LOST

-MENJAUHLAH DARINYA-

Hari sudah gelap. Heechul menyeka tirai jendela di ruang tamu, untuk mengecek apakah anaknya sudah pulang atau belum. Namun, jalanan di depan rumah masih sepi, belum ada tanda-tanda Jun terlihat.

Heechul memindahkan ponsel yang sejak tadi menempel di telinga kanannya menjadi ke sebelah kiri. Ia sedang melakukan percakapan dengan seseorang di seberang sana.

"Iya, dia baik-baik saja…. Hmm, aku selalu menanyakan apakah dia merasa gelisah atau tidak, dan untungnya dia selalu menjawab tidak…. Iya, aku harap juga begitu…. Tentu saja, dia bahkan sudah memiliki tem–"

"Aku pulang~"

"Oh! Itu dia sudah pulang. Akan kutelpon lagi nanti, dokter Kim. Annyeong!"

Heechul menghampiri Jun yang berjalan dengan menyeret langkahnya setelah melepaskan sepatu. Anaknya itu terlihat lelah sekali. Seperti biasa, Heechul akan selalu mengecup dahi anaknya setelah ia pulang.

"Eomma, hari ini aku tidak bisa lama-lama berada di meja makan. Aku punya banyak sekali tugas yang harus kukerjakan." Ujar Jun dengan nada lelah.

"Benarkah?" Tanya Heechul, yang langsung dibalas dengan anggukan oleh Jun. "Kalau begitu, eomma akan segera memanaskan makanannya selagi kau mandi. Jadi, kau bisa segera makan dan mengerjakan tugasmu."

Jun tertawa senang, lalu memeluk eommanya yang sangat pengertian itu. "Gomawo, eomma."

.

.

"Aiissh… sudah kubilang untuk berhenti memanggilku dengan dokter Kim. Dasar, hyung menyebalkan yang satu itu!"

Ryewook mengomeli ponsel yang berada di tangan kanannya, lalu melemparkannya asal ke atas meja kerjanya. Ia kemudian menghempaskan punggungnya pada kursi yang sedang ia duduki dan memijit pelipisnya pelan.

Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar.

"Masuk…" Seru Ryewook, masih dalam posisinya.

Seorang laki-laki dengan jas dokter memasuki ruang kerja Ryewook. Ia membungkuk untuk member salam. "Annyeonghaseyo, dokter Kim."

Ryewook menegakkan punggungnya. "Oh, Seungchol-ie."

Laki-laki yang dipanggil Seungchol itu tersenyum, dan berjalan ke arah Ryewook. Ia duduk di kursi di depan meja kerja, setelah dipersilahkan oleh si pemilik ruangan.

"Tumben sekali kau datang kemari." Sindir Ryewook.

Seungchol terkekeh. "Jangan begitu, hyung. Aku kan selalu menemuimu ketika ada waktu luang." Bela Seungchol, yang dibalas dengan cibiran oleh Ryewook.

"Kudengar kau sedang sibuk mempersiapkan gelar professormu." Kata Ryewook kemudian.

Seungchol mengangguk. "Itulah sebabnya aku datang kemari."

Dahi Ryewook berkerut mendengarnya. "Kau ingin aku membantu tulisanmu?" Seru Ryewook.

"Aniyoo… aku hanya ingin meminta data pasien yang dulu pernah kau tangani, saat aku masih magang disni." Kata Seungchol. "Aku ingin menjadikannya sebagai bahan penelitianku." Tambahnya.

"Begitu rupanya…" Ryewook kemudian berdiri dan berjalan menghampiri rak buku besar, tempat ia menyimpan segala dokumen tentang pasien yang pernah ia tangani. "Kau tahu, aku baru saja berbicara dengan eomma pasien itu lewat ponsel." Kata Ryewook, selagi jarinya menyusuri nama-nama yang tertempel pada document holder.

Mata Seungchol membesar. "Benarkah?" Tanyanya dengan sangat antusias. "Bagaimana kabar anak itu sekarang?"

"Dia baik." Ryewook mengambil sebuah document holder berwarna hijau dari rak, kemudian membukanya. "Dia bahkan sudah mulai bersekolah dan memiliki teman."

"Itu kabar yang bagus. Aku ingin sekali bertemu lagi dengan anak itu." Seru Seungchol.

Ryewook menutup document holder di tangannya dengan sangat kuat hingga terdengar bunyi duk. "Tidak!" Kata Ryewook. "Jangan pernah temui anak itu, meskipun ini demi gelar professormu."

Seungchol menggaruk-garuk belakang kepalanya. "Iya, hyung. Aku tidak akan melakukan itu." Katanya sambil menerima document holder yang diberikan Ryewook, lalu membukanya. "Aku kan hanya bilang ingin." Tambahnya kemudian.

Ryewook sudah kembali ke kursinya dan menyandarkan punggungnya. "Aku tahu kau tidak akan melakukan itu. Tapi, siapapun bisa melakukan kesalahan demi mendapatkan apa yang diinginkannya." Ujar Ryewook.

Seungchol menggerutu. "Hyung, aku bukan lagi mahasiswa magang yang ceroboh seperti dulu. Aku adalah dokter yang akan segera mendapatkan gelar professorku. Aku pasti sangat mengerti akan hal itu."

"Ya, ya… Aku hanya mengingatkan." Balas Ryewook sekenanya.

Kemudian, Seungchol berdiri. "Baiklah. Aku rasa aku harus pergi sekarang." Katanya. "Terimakasih atas bantuannya, hyung. Aku akan mengajakmu mengopi, jika urusanku sudah selesai nanti. Annyeonghaseyo."

Seungchol membungkuk, dan Ryewook membalasnya dengan anggukan kecil. "Akan kutunggu ajakanmu itu." Seru Ryewook.

Seungchol hanya mengacungkan jempolnya ke atas sambil terus berjalan, lalu melambai. Matanya masih sibuk memeriksa dokumen yang baru saja ia terima, sehingga untuk melihat ke belakang saja tidak sempat.

Ryewook menatapi punggung yang menjauh itu, yang kini terasa kian dewasa. Pertama kali ia bertemu dengan Seungchol, anak itu hanyalah seorang mahasiswa magang dengan segala kecerobohannya. Ryewook harus mengomelinya setiap hari. Entah itu karena salah mendiagnosa, salah memberikan resep, atau bahkan terlambat memberikan obat pada pasien, hingga pasien itu meronta-meronta.

Ryewook terkekeh jika mengingat serentetan kejadian ajaib itu. Lihatlah sekarang, Seungchol yang ceroboh itu kini telah berubah menjadi Seungchol yang dewasa dan lebih bijaksana. Rasa bangga yang ia rasakan, sama seperti seorang ibu yang telah membesarkan seorang anak.

Ryewook masih larut dalam pikirannya, namun tiba-tiba tersadar ketika melihat Seungchol menabrak pintu, lalu mengusap-ngusap dahinya yang perih. Seungchol terkekeh malu. Ia buru-buru keluar dari ruangan kerja Ryewook saat itu juga.

Ya, mungkin Seungchol tetaplah akan menjadi seorang Seungchol.

.

.

"Astaga, Won! Aku lupa mengerjakan tugas Yunho saem!" Seru Jun saat dirinya dan Wonwoo sedang makan siang di kantin. Ia tiba-tiba teringat akan tugas yang belum sempat dikerjakannya itu. Akibat terlalu serius mengerjakan tugas yang diberikan oleh Jisoo, Jun jadi lupa mengerjakan tugas yang diberikan oleh Yunho sonsaengnim. Padahal tugasnya akan dikumpulkan setelah istirahat makan siang.

"Tenang saja. Kau bisa menyalin punyaku." Ujar Wonwoo santai.

Jun menggeleng. "Tidak, Tidak! Aku harus mengerjakannya sendiri." Setelah mengatakan itu, Jun buru-buru menghabiskan susunya dan segera berdiri. "Aku akan mengerjakan tugasku di perpustakaan dan segera menyusulmu ke kelas."

Jun kemudian berlari meninggalkan Wonwoo yang masih menikmati daging asapnya. Melihat itu Wonwoo juga segera berdiri dan hendak mengejar Jun. Namun, tiba-tiba Jun berbalik, lalu berteriak, "Jangan mengikutiku! Aku butuh konsentrasi!"

Wonwoo kembali terduduk di tempatnya. Kalau Jun sudah bilang begitu, tidak ada lagi yang bisa Wonwoo lakukan selain menurutinya. Jun bisa marah jika kata-katanya tidak dituruti, dan Wonwoo tidak mau itu sampai terjadi.

.

.

Di perpustakaan, Jun memanjangkan lehernya demi mencari meja yang masih kosong. Kenapa perpustakaan tiba-tiba menjadi penuh di saat genting seperti ini? Biasanya tidak pernah seramai ini, pikir Jun. Matanya masih berkeliaran mencari-cari di setiap sudut ruangan.

"Jun-ah!"

Jun menoleh ketika namanya dipanggil. Di salah satu meja dekat jendela, ada Jisoo sunbae yang sedang melambai-lambai ke arahnya. Ia memberikan kode kepada Jun untuk datang menghampirinya. Jun melihat masih ada satu tempat kosong di sebelah Jisoo. Karena tidak ada waktu lagi untuk menolak, Jun pun segera menghampiri Jisoo dan duduk di sebelahnya.

"Annyeonghaseyo, sunbaenim." Sapa Jun. Setelah itu, ia segera membuka buku matematikanya dan mulai mengerjakan tugasnya.

"Aku tidak pernah melihatmu di perpustakaan pada saat istirahat makan siang sebelumnya." Ujar Jisoo. Ia sengaja mengalihkan perhatiannya dari buku yang sedang ia baca.

"Ada tugas yang lupa kukerjakan." Jawab Jun tanpa melihat Jisoo.

Jisoo mencoba mengintip tugas apa yang sedang dikerjakan oleh Jun, jadi ia mendekat ke arah Jun. Namun, rasanya itu terlalu dekat. Kepala mereka hampir bersentuhan. Jun bahkan dapat merasakan nafas Jisoo di lehernya. Ia bergerak-gerak tidak nyaman, dan mencoba menjauhkan jaraknya dari Jisoo.

Jisoo yang menyadari itu segera bergeser menjauh. "Oh, maaf." Katanya. "Aku hanya ingin melihat kau sedang mengerjakan tugas apa."

Jun tertawa canggung. "Tidak apa-apa, sunbaenim."

"Kalau ada yang tidak kau mengerti, kau bisa menanyakannya padaku." Ujar Jisoo.

Jun mengangguk, lalu melanjutkan pekerjaannya. Sementara Jisoo, kembali beralih pada buku bacaannya.

Tidak ada interaksi yang terjadi, selagi Jun menyelesaikan tugasnya. Jun begitu berkonsentrasi. Ia bahkan dapat menyelesaikan semua soal tanpa bertanya pada Jisoo.

Jun mengecek jam di tangannya. Tinggal lima menit lagi, istirahat makan siang akan berakhir. Jun merapihkan buku-buku dan alat tulisnya. Ia harus segera kembali ke kelas, sebelum Yunho saem mendahuluinya.

Jisoo melihat Jun yang sedang merapihkan barang-barangnya, kemudian bertanya, "Sudah selesai?"

Jun mengangguk. "Sunbae tidak kembali ke kelas?" Tanyanya setelah ia berdiri.

"Aku masih ingin menyelesaikan buku ini. Kau duluan saja." Ujar Jisoo.

"Oh iya, Jun." Panggil Jisoo lagi, membuat Jun kembali menoleh. "Aku akan menunggumu disini sepulang sekolah nanti."

Jun mengangguk paham. Ia kemudian membungkuk lagi, dan segera keluar meninggalkan perpustakaan.

Jun berlari kecil, sambil sesekali memeriksa jam di tangannya. Jika tidak berlari, ia tidak akan sampai di kelas tepat waktu. Apalagi jika ada gangguan seperti yang akan terjadi dalam beberapa detik ke depan.

Jun menghela napas gusar, ketika langkahnya dihadang oleh tiga orang laki-laki cantik yang senang sekali menganggunya. Para laki-laki cantik itu kini sedang berdiri di hadapannya dengan wajah yang sangat tidak bersahabat. Terutama yang berambut putih yang berdiri di tengah. Jun semakin yakin bahwa ia tidak akan bisa datang ke kelas Yunho saem dengan tepat waktu.

Sunbae yang berambut putih – Ren – melangkah maju mendekatinya. "Aku rasa Jeonghan sudah pernah memperingatimu untuk tidak dekat dengan Jisoo." Katanya dengan nada yang sangat dingin.

"Maafkan aku, sunbae. Tapi, aku harus segera kembali ke kelas."

Jun mencoba berjalan melewati tiga orang itu, namun Ren menahannya dan mendorongnya. "Kau tidak akan masuk ke kelas, sayang. Karena kami yang akan memberimu pelajaran."

Setelah itu, Ren memberikan kode kepada dua temannya yang lain. Taemin dan Jeonghan segera menghampiri Jun dan menarik tangannya, hingga buku-buku dan alat tulis yang semula dipegang Jun menjadi jatuh berantakan di lantai. Mereka membawa Jun pergi dengan Jun yang meronta-ronta minta dilepaskan.

.

.

Di kelas, Wonwoo tidak bisa duduk dengan tenang di kursinya. Sebentar lagi Yunho saem akan datang, namun Jun belum juga kembali. Ia melihat kursi milik Jun yang masih kosong. Wonwoo rasa ia harus menyusul Jun, karena tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak.

Jadi, Wonwoo berlari menuju perpustakaan, sambil memperhatikan setiap orang yang melewatinya. Siapa tahu ia bertemu dengan Jun di jalan. Namun ternyata tidak. Yang ia temukan justru buku dan alat tulis milik Jun yang berserakan di lantai. Perasaannya menjadi semakin tidak enak saja hingga jantungnya berdetak semakin cepat.

Wonwoo segera membereskan barang-barang milik Jun, dan kembali berlari demi menemukan Jun.

Ia mengecek perpustakaan, namun tidak ada seorang pun disana. Ia mengecek kantin dan juga toilet, namun ia masih belum menemukan Jun. Sesuatu pasti telah terjadi pada Jun. Dan jika ada yang harus disalahkan, orang itu adalah Ren dan teman-temannya. Tidak bermaksud berburuk sangka, namun hanya mereka bertiga lah yang muncul di pikiran Wonwoo.

Jika tebakan Wonwoo tidak salah, maka seharusnya saat ini mereka sedang berada di tempat yang sepi untuk mengerjai Jun. Satu-satunya tempat yang sepi selain gudang penyimpanan adalah di bagian belakang sekolah.

.

.

Di bagian belakang sekolah, tubuh Jun sudah penuh berlumuran dengan tepung dan telur. Kini, Ren membuka botol cuka dan bersiap menumpahkan isinya ke kepala Jun. Sementara Taemin dan Jeonghan masing-masing masih memegangi lengan Jun agar ia tidak kabur dari mereka. Ren menuangkan seluruh isi cuka dan tertawa-tawa setelahnya. Jun bahkan harus menutup matanya dengan rapat, agar cairan itu tidak masuk ke matanya.

"Setelah ini, apa kau masih berani dekat-dekat dengan Jisoo-ku?" Tanya Ren, dengan tatapannya yang seakan ingin memakan Jun.

Jun membuka matanya pelan-pelan. Ia balas menatap Ren tepat ke matanya. "Entahlah, sunbae. Aku tidak merasa yang kau lakukan ini membuatku takut." Katanya tanpa ragu.

Ren menggertakan giginya. Ia merasa sangat kesal hingga ia ingin memukul kepala Jun dengan botol cuka yang sedang dipegangnya saat ini. Botol kaca itu hampir saja mendarat di kepala Jun, kalau saja Wonwoo tidak datang dan menahan tangan Ren.

"Apa yang kau lakukan?" Kata Wonwoo penuh emosi.

Ren melepaskan tangannya dari cengkraman Wonwoo, hingga botol cuka itu terjatuh dan pecah berhamburan. "Aku tidak punya urusan denganmu!" Seru Ren sambil menunjuk-nunjuk wajah Wonwoo.

"Jika itu berhubungan dengan Jun, maka akan menjadi urusanku." Ujar Wonwoo dengan penekanan di setiap katanya.

Ren tertawa meremehkan. "Kalau begitu ingatkan pacarmu ini untuk tidak dekat-dekat dengan Jisoo-ku lagi. Karena…" Ia kemudian menoleh ke arah Jun, "aku bisa melakukan yang lebih dari ini."

Setelah itu, Ren pergi meninggalkan Jun dan Wonwoo, diikuti dengan Taemin dan kemudian Jeonghan. Sejak Wonwoo datang, Jeonghan hanya menunduk, demi menghindari bertatapan dengan Wonwoo. Saat akan menyusul Ren, Jeonghan mencoba melirik ke belakang. Ia dapat melihat kekhawatiran yang amat sangat di wajah Wonwoo.

"Jun, kau tidak apa-apa?" Wonwoo hendak mendekat, namun Jun menahannya untuk tetap di tempatnya.

"Jangan! Nanti kau ikutan bau."

Wonwoo menghela napasnya. Di saat seperti ini, kenapa yang dipikirkannya malah bau. "Ayo, kita bersihkan di toilet." Ajak Wonwoo.

Sekali lagi, saat Wonwoo ingin merangkul Jun, Jun justru berlari menjauh dan mengomel pada Wonwoo untuk tidak dekat-dekat padanya.

.

.

Wonwoo kembali ke toilet setelah mengambil seragam olahraganya di kelas. Yunho saem telah berada di kelas saat itu. Beruntung ada Soonyoung yang membantunya mengambilkan seragam olahraga di laci mejanya. Yunho saem tidak akan sadar, karena Soonyoung ahli dalam mengendap-ngendap.

Wonwoo masuk pada salah satu bilik di toilet dan mengganti seragamnya dengan seragam olahraga. Di bilik sebelah, ada Jun yang sedang membersihkan dirinya dari segala macam tepung, telur, dan cuka yang menempel padanya.

"Kau sudah selesai?" Tanya Wonwoo, setelah keluar dari bilik.

"Tunggu sebentar. Tepung ini menjadi sangat lengket karena bercampur dengan telur di rambutku." Seru Jun. Suaranya beradu dengan derasnya suara air.

"Perlu kubantu?" Tanya Wonwoo lagi.

"Tidak. Sedikit lagi selesai."

Tak lama pintu dari bilik itu sedikit terbuka. Tangan Jun menjulur keluar. "Mana pakaiannya?" Wonwoo menyerahkan seragamnya kepada tangan itu. Kemudian, kepala Jun ikut menjulur keluar. Dahinya mengkerut melihat Wonwoo telah berganti pakaian. "Kenapa jadi kau yang memakai seragam olahraganya?" Tanya Jun bingung.

"Sudah, cepat, pakai saja! Kau ingin dihukum oleh Yunho saem?"

"Tapi kan…"

Wonwoo segera menarik kenop pintu bilik itu, hingga mau tidak mau Jun harus menarik tangan dan kepalanya kembali.

"Jun…" Panggil Wonwoo.

Jun hanya membalas dengan gumaman. Ia sedang sibuk berpakaian sekarang.

"Sebaiknya kau berhenti belajar matematika bersama Jisoo sunbae. Menjauhlah darinya."

Jun berhenti sesaat, lalu kembali memasangkan kancing seragamnya. "Belajar matematika bersamanya sangatlah penting, Won. Yunho saem sendiri yang memberikan kepercayaan kepadanya." Ujar Jun. "Beliau sangat memperhatikanku. Aku tidak ingin mengecewakannya."

Setelah itu, pintu bilik terbuka. Jun keluar dengan rambutnya yang basah, dan menjinjing sebuah kantong plastik yang berisi seragam kotornya.

"Kalau kau masih dekat dengan Jisoo sunbae, Ren sunbae tidak akan berhenti menyakitimu."

Jun diam saja tidak menjawab. Ia berjalan menuju cermin, dan merapihkan seragamnya disana.

Wonwoo menghela napas gusar. "Kau tidak dengar tadi katanya? Dia bisa melakukan yang lebih dari sekedar melemparkan tepung. Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi padamu?"

Jun tertawa mendengarnya, membuat dahi Wonwoo semakin berkerut. Ia kemudian berbalik untuk menoleh ke arah Wonwoo. "Aku tahu kau mengkhawatirkanku. Tapi aku tidak apa-apa. Aku sungguh tidak apa-apa." Kata Jun. "Aku tidak apa-apa, karena ada kau yang akan selalu menjagaku. Benar, kan?"

Wonwoo awalnya ingin protes, namun tidak jadi setelah Jun mengatakan itu.

"Setelah kau berjanji untuk tidak membiarkan setetes air pun jatuh dari mataku, aku merasa yakin bahwa aku akan baik-baik saja. Karena akhirnya, ada seseorang yang dapat menjagaku, ketika aku berada jauh dari eomma."

Wonwoo tertegun mendengarnya. Ya, dia pernah berjanji seperti itu. Itu berarti, tidak ada yang dapat ia lakukan selain menepati janjinya itu.

Wonwoo berjalan mendekati Jun. "Aku tidak tahu kapan mereka akan kembali menyakitimu. Jadi berjanjilah untuk dapat bertahan, selagi aku datang menyelamatkanmu." Ujar Wonwoo.

"Asal kau tidak jadi pahlawan kesiangan saja."

Setelah mengatakan itu, Jun dan Wonwoo kembali tertawa, seakan sebelumnya tidak terjadi apa-apa. Wonwoo bahkan kembali bercanda tentang rambut Jun yang masih mengeluarkan bau tidak sedap. Dengan tertawa seperti itu, mereka sama-sama berharap bahwa semuanya akan baik-baik saja.

.

.

Sepulang sekolah Jun tetap datang menemui Jisoo di perpustakaan. Setelah sebelumnya ia harus kembali berdebat dengan Wonwoo. Dan untungnya, dialah yang menjadi pemenang dari perdebatan itu.

"Kau mengikat rambutmu hari ini?" Goda Jisoo saat Jun datang menghampirinya.

Jun hanya tersenyum saja.

Ya, Jun memutuskan untuk mengikat rambutnya, setelah menyadari bahwa bau di rambutnya memang belum hilang. Persis seperti apa yang dikatakan Wonwoo.

Jun juga sengaja mengambil jarak di antara tempat duduknya dengan Jisoo. Ia tidak ingin bau di rambutnya justru menganggu kegiatan belajar mereka.

Jisoo yang menyadari Jun menjaga jaraknya, menjadi merasa tidak nyaman. "Kenapa duduk disana?" Protesnya. "Kalau jauh begitu bagaimana aku bisa mengajarimu?"

Jun belum juga bergerak dari posisinya. Hal itu membuat Jisoo mengambil keputusan untuk membuat dirinya yang duduk mendekati Jun.

"Sunbae, jangan terlalu dekat. Nanti baunya mengganggumu." Seru Jun memperingati Jisoo. Tapi Jisoo sudah keburu mendaratkan pantatnya di sebelah Jun.

Jisoo kemudian terkekeh. "Dari saat kau masuk saja, baunya sudah tercium olehku. Jadi tidak ada bedanya."

Pernyataan itu tentu membuat wajah Jun memerah karena malu.

"Apa ini ulah Ren?" Tanya Jisoo.

Jun awalnya ingin diam saja, tapi kemudian dia berkata, "Aku rasa Ren sunbae–"

"Melakukan semua ini karena menyukaiku?" Potong Jisoo.

Jun jadi gelagapan. "A-aku tidak bermaksud bicara begitu, tapi Ren sunbae memang–"

"Menyuruhmu untuk mejauhiku?" Potong Jisoo lagi.

Jun menutup mulutnya. Mungkin memang benar jika sunbae yang satu ini adalah cenayang. Ia dapat menebak semua perkataan Jun dengan tepat.

Jisoo tertawa melihat ekspresi terkejut Jun yang begitu lucu. "Ren mungkin memang menyukaiku," Katanya setelah tawanya mereda. "tapi Ren bukanlah orang yang dapat melakukan hal seperti itu, jika tidak ada yang mempengaruhinya."

Dahi Jun berkerut mendengarnya. Ia memiringkan kepalanya, demi meminta penjelasan lebih.

Jisoo melanjutkan, "Jadi, kalau ada seseorang yang harus kau jauhi, orang itu bukanlah aku. Tapi, Wonwoo."

-TBC-

Review juseyooo :3