Title : Blossom

Author : AbalAbal

Cast : Luki M, Rin K, Kaito S

Genre : Romance

Chap 4 yang pendek UP! Moga gak bosen bacanya


"Aku pulang." Seru Luki seraya membuka pintu apartemenya. Kening pemuda itu seketika berkerut samar mendapati ruangan apatonya yang gelap gulita. Samar-samar terdengar juga deru napas dan isakan kecil.

"Rin?"

"..."

Meraba-raba pemuda itu berjalan hati-hati ketempat saklar lampu berada. Dipencetnya tombol kecil itu. ruangan seketika terang benderang, Iris Luki seketika melebar melihat Rin terduduk dipojok ruangan seraya menenggelamkan kepalanya diantara kaki-kakinya yang pendek. Bahu gadis itu bergetar. Menangis? Khawatir dengan kondisi gadis itu Luki cepat-cepat menghampirinya.

"Rin? Kau baik-baik saja?" Luki menyentuh bahu rapuh itu dengan cemas.

Rin mengangkat wajahnya yang penuh dengan bulir air mata yang menetes dikedua pipinya. Hati Luki seketika menclos melihat gadis yang dicintainya itu seperti itu.

"Apa yang terjadi Rin?" Tanya Luki cemas.

"Aku rindu Hachi."

"Huh?" Luki mengerutkan kening kebingungan dengan maksud gadis itu sebenarnya. Hachi siapa?

"Ha-hachi?"

"Anjing kesayanganku. Hiks..." Jelas Rin seraya makin terisak keras membuat Luki semakin panik.

"Dimana anjing itu sekarang?"

"Huweeee~~~"

"wakatta... wakatta... ayo kita beli anjing baru saja."


"Kau bilang anjing baru tapi kenapa malah toko boneka?" Tanya Rin bingung menatap tumpukan boneka dirak toko mainan itu. Dirinya yang tadi sudah sangat bersemangat dengan kata-kata Luki yang mengajaknya membeli anjing tapi yang ada mereka malah pergi ke toko boneka.

Luki menggaruk pipinya gugup, "Ahahaha~~~ Pemilik apartemen melarang melihara anjing. Jadi boneka anjing itu sama saja kan?"

"Baka!" Luki hanya tersenyum masam. Sebenarnya ia juga tidak ingin seperti ini. Ia ingin membelikan Rin anjing sama seperti keinginan gadis itu tapi apalah daya uangnya tidak akan cukup untuk membeli anjing ditoko hewan. Belum lagi perawatanya, Luki tidak menjamin bahwa anjing itu nantinya dapat hidup dengan baik jika bersama mereka.

Sementara Luki terdiam seraya berpikir Rin mengamati wajah murung pemuda itu. gadis itu menghela napas, pandanganya beralih pada tumpukan boneka anjing didepanya.

"aku mau yang itu." Ujarnya seraya menunjuk boneka anjing dengan warna coklat berpita merah dirak atas.

Luki menoleh pada gadis itu, irisnya melebar.

"Anjing yang itu?"

"Uhm.." Rin mengangguk mengiyakan.

Dengan tubuh jangkungnya Luki dapat meraih boneka yang dimaksud. Mereka segera berjalan menuju kasir untuk membayar. Setelahnya keduanya meninggalkan toko mainan kecil itu.

"Aku lapar~." Keluh Rin liruh seraya mengusap perutnya yang keroncongan.

"Ayo segera pulang. Aku akan membuatkanmu makanan." Usul Luki yang disambut anggukan setuju dari Rin.

Keduanya berjalan beriringan menyusuri trotoar jalan menuju apartemen mereka. sepanjang perjalana itu Luki diam-diam mengamati Rin yang berjalan disampingnya sambil melamun. Ekpresi gadis itu terlihat murung dan Luki benar-benar tidak suka.

"Jangan berwajah seperti itu."

Huh? Rin menoleh kebingungan menatap Luki yang tiba-tiba menghentikan langkahnya.

"Aku tidak suka."

"...?"

"Rin.." Luki selangkah lebih dekat dengan gadis yang dicintainya itu. digenggamnya jemari mungilnya dengan erat dan lembut tanpa peduli dengan ekpresi sang gadis yang sudah merah dan ketakutan dengan jantung yang berdebar-debar.

"Aku akan melakukan yang terbaik yang aku bisa untukmu jadi berhentilah memasang wajah seperti itu. Tolong tersenyumlah Rin. "

Bola mata kebiruan Rin melebar detik itu juga.


"Baka! Baka! Baka!" Teriak Luki frustasi seraya menjedotkan kepalanya sendiri ke meja mengingat kata-kata memalukan yang semalam ia ucapkan. Bodohnya dia berkata seperti itu. Benar-benar deh ah! Rin pasti berpikir bahwa dirinya itu aneh dan menyebalkan. Terbukti dari sikap Rin tadi malam yang semakin diam ketika mereka sudah sampai apartemen. Pagi harinya Luki tidak berani bertemu dengan gadis itu jadi Luki memutuskan pergi lebih awal ke sekolah dan tak meninggalkan notes apapun. Ia hanya meninggalkan sepiring roti bakar dan susu dimeja untuk gadis itu sarapan.

Shit! Bagaimana ia akan menghadapi Rin setelah ini?

"Kau tidak pulang Luki? Shiftmu sudah berakhir kan?" Luki terlonjak mendengar suara Kaito yang tiba-tiba sudah ada disampingnya mengamati pemuda itu dengan heran.

"Ha-hai aku baru saja akan berkemas. J-ja~ sampai besok senpai." Luki berjalan cepat keruang ganti baju. Setelah mengganti seragam kerja dengan bajunya sendiri pemuda dengan surai merah muda itu berjalan mengendap-endap keluar dari toko lewat pintu belakang. Bukan tanpa alasan ia melakukan hal itu. Melihat gelagat senpainya tadi sepertinya Kaito hendak menuntut cerita panjang dari sikap anehnya hari ini dan Luki belum siap untuk cerita. Kokoro Luki belum siap jadi biarlah ia simpan dulu kegalauan hatinya itu sendiri sementara. Jika ia siap Luki berjanji akan menceritakan semuanya pada senpainya yang satu itu.

Hari telah cukup gelap ketika Luki berhasil lolos dari toko tempat kerjanya. Pemuda itu berjalan lebih pelan dari biasanya menyusuri trotoar jalan yang ramai oleh pejalan kaki lain. Hatinya gundah gulana dan otaknya tak henti-hentinya berpikir bagaimana ia akan menghadapi Rin ketika ia sampai dirumah nanti. Nooo! Luki belum siap! Ia belum siap pulang.. ia belum siap bertemu dengan Rin.

"Ahaha... sepertinya masih terlalu sore untuk pulang sebaiknya aku mampir dulu kesuatu tempat." Gumam Luki pada dirinya sendiri seraya menatap jam tangan bututnya. Ingatanya berputar pada satu tempat dan satu orang lain yang ingin ia temui. Setelah menetapkan tujuanya Luki mempercepat langkahnya, tak lama berjalan, kaki panjangnya berhenti di depan supermarket langgananya. Pintu supermarket yang tak terlalu besar itu bergeser otomastis ketika ia berdiri didepan pintu. Sebuah suara yang sangat dikenalnya menyambutnya hangat ketika pertama kali ia memasuki supermarket itu.

"Selamat datang. Loh? Luki-kun?"

Luki tersenyum menghampiri kasir tempat Miku berada, "Kapan shiftmu selesai?"

"sebentar lagi selesai kok."

"Apa kau sibuk setelah itu?"

"Uhm.. tidak. Kenapa?" Tanya Miku dengan wajah bingung.

"Ayo temani aku makan. Aku dengar ada kedai ramen baru buka disekitar sini."

"Baiklah! Kau yang traktir ya Luki-kun!"

"Boleh."


Angka telah menunjukkan pukul 10 malam ketika Luki sampai didepan pintu apartemenya. Luki agak meruntuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya sampai lupa waktu niatnya tadi tidak akan lama-lama tapi kalau sudah ngobrol dengan miku dan mengenang masa lalu pasti jadi seru sampai-sampai membuatnya lupa segalanya. Yosh! tapi setidaknya sekarang batinya sudah lebih tenang dari sebelumnya. Walaupun dirinya belum sepenuhnya siap menghadapi Rin tapi mau tidak mau Luki harus menghadapinya karena itu apatonya.

Ceklek!

Luki memutar knop pintu apartemenya yang memang sengaja tidak ia kunci semenjak Rin tinggal bersamanya.

"Aku pulang." Ujar Luki ketika memasuki apartemen kecilnya.

"Se-selamat datang Lu-luki-kun." Iris Luki seketika melebar mendapati Rin yang sudah berdiri didekat pintu menyambut kepulanganya. Ekpresinya benar-benar lucu dan imut ketika gugup.

"Arigatou ne~. " Luki tersenyum mengacak lembut surai kuning Rin.

"Apa kau sudah makan?"

Rin mengangguk, "aku makan mie Luki-kun."

"oh.. ahaha... kau masak mie?"

Rin menggeleng, "Aku tidak bisa masak."

"Lalu?"

"Aku makan langsung." Jawab Rin polos.

Luki seketika tertawa melihat ekpresi polos Rin ketika mengatakanya. "Kau masih lapar?"

"tentu saja!."

"Kalau begitu duduklah aku akan membuatkanmu sesuatu."

Rin mengangguk patuh, gadis itu duduk manis didepan televisi sementara Luki memasak didapur. 15 menit berkutat didapur Luki kembali ke ruang tamu dengan nampan berisi semangkuk nasi dan beberapa lauk.

"Makanlah." Luki meletakkan nampan itu didepan Rin.

"Kau tidak makan Luki-kun?"

"aku sudah makan tadi."

Rin mengangguk mengerti,

"bagaimana enak?"

"Uhm!" Rin mengangguk seraya mengacungkan jempolnya. Luki tersenyum mengamati Rin yang tengah makan dengan lahap. Bodohnya dia,,, seharian ini berpikir bagaimana akan menghadapi gadis itu tapi pada kenyataanya tanpa Luki bisa cegah dirinya akan kembali menjadi Luki yang hangat ketika sudah berhadapan dengan mahluk imut yang satu itu.

"Luki-kun kenapa menatapku seperti itu?"

Luki menggeleng, "Tidak ada."

Rin memiringkan kepalanya imut.

"Oh ya, kau tidak punya baju kan? Bagaiman kalau besok kita beli baju untukmu?"

"Uhm!"

=TBC=