Flowers Rock
.
.
.
Summary : "Kau selalu mengingatkan orang lain tentang bahaya yang akan menimpa mereka. Tapi kau tidak bisa memprediksi bahaya yang akan datang menimpamu. Bukankah hal itu sungguh menggelikan, Hanajima?!" Hanamiya berbisik padaku. Jemarinya memainkan helai-helai rambutku, kemudian beralih ke leherku dan… Hanamiya x OC. Rated tidak berubah. Masih aman dikonsumsi kok. Hehehe. Enjoy reading :)
Disclaimer : I own nothing except the plot :)
A/N : Alhamdulillah bisa apdet juga ditengah-tengah kesibukan yang menumpuk sehabis libur lebaran :D chapter kali ini akan lebih banyak bercerita dari sudut pandang Rei. Berusaha tetap pada rated T meski ada sedikit mature content (tapi bukan lemon yaa) dan akan ada banyak kata-kata kasar (umpatan lebih tepatnya) yang menurut saya diperlukan supaya feel nya lebih dapet. Tapi mohon jangan ditiru yaa minna-san. Hehehe.
Warning : Gaje, alur cepet, OOC dan masih banyak kekurangan disana-sini but enjoy reading minna-san :)
.
.
.
Author's POV
Rei membuka matanya perlahan. Butuh beberapa detik sebelum gadis itu membuka kelopak matanya yang masih terasa berat seperti habis menangis. Dia menggerakkan kepalanya, berusaha mengamati keadaan sekitar dengan pandangan sayu. Namun tak lama kemudian, kedua bola mata gadis itu membesar saat mengetahui bahwa dia tidak berada di kamarnya.
Rasa panik menjalari tubuh gadis itu sampai ke ubun-ubun, terlebih saat dia menyadari kalau dirinya dalam kondisi terikat di tempat tidur, dengan mulut yang ditempel lakban besar. Rei menggeliat, berusaha melepaskan tali tambang yang mengikatnya dengan kuat, tapi usahanya tidak membuahkan hasil. Gadis itu malah mendapat ruam kemerahan pada pergelangan tangannya.
"Oke. Tenang Rei! Tenang. Kau akan baik-baik saja." Rei berusaha menenangkan dirinya sendiri, mencoba mengatur napasnya, berusaha memfokuskan konsentrasinya atas apa yang tengah menimpanya. Rei mengedarkan pandangannya sekeliling ruangan yang tampak seperti sebuah kamar tidur dengan ranjang besar tempatnya berbaring dalam kondisi terikat.
Keadaan didalam ruangan itu cukup temaram. Hanya dua lampu yang menyala yang berada tepat diatas ranjang. Rei hanya bisa memastikan ada sebuah sofa disamping kirinya dan sebuah lemari tiga pintu yang berada tak jauh dari sofa. Lampu disekitar sofa dan lemari tidak dinyalakan sehingga Rei tidak bisa memastikan warna maupun bentuknya.
Dilihat dari penataan interiornya, kamar itu terkesan sangat sederhana dan maskulin. Ah! Rei baru teringat kalau dirinya berada di rumah Pak Kubota dan kamar ini mungkin adalah kamarnya. Damn! Apa Pak Kubota yang melakukan ini? setitik air mata meluncur turun dari ujung-ujung matanya. Dia tak menyangka kalau gurunya tega memperlakukannya seperti itu.
Rei sedikit merasa lega karena dia masih berpakaian lengkap meski roknya sedikit tersingkap keatas karena kakinya terikat dalam keadaan direntangkan lebar-lebar. Dua kancing paling atas kemeja putihnya terbuka. Seingatnya, dia hanya membuka satu kancing paling atas saat mengenakan seragam pagi tadi. Jangan-jangan!
"Kau sudah bangun rupanya." Rei menoleh kearah suara yang ia yakini berasal dari lorong kecil disebelah lemari. Dia bisa mendengar derap langkah pelan namun pasti mendekati tempat tidurnya.
Meski pencahayaan di kamar itu tidak terlalu terang, Rei bisa mengenali suara dan sosok Kubota yang sudah berdiri didepan tempat tidur. Pria itu masih berpakaian lengkap, tangannya menggenggam sebuah handycam. Rei bisa melihat kerlipan cahaya merah dari handycam itu. Dia sedang merekamku! batinnya.
"Kau memang berbeda, Hanajima. Obat bius itu hanya bertahan kurang dari setengah jam didalam tubuhmu." Kubota mulai mendekati Rei, satu lututnya sudah berada diatas tempat tidur gadis itu.
Pria itu mulai merayap diantara kedua kaki jenjang gadis itu yang terbuka lebar. Rei mengguncangkan tubuhnya dengan kencang, berusaha menghindar dari Kubota yang masih merekam tubuh sintal Rei dengan handycamnya.
"Simpan tenagamu, Sayang. Kau akan membutuhkannya nanti. Kita akan bermain semalaman." Kubota menyeringai penuh nafsu. Rei bisa merasakan hembusan napas pria itu ketika Kubota menindih tubuhnya. Menjijikkan! Lepaskan akuuuu! Rei berusaha berteriak tapi hanya suara lenguhan-lenguhan lemah bak orang bisu yang terdengar lantaran mulutnya dibebat lakban.
Oh, Tuhan! Bagaimana ini bisa terjadi padaku? pekiknya dalam hati. Rei bisa merasakan airmatanya mulai mengalir deras. Kubota memegang wajahnya lantas mengusap airmata yang meleleh membasahi pipi mulus gadis itu dengan ibu jarinya.
"Sssttt. Jangan menangis. Kita akan bersenang-senang sebentar lagi. Aku akan memuaskanmu, Sayang." Kubota mengatakannya dengan nada yang terdengar menggoda, membuat Rei ingin muntah mendengarnya. Tak lama kemudian pria itu bangkit dari atas tubuh muridnya.
"Jadilah anak manis. Aku akan kembali lagi setelah membersihkan diri." Kubota mematikan handycamnya dan menyimpannya didalam laci nakas disamping tempat tidur.
"Kau sangat spesial bagiku, Hanajima. Aku ingin melakukan yang terbaik untuk malam istimewa kita nanti, hingga kau tak akan pernah melupakannya." setelah mengatakan itu, Kubota beranjak turun dari tempat tidur dan melangkah keluar kamar.
Apa maksudnya tadi? Apa dia akan memperkosaku? TIDAAAK! Sekali lagi Rei menggerak-gerakkan kaki dan tangannya, berharap akan membuat ikatannya merenggang, namun sia-sia. Kubota mengikatnya dengan erat. Lagipula tenaganya masih belum pulih akibat obat bius tadi. Dan kini ditambah rasa nyeri yang mendera di pergelangan kaki dan tangannya.
Sejak bertemu dengan Kubota Sakuya, Rei selalu mengingatkan dirinya sendiri untuk menjauhi pria perlente itu. Rei tidak bodoh. Dengan bakat alaminya yang bisa melihat aura seseorang, dia bisa menebak kalau Kubota adalah orang yang patut dihindari karena memiliki aura yang kelam.
Tapi Rei masih bisa terjebak dengan mudahnya. Dia tak dapat mengelak ketika Kubota memergokinya melakukan tindakan mencontek saat ulangan meski dia tidak melakukannya. Kubota setengah mengancamnya dengan memberikan dua pilihan. Pertama, Kubota akan mengatakannya kepada dewan sekolah Kirisaki Daiichi, tapi bila itu dilakukannya maka beasiswa penuh yang didapatkan Rei akan dicabut.
Akhirnya Rei memilih opsi kedua. Tapi, gadis itu tidak menyangka kalau pilihannya untuk menjalani hukuman dari Kubota dengan perjanjian tertulis kalau guru itu tak akan mengadukannya pada dewan sekolah, malah membuat gadis itu berada dalam situasi yang sangat pelik seperti sekarang. Kubota menyanderanya, mengikatnya dan berniat menjadikannya objek pemuas birahi laki-laki bejat itu.
.
.
.
Rei's POV
Sial! Sial! Sial! Ini semua gara-gara Hanamiya! Kalau saja dia tidak melempar kertas contekan itu, nasibku tidak akan seperti ini. Kenapa dia melakukannya? Kenapa dia menjebakku seperti ini? Hanamiya bodoh! Aku meneriakkan namanya di pikiranku.
Airmataku makin mengalir deras. Oh, Tuhan, tolonglah aku. Aku berdoa dalam hati, berharap seseorang akan datang menolongku. Meski aku tahu itu tidak mungkin karena Pak Kubota membawaku ke daerah terpencil. Jauh dari mana-mana. Siapa yang bakal datang menolongku?
Cklek! Aku mendengar suara pelan itu, seperti suara sesuatu yang dibuka atau terbuka, entah mana yang lebih tepat. Aku menolehkan kepala kesebelah kanan, kearah jendela besar yang tertutup tirai putih yang menutupi semua permukaannya. Seingatku, ada sebuah balkon di lantai dua saat aku mengamati rumah ini dari luar. Aku tidak tahu pasti apakah balkon itu berada diluar jendela ini atau tidak.
Sreeek! Aku mendengar sesuatu yang digeser dan saat itu pula, aku bisa melihat siluet seseorang dibalik jendela yang tingginya kurang lebih seperti tinggi badan orang dewasa itu. Orang itu menggeser daun jendela sedikit lagi, mungkin untuk memudahkannya masuk kedalam. Jantungku berdetak kencang hingga aku bisa merasakan tanganku sedikit gemetar.
Siapa yang datang? Apakah komplotan Pak Kubota? Ataukah orang lain? Seandainya orang ini merupakan komplotan Pak Kubota, kenapa dia harus masuk melalui jendela? Oh, Tuhan, mungkinkah? Aku sedikit berharap siapapun orang ini, dia datang untuk menolongku. Tapi ternyata orang itu…
Hanamiya Makoto yang muncul dari balik jendela itu. Dia berjalan mendekatiku dengan langkah santai. Hanamiya sudah tidak mengenakan seragam Kirisaki Daiichi. Sebagai gantinya, dia mengenakan celana panjang jeans dan jaket baseball berwarna hitam. Dia berhenti tepat disamping tempat tidurku, membungkukkan badannya sedikit, memandangku dengan seringai liciknya seperti biasa.
"Fiuuh. Kau lumayan juga." katanya sambil terkekeh. Aku bisa melihat bola matanya bergerak memperhatikan lekuk tubuhku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dasar mesum! Tiba-tiba kilasan kejadian aku berciuman dengan pemuda aneh ini tadi siang, kembali berkelebat dalam pikiranku. Sial! Tapi, kenapa Hanamiya berada di rumah Pak Kubota? Apa yang dilakukannya disini? Menolongku? Ah tidak mungkin! Jangan-jangan dia?!
Firasatku tidak enak. Dan benar saja, Hanamiya kemudian naik keatas tempat tidurku, memposisikan tubuhnya diantara kedua kakiku, persis seperti yang dilakukan Pak Kubota tadi. Dia membungkukkan badannya, menahan berat badannya dengan kedua tangannya yang berada dibawah ketiakku dan mengarahkan wajahnya ke leherku.
"Kau selalu mengingatkan orang lain tentang bahaya yang akan menimpa mereka. Tapi kau tidak bisa memprediksi bahaya yang akan datang menimpamu. Bukankah hal itu sungguh menggelikan, Hanajima?!" Hanamiya berbisik padaku. Jemarinya memainkan helai-helai rambutku, kemudian beralih ke leherku dan…oh! aku bisa merasakan bibirnya di leherku.
Damn! Tubuhku langsung merespon setiap sentuhan Hanamiya. Aku bisa merasakan jemari tangan Hanamiya bergerilya di tubuhku. Dasar brengsek! Dia berani membelai abdomen bahkan kedua pahaku. Tiba-tiba tubuhku menegang saat dia menurunkan tangannya lebih jauh, menelusup di bagian-bagian tubuhku yang masih terbalut pakaian, sementara bibirnya menelisik ke semua bagian leherku.
Aku bisa mendengar Hanamiya menggeram pelan, terdengar frustasi tapi masa bodoh! Aku tidak rela diperlakukan seperti ini olehnya! Dia sudah lancang menyentuh tubuhku seenaknya! Aku akan membalasmu, Hanamiya! Tapi di hati kecilku, entah kenapa saat Hanamiya menyentuhku, aku merasakan sensasi yang aneh. Entah kenapa aku tidak ingin Hanamiya berhenti menyentuhku. Sial! Bahkan tubuhku sendiri mengkhianatiku!
Aku bisa mendengar suara napasnya yang semakin memburu seiring dengan permainan jarinya yang semakin cepat. Aku merasakan pangkal pahanya mengeras ketika dada bidangnya bergesekan dengan buah dadaku. Shit! Bedebah kau, Hanamiya! Aku hanya bisa mengumpat dalam hati meratapi ketakberdayaanku melawan perbuatan tak senonoh yang dilakukan Hanamiya padaku.
Sejak hari ini aku memutuskan akan membenci Hanamiya Makoto selamanya. Dia bahkan lebih buruk dari Pak Kubota. Dia yang menjebakku, membiarkanku masuk dalam perangkap Pak Kubota. Aku hampir yakin mereka berdua bekerjasama untuk menjebakku.
Hanamiya menghentikan aksinya saat aku mulai menangis. Entah sudah berapa kali aku menangis dan aku tak peduli. Dia memandangku, mata ambernya menatap mataku lekat-lekat. Aku terkesiap ketika kurasakan bibirnya di pipiku, membasuh setiap tetes airmataku yang meleleh dengan bibirnya yang lembut, hingga tatapan kami kembali bertemu.
"Don't cry, my witch." katanya seraya menunjukkan senyuman yang terlihat tulus yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya. Aku sampai dibuat terkesima beberapa saat sebelum akhirnya si bad boy jenius ini kembali menunjukkan seringai liciknya yang terkesan mengejekku. Cih! Harusnya aku tahu kalau dia hanya berpura-pura!
Aku tahu sejak awal kalau ada yang berbeda dari Hanamiya. Dia satu-satunya mahluk hidup di Kirisaki Daiichi yang auranya tidak terlihat. Aku pun tak tahu kenapa. Mendiang nenekku penah mengatakan kalau setiap manusia mempunyai aura yang berbeda dengan manusia lainnya. Seperti pheromone dan sidik jari. Hanya saja aura seseorang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah.
Aku tak tahu pasti apakah memang Hanamiya tak memiliki aura ataukah hanya karena aku tak bisa mendeteksinya. Tapi Hanamiya selalu membuatku penasaran karena saat aku berada didekatnya, aku seperti masuk kedalam sebuah kekkai tak kasat mata, yang bisa sedikit melindungiku dari bakatku sendiri. Hei, sudah kukatakan sebelumnya kan kalau melihat aura orang lain bukanlah hal menyenangkan?!
Aku melihat tangan kiri Hanamiya terangkat dan memegang tanganku yang terikat diatas kepalaku. Tubuhnya menekan tubuhku lebih kuat hingga aku bisa merasakan bibirnya dibelakang leherku. Sensasi aneh kembali menjalari urat syarafku. Oh! Aku yakin tadi Hanamiya menyeringai di leherku saat tubuhku kembali merespon sentuhannya. Kuso!
"Sepertinya kau sangat menikmatinya, Rei. Kau ingin aku terus melakukannya?" Hanamiya meledekku. Dasar kau, Hanamiya! Ingin rasanya aku menonjok wajah menyebalkannya itu. Aku tak peduli kalau harus dikeluarkan dari Kirisaki Daiichi karena dengan sengaja melukai anak emas mereka. Perbuatannya padaku lebih tidak bisa dimaafkan!
"Jangan buru-buru, Witch. Aku masih harus menyelesaikan urusanku disini terlebih dahulu. Tapi sebelum itu… apakah kau ingin aku menolongmu keluar dari sini?" kalimat terakhir yang diucapkan Hanamiya seperti angin segar bagiku walau dia mengatakannya dengan gaya bicaranya yang tak meyakinkan. Tanpa pikir panjang. aku langsung mengangguk mengiyakannya.
Hanamiya tersenyum melihat jawabanku. Dia membisikkan sesuatu, lebih tepatnya rencana melarikan diri yang.. oke, lumayan masuk akal. Dia beranjak dari tubuhku setelahnya dan mulai merenggangkan ikatanku agar aku lebih mudah melepaskannya. Kemudian dia berjalan kearah lorong kecil yang gelap, tempat dimana Pak Kubota datang pertama kali dan menunggu disana.
Aku tak sepenuhnya percaya pada Hanamiya, tapi sekarang hanya dialah satu-satunya harapanku untuk keluar dari tempat ini. Dia sudah merenggangkan ikatanku dan aku yakin bisa membukanya dengan mudah, jadi seandainya dia berbohong padaku, kemungkinan besar aku masih bisa melarikan diri dari tempat ini. Semoga saja.
Aku mendengar seseorang memutar kenop pintu kamar yang berada disebelah sofa. Pak Kubota masuk kedalam kamar dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana panjang katun. Oh, Tuhan! Dia benar-benar akan memperkosaku! Dia menyalakan beberapa lampu didekat lemari. Kini aku bisa melihat ruangan itu lebih jelas. Dindingnya dicat warna krem dan sofa itu berwarna merah. Aku melihat tasku tergeletak disana.
"Maaf menunggu lama, Sayang." Ugh! Aku benci sekali kalau dia memanggilku sayang seolah aku ini adalah kekasihnya. Aku yakin Hanamiya pasti sedang menertawaiku disudut lorong yang gelap itu.
Aku berusaha mengalihkan pandanganku dari tubuh atletis Pak Kubota. Dan ketika aku melihat kearah jendela besar… Oh, tidak! Hanamiya lupa menutupnya kembali! Aku beralih ke Pak Kubota lagi, berharap guru itu tak menyadarinya. Tapi terlambat. Dia menyadarinya.
Pak Kubota malah terkekeh melihat jendelanya yang sudah terbuka. Apakah dia sudah tahu kedatangan Hanamiya?
"Aku tahu kau disana, Hanamiya." dugaanku tepat. Dan Hanamiya langsung keluar dari tempat persembunyiannya. Keduanya berdiri didepan tempat tidurku. Hanamiya bersandar di dinding kamar, kedua lengannya terlipat didepan dada. Sementara Pak Kubota masih sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil yang melingkar dilehernya.
"Kerja bagus, Hanamiya. Aku sudah mengabarkan Kanzaki kalau mulai sekarang posisi kapten akan diambil alih olehmu." kata Pak Kubota. Kerja bagus? Apa maksudnya? Apakah Hanamiya melakukan sesuatu untuk Pak Kubota? Aku mulai menyimak pembicaraan mereka baik-baik.
"Mengatasi penyihir kecil ini bukan hal sulit bagiku." Hanamiya mengatakannya sambil menyeringai licik padaku. Shit! Jadi, semua ini memang sudah direncanakan Hanamiya! Jadi, dia sengaja menjebakku, membuatku seolah mencontek agar Pak Kubota yang mengincar tubuhku bisa mendapatkan keinginannya? Dan Hanamiya melakukannya hanya demi posisi kapten dalam tim basket sekolah? Hanamiya! Aku benar-benar membencimu!
"Lalu, apa yang kau lakukan disini? Apa kau ingin merasakannya juga?" sedikit harapan muncul dalam benakku ketika aku sudah mulai larut dari keputusasaan. Pak Kubota tidak mengharapkan kedatangan Hanamiya ke rumahnya. Itu berarti Hanamiya berinisiatif sendiri untuk datang kesini. Tapi untuk apa? Menolongku? Mungkinkah?
"Hahaha. Tawaran bagus, tapi aku sedang tak berminat." aku sedikit merasa lega mendengar jawaban Hanamiya. Mungkin dia benar-benar ingin membantuku melarikan diri. Mungkin aku bisa mempercayainya.
"Lantas untuk apa kau datang kemari? Aku yakin orang sombong dan licik sepertimu tak akan mau repot-repot datang kesini hanya untuk menolong seorang gadis yang tak pernah kau pedulikan selama ini kan?!" Pak Kubota berkata dengan nada mencemooh. Aku bisa melihat Hanamiya menatapnya tajam, seakan tersinggung dengan ucapan guru itu.
"Hahahaha. Dasar bodoh! Aku sama sekali tidak peduli dengan gadis ini. Aku kesini untuk mendapatkan imbalanku." Pak Kubota terlihat kesal saat salah satu muridnya menyebutnya bodoh.
"Aku sudah memberikan imbalanmu. Kau adalah kapten tim basket Kirisaki Daiichi sekarang."
"Chotto. Bukan imbalan yang itu. Seseorang menawarkan imbalan yang lebih banyak dari yang Anda tawarkan. Menjadi kapten sekaligus pelatih klub basket Kirisaki Daiichi serta memberikan kuasa penuh klub itu padaku. Menggiurkan bukan?! Tentu saja aku tidak akan menyia-nyiakannya." Hanamiya mengatakannya dengan santai.
Aku bisa melihat perubahan ekspresi di wajah Pak Kubota. Bola matanya membesar, wajahnya merah padam menahan amarah, melihat Hanamiya yang menyeringai puas. Aku tidak tahu apa rencana Hanamiya terhadap Pak Kubota. Mungkinkah aku juga bagian dari rencananya? Sial! Aku masih saja tak bisa memahami jalan pikiranmu, Hanamiya! Kenapa kau melakukan semua ini?!
Bukkk! Pikiranku buyar ketika mendengar bunyi kepalan tangan kekar Pak Kubota yang menghantam dinding kamar. Dia bermaksud memukul Hanamiya tapi si bad boy itu bisa menghindarinya dengan cepat. Pak Kubota melayangkan tinjunya lagi, kini kearah perut Hanamiya, tapi dengan sigap Hanamiya kembali mengelak dan mendorong tubuh Pak Kubota yang lebih besar darinya hingga terjerembab diantara sofa dan tempat tidur.
"Sekarang!" Hanamiya memberikan aba-abanya. Seperti yang sudah kami rencanakan, aku mulai melepaskan ikatan ditanganku. Melihat diriku yang berusaha meloloskan diri, Pak Kubota langsung bangkit dan menyerang Hanamiya lagi. Aku akui Hanamiya bergerak lumayan cepat dan lihai dalam beladiri karena bisa menghindari dan menangkis setiap serangan dari guru biologi kami yang katanya pemegang sabuk hitam karate.
Aku hanya membutuhkan waktu kurang dari lima menit untuk melepas semua ikatan tali di tubuhku. Hanamiya berhasil menjatuhkan Pak Kubota ke lantai. Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil tasku, kemudian berlari menuju jendela besar yang tadi sudah dibuka Hanamiya. Oh tidak! Kami benar-benar berada di balkon lantai dua itu.
"Lompat!" Hanamiya memberi instruksi. Tapi tentu saja aku tak melompat begitu saja. Jarak balkon itu ke permukaan tanah lumayan tinggi. Hampir pasti aku akan mendarat dengan tubuh terjerembab di rumput. Tapi aku harus melompat! Hanamiya tak bisa menahan Pak Kubota lebih lama.
"Brukk!" aku mendarat dengan lututku. Awww! Oke. Itu lumayan sakit. Tidak. Ini benar-benar sakit. Kedua lututku lecet dan berdarah dan aku baru menyadari kalau aku tak menggunakan alas kaki apapun.
"Lari!" Hanamiya kembali memberi perintah. Aku langsung bangkit dan meraih tasku. Hanamiya sudah berada dibelakangku dan dengan mudah mendahului kecepatanku. Pak Kubota pun sudah berada tak jauh dibelakang kami. Dia meneriakkan nama Hanamiya seperti orang kesetanan. Dia pasti sangat kesal karena Hanamiya sudah merusak rencananya.
Hanamiya memegang tanganku saat kami melarikan diri dari kejaran Pak Kubota. Aku hampir tak bisa menyamai langkahnya karena dia berlari sangat cepat dan mungkin kalau dia tidak memegang tanganku, aku pasti akan tertinggal jauh darinya.
Tapi dia terus menggenggam tanganku, membimbing langkahku menembus hutan yang lebat. Tangannya besar, sedikit kasar dan hangat. Aku tersenyum melihat punggung itu lagi. Punggung kekar Hanamiya yang selalu berada didepanku. Punggung yang selalu melindungiku dan kali ini pun aku bergantung dengan punggung itu.
"Hhhh..sembilan puluh lima… hhh.. sembilan puluh enam, sembilan puluh tujuh…" Aku mendengar Hanamiya menggumamkan angka-angka disela-sela aksi pelarian kami. Aku bertanya-tanya dalam hati, kenapa dia melakukan hal itu.
"HANAMIYAAA!" teriakan Pak Kubota yang begitu nyaring menandakan kalau pria itu berada tak jauh dari kami. Aku tak sanggup menoleh kebelakang, yang bisa kulakukan hanyalah menggenggam tangan Hanamiya dengan erat dan berlari secepat mungkin.
Awww! Kakiku terpeleset hingga terjatuh saat kami menuruni jurang kecil yang agak curam dan terjal. Hanamiya tampak kesal tapi kemudian dia mengalungkan sebelah lenganku dilehernya dan membantuku berdiri. Dia hanya diam ketika aku mengucapkan terima kasih. Dasar! Tapi aku senang karena dia berkenan menolongku dan tidak meninggalkanku.
Kondisi kakiku yang berlari tanpa mengenakan alas kakiku ternyata cukup memprihatinkan. Ditambah memar di lutut yang terlihat mengenaskan dengan darah kental yang mulai mengering. Aku rasa aku sudah tak sanggup berlari lagi. Badanku masih sakit karena melompat dari balkon lantai dua. Dan sekarang kakiku makin lecet karena terjatuh.
"Aku tak sanggup berlari lagi, Hanamiya. Kau pergi saja." aku tak ingin menjadi beban. Hanamiya sudah menolongku meski dari sikapnya sangat jelas terlihat kalau dia melakukan itu semata-mata hanya untuk sebuah imbalan. Aku sangat berterima kasih padanya. Tapi rasanya pelarianku cukup sampai disini. Aku tak sanggup lagi berjalan apalagi berlari. Aku tidak ingin Pak Kubota menangkap Hanamiya dan melukainya hanya karena dia menolongku.
"Baka! Aku tidak akan meninggalkanmu!" Deg! Benarkah ini nyata? Apakah Hanamiya baru saja mengatakan kalau dia tidak akan meninggalkanku?
.
.
.
to be continued…
Feel free to critic and review yaa. Thanks anyway :)
