.
'Aku akan di sampingmu, bersamamu, dan selalu bersamamu. Tapi kenapa? Kenapa aku selalu ingin bersamamu? Kenapa aku tidak ingin kehilanganmu? Kenapa aku merasa seolah kau adalah pengisi separuh hidupku yang sempat menghilang? Kenapa..yang ada di otakku sekarang hanya kau..Kuroko? Apa ini? Apa yang sedang aku rasakan….?'
Everything Has Changed
DISCLAIMER
Kuroko No Basket © Fujimaki Tadatoshi
.
.
Warning :
OOC, OC, alur berantakan, Typo, cerita ngawur, Fem!Kuroko, garing, membosankan, DLL.
.
RnR?
Welcome Readers-sama and Silent Readers
.
Happy Reading
xxx
Kuroko berdiri menghadap jendela kamarnya. Bulan tampak indah malam ini. Kuroko membuka kaca jendela kamarnya dan merasakan sensasi belaian angin yang menerbangkan raambut indahnya. Dia menutup mata, mengingat kembali kejadian hari ini.
'Akashi-kun, maaf aku sudah menyusahkanmu. Aku tidak ingin melihatmu melakukan hal yang tidak ingin kau lakukan seperti menjaga gadis bodoh yang tidak berguna seperti aku ini. Tapi hati kecilku, aku sangat ingin kau selalu bersama dengan ku.'
Egois memang. Tapi Kuroko membutuhkan seseorang. Lebih tepatnya dia membutuhkan Akashi.
'TOK TOK TOK'
"Tetsuna.." Terdengar suara Ayah Kuroko di balik pintu.
"Masuklah, Tou-san.."
Pria yang memiliki surai yang sama dengan Kuroko itu masuk dan duduk di sudut tempat tidur Kuroko.
"Ada apa Tou-san?"
"Bereskan barang-barangmu, Tetsuna."
"Kenapa? Kita mau pergi?"
"Ya, mulai besok kau akan tinggal di apartemen kita yang baru, tidak jauh dari sini."
"Tapi kan Tou-san akan kembali ke Tokyo, dan aku sendirian?"
"Jangan membantah dan cepat bereskan semuanya! Kau hanya akan membebani keluarga Mayuzumi jika terus berada di sini."
"Hai'.."
Kuroko berjalan menuju lemari besar di ujung ruangan. Dia mengeluarkan 2 koper besar dan mulai memasukkan barang-barangnya ke dalam koper.
"Kita akan pindah besok setelah kau pulang sekolah. Mintalah izin pada pelatih klubmu, kau harus meninggalkan klubmu untuk besok.
"Hai'.."
Ayah Kuroko meninggalkan kamar Kuroko. Kuroko merebahkan tubuhnya di tempat tidur setelah selesai membereskan barang-barangnya.
'Bahkan aku tidak mengenali Tou-san lagi. Kehindupan ini benar-benar konyol!' Pikir Kuroko. Dia memejamkan kedua matanya dan mulai menjelajahi dunia mimpi.
"Kau senang?"
"Um!"
"Kalau begitu ayo kita pulang. Kaa-san dan Tou-san pasti sudah menunggu."
"A-Arigatou! Aku benar-benar senang! Apakah kita bisa melakukannya lagi nanti?"
"Tentu saja!"
"Waahh.. Arigatou!"
Senyum lebar mengembang di wajah gadis kecil bersurai baby blue itu. Perasaan senang meluap dari lubuk hatinya. Pertama kalinya dia dapat melakukan sesuatu yang sangat menyenangkan bersama seseorang yang 'mungkin' sangat dia sayangi.
.
"Jangan pergi! Aku mohon jangan pergi!"
"Kita pasti akan bertemu lagi."
"Aku tidak bisa hidup tanpamu, aku mohon jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!"
"Selamat tinggal, Tetsuna."
"TIDAAAKK! JANGAN PERGI! BERHENTI! AKU MOHON!"
Seorang gadis yang masih memakai seragam Teiko itu berlari mengejar seseorang. Dia tidak mempedulikan gelapnya malam itu, dia tidak peduli dengan hujan yang sudah membasahi seluruh tubuhnya, dia tidak peduli dengan apapun, dia hanya peduli pada seseorang yang sedang dia kejar.
"TETSUNA AWAS!" Seorang pria dan seorang wanita yang sangat Kuroko kenal berlari ke arahnya.
*Ciiiitttt* *Duuaarrr*
"TETSUNAAAAA!"
.
"KAA-SAAAAAANNNNNN!"
Kuroko memangku wanita yang bersimbah darah. Dia menutup matanya dan tiba-tiba dia melihat api besar yang membakar habis tubuh wanita yang sangat dia sayangi menjadi abu.
"Kaa-san.. KAA-SAAAANN!"
"Kaa-san!"
Kuroko membuka matanya dan terduduk di ranjangnya. Nafasnya tidak teratur, jantungnya serasa melonjak keluar. Didekapnya bantal yang ada di belakangnya dan menenggelamkan wajahnya di bantal itu.
'Apa itu tadi? Mimpi apa itu? Kaa-san..'
Air mata mengalir membuat bantal di dekapannya basah. Isakan tangis memecah keheningan malam di ruangan yang dingin itu.
"Kaa-san.."
XXX
"Kau tidak makan siang?"
"…" Kuroko hanya menggeleng.
"Kenapa?"
"Aku tidak lapar."
"Jika kau tidak makan, kau bisa sakit."
"Jika Akashi-kun lapar, Akashi-kun bisa pergi sendiri."
Pemuda crimson yang berdiri di hadapan Kuroko itu menghela nafas. Dia menatap ekspresi datar Kuroko yang senantiasa terpasang dengan sempurna di wajahnya.
"Jangan menyiksa dirimu seperti ini."
"Aku tidak menyiksa diri, Akashi-kun."
"Lihatlah wajahmu itu! Kau sangat pucat, matamu sembab, dan kau terlihat lemas. Kau tidak tidur lagi semalam?"
"…" Kuroko mengangguk masih dengan ekspresi datarnya.
"Kau harus makan dan kau tidak boleh membantah lagi!"
Akashi menarik tangan Kuroko. Kuroko tidak bisa menolak ajakan Akashi lagi dan ia pun menuruti kata Akashi.
"Apakah keabsolutan Akashi-kun kembali lagi?" Tanya Kuroko di tengah perjalanan mereka menuju kantin.
"Apa maksudmu?"
"Kalimat Akashi-kun yang tadi terdengar absolut."
"Jangan berpikiran yang tidak-tidak Kuroko. Aku mengatakannya karena kau sangat keras kepala."
"Begitu ya.."
Mereka segera meletakkan makanan mereka di atas nampan dan mencari meja yang kosong. Kuroko berjalan di belakang Akashi. Akashi sepertinya berencana duduk bersama rekan satu timnya.
*BRUK* *PRAAANNNNGGG*
"Haahh!"
Refleks, Akashi langsung menoleh ke belakang.
"Kuroko!" Akashi meletakkan nampannya di meja yang ada di dekatnya dan segera menghampiri Kuroko.
"Upss! Maaf, aku tidak sengaja. Itu karena kau tak kasat mata."
"Apa yang kau lakukan Kashira?" Ucap Akashi sambil menatap tajam gadis bersurai orange.
"Aku kan sudah bilang, aku tidak sengaja menabraknya. Lagi pula itu salahnya karena tidak terlihat! Dasar bakteri!"
"Kau!"
*PLAK*
"Itu hukuman karena kau menumpahkan makan siangku dan kau menyebutku bakteri." Kuroko menampar pipi Kashira, gadis yang menabraknya.
"Kau!" Kashira hendak menarik rambut Kuroko tapi dengan sigap Kuroko menghindar dan Kashira tersungkur.
"Aku akan memaafkanmu kali ini." Kuroko menjambak rambut orange panjang Kashira. "Tapi tidak akan ada lain kali. Aku beri tahu kau ya, jangan pernah mecari masalah denganku atau aku tidak akan mengampunimu. Kau mengerti kan?" Kuroko membisikkan kalimatnya di telinga Kashira.
Akashi melebarkan matanya. 'Apa yang dia.. lakukan?' Akashi benar-benar tercengang dengan tingkah Kuroko.
"Maaf ya, Akashi-kun aku tidak bisa makan siang denganmu. Aku akan kembali ke kelas." Kuroko membalikkan badannya dan meninggalkan kantin.
Sedangkan Akashi masih tidak percaya dengan perlakuan Kuroko barusan.
"Kenapa kau melakukan hal itu?"
"Aku tidak ingin dia merebutmu dariku, Seijuro."
"Harus berapa kali aku bilang padamu, jangan seenaknya memanggilku dengan nama panggilan dan aku sudah minta maaf karena aku tidak bisa bersamamu."
"Tapi aku tidak ingin kau bersama dia!"
"Dia sahabatku sejak di Teiko, dan aku tidak bisa meninggalkannya sendirian."
"Kenapa? Kau tidak boleh mencintainya!"
*DEG DEG*
'Cinta? Benarkah itu? Apakah aku mencintai Kuroko?'
"Seijuro!"
"Hentikan itu, Kashira! Jangan memanggilku dengan nama itu! Maaf aku harus pergi." Akashi berlari meninggalkan Kashira.
Akashi bergegas menuju ruang kelasnya. Di perjalanan, Akashi memikirkan sesuatu. 'Cinta? Cinta? Mungkinkah..' Akashi mengingat masa lalunya saat di Teiko. Dia mulai merasakan hal aneh semenjak Kuroko diangkat menjadi anggota tim inti di klub basket putri saat mereka baru saja naik ke kelas 2.
Akashi melangkahkan diri memasuki ruang kelasnya dan terlihat Kuroko sudah duduk dan mengeluarkan sebuah novel.
"Kuroko!" Akashi langsung menghampiri Kuroko sesampainya di kelas.
"Akashi-kun? Kau tidak jadi makan?"
"Lupakan dulu soal makan. Ada yang ingin aku bicarakan padamu."
"Eh? Apa itu?"
"Sesuatu yang penting. Tapi aku tidak akan mengatakannya di sini. Dan sebelum itu.. mengenai sikapmu tadi.."
"Jangan lanjutkan kalimatmu! Aku tidak ingin kau berkata apapun soal kejadian tadi."
"Tapi Kuroko, kau sudah keterlaluan."
"Keterlaluan? Aku hanya menamparnya, Akashi-kun! Sedangkan dia menjatuhkan semua makan siangku bahkan aku juga sampai terjatuh padahal aku akan memakannya bersamamu! Dan dia melakukannya tanpa alasan yang jelas! Siapa yang lebih kejam di sini ha?" Terlihat air mata sudah menggenang di mata Kuroko.
Akashi menghela nafas. Dia mengayunkan tangannya ke kepala biru Kuroko dan mulai mengusapnya.
"Aku minta maaf Kuroko.. dan aku minta kau jangan menangis ya." Akashi tersenyum tulus pada Kuroko.
Kuroko menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah. Akashi menarik kursi dan mendekatkannya ke depan meja Kuroko. Dia duduk menghadap Kuroko dan melipat tangannya di atas meja Kuroko.
"Jika tidak keberatan, aku akan mentraktirmu vanilla shake sepulang latihan nanti sebagai ganti makan siang hari ini, bagaimana?" Akashi masih tersenyum.
"Maaf Akashi-kun, sepulang sekolah nanti Tou-san menyuruhku langsung pulang karena kami akan pindah ke apartemen."
"Kenapa kalian pindah?"
"Entahlah.."
"Begitu ya? Kalau begitu kita akan melakukannya lain kali."
"Hai'.. dan Akashi-kun.."
"Ada apa?"
"Apa yang akan kau bicarakan?"
"Mungkin aku akan mengatakannya lain kali." Akashi kembali tersenyum pada Kuroko.
'Apa yang membuatmu memiliki memiliki 2 sisi yang berbeda Kuroko? Kau polos, manis, menggemaskan, dan aku menyukai semua itu tapi sekarang, kau juga memiliki sifat yang menurutku sedikit kejam.' Akashi memperhatikan Kuroko yang sedang asik membaca novel.
'Kau pasti masih terguncang karena kematian Ibumu.' Akashi mengerutkan dahinya. 'Benar juga! Sudah beberapa hari sejak kematian Ibunya tapi dia tidak muncul juga ya. Sebenarnya kenapa dia pergi begitu lama? Dan apakah Kuroko masih tidak menginatnya?'
"Kuroko.."
"Hm?"
"Apa kau masih tidak bisa mengingat orang itu?"
"Orang itu?"
"Ternyata kau masih tidak mengingatnya ya."
"Eh?"
"Lupakan saja. Lanjutkan membacamu."
"Hai'.."
XXX
"Mulai sekarang kita tinggal di sini, Tetsuna. Sampai masalah di Tokyo selesai." Ucap pria bersurai biru muda.
"Hai' Tou-san."
"Aku sudah membersihkan semuanya, kau hanya tinggal merapikan barang-barang pribadimu."
"Hai'.."
"Kau akan memakai kamar itu." Ayah Kuroko menunjuk kamar utama.
"Eh? Kamar utama?"
"Pakai saja kamar itu, Aku akan pakai kamar yang satunya."
"Hai'.."
"Dan satu lagi! Aku masih belum menemukan pekerja untuk mengurus rumah ini, jadi untuk sementara kau yang mengurus semuanya."
"Hai' Tou-san."
Kuroko berjalan menuju kamar itu. Dia membuka kamar itu. 'Luas sekali, tapi kenapa Tou-san memilih apartemen ini? Apakah tidak mahal membayar apartemen semewah ini?' Kuroko segera membereskan barang-barangnya.
"Haahh.. selesai juga." Kuroko merebahkan diri di ranjang setelah merapikan semua barang-barangnya.
"Tapi.. aku mengurus semuanya? Apa aku bisa? Aku tidak seperti Kaa-san yang pandai mengurus rumah meski di rumah kami di Tokyo memiliki beberapa maid." Kuroko menggelengkan kepalanya.
"Tidak! Aku harus bisa!" Kuroko mendudukkan diri.
"Aku akan mengambil minuman di dapur." Kuroko menuju dapur dan membuka kulkas. 'Lengkap sekali. Apakah Tou-san yang menyiapkan semua ini?' Pikir Kuroko sambil menuangkan air dingin ke gelasnya.
Setelah menenggak habis minumannya, dia memerisa semua perlengkapan dapur. 'Aku akan mencoba memasak sesuatu.' Pikirnya.
Kuroko memasang celemek berwarna merah muda. Dia menaruh sebuah panci di atas kompor, setengah dari panci itu terisi air. Dia mengidupkan apinya dan meletakkan tutup panci yang transparant di atas panci itu.
Dia mengambil sebuah mie instant, telur, wortel dan beberapa sayuran. Dia juga mengambil beberapa bumbu dapur. Setelah air mendidih, dia memasukkan mie ke dalam panci. Sembari menunggu, dia memotong sayuran yang dia ambil. Setelah mie matang, dia mematikan kompor, meniriskan mie itu, mencucui sayuran dan menyiapkan penggorengan beserta mentega. Dia juga sudah menghaluskan beberapa cabai dan bawang untuk masakannya.
Dia lalu mengidupkan kembali kompor yang di atasnya terdapat penggorengan beserta mentega. Dia mengambil spatula dan menunggu menteganya meleleh.
'Semoga aku bisa memasaknya.' Pikir gadis biru itu.
Setelah dia rasa mentega di atas penggorengan meleleh, dia menumis cabai dan bawang halus. Aroma bawang dan cabai pun menyebar ke seluruh ruangan. Setelah itu, dia memasukkan 2 butir telur ke penggorengan. Dia mengaduk telur itu bak koki handal. Setelah itu, dia memasukkan mie yang sudah tiris. Dia kembali mengaduk-aduk makanan yang ada di atas penggorengan itu. setelah selesai mengaduknya, dia memasukkan sayuran yang sudah siap ke dalam penggorengan.
Api dikecilkan, dia mengambil kecap, lada dan sedikit garam dan memasukkannya ke dalam campuran masakan di atas penggorengan. Kembali mengaduk agar semuanya tercampur dengan rata. Setelah semua matang, dia memindah masakannya dari penggorengan ke piring.
'Yosh! Sudah jadi. sekarang tinggal membuat ocha.' Kuroko meletakkan piring berisi masakannya ke atas meja makan dan menuju dapur. 'Ah! Aku lupa!' Kuroko berjalan menuju kamarnya dan mengambil ponselnya.
5 messages dan 8 missed call. Dia membukanya dan semuanya dari Akashi Seijuro. 'Heeh? Ada apa Akashi-kun menelfonku sampai 8 kali?' Kuroko kemudian membuka pesannya dan semua pesan berisi sama.
"Kuroko, bisakah kau memberitahu alamatmu? Nama apartemen dan nomornya? Aku akan berkunjung sepulang latihan, aku juga akan membawakan vanilla shake untukmu."
Kuroko melirik jam dinding. 06.35. 'Jika tidak ada latihan tambahan, 25 menit lagi latihan sudah selesai.' Pikir Kuroko. Kuroko pun segera membalas pesan Akashi.
"Apartemen-xxxxxxxx- lantai 7 nomor 215. Akashi-kun juga tidak perlu repot membawakan vanilla shake untukku."
Kuroko menaruh ponselnya di saku celananya dan duduk di meja makan. Dia menutup masakannya menggunakan sebuah tudung kecil agar tetap hangat. Dia melepas celemek dan berjalan menuju sofa.
'Tou-san di mana?' Kuroko menuju kamar Ayahnya.
"Tou-san.." Kuroko mulai memanggil Ayahnya. 'Mungkin dia pergi. Yasudah lah.' Kuroko pun duduk di sofa empuk ruang tamu.
*Drrrttt Drrrttt*
Ada pesan masuk. Kuroko mengambil ponselnya dari saku celananya dan membukanya.
"Ternyata tidak jauh dari rumahku. Kalau begitu aku akan ke sana sekarang dan aku sudah membawa vanilla shake. Pastikan kau menyediakan makanan ya, Kuroko."
"Eh? Dasar Akashi-kun! Sejak dulu tidak berubah! Mungkin aku akan mencicipi masakanku dulu." Kuroko berjalan menuju meja makan.
*Ting Tong*
Belum sampai dia di meja makan, dia mendengar ada seseorang yang memencet bell. Dia berjalan menuju pintu depan dan membukanya.
"Doumo."
"Cepat sekali!"
"Itu karena aku kebetulan sudah sampai di depan apartemen ini."
"Dan latihannya selesai lebih cepat?"
"Itu karena aku ada urusan."
Kuroko sweatdrop mendengar jawaban Akashi. 'Apakah urusan yang kau maksud adalah main ke rumahku?'
"K-kalau begitu, silahkan masuk, Akashi-kun."
Mereka masuk.
"Jadi mulai sekarang kau tinggal di sini ya, Kuroko."
"Um!"
"Apakah kau sedang sendirian?"
"Ya begitulah, Tou-san sepertinya sedang keluar."
"Ini vanilla shakemu." Akashi meletakkan 2 cup di atas meja.
"Eh? Ada 2?"
"Ya, yang satu milikku."
"Oh begitu.."
"Lalu, apakah kau sudah menyiapkan apa yang aku minta?"
"Eh? Su-sudah tapi aku tidak terlalu yakin dengan rasanya karena aku memasknya sendiri."
"Masakanmu sendiri?"
"Ya, aku hanya ingin mencoba memasak sesuatu karena beberapa hari kedepan aku yang mengurus rumah ini sendirian jadi.."
"Kalau begitu aku akan mencobanya."
"Eh? K-kau yakin?"
"Tentu saja."
"Ba-baiklah."
Mereka berjalan menuju meja makan dan membawa minuman mereka masing-masing. Kuroko membuka penutup makanannya dan aroma sedap pun menguar.
"Aromanya enak."
"I-iya tapi aku tidak menjamin rasanya."
"Aku akan mencobanya. Kalau begitu itadakimasu."
Akashi mengambil masakan Kuroko menggunakan sumpit dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Dia mengunyah masakan itu dan wajahnya memerah seketika.
'Kenapa hanya ada rasa pedas? Dan pedasnya luar biasa pedas! Berapa banyak cabai yang dia masukkan?!' Akashi dengan susah payah menelan makanan itu.
"Ti-tidak enak ya? Ma-maafkan aku, Akashi-kun. Aku pikir aku bisa memasknya, tapi ternyata memang aku tidak bisa. Aku tidak bisa menjadi perempuan yang baik seperti Kaa-san, maafkan aku.. maafkan aku.." Kuroko menunduk dan terlihat butiran air mata menetes dari mata birunya.
Akashi tercengang. 'Dia..menangis? Dan dadaku lagi-lagi terasa sesak karena melihatnya menangis. Dia pasti sudah berusaha memasaknya meski dia bilang ini hanya percobaan.'
"Jangan menangis, Kuroko." Akashi berdiri dari duduknya dan mengusap kepala Kuroko.
Kuroko mendongakkan kepalanya dan mendapati Akashi tengah tersenyum. Melihat senyuman Akashi, wajah Kuroko memerah dan jantungnya berdetak sangat cepat.
"A-Akashi..kun.."
'Gawat! Jantungku memberontak! Jika terus seperti ini jantungku akan melonjak keluar! Bagiamana ini?' Kuroko kembali menundukkan kepalanya.
Akashi menarik tangan Kuroko, dan Kuroko berdiri dari duduknya. Akashi masih tersenyum dan menghapus air mata yang masih ada di pipi pucat Kuroko.
"Jangan menangis. Kuroko yang aku kenal seharusnya bukan gadis yang cengeng."
'Tahan, Tetsuna! Jika kau tidak bisa menahannya, kau akan sesak nafas dan pingsan di depan Akashi-kun. Itu sangat tidak elit!' Ucap Kuroko dalam hati.
"Lebih baik kita menghirup udara segar." Akashi menarik tangan Kuroko dan mereka menuju balkon.
"Waahh.. Kyoto tampak indah saat malam." Kuroko tersenyum lebar saat mereka sudah sampai di balkon.
Akashi tersenyum melihat seyum lebar Kuroko. Ini pertama kalinya setelah sekian lama. pertama kalinya dia melihat senyuman lebar Kuroko. Ada perasaan lega di hatinya saat ia menatap Kuroko yang masih tersenyum lebar.
Kuroko yang merasa kalau dia sedang di perhatikan oleh Akashi pun menolehkan kepalanya ke sang pemuda crimson di sebelah kanannya. Hening menyelimuti mereka berdua. Mereka mematung saling menatap satu sama lain. Sapphire bertemu ruby.
Perlahan namun pasti, Akashi mengikis jarak di antara mereka. Perlahan namun pasti, Akashi mendekatkan wajahnya ke wajah Kuroko. Aroma vanilla merasuk ke hidung Akashi. Begitu juga dengan aroma mint yang merasuki hidung Kuroko.
Wajah mereka hanya berjarak beberapa centi, bahkan hidung mereka sudah hampir bersentuhan. Mereka dapat saling merasakan nafas masing-masing. Jantung keduanya yang berdetak sangat cepat seolah menjadi lagu pengiring di antara mereka.
Kuroko dengan berani, menatap langsung manik ruby milik Akashi dengan jarak sedekat ini. Seolah ada batang bambu yang menancap di tubuhnya, dia tidak bisa bergerak.
*Chuu
Kuroko bisa merasakan sesuatu yang lembut dan hangat sedang menyentuh bibir pink tipisnya. Matanya tertutup secara otomatis karena sudah tidak ada lagi jarak antara dia dan Akashi. 10 detik mereka menikmati moment yang baru pertama kali mereka lakukan itu.
Akashi menjauhkan wajahnya dari wajah Kuroko, sedangkan Kuroko masih mematung dan matanya sudah terbuka. Akashi meraih pipi Kuroko dan mengusapnya dengan lembut.
"Kuroko.." Akashi menatap dalam manik biru cerah Kuroko.
Kuroko hanya menatap Akashi karena dia tidak tahu apa yang harus dia katakan. Akashi pun mulai memikirkan sesuatu.
'Aku merasakan ada hal aneh yang menimpaku setiap kali bertemu denganmu, bahkan aku sudah merasakannya sejak pertama kali aku melihat senyum manismu. Tapi aku mengabaikannya karena aku berfikir mungkin ini bukan masalah besar, lagi pula aku tidak terlalu terganggu…
Tapi.. perasaan itu sedikit memudar saat Dia menguasaiku. Dan aku hanya bisa menangis dalam diam saat melihatmu terbaring lemah di rumah sakit setelah orang itu memutuskan untuk berpisah denganmu dan keluargamu.'
Akashi mengalihkan pandangannya ke pemandangan malam kota Kyoto. Dari sini, dia bisa melihat mansion tempat ia tinggal.
'Tapi… setelah pertandingan itu.. tidak! Di tengah pertandingan itu, saat Dia sudah menghilang, aku merasakan hal aneh itu muncul lagi setiap kali aku melihatmu. Aku tidak tahu apa itu, tapi entah kenapa aku merasa senang meski untuk pertama kalinya sejak aku di lahirkan aku kalah. Seolah rasa sakit karena kekalahan sirna begitu saja saat melihatmu bahagia…
Tapi.. aku merasakan ada kekecewaan di lubuk hatiku saat kau memberikan senyum manismu pada Kagami Taiga dan aku mendengar bahwa ada hubungan special antara kalian.'
Akashi kembali mengalihkan pandangannya pada Kuroko yang masih mematung. Dia meraih tangan Kuroko dan menggenggamnya dengan erat.
'Hal aneh itu pun kembali aku rasakan saat melihatmu mengenakan seragam Rakuzan High School, berdiri di depanku dan memasang senyuman di wajahmu. Entah mengapa aku merasa bahagia dan merasa lega setelah mendengar sendiri dari mulutmu bahwa antara kau dan Kagami tidak ada hubungan special seperti yang aku dengar.'
"A-A-Akashi..kun.." Suara lirih Kuroko tertangkap oleh telinga Akashi dan Akashi langsung menarik tangan Kuroko agar dia jatuh ke pelukan Akashi.
'Hal aneh itu semakin menjadi-jadi dan semakin mengganggu pikiranku karena sejak saat itu hanya ada wajahmu dengan senyum manismu yang ada di pikiranku. Aku merasa senang meski aku tidak tahu apa alasannya…
Tapi.. hatiku perih saat melihatmu menitihkan air mata. Hatiku benar-benar hancur ketika melihatmu tak berhenti mengeluarkan air mata karena kau kehilangan sosok yang paling berharga dalam hidupmu. Aku merasa, aku harus selalu ada di sampingmu dan aku tidak ingin berpisah denganmu. Dan sekarang aku sudah menyadarinya. Menyadari hal aneh yang selalu mengganggu pikiranku. Menyadari apa arti dari semua yang aku rasakan saat bersamamu. Semua itu aku rasakan karena…
.
.
TBC
Hollaa~~
Kishi update lagi nih! maaf karena updatenya molor bgt *HEHEH #ditimpuk. Kishi sebenernya udah kepikiran ceritanya nanti bakal kaya gimana, tapi Kishi ubah sedikit dari konsep awal karena ada saran yang sangat-sangat bagus dari Hana-san, sahabat sekaligus senpai Kishi Heheh. *Gak ada yg nanya*
Semoga Anda sekalian menikmati cerita yang tidak karuan dan berantakan ini. Mohon tinggalkan kritik dan saran di review atau PM. Maaf atas typo, kesalahan kata, tanda baca dan lain-lain yang kurang tepat.
Arigatou sudah memberi Kishi semangat, Kishi sangat menghargai *Terharu
Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
OMAKE
*Pukul 6.15 di depan gerbang salah satu sekolah di Kyoto*
"Kau harus kembali sekarang." Seorang pria bersurai biru muda itu berdiri di hadapan seorang pemuda.
"Aku tidak bisa."
"Apa yang kau pikirkan?! Kau bahkan tidak mucul saat upacara pemakamannya!"
"Itu karena Tetsuna sudah tidak mengenaliku."
"Jika kau tidak bertemu dengannya, dia tidak akan pernah mengenalimu selamanya!"
"Lebih baik begitu dari pada aku harus bersamanya tapi dia tidak tahu siapa aku."
"Aku tidak mengerti jalan pikiranmu! Kau harus kembali dan kau tidak boleh membatahnya lagi!"
"Kalau begitu, izinkan aku memikirkannya."
"Hhh.. aku tidak akan memberimu banyak waktu, kau harus segera kembali."
"Hai'.."
Pemuda itu membungkukkan badannya sesaat lalu pergi meninggalkan pria yang masih mematung di tempat itu.
