Kenangan Masa Lalu
Disclaimer:
Thomas Romain & Tania Palumbo
Beberapa menit berlalu, sekarang gubuk itu sudah bersih, rapi, dan enak dipandang.
"Huft! Akhirnya siap juga!"sahut Jeremie sambil menghela nafasnya.
Mereka istirahat sejenak, karena kelelahan membereskan gubuk itu.
"Mulai sekarang, untuk sementara, kita tinggal di sini!"kata Ulrich.
Mereka mengangguk. Tiba-tiba, William hendak mengucapkan sesuatu.
"A..a.."kata William, dia masih terbata-bata untuk berbicara.
"William? Ada apa?"tanya Odd ketika melihat reaksi William.
"A..aku lapar..."jawabnya singkat.
"Eeh? Lapar?"kata Aelita.
"Iya, jujur, aku juga lapar!"keluh Odd. Sepertinya penyakit makannya mulai lagi.
"Stop! Oke aku akan cari kayu bakar!"kata Ulrich sambil beranjak dari tempat itu dan pergi keluar.
Ulrich's POV
Aku keluar dari gubuk itu dan mencari kayu bakar untuk memasak. Untung saja, di dekat sini ada banyak kayu yang dapat dibakar. Tak terasa, karena keasyikan mencari kayu bakar, aku sampai ke depan sebuah kaligrafi Jepang. Kali ini tulisannya bukan menandakan peringatan, tetapi pertanda bahwa daerah yang ada di depanku adalah daerah Kyoto.
"Apa? Kyoto?"kataku dalam hati.
Aku pun mengarahkan pandanganku ke depan, kebetulan tempat itu adalah tebing, jadi aku dapat melihat dari atas. Di depanku adalah kota Kyoto, dan terlihat agak ramai dari atas.
Ketika aku melihat Kyoto, aku merasa ada perasaan yang agak lega.
"Hhh.. P..perasaan apa ini? Kenapa aku merasa lega? Jangan-jangan.."
Aku berfikir kalau Yumi pasti ada di sana.
Aku segera pergi ke gubuk untuk memberi tahu Jeremie dan teman-teman!
Yumi's POV
"Apa harus aku memakai pakaian ini?"tanyaku pada gadis-gadis pelayan itu.
"Tentu, Yang Mulia. Sekarang hanya anda yang tersisa di kerajaan Ishiyama ini, dengan otomatis, Yang Mulia –lah yang memimpin kerajaan ini."jawab pelayan-pelayan itu.
Aku terdiam. Tiba- tiba, aku merasakan suatu perasaan yang aneh.. Sangat aneh.
Aku merasa bahwa Ulrich dan teman-teman ada di sini. Tapi kurasa itu mustahil..
"Eh? Tunggu sebentar..!"kataku dan mengagetkan pelayan itu.
"Ada apa, Yang Mulia?"tanya mereka.
"Hng, tidak-tidak. Maaf.."ucapku.
Sekejap, aku teringat tentang benda penemuan Jeremie yang dapat membawa orang yang memakainya ke masa mana saja..!
Aku berdoa, semoga mereka baik- baik saja, dan mereka dapat menemukanku..
Normal POV
"Jeremie! Jeremie!"teriak Ulrich sambil berlari menuju gubuk.
"Hei, ada apa denganmu? Mana kayu bakarnya?"tanya Jeremie.
"Ini. Tapi aku ingin mengatakan bahwa ada sebuah kota dan tidak jauh dari gubuk ini! Nama kota itu, Kyoto."jawab Ulrich dengan terengah-engah.
"Wha..? Kyoto? Itu tanah kelahiran Yumi!"susul Aelita.
"Jadi maksudmu, kemungkinan besar dia ada di sana?"tanya Odd.
"Eh, perasaanku mengatakan begitu.."jawab Ulrich.
"Huh! Itu pasti karena kalian sudah berhubungan!"celetuk Odd.
"Diam!"bentak Ulrich.
"Hmm, okelah. Kita bersiap-siap dulu, kita makan dan mandi, setelah itu, kita pergi ke kota."kata Jeremie.
"Oke!"jawab mereka serentak.
"Aku sebaiknya tinggal saja, aku akan menjaga William di sini.."kata Odd.
"Kalau kau mau begitu, silahkan."balas Jeremie.
Kemudian, Aelita dan Jeremie mengambil bahan makanan dan memasak. Sedangkan Ulrich mencari tahu di mana ada mata air yang dapat dipergunakan untuk mandi.
Sejam kemudian, mereka sudah selesai mengerjakan tugas mereka masing-masing. Mereka makan malam bersama, ya, bisa dibayangkan, sangat sederhana, tapi cukup untuk bertahan selama dua bulan, bahkan lebih.
Setelah selesai, Ulrich pun membawa mereka ke sebuah mata air, hasil pencarian Ulrich.
Beberapa saat kemudian, setelah semuanya beres dan merasa segar, Ulrich, Jeremie, dan Aelita pun segera pergi ke kota untuk menemukan Yumi.
Yumi's POV
"Apa? Aku harus keliling kota untuk bertemu dengan rakyat-rakyatku?"tanyaku pada Kira.
"Iya, Yang Mulia. Ini sudah menjadi kewajiban bagi para penguasa kerajaan Ishiyama.."jawab Kira dengan lembut.
Aku sebenarnya ingin menolaknya, tapi, aku teringat, mungkin aku dapat bertemu dengan Ulrich, atau teman-teman yang lain.
"O..okelah.."jawabku.
Kira pun segera pamit dan pergi keluar.
Tak lama kemudian, aku pun dibawa keluar oleh Kira dan Kenji, dan beberapa orang lain.
Di luar, sialnya, aku ditutupi oleh mereka. Menurutku itu wajar, untuk menghindari dari serangan penjahat.
"Ulrich, di mana kalian..?"aku mulai gelisah..
Normal POV
"Hei, lihat itu! Yang Mulia datang!"kata seorang penduduk di sana sambil menunjuk ke arah kerumunan itu.
Kebetulan Ulrich, Aelita, dan Jeremie sudah sampai di kota itu.
"Ada apa ramai-ramai di sana?"tanya Jeremie.
"Coba aku tanyakan."kata Ulrich.
Ulrich pun menanyakan hal itu pada penduduk setempat, tentu dengan bahasa lokal juga.
"Arigato.."ucap Ulrich sambil berpaling dari orang itu.
"Ada apa? Apa yang terjadi?"tanya Aelita.
"Katanya Putri pewaris kerajaan ini telah datang. Katanya ia baru saja kembali sejak lama.."jawab Ulrich.
"Apa? Putri?"
Ulrich mengangkat bahunya. "Kita lewati saja.."usulnya.
Mereka mengangguk. Ulrich, Aelita, dan Jeremie pun berusaha untuk melewati kerumunan itu, dan seketika..
"E..eh! T..tunggu dulu..! Itu kan.. Y.. Yumi?!"sahut Aelita sambil menunjuk ke arah Tuan Putri itu.
"YUMI?!"kata Ulrich dan Jeremie serempak.
"Yumi! Yumi!"teriak Ulrich sambil berlari mengejar kerumunan itu.
Yumi's POV
"Yumi! Yumi!"
Ah, siapa itu? Aku seperti mengenal suaranya..
Aku pun menghentikan langkahku. Kira dan Kenji yang berjalan di belakangku juga berhenti.
"Ada apa, Yang Mulia?"tanya Kira.
Teriakan itu semakin keras kudengar, dan semakin mendekat dan mendekat.
Setelah aku mengarahkan pandanganku ke belakang, ternyata, suara itu berasal dari..
"Aelita?! Jeremie?! Ulrich?!"aku sangat terkejut ketika melihat mereka di sini.
"YUMI!"mereka tampaknya sangat senang ketika aku memalingkan wajah ke arah mereka.
Aku pun berlari ke arah mereka, sebenarnya agak susah, karena pakaianku.. Tapi aku tak peduli.. Rasanya sudah 1000 tahun aku tidak bertemu dengan mereka!
"Yumi.. Ternyata kau di sini.."Ulrich mengatakan itu padaku.
Aku sangat senang, bahkan sangat senang sekali! Akhirnya aku bertemu dengan mereka!
Normal POV
"Yumi.. Ternyata kau di sini.."kata Ulrich pada Yumi.
Sepertinya, orang-orang di sana memandang mereka berempat dengan tatapan curiga.
"Siapa mereka?"itulah kata-kata yang terdengar di mana-mana.
Sebenarnya Kira membiarkan mereka bertemu, tetapi setelah melihat suatu tanda di tangan Ulrich, Kira pun berpikiran bahwa Ulrich-lah yang sudah menculik Yumi selama ini.
"Hei kau! Jangan dekati Yang Mulia!"ancam Kira.
Setelah mendengar ancaman Kira, para pengawal pun menghadang Ulrich, Jeremie, dan Aelita.
"Hei, apa- apaan ini?!"bentak Yumi.
"Yang Mulia, dialah yang sudah menculik Yang Mulia selama ini!"kata Kira sambil menarik Yumi.
"Tidak! Mereka itu temanku! Lepaskan mereka!"Yumi tetap bersikeras menolak ajakan Kira.
"Yumi! Lepaskan dia!"Ulrich mulai membentak.
"Kau, diam! Pengawal, ikat mereka!"perintah Kira.
Pengawal kerajaan itu pun memaksa Ulrich, Aelita, dan Jeremie untuk menjauh dari Yumi.
"ULRICH!"teriak Yumi sambil menitikkan air matanya.
"YUMI! Akh! Dasar! Apa kau berhak menangkap kami?!"sahut Ulrich dengan emosi penuh.
"Diam kau! Kau adalah monster yang menjelma menjadi manusia! Dan kau ingin menculik Yang Mulia lagi, kan?!"bentak Kenji sambil menampar Ulrich.
"Ulrich!"kata Jeremie.
Mereka pun diseret sampai ke sebuah hutan, dan di sana mereka diikat oleh para pengawal kerajaan itu.
"Sekarang kalian tidak akan bisa kembali lagi ke kerajaan kami!"sahut salah satu pengawal pada Ulrich, Jeremie, dan Aelita.
Kemudian, para pengawal itu pergi meninggalkan mereka bertiga sendirian.
"Pfft! Pfft!"Ulrich berusaha untuk melepaskan penutup mulutnya itu, tapi sia-sia saja, tetapi saja tidak lepas.
Ulrich memberi isyarat pada Jeremie untuk menanyakan bagaimana kabarnya.
Jeremie mengangguk tanda "Baik-baik saja". Ulrich menghela nafasnya. Tak ada pilihan lagi, mereka hanya bisa mengandalkan keajaiban saja.
Beberapa jam kemudian, Ulrich bangun dari tidurnya. Ia mendengar suara desisan yang aneh dari atas pohon tempat ia diikat. Ulrich melihat ke atas, dan ternyata itu adalah..
"U..ular?!"gumam Ulrich dalam hati. Ulrich segera bertindak. Ulrich berteriak-teriak dan mencari cara untuk membangunkan Jeremie dan Aelita. Tetapi mereka belum bangun juga. Jarak mereka memang lumayan agak jauh, sehingga tidak kedengaran.
Sementara Ulrich berusaha menimbulkan suara dari tenggorokannya, mata Ulrich tertuju pada benda yang meliuk-liuk yang juga terdapat di atas pohon tempat Jeremie dan Aelita diikat.
"Ini gawat! Gawat!"gumam Ulrich. Ia berusaha sekuat tenaga, dan untunglah, kali ini Jeremie dan Aelita terbangun.
Jeremie mengisyaratkan pada Ulrich, "Apa yang terjadi?"
Ulrich mengerti akan isyaratnya dan mengandalkan gerak matanya untuk menunjuk bahwa ada ular berbisa di atas mereka. Ulrich pun mengisyaratkan kepada mereka agar mereka membantu Ulrich untuk menimbulkan suara, siapa tahu ada yang menolong.
Sekian lama berteriak, tidak ada hasil, dan ular itu semakin dekat dan kelihatannya semakin banyak juga. Mereka pun mulai pasrah untuk meminta tolong.
Beruntung, ada seorang pemuda lewat dari sana. Pemuda itu pun melihat mereka bertiga yang sepertinya sedang ada dalam bahaya. Pemuda itu segera menolong Ulrich terlebih dahulu.
"Uh, terima kasih.."ucap Ulrich. Ulrich pun melepaskan Jeremie dan Aelita.
"Terima kasih.. Perkenalkan, namaku Jeremie Belpois.."kata Jeremie sambil menjabat tangan pemuda penolong mereka itu.
"Sama-sama. Namaku Akatachi Otomo. Salam kenal."balas pemuda yang ternyata bernama Otomo itu.
Setelah memperkenalkan diri, mereka saling berbincang tentang diri mereka.
"Oh, jadi kau ditinggal keluargamu?"tanya Aelita.
"Iya. Dulu sebenarnya aku tinggal bersama kakakku, tapi, setelah dia ditangkap oleh pengawal kerajaan, dia tidak pernah lagi kembali.. Kata orang, kakakku sudah mati.."jawab Otomo sedih.
Mereka juga ikut prihatin, lalu Ulrich pun mengajak Otomo untuk tinggal bersama dengan mereka.
"Tentu saja! Terima kasih!"ucap Otomo dengan sangat senang.
William's POV
Aku masih berusaha untuk bernafas dengan baik. Rasanya sakit sekali ketika aku menghirup nafas dan menghembuskannya.. Aku mulai pasrah, tetapi aku mengingat mereka yang sedang mencari Yumi, jadi aku berusaha untuk tidak mengecewakan mereka..
"Odd.."kataku.
"Ah, William? Ada apa?"tanya Odd.
"A..aku ingin bertanya padamu.. Apakah kita akan berhasil... menemukan Yumi..?"balasku pelan.
"T..tentu saja, William. Kita pasti akan menemukan mereka.."jawab Odd sambil tersenyum.
"D..dan satu lagi.."
"Apa itu?"
"Apakah aku.. akan bisa pulang lagi bersama kalian ke zaman kita..?"
Odd terdiam.
"..Pasti.. Percayalah.."jawab Odd dengan singkat.
To be the Next Chapter...!
