yifan menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Ia merasa begitu..lelah. Melirik sekilas pada jam weker di meja nakasnya. Ia kemudian menghembuskan nafas. Sudah jam delapan kurang lima belas menit rupanya. Jarak apartemennya dengan rumah Sehun memang lumayan jauh. Namun ia tidak ambil pusing dengan itu semua. Ya, asalkan bisa berdekatan dengan Sehun, itu sudah cukup untuknya. Ya, walaupun Kris, juga dekat dengan Sehun, tapi.. tetap saja, berbeda.

Memegangi perutnya, Yifan mengerucutkan bibirnya. Ia lapar. Seharusnya ia mengingat pesan Sehun tadi. Makan malam. Seharusnya ia tadi mampir saja dulu di restoran sebelum pulang ke rumah. Tapi apa daya, ia melupakan begitu saja, hanya karena Sehun mencium.. keningnya.

Astaga! Demi Tuhan! Yifan langsung terlonjak dari tidurnya begitu mengingat kejadian tadi. Dengan refleks ia kembali menyentuhkan jari-jarinya pada kening yang.. dikecup oleh Sehun. Wajahnya kembali memerah mengingat setiap adegannya. Memang cepat. Tapi tetap saja—ia berdebar-debar.

Kembali menggelengkan kepalanya, Yifan kemudian menepuk-nepuk pipinya dan membuka menutup kembali mulutnya, seperti berusaha menghirup oksigen sebanyak mungkin. Ia kemudian menekankan kedua tangannya ke dada. Tiba-tiba saja ia merasa sesak, begitu membayangkan wajah Sehun. Harus diakui, jika Yifan memiliki sisi cantik dari paras tampannya itu. Yifan kembali tersipu malu. Bahkan kini ia sedikit berguling-guling di kasurnya mengingat setiap detail tubuh Sehun. Suaranya, wajahnya, tangannya.. dan.. bibirnya. Haish, kenapa ia jadi memikirkan itu, sih? Ia.. sepertinya memang jatuh cinta pada pemuda tampan bersurai pelangi itu.

"Hyaa! Apa yang kau bayangkan, Yifan?! Ia tidak mungkin menyukaimu." Ia mengambil sebuah bantal lalu memeluknya dengan erat. Membayangkan jika bantal itu berubah menjadi sosok yang tengah dipikirkannya.

"Tapi.. Ia, kan. Hanya sahabatnya Kris. Hanya—ya, sahabat." Pandangan Yifan mendadak sendu, ia.. merasa sedikit kecewa ketika mengingat ucapan Sehun sewaktu di rumah Sehun tadi.

"Sahabat, ya.." gumamnya lirih sambil menenggelamkan wajahnya pada bantal.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Yifan kini sudah bersiap, ia ingin belanja untuk keperluan makan malamnya. Ia bahkan sudah mandi dan menggunakan pakaian santainya. Tak lupa ia mengenakan kacamata bacanya. Ciri khas Yifan. Kacamata.

Sedikit memperhatikan penampilannya di cermin, ia kemudian tersenyum puas. Ya, setidaknya sedikit udara malam bagus juga untuk menjernihkan pikirannya yang dipenuhi oleh Sehun, Sehun dan..—Sehun.

Ia menggelengkan kepalanya kembali, lalu menepuk pelan pipinya. Ia, tidak boleh memikirkan Sehun dulu. Setidaknya, ya, untuk hari ini. Yifan kemudian melangkahkan kakinya keluar dari apartemen, dan tidak lupa mengunci pintunya.

.

.

.

.

.

.

.

Yifan merentangkan kedua tangannya, lalu menghirup udara malam sebanyak-banyaknya. Hah~ sepertinya udara malam memang mampu membuatnya tenang kembali.

Mendongakkan kepalanya, menatap langit malam yang tampak begitu cerah. Ia kembali mengulas senyuman. Banyak bintang. Dan ia menyukainya.

"Sepertinya, langit mendukungku hari ini. Bintangnya banyak sekali." Ujar Yifan sambil menepuk kedua tangannya senang. Dan memandang takjub langit bertabur bintang malam itu,

Ia kemudian melangkahkan kakinya sambil sesekali bersenandung kecil. Namun, langkahnya terhenti tak kala ia melihat sebuah objek yang menarik perhatiannya.

Sedikit penasaran, Yifan memberanikan dirinya untuk sedikit mendekati objek tersebut. Kedua matanya menyipit untuk memperjelas pandangannya.

Dan, dari yang Yifan lihat. Disana, di dalam sebuah gang, ada dua orang yang terlihat tengah berkelahi, namun sepertinya perkelahian itu berat sebelah. Karena salah satunya tidak mampu berkutik atau melawan sedikit pun. Awalnya, Yifan ingin segera pergi dari sana, namun, entah apa yang menahannya untuk tetap disana. Seperti ada dorongan agar ia terus menyaksikan perkelahian itu. Yifan semakin mendekatkan dirinya untuk memperjelas penglihatannya.

Yifan ingin sekali melerai perkelahian itu. Namun, ia tidak mau terlibat sedikit pun. Tapi, ia merasa kasihan pada lawan dari sosok pria yang tingginya mungkin tidak jauh beda dari dirinya. Warna rambut pria itu, yang kini tengah menginjak perut lawannya, berwarna pirang platina.

Samar-samar ia mampu mendengar kalimat-kalimat permohonan yang diajukan oleh pria yang tengah meringkuk di tanah tersebut, seperti 'berhenti', 'maafkan aku', 'lepaskan aku.'. dan jujur saja Yifan sedikit bergidik ngeri melihat pria bersurai pirang platina itu bukannya menghentikan aksinya malah semakin brutal menginjak dan menendang tubuh lawannya.

"Hey!" seru Yifan. Entah keberanian darimana, yang jelas ia kini telah berjalan mendekati kedua orang itu. Sang pirang platina itu segera memalingkan wajahnya ke arah Yifan. Sorot matanya terlihat begitu berbahaya, membuat Yifan meneguk liurnya paksa.

"Cih. Ada pengganggu." Pria bersurai pirang platina itu meludah ke sembarang arah, lalu kembali menendang pria yang tidak berdaya itu. "Kau selamat kali ini, bodoh. Lain kali, jika kau melakukan hal itu lagi. Ku pastikan kau akan langsung pergi ke alam sana. Mengerti, heh?"

Pria itu hanya menganggukkan kepalanya, lemah. Ia bahkan ingin menangis melihat ada yang mau menolongnya.

Pria bersurai platina itu kembali melayangkan tatapan tajam ke arah Yifan yang sekarang tengah menghentikan langkahnya dan berdiri terpaku. Yifan—mengenal pemuda itu. Tapi, ia berbeda. Penampilannya benar-benar berbeda.

"Kau—"

Pria bersurai pirang platina itu mendengus sebal, sebelum akhirnya melangkahkan kakinya menjauh dari korbannya. Yifan yang menyadari jika orang itu akan pergi, segera mengejar sosok itu. Setelah sebelumnya menanyakan keadaan korban kekerasan itu. Dan, Yifan terkejut, karena orang itu adalah salah satu dari tempat Kris bersekolah. Seragam yang sama yang sering Kris gunakan setiap ia berangkat ke sekolah. Yifan mengabaikan ucapan terima kasih yang disampaikan oleh orang itu. Karena yang ada di pikiran Yifan hanya satu. Sosok itu!

.

.

.

.

.

"Hey! Tunggu aku!" seru Yifan sambil berusaha mengejar sosok pria itu. Namun, sepertinya pria itu mengabaikan seruan Yifan. Terbukti ia terus saja berjalan tanpa menoleh atau memalingkan wajahnya sedikit pun.

Yifan akhirnya menyerah, ia hanya mengikuti sosok itu dalam diam. Membiarkan kakinya membawanya kemana pun pria itu berjalan. Yifan mengutuk dirinya yang begitu penasaran pada pria itu. Kenapa harus—

Mulut Yifan nyaris menganga begitu melihat tempat tujuan pria itu. Sebuah.. club malam. Ia mengerjapkan matanya berulang kali, bahkan melepas kacamatanya dan mengusap kedua matanya lalu memakainya kembali berusaha menyakinkan jika apa yang ia lihat bukan hanya ilusi semata.

Awalnya ia ragu, apakah ia harus mengikuti pria itu sampai ke dalam atau tidak. Namun, ia ingin memastikan jika pria itu adalah benar-benar orang yang ia kenal, err, atau setidaknya Kris yang kenal.

Setelah memantapkan hatinya, Yifan kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu masuk club malam tersebut. Namun naas baginya, ia hampir saja ditahan, karena ia.. ya, lihat saja penampilannya itu. Hanya menggunakan celana pendek santai dan kaus putih berlengan pendek, serta kacamata yang membuatnya terlihat begitu—tidak modis. Tapi, salah satu penjaga pintu itu mengenali sosok itu. Dan beruntung, orang itu menganggap ia adalah Kris. Well, siapa sih yang tidak kenal seorang Kris Wu yang gemar ke club malam dan bergonta ganti pasangan setiap malamnya. Tapi, itu dulu. Iya. Dulu, sebelum ada dirinya. Sebelum ada, Yifan.

.

.

.

.

.

Yifan menutup kedua telinganya begitu mendengar suara music yang begitu keras memasuki indera pendengarannya itu. Matanya menyipit berusaha untuk mencari sosok itu diantara puluhan orang yang memenuhi ruangan itu. Asap rokok, aroma minuman keras, orang-orang yang tengah sibuk berciuman bahkan—astaga, demi Tuhan. Yifan bisa melihat seorang pria tengah, oh, tidak, Yifan tidak berani melihatnya. Ia kini menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, wajahnya terasa memanas ketika mengingat apa yang ia lihat tadi.

Yifan terus menyelipkan tubuhnya diantara kerumunan orang yang tengah menari mengikuti irama music yang diputar. Mengabaikan para wanita yang berkeling nakal padanya, dan menatapnya dengan tatapan lapar. Yifan sedikit bergidik ngeri ketika ada seorang wanita yang menyentuh dadanya dan mengecup pipinya, meninggalkan bekas lipstic di pipinya.

Yifan terus mengedarkan pandangannya, menyapu seisi ruangan. Berharap jika ia—

Bingo!

Ia melihat sosok itu disana. Di dekat meja bar. Tengah bercakap dengan seseorang lain yang tidak dapat ia lihat dengan jelas, karena posisi orang itu membelakangi Yifan. Namun yang Yifan tahu, sepertinya orang itu ada sebuah hubungan khusus dengan sosok itu. Terbukti dari orang itu kini tengah meraup bibir sosok pria bersurai pirang platina itu.

Yifan memalingkan wajahnya ke arah lain ketika melihat adegan itu. Ia merasa sedikit malu melihatnya. Ia bahkan belum pernah berciuman, well, ia memang belum pernah, tapi Kris sudah sering. Tapi tetap saja berbeda. Kris adalah Kris, Yifan adalah Yifan. Walaupun ya, mereka itu ada dalam satu raga. Tapi tetap saja, ah, iya, Yifan ingat jika bukan saatnya ia memikirkan itu. Ini bukan waktu yang tepat untuk membahas tentang dirinya dan juga Kris.

Yifan kembali memalingkan wajahnya ke arah sosok itu. Namun, tubuhnya mendadak kaku seketika, ketika ia melihat sosok itu, yang masih sibuk berciuman, tengah menatapnya tajam tanpa berkedip sedikit pun. Tepat ke arah dirinya. Seperti tercipta ruang tersendiri untuk mereka berdua. Bahkan tanpa Yifan melihatnya pun, Yifan dapat merasakan jika pria itu tengah menyeringai mengerikan.

.

Yifan meneguk ludahnya paksa, lalu berusaha memalingkan wajahnya ke arah lain. Bahkan kini ia berusaha untuk menari mengikuti irama music yang telah berganti itu, menjadi lebih slow. Ia mengabaikan beberapa pasang mata yang menatap aneh penampilannya. Yang ia ingin pastikan adalah jika orang itu tidak benar-benar menyadari keberadaannya. Namun, sayang, semua itu benar-benar nyata. Terbukti dari sebuah lengan yang kini melingkar dengan manis di pinggangnya, dan menariknya mendekat. Sosok itu memeluk Yifan dari belakang hingga Yifan tidak mengetahui siapa orang asing yang tengah memeluknya itu. . Yifan ingin berteriak, namun suara orang itu menghentikan keinginannya.

"Ku akui, kau cukup berani untuk mengikutiku sampai ke tempat ini, hum."

Yifan tersentak kaget begitu mendengar suara orang itu. Terdengar begitu memabukkan. Dengan segera Yifan mengalihkan pandangannya ke arah tempat duduk orang itu beberapa saat yang lalu. Namun, nihil. Ia tidak menemukan sosok itu disana. Itu berarti, orang yang tengah memeluknya itu.

"Jika kau berpikir orang yang sedari tadi kau perhatikan dan kini tengah memelukmu itu aku. Kau benar, sayang." Bisik sosok itu tepat di telinga Yifan. Membuat Yifan bergidik ngeri karenanya.

"Ba-bagaimana bisa?"

"Berapa banyak orang yang datang ke club malam dengan pakaian seperti ini, eum? Ku akui kau cukup berani masuk ke tempat ini dengan pakaian seperti itu." Sosok itu semakin mendekatkan tubuhnya ke tubuh Yifan, membuat detak jantung Yifan berdebar tidak menentu.

"Sepertinya aku mengenalmu, tapi, penampilanmu berbeda." Sosok itu kini mengecupi perpotongan leher Yifan, membuat Yifan mau tidak mau sedikit memiringkan kepalanya, seperti memberi kesempatan untuk bibir itu melakukan lebih pada permukaan kulit lehernya. Yifan sendiri tidak tahu kenapa ia membiarkan sosok itu memperlakukannya seperti itu.

"A-ah~" sebuah desahan lolos dari bibir Yifan tak kala sosok itu kini menyesap kulit lehernya, meninggalkan tanda merah keunguan yang cukup jelas.

"Kau menyukainya, eh? Kau nakal sekali." Bisik sosok itu lagi, lalu ia memegang dagu Yifan, membuat Yifan menoleh ke samping kanannya. Belum sempat Yifan menjawab, sosok itu telah mengunci terlebih dahulu bibirnya. Sosok itu, mencium Yifan tepat dibibir. Membuat Yifan membulatkan matanya dengan sempurna. Ingin sekali ia berteriak dan mendorong tubuh itu menjauh. Namun apa daya, posisinya yang seperti itu, sulit untuk membuatnya melarikan diri. Perlahan, sosok itu melepaskan pelukannya pada pinggang Yifan, dan membalikkan tubuh Yifan agar berhadapan dengannya, tanpa melepaskan sedikit pun tautan bibir mereka.

Iris kelam sosok itu bertemu dengan iris kecokelatan milik Yifan. Orang itu, begitu indah. Sangat indah. Namun sorot matanya begitu berbahaya.

Sosok itu semakin menarik tubuh Yifan mendekat pada tubuhnya, lalu menggesekkan kejantanannya yang sedikit menegang pada selangkangan Yifan. Membuat darah Yifan berdesir dengan hebatnya. Orang itu.. benar-benar berani.

"A-ahh.." desahan kembali lolos, ketika sosok itu melepaskan tautan bibir mereka, dan kini beralih mengerjai leher jenjang Yifan kembali. Kali ini, Yifan mendongakkan kepalanya, ia, sudah tidak dapat berpikir jernih. Bahkan ia kembali mendesah tak kala sosok itu kini menggigit, menghisap dan menjilati permukaan kulit lehernya yang bersih.

Sosok itu kembali meraup bibir Yifan dengan lapar. Bahkan kini menuntut Yifan untuk membuka bibirnya, memasukan daging tak bertulang itu ke rongga mulut Yifan. Mengabsen setiap deretan gigi Yifan, dan mengajak lidah Yifan untuk bertarung.

Yifan tidak tahu apa yang ia harus lakukan, ia bingung. Walaupun Kris sudah sering berciuman. Tapi tetap saja, untuk Yifan. Ini pertama kalinya.

Lidah sosok itu menuntut untuk mendominasi. Dan Yifan, hanya pasrah dibuatnya. Ia melingkarkan kedua lengannya di leher sosok itu, berusaha untuk menopang tubuhnya yang terasa lemas. Ia berusaha untuk menyeimbangkan dengan orang itu, namun tetap saja ia kalah. Orang itu, begitu ahli dan.. benar-benar memabukkan.

Tautan itu terlepas, menyisakan benang saliva yang cukup panjang. Wajah Yifan memerah dengan sempurna. Bibirnya pun terlihat membengkak karena diserang habis-habisan oleh sosok itu.

"Bibirmu, manis." Sosok itu mengusap sudut bibirnya, lalu menjilati ibu jarinya. "Kau ingin lanjut, uh?" lanjut sosok itu seduktif.

Yifan yang tengah sibuk mengatur nafas, tersedak liurnya sendiri tak kala mendengar ucapan sosok itu. "Uhuk! A—Apa?" ia masih tidak mempercayai dengan apa yang ia dengar barusan. Apa itu artinya—

"Kau dan aku. Di kamar. Berdua." Sosok itu menunjuk Yifan dan dirinya dan menyeringai lebar. Membuat Yifan kembali tersedak karenanya.

"Ka-kau gila!" marah Yifan. Namun tetap saja, ia tidak mampu menyembunyikan ekspresi wajahnya yang memerah dengan sempurna.

Sosok itu memutar bola matanya, malas. "Namaku Tao." Mengabaikan kalimat makian yang diluncurkan Yifan kepadanya.

"A—apa?"

"Namaku Tao. Kau Kris, kan?"

Yifan mengedipkan kedua matanya berulang kali. Ah, iya. Ia ingat orang itu. Orang yang ingin dijadikan oleh Kris sebagai bahan taruhan. Tapi kenapa ia— "Tidak. Aku Yifan. Namaku Yifan."

—berbeda.

"Terserah kau saja." Tao mengibaskan tangannya malas, lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh isi ruangan. Seperti tengah mencari sesuatu.

Yifan mengikuti arah pandang Tao. Dan seketika ia ingat pada orang yang tadi berciuman dengan Tao. "Kau mencari kekasihmu?"

Tao segera mengalihkan pandangannya pada Yifan. Kedua alisnya bertautan sejenak, seperti tengah berpikir. "Entahlah, jika kau menyebutnya begitu. Mungkin." Ia mengedikkan bahunya acuh tak acuh.

Yifan mengerutkan keningnya mendengar jawaban dari Tao yang menurutnya, aneh. "A-apa—"

"Aku pergi dulu." Tao kembali menarik tubuh Yifan mendekat dan mempertemukan kembali bibir mereka berdua. Tao melumat bibir Yifan tanpa memperdulikan orang yang kini tengah menatapnya dari kejauhan. Tautan itu terlepas. Menyisakan rona merah yang manis di eum, wajah cantik Yifan. "Sampai bertemu lagi, cantik. Aku harap itu cukup untuk menutup mulutmu selama beberapa hari."

.

.

.

.

.

"Dan.. jangan coba-coba untuk menceritakan hal tadi pada orang-orang. Atau, kau tidak akan mampu melihat dunia ini lagi." Bisik Tao tepat di telinga Yifan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

To be continued…

.

.

.

.

Akhirnyyyaa.. jadi juga chapter ketiga ini… #pelukzitao

Terima kasih untuk yang sudah mereview. Dan maaf jika tidak membalasnya satu per satu. Tapi aku menyimpannya kok, buat kenang-kenangan. Hehehe.. #plok

Maaf bila bahasanya banyak yang ngaco dan sulit di mengerti. Maklum, kadang otak error tengah jalan. Dan, ya, mungkin banyak typo dan masih banyak kekurangan lainya, karena ini diketik dengan kecepatan yang.. yah, begitulah. Belum sempat meriksa alur dan kalimatnya. Jadi maaaaaaaaaaaaaafff, bila kecepatan atau lainnya.

Dan, mohon maaf jika chapter ini agak mengecewakan untuk kalian dan mungkin di luar perkiraan dan banyak persamaan dengan ff lain. Tapi aku bakalan berusaha untuk memperbaikinyaJ karena itu, di tunggu kritik serta sarannya. J

Aku juga usahakan update secepatnya. untuk yang menunggu Complicated dan Because of Wrong Number sedang dalam pengetikan. harap sabar menunggu..

Dan akhir kata..

Hope you like it, Mind to review? J