(Red)emption

Naruto © Masashi Kishimoto

Saya Cuma pinjam tokohnya

Warn: Typo, OOC, Alur cepat, Mengandung unsur kekerasan, M untuk Gore

AU&AR

Kalau tidak suka dan tidak kuat silakan tekan tombol back

Enjoy Reading

.


Chapter 4: Broken

.

"Kau… "

Seorang lelaki berambut hitam kini berada di depannya, dengan setelan kaos V neck dengan mantel hitam sebagai luaran dan celana jeans. Menarik pergelangan tangan Sakura, lalu mengunci borgol padanya.

"Apa maksudnya ini?! Hei! Sasuke!" Sakura setengah berteriak, tidak terima dengan perlakuan sasuke padanya. Sakura kaget dan syok, tentu saja.

"Ikut aku. Kau mengajar di Universitas Konoha, kan?" Sasuke menyeret Sakura dengan menarik borgolnya, lalu membuka pintu mobil, mengisyaratkan agar Sakura masuk.

"Sasuke! Kau mau membawaku kemana dengan borgol ini! Apa-apaan kau! Lepaskan borgol ini dariku, brengsek!" Sakura tidak berhenti berteriak hingga Sasuke masuk ke dalam mobil, dan mulai menjalankan mesin.

"Apa maksudmu dengan borgol ini, hah? Aku salah apa?!"

Namun teriakan Sakura sama sekali tak di gubris, mobil milik Sasuke tetap melaju. Membuat Sakura lelah, dan hanya pasrah melihat tangannya yang dilingkari borgol.

Sekilas ia melirik seuntai kawat di gantungan resleting tasnya, namun cepat ia menggeleng. Saat ini ia harus pura-pura tidak bisa apa-apa, mewaspadai bahwa apa yang kini ada dalam pikirannya akan terjadi.

.


Sakura dan Sasuke telah berada di ruang kelas, dengan perasaan lega bercampur kesal tentunya sehabis melewati hujan bisik prasangka tidak baik padanya selama berjalan di area kampus.

Tanpa ingin membuang banyak waktu Sakura memasuki ruangan, fokus pada meja di depan papan tulis.

"Ohayou."

Sakura memang mendapatkan sahutan dari para mahasiswanya, namun hampir semua dari mereka pandangannya terpusat pada seorang lelaki yang bersandar di depan pintu dengan pose sok cool nya, terutama mahasiswa perempuan yang tatapannya seolah mengatakan Damn-He-is-so-hot, membuat Sakura merasa terabaikan.

Sasuke sialan, Shannarooo~!

Sedang Sasuke yang awalnya berada di samping pintu menyingkir, hingga ia tak tampak lagi dari kelas. Mengambil smartphonne nya yang berdering sedari tadi. Sasuke membalas perkataan dari seberang telepon, dengan seringai tipis.

"Ya, aku sudah mendapatkannya."

.


"Sasuke, kau yakin tak ingin melepaskan borgol ku?"

Namun yang di dapatkan Sakura hanyalah deheman kecil, membuat ia mencebik kesal. Pelajarannya baru selesai lima menit yang lalu. Waktu berharganya terbuang hanya untuk kembali menguasai kelasnya yang menjadi gaduh karena kehadiran Sasuke.

Alarm sebuah mobil hitam berbunyi ketika Sasuke memencet tombol pada kunci mobilnya, diikuti Sakura yang masuk di kursi depan dengan perasaan yang tentu saja masih kesal, dan kali ini ia memilih mengalah dengan Sasuke yang akan membawanya nanti.

Mobil mulai meninggalkan tempat parkir Universitas Konoha, dengan Sakura yang menatap pasrah pada borgol yang melingkari tangan.

Diamnya Sakura bukanlah hanya sekedar tak mengeluarkan suara, pikirannya sedang bekerja keras memikirkan kemungkinan yang akan terjadi dalam beberapa menit ke depan, hingga memikirkan resiko terburuk apa yang akan terjadi nanti dengan tindakannya.

Tidak memakan waktu lama, hanya sekitar dua puluh menit mobil Sasuke berkutat di jalanan hingga sampai ke tempat tujuannya, tempat yang sudah di prediksi dalam pikiran Sakura. Kantor polisi.

"Untuk apa kau mengajakku ke sini?" Tanya Sakura dengan wajah pura-pura tidak tahu.

"Bukannya kau sudah tahu kenapa, Sakura?" Sasuke balik bertanya, dengan seringai tipis terlihat di wajahnya.

Mereka ingin menantangku, rupanya. Sakura membatin, diam-diam terlukis senyum miring di wajahnya.

.


Semua Detektif divisi kriminal di ruangan kantor kepolisian berdiri ketika melihat Sasuke, datang dengan menggiring Sakura yang terkagum-kagum melihat sekelilingnya, meski hanya pura-pura demi agar dirinya tidak terlihat terlalu mencurigakan.

"Hei Naruto! Hinata! Kalian disini? Ah, sudah lama kita tidak bertemu, ya." Sekonyong-konyong Sakura meraih tangan Hinata, menjabatnya kuat. Memberikan senyum lebar, dengan dibalas dengan anggukan.

"Ah ya, maaf aku tidak bisa ikut reuni sekolah kita, aku sibuk sekali, kau tahu. Selain mengajar aku juga sedang mengurus beasiswa untuk strata dua ku, juga mengurus novel. Haah… hidupku benar-benar melelahkan."

"Ah ya, Sakura-chan. Lama sekali aku tak bertemu dengan mu." Giliran Naruto menyapanya, dengan senyum lebar.

"Ya, Naruto. Kau jaga Hinata baik-baik, jangan sakiti dia… " Menguasai situasi yang menjadi sedikit gaduh sasuke menyeret Sakura ke ruang interogasi.

"Apa-apaan kau ini, Sasuke! Naruto… awas kau bila menyakiti Hinataaa!" teriak Sakura dengan kaki yang terseok-seok karena memberontak dari tuntunan Sasuke.

Hingga Sakura menghilang di balik persimpangan, membuat Shikamaru yang sedari tadi hanya menonton berjalan menyusul mereka berdua.

"Perempuan yang merepotkan…" Gerutunya. Diikuti Neji berjalan di belakangnya.

"Hei kalian? Masih bertahan di situ?" Tanya Karin ketika melihat Naruto dan Hinata yang masih terpaku di tempatnya.

"Gomen." Ucap Hinata, menyusul Karin yang diikuti Naruto di sampingnya.

.


Interogasi sudah selesai. Sakura sudah di pulangkan karena tidak ada hal yang menyebabkan ia bisa di tahan.

"Lihat ini." Karin menunjukkan sebuah berkas pada Shikamaru. "Bahkan dia lolos dari tes kebohongan."Tambah Karin. Shikamaru melirik sebentar, lalu kembali meletakkan berkas di meja.

"Aku tidak yakin dia itu Red. Dari fotonya saja tidak menunjukkan dia seorang penjahat. Ah, tidak. Bisa saja benar."

Ia mengusap dagunya, mencoba berpikir. Karin mengerang lemah, sedikit putus asa dengan investigasi nya kali ini yang sama sekali tidak memberikan petunjuk.

Sedangkan Sasuke yang mendengarkan perbincangan kedua Detektif di dalam hanya membisu. Ia juga ikut berpikir, dan berasumsi bahwa Sakura bukanlah seperti yang Karin kira, meski dalam hati Ia mengiyakannya. Perbandingannya seimbang, dalam kasus ini siapapun bisa dijadikan tersangka.

Tak lama Hinata masuk setelah memberi anggukan kecil pada sasuke, membawa sebuah kertas.

"Bagaimana? Sudah keluar hasilnya?" Tanya Karin.

"Um. Dia tak berbohong. Pada jam 6, tepatnya 6:19 ibunya menelepon, sekitar 25 detik."

Hinata menampakkan kertas pada Karin dan Shikamaru, sebuah riwayat panggilan seluler milik Sakura

Karin mendekatkan kertas itu padanya, namun tak lama ia mulai membaca ia berhenti, memijit pelipis frustasi. Mendengar pernyataan Hinata tadi membuat semangatnya pudar-

"Haah… "

dan menurunkan kepalanya, bertopang dagu.

Sedangkan Shikamaru bangkit, di wajah mengantuk nya pun tersirat kekesalan.

"Benar-benar merepotkan." Ia berlalu, keluar dari ruangan. Melihat Sasuke sekilas, berjalan hingga tak tampak lagi punggungnya oleh Sasuke.

.


"Arigatou, Grey. Kau sudah membantuku. Ku akui kau Hacker yang jenius."

Terdengar tawa kecil dari seberang telepon.

"Sesama teman bukankah harus saling menolong, Red?"

"Benar juga. Yah, sekali lagi terima kasih."

"Ya."

Dan Sakura mematikan sambungan telepon. Dilihatnya pintu café, masih belum ada tanda-tanda seseorang yang ia tunggu sedari tadi akan datang.

Ya, tepat sebelum kepolisian mengambil riwayat panggilan telepon nya, Sakura meminta Grey-atau Sai untuk meretas situs kartu selulernya untuk mengganti panggilan dari Temari menjadi nomor ponsel Ibunya. Andai sedikit saja Sakura dan Sai terlambat, mungkin ia berada di belakang jeruji sekarang, menunggu detik-detik kematiannya di tangan algojo.

Sakura memang tidak takut dengan kematian, tetapi bila hidupnya berakhir di tangan penjagal kepolisian? Yang benar saja, batinnya kala itu.

Karena terlalu larut melamun Sakura tidak menyadari bahwa seorang laki-laki berpakaian serba hitam, dengan kacamata berbingkai coklat mendekatinya. Ia mengernyit, menaksir bahwa seseorang di hadapannya berkisaran empat puluh tahunan.

Yang membuat sakura semakin bingung, lelaki itu meletakkan koper hitam dan tas berwarna merah muda di mejanya.

"Ada yang bisa ku bantu, tuan?"

Namun ia tidak menyahut, malah pergi menjauh, meninggalkannya menuju toilet. Membuat Sakura semakin bertanya-tanya.

Astaga… apa lagi sekarang? Aku tak ingin kembali melihat wajah-wajah polisi itu karena tuduhan perampokan, keluhnya dalam hati.

Tak lama dari arah toilet keluar seorang wanita berambut pirang bergaya ponytale, memakai kaos polos biru tua dan celana jeans. Menenteng pakaian berwarna hitam di tangan kirinya.

"Ino? Dari mana saja kau?!" Tanya Sakura penuh kekesalan.

"Maaf aku terlambat dari perjanjian kita, target ku sedikit lebih alot dari biasanya."

"Jadi, seorang laki-laki berpakaian hitam di sini tadi itu kau? Benar-benar… kau membuatku berpikiran akan dituduh sebagai perampok."

Sakura bersungut ketika mendengar Ino tertawa terbahak.

"Aku baru tahu kadang kau bisa konyol seperti ini, Forehead." Ejek Ino, sambil menduduki kursi di seberang Sakura.

"Jangan mengejekku, Ino-pig! Mood ku sedang tidak bagus."

"Baiklah. Kali ini aku yang bayar sebagai ganti keterlambatan ku." Tawar Ino.

"Ya sudah. Kali ini aku tak ingin berdebat masalah waktu lebih berharga dari uang padamu." Ucap sakura, dengan membuang muka.

Ino membalasnya dengan alis yang sedikit terangkat. Ia berbalik melambaikan tangan, berisyarat memanggil pelayan mendekatinya.

Pilihan ino kali ini jatuh pada moka hangat,sedangkan Sakura memilih kopi hitam saja.

"Jadi, mana datanya?" Tanya ino setelah sang pelayan pergi. Sakura membuka tas, mengambil sebuah keping CD bertuliskan "Unbroken" di wadahnya, yang tak lain adalah judul novelnya. Dengan diam menaruhnya di meja.

"Baiklah, ku simpan dulu. Besok akan ku periksa."

Dan hanya di balas Sakura dengan deheman kecil, sebelum menyesap kopi hitamnya.

.


Pelan Sakura mengunci pintu apartemennya, menghembuskan napas lega karena akhirnya ia bisa selamat dari 'kandang singa' kedua selain kediaman Uchiha, namun dengan versi yang lebih menyeramkan.

Selesai meletakkan sepatu flat nya di rak, ia meletakkan tas bahu nya ke sofa, bersamaan dengan duduknya ia.

Sakura sedikit tersentak ketika mendengar dering kecil dari dalam tas nya, yang tak lain adalah Smartphonne nya. Sebuah panggilan yang membuat dahi nya mengkerut.

"Ada apa, Ino-pig?!"

Mendengar penjelasan dari Ino ia benar-benar shock. Lekas ia mengambil tas jinjingnya, berlari keluar apartemen seperi orang kesetanan. Penglihatannya mulai mengabur karena air yang terus mendesak dari matanya untuk keluar.

Alarm dari sebuah mobil berbunyi ketika sakura memencet tombol di kunci mobilnya. Ia segera masuk, menjalankan mobil dengan tergesa.

.


Bangsal rumah sakit di usik keheningannya oleh tapak keras sepatu oleh perempuan berhelaian merah muda. Sakura terus mengamati plang nama ruangan diatas kepalanya seiring kakinya membawa berlari. Dan tiba-tiba berhenti di depan ruangan yang ia tahu disitulah Ino beritakan tadi berada.

Ia membuka pintu kasar, mendapati beberapa perawat dan dokter. Seseorang diantara nya menutup wajah Tenten yang pucat dengan kain putih, hingga tubuhnya tertutup sempurna.

"Tenten…"

Di sebelahnya seorang wanita paruh baya, menitikkan airmata. Menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

Sungguh Sakura rasanya tidak sanggup melihat semua, maka ia pun keluar. Ia kembali berlari, membawa kedukaan bersamanya.

Tenten, sahabatnya, takkan pernah ia jumpai lagi selamanya.

.


"Ternyata lebih mengerti sahabat yang sudah dua belas tahun bersama daripada yang enam tahun. Sungguh aku tak mengerti."

Kata-kata itu. Yang membuat persahabatan Sakura dan Tenten retak. Hingga tak bisa lagi di perbaiki.

Dulu, saat Sakura menginjak semester dua pada masa perkuliahannya. Saat ia merasa masih remaja ingusan, yang bahkan memegang sniper saat diajari oleh Black kewalahan.

Saat ia begitu merindukan sahabat cepol dua nya itu. Sahabat yang sudah enam tahun bersamanya. Yang selalu sibuk dengan kegiatan kampus nya, selalu aktif dengan media sosialnya namun lupa menghubunginya. Membuat Sakura bertanya-tanya, saat itu.

Dan ia tahu, bahwa sahabatnya itu memiliki banyak kegiatan, namun tidak harus melupakan untuk memberi kabar, kan? Begitulah kira-kira pikir Sakura.

Maka, Sakura pun membuat sebuah tulisan, semata-mata agar Tenten menghubunginya. Namun balasan yang ia dapatkan sungguh di luar dugaannya. Bagaimana bisa sahabatnya itu tega membandingkannya dengan orang lain?

HIngga membuatnya selalu menangis ketika mengingatnya.

Sejak saat itu, Sakura tak ingin lagi menghubungi nya. Tak lagi peduli dengan sahabatnya lakukan. Meski kadang ia memperhatikan kegiatan apa yang Tenten lakukan. Yah, tentu saja. Karena Sakura menyayanginya, seperti ia menyayangi Satora.

Dan saat ini. Barusaja ia melihat Tenten berwajah pucat, yang kemudian ditutupi dengan helaian kain putih. Tenten-nya pergi meninggalkannya.

Sakura menghentikan langkah kakinya ketika ia sudah berada di ujung tebing pinggir pantai. Sungguh, ia baru ingat bahwa dulu, saat ia belum pernah pergi ke pantai. Ia bercerita pada Tenten bahwa ia ingin sekali ke pantai, berteriak sekencang-kencangnya untuk melepaskan rasa sakit yang menyesakkannya. Dan baru kali ini ia bisa melakukannya.

Tidak terhitung airmata yang terlanjur mengalir, bahu nya naik turun karena terisak, ia tidak peduli. Yang ia tahu, rasa sakit ini jelas membunuhnya.

Sakura mengambil napas panjang, lalu ia berteriak sekerasnya. Mengambil napas,dan kembali berteriak. Dan diakhiri isakan dan napas yang tertahan.

"Mengapa… Tuhan… " Ia memandang ke langit, dengan tatapan nanar.

"Ini sangat tidak adil! Mengapa saat aku menyayangi seseorang, mereka pergi dari hidupku?!" Teriaknya lagi. Ia gemetaran, karena tangis dan juga angin laut yang menerjang tubuh ringkihnya.

"Laki-laki itu … Sara… Satora… lalu Tenten…" Ia menggigit bibir bawahnya kuat.

"Mengapa kau ambil semua yang kusayangi, tuhan?! Mengapa tidak sekalian aku saja yang kau ambil?! Aku tidak takut dengan kematian!"

Sakura terengah, mulai lelah karena teriakannya. Keseimbangannya mulai menurun. Hingga kakinya terantuk sesuatu, membuat ia lepas kendali dengan tubuhnya. Ia jatuh, melayang dari tebing. Perlahan ia menutup matanya, dan tersenyum. Ia menyadari bahwa kematian sebentar lagi akan menjemputnya.

Terimakasih Tuhan, Batinnya. Sebelum ia benar-benar menyentuh lautan.

.


Seorang perempuan berpakaian seorang perawat mendorong sebuah meja beroda menuju ruangan 214, dengan nametag Haruno Sakura. Terlihat di wajahnya, sebuah seringai tipis ketika pelan ia membuka pintu.

Tampaklah seorang perempuan berhelaian merah muda, terbaring di kasur dengan mata tertutup dengan selang infus melekat di punggung tangan. Nampaknya Sakura sedang tidur, terlihat dari bahunya yang naik turun teratur.

Membuat seringaian dari seorang perawat itu semakin melebar.

Ketika ia menyibakkan rambut panjangnya, terlihat sebuah tato berbentuk huruf V di lehernya. Ya, dia adalah Victoria yang menyamar menjadi seorang perawat.

Tujuannya? Tidak usah ditanya.

Maka dengan pelan ia menyiapkan sebuah suntikan, yang kemudian digunakan untuk menyedot cairan bening yang berada dalam botol kecil.

Selesai dengan suntikan yang penuh dengan cairan, ia meraih selang infus dengan penuh hati-hati, sekilas memandang sakura dengan senyum licik.

"Damailah di sana, Sakura."

Victoria menusukkan jarum nya ke selang, hingga ia dikejutkan oleh sesuatu yang menempel di dahinya.

Pistol hitam kini tak lagi berjarak dari pelipisnya.

.


TBC


A/N

Maap bngt chap ini super hambar dan pendek. Dan pasti banyak typo :'v Sumpah sejak ada masalah dengan sahabat ane kmaren rasanya hancur bngt, gak bisa ngapa-ngapain. Gk bisa nerusin fic, gk bs ngedeskrip, pkoknya kacau bngt dah. Dan chap ini lah akibatnya :"D

Dan skarang udh mulai mood x baik, tapi ya tetap aja efek x benar-benar luar biasa mempengaruhi kemampuan nulis ane :") *malah curhat

Oke disini gak ane bikin gore scene ya, ntar deh chap selanjutnya bakalan ane ksih yg greget deh sebisa ane :"v

Udhlh, ane kebanyakan bacot. Buat silent reader… saya kira anda sdah mengerti apa yang saya rasakan. Saya tidak menuntut anda untuk mereview fic saya, karena saya tahu kualitas saya seperti apa. Tapi alangkah baiknya agar setidaknya kalian memberikan support sama saya (sumpah sekarang saya down banget :"D )

Ditunggu krisannya gaes. Sampai jumpa di chap berikutnya :"D

p.s: ada special chapter di depan :v ttg perkenalan anggota organisasinya Black