Why Should be Me?

Chapter 4~

.

Special Thanks to: 3kjj, hanasukie, nunoel31, Youleebitha, YunHolic, irentiovanny, ifa p arunda, guest-guest dan all readers.

.

.

Hai.. Apa kabar semuanya? Feeling good? I hope so.

Seneng banget ya, bertebaran hint-hint Yunjae dari Mommy Jejung. makin gemes, makin cinta dan makin AKTF deh jadinya. All i wanna see is RED. Kata Jejung pas di interview. He always want to see RED! RED only! Huaaa~ i Love You Umma.

Saranghaeyoooo~

.

.

(NEW CHAPTER)

.

Sore hari yang mendung di musim gugur, Kim Jaejoong sedang bersama Park Yoochun kali ini, mereka berdua sedang berada di Grocery Markt untuk berbelanja keperluan. Yoochun baru saja pulang kemarin malam dari Amerika bertepatan dengan Jaejoong yang juga dibolehkan keluar dari rumah sakit..

"Makan apa ya malam ini?" gumam Jaejoong pada diri sendiri. Ia berdiri menghadap rak bahan-bahan makanan sambil mengetuk-ngetuk dagu dengan jari telunjuk. "Kari? Jigae? Atau Wok?"

Yoochun yang bertugas mendorong troli menghampirinya dan berhenti di

belakangnya. "Wok saja, Hyung." Celetuknya.

"Hmm.. Apa kau pikir Yunho akan suka?" tanya Jaejoong sambil tangannya terjulur mengambil 2 pack Wok Noodle.

"Kenapa kau peduli sekali, Hyung?" pancing Yoochun.

Jaejoong memilih diam, ia sendiri juga tidak tahu kenapa belakangan ini Yunho selalu memenuhi otak dan hatinya, mengambil alih pikirannya sehingga ia tidak bisa sedikitpun tidak memikirkan namja tampan itu. Kemudian Jaejoong melenggang pergi meninggalkan rak-rak yang berisi makanan dan Yoochun yang menggeleng-gelengkan kepalanya.

.

.

.

Yunho duduk di bangku panjang yang tersedia di halte bus tidak jauh dari apartment sambil memandangi hujan yang turun dengan lebat. Tidak mungkin ia bisa berjalan pulang tanpa membuat dirinya basah kuyup dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kalau saja ia menerima tawaran Yoochun yang ingin meminjamkan mobil untuknya, tentu ia tidak perlu berdesak-desakan di kereta atau bus dan tidak perlu berbasah-basah ria. Tapi dia tidak mau terus-menerus merepotkan sahabatnya itu.

Ia mengembuskan napas dan memerhatikan uap putih yang keluar dari mulutnya seperti asap rokok. Ia menggigil kedinginan.

Tangan Yunho merogoh kantong jaketnya, tanpa sengaja tangannya menyentuh benda itu, benda yang tidak lain adalah sebuah foto dan sebuah surat dari mendiang ibunya. Jemarinya mengusap permukaan lembar foto yang ia pegang, ia tidak tahu apa yang harus ia rasakan ketika melihat foto ini, marahkah? sedihkah? Atau senangkah?

Hari ini Yunho ke tempat itu lagi, dua kali sudah ia mengunjungi tempat itu, berdiri di depan sebuah rumah atau lebih tepatnya sebuah gubuk yang lusuh dan kumuh, ia memperhatikan pintu kayu kusam yang catnya mengelupas disana-sini juga atap gubuk yang sedikit miring, atap yang mungkin hanya asal dipasang untuk melindungi penghuni di dalamnya dari sinar matahari ataupun hujan. Hanya melihat dan menatap tanpa melakukan apapun. Di dalam gubuk kumuh itulah tinggal seseorang yang ia cari. Cinta pertama ibunya. Atau harus diperjelas lagi, orang itu adalah ayah kandung seorang Jung Yunho.

Pikirannya melayang membayangkan apa yang sekiranya harus ia katakan saat bertatap muka dengan orang yang disebut ibunya sebagai ayah kandungnya itu, apa ia harus dengan ceria mengatakan 'Hallo Ayah, aku Jung Yunho, anak kandungmu?'

Jung Yunho menggeleng-gelengkan kepalanya, Tidak.. tidak.. Sungguh dia benar-benar belum siap untuk itu.

Matahari mulai beranjak masuk, sedangkan hujan tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera mereda, Yunho menghembuskan nafasnya berniat hendak menerobos hujan saja daripada harus terus berada diluaran seperti ini. Baru saja ia hendak melangkah,

.

Tinnn..

Tiiinnn..

.

Sebuah klakson dari Lamborghini yang sangat dikenalinya berdenging tepat di telinganya. Jaejoong membuka kaca mobilnya dan berteriak,

"Yun… Cepat naik."

.

Tiba-tiba saja mood Yunho berubah drastis. Namja cantik ini benar-benar seperti seorang malaikat. Ya malaikat miliknya. Yunho buru-buru berlari ke arah pintu bagian penumpang dan masuk ke dalam mobil, atmosphere hangat dari mesin penghangat dalam mobil langsung menyambutnya, lalu ia melepaskan jaketnya yang agak lembab dan memasang seat beltnya.

"Kenapa tidak membawa payung atau jas hujan?" Tanya Jaejoong setelah Yunho duduk disebelahnya.

"Aku lupa, aku pikir hari ini tidak akan turun hujan, ternyata aku sedang tidak beruntung. Kau darimana?"

"Habis berbelanja dengan Yoochun, tapi dia harus mampir dulu ke tempat temannya jadi aku pulang sendiri. Kau sendiri darimana?"

"Aku ada sedikit urusan." Jawab Yunho Singkat.

"Hmm.." Jaejoong bergumam pelan, enggan bertanya urusan apa yang dimaksud oleh Yunho meskipun dalam hatinya ia sangat penasaran.

.

Tidak lama kemudian mereka tiba di parkplatz basement apartment namun diantara mereka berdua tidak ada yang beranjak keluar dari mobil. Suasana nyaman membuat Jaejoong ataupun Yunho enggan bergerak.

Yunho menolehkan wajahnya ke arah Jaejoong yang sedang menyandarkan kepalanya di jok mobil mewahnya, sembari memejamkan mata indahnya. Merasa diperhatikan seseorang, Jaejoong membuka matanya dan balik menoleh menatap wajah tampan namja yang selalu menghantui pikirannya belakangan ini. Yunho tersenyum, Jaejoong memalingkan wajah panasnya sebentar, kemudian ia menoleh menatap Yunho lagi dan balas tersenyum. Tiba-tiba ia berkata, "Yun, aku baru sadar warna matamu light brown. Sama seperti milikku. Kau lihat? Mataku juga light brown."

Yunho menatap mata indah namja cantik yang duduk di sampingnya itu dan tersenyum. Kedua iris mata yang besar dan sangat indah yang bersinar ceria, hangat, dan ekspresif. Mata yang dengan mudah mencerminkan apa yang sedang dirasakan pemiliknya. Sama persis seperti miliknya.

.

"Kau ada masalah?" tanya Jaejoong lembut, ia takut menyinggung perasaan Yunho.

"Sedikit."

"Mau berbagi denganku? Aku siap menjadi pendengar yang baik untukmu." Jaejoong tersenyum lembut.

Cantik.

.

Yunho menghela nafas pelan, "Kau tahu alasanku datang ke Korea?" tanya Yunho sebelum ia mulai ia bercerita.

"Humm.." Jaejoong menganggukkan kepalanya, "Yoochun pernah bercerita sedikit tentang alasan kedatanganmu kemari. Hanya sedikit."

"Jadi kau tahu, bahwa aku sedang mencari ayah kandungku?" tanya Yunho.

Lalu Jaejoong mengangguk lagi. " Aku tahu." Jawabnya pelan.

"Aku tadi dari rumahnya."

Jaejoong sedikit kaget. "Jadi kau sudah menemukan orang itu?"

Yunho mengangguk.

Mata Jaejoong melebar. "Benarkah?"

"Ne. Aku sudah tahu dimana ia tinggal, aku juga tahu bagaimana tampangnya dari foto yang diberikan ibuku." sahut Yunho. "Tapi aku belum bertemu muka dengannya."

"Kenapa?"

"Karena aku bingung, apa yang harus kukatakan padanya. Bagaimana reaksinya begitu bertemu denganku? Apakah dia masih ingat pada ibuku? Apakah dia akan percaya pada ceritaku dan sebagainya. Banyak yang harus kupersiapkan sebelum aku bertemu dengannya nanti."

"Aku tahu perasaanmu Yun." Terlukis kesedihan luar biasa pada wajah cantik itu ketika ia mengucapkan kalimat barusan.

.

Yunho terkesiap, 'Ada apa dengan Jaejoong?'

.

"Tapi mau tidak mau kau memang harus menemuinya cepat atau lambat, Yun. Atau perasaanmu terus menerus tidak akan merasa tenang." Kata Jaejoong lagi.

"Ya, aku tahu. Terima kasih Jae, kau selalu bisa membuat suasana hatiku membaik." Yunho mendesah lega, perasaannya kini sedikit ringan. Namja cantik itu seperti obat penenang baginya.

"No problem," kata Jaejoong dengan senyum lebar. Ia senang Yunho mau berbagi cerita dengannya. Itu artinya namja itu percaya padanya. Jaejoong kembali memandang ke luar jendela. "Aah... Kita masih di dalam mobil sejak tadi." Lalu mereka berdua tertawa ringan.

"Aku akan memasak Wok malam ini. Aku harap kau menyukai masakan Chinesse." Jaejoong membuka bagasinya dan mengeluarkan barang-barang belanjaannya tadi sore.

"Aku selalu suka apapun yang kau masak Joongie."

.

Joongie..

.

Jaejoong berhenti sejenak, sepertinya telinganya bermasalah. Atau memang Yunho memanggilnya dengan sebuah nama yang sangat manis itu?

.

Yunho mengambil alih plastik belanjaan besar ditangan Jaejoong dan menaruhnya kembali dibagasi yang masih terbuka, kemudian ia meraih lengan mungil itu agar mendekat padanya lalu ia membawa tubuh kecil Jaejoong ke dalam pelukannya..

"Tolong izinkan aku memelukmu sebentar saja Joongie, kau boleh memukuliku setelah ini." Bisik Yunho lembut di telinga sensitive Jaejoong.

Jaejoong yang tidak tahu harus berbuat apa, hanya mengangguk dan membenamkan kepalanya di dada bidang namja tampan itu, hangat. Kedua lengan panjang Yunho melingkari tubuh mungil Jaejoong, membawanya kedalam pelukan yang lebih erat lagi. Yunho merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskannya. Perasaan yang membuatnya bingung, perasaan yang mendorongnya melakukan sesuatu yang bahkan tidak dipahaminya sendiri. Tapi tidak pernah sebelumnya Jung Yunho merasakan hatinya selega ini, ketika bersama Jaejoong ia merasakan seolah bebannya terangkat.

.

"Yunn.."

.

Jaejoong merasakan bahunya basah. Yunho melepaskan pelukannya, ia memandangi wajah cantik Jaejoong lama lalu ia mendaratkan bibir hatinya tepat diatas bibir semerah cherry milik Jaejoong, mengulumnya lembut dan mencium keningnya. Jaejoong membatu, ia merasakan udara disekelilingnya entah pergi kemana.

.

.

.

"Dia memelukmu lalu kemudian mencium bibir dan keningmu, Hyung" Tanya Junsu pada Hyung cantiknya dengan sangat antusias.

Dua namja bermarga Kim itu kini sedang berada di cafeteria rumah sakit, hari ini Jaejoong merasakan tubuhnya lemas luar biasa, tapi dia enggan memberitahu Yoochun apalagi Yunho, dua orang itu akan langsung panik berlebihan. Makanya ia memutuskan untuk pergi sendiri ke rumah sakit untuk sekedar mendapat suntikan vitamin. Kemudian ia mengadakan sesi curhat sebentar dengan Junsu yang kebetulan sedang free, tentang perasaan galau yang melandanya belakangan ini.

"Ne."

"Lalu apa yang kau rasakan saat itu?" tanya Junsu lagi.

"Aku tidak tahu Suie, yang jelas aku merasa hangat dan .. dan nyaman."

"Kau menyukainya."

"Siapa?"

"Jung Yunho, tentu saja. Siapa lagi?"

Jaejoong mengerjap-ngerjapkan matanya. "Benarkah?"

Junsu menghela nafasnya. "Kau sungguh tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, Hyung?"

Jaejoong menggeleng. Ia tidak tahu perasaannya. Sungguh.

"Coba jawab pertanyaanku," kata Junsu sok serius. "Ketika kau bersama Yunho Hyung, apakah kau merasa senang?"

Jaejoong berpikir sebentar, lalu mengangguk.

"Ketika kalian mengobrol, apakah kau pernah merasa bosan?"

Jaejoong cepat-cepat menggeleng. Tidak pernah. Yunho tidak pernah membuatnya bosan.

"Apakah jantungmu berdebar dua kali lebih cepat setiap kali dia menatapmu atau tersenyum padamu?" cecar Junsu.

Jaejoong berpikir lagi kemudian akhirnya dengan ragu ia mengangguk. "Bahkan kadang-kadang aku merasa jantungku seperti berhenti berdegup, aku pikir itu gejala penyakitku yang kambuh."

Junsu menopang dagunya dengan sebelah tangan dan tersenyum, sepertinya kali ini otaknya sedang berfungsi dengan maksimal, "Tidak salah lagi. Itu artinya kau menyukainya, Hyung!"

Jaejoong terdiam, mencoba meresapi dan mengerti apa yang ia rasakan sebenarnya pada namja tampan bermata musang itu.

.

"Mungkin." Desah Jaejoong pelan.

.

.

.

Malam ini Jaejoong memilih pulang ke rumahnya, ia rindu dengan Ummanya. Meskipun itu bukan alasan utamanya, sebenarnya Jaejoong merasa canggung setiap kali bertemu Yunho setelah kejadian di parkiran itu. Jadi ia memutuskan sejenak melarikan diri dari Yunho, sampai ia betul-betul paham apa yang ia rasakan.

.

"Umma.."

"Ne, chagiya?" jawab wanita berusia setengah abad itu kepada putra bungsu kesayangannya. Wanita yang masih terlihat cantik dan anggun diusianya itu mengelus halus helaian rambut putra cantik yang kepalanya berada di pangkuannya.

"Sebutkan satu saja ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta." Pinta Jaejoong pada Ummanya.

"Hmm.." Ummanya berpikir sejenak. "Orang yang sedang jatuh cinta, akan merasakan udara disekitarnya menipis ketika berada dekat dengan orang yang ia cintai, kemudian jantungnya akan mulai berdegup tidak karuan dan …"

"Cukup, Umma." Potong Jaejoong. Kini ia merasa yakin sudah akan perasaannya pada Yunho.

"Ada apa, sayang? Apa kau sedang jatuh cinta?" goda Ummanya. "Ceritakan pada Umma siapa orang yang beruntung itu." Pinta Ummanya.

"Mungkin benar aku sedang jatuh cinta, Umma. Tapi belum tentu orang itu merasakan hal yang sama kan, Umma?"

"Mana mungkin ada orang yang bisa menolak pesona putra cantik Umma." Sanjung Ummanya sambil membelai pipi tirus Jaejoong.

.

Jaejoong mendengus. Ummanya tidak pernah sedikitpun menilainya tampan, selalu cantik, cantik dan cantik.

"Kka, bantu Umma memasak makan malam, sebentar lagi Appa dan Noonadeul-mu pulang."

.

.

.

Yunho baru saja duduk di depan televisi dan berniat menonton berita nasional korea, ketika Yoochun menghambur masuk ke dalam apartment.

"Kau disini rupanya, Hyung." kata Yoochun sambil berjalan ke arah Yunho.

Jung Yunho memandang sahabatnya itu dengan bingung. "Aku sejak tadi siang disini, memangnya ada apa Chun?"

Yoochun mendudukkan dirinya di sofa seberang Yunho. "Jaejoong Hyung menelfonku dan bilang bahwa ia sedang berada di rumahnya dan tidak akan pulang kesini. Jadi tidak ada yang memasak makan malam deh untuk kita."

Yunho menyandarkan tubuh dan mendengarkan. Ia teringat kejadian di parkiran beberapa waktu yang lalu. Ia mengusap kasar wajahnya.

"Ada masalah, Hyung?"

"Hmm.." Yunho bergumam pelan.

"Dengan Jae-Hyung?" Tanya Yoochun lagi.

Yunho menganggukkan kepalanya, malas.

"Aku sudah menduga ada sesuatu diantara kalian." kata Yoochun sambil memandang wajah kusut Yunho.

Yunho mengangguk sekali. "Ya, benar," sahutnya.

"Aku tidak tahu bagaimana bentuk hubungan kalian berdua saat ini. Terkadang kalian terlihat sangat mesra dan intim, sebelum ini Jae-Hyung tidak pernah menunjukkan gejala-gejala ia menyukai seseorang."

Alis Yunho terangkat. Tiba-tiba percakapan ini menjadi menarik.

"Lalu maksudmu sekarang dia menunjukkan gejala-gejala itu?" tanya Yunho tanpa bisa menahan rasa bunggah yang tiba-tiba saja terbit dalam hatinya.

"Demi Tuhan! Yunho Hyung, jangan senyum-senyum begitu. Kau terlihat mengerikan," kata Yoochun merinding. "Aku merasa Jae-Hyung mulai menyukaimu. Jadi sekarang kutanya padamu, apa tujuanmu sebenarnya?" tanyanya langsung.

Yunho mengerjapkan mata. "Apa tujuanku?"

"Dengar ya Hyung," kata Yoochun, berusaha mencari kata-kata yang tepat. "Jaejoong Hyung sudah seperti kakak kandung bagiku, aku sangat menyayangi dan menjaganya. Aku tidak mau kau mempermainkan perasaannya."

"Astaga! Bukan seperti itu, Chun..."

"Aku belum selesai, Hyung," sela Yoochun. "Aku mendukungmu, kalau kau memang serius menyayangi dan berjanji akan menjaganya dengan baik. Kalau kau tidak serius dengannya, cepat-cepatlah menyingkir. Aku tidak ingin Jae-Hyung sakit hati atau semacamnya gara-gara kau."

Yunho mendengarkan setiap kalimat wejangan panjang Yoochun dengan seksama, lalu menganggukkan kepalanya.

"Aku hanya ingin mengingatkanmu sekali saja, jangan pernah kau menyakiti perasaannya, karena aku sendiri yang akan membunuhmu." Yoochun mengambil nafas sejenak lalu melanjutkan pidatonya, "Jadi sekarang katakan padaku, apa tujuanmu mendekati Jae-hyung?"

"Aku serius menyukainya. Aku memang belum memberitahunya tapi aku tidak main-main dengan perasaanku padanya, Chun." Jawab Yunho, kemudian dia teringat bahwa ia sama sekali belum pernah cerita tentang perbuatan lancangnya terhadap Jaejoong pada Yoochun, ia memutuskan untuk jujur pada sahabat sekaligus soulmate Jaejoong itu. "Dan aku menciumnya kemarin." Kata Yunho pelan.

"What?" Yoochun membelalakan matanya kaget.

"Aku menciumnya, tepat dibibir."

"Kau belum menyatakan perasaanmu yang sesungguhnya pada Jae-Hyung dan kau sudah menciumnya tepat dibibir? Dimana akal sehatmu saat itu, Hyung? Apa karena hal ini Jaejoong Hyung lebih memilih pulang ke rumahnya?"

Jung Yunho menghela napas dan mengangkat kedua tangan. "Aku tidak tahu Chun, sejak saat itu Joongie selalu menghindariku."

Park Yoochun mengedip-ngedipkan matanya. "JOONGIE?"

.

.