CHAPTER 4


Tao terkejut. Ia menganga melihat apa yang sedang ia lihat. Entah itu iya atau bukan, yang jelas Tao dilanda keheranan.

"Maaf, kau siapa?"

"Aku penjaga perpustakaan ini, namaku Xue Cao Lian." Katanya. Ia menaikkan kaca mata antiknya yang semula melorot hingga mendekati ujung hidungnya.

"Penjaga perpustakaan? Bukankah perpustakaan ini dijaga Troll?" Tao terheran.

"Kau bercanda, Nak? Apa kau percaya Troll? Itu hanya ada di cerita dongeng bangsa barat, bukan di negeri timur seperti di Mongol ini." Jelasnya—Xue Cao Lian—berjalan mendekat ke arah Tao.

"Lalu, apa yang tersebar di desa adalah kebohongan?" Tao mulai penasaran.

"Aku tidak tahu harus mengatakan apa padamu, anak muda. Masa-masa sulit melanda desa ini sebelum anak-anak seumur kau lahir ke dunia." Cao Lian menuju ke tempatnya, duduk di belakang mejanya.

"Jadi, Troll itu siapa?" tanya Tao. Ia sangat ingin melihat Troll itu tetapi, di perpustakaan ini, Tao yakin hanya ada satu orang, Xue Cao Lian. Yah, hanya itu.

"Ini sejenis sugesti yang seseorang ciptakan agar tidak ke tempat ini. Semua sejarah asli Desa Guanling ada di perpustakaan ini. Sedangkan aku yakin, buku sejarah Desa Guanling yang ada di perpustakaan desa lain tidak lebih dari sebuah karangan yang dibut seseorang." Jelas Cao Lian panjang, "Aku yakin yang dimaksud Troll itu adalah aku, padahal jika aku melihat diriku di cermin, aku sama sekali tidak mirip dengan tokoh bernama Troll itu." Katanya terkekeh.

Tao tersenyum. Memang benar kata Cao Lian. Pria tua yang hampir kehilangan semua giginya itu sama sekali tidak mirip dengan Troll yang memiliki janggut yang hampir memenuhi seluruh wajahnya. Cao Lian hanya pria tua yang hidup sendirian di perpustakaan ini. Rambut putih yang hanya tumbuh di bagian bawah batok kepalanya dan bagian atas yang botak membuatnya seperti seorang professor dengan banyak penemuan yang akan mengharumkan namanya di masa depan. Tetapi, kenyataannya Cao Lian tidaklah seperti itu. Cao Lian hanya seorang pustakawan, iya hanya pustakawan tua. Bahkan Tao berani bertaruh, jika Cao Lian meninggal, tidak akan ada yang tahu. Malang memang.

"Kau bilang, dulu desa ini dilanda masa sulit. Apa maksudnya?" Tao menarik salah satu kursi tunggal, kemudian ia duduk berhadapan dengan Cao Lian.

Cao Lian berdiri. Cao berjalan menuju ke salah satu sela buku. Tao yakin, Cao Lian akan mengambil sebuah buku untuknya, entah itu apa.

"Nak, aku belum mengetahui namamu. Siapa namamu?" tanya Cao Lian yang datang kembali dari balik rak buku.

"Huang Zi Tao, namaku Huang Zi Tao." Jawab Tao dengan penekanan di akhir.

Cao Lian terkejut. Ia sepertinya tahu siapa Tao.

"Kau anak Huang Zi Yao?" tanya Cao Lian.

"Iya. Darimana kau bisa tahu?" Kata Tao

"Kau lupa? Ayahmu adalah seorang kepala desa yang tersohor, jadi pantas aku tahu kau juga ayahmu. Sangat aneh jika aku tidak tahu kalian, terlebih aku adalah salah satu warga Desa Guanling. Kalau boleh aku tahu, apa yang membuatmu berani datang ke tempat ini? Padahal hampir 40 tahun tidak ada yang berkunjung ke tempat ini gara-gara isu konyol yang berkembang." Jelas Cao Lian.

"Itu karena Yi Fan. Apa kau juga mengenal Yi Fan?" tanya Tao

"Yi Fan?"

"Iya. Yi Fan. Naga yang dijuluki Black Pearl itu." Jelas Tao.

Cao Lian tidak menjawab. Beberapa saat mereka terdiam.

"Bukankah kau barusan bertanya tentang desa yang dilanda kesulitan?" Cao Lian mengalihkan topic pembicaraan antara keduanya.

"Iya, aku memang bertanya seperti itu."

Cao Lian memberikan Tao sebuah buku yang sangat tebal, kurang lebih sekitar sepuluh cm. Bisa kau perkirakan berapa halaman yang dimuat buku tersebut.

"Eoh? Buku ini sangat tebal. Apa kau menyuruhku untuk membaca ini?"

"Tidak. Aku hanya akan menyuruhmu untuk membaca beberapa bab dari buku ini, tidak semuanya. Tetapi, jika kau suka, kau bisa membaca seluruh isinya." Jelas Cao Lian.

Tao membuka buku itu. Hanya tulisan tanpa gambar. Belum lagi ukuran font yang sangat kecil.

"Apa penulisnya tidak lelah membuat buku setebal ini? Hebat." Komentar Tao, heran dengan buku itu.

(Dragon Island)

Tao menggeleng ketika melihat Yi Fan yang tertidur lelap di bawah pohon apel di tepi sungai.

"Yi Fan, ayo bangun!" teriak Tao.

"Erghh eughh." Yi Fan mengerang dan membenarkan posisinya dengan menutup wajah Yi Fan dengan kedua sayap hitam miliknya.

"Ayolah Wu Yi Fan yang baik, bantu aku untuk mempelajari ini." Tao mulai kesal.

"Aishh bocah ini." Yi Fan menghela napasnya kesal, "Darimana kau mendapat buku setebal itu?" Yi Fan membuka matanya yang bulat.

"Dari Paman Xue." Jawab Tao.

"Paman Xue? Apa yang kau maksud Xue Cao Lian penjaga perpustakaan yang disebut dengan Troll of Library?"

"Iya tetapi, setidaknya kau tidak menyebutnya sebagai Troll, dia sama sekali tidak mirip dengan Troll." Jelas Tao sembari meletakkan buku tebal itu di atas batu yang mirip seperti meja. Tao duduk di batu kecil yang tepat berada di sebelah batu besar tadi.

"Iya, aku tahu itu, Tao. Buku apa yang kau bawa?" tanya Yi Fan.

"Buku sejarah asli Desa Guanling." Jawab Tao santai sembari membuka buku itu dan mencari halaman daftar isi.

"Apa?" tanya Yi Fan, terkejut.

"Kenapa? Apa tidak boleh? Dan kenapa kau terkejut seperti itu? Ada yang salah?" Tao langsung menghujani Yi Fan dengan banyak pertanyaan.

"Bukan begitu tetapi, kau tidak usah membaca buku itu. Bukankah buku itu sangat tebal? Lebih baik kau tidak membacanya. Itu sangat melelahkan dan membosankan. Lagipula aku yakin, buku itu tidak ada gambarnya."

"Kau ini bagaimana? Aku sangat ingin tahu apa hubunganmu dengan Ayah dulu. Gambar? Untuk apa aku membaca buku harus ada gambarnya? Memangnya aku ini anak-anak."

"Daripada kau membaca buku itu, lebih baik aku menceritakannya." kata Yi Fan.

"Benarkah? Kau mau menceritakannya dengan detail padaku?" tanya Tao antusias. Yi Fan membalasnya dengan erangan dan anggukan.

"Semuanya berawal ketika Ayahmu menemukanku di hutan, seperti yang terjadi padamu." jelas Yi Fan mengawali ceritanya.

Tao mengangguk mengerti.

"Ayahmu sangat terobsesi memiliki aku. Dia sangat mengagumi aku." Yi Fan menggerakan sayapnya, "Sampai-sampai saat aku membawanya ke tempat para naga, hal yang fatal dilakukan ayahmu." jelas Yi Fan menunduk.

"Hal yang fatal? Apa maksudmu? Apa itu hal yang mencelakakan desa?" tanya Tao bertubi-tubi.

"Tentu saja, itu hal yang sangat berbahaya." jawab Yi Fan.

"Lalu, hal apa itu?" tanya Tao lagi.

"Karena pemimpin kami, Naga yang Besar mengetahui Ayahmu adalah seorang penerus kepala desa, maka Naga yang Besar meminta desa dan ayahmu bisa menukarnya dengan aku. Tetapi, sayangnya itu hanya tipu daya yang dibuat Naga yang Besar untuk menjebak Yao." jelas Yi Fan.

"Te.. Tetapi, apa Ayahku melakukan itu? Bukankah itu tindakan egois?" tanya Tao.

"Itulah yang terjadi. Oleh karena itu, sekarang Naga yang Besar memerintahkan para naga untuk mengganggu Desa Guanling dan mencari makanan untuk Naga yang Besar di desa ini." jelas Yi Fan, "Padahal dahulu tujuanku membawa Yao ke tempat para naga adalah untuk menyelamatkan dan membebaskan para naga yang menjadi budak Naga yang Besar."

"Oh ya, aku juga pernah mendengar danau yang muncul beberapa kali setelah turun hujan, apa itu benar terjadi?" tanya Tao.

"Ehmm.." Yi Fan mengangguk, "Aku bisa memunculkan danau itu jika kau mau." kata Yi Fan.

"Eoh? Tidak-tidak." Tao mengibas-ibaskan tangannya.

"Aku lupa mengatakan ini." kata Yi Fan, "Sebenarnya kau bisa berbicara denganku karena kau memang memiliki kemampuan yang sama dengan Yao. Setelah kupikir, aku merasa beruntung terjebak disini." jelas Yi Fan yang diakhiri dengan tawa kecil.

"Beruntung?"

"Ya. Karena aku bisa menemukan anak Yao yang akan menyelamatkan kami para naga. Aku harap kejadian dahulu tidak terulang lagi."

"Jadi, apa yang kau maksud dengan aku yang siap adalah siap untuk membantu melawan Naga yang Besar?"

Yi Fan mengangguk semangat.

"Tetapi, aku takut melakukan itu." gumam Tao menunduk.

"Takut eoh?" tanya Yi Fan, "Heuh pantas saja kau diremehkan oleh teman-temanmu, belum apa-apa kau sudah takut." cibir Yi Fan.

"Eh? Bukan seperti itu yang aku maksud. Aku hanya takut aku akan melakukan tindakan yang lebih parah ketimbang Ayahku." lirih Tao.

"Kau percaya pada dirimu sendiri kan?" tanya Yi Fan.

Tao mengangguk.

"Kau percaya kau bisa melakukannya kan?"

Tao mengangguk lagi.

"Dan aku percaya, kau adalah Tao. Bukan orang yang berwajah Tao namun, mempunyai pikiran yang sama dengan Yao." sambung Yi Fan.

Tao berpikir sejenak. Ya, memang benar. Selama ini Tao selalu saja di remehkan oleh teman-temannya bahkan Yao, Ayahnya sendiri. Lalu, yang dikatakan Yi Fan ada benarnya juga. Tao adalah Tao. Tao berbeda dengan Yao. Bukankah Tao selalu mengatakan hal itu? Ya, Tao harus menjadi dirinya sendiri bukan orang lain.

"Baiklah, aku akan membantumu." Tao tersenyum.

(Dragon Island)

Mendung yang tebal kembali menyelimuti Desa Guanling. Para penduduk desa bersiap-siap untuk membentengi diri dari serangan para naga. Obor yang besar dan tinggi juga sudah dipersiapkan, berbagai alat dari besi juga siap di genggaman masing-masing penduduk.

"Mereka datang!" seru salah satu penduduk yang melihat seekor naga hitam terbang di atas desa.

Semuanya terdiam. Itu bukanlah naga yang biasa datang saat mendung tetapi, itu Black Pearl.

Hujan tidak turun. Padahal Black Pearl sedang terbang berputar-putar di atas desa. Seorang anak remaja tampak duduk di atas Black Pearl. Tidak ada yang tahu pasti.

"Lihat! Bagaimana bisa anak itu duduk di atas Black Pearl?" tanya Yi Xing pada Luhan, tanpa menatap Luhan. Kepalanya mengadah melihat fenomena yang sedang terjadi di atas kepalanya.

"Entahlah tetapi, aku seperti mengenalnya." sahut Luhan yang juga mengadah.

"Semuanya! Siapkan perahu kalian masing-masing! Kita akan segera menyerang pulau Naga." teriak si Kepala Desa, Huang Zi Yao.

Kau tahu ini pertanda apa? Ya, danau itu akan muncul. Black Pearl yang datang di saat mendung namun, hujan tidak turun, itu berarti Black Pearl akan memanggil danau itu.

Para penduduk bergegas mempersiapkan perahu mereka. Hanya beberapa yang tidak ikut dan tetap memperhatikan Black Pearl yang masih berputar-putar di atas desa.

Makin lama, Black Pearl terbang makin merendah, seakan akan mendarat.

Hupp…

Black Pearl mendarat tepat di atas sebuah batu yang cukup besar. Semuanya tercengang, apalagi saat melihat anak yang merupakan anggota desa turun dari punggung Black Pearl.

"Tao." gumam Yao terkejut.

"Bukankah itu Tao?" gumam Yi Xing yang dibalas anggukan lemah serta tidak percaya oleh Luhan.

"Tangkap mereka!" teriak Yao yang membuat semua yang mendengarnya terkejut.

Mereka tak salah mendengar? Menangkap Tao dan Black Pearl?

"Tunggu apalagi, tangkap mereka!" teriak Yao garang sambil menunjuk Tao dan Black Pearl yang ikut terkejut.

Para penduduk menangkap mereka, tanpa memberikan kesempatan pada Black Pearl untuk terbang. Keduanya di rantai.

"Ayah! Kenapa Ayah melakukan ini padaku?" teriak Tao, meronta, berusaha melepaskan dirinya dari ikatan rantai.

"Kau hanya perlu diam, Tao!" tegas Yao menarik napasnya dalam kemudian berlalu dari hadapan Tao.

Penduduk menaiki perahu mereka masing-masing, tidak lupa dengan Black Pearl yang berfungsi sebagai tawanan menaiki perahu utama. Begitu pula dengan Tao yang duduk terikat di sebelah Black Pearl.

Perahu itu berlayar, melayari danau yang sudah muncul sejak Black Pearl turun dan mendarat di desa. Kabut menyelimuti danau ini. Batu karang yang besar dan tinggi juga menghiasi danau. Terlihat sangat indah memang namun, sedikit menyeramkan.

"Kenapa Ayah melakukan ini padaku?" lirih Tao, menghela napasnya berat, sangat berat.

"Sesuatu pasti direncanakan Ayahmu." sahut Yi Fan pelan.

"Tetapi, kenapa kita? Apa salah kita?" protes Tao, "Padahal saat datang ke desa tadi aku ingin meminta bantuan penduduk untuk melawan Naga yang Besar tetapi, malah berakhir seperti ini. Huft."

"Kita tunggu saja apa yang terjadi selanjutnya." bisik Yi Fan.

"Humm." gumam Tao mengangguk.

Perjalanan berlalu, hingga perahu-perahu itu sampai di sebuah pulau dengan gunung api yang membentuk kepala naga. Bibir pulau itu merupakan lereng gunung api. Suasana sedikit panas di pulau itu? Bagaimana tidak? Dari mulut gunung api, lava meletup-letup, rasanya ingin memuntahkan seluruh isi dari gunung api itu. Belum lagi dengan naga-naga kecil yang sibuk berlalu lalang di sekitar pulau itu.

"Ini adalah tempat para naga." bisik Yi Fan pada Tao.

"Disini indah sekali dan sedikit panas."

"Indah? Apanya yang indah? Disini mengerikan! Kau hanya belum pernah memasuki mulut gua yang ada disebelah sana." kata Yi Fan sambil menunjuk mulut gua yang ada tepat di lereng gunung. Tampak cahaya kemerahan dari dalam gua itu. Bisa dibayangkan betapa panas di dalam gua itu.

"Disana terlihat sedikit menakutkan." gumam Tao.

'Eungggg'

Suara auman yang besar menyambut mereka. Bahkan suara itu lebih mengerikan daripada suara serigala di bulan purnama. Naga-naga menghampiri perahu-perahu yang berada di bibir pulau. Naga-naga itu seperti mulai menyadari kehadiran mereka.

'burrrr'

Api kemerahan menyerang perahu mereka dan terbakar. Seisi perahu melompat ke danau, menghindari api dari naga yang sepertinya mengamuk. Penduduk itu berenang ke tepian danau, menuju pulau. Perahu mereka tenggelam. Untung sebagian perkakas mereka masih mereka pegang untuk menghalau naga yang datang mendekat.

Mereka lupa sesuatu. Ya, Tao dan Yi Fan masih di atas perahu, sialnya saat ini perahu itu terbakar.

"Ayah! Tolong aku!" teriak Tao meronta panic. Rantai baja itu sangat keras, tidak sebanding dengan tubuhnya yang tergolong kurus.

Tidak hanya Tao, Yi Fan juga sedang berusaha melepaskan dirinya dari ikatan rantai. Jangankan untuk menyelamatkan Tao, menyelamatkan dirinya saja Yi Fan kesusahan.

"Yi Fan, bagaimana ini? Perahu ini akan tenggelam!" teriak Tao makin panic.

Dalam hitungan detik perahu itu benar-benar tenggelam bersama Tao dan Yi Fan di dalamnya.


To Be Continue…