Title : Twilight Series

Rated : T

Genre : Romance, School Life, Hurt/Comfort

Cast : Find it by yourself

Warning : YAOI! TYPOS, EYD, PLOT make confused, right?

Disclaimer : CHARA IS NOT MINE!

Summary : kisah pemuda manis bernama Byun Baekhyun dalam usahanya mencari lembayung dalam senjanya yang lain dalam sosok yang lain. Pusat dari tata surya-nya yang akan menjadi poros hidupnya yang terlalu takut dengan perasaan jatuh. Sosok matahari yang akan mengajarkannya tentang jatuh-bangunnya kehidupan.

No Label present

TWILIGHT SERIES – DREAMS

By E . J . A

[ 9 ]

Chanyeol mengintip sedikit dari balik tirai berwarna baby blue itu dengan kedua bola matanya yang mirip telur dadar itu. Dia mengamati seseorang yang berjalan dengan terseok – seok tanpa alas kaki menyusuri jalanan setapak yang ada didepan rumahnya. Kedua kaki mulus dengan warna kulit seputih susu itu tanpa ragu menginjak ceceran daun – daun maple kering yang berjatuhan menumpuk di jalanan yang terlihat agak gelap karena senja telah turun dan bayangan dari pohon – pohon besar dari berbagai ras – meski kebanyakan maple dan trembesi – yang berjajar dengan rapi.

Sosok itu hanya memakai kaos lengan pendek berwarna coklat muda senada caramel bersih yang panjangnya hingga lutut, dan hiasan kepala mirip imitasi gandum bewarna emas – seperti hiasan kepala bangsawan bangsa romawi - yang terlihat silau kala sinar mentari dengan jahil menyoroti hingga membentuk ilusi pelangi yang berpendar disekeliling sosok itu.

Sosok dengan ukiran wajah dan lekuk tubuh yang sangat sempurna, hidungnya bangir tegak dan bibir tipisnya yang berisi berwarna merah muda, tubuhnya kecil yang terasa pas kala direngkuh oleh tubuh besar Chanyeol.

Chanyeol ragu, sosok itu hanya mempunyai mahkota bersurai pendek coklat tua, bukan seseorang bidadari yang jatuh dari kediamannya yang nyaman di atas langit, di kahyangan. Bukan, sosok itu lebih terlihat seperti anak laki – laki dengan postur tubuh mungilnya menyamai seorang gadis. Jakun yang ada pada pertengahan batang tenggorokannya yang membuktikan bahwa sosok berwajah cantik itu seorang anak laki – laki. Wajahnya yang tampak seperti duplikasi dari Aphrodite, sang dewi kecantikan dalam mitologi Yunani. Tak ada yang memungkiri betapa cantiknya pemuda itu, dan – Chanyeol berani bersumpah atas nama Tuhan – jika kulit pemuda cantik itu terasa sangat halus walau dalam jarak pandang yang bisa dibilang tidak dekat ini.

Kontras dengan pemuda cantik itu, musim gugur masih mendominasi bulan ini. Dengan warna gelap – gelap lainnya, membuat pemuda cantik ini yang paling indah diantara lainnya. Lembayung senja yang dikagumi Chanyeol – karena menampilkan ilusi senja hari, yaitu pemuda cantik nan mungil itu - barusan kini menguap entah kemana.

Chanyeol menegang sedemikian rupa dibalik tirai, tangannya mencengkeram dengan kuat kain berlapis itu setelah merasakan tajamnya tatapan pemuda cantik itu. Chanyeol menelan ludah kesusahan, rasa – rasanya dia bisa melihat jika pemuda cantik itu menyadari jika telah diperhatikan olehnya.

Sosok itu berdiri mematung, memandang tajam tepat didepan jendela tempat Chanyeol menyembunyikan tubuh tingginya, dan menyamarkan keberadaannya saat kegiatannya mengamati paras elok pemuda cantik itu. Sosok itu terlihat resah, dan tiba – tiba saja berlari dengan cepat pada rerimbunan ilalang yang tumbuh liar disana.

Chanyeol tak tahu kenapa, kakinya ikut – ikutan terangkat keluar dari rumahnya yang nyaman hanya untuk berlari mengejar larinya sosok pemuda cantik itu seperti ada tali tambang tak kasat mata yang menarik tubuh Chanyeol diam mematung. Tapi, hanya udara kosong yang didapatinya dengan beberapa tangkai daun yang gugur membentuk suatu hujan daun …

"Eoh? Cepat juga larinya untuk seukuran yang bertubuh mungil sepertinya." Chanyeol menumpukan kedua tangannya pada lututnya, mengatur nafasnya merauk sejumlah oksigen yang bisa dia hirup dengan bebas.

Dia berkacak pinggang menatapi kerumunan ilalang yang makin lebat didepannya, perlahan angin sepoi membelai dirinya, membawa aroma lain selain kayu – kayuan dimusim gugur yang samar, ada aroma layaknya pinus basah manis yang tercium sangat pekat dan hentakan aura keberadaan sosok lain dibelakangnya.

"Mencariku?" Chanyeol serta merta berbalik, seakan suara itu memberikannya aba – aba untuk segera berbalik . Suara yang bagaikan petikan – petikan dawai – dawai gitar yang bergerak secara teratur dalam alunan suara yang begitu indah selama yang pernah Chanyeol dengarkan. Suara yang lembut yang mampu melumerkan sisi Chanyeol yang keras.

Suara yang Chanyeol makin merasa makin tidak asing, dan juga sosok itu. Sosok yang Chanyeol rasa akan menjadi takdirnya kelak.

Tapi berusaha mengingat, hanya jalan buntu yang didapatinya dalam labirin yang memenuhi pikiran geniusnya.

Chanyeol membuka kedua matanya yang teramat berat kala mendengar suara ayam pejantan yang berkokok cukup keras. Maklumi saja, pukul tiga dini hari dia baru bisa tertidur, dan selalu dihantui oleh mimpi yang sama. Berulang – ulang seperti itu sejak tiga tahun yang lalu.

Chanyeol mengacak rambutnya frustasi, seakan – akan tangan besarnya mampu mencabut keseluruhan rambutnya dari akarnya.

Dia mengeliat tak nyaman, menyisakan suara tulang yang berbunyi. Dia teringat dengan mimpinya lagi, sosok pemuda cantik yang membuatnya jatuh cinta meski hanya dalam bunga tidurnya setiap malam.

Pemuda cantik yang selalu hadir dalam mimpinya selama ini, yang setiap malam membuat Chanyeol meminta pada Tuhan – meski sekali lagi, dia Atheis – agar selalu memimpikan pemuda cantik itu dalam lembayung senja dan musim gugur di mimpinya. Dan beruntung, mimpi itu selalu saja membuat Chanyeol terlelap dengan nyenyak.

Chanyeol menutup kedua matanya, mendadak alam bawah sadarnya mengingat sosok Baekhyun, dia meninggalkan Baekhyun di pulau Nami dengan kecanggungan yang menerpa keduanya, entah apa masalahnya Chanyeol tak tahu sama sekali, atau sebut saja Chanyeol tidak peka?

Chanyeol kembali ke Seoul, kembali kerumahnya – yang selalu menjadi objek mimpi anehnya – yang berada di pinggiran kota Seoul, rumah yang terlihat sederhana dan kecil jika dilihat dari luar, tapi kau akan merasa takjub jika sudah berada di dalamnya.

Chanyeol bangkit, dan melangkah keluar dari kamarnya melewati beberapa maid yang bekerja hilir mudik membersihkan setiap jengkal dari rumahnya. Dia melangkah menuju luar rumahnya, mengakrabkan diri dengan udara yang cukup segar yang diperolehnya.

Kini dia merasa risau, risau karena Baekhyun seolah membuat jarak antara keduanya terasa melebar. Chanyeol menghela nafas, dia harus segera bertemu dengan Baekhyun, sesegera mungkin.

[ 10 ]

- flashback two years ago after graduation -

Bagai terperosok kian dalam pada jurang yang tak berujung dalam kesendiriannya, dan patah hatinya untuk yang pertama kalinya. Baekhyun kian menjadi sosok yang irit bicara. Dia seperti sebuah kelopak bunga yang benar – benar mekar ditemani angin berserta beberapa serangga dan berharap dalam setiap serbuk sarinya dapat menyebar hingga tumbuh menjadi benih baru, tapi sebelum ia dapat memberi kebahagiaan tersendiri untuk alam yang ia tinggali, bunga indah itu layu berwarna coklat lalu terjun dengan kejam diatas tanah dan membusuk. Seperti itulah.

Dan Baekhyun jenuh, jenuh sendirian didasar nelangsanya sendiri.

Dia sadar, dunia tempat ia tinggal ini begitu sempit. Baginya tidak mungkin dia bisa menghindari yang namanya 'lembayung senja', tapi mungkin yang tidak akan dia temukan lagi adalah 'Park Chanyeol' tidak akan ada lagi.

Seperti ketetapan takdir dari Tuhan, bagaimana seorang Park Chanyeol dengan tinggi bagaikan tiang listrik telah diciptakan menjadi satu – satunya, untuk Baekhyun.

Karena 'lembayung senja' yang membisikkan hal itu pada Baekhyun, seperti para pencuri kabar dari Langit.

Baekhyun berjalan dengan gontai seraya mengalungkan tas selempang berwarna white dove pada bahu kanannya, jujur saja dia cukup lelah dengan kegiatan kuliahnya.

Tapi seakan – akan mantra yang diucapkan Baekhyun – seolah – olah itu seperti kata penyemangat untuk dirinya sendiri – semakin membuatnya meraih berbagai jalan yang dapat membantunya naik keatas dengan perlahan.

Tidak perlu terburu – buru.

Dia merasa tidak masalah dengan hidupnya yang suram tanpa lentera yang mampu menerangi dan menemani langkahnya, Baekhyun merasa tak perlu hal itu, yang dibutuhkannya hanya keyakinan akan dirinya sendiri.

Baekhyun merasa harus menjaga dirinya dengan sangat hati – hati, memperlakukan dirinya sendiri seakan – akan sebuah keramik yang sangat mahal dan tidak pantas untuk membentur lantai yang keras.

Baekhyun menghampiri bangku panjang dari kayu yang ada dihalaman Institut, dia menghembuskan nafas panjang hingga berbentuk seperti uap – dikarenakan suhu dingin – dia mendongak menatap langit luas yang berwarna biru muda.

Tapi tetap tidak ada yang seindah, senja dengan semburat merah yang terkesan begitu manis.

"Musim akan segera berganti lagi." Gumam Baekhyun sembari merapatkan scarf-nya.

Musim gugur kesayangan Baekhyun dengan langit merah favoritnya akan meninggalkannya sendirian pada kebekuan bersama dengan setiap ingatan – ingatan akan sosok yang sampai sekarang tetap menjadi candu untuknya –yang tidak akan rapuh tertimbun ingatan yang baru.

Dan akhirnya Baekhyun tahu, resiko 'jatuh' untuk seseorang dan memutuskan untuk mengambil jalan berlainan dengan seseorang yang disukainya, dia hanya akan setia menghitung detik demi detik yang dilewati setiap hembus dan hela nafasnya, berserta dengan doa dan harapan yang bercampur didalamnya.

Sayangnya, waktu tetap berputar seperti kewajibannya.

Mengganti matahari setiap harinya, siang dan malam yang terus – terusan bergantian menjaga dunia, dan menjaga keseimbangan alam.

Waktu masih setia pada kewajibannya pada Baekhyun, memberinya uluran waktu yang lama untuk menemukan cinta sejati yang diyakininya, seseorang yang akan mampu menopang langkahnya.

Sejujurnya, Baekhyun merindukan sosok yang bisa memberikan warna semburat yang selalu diidam – idamkannya sepanjang musim.

Dia menyukai sosok seperti musim gugur, dingin dan hangat secara bersamaan. Dia menyukai sosok seperti lembayung senja, indah dan berwarna secara berdampingan.

Baekhyun mengatupkan kedua tangannya erat, bergumam kecil melantunkan doa, berharap musim gugur menemukannya kembali dengan Park Chanyeol.

Musim dingin datang lebih awal di Korea, mengantarkan Baekhyun pada kebekuan yang harus dilewatinya sendirian lagi.

end of flashback –

[ 11 ]

Baekhyun sudah kembali dari keterpurukkannya selama ini, dengan mengumpulkan kembali pecahan – pecahan yang tidak beraturan bentuknya, merekatkannya menjadi satu seperti semula, meski tidak ada yang akan sama persis, dan kini pecahan yang masih rentan itu kembali pecah, lebih kecil daripada sebelumnya.

Kadang dia berpikir, dia jatuh cinta pada orang yang salah.

Bukan. Dia jatuh cinta, itu yang salah. Park Chanyeol tidak salah, feromon miliknya benar – benar membuat Baekhyun lupa diri.

Pemuda mungil itu mendengus, jemari – jemari lentiknya terus – terusan berusaha mengapai beberapa tangkai bunga Cosmos yang tengah bermekaran menghiasi ladang, dan sebagai orang yang sama sekali tidak mempunyai kesibukan, Baekhyun berusaha merangkai beberapa bunga musim gugur dan mengawetkannya nanti.

Saat ia hendak memetik dua tangkai bunga Cosmos, tiba – tiba saja sebuah tangan yang besar menyentuh tangannya yang mungil. Baekhyun mengerjapkan kedua mata sipitnya, menyadari kejanggalan yang ada.

Dia buru – buru mendongak, melihat Park Chanyeol berdiri dihadapannya dengan senyum lebar seperti cengiran pada wajah tampannya. Jujur saja, itu mengurangi ketampanannya, tapi Baekhyun tidak peduli.

"Aku merindukanmu, Baekkie." Entah bagaimana, kedua tangan besar Chanyeol sudah menarik pinggang Baekhyun kedalam pelukannya, mendekap pemuda pecinta eyeliner itu dengan kuat seolah tak mau melepasnya barang sedetik saja.

Baekhyun bersemu dipelukan Chanyeol, wajah dengan semburat merah itu disembunyikannya didada bidang Chanyeol, menyamarkan sedikit air mata yang terasa ingin melesak keluar.

"Aku lebih merindukanmu." Ucap Baekhyun ditengah – tengah isakan luapan rasa yang menerpanya.

Chanyeol mengusap surai coklat Baekhyun saat mendengar pemuda yang lebih kecil darinya itu terisak, dia tidak sengaja membuat Baekhyun menangis, dan yang jelas dia tidak ingin melihat satu tetes air mata yang lolos dari mata indah itu.

Keduanya hanya duduk berhadap – hadapan dalam keheningan yang menyeruak, menyerapi setiap kidung yang terlantun begitu indahnya dari angin sepoi yang menghiasi langit temaram berbalutkan lembayung senja yang mengiringi matahari menuju peraduannya, berputar ke belahan bumi yang lain.

Bukan karena canggung.

Hanya saja, sebentuk bulan sabit terbentuk pada paras keduanya, begitu selalu setiap beberapa detik – terganti dengan senyuman lain-.

"Apa aku boleh berkata sesuatu?" gelombang bersuara bass itu akhirnya terbit juga, mengantikan matahari yang sudah terbenam dengan sempurna, meninggalkan jejak – jejak kelam pada langit dengan kerlap – kerlip bintang yang baru saja muncul.

Baekhyun mengerjapkan kedua matanya dengan cepat "Apa itu?" suaranya serak, karena angin dingin terus memukul kulitnya hingga terasa ke tulang – tulang ringkihnya.

Chanyeol berdehem sekilas, menghilangkan serak yang ada "Bagaimana menurutmu?"

Baekhyun mengangkat sebelas alisnya, tangan kanannya menopang dagunya beralaskan pahanya yang berbalut jeans hitam "Apanya?"

"Konyol ya, aku menyukai seseorang dalam mimpiku selama tiga tahun ini."

Baekhyun menganguk kecil, poninya bergerak kesana kemari "Ya, kedengarannya menggelikan sekali." Ujarnya jujur. Chanyeol terkikik, kedua tangannya memukul – mukul tanah yang sangat keras itu dengan semangat "Ya kau benar. Aku merasa geli dengan diriku sendiri."

Suasana kembali ditelan sepi, suara jangkrik yang saling bersahutan meramaikan dengungan kesenyapan. Tangan Chanyeol yang besar itu bergerak perlahan meraih tangan kanan Baekhyun yang masih menopang dagunya, lalu mengengamnya.

Chanyeol tersenyum tipis.

"Mencariku?"

Chanyeol berbalik, menemukan sesuatu yang dicarinya. Dan mendadak saja, ada salah satu bagian dari organ tubuhnya yang terasa begitu lega, seolah seorang bajak laut yang menemukan harta karun yang melimpah.

Chanyeol mendekat lima langkah, menyisakan satu langkah lagi untuk dekat dengan sosok menyerupai malaikat berbalut tubuh layaknya manusia itu.

Tangan besar Chanyeol bergerak memegang lengan kecil sosok itu yang sama sekali tak bergeming dari posisinya, ada suatu hantaran listrik kecil ketika kedua kulit telanjang itu saling menempel, seolah – olah berkata ini-hal-yang-dicari-cari-sejak-dahulu.

Chanyeol mengerjap, ketika tubuhnya menerima impuls yang diterima syarafnya "Apa kau takdir yang diharuskan untukku?" katanya dengan bodohnya, bahkan terasa otak genius Chanyeol tidak berlaku sama sekali.

Sosok didepan Chanyeol masih diam seribu bahasa, tapi tanpa menjawabpun Chanyeol sudah sangat yakin, beribu- ribu yakin sosok yang ada dihadapannya ini adalah takdirnya.

"Rasanya tidak asing.." Chanyeol tersenyum kala kedua tangannya memegang erat lengan Baekhyun dengan erat, cukup membuat empu-nya meringis kesakitan dan akibat sentuhan itu keduanya merasakan hantaran tak terlihat yang membuat Chanyeol merasakan hal yang sama pernah terjadi. "Apa kau takdir yang diharuskan untukku?" tanpa dinyana – nyana, Chanyeol menanyakan hal yang sama seperti didalam mimpinya.

Baekhyun hanya diam, memperhatikan polah tingkah Chanyeol yang membuatnya merinding. Terlihat begitu aneh.

"Bukan. Kau sepertinya salah orang, Yeollie-ah."

Chanyeol mematung mendengar perkataan Baekhyun, kedua alis tebal itu tertaut saat lanjutan kalimat pemuda mungil didepannya itu kembali terdengar "Manusia itu tercipta sepasang. Laki – laki dan perempuan. Bukan, bukan seperti ini." Baekhyun memejamkan kedua matanya, meredam rasa nyeri akibat kebohongannya sendiri.

Baekhyun mengigit bibir bawahnya, ngilu makin terasa. Dia tahu, semakin kesini semakin rumit yang terjadi, seolah – olah benang – benang merah itu tertaut serampangan. Sulit untuk dilepas, atau dipisahkan.

"Kau benar."

Sebenarnya bukan Chanyeol yang membuat Baekhyun selalu terjatuh, Baekhyun sendirilah yang membuat tubuh kecilnya selalu terantuk kepayahannya sendiri. Hanya saja, Baekhyun tidak sadar. Dan Chanyeol yang tidak pernah bisa peka akan perasaannya sendiri.

Kedua makhluk berjenis kelamin laki – laki dengan tinggi yang kontras ini hanya kurang bisa memahami perasaan masing – masing, dan jelas tidak ada keterbukaan antara keduanya.

Baekhyun menunduk, matanya berkilat – kilat sendu diantara pekat malam, menikmati gelap yang makin turun menyelimuti keduanya dalam keheningan.

tbc

well. chapter ini terasa sangat aneh. terima kasih untuk yang sudah review.

saya mengharapkan saran dan kritik kalian semuanya lagi.

saya 94line, chingu.. udah tua waks^^

keep RnR ne