Biarkan kisah ini diawali dengan sebuah perkenalan.

Sebuah perkenalan singkat dengan seorang laki-laki yang telah menghilangkan masa depannya, pesakitan anak Hawa yang sudah tidak memiliki kehormatan dan seorang pemuda yang bermasalah dengan semua hal yang ada disekitarnya beserta juga dirinya.

Tiga belah pribadi yang berbeda posisi, derajat, serta masalah. Yang karena suratan takdir, berhasil dipersatukan dalam suatu kondisi yang tepat sama dan disama ratakan setiap perasaan serta harapannya.

Yang berada di sebelah Barat, ada seorang laki-laki yang telah menghilangkan semua masa depannya.

Seseorang berdarah asli Bali yang sudah sering kali membuat keteledoran di setiap perjalan hidupnya, yang jika dikumpulkan sampai kesini jelas cukup untuk mengkacaukan hidupnya yang sedari awal sudah berantakan kemana-mana.

Seorang 'laki-laki' yang dipaksa menjadi laki-laki ketika saatnya belum tiba.

Baginya, dunia ini hanyalah sebuah ajang pertaruhan koin besar-besaran yang memiliki aturan 'jikalau ada yang berhasil menebak secara benar lima kali beruntun, maka dialah pemenangnya. Tapi jika ada yang salah sekali saja, maka seketika itu juga dia akan menjadi pecundang'.

Mungkin bagi beberapa orang, aturan itu terlihat tidak adil sama sekali, terkesan begitu timpang ke satu arah saja, dibuat hanya untuk mengunggulkan satu pihak semata.

Tapi bagi beberapa orang, laki-laki ini contohnya, peraturan itu sudah menggambarkan jalannya takdir dengan sebegitu detilnya.

"Tidak adil sama sekali."

Jika harus berkata, maka itulah yang akan dikatakan oleh laki-laki itu.

Harus memikul apa yang namanya 'beban hidup' dalam umur yang sangatlah muda, 13 tahun. Sekarang, 'beban hidup' laki-laki itu pun bertambah berkali-kali lipat seiring dengan ikut bertambahnya usianya yang sudah hampir menginjak kepala dua.

Awalnya, ia hanya dijanjikan menanggung beban itu selama kurang lebih dua tahun saja. Atau, setelah ayahnya—tidak yakin apa harus dipanggil seperti itu—berhasil mendapatkan uang yang cukup untuk melunasi utang-utangnya, dan ibunya—tidak yakin juga apa harus dipanggil seperti itu—berhasil mendapatkan sebuah pekerjaan untuk membawakan kembali kebahagiaan yang sudah direngut darinya beserta kelima adik-adiknya.

Dan selama ditinggal pergi orang tuanya itu—sekali lagi, tidak yakin apa pantas dipanggil begitu—laki-laki ini mau tak mau harus membiayai kehidupan saudara-saudarinya, mulai dari jatah makan tiga waktu, biaya sekolah serta tak lupa, hiburan sekali-sekali.

Kemudian demi memenuhi hal-hal tersebut, maka laki-laki ini pun terpaksa harus merelakan pendidikannya dan mulai bekerja membanting tulang. Karena mau diapapun juga, dia adalah anak pertama.

Maka mulailah ia berkerja sebagai kuli panggul dipasar pada pagi hari, pekerja konstruksi di siang hari, dan barulah setelah sore dan malam hari, ia pergi melaut hingga terbitnya matahari bersama tetangganya yang merupakan pelayan.

Semua itu semata-mata dilakukannya dengan tabah untuk kelima saudaranya. Karena sesuai apa yang ia yakini dalam hati, kedua orang tuanya—?—akan segera kembali kepadanya dan memerdekakannya dari penderitaan tak berujung ini.

Tapi, setelah dua tahun lebih menunggu, dua orang tersebut tidak kunjung kembali membawa kemerdekaan untuknya. Malahan, yang datang kepadanya hanyalah dua buah kabar buruk yang menyesakkan jantung.

Ayahnya diketahui kabur keluar negeri, tepatnya ke Burma, karena sudah meyakini bahwa istrinya lah yang akan mengurusi urusan keenam anaknya. Sedangkan istrinya, yang mana juga meyakini bahwa suaminya telah mengurusi keenam anaknya, telah menikah kembali dan pindah ke pulau Jawa.

Dua tindakan yang masing-masing berdasarkan pemikiran 'Tenang, ada dia', dua tindakan yang mengoyak-ngoyak harapan seorang 'laki-laki' naif yang sudah dengan sangat polosnya menggantungkan harapan kepada mereka berdua dan juga, dua tindakan yang layak untuk dikutuk selama ribuan tahun.

Setelahnya, dapat dikira, pemuda itu depresi.

Untuk sehari penuh ia mengurung diri didalam kamarnya, menolak semua orang yang ingin menemuinya dan tidak mengindahkan tiga piring makanan yang diletakkan didepan pintu kamarnya sedari pagi oleh adik-adiknya sama sekali.

Seharian ia menangis di balik selimutnya, iya laki-laki itu menangis, meratapi segala macam kemalangan yang menimpa dirinya, hanya dirinya, hingga membuat matanya sembab dan membengkak sedemikian besarnya.

Hari berikutnya, ia masih menangis dan meratap. Sama seperti hari berikutnya, hari berikutnya dan hari berikutnya lagi.

Hingga pada hari ketujuh, tepat dua minggu sebelum jatuh tempo hutangnya, laki-laki itu keluar dari dalam kamarnya. Rona mata dan mimik mukanya sudah menjadi seorang laki-laki tulen sekarang, sudah kaku, tajam, lagi tidak mengenal yang namanya kepedihan.

Dirangkulnya kelima saudaranya itu satu persatu sambil berjanji bahwa dirinya tidak akan sekalipun membiarkan mereka merasakan apa yang namanya ketidakadilan hidup. Lalu, setelah semuanya selesai ia kecup, laki-laki itu pun berangkat ke bank untuk membuka pinjaman jangka panjang senilai tiga puluh juta guna menutupi hutang-hutangnya dan membiayai pendidikan adiknya.

Awalnya, laki-laki itu berkeyakinan jika dia bisa mengembalikan pinjaman yang cukup banyak itu dalam beberapa tahun. Tapi setelah bertahun-tahun bekerja dan mengetahui sendiri kenaikan kebutuhan hidup yang seolah tidak mengenal kata berhenti, laki-laki itu akhirnya minta ampun.

Bukannya semakin sedikit, utang laki-laki itu semakin bertambah banyak dikarenakan sistem 'gali lobang, tutup lobang' yang ia terapkan. Dan tidak hanya itu, pekerjaannya yang serabutan pun semakin lama semakin tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pusing, laki-laki itu jelas pusing setiap memikirkan beban hidupnya yang sungguh berat ini. Tapi, setiap kali ia pulang ke rumah, setiap kali ia mendengar suara tawa adik-adiknya, laki-laki itu seketika merasa ditegarkan dan siap menanggung beban berat itu untuk sedikit lebih lama lagi.

Sebelum akhirnya sebuah tragedi merengut segala ketegarannya.

Adiknya yang pertama bunuh diri tanpa sebab yang jelas, adiknya yang kedua tertangkap polisi karena terlibat dengan transaksi narkoba kecil-kecilan, adiknya yang ketiga terkena gagal ginjal dan akhirnya meninggal menyusul adiknya yang paling kecil, yang nomor lima, yang tewas tertabrak pengendara mabuk saat pulang sekolah.

Itu pun belum termasuk cerita mengenai adik keempatnya yang kabur meninggalkan kakaknya, meninggalkan satu-satu anggota keluarganya yang tersisa, menuju tempat ibunya terdahulu.

Nah, lengkap sudah penderitaan laki-laki itu.

Apalagi, sebelum-sebelumnya ia sudah dipecat dari pekerjaannya, ditolak bekerja dimana-mana dan difitnah sedemikan rupa oleh nelayan tetangganya. Dan semua itu terjadi bebarengan dengan jatuh tempo hutangnya.

Sekarang, setelah mengetahui semua ceritanya, masih adakah orang yang berani mengatakan kepada laki-laki itu bahwa hidup itu selalu adil kepada setiap orang?

Jika ada, katakan kepadanya sekarang. Karena tampak-tampaknya sebentar lagi laki-laki itu akan membunuh dirinya dengan berjalan ke tengah laut hingga kedua lubang hidungnya tidak lagi bisa menghirup oksigen dengan bebas.

Sungguh cara membunuh diri yang paling menyakitkan.

Tapi kembali, apa artinya rasa sakit bagi orang yang sedari muda sudah berkawan akrab dengannya?

Lain tempat, lain lagi cerita.

Sekarang setelah membahas cerita mengenai laki-laki di barat—kalau boleh dipanggil, panggil saja ia Putut—sekarang marilah kita beralih agak jauh menuju selatan, memulai perkenalan dengan seorang pesakitan anak Hawa yang sudah tidak punya kehormatan lagi.

Linda Syarasvati

Itulah nama panjang dari anak Hawa yang satu ini.

Cantik parasnya, elok perilakunya dan sedap badannya, membuat banyak sekali kaum Adam jatuh hati kepadanya hanya dalam hitungan detik saja. Sekali memandangnya, maka dalam satu, dua , tiga dan empat, yang namanya perempuan di dunia ini pun seolah hanya tersisa gadis ini semata.

Jika boleh diperkenalkan dan dijelaskan secara singkat, maka mungkin tadi sudah adalah yang paling pendek lagi paling gamblang.

Karena, yah, memang itulah kenyataannya.

Tak ayal, karena kecantikan serta perilakunya yang tersohor itu, nona cantik ini pun selalu mendapatkan ungkapan cinta dari laki-laki setiap harinya.

Kata-kata yang bernada puitis seperti,

"Wahai bidadariku yang..."

Atau yang sedikit bertele-tele, seperti,

"Pada hari Selasa, saat kita berdua tidak sengaja bertemu di dalam bis, aku seketika jatuh hati..."

Bahkan sampai yang bernada ancaman,

"Jika cintaku tidak engkau balas, aku akan bunuh diri..."

Semuanya berkumpul jadi satu, datang silih berganti menggantikan yang lain yang ada didalam loker sepatu milik Linda di sekolah ataupun di kotak pos berukuran sedang yang dipasang keluarganya di depan rumahnya.

Awalnya, gadis ini agak sedikit ketakutan ketika mendapatkan surat-surat seperti itu—apalagi jika ada yang mengancam akan bunuh diri—dan akan membalas setiap surat yang ia dapatkan dengan sebuah surat penolakan yang sudah ditulis dengan tutur kata halus lagi tidak menyakitkan hati.

Tapi lama-kelamaan, setelah akhirnya hal ini menjadi salah satu rutinitasnya, perasaan takut itu pun berubah menjadi risih, lalu dari risih menjadi acuh tak acuh, kemudian dari acuh tak acuh menjadi tidak dianggap sama sekali.

Dan syukur karena pemilihan tindakannya ini, kuantitas dari para pengirim surat pun menurun drastis. Bahkan hampir mendekati angka tidak ada.

Bagi Linda, sang primadona, hal ini tentunya sangat membahagiakan. Dan hal ini akan lebih membahagiakan lagi andai saja satu orang terkahir, satu-satunya pria yang masih kukuh menyatakan cintanya kepada Linda, menuruti kemauan Linda dan memilih mencari pujaan hati baru.

"Aku, selalu mencintaimu..."

Kata-kata itu selalu menjadi pembuka.

"......Selalu mencintaimu Selalu mencintaimu Selalu mencintaimu Selalu mencintaimu Selalu mencintaimu Selalu mencintaimu Selalu mencintaimu Selalu mencintaimu Selalu mencintaimu Selalu mencintaimu Selalu mencintaimu Selalu mencintaimu Selalu mencintaimu Selalu mencintaimu Selalu mencintaimu Selalu mencintaimu Selalu mencintaimu Selalu mencintaimu Selalu mencintaimu..."

Dan kutukan berantai yang ditulis dengan tinta berbeda tersebut selalu menjadi isi dari setiap surat yang dikirimkan oleh laki-laki misterius ini, dari laki-laki yang disebut Linda gila dan tidak berakal tersebut.

Tindakan kurang menyenangkan.

Didampingi dengan kedua orang tuanya, Linda pun melaporkan sang pengirim surat atas pasal teror dan tindakan yang kurang menyenangkan ke kantor kepolisian kota Gianyar. Karena mau seacuh dan setidak peduli apapun Linda, isi dari surat ini sungguh sangat menyeramkan.

Tulisan-tulisannya yang seakan ditulis menggunakan darah, bingkisan-bingkisan nyeleneh yang terkadang hadir mengantarkan surat ini seperti; buku-buku bekas Linda, kuku-kuku jari Linda, bahkan tampon bekas Linda, sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan betapa tidak menyenangkannya perlakuan yang diterima gadis cantik ini.

Tapi, meskipun seperti itu, tampak-tampaknya para aparat penegak hukum masih cukup kesulitan untuk menangkap maniak yang satu ini.

"Kami sama sekali tidak mempunyai petunjuk apapun mengenai siapa orang misterius ini atau kenapa orang ini mengirimi saudari dengan surat-surat misterius bernada kutukan secara terus menerus."

Itulah alasan yang disampaikan petugas kepolisian kepada Linda ketika ia dan kedua orang tuanya datang ke kantor polisi guna mempertanyakan apakah kasus yang mereka laporkan dulu sudah ditangani atau belum.

Dan ternyata kasus itu belum ditangani.

Diminta bersabar, Linda dan kedua orang tuanya pun pulang kembali ke rumah mereka. Tapi pada pertengahan jalan, Linda tiba-tiba pamit pergi kepada orang tuanya karena tiba-tiba mendapat undangan via pesan elektronik untuk kopi darat bersama salah satu sahabatnya di sekolah.

Mengijinkan permintaan putri semata wayang mereka dengan senang hati, kedua orang tua Linda tidak memiliki pikiran buruk apapun. Berlari dengan bahagia menuju tempat dimana sahabatnya itu menunggu, Linda juga tidak memiliki pikiran buruk sama sekali.

Tapi yang pasti, besoknya, kedua orang tua ini jelas akan menyesali pilihan mereka untuk tidak berpikiran buruk sama sekali kemarin malam. Karena setelah malam tersebut, keluarga ini telah kehilangan yang namanya anak gadis semata wayang mereka untuk selama-lamanya.

Putri mereka, Linda Syarasvati telah diperkosa di sebuah gang sempit oleh seseorang misterius yang selama ini meneror anak mereka.

Modus operandi yang dilakukan orang ini dapat dibilang cukup sederhana. Pertama, sang pelaku telah terlebih dahulu mencuri telepon genggam milik salah satu sahabat Linda. Kedua, menggunakan telepon genggam tersebut sang pelaku mengirimi Linda undangan untuk bertemu dengan mengatasnamakan sahabat Linda tersebut. Dan ketiga, setelah Linda menampakkannya dirinya, pria ini dengan cepat membius gadis itu.

Setelahnya, seperti dapat diperkirakan, pria ini pun dengan leluasa menyalurkan nafsu binatangnya kepada tubuh suci Linda Syarasvati sepuas-puasnya dan kemudian meninggalkan gadis malang ini tergeletak tak sadarkan diri dipinggiran gang dengan hanya ditutupi satu buah kardus bekas saja.

Sudah? Apakah kasus ini selesai sampai disini?

Jika memang iya begitu adanya, maka pastilah Linda dan seluruh orang yang mengasihinya akan sangat bersyukur. Karena, sekedar tambahan petunjuk saja, Linda Syarasvati tidaklah diperkosa oleh satu orang saja malam itu.

Sekitar delapan orang, itulah perkiraan jumlah pelaku pemerkosaan yang diberitahukan salah satu petugas kepolisian kepada kedua orang tua korban—yang mana tentunya langsung ingin pingsan begitu mendengarnya.

Akan tetapi, jika melihat dari begitu banyaknya bercak sperma serta banyaknya ragam sidik jari yang menempel disana-sini tubuh korban, maka rasa-rasanya angka delapan yang didapatkan pihak berwajib belumlah mendekati jumlah pasti pelaku sebenarnya.

Tidak terlalu mengherankan, karena memang tempat kejadian perkaranya adalah gang sempit di pinggiran pasar tradisional yang sering dijadikan tempat berkumpul entah itu bagi sekumpulan gelandangan, preman pasar ataupun sampah-sampah masyarakat lainnya.

Sekarang, setelah mengetahui beberapa fakta tersebut, sudah jelas bukan kenapa bisa ada banyak sidik jari di tubuh Linda dan kenapa sampai saat ini pihak kepolisian belum bisa menangkap pelaku yang sebenarnya?

Kemudian, marilah kita beralih sebentar ke kehidupan Linda Syarasvati—si gadis malang—setelah kemalangan tak terduga itu menimpa dirinya.

Beberapa patah kata saja untuk menggambarkannya, hidupnya hancur lebur.

Ia hamil diluar nikah—itu sudah pasti, mengandung anak yang belum jelas siapa bapaknya. Tidak hanya itu, kehidupan masa remajanya pun ikut terengut pula. Tubuh sintalnya yang pernah dicicipi banyak orang ternyata sempat direkam dan disebarluaskan lewat dunia maya, berpindah dari satu pria hidung belang ke pria hidung belang lainnya dengan sangat cepat.

Lebih lagi masalah siapa orang yang harus bertanggung jawab atas semua permasalahan ini.

Dari lima belas orang—itu sudah lebih dari satu lusin—yang ditangkap pihak kepolisan dalam waktu 3 minggu terakhir, tentunya tidak semuanya akan bertanggung jawab dan menikahi Linda kan? Karena kalian tahu, hal itu jelas akan makin memperparah kondisi psikis gadis malang ini.

Apa?

Melakukan undian antara kelima belas orang tersebut dengan aturan yang namanya keluar pertama kali akan menjadi satu-satunya orang yang bertanggung jawab juga jelas bukanlah sebuah solusi. Terlebih, kejadian yang tampak seperti guyonan tidak lucu itu juga sering terjadi di negara ini.

"Yang sabar... yang sabar... yang sabar..."

Kata-kata itu, telinga Linda dengar setiap hari laksana sebuah kutukan tak bertuan. Sumpah, dari dasar hatinya, ia benar-benar sudah muak mendengar kata-kata itu. Pikirnya, 'Apakah kehormatanku bisa kembali jika aku mau bersabar!? Tidak bukan!? Hal itu akan tetap hilang, masa depanku juga, harga diri, kehidupanku, semuanya hilang! Hilang! Direngut oleh bajingan-bajingan itu!'

Terpuruk seterpuruk-puruknya, gadis yang teraniaya batiniyahnya ini telah kehilangan akal pikirannya. Belum sepenuhnya, tapi pasti akan menuju kesana.

Menolak pergi dunia luar—bahkan tidak untuk keluar kamar—Linda hanya menghabiskan hari-harinya dengan menangis sesunggukan sendirian, berteriak-teriak sendirian, mengumpat sendirian dan mengutuk nasib buruk yang menimpa dirinya dalam senyap. Malahan, yang paling ekstrim, Linda sering kedapatan memukul-mukuli perutnya sendiri baik dengan menggunakan dua kepalan tangannya yang disatukan satu sama lain atau dengan beraneka ragam benda berujung tumpul yang dapat ditemui dengan mudah dikamarnya.

Histeris, kondisi mentalnya benar-benar memprihatinkan saat itu. Sampai-sampai kedua orang tuanya harus mendiamkan Linda di sebuah kamar yang sudah tersterilisasi dari berbagai hal yang disinyalir dapat Linda gunakan sebagai media penyiksaan dirinya sendiri.

Kejam? Bukankah semua ini bukan salahnya?

Memang, tapi sama seperti perkataan orang pertama tadi—yang mana juga diamini oleh orang kedua ini—hidup tidaklah pernah adil kepada siapapun. Tidak peduli mau kau berada dipihak yang salah atau benar, sekali dia berkata tidak ya tidak—iya ya iya. Begitulah cara main takdir di dunia ini.

Makanya, berdiri di pinggiran sebuah gedung terbengkalai, anak hawa di selatan yang berhasil kabur dari rumahnya ini pun berniat membebaskan diri dari takdir yang terkutuk ini.

Bunuh diri, jalan pikiran dua dari tiga orang yang terjebak dalam pusaran takdir yang senasib ini ternyata memiliki kesamaan. Sekarang, pertanyaan terbesarnya adalah tinggal, apakah takdir orang ketiga juga akan berakhir sama?

Dan sayangnya memang iya, ketiga orang ini tampaknya memiliki jalan cerita yang persis sama satu sama lain.

Berpindah dari selatan ke timur, marilah kita sekarang membahas kisah pengantar dari kehidupan seorang pemuda yang bermasalah dengan semua hal yang ada disekitarnya beserta juga dirinya ini.

Nama pemuda itu, David. Nama lengkapnya David Swarastika.

Dilihat sekilas, maka sudah tampak jelas jika pemuda ini adalah pemuda intelektual yang memiliki kekurangan dalam segala hal yang melibatkan kerja otot—postur tubuhnya yang kurus kerempeng serta matanya yang silinder semenjak lahir adalah penyebab utamanya. Terlebih, hobinya yang suka membaca buku-buku bersampul tebal ditempat duduknya sembari menunggu bel masuk sekolah berbunyi jelas semakin mengkukuhkan predikat kutu buku yang melekat padanya.

Akan tetapi, jika ada yang berpikir bahwa hanya karena beberapa alasan tersebut pemuda ini sampai dikecam sebagai pemuda yang bermasalah dengan semua hal, maka sekarang yakinilah dalam hati kalian dalam-dalam bahwa alur takdir tidaklah semudah itu ditebak.

Ditinggal mati orang tuanya semenjak lahir—ayahnya meninggal ketika ia masih berumur enam bulan dan disusul ibunya satu tahun kemudian—David pun mau tak mau harus menjalani hidup dalam asuhan asuhan bibinya yang agak gangguan mental serta dua sepupunya yang selisih umurnya dengan David sangatlah jauh.

Yatim piatu semenjak umur yang begitu muda, tinggal dan disiksa setiap hari oleh wanita paruh baya tanpa pernah bisa mengaduhkannya kepada siapapun sampai umur tiga belas tahun. Dipukul, ditendang, ditenggelamkan kedalam bak mandi hingga nyaris pingsan, disayat tangannya dengan menggunakan pisau buah. Penyiksaan-penyiksaan itulah yang sering dialami David ketika ditinggal sendiran bersama bibinya.

Sebenarnya kehidupan pemuda ini sudah cukup bermasalah andai saja salah satu dari dua sepupunya tidak serta merta menghabiskan semua kekayaan yang ditinggalkan oleh orang tua David tanpa tersisa sepeser pun juga.

Jatuh miskin tapi tidak sampai terlalu jatuh, David—yang diwakili oleh sepupunya yang satu lagi, walinya yang baru, akhirnya harus menjual rumah bertingkat tiga warisan kedua orang tuanya untuk membayar hutang-hutang yang disebabkan oleh sepupunya yang lain sampai lunas. Dan syukur, hutang itu pun lunas.

Tapi tetap, meskipun telah berpisah dengan bibinya yang sering menyiksanya melalui kontak fisik, David Swarastika yang kini tinggal sendiri juga sering mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari berbagai macam orang. Terutama teman-teman sekelasnya.

Sebenarnya, kalau boleh dikata, David Swarastika ini memang adalah tipikal anak yang sering menjadi bahan bullyan utama dimanapun ia berada. Dan semuanya bermula ketika ia masih menginjak bangku Taman Kanak-Kanak.

Waktu itu, ada seorang anak yang sengaja menyembunyikan tempat makan milik David hingga membuat David menangis. Namun, bukannya memarahi anak yang mencuri kotak makan David—yang mana adalah anak seorang pejabat daerah—guru-guru di Taman Kanak-Kanak itu malah memarahi David sambil mengeluarkan kata-kata sesat,

"Anak laki-laki kok cengeng!?"

Semacam itu.

Melihat hal ini, semua murid yang ada di Taman Kanak-Kanak itu pun—Sebenarnya tidak juga, ada seorang anak perempuan yang tidak ikut dalam masalah ini sama sekali—mulai menjadikan David sebagai target bullyan utama. Fakta bahwa David sudah tidak memiliki orang tua serta pembelaan dari para guru jelas menjadi faktor utamanya.

Disuruh membawakan tas, disembunyikan kotak makannya, dirusak beberapa mainnya. Hal-hal semacam itu sering sekali dilakukan oleh anak-anak yang katanya teman David kepada David sendiri. Kembali, tidak ada satu orang pun yang membela anak malang itu.

Menangis sendirian, David hanya bisa menangis sendirian disekitaran taman didekat rumahnya yang dulu sambil meratap dan berharap bahwa kehidupan Taman Kanak-Kanaknya serta penderitaannya dirumah akan segera berakhir.

Dan ternyata, kali ini takdir sedikit bersifat lunak, buktinya salah satu dari dua harapan anak malang ini telah dikabulkan sepenuhnya. Tapi, disatu pihak, takdir juga tetap berperan jahat dengan terus memperpanjang penderitaan David yang lain.

Entah karena apa, sampai sekarang, David selalu berada satu sekolah dengan anak laki-laki yang semenjak Taman Kanak-Kanak tidak pernah absen menjahili dirinya setiap hari. Bahkan, David pun tidak pernah berada di dalam kelas yang tidak sama dengan anak tersebut. Sunguh suatu kebetulan yang tidak bisa ditebak.

Sekali lagi, siksaan fisik yang dulu sering diterima David dari bibinya kini ia rasakan kembali. Kali ini juga ditambahi dengan siksaan batin yang tiada tara laranya.

Dia dijadikan samsak hidup setiap harinya, dimintai semua uang sakunya, disobeki semua buku tugasnya dan yang parah—tapi belum yang terparah—sepeda butut satu-satunya pernah dilemparkan oleh para pembullynya hingga hanyut ke sebuah sungai berkedalaman lumayan di dekat sekolah mereka.

Kelewat batas?

Ya, tentu saja tindakan-tindakan itu semuanya sudah kelewat batas. Akan tetapi, bagi pihak penindas, semua hal itu hanya tampak sebagai sebuah lelucon yang teramat sangat lucu. Tapi sebaliknya bagi pihak yang ditindas, hal-hal semacam ini walaupun kecil tetap saja menyiksa. Lebih lagi, bagi David Swarastika hal ini tentunya merupakan neraka tak berujung.

Tidak bisa berkeluh kesah kepada siapapun karena memang sudah tidak punya siapa-siapa lagi, mengaduh ke orang lain—guru atau pihak berwajib—pun juga tidak bisa karena dirinya selalu diancam akan diapa-apakan oleh para penindasnya jika sampai berani-berani melaporkan semua tindakan mereka kepadanya.

Tetap diam sambil terus menjaga agar gejolak api balas dendam di hatinya tidak lenyap ataupun membara tidak terkendali, hanya itulah yang bisa David lakukan selama ini. Hingga, pada suatu malam dikala bara api tersebut menyala-nyala dengan begitu hebatnya, kekalutan datang menyergap kemampuan berpikir pemuda ini dan meyuruhnya membalas semua perlakuan orang-orang yang dulu pernah menindasnya.

Dan disini, membalas itu sama artinya dengan menghabisi nyawa seseorang.

Bermodalkan hanya sebuah pisau dapur usang, David Swarastika yang tidak terbiasa bangun malam pun memberanikan dirinya keluar rumah pada jam 12 dini hari untuk mencari tempat biasanya para penindasnya berkumpul—tepatnya disebuah gang di pinggiran kota sebelah.

Duduk-duduk bergerombol di sudut gang sambil merokok rokok murahan dan minum-minuman keras yang harganya tidaklah lebih mahal dari Rp. 20.000,00, enam belas orang yang biasanya menindas David langsung tertawa girang begitu melihat David seorang diri berjalan menghampiri mereka dengan masing-masing tangannya dimasukkan kedalam saku jaketnya.

Berdiri, salah seorang dari mereka pun untuk menghampiri David dengan maksud menyambutnya. Tentunya bukan dalam konteks yang sebenarnya.

Mengambil sebilah pisau yang terbungkus kertas koran dari saku jaketnya, David langsung menerjang dan menancapkan pisau tersebut tepat ke arah dada kiri pemuda yang menyambutnya tadi hingga terbenam nyaris separuhnya.

Sempat bergetar sebentar, tubuh pemuda naas yang sedikit lebih tinggi daripada David itu pun roboh kekanan dengan kepala dan pandangan mata yang melihat kearah tujuh orang temannya di pojokan gang. Melihat hal ini, ketujuh orang itu terlihat sedikit ketakutan dan berniat berlari untuk mencari pertolongan.

Tetapi karena didekat mayat tersebut, berdiri si pelaku dengan pandangan kosong yang seolah-olah menyesal dengan apa yang sudah ia lakukan, rasa takut yang tadi sempat hinggap dihati mereka kini digantikan dengan amarah dan rasa balas dendam yang menggebu-gebu. Singkat cerita, David Swarastika pun dikeroyok.

Senjatanya ditendang, perutnya dipukul—pipinya juga hingga membuat dua giginya lepas, dan setelah terhuyung-huyung karena kehilangan keseimbangan, tubuh kerempeng pemuda ini tanpa ampun terus diinjak-injak hingga babak-belur oleh tujuh orang berbeda postur tubuh yang masing-masing dari mereka adalah orang-orang yang selalu menindasnya di sekolah.

"Aku tidak akan mati sebelum membunuh semua orang yang sudah membuatku menderita!"

Kata-kata tersebut keluar dengan parau dari mulut David dikala seluruh tubuhnya sudah kepayahan menerima segala luka lebam yang ada diseluruh tubuhnya, membuat semua orang yang menendangi atau memukulinya menjadi bergidik ngeri.

Kala itu, siapa yang salah dan siapa yang benar tidaklah ada yang tahu. Apakah yang salah adalah David atau orang-orang yang menyiksanya tidaklah ada yang tahu, seolah-olah pepatah, 'ada ada asap ada api' adalah paradoks kekal tiada akhir.

Menampik sebentar rasa ngeri yang muncul akibat teriakan David, salah satu penindas—yang mana adalah anak pejabat yang sudah menindas David semenjak Taman Kanak-Kanak—memberanikan dirinya mendekat kearah David dan mengangkat kaki kanannya tepat diatas kepala pemuda yang nyaris sekarat itu.

Satu injakan itu jelas akan menghabisi nyawa David seketika itu juga, berbarengan dengan majunya Putut menghampiri gelombang pasang yang tinggi di depan matanya serta melompatnya Linda dari puncak sebuah gedung tidak berpenghuni bertingkat delapan belas dikotanya.

Sekarang, babak perkenalannya pun berakhir sampai disini.

Tapi, apakah benar cerita mereka bertiga hanya akan berakhir sampai disini juga?

Tentu saja tidak, alur takdir tidaklah segampang itu ditebak. Karena perlu kalian ketahui juga, harapan akan muncul dikala seseorang telah mencapai titik terendah kehidupan mereka—tidak peduli sekecil atau sebesar apapun harapan tersebut.

Menyala dari tiga tempat yang berkejauhan satu sama lain. Tiga [Command Spell] baru pun terbentuk di tangan tiga orang Master tersisa, yang semuanya terjebak dalam situasi-situasi hidup mati yang berbeda-beda.

Terkesan aneh memang, Sang Cawan memilih seorang Master yang tidak memiliki darah penyihir sama sekali. Akan tetapi, jika berbicara mengenai sebuah keajaiban tak berujung, maka hal semacam ini tentunya tidak akan membuat kaget siapapun juga. Termasuk tiga orang Roh Pahlawan berbeda jaman yang kini sudah mewujud memenuhi panggilan Master-Master mereka.

"Apa yang ingin dikau lakukan di pantai malam-malam begini, wahai pemuda berupa tampan dan bermasa depan panjang?"

Rider yang duduk-duduk diatas salah satu perahu layar yang ditambatkan di bibir pantai bertaya kepada Masternya di barat dengan mimik muka yang seolah tidak membutuhkan jawaban apapun.

"Tenang saja dik, tidak perlu gundah dan tidak perlu risau, saya benar-benar memahami penderitaan anda."

Caster yang baru saja mewujud langsung memeluk hangat Masternya di selatan sesaat setelah Masternya tersebut terjun bebas dari lantai dua belas sebuah gedung terbengkalai.

"Doamu aku kabulkan nak. Sekarang, tegakkanlah kepalamu dengan penuh perasaan bangga! Rajamu yang agung sudah tiba disini."

Setelah menusuk kepala salah seorang yang mengkeroyok Masternya di timur, Assasin yang berdiri membelakangi Masternya berbalik sebentar lalu berkata seperti tadi dengan nada seperti sedang menahan tawa.

Rider di barat, Caster di selatan dan Assasin di timur.

Saling bertukar pandangan dengan Master mereka untuk yang pertama kalinya, tiga pasang Servant dan Masternya ini langsung menunjukkan rona kecocokan yang tidak kalah jika dibandingkan dengan pasangan Servant-Master yang sudah ditetapkan sang Cawan terlebih dahulu.

Nah sekarang, mari biarkan kisah ini berlanjut hingga ke bagian klimaksnya saja.


Catatan kecil

"Dia bukanlah seorang pendekar pedang yang sebenarnya, hanya seorang penjagal yang diberikan jabatan oleh pihak penjajah sebagai ' Sang pembawa keadilan'.

Jika ditanya, 'sudah berapa banyak kepala yang dipenggal oleh pedangnya?', maka jawabannya tidak ada yang tahu. Hanya banyak, sang algojo pasti sudah berulang kali melepaskan kepala seorang manusia dari tempatnya semula dengan menggunakan pedang hitam sepanjang satu setengah meter miliknya.

Selalu masuk ke alun-alun penghakiman dengan mengenakan pakain serba hitam dan bertudung, setiap orang yang ada disana pasti melihat dengan ngeri kearahnya—sesuatu yang sangat tidak disukai oleh 'sang pembawa keadilan'.

Seorang gadis mestizen—seorang yang memiliki darah campuran Indonesia-Belanda—biasa tanpa nama berumur 17 tahun, itulah identitas asli dari sang algojo. Karena dia tidak memiliki nama sama sekali, makanya ia menerima semua panggilan 'penjagal', 'eksekutor, ataupun juga 'algojo' yang disematkan kepada dirinya.

Padahal jauh didalam hatinya yang terdalam, dia sangat membenci takdir ini."

Iseng, saya membuat sebuah identitas dari Servant Saberyang pastinya bukan Saber yang ada dicerita ini, mereka berbeda.

Kemudian kembali kepada chapter ini, sebagaimana yang dapat terlihat, chapter ini juga masih termasuk chapter pengenalan. Untuk karakter-karakter yang tersisa, saya menempatkan tiga orang dengan masa lalu buruk sebagai Master dari Rider, Caster serta Assasin karena sesuai dengan apa yang saya percayai, 'mukjizat hanya akan datang saat kita benar-benar terpuruk'. (Entah itu terasa juga atau tidak). Oh ya, sampai lupa, ketiga orang ini tidak memiliki latar belakang sihir sama sekali.

Untuk identitas Servant mereka, sedikit memberi info, Archer—Hanoman—dan Rider adalah guru dari murid yang sama, Assasin adalah orang yang pernah menipu Berserker, dan Caster adalah wali murid dari seorang pria yang menjadi anak murid dari Archer.

Ya sudah, sekian saja dari saya, akhir kata, terima kasih telah membaca cerita ini. Saran dan komentar anda-anda sekalian sangat berarti bagi saya. Ditunggu reviewnya (Melambaikan kedua tangan.)

Salam hangat, F. Anzhie.