Brokenheart

Naruto © Masashi Kishimoto.

.

.

.

Warning : AU, OOC, Typo(s), dll.

Don't like don't read.

.

.

.

Chapter 4

Angin berhembus menerbangkan kelopak-kelopak sakura yang bertebaran di tanah, membuatnya melayang di udara dalam waktu hitungan detik. Daun-daun juga saling bergesekkan dibuatnya, membuat suara gemerisik yang menenangkan. Sinar mentari senja membuat daun-daun itu terselimuti warna emas yang mengagumkan.

Aku mengalihkan bola mataku dari pemandangan itu saat Naruto berdehem. Kami sedang ada di taman belakang sekolah. Naruto memintaku untuk menemuinya sepulang sekolah, katanya ada yang mau dibicarakan. Kurang lebih sepertinya aku tahu apa yang ingin dia bicarakan. Namun, sejak sepuluh menit kami tiba di sini dia belum juga membuka suara. Naruto bungkam—setidaknya sampai detik ini.

"Hinata, ada yang ingin kukatakan padamu."

"Um, silakan."

Naruto menghembuskan nafasnya, seolah ada beban berat. "Hinata... sebenarnya aku tahu tentang perasaanmu yang sebenarnya kepadaku. Makanya kemarin aku sengaja mengatakan itu padamu. Maafkan aku Hinata."

Naruto kini menatap ke dalam mataku. "Dengar, ini tidak seperti yang kau pikirkan," paniknya. "Aku tidak berniat menyakitimu sama sek—"

"Aku tidak berpikir apapun Naruto-kun."

Kurasa aku tidak salah lihat. Dia memberikan tatapan bersalah padaku. "Aku mencintai orang lain."

Aku tertohok mendengarnya.

"Hinata, perkataanku kemarin memang kusengaja. Kupikir kalau mengatakan itu kau akan menjauhiku. Aku tidak ingin kau tahu jika aku mencintai orang lain, aku tidak ingin menyakiti hatimu, makanya kukatakan itu padamu. Kalau kau menjauhiku maka kau tidak akan tahu yang sebenarnya bahwa aku menyukai orang lain. Itu karena aku tidak ingin kau sakit hati karena aku."

Aku diam. Dan tetap diam. Keheningan menyelimuti kami untuk beberapa saat.

"Tapi aku telah menyakiti hatimu. Maafkan aku. Maafkan aku Hinata. Maaf."

Tidak. Naruto tidak salah, cintanya tidak salah. Tapi tak dapat kupungkiri kalau dia sudah membuatku sakit hati. Aku maklum dia menyukai orang lain, aku bisa menerima alasan itu. Tapi, sikapnya agar aku menjauh darinya itu yang tidak bisa kuterima. Dia yang seakan tidak mau mendengarkan tentang perasaanku membuatku terluka. Dan aku tidak bisa berpura-pura mengatakan kalau aku baik-baik saja. Untuk sesaat dan hanya sesaat aku ingin menjadi diriku sendiri saat ini. Menyikapi apa yang terjadi sekarang sebagai diriku sendiri. Aku tidak akan mengatakan kalau aku akan baik-baik saja.

"Pergilah," ucapku lirih tapi masih bisa didengarnya.

Naruto menatapku semakin bersalah. "Maafkan aku."

"Pergilah Uzumaki-san. Pergi." Mataku berkaca-kaca, air asin itu akan membanjiri pipiku.

"Maafkan aku Hinata," bisiknya sebelum meninggalkanku. Bisa kudengar suara tapak kakinya menjauhiku.

Kami-sama aku tidak kuat. Kubiarkan saja liquid bening itu melintasi pipiku. Isakan perlahan juga lolos dari bibirku. Aku sudah tidak bisa menahannya. Setidaknya tidak ada saksi tangisku ini.

Aku sudah menduga hal inilah yang akan dia bicarakan. Tapi kenapa rasanya masih sangat sakit, padahal aku sudah menangis. Menumpahkannya dalam derai air mata. Mengapa air mataku tidak habis juga? Rasanya bahkan lebih perih saat Naruto mengatakannya secara langsung. Dia tidak bermaksud menyakitiku–aku tahu itu. Naruto hanya ingin aku tidak semakin salah paham padanya, dia tidak mau aku semakin berharap padanya. Walau mengetahui itu aku tetap tidak bisa melihat kebaikan itu. Yang kurasakan hanya sakit hati.

Kubiarkan beberapa lembar kelopak sakura yang tersangkut di rambutku karena tiupan angin. Aku tidak peduli. Saat ini aku tidak ingin memedulikan apapun. Kuhapus air mataku dan melangkah pergi dari sana.

"Aku harus melupakan semua yang terjadi. Hinata, anggap saja semua kejadian belakangan ini tidak pernah terjadi. Kembalilah pada dirimu yang dulu. Pada Hinata yang tidak punya teman sejati. Pada Hinata yang selalu bisa memenuhi harapan semua orang. Kau hanya perlu berakting seperti biasanya. Hinata kau harus kuat. Ganbatte!"

Air mataku tiba-tiba mengalir lagi–tanpa kusadari. Aku terkekeh pelan. "Aku bahkan tidak bisa membohongi diriku sendiri. Aku tidak bisa berpura-pura kalau aku memang sedang membutuhkan dukungan."

Aku melihat sekeliling, tidak ada orang di tempat parkir ini. Sekolah juga sudah sepi–tentu saja, ini sudah hampir malam. Kupejamkan mataku beberapa detik. Rasanya aku ingin berteriak. Tidak apa kan?

"AAAAHHH! KENAPA SEMUA TERJADI PADAKU?! KENAPA SESAKIT INI?!"

Kubuka kembali mataku. Ah... rasanya lega. Nafasku sedikit terengah karena aku berteriak sangat keras. Namun aku merasa sedikit plong.

"Urusai!"

Eh? Suara siapa? Bukannya tadi tidak ada orang. Lalu suara siapa? Kuputarkan kepalaku mencari sumbernya. Dan aku begitu terkejut saat melihat sekelompok orang berdiri tidak jauh dariku. Aku membelalak saat mengenali mereka–Akatsuki.

"Jangan berisik di sini bi*ch!" maki seorang pemuda bersurai perak dengan netra magenta. Hanya dengan mendengarnya saja aku sudah bergetar ketakutan.

"M-maaf," lirihku gugup. Aku benar-benar takut dengan geng itu. Lagipula mereka semua adalah senpaiku. Kuharap aku tidak kenapa-napa.

"Pergi dari sini." Seorang yang berambut jingga mengatakannya dengan datar padaku. Pein Yahiko, orang yang menatapku di kantin waktu itu. Sejak itu aku mendapatkan firasat buruk. Selain Pein-senpai dan Itachi-senpai aku tidak kenal nama mereka. Aku hanya tahu wajahnya saja, termasuk senpai berambut merah yang berpapasan denganku kemarin.

"Apa kau tidak dengar hah? Pergi!" Senpai bersurai perak itu kembali membentakku.

"Ma-maaf!" ucapku lalu buru-buru pergi dari sana.

.

Ini benar-benar hari yang buruk di sepanjang hidupku. Hatiku hancur. Mengingatnya membuatku semakin merasakan perih. Andai aku tahu akan jadi seperti ini aku lebih baik tidak mengenal Naruto–ah, Sakura dan yang lain juga– mungkin dengan tidak mengenalnya aku tidak akan merasakan semua ini. Aku baik-baik saja dulu saat tidak ada seorang pun yang benar-benar berteman denganku. Memang benar, semakin kompleks hubunganmu maka akan banyak masalah pula yang akan kau hadapi.

Dulu aku sangat ingin memiliki teman, tapi sekarang kupikir tidak berteman pun tidak masalah. Aku hanya perlu memikirkan diriku dan itu tidak sulit. Lagi pula banyak orang yang menilaiku baik, lugu dan polos, tidak ada yang akan membenciku jika begitu. Seharusnya aku tenang-tenang saja. Sekarang aku menyesal telah menerima uluran pertemanan dengan mereka. Aku tidak menyalahkan siapapun. Yang salah adalah diriku. Ya, diriku. Andai aku tidak senaif itu aku tidak akan kehilangan semuanya. Andai aku tidak jatuh cinta pada Naruto.

Tes.

Lagi. Air mataku turun, aku menangis. Ironis. Tadi sudah kuniatkan untuk kembali pada kehidupanku sebelumnya, tapi aku terus menangis. Terus menangisi kemalanganku. Kenapa? Padahal aku sudah menyikapinya sebagai diriku sendiri, tapi aku masih sedih seperti ini. Aku sebagai diriku sendiri mengaku kalau aku gadis ceria yang memiliki banyak mimpi, gads seperti itu seharusnya juga gadis yang kuat. Gadis yang akan segera melupakan hal buruk dan menatap ke masa depan. Kepada tujuannya, cita-citanya. Harusnya begitu.

Mengenai cita-cita, impianku setelah kejadian ini adalah agar aku bisa menjadi diriku sendiri dan melupakan semua yang terjadi. Dengan menjadi diriku sendiri kuharap aku bisa menjalani hidup sesuai keinginanku. Aku ingin menjadi pribadi yang bebas.

Tes.

Ah, terlalu banyak merenung membuatku lupa menghapus air mataku. Kuhapus liquid asin itu dan mulai berjanji pada diriku sendiri, tapi sebelum itu aku menuju cermin kamarku.

"Hei air mata, aku berjanji tidak akan pernah membiarkanmu keluar lagi! Kau akan tenang di dalam sana. Dan untuk hatiku," kuletakkan tanganku tepat di dadaku, "aku juga berjanji untuk tidak membuatmu merasakan perasaan tidak mengenakkan ini lagi. Aku akan berusaha menjadi diriku sendiri."

Tok. Tok. Tok.

"Nee-san?"

"Ya Hanabi?"

"Boleh aku masuk?" tanya adik semata wayangku dari balik pintu.

"Masuklah, pintunya tidak terkunci."

"Aku membawa barang di kedua tanganku, bisa bukakan pintunya?"

"Sebentar." Kubakakan pintu itu untuk Hanabi. Ia masuk membawa sebuah kotak dan secangkir coklat hangat.

"Kubawakan coklat hangat untukmu."

"Terima kasih."

"Nee-san, apa kau baik-baik saja?" Hanabi menatapku khawatir.

"Kenapa? Aku baik-baik saja." Kusesap coklat hangat itu. Cairan pekat nan kental itu meluncur melewati tenggorokanku dan mendarat dengan mulus di lambungku. Manis dan hangat, rasanya sangat lezat. Andai hidupku seperti ini. Ah, apa yang barusan kupikirkan.

"Merasa baikan?"

Aku mengerutkan kening tidak paham dengan pertanyaanya yang ambigu.

"Akhir-akhir ini kau bersikap aneh. Kau tampak begitu bahagia lalu mendadak muram dua hari terakhir ini. Ada apa?"

Aku tidak menjawab. Hanabi terlalu memperhatikanku rupanya.

"Kau bisa cerita padaku apapun itu Nee-san."

Aku memberi senyum menenangkan pada gadis bersurai cokelat itu. "Akan kuceritakan kalau aku siap. Untuk sekarang aku ingin menyimpannya sendiri. Terima kasih sudah khawatir padaku."

Hanabi duduk di tepi kasurku dan aku mengikuti tindakannya dengan duduk di sampingnya. "Aku khawatir padamu Nee-san. Setelah kematian ibu, akan curhat pada siapa kau selain padaku? Tidak mungkin pada Neji-nii atau Tou-san kan?"

Aku tersenyum mendengarnya mencoba mencandaiku.

"Atau kau cerita semua hal pada temanmu? Ah, itu pun kalau kau punya." Wajah Hanabi tidak seceria tadi. Ekspresinya berangsur keruh, sepertinya ia sadar sudah menyinggung sisi sensitif dariku. "Aku sudah mengamatimu sejak lama. Aku mengenal dirimu di luar sana. Kau baik-baik saja kan?"

Kuacak pelan surai panjang dan lembut Hanabi. "Aku punya banyak teman Hanabi, meski itu hanya sekedar teman. Tapi tak apa, setidaknya tidak ada yang membenciku. Lalu bagaimana denganmu?"

"Teman? Aku tidak punya. Tapi setidaknya aku memiliki beberapa pengikut yang siap membantuku kapan saja!" cengirnya.

Melihatnya begitu aku mau tak mau ikut tersenyum. Terkadang aku iri pada Hanabi. Ia selalu bisa menjadi dirinya sendiri tanpa takut akan penilaian orang. Ia bisa dengan mudah mematahkan pendapat orang yang tidak sesuai dengannya.

Awalnya dia juga tidak memiliki teman. Ia sadar orang-orang sungkan berteman dengannya karena ia anak orang kaya, teman-temannya merasa tidak pantas bersama dengannya. Entah kesialan atau keberuntungan, ia menemukan beberapa orang yang menerimanya apa adanya, mereka juga jujur kalau menjadi teman Hanabi bisa mendatangkan keuntungan materi bagi mereka. Hanabi sendiri tidak masalah meski mengetahui semua itu dan malah mendeklarasikan diri menjadi pemimpin mereka. Teman-temannya pernah beberapa kali datang ke rumah, aku sedikit terkejut saat pertama kali melihat mereka. Empat orang laki-laki dan dua gadis tomboy. Aku tidak yakin Hanabi berteman dengan mereka–awalnya– tapi keakraban mereka mematahkan asumsiku. Meski berada di rumah kami, teman-temannya tidak sungkan bicara keras atau memukul Hanabi– bukan termasuk kategori kekerasan fisik. Meski persahabatan mereka begitu kental terlihat, Hanabi tidak mau mengakui kalau mereka adalah teman-temannya, ia selalu bilang mereka adalah pengikutnya. Begitu pula teman-temannya, mereka dengan jujur mengatakan kalau mereka hanya penjilatnya Hanabi di depanku dan Neji-nii. Aku merasa ingin tertawa mengingat ekspresi kami waktu itu.

"Melamun Nee-san?"

"Tidak. Hanya teringat beberapa hal."

"Aku sampai lupa." Hanabi mengambil kotak yang dibawanya tadi. "Ini dari Tou-san. Oleh-oleh dari perjalanan bisnisnya ke Kirigakure."

"Apa ini?"

"Bukalah."

Kubuka kotak persegi berwarna putih polos itu. Sebuah gaun yang juga berwarna putih terlipat rapi di dalamnya. Kuambil baju itu dan membentangkannya di udara. Sebuah dress musim panas sepaha tanpa kerah dengan lengan kupu-kupu, ada pita kecil berwarna hijau di bagian pinggangnya. Sebuah gaun yang indah. Sepertinya ini dipakai dengan setelan celana.

"Ini indah," komentarku.

"Aku juga mendapat gaun yang sama. Dengan pita biru." Hanabi memegangi dress itu. "Tou-san merasa ia perlu melakukan ini. Sejak kematian ibu dan juga paman bibi, ayah menjadi orang tua tunggal bagi kita juga Neji-nii. Tou-san juga ingin bersikap lembut pada kita. Dia sangat menyayangi kita."

"Aku tahu itu," kataku mengingat wajah Tou-san.

"Neji-nii juga mendapat hadiah yang sama."

"Maksudmu juga dress yang sama dengan ini dan beda warna pitanya?"

Hanabi tertawa mendengar gurauan konyolku. "Lalu apa warna pitanya? Cokelat? Emas?"

"Mungkin cokelat. Itu harus sesuai dengan karakternya? Abu-abu mungkin?"

"Atau hitam?" tebak Hanabi.

"Tidak akan ada yang akan memberi pita warna hitam pada gaun putih seindah ini Hanabi."

"Nee-san benar!"

"Ahahaha!" Aku dan Hanabi tertawa riang karena obrolan kami ini. Benar-benar konyol.

"Sudah selesai menggunjingku?"

"Ups!" Aku dan Hanabi berhenti tertawa saat Neji-nii tiba-tiba sudah ada di hadapan kami dan memelototi kami main-main.

"Kami tidak menggunjingmu," dusta Hanabi. Neji-nii tahu itu.

"Ini sudah malam. Tidurlah." Neji-nii meninggalkan kami. Tapi sebelum keluar ia berbalik, "Ngomong-ngomong aku mendapatkan kemeja lengan pendek warna putih dengan kancing hitam."

Aku dan Hanabi terkikik kecil.

"Hinata-nee, boleh tidur di sini malam ini?"

"Tentu saja Hanabi." Dan terima kasih karena sudah menghawatirkanku dan menghiburku. Aku merasa jauh lebih baik karenamu.

.

Teet. Teet. Teet.

"Cukup sampai di sini. Selamat istirahat, " ucap Kakashi-sensei kemudian meninggalkan kelas.

"Hinata—"

Aku langsung meninggalkan kelas setelahnya. Tidak kupedulikan Sakura yang memanggilku. Dengan terburu aku keluar dan membawa bentoku. Semalam aku sudah merasa baikkan, aku tidak ingin lebih memperburuk suasana hatiku yang memang sudah buruk. Aku menuju atap dan memutuskan untuk makan siang di sana. Bicara dengan Sakura berarti akan ada Naruto di sana. Dan entah mengapa aku merasa dia sudah tahu semuanya.

Aku berdiri di tepi atap dan melihat ke bawah, dimana para murid berlalu lalang dengn aktivitas masing-masing. Dari sini aku juga bisa melihat ke taman belakang sekolah. Taman yang... Tidak! Tidak! Aku tidak boleh mengingat itu. Sudah kuputuskan untuk melanjutkan hidupku. Aku tidak boleh terikat masa lalu.

Wuussh.

Angin berhemus menerpaku, membuat surai indigo panjangku berkibar–juga berantakan. Tapi kubiarkan saja, aku ingin menikmati saat-saat sepert ini. Anginnya terasa menyejukkan wajahku. Kubentangkan kedua kenganku sampai angin tersebut berhenti, meninggalkan suraiku berantakan.

"Aku merindukan kesendirianku."

Kurapikan rambutku kemudian duduk bersimpuh di atas lantai beton untuk memakan bento buatanku sendiri. Kulahap salah satu telur gulung di sana, enak. Kesendirian seperti ini membuatku nyaman, betapa bodohnya aku mau-mau saja terlibat hubungan dengan orang lain. Kesendirian tidak akan melukaiku, tidak seperti jika aku memiliki hubungan dengan orang lain. Memang membahagiakan, tapi resiko akan sakit karena perasaan juga tidak bisa ditampik. Perih.

Tidak bisa. Meski aku ingin melupakannya, semua itu tidak akan menghilang dengan mudah dari pikiranku begitu saja. Bukannya hilang, semua itu selalu saja teringat olehku walau aku tidak menginginkannya, menolaknya, itu membayang-bayangiku. Dan sekarang aku kembali mengingatnya, menjadikan luka yang sejenak sempat terlupakan muncul ke permukaan. Memunculkan rasa sakit yang kuharap tidak pernah ada. Rasanya masih sama, tidak berkurang. Sakit. Perih.

Tes.

Cengeng. Lagi, lagi dan lagi aku menangis. Padahal tidak pernah ada sifat cengeng di diriku, sekarang sifat itu muncul bersamaan dengan rasa sakit di hati yang tidak juga reda. Kenapa seseorang bisa terus menangis namun rasa sakitnya tidak juga berkurang? Kenapa luka-luka itu tidak luruh juga bersama air mata yang terus mambanjir?

"Are, are, siapa yang kita temukan sedang menangis sendirian di sini un?"

Aku tersentak ada orang yang bicara. Kuhapus air mataku. Lantas kudongakkan kepalaku untuk melihat. Aku terbelalak. Tidak. Kami-sama, kenapa hidupku begitu buruk sampai harus bertemu dengan Akatsuki di saat seperti ini?

Tbc.

Thanks to cumaseorangguest : Makasih dah review dan diingetin. Arigato udah di kasih tau kurangnya dimana. Kedepannya akan berusaha diperbaiki lagi.

Makasih juga buat skioeoizx udah fav n follow.

Arigato minna.