ARIGATOU untuk semua yang udah review, jujur ini FF pertama jadi pastinya masih banyak banget kekurangan. Dan paling susah untuk bikin konflik yang menarik, sebetulnya di FF ini saya Cuma mau mengekspresikan kisah tentang sasuke dan sakura, adapun kisah yang lain Cuma sampingan, maka dari itu kisah lain tidak diceritakan dengan detail. Gomenasai untuk kekurangan FF ini
Chapter 4
"Kita akhiri permainan ini" kabuto mengeluarkan pisau dari saku jasnya, sementara sakura membelalakkan matanya.
"Selamat tinggal nona haruno" sakura menutup matanya takut.
"ARRRRGGHT"
'Tunggu dulu rasanya tidak sakit itu bukan teriakanku' batin sakura, dengan memberanikan diri, sakura berusaha membuka matanya walau dengan perasaan yang sangat-sangat takut.
"Kali ini apa yang kau lakukan hah? Apa kau tidak berfikir akibat dari tindakanmu" bentak sasuke dengan nafas yang tak beraturan dan mungkin jika tidak hujan bisa saja keringat sudah bercucuran di tubuh sasuke, namun berhubung hujan, tubuh sasuke basah kuyup tidak jauh berbeda dengan sakura, sungguh sakura tidak menyangka orang yang pertama kali dia liat adalah sasuke, pria ini sudah menyelamatkan hidupnya untuk yang ke 2xnya
"HWAAAAAA, Uchiha-san" sakura memeluk sasuke dan menangis sejadi-jadinya, sadar atau tidak sasuke tersenyum lega dan membalas pelukan sakura.
"Tenanglah, semua sudah aman!" sasuke berusaha menenangkan sakura dengan membelai rambut sakura.
"Aku takut" mendengar perkataan sakura, sasuke semakin mengeratkan pelukannya.
Namun dengan tiba-tiba sakura mendorong sasuke dan membuat jarak di antara mereka
"Bagaimana dengan kabuto sensei?" Tanya sakura, bukannya menjawab sasuke hanya memberi isyarat mata, dan begitu sakura melihat keberadaan kabuto, sakura kaget bukan main.
"Dia?" Tanya sakura begitu melihat kabuto yang tergeletak dengan pisau di kakinya
"Dia hanya pingsan, pisau itu menancap pada kakinya saja, tidak akan menimbulkan luka yang serius dan juga supaya dia tidak kabur, mungkin dia shock akhirnya pingsan" jelas sasuke, sambil melepas blazernya dan menyampirkannya di pundak sakura guna menutup bagian tubuh sakura yang terbuka.
"Arigatou" sakura kembali memeluk sasuke
"Uchiha-san, apa kalian baik-baik saja?" lee yang datang tiba-tiba membuat keduanya spontan melepas pelukan mereka.
"Kurasa ini belum 1 jam?" dengan ketus sasuke membalikkan pertanyan, entah sasuke kali ini benar-benar membenci keberadaan lee, karena sudah merusak moment yang sudah sangat indah.
"hehe maaf uchiha-san aku sangat kawatir melihatmu tadi, jadi aku memutuskan untuk segera datang, polisi sudah mengurus tersangka percobaan pemerkosaan nyonya uchiha" sakura kaget mendengar kata-kata akhir dari kalimat yang diucapkan lee, belum sempat sakura bicara sasuke sudah berbicara terlebih dahulu,
"Sungguh kau ini sangat Bodoh sekali, siapa yang bilang istriku korban percobaan pemerkosaan?"
'Istriku, aku tidak salah dengar bukan? Dia mengakui aku istrinya, dari kata-katanya dia seolah-olah memberi tanda kepunyaannya dengan kata KU' batin sakura, sakura tidak akan melupakan hari ini, dia benar-benar sangat senang mengetahui sebuah kenyataan.
"Maksud uchiha-san?"
"Kau masuk kedalam gedung kosong itu, maka kau akan menemui jawabannya, Selesaikan masalah ini, hujan semakin deras aku tidak ingin mati konyol" sasuke menggendong sakura, kali ini sakura lebih memilih untuk meletakkan tangannya di leher sasuke, sementara lee hanya membelalakan matanya menatap sasuke yang pergi.
.
.
"Ano Uchiha-san, boleh ku tau ini rumah siapa?" Tanya sakura begitu mereka sampai di sebuah rumah yang besar namun lebih terlihat sederhana dan termasuk hunian yang sangat nyaman, ya sasuke memutuskan untuk tidak membawa sakura pulang kerumah orang tuanya, karena takut kaasannya panik begitu melihat wajah sakura yang memar dan baju yang robek, sasuke beralasan mereka terjebak hujan jadi menginap dirumah sasuke.
"Ini rumahku, dan sekarang menjadi rumahmu juga, ayo masuk nanti kau sakit" sasuke menarik tangan sakura.
"Mandilah, aku juga akan mandi di kamar mandi depan" printah sasuke begitu sampai di kamar sasuke.
"Uchiha-san aku tidak membawa baju ganti" satu hal yang tidak sasuke fikirkan sebelumnya, bahwa dirumah ini tidak pernah ada baju wanita
"Gunakan bajuku saja. Kau bisa mengambilnya dilemari"
"Emm, Arigatou" sakura hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban
.
.
Sasuke memaklumi bahwa wanita itu memiliki kebiasaan mandinya sangat lama, Sasuke menyenderkan tubuhnya di senderan kasurnya.
"Uchiha-san" mendengar panggilan tersebut dengan reflek Sasuke menengok kesumber suara,
sakura berdiri di depan kamar mandi dengan menggunakan kaos yang kebesaran, membuat bahunya terbuka dan celana training yang walaupun digulung, masih terlihat panjang
Sasuke yang melihat hal tersebut tersenyum kaku, bukannya aneh namun sakura justru terlihat menggoda, bagaimanapun Sasuke merupakan seorang pria normal, apalagi wanita yang ada di hadapanya menyandang status sebagai istrinya dan ditambah keadaan lingkungan yang sepi.
"Ehem" Sasuke berusaha mengendalikan diri.
Melihat reaksi Sasuke membuat sakura ragu takut-takut Sasuke marah, dengan memberanikan diri sakura mendudukkan dirinya di kasur, persis di sebelah Sasuke.
"Kemarilah!" Sasuke menarik sakura lebih mendekat, dengan gerakan perlahan Sasuke menggapai pipi sakura yang sedikit memar.
"Seharusnya aku datang lebih cepat" dari nada bicara Sasuke sedikit kecewa
"Kurasa Uchiha-san datang disaat yang tepat, kufikir uchiha-san tidak akan datang!" Sasuke hanya menaggapi dengan senyum tipis dan masih terus membelai pipi sakura, lebih tepatnya memberi cream entah apa itu, yang pasti untuk menghilangi memar di wajah sakura.
"Bagaimana Uchiha-san bisa mengetahui keberadaanku" Tanya sakura penasaran.
"Aku hanya berfikir kau masih berada tidak jauh dari kampusmu"
Bohong sekali, Uchiha sasuke tanpa sepengetahuaan siapapun telah memasang micro IC chip pada cincin pernikahan yang dipakai sakura dan dimanapun keberadaan sakura, Sasuke dapat dengan mudah mengetahuinya melalui GPS pada Smartphone miliknya. Satu hal yang Sasuke takuti orang yang berada disampingnya terancam bahaya hanya karena dirinya.
"Bagaimana kau tau tentang gedung kosong itu?"
"Aku curiga saja dengan gedung itu, bukan tanpa sebab. Melainkan, saat aku sedang membuka kembali sebuah kasus lama pencurian mayat, aku memperhatikan semua bukti-bukti, semua hal aku sambungkan dan ternyata mayat yang kabuto curi sebagai pengganti seorang gadis bernama anko, dia merencanakan semua hal dengan sangat rapih, kurasa kabuto sangat mencintai gadis itu dan tidak rela melihat gadis itu akan menjadi milik orang lain, semua pria yang dekat dengan gadis itu akan dibunuh, dan dialah yang mengarang cerita dibalik gedung kosong tersebut, setiap orang yang masuk gedung tersebut akan dibunuh olehnya, dan setelah itu dia akan mengarang cerita bahwa hantu gedung itu marah, jadi siapapun pasti tidak berani masuk gedung itu" jelas Sasuke
"Anko-nee yang telah dikubur bukanlah anko-nee yang sungguhan?" Tanya sakura memastikan
"Iya, beberapa hari yang lalu, aku masuk gedung itu untuk memastikan sesuatu, rencananya aku akan melakukan penggerebekan besok. Tapi kau mengacaukannya, kau sendiri mengapa membahayakan diri sendiri?"
"Maaf telah membuatmu susah dan merepotkanmu, aku terlalu penasara dengan isi gedung kosong itu"
Cup
Bukannya menjawab sasuke malah mengecup bibir sakura, dengan perlakuan tersebut membuat sakura seperti kepiting rebus, belum lagi dengan tiba-tiba banyak bunga yang tumbuh di hatinya,
"Tidurlah ini sudah sangat larut" Sasuke lagi-lagi memberi perlakuan tak terduga dengan memeluk sakura. Sementara sakura tidak henti-henti tersenyum, Sasuke memang dingin tapi bukan berarti dia tidak hangat, pelukannya membuat sakura selalu merindukannya, Satu harapan sakura jika semua ini tidak pernah berakhir.
.
.
Bumi yang lembab membuat siapapun tidak rela melepaskan kasur mereka, termasuk dua insan yang masih terlelap dalam tidur mereka, dengan posisi yang menurut mereka sangat nyaman, berpelukan saling memberi kenyamanan dan kehangatan.
_lalalala lalalala lalalala _
Deringan suara handphone Sasuke cukup mengganggu ke dua insan tersebut, dengan nyawa yang masih setengah Sasuke meraba-raba meja yang berada disamping tempat tidurnya, sedangkan sakura berusaha melepaskan diri dari pelukan Sasuke, sedikit semburan merah muncul di pipi sakura, bagaimana tidak semalaman mereka tidur dengan berpelukan.
"Halo" Sasuke mulai berbicara di telfon, selanjutnya sakura meinggalkan Sasuke untuk bertelfonan entah dengan siapa, yang pasti sepertinya sangat penting
.
.
sakura yang sudah rapih, namun jika dilihat penampilannya tidak jauh berbeda dengan semalam, tetap menggunakan pakaian sasuke yang kebesaran. Namun, bedanya kali ini sakura meminjam kemeja putih Sasuke. Dengan lincahnya sakura merubah beberapa bahan makanan menjadi masakan, dari baunya saja sudah menggugah selera.
Tidak lama Sasuke berjalan menuruni tangga, dengan senyuman tipis yang menghiasi wajahnya, ya walau siapa saja yang melihatnya tidak bisa melihat senyuman itu kecuali dengan membuat sebuah penelitian, berlebihan mungkin tapi begitulah Uchiha Sasuke.
"Selamat pagi" sapa sakura dengan senyuman yang mengembang, sementara yang disapa hanya menganggukkan kepalanya.
"Issh, tidak bisakah kau menjawab salamku?" lagi-lagi Sasuke hanya mengerutkan dahinya tanpa mengeluarkan kata-kata, kesal diacuhkan begitu saja sakura berjalan menghampiri Sasuke.
"Hari ini aku meminjam kemejamu, kaukan tau bajuku robek" mungkin sebuah kesialan bagi Sasuke karena dengan sakura bicara seperti itu justru membuatnya harus berusaha keras menahan diri, kali ini Sasuke benar-benar merutuki kata-kata sakura, apa lagi sakura malah memilih sebuah kemeja putih yang justru membuat bagian tubuhnya sedikit terekspos.
"Uchiha-san apa kau mulai bisu?"
"Terserah kau saja"
"Akhirnya kau bicara juga, aku sudah memasak sarapan untukmu" sakura menggapai tangan kanan Sasuke dan menuntunya menuju sebuah kursi, setelah itu sakura mengambil nasi dan beberapa lauk dan di letakkan di mangkuk Sasuke.
"Kaasan bilang kau tidak bisa memakan masakan orang lain jad…." Belum selesai bicara Sasuke sudah dengan lahap memakan masakan sakura, melihat hal tersebut membuat sakura tersenyum.
"Apa masakanku enak?"
"Dari kemarin siang aku belum makan, jadi sekarang aku sangat lapar" mendengar hal tersebut sukses membuat sakura mengernyitkan dahinya.
"Kufikir masakanku enak" dengan kesal sakura menyuapkan makanan sebanyak mungkin kedalam mulutnya.
.
.
Setelah makan sakura membersihkan meja makan dan segera mencuci semua piring yang kotor, walau tidak mendapat pujian dari Sasuke, namun cukup membuat sakura senyum lebar, karena ini hari pertama menjalani kehidupan layaknya suami istri sungguhan tanpa ada siapapun yang membantu.
"Aku akan keluar sebentar kau jangan keluar dari rumah ini" perintah sasuke
"Kau fikir kau siapa huh? Berani-beraninya memerintahku?"
"Selalu saja membantah, merepotkan" sasuke menoleh kearah lain bosan
"Apa? enak saja merepotkan, aku bisa melakukan semuanya sendiri tau" sakura mulai kepancing emosi.
"Benarkah kemarin seingatku, ada yang menelefonku dan meminta tolong" sindir Sasuke
"Kau pria yang menyebalkan, aku akan membayarnya" kesal sakura yang merasa direndahkan
"Kau fikir uang siapa yang kau gunakan untuk membayarnya?" stelah menikah semua keperluan sakura, Sasuke yang memberikan, seperti layaknya suami istri pada umumnya, Sasuke memberi nafkah untuk sakura.
"Aku akan membalasnya suatu saat nanti bukan menggunakan uang"
"Aku tunggu saat itu terjadi" Sasuke melangkahkan kakinya menuju pintu keluar, sementara sakura merutuki dirinya sendiri karena sudah berjanji, bahkan sakura saja tidak tau harus membalasnya dengan apa?
.
.
"Ini untukmu" Sasuke menyodorkan beberapa kantong belanjaan.
"Apa ini? Kau tidak sedang mengerjaikukan?" wajar sih sakura agak curiga, karena sebelum Sasuke pergi mereka sempat berdebat.
"Kau bisa mencobanya, Kurasa ukurannya pas semalam memelukmu cukup membuatku tau berapa ukuran bajumu" sakura hanya bengong melihat baju ditangannya, ya sedikit malu juga bahkan Sasuke pun membelikannya pakaian dalam, bukankan itu keterlaluan harga dirinya terluka. Namun tidak dipungkiri sakura merasa senang karena Sasuke membelikannya selengkap ini, padahal pria sangat tidak mau jika disuruh membeli pakaian wanita apalagi selengkap ini.
"Arigatou"
"Cepatlah ganti bajumu, aku masih ada urusan"
"Hai"
.
.
.
"SAKURA-CHAN" triak uchiha mikoto begitu melihat sakura memasuki pintu utama keluarga uchiha dengan segera memeluk sakura
"Kaasan" sakura membalas pelukan mikoto.
"YAK, Sasuke kau benar-benar menyebalkan membohongi kaasanmu ini" Sasuke dan sakura saling menatap bingung.
"Barusan saja Rock lee pulang, dia datang kemari ingin menjenguk sakura dan dia menceritakan semua yang terjadi kemarin"
Lagi-lagi sikap bodoh rock lee, sedikit sukses membuat Sasuke kesal
"Kaasan aku baik-baik saja, Sasuke-kun benar-benar melindungiku, aku yang memintanya untuk tidak memberi tau kaasan, aku takut kaasan kawatir" ini pertama kalinya Sasuke mendengar sakura memanggilnya dengan panggilan akrab, bukan Uchiha-san
"Kaasan benar-benar takut terjadi sesuatu denganmu"
"Aku harus langsung kekantor untuk menyelesaikan masalah kemarin" seru Sasuke berjalan menuju pintu keluar.
"Hati-hati di jalan" seru sakura, Sasuke yang memblakangi sakura menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya lalu tersenyum. Hal tersebut membuat sakura kaget bahkan tidak hanya sakura, mikoto juga tidak kalah kaget.
"Apa yang semalam terjadi huh? Kenapa sikapnya berubah seperti itu?" Tanya mikoto sambil terus menatap Sasuke yang sudah menghilang dari balik pintu.
"Tidak terjadi apa-apa"
"Kau bohong" selidik mikoto dengan senyuman yang terlihat sekali sedang menggoda
"Sungguh tidak terjadi apapun kaasan" semburan merah terlihat di pipi sakura
"Sudah kaasan duga kau yang bisa merubah sikap dinginnya itu, betapa beruntungnya kaasan memilikimu"
"Arigatou, kaasan"
.
.
.
"Uchiha-san tidak ada perkembangan dari kasus Bandar narkoba, sepertinya mereka tidak ada hubungannya dengan kasus anak hilang, dan lagi, sejauh ini tidak ada pergerakan yang mencurigakan"
"Rupanya mereka ingin bermain-main, cukup menarik" lee hanya menatap sasuke dengan heran
"Oiya bagaimana dengan istri anda uchiha-san, apa dia baik-baik saja" Tanya lee
"Sepertinya begitu"
"Syukurlah, uchiha-san untuk kasus yang kemarin anko saat ini berada di rumah sakit jiwa untuk di trapi kejiwaannya, sedangkan kabuto berkasnya sudah dimasukkan ke pengadilan, jaksa menuntut hukuman mati karena sudah lebih dari 7 orang yang mati ditangannya"
"Ingin sekali membuatnya mati di tanganku" lee sangat kaget mendengar kata-kata tersebut, bagaimana tidak ini untuk pertama kalinya sasuke bicara ingin membunuh orang, bukan tanpa alasan melainkan karena pria tersebut hampir saja membunuh sakura
.
.
Semenjak sasuke memberi tau jika anko dirawat dirumah sakit jiwa, sakura sering menjenguk dan sekarang keadaannya sudah mulai membaik.
"Padahal aku masih ingin bicara dengan anko-nee, tapi karena masih ada trapi terpaksa harus pulang, ah bosan sekali hari ini tidak ada kuliah" entah pada siapa sakura terus mengeluh, di depan sebuah caffe sakura melihat sasuke berdiri entah sedang mengamati apa sakura tidak mengerti, sakura memutuskan untuk menghampiri sasuke.
"Uchiha-san" panggil sakura, sasuke pun mengalihkan perhatiannya menuju sakura.
"Jangan memanggilku seperti itu nanti banyak yang curiga, Sedang apa kau disini?" Tanya sasuke sedikit kesal.
"Aku sedang berjalan-jalan, kau sendiri?"
"Sedang mengerjakan sebuah tugas pengintaian, cepat pulanglah jika tidak ada kegiatan lain" printah sasuke tanpa menatap sakura, dan kembali fokus pada mangsanya.
"Siapa yang kau perhatikan?" bukannya pulang sakura malah berdiri di samping sasuke dan mengikuti arah pandang sasuke.
"Apa kau tidak mendengar kata-kataku?" Tanya sasuke kesal
"Kau juga tidak mendengar pertanyaanku!" sasuke mungkin lupa siapa yang sedang dia ajak bicara, sakura si gadis yang selalu penasaran dan bertindak ceroboh, sasuke menghembuskan nafas berat.
"Kau liat dua orang yang sedang duduk di ujung cafe?" Tanya sasuke memberi isyarat mata.
"Iya! oh aku tau kau sedang mengintip orang sedang berkencan? Tak kusangka kau orang seperti itu" ledek sakura yang benar-benar membuat sasuke kesal bukan main.
"Pria tersebut sindikat penjualan wanita, apa otakmu masih tidak ada huh?"
"Apa! ish lupakan saja, kau pria menyebalkan" sakura berjalan meninggalkan sasuke, sementara sasuke hanya menghembuskan nafas melihat kepergian sakura.
"Gadis itu sangat unik, sifat penakutnya kalah dengan sifat penasarannya" seru sasuke sambil sedikit tersenyum melihat tingkah sakura.
.
.
Bosan sudah pasti, sasuke sedikit merasa menyesal menyuruh sakura pulang, seharusnya dia membiarkan sakura berada disampingnya, seenggaknya dia tidak merasa kesepian karena ada seseorang yang cerewet disampingnya dan tentu seseorang yang membuatnya merasa nyaman dan tenang.
Mungkin 2 orang yang di intai sasuke mulai curiga melihat sasuke yang terus duduk sendiri di ujung dekat pintu keluar cafe sambil menyeruput kopinya, entah mengapa sasuke merasa akalnya tiba-tiba menghilang, semua teralihkan oleh sakura, bahkan untuk bertindak tidak mencurigakan saja sangat susah, demi tugasnya yang berjalan lancar tanpa di curigai, sasuke sepertinya harus menghentikan pengintaian, lagian juga percum karena saat ini dia terus memikirkan sakura. sasuke pun memutuskan untuk berjalan keluar cafe tersebut, karena 2 orang yang di intai sudah terang-terangan menatap sasuke.
"Sasuke-kun" triak sakura, betapa kagetnya sasuke melihat sakura memasuki caffe dan telah menggunakan kaos santai, benar-benar terlihat sangat manis, sasuke hanya bisa menatap sakura tanpa kedip.
"Gomen, menunggu lama!" seru sakura manja sambil bergelayutan ditangan sasuke, sementara sasuke semakin mengernyitkan dahinya.
"Kau marah?" Tanya sakura sambil memajukan bibirnya, sementara pengunjung cafe sudah menjadikan mereka berdua sebagai tontonan.
"Kau kenapa huh?" Tanya sasuke bingung dengan nada yang berbisik
"Gomen" seru sakura, sasuke tetap memasang tampang bingung
"Bukankah kau tidak bisa mengintai seseorang yang sedang berkencan sendiri?"bisik sakura, sasuke semakin shock mendengar ucapan sakura.
"Gomen, sasuke-kun" seru sakura dengan suara manja dan keras, seolah-olah memberi tau semua orang jika mereka adalah pasangan
"Baiklah! Untuk kali ini aku memaafkanmu tapi awas jika besok kau telat" sasuke mulai kepancing acting sakura
"Aku janji tidak akan telat" sakura memajukan tubuhnya dan menggapai pipi sasuke, lalu mengecupnya yang lagi-lagi membuat sasuke kaget.
"Sepertinya mereka tidak curiga" bisik sakura, sementara sasuke justru tidak peduli lagi dengan 2 orang yang sedang di intai, yang sasuke pedulikan adalah permainan yang akan disuguhkan oleh sakura selanjutnya, jujur saja sasuke cukup menikmati permaian sakura
"Kenapa kau kemari lagi?" Tanya sasuke berbisik, sakura tertawa seolah kata-kata yang di ucapkan sasuke sangat lucu.
"Aku tau, aku juga merindukanmu" seru sakura tidak jelas
"Benarkah seperti itu?" Tanya sasuke menanggapi kata-kata sakura, sakura mengangguk mantap sambil memeluk sasuke
"Tadi aku pergi karena takut mereka melihatku, aku membeli baju ini dan memutuskan membantumu sebagai balasan pertolonganmu kemarin, mengintai orang kencan harus berpasangan biar mereka tidak curiga, setidaknya itulah yang kuketahui dari temanku" bisik sakura lalu melepaskan pelukannya, melihat yang di intai bersiap keluar caffe sakura tersenyum.
"Ayo kita pergi kencan" seru sakura senang, sementara sasuke ikut tersenyum dan menarik tangan sakura
TO BE CONTINUE
