Time to Love || KyuMin || Chapter 4 – Time to Kiss
By: d'Blank
Main Pair : KyuMin
Genre : Romance, Drama
Rate : T
Disclaimer : Kyuhyun belongs to Sungmin, Sungmin belongs to Kyuhyun, KyuMin belongs to KyuMin shipper. This fict belongs to me. Don't like? Don't read and go away! Not allowed to bash and don't be silent readers. Thanks.
Warning : Genderswitch fanfiction, typos, strange, etc. All ideas aren't mine, because I'm inspired by Manga. But I can't remember the title and author of that comic. Mianhae... I hope, you all can enjoy, read, and comment this story. I'll be happy (: HAEppy reading...
Summary : Lee Sungmin hanyalah gadis biasa sebelum bertemu dengan laki-laki tak dikenal yang mengaku sebagai calon suaminya. Ia menolak menikah dengan laki-laki itu. Hanya saja laki-laki itu memberikan sebuah tantangan yang menurutnya tak masuk akal dalam waktu sebulan padanya. Hanya sebulan...
~oOo~
Lee Sungmin, andai kau tahu bahwa aku mencintaimu, tapi kau tak pernah tahu bahwa aku mencintaimu bukan semata-mata untuk menjadikanmu kekasihku. Tapi cinta ini murni, murni dari hatiku yang terdalam.
Bintang, apa kau punya usul tentang hal yang harus aku lakukan? Ini belum sebulan sejak tantangan itu ditetapkan. Kenapa perasaanku berubah secepat itu? Eunhyuk benar, jangan mengatakan hal yang tak ingin kau sesali. Astaga... Mama, apakah mencintainya itu hal yang benar?
BLAM.
Kyuhyun membanting pintu kamarnya sendiri, kemudian menyandarkan tubuhnya di pintu tersebut. Tangannya terangkat dan menyentuh bibirnya. Astaga, apa yang baru dia lakukan pada gadis polos itu? Ia merasa dirinya begitu pengecut, karena mencium Sungmin saat gadis itu tak tahu. Tapi itu bukan kesengajaan. Tubuhnya tiba-tiba bergerak sendiri setelah ia membenarkan posisi tidur Sungmin, lalu mengecup kening gadis itu.
Laki-laki itu mengerang frustasi. Apa yang akan dilakukannya besok ketika bertemu Sungmin? Meminta maaf atau diam saja seolah kejadian itu benar-benar tak ada? Sepertinya... opsi kedua cukup baik. Lagipula gadis itu tak tahu bahwa ia ada di kamarnya beberapa menit lalu mengecup keningnya. Benar, Lee Sungmin tidak tahu kejadian malam ini. Jadi, ia harus menerapkan prinsip mulai saat ini diam itu emas.
"Kyu, kau baik-baik saja? Kenapa membanting pintu?" tanya seseorang dari luar ruangan. Suara seorang wanita yang sangat dikenal oleh Kyuhyun. Suara Mamanya.
"Aku baik-baik saja Ma. Aku lelah. Aku akan tidur," jawab Kyuhyun dengan suara parau. Ia berjalan ke arah tempat tidurnya, lalu meringkuk di sana. Ia berusaha memejamkan matanya, tapi sebuah bayangan saat ia mencium kening Sungmin muncul di benaknya. Tak perlu dipungkiri, sebenarnya ia senang bisa merasakan aroma stroberi yang menguar dari tubuh gadis itu. Tapi di sisi lain, ia merasa tak adil. Harusnya ia melakukannya saat gadis itu terjaga, bukan tertidur bak malaikat seperti tadi.
Baiklah, lebih baik ia meminta maaf pada gadis itu. Ia harus siap menerima semua apa yang akan dilontarkan dari mulut Lee Sungmin, entah itu cacian, makian, omelan, umpatan. Ia akan menerimanya. Ia pasrah sekarang. Ibaratnya ia adalah perampok yang memasang bendera putih di hadapan para polisi. Kyuhyun mengganti posisi tidurnya, miring ke arah jendela kamar.
Tiba-tiba ia tertarik pada pemandangan di luar jendela. Kyuhyun turun dari ranjang lalu berjalan ke arah jendela dan membukanya. Semilir angin malam menyapa wajah tampannya yang selalu terlihat pucat, sedikit menggelombangkan rambut ikalnya. Laki-laki itu mengulurkan tangannya ke luar jendela hingga kulit tangannya terasa sejuk.
"Lee Sungmin."
Bibir tebalnya menggumam lirih, memanggil nama gadis polos yang sedang tertidur di ruangan sebelahnya. Matanya menerawang, mengingat pertemuan pertamanya dengan Sungmin. Pertemuan yang sebenarnya tidak berkesan, tapi membekas di hatinya. Pertemuan yang tidak diinginkan, tapi selalu diingat olehnya.
Cho Kyuhyun membenarkan posisi kacamata hitam yang bertengger di wajahnya. Ia memandang berkeliling, mencari-cari orang yang akan menjemputnya. Semenit matanya beredar, ia tak melihat seorang pun yang dikenalnya membuat ia mendesah kesal. Kalau saja ia tidak terlalu lelah dan lapar, ia mungkin akan sabar menunggu. Tapi tubuhnya sudah berontak minta diistirahatkan. Perjalanan dari Amerika bukanlah perjalanan yang pendek dan menyenangkan.
Ke mana orang tuanya? Ke mana supir yang menjemputnya?
Laki-laki jangkung itu memutuskan untuk pergi ke cafe yang ada di bandara. Ia mungkin tak bisa mengistirahatkan tubuhnya saat ini, tapi paling tidak ia bisa mengisi perutnya yang sudah keroncongan sejak ia di pesawat. Kyuhyun memasuki cafe bernuansa stroberi. Benar, stroberi. Tak heran, nama cafe itu adalah 'Kedai Stroberi'. Kyuhyun tak ambil pusing dengan nama cafe tersebut, yang penting adalah ia harus mendapatkan kursi dan memesan makanan. Secepatnya.
Matanya berpendar mencari tempat yang tidak terlalu ramai, tapi tidak ada. Hanya tersisa satu tempat kosong di tengah ruangan. Apa ia harus duduk di tempat itu atau pergi dari cafe? Setelah menyelesaikan perdebatan batin, akhirnya Kyuhyun memutuskan untuk duduk di tempat itu. Ia menyeret kopernya yang cukup besar susah payah dengan sisa tenaga yang ada di tubuhnya.
Tepat ketika duduk, seorang pelayan datang menyerahkan buku menu pada laki-laki itu. Kyuhyun tak membaca nama makanan yang –menurutnya– aneh, ia hanya melihat gambar-gambar dari makanan. Begitu matanya menangkap sebuah gambar cake yang terlihat menggiurkan, Kyuhyun segera memesan makanan tersebut.
Kyuhyun menyandarkan punggunya ke sandaran kursi yang agak tinggi, lalu memejamkan mata. Ia merasakan badannya sangat sakit dan serasa ingin meledak saking lelahnya. Ia ingin berteriak, tapi ia masih sadar, ia sedang berada di tempat umum. Ia masih normal dan tidak ingin dicap sebagai orang gila. Hey, bagaimana bisa seorang pewaris Cho Corporation yang terkenal tiba-tiba diberitakan menjadi orang gila begitu pulang dari Amerika? Ia tak bisa membayangkan jika itu terjadi. Ia yakin, sang Mama pasti akan berubah menjadi nenek sihir saat itu juga.
Nah, kenapa ia tiba-tiba berkhayal tentang hal yang konyol? Omong-omong tentang Mamanya ia jadi kesal. Wanita itu seperti tidak peduli padanya. Terbukti anaknya yang tampan itu dibiarkan terlunta-lunta di bandara.
"Pesanan datang Tuan. Selamat menikmati."
Suara pelayan yang terdengar ramah membuat Kyuhyun menghentikan khayalan dan membuka matanya. Ia balas tersenyum kepada pelayan yang mengantarkan makanan. Meskipun ia terlihat dingin, tapi ia bisa beramah-tamah jika diperlukan. Terbukti sekarang, ia tersenyum manis. Tanpa ia sadari membuat pelayan yang masih belia itu mematung di tempatnya. Menghiraukan pelayan itu, Kyuhyun segera mendekati makanan yang sudah tersedia. Dalam hitungan ketiga makanan berwarna merah muda itu sudah masuk ke dalam lambung kosongnya melalui kerongkongan. Makanan itu memang bukan makanan terlezat di dunia. Tapi, untuk ukuran orang yang kelaparan seperti dirinya, makanan itu merupakan makanan paling enak yang pernah ia makan seumur hidup.
Lima menit berlalu, cake tersisa seperempat bagian dari aslinya. Ia baru saja akan menyendokan potongan kecil cake tersebut ke dalam mulutnya, ketika sesuatu tak terduga jatuh tepat di hadapannya. Awalnya ia terlalu kaget sehingga tak melakukan apapun kecuali membelalakan mata dan mengemut sendok kecilnya.
Namun detik berikutnya, ia melihat cake terlezatnya hancur tersiram oleh cairan merah muda yang juga membasahi seluruh meja makannya. Ia mengalihkan pandangan ke arah orang yang berdiri di samping mejanya. Baru saja ia akan membuka mulut untuk mengomel, ketika orang itu mengangkat kepalanya dan mempertemukan mata kelincinya dengan mata laki-laki itu yang tertutup kacamata hitam.
DEG.
Kyuhyun tak tahu apa yang ia rasakan saat jantungnya berdetak tak normal dan lidahnya tiba-tiba kelu. Ia bahkan tak menjawab permintaan maaf dari orang –gadis berparas cantik itu. Ia hanya terdiam, seolah tersihir oleh pesonanya.
"Maafkan saya Tuan. Saya tidak sengaja," ucap sang Gadis untuk kesekian kalinya.
Akhirnya Kyuhyun tersadar. Ia berdeham guna menyembunyikan sebuah perasaan yang tiba-tiba muncul. Merasa menjadi pusat perhatian pengunjung, Kyuhyun akhirnya berkata, "Tak apa." Lalu dengan langkah cool –menurutnya– ia berjalan ke arah meja kasir tanpa melupakan kopernya. Meninggalkan gadis yang masih berdiri di tempatnya.
Samar-samar ia mendengar suara lain, "Lee Sungmin, kau tak apa-apa?"
Kyuhyun tersenyum mengingat kejadian setahun lalu. Ia benar-benar bodoh, kenapa waktu itu ia hanya terdiam lalu meninggalkan gadis itu? Bukankah ia kejam? Meninggalkan orang yang sedang meminta maaf padanya. Astaga, ia benar-benar ingin memutar waktu ke masa itu. Ia ingin melepas kacamatanya, lalu tersenyum manis. Mungkin jika ia melakukannya semua akan berbeda. Tapi toh, sekarang ia sudah bersama Lee Sungmin. Walaupun, ia tak mendapatkan perasaan yang sama dengan yang ia berikan pada gadis itu.
Gadis itu tak mencintainya. Malah Kyuhyun menganggap Sungmin itu membencinya. Ia tak pernah mendengar gadis itu memanggil namanya. Padahal telinganya sudah sangat gatal ingin mendengar suara lembut gadis itu menyebutkan namanya. Itu keinginan terbesarnya saat ini. Apa ia terlalu berlebihn jika menginginkan gadis itu memanggilnya?
Laki-laki itu tak yakin apakah keinginannya akan terkabul. Menurutnya, ia sudah terlalu... kejam pada Lee Sungmin. Ia sudah memisahkan gadis itu dengan keluarga satu-satunya, mengeluarkannya dari sekolah, membuatnya tak bisa bertemu dengan sahabatnya. Kalau bisa, ingin sekali ia tak melakukan semua itu. Tapi ia harus melakukannya. Ia sudah berjanji pada dirinya... dan orang itu.
Kyuhyun menarik tangannya lalu memasukan ke dalam saku celana kainnya. Ia baru saja akan menutup jendela dan berniat memejamkan mata ketika gendang telinganya menangkap sebuah suara samar dari arah luar. Sedikit menjulurkan leher panjangnya, ia melihat keadaan di luar. Matanya tiba-tiba saja membulat, melihat sesuatu –ah seseorang tengah meringkuk di beranda. Orang yang selalu dipikirkannya. Lee Sungmin.
Buru-buru Kyuhyun keluar kamar, tanpa menutup jendela kamarnya. Ia berjalan cepat dengan langkah lebar menuju kamar di sebelahnya. Dengan mudah, ia bisa masuk ke dalam ruangan. Kosong, ruangan itu kosong tanpa penghuni. Namun Kyuhyun tahu keberadaan penghuni ruangan tersebut. Ia segera melangkahkan kaki menuju pintu geser yang mengarah ke beranda kamar.
Perasaan lega menelusup ke hatinya. Gadis itu memeluk kedua kakinya. Wajahnya menghadap ke atas, ke arah langit hitam yang dihiasi oleh jutaan bintang. Tanpa suara berlebih, Kyuhyun duduk di samping gadis itu. Ia terdiam, tak berusaha menciptakan sebuah percakapan. Matanya tertuju pada sosok di sampingnya. Sosok yang baginya selalu terlihat sama, selalu cantik dan manis.
Memandangi seorang Lee Sungmin seperti sekarang, merupakan anugerah yang berlimpah bagi Kyuhyun. Hanya memandang tanpa menyentuhnya saja membuat jantung Kyuhyun berdetak tak normal. Dan itu sudah cukup bagi Kyuhyun. Ia rasa, belum waktunya bersentuhan kulit dengan gadis itu. Teringat kejadian tadi siang saat ia berusaha membersihkan sisa minuman dari wajah manis Sungmin, dan setelah itu Sungmin lalu pergi menghindarinya. Ia... ia lebih baik memilih Sungmin mencaci atau memukulnya, daripada tidak melihat Sungmin sama sekali.
Ia tak sanggup dan tak akan pernah sanggup jika tak melihat Sungmin, sehari saja. Mungkin Sungmin tidak tahu, tapi selama ia di Inggris beberapa hari lalu ia selalu bisa melihat Sungmin. Meski secara tidak langsung, karena melalui video-video yang dikirimkan oleh pelayannya.
Lee Sungmin, andai kau tahu bahwa aku mencintaimu, tapi kau tak pernah tahu aku mencintaimu bukan semata-mata untuk menjadikanmu kekasihku. Tapi cinta ini murni, murni dari hatiku yang terdalam.
Kyuhyun mengucapkan kalimat itu setiap hari, setiap saat jika ia sedang berhadapan dengan Sungmin. Hanya saja ia tak berani mengucapkan secara langsung, ia hanya membatin. Ia memang tak semata-mata menginginkan Sungmin menjadi kekasihnya. Bukan berarti Kyuhyun tak ingin menikah dengan gadis itu. Tapi ia tahu, ia tak boleh egois. Ia tak boleh memaksakan kehendaknya.
Tangan Kyuhyun terulur ke arah surai Lee Sungmin. Belum sampai ia mendaratkan telapak tangannya di sana, ia langsung membatalkan dan menurunkan kembali tangannya. Sudahlah, lebih baik diam, menemani gadis itu duduk sampai Sungmin sadar.
"Eungh~." Lenguhan Sungmin membuat Kyuhyun menatap lekat-lekat gadis itu. Tapi Sungmin sama sekali tidak mengalihkan pandangan dari arah langit. Apa bintang-bintang sebegitu menarik hingga gadis itu tak menyadari keberadaannya? Lagipula, sebenarnya apa yang sedang dipikirkan oleh Lee Sungmin sampai melamun begitu lama?
Kyuhyun beranjak dari duduknya –masih belum disadari oleh Sungmin. Ia meninggalkan tempat itu, menuju dapur. Lebih baik membuat cokelat panas untuk gadisnya. Eh tunggu, gadisnya? Apa yang sedang ia pikirkan? Ia bahkan bukan siapa-siapa bagi seorang Lee Sungmin.
"Eungh~," lenguhan itu lolos dari bibir mungil seorang gadis yang tengah memeluk kedua kakinya. Mata kelincinya menatap ke arah bintang yang terus berkelap-kelip di hamparan langit pekat di atasnya. Entah sudah berapa lama ia terduduk di tempat itu. Ia tak peduli. Ia hanya ingin menetralkan pikirannya yang sedikit... euhm kacau.
Lee Sungmin mendengus kesal. Semua ini salah Cho Kyuhyun! Salah laki-laki itu yang mencium keningnya. Salah laki-laki itu membuat ia... ingin merasakan kehangatan bibir itu lagi. Ya stop Lee Sungmin! Jangan pikirkan hal yang seperti itu! Sekalipun dirinya berontak untuk melupakan kejadian itu, tetap saja hati dan otaknya bersekongkol untuk selalu mengingat kejadian itu.
Huft... Apa yang harus ia lakukan sekarang? Ia benar-benar menginginkannya lagi. Tapi tak mungkin ia memintanya. Astaga, ia masih punya muka. Mau ditaruh mana wajah manisnya saat ia tiba-tiba berkata pada Kyuhyun, 'Kiss me please'. What the...?
Bintang, apa kau punya usul tentang hal yang harus aku lakukan? Ini belum sebulan sejak tantangan itu ditetapkan. Kenapa perasaanku berubah secepat itu? Eunhyuk benar, jangan mengatakan hal yang tak ingin kau sesali. Astaga... Mama, apakah mencintainya itu hal yang benar?
Lengan bawah Sungmin yang terkena dinginnya angin malam tiba-tiba terasa hangat. Begitu juga tubuh mungilnya. Ia menyeret tatapan matanya dari bintang ke... Cho Kyuhyun. Apa... Bagaimana bisa laki-laki itu ada di sini?
"Kau akan kedinginan. Jadi jangan menolak. Oke?"
Sungmin tak sepenuhnya paham apa yang sedang diucapkan oleh Kyuhyun. Gadis itu masih dalam kondisi keterkejutannya akan keberadaan Kyuhyun. Buru-buru Sungmin menundukan kepala menghindari mata Kyuhyun sebelum jantungnya berdetak tak normal.
Terlambat.
Jantungnya sudah berdetak di luar kendali, sebelum ia bisa mencegahnya. Dalam hati Sungmin mengerang, bagaimana bisa ini terjadi setiap ia berdua dengan Kyuhyun?
"Ini cokelat hangat. Organ dalammu juga butuh kehangatan. Minumlah." Sungmin menurut saja saat tangannya dituntun untuk menerima cangkir cokelat yang asapnya masih mengepul.
"Ini cokelat hangat. Organ dalammu juga butuh kehangatan. Minumlah."
Kyuhyun menarik tangan Sungmin lalu menyerahkan cangkir berisi cokelat yang baru dibuatnya ke dalam genggaman kecil gadis itu. Tak ia pedulikan jantungnya yang serasa meletup-letup saat ini. Ia harus menghangatkan tubuh di depannya. Apalagi ia melihat sekilas bibir gadis itu tampak memucat.
"Sedang apa?" tanya Kyuhyun beberapa saat kemudian.
"Eum..."
"Baiklah kalau kau tak mau menjawab. Tapi minumlah cokelatnya sebelum mendingin. Jangan biarkan dirimu sakit. Jangan membuatku khawatir," tukas Kyuhyun lembut, lalu menekuk kedua kakinya seperti yang dilakukan Sungmin. Ia mendongakan kepalanya ke atas. Sedikit seukir senyuman tercetak di bibir tebalnya. Pantas saja Sungmin betah di sini, pemandangannya indah sih... gagas Kyuhyun.
"Terima kasih untuk cokelat dan jaketnya..."
Sudah kubilang, aku akan selalu menjagamu. Kenapa kau selalu berterima kasih Lee Sungmin?
"Iya, minumlah sampai habis."
Suara cangkir bertemu dengan lantai beranda membuat Kyuhyun memutar kepala. Dilihatnya cangkir itu hampir kosong. Segumpal kebahagiaan terbit di hatinya. Bukankah itu berarti Sungmin mau menerima sesuatu darinya?
"Sepertinya kau sangat menyukai pemandangan alami dari alam. Sewaktu kubawa ke bukit, aku bisa melihat matamu berbinar. Dan sekarang, kau duduk di sini memandangi bin-"
Belum selesai Kyuhyun menyelesaikan kalimatnya, sesuatu jatuh di pundaknya. Sedikit terkejut awalnya, namun detik berikutnya ia tersenyum. Sungmin jatuh tertidur di pundak bidangnya dan membuat laki-laki itu sangat senang. Sedikit memutar kepalanya, hingga hidungnya yang mancung bisa mencium aroma stroberi yang menguar dari rambut Sungmin. Kyuhyun memejamkan matanya erat. Mencium pucuk kepala Sungmin benar-benar membuatnya mabuk, membuatnya ingin berbuat lebih.
Namun ia sadar. Ia sudah berjanji untuk menjaga gadis ini. Ia tak boleh menyakitinya. Bagaimana jadinya jika Sungmin sadar bahwa ia menciumnya diam-diam? Tidak! Ia akan mencium gadis itu jika gadis itu sudah membalas perasaannya. Tapi tangannya bergerak di luar kendali otaknya, merangkul tubuh mungil di sampingnya. Dan lagi-lagi, tubuhnya bergerak sendiri, hingga ia mendaratkan bibir tebalnya di kening Sungmin.
Sedetik. Dua detik. Tiga detik. Empat detik. Lima detik. Ia masih menempelkan bibirnya. Detik ke enam ia menarik wajahnya yang tiba-tiba memanas. Kyuhyun menarik nafas panjang, menahannya sebentar lalu menghembuskannya.
Sudahlah, lebih baik membawa gadis itu ke dalam dan kembali ke kamarnya. Sebelum ia, benar-benar lepas kendali.
Sungmin meletakan cangkir yang dipegangnya dengan pelan. Oke, ia tak ingin membohongi dirinya sendiri. Ia sangat menginginkan bibir itu menyentuh keningnya. Silahkan mengatai ia maniak atau semacamnya. Terserah. Sungmin tak peduli. Sungmin tak sepenuhnya mendengarkan ocehan Kyuhyun. Ia menghela nafas, dengan gerakan pelan ia menjatuhkan kepalanya di pundak bidang laki-laki di sampingnya.
Saat itu juga, ia mendengar aliran kata-kata Kyuhyun terhenti. Seperti terkejut karena tiba-tiba kepalanya jatuh ke pundak Kyuhyun. Sungmin tak tahu dengan pasti. Ia memejamkan matanya, berusaha sealami mungkin berakting seperti orang yang sudah tertidur.
Sungmin merasakan sesuatu menyentuh pucuk kepalanya. Cukup lama hingga sesuatu itu menjauh. Sungmin tak tahu apa itu, tapi ia tahu ia menyukainya. Ia baru ingin membuka matanya, ketika sebuah tangan kokoh melingkar di bahunya. Mengirimkan sebuah rasa nyaman dan kehangatan yang membuat Sungmin tenang. Belum lepas dari keterkejutannya, hal yang diinginkan akhirnya terjadi.
Sebuah benda kenyal dan sedikit basah tertempel di keningnya. Sungmin semakin memejamkan matanya, berusaha merekam dalam memorinya bagaimana rasanya dicium di kening saat ini oleh Cho Kyuhyun. Lima detik berharga berlalu. Sedikit kecewa saat Kyuhyun melepaskan ciuman di keningnya. Tapi Sungmin harus bersyukur. Setidaknya malam ini keinginan konyol itu terkabul.
Beberapa saat kemudian, Sungmin merasa tubuhnya terbang. Benar, ia merasa terbang. Namun belum genap satu menit, ia sudah merasakan punggungnya mendarat di ranjang dengan pelan. Tubuh Sungmin menghangat seiring dengan selimut yang menutupinya dinaikan hingga menutupi lehernya. Jantung Sungmin berdetak cepat, saat merasakan nafas hangat Kyuhyun menerpa wajah cantiknya.
Betapa terkejut dirinya –namun entah kenapa merasa senang– saat bibir yang beberapa menit lalu mendarat di keningnya, kini menyapa bibirnya. Astaga... Kyuhyun menciumnya! Mencuri ciuman pertamanya. Harusnya Sungmin jengkel, tapi ia merasa senang. Ia merasakan Kyuhyun menyesap bibirnya dengan sangat lembut, seolah tidak menginginkan Sungmin sadar akan kegiatannya. Tapi kau salah Tuan Cho, Sungmin terjaga 100% dan sangat menikmati... ciumanmu.
Semenit berlalu, bibir itu akhirnya terlepas dari bibir Sungmin. Dalam hati Sungmin mendesah sedih. Ya Tuhan, bibir itu menjadi candu secara tiba-tiba baginya. Sungmin tak bisa berbuat apa-apa saat mendengar suara langkah kaki yang menjauh dan pintu terbuka lalu tertutup lagi.
Merasa sudah aman, Sungmin menggerakan kelopak matanya. Ia sudah berada di kamar, lebih spesifik di ranjang besarnya. Perlahan, tangannya terangkat menyentuh bibirnya. Masih terasa hangat. Mau tak mau Sungmin tersenyum. Sepertinya malam ini, menjadi salah satu malam yang tak akan pernah ia lupakan di hidupnya.
Kyuhyun memijit keningnya. Berkali-kali ia mencoba untuk berkonsentrasi pada pekerjaan, namun gagal total. Pikirannya terus tertuju pada gadis yang selalu membuat jantungnya berdetak tak normal. Kyuhyun bukan sedang memikirkan tentang tiga ciuman yang ia ambil diam-diam dalam waktu semalam, tetapi tindakan yang ia lakukan tadi pagi.
Lee Sungmin –gadis itu masih belum mau menyebut namanya– mendekati dirinya yang sedang sarapan. Lalu berkata bahwa ia ingin pergi jalan-jalan sebentar. Entah angin apa yang sedang menerpanya, Kyuhyun mengiyakan permintaan itu. Betapa bodohnya ia, karena baru sadar akan ucapannya saat baru tiba di kantor.
Ia baru saja menelepon ke rumah dan menanyakan keadaan Sungmin. Jawaban sang Pelayan tidak sesuai keinginannya, karena mengatakan bahwa Sungmin sudah pergi sejak sejam yang lalu. Tanpa dikawal oleh siapapun. Ingin rasanya Kyuhyun mencakar seluruh pelayannya, namun diurungkan niat itu karena ia tahu bahwa Sungminlah yang meminta untuk pergi sendirian.
Kalau sudah begitu... Ia hanya berdoa, Sungmin akan baik-baik saja.
Senyuman manis terukir di bibir pinkish-nya. Senyum yang tidak hilang sejak sejam yang lalu, ketika ia melangkahkan kaki keluar dari rumah kebanggaan keluarga Cho. Untunglah hari ini Mama Hee dan Tuan Cho pergi sejak pagi, dan tidak ada Kyuhyun. Jadi ia bisa pergi dari rumah tersebut tanpa dikawal oleh siapapun. Inilah yang menjadi salah satu keinginannya.
Ia berdiri di sebuah halte, menunggu sebuah bus yang akan membawanya menemui seseorang yang begitu dirindukannya. Sang Ayah, orang yang sangat ingin dipeluknya. Orang yang ingin diberitahu tentang perasaannya... pada Cho Kyuhyun.
BRUK.
Tas jinjing pink yang ia bawa jatuh di lantai halte saat tubuhnya terdorong oleh seseorang di sampingnya. Ia membungkuk mengambil tas yang dibelikan oleh Mama Hee kemarin, kemudian mendongakan kepalanya untuk melihat siapa yang telah mendorongnya.
Seketika wajahnya berubah menjadi pucat. Bibirnya mengatup rapat. Tubuhnya menegang dan tanpa sadar ia mengencangkan pegangan pada tas jinjingnya. Ia begitu terkejut melihat orang di depannya. Orang yang tak ingin dilihatnya...
Orang itu...
TBC...
